Irwan Arifin adalah sobatku yang kukenal ketika 1983 sebagai teman seangkatan Fisika’83 Universitas Indonesia sampai dengan saat dipanggil Yang Kuasa pada 11 Maret 2008 sekitar 12:15 WIB di Bogor. Tidak terasa waktu berjalan secara cepat, ternyata telah dua puluh lima tahun aku berkenalan dengan Irwan Arifin dengan intensitas hubungan yang sangat variatif.

Aku mencoba kembali mengingat-ingat periode-periode berkesan selama pertemanan dengan sobatku dalam berbagai masa.

Masa Mahasiswa Fisika’83
Sebagai mahasiswa baru dengan kekuatiran untuk lolos dari DO, maka relatif pada dua tahun awal, pergaulan dengan Irwan relatif tidak banyak. Karena Irwan termasuk mahasiswa yang serius, sedangkan aku termasuk golongan mahasiswa taman, karena seringnya nongkrong di taman untuk cuci mata melihat mahasiswa Ekonomi dan FKG yang cuantik-cuantik, maklum di Fisika yang dilihat ’seram-seram’. Jadi jarang ketemu, kecuali di kelas kuliah.

Kedekatan dimulai pada tahun ketiga, ketika kita mulai aktif di laboratorium Terapan dan Instrumentasi Fisika, terutama lab Elektronik. Yang sangat berkesan pada periode ini adalah waktu ada pameran teknologi, maka dalam persiapan kita membutuhkan kepiawian Irwan sebagai fotografer untuk mengabadikan beberapa percobaan Fisika. Salah satu kesulitan adalah untuk mendemonstrasikan rambat cahaya laser merah, kerena harus bisa memfoto track laser merah tersebut. Setelah dicari akal, maka dilakukan dengan memberi asap rokok maka partikel asap akan dipantulkan oleh laser ini yang di foto. Maka kita bersama-sama merokok di ruang gelap yang ber-AC, sementara kita bukan perokok, jadi setelah pengambilan gambar, terjadilah perlombaan batuk-batuk pada perokok dadakan.

Masa Awal Pengabdian di Gunadarma
Aku, Sarifudin, Chandra, Irwan, Subali adalah merupakan mahasiswa Fisika 83 yang bergabung dengan Gunadarma. Salah satu kegiatan yang sangat berkesan adalah persiapan Open House 89 dari STMIK Gunadarma. Untuk keperluan Open House kembali kita membutuhkan Irwan untuk menjadi fotografer. Dia sangat serius, beberapa kali saya menemani untuk begadang agar dapat mengambil nuansa subuh dengan background gedung 1 kampus Depok (pada waktu itu baru ada 1 gedung). Karena keseringan begadang sampai masuk angin. Periode ini kami sangat dekat, karena untuk persiapan Open House 89, relatif saya dan teman-teman begadang terus menerus di kampus selama hampir tiga bulan.

Sisi lain persiapan Open House adalah cerita yang termasuk katagori MISTERI. Salah satu yang menarik adalah seringnya aiphone berdering ditengah malam walau sentral telah dimatikan, atau Sarifudin yang tidur dipindahkan lokasinya ini terjadi di lantai 2 yang sekarang menjadi lab Elektro sebelah ruang pak Bin dan masih banyak cerita Misteri lainnya. Sehingga kalau mulai malam, kita mulai akrab kerja disatu ruangan yang sebenarnya sama-sama TAKUT sich. Tapi Irwan ternyata memilki nyali yang besar dia cuek aja pergi kemana-mana ditengah malam untuk mengambil foto.

Masa periode 1992-2003
Setelah aku menyelesaikan S2 ku di Melbourne pada 1992 dan kembali ke tanah air, Irwan ternyata sedang studi di Jerman. Sehingga pada masa ini adalah intensitas hubunganku yang terendah dengan Irwan. Satu peristiwa yang menarik, adalah pada masa-masa ini Irwan melangsungkan pernikahannya, tapi pastinya aku koq sudah lupa.

Masa Mahasiswa S3-TI Universitas Gunadarma
Ini kembali masa dekat bersama dengan Irwan sebagai angkatan pertama program Doktor TI Universitas Gunadarma. Kita berjumlah enam mahluk dalam angkatan satu terdiri dari : Asep, Dewi, Fitrin, Irwan, I Wayan, dan Setia. Perkuliahan dimulai di awal 2003, walau kita sudah tidak muda lagi (pantang ngomong tua) tetap aja kalau jadi mahasiswa begajulan. Aku adalah mahasiswa yang paling rajin membolos, Irwan adalah yang paling tekun dan serius selama perkuliahan, termasuk mengerjakan tugas-tugas dari dosen.

Sempat kita beberapa kali mengadakan family gathering dengan serunya, termasuk terakhir adalah sebelum keberangkatanku ke Perancis pada Oktober 2003. Selama di Perancis juga intens komunikasi via email dalam seangkatan cukup tinggi. Terlebih-lebih ketika persiapan kedatangan para pendekar ke Dijon.

Pada kunjungan kedatangan ke Dijon, Irwan dengan semangat fotografinya mengabadikian banyak hal di sekitar kampus dan kota Dijon, sampai-sampai kamera digitalnya nyerah alias rusak. Dan sempat suatu ketika Irwan di apartemenku mendemokan masak spaghetti, tapi cilakanya yang dimasak baunyakkk jadi terpaksa nambah berat badan, tapi yang jelas enak tenan.

Yang paling bahagia aku dengar adalah : akhirnya Irwan pada 2006 dapat menyelesaikan program Doktornya dengan perjuangan yang luar biasa. Sayangnya pada saat sidang terbuka aku tidak bisa hadir karena masih terjebak di kota Dijon.

Masa Perjuangan
Mengapa babak ini aku sebut masa perjuangan, ini adalah saat-saat akhir dari Irwan sejak 2006 untuk berjuang melawan penyakit yang menggerogoti dirinya. Perjuangan ini berhasil dilewati dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Buktinya ditengah grogotan penyakit, Irwan berhasil menyelesaikan program Doktornya. Disisi lain dia juga masih mampu mengendarai mobil Bogor-Depok untuk membimbing mahasiswa ataupun Bogor-Salemba untuk menguji sidang.

Aku rasakan grogotan penyakit semakin besar ketika meninggal ibunda tercinta dari Irwan sekitar Januari 2008. Karena kesibukan mengurus ibunda tercinta, maka fisik dan pikiran Irwan tergerogoti dengan luar biasa. Pada awal Februari 2008 Irwan kembali terpaksa masuk ke rumah sakit ke HCU (high care unit).

Selama sekitar satu bulan di rumah sakit, Irwan sempat beberapa kali pindah antara HCU dan ruang inap biasa. Detik-detik terakhir adalah setelah pindah ke-tiga kalinya ke ruang HCU. Saya masih ingat, pada Minggu 9 Maret saya berencana membesuk, tapi karena anak panas saya tidak jadi membesuk. Senin ada rapat persiapan seminar nasional KOMMIT 2008, dan Mas Pri bilang dia Minggu sempat besuk Irwan dan kondisi memprihatinkan, dan kita berdoa untuk kebaikan Irwan. Selasa pagi, aku telpon ke Dian istri Irwan untuk menanyakan kondisinya serta juga bagaimaan urusan formulir-formulir asuransi yang diurus sama Subali. Dan pas siang hari, aku terkejut dapat telpon dari Subali kalau Irwan sudah dipanggil menghadap Yang Kuasa, dan aku lihat juga ada SMS dari Dian. Aku segera telpon ke Dian dan cuma isak tangis yang aku dengar. Setelah itu aku berusaha untuk mengontak beberapa rekan di Univeristas Gunadarma, Fisika’83, dan Jurusan Fisika UI. Sekitar jam 15.00 Selasa 11 Maret aku sampai di rumah sakit dan telah banyak teman-teman disana. Sekitar jam 16.00, jenasah Irwan diberangkatkan dari rumah sakit ke rumah duka di jalan Burangrang no.20 Bogor.

Sesampai di rumah duka, kita belum tahu rencana pemakaman akankah hari ini atau besuk. Selepas magrib akhirnya dipastikan besuk akan dimakamkan di kuburan Blener Bogor dan berangkat jam 0900 dari rumah duka.

Rabu, 12 Maret 2008, jam 10.00, sobat kita Irwan telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi dengan telah menyelesaikan semua perjuangan dan tugas di dunia ini.

Selamat Jalan Irwan
Kau tetap sobatku walau telah menghadap Yang Esa

diselesaikan pada 21:30 GMT+7, 12 Maret 2008, Jakarta