Akhir-akhir ini dengan kenaikan BBM, kegiatan demo kembali marak, cuma menurut pandangan mataku koq rada NORAK. Mengapa aku menulis kata NORAK, karena menurut terawanganku roh demo saat ini ada beberapa hal yang perlu di lihat :

  1. Benarkah tujuannya hanya sekedar demo BBM, kelihatannya lebih berusaha mencari momentum sejarah mengulang ketika reformasi menjatuhkan Presiden Suharto, sekarang diarahkan untuk menjatuhkan Presiden SBY. Jadi kalau sekarang juga berhasil, para pendemo memiliki kepuasan tersendiri, tapi apakah ini akan memperbaiki situasi?
  2. Kegiatan demo lebih dikuasai kegiatan pengrusakan, alias mengedepankan OTOT dari pada OTAK. Ini bisa dilihat dari huru-hara yang ditimbulkan, kemacetan, membakar mobil, merobohkan pagar.
  3. Mengacu poin dua, perlu diteliti lebih lanjut, apakah mahasiswa yang mendemo termasuk ke KIPER (kelompok IP rendah), KIPAS (kelompak IP pas-pasan) atau KEPITING (kelompok IP tinggi). Aku kuatir kalau di survei atau disederhanakan, mahasiswa yg berurusan polisi ditanya berapa IPKnya…..jangan-jangan KIPER.
  4. Mengacu poin dua dan tiga, pada MALARI 1974 saja demo di jalan juga melahirkan produk ‘intelektual’ buku putih. Demo sekarang koq model jalanan-preman. Aku tidak berhasil menemukan produk intelektual, baik di cetak, terlebih-lebih di Internet. Atau aku memang bodoh utk menggunakan search engine?

Hai para mahasiswa, generasi muda dan calon intelektual kita. Kita harus membalik, jangan katakan : “kita lakukan ini karena contoh dari para pimpinan”, tapi katakan : “hai pimpinan lihatlah contoh apa yang telah ku lakukan”. Jadi mulailah para mahasiswa melakukan demo yang indah dan cerdas. Seperti pembahasan secara intelektual ttg BBM, kalau perlu dengan beragam bahasa dan disebarluaskan secara nasional dan internasional, bukan saja dengan cara bawa poster mengeblock jalanan, membakar ban.

SELAMAT BERDEMO DENGAN DAMAI DI HATI, DAMAI DI DUNIA DAN DAMAI SELALU.