education17 May 2008 08:04 am

Topik ini timbul dari obrolan kegiatan visitasi baik antar sesama asesor ataupun dengan perguruan tinggi yang divisit. Beberapa asesor yang notabene juga seorang dosen, kerap kali guyonan, mahasiswa sudah dinilai via ujian yang dituangkan dalam IPK. Sementara program studi atau institusi juga sudah diperiksa oleh tim asesor. Lalu bagaimana dengan dosen?

Banyak yang nyletuk, yach kita kan dinilai dengan KUM untuk kepangkatan. Tapi banyak yang tidak setuju, karena penilaian KUM tidak terstruktur dengan maksimal. Untuk itu beberapa dosen dan aku sendiri beserta beberapa mahasiswa S2 untuk mencari model pengukuran unjuk kerja dosen.

Ternyata dari literatur sebagian besar yang dinilai adalah :

  • Latar belakang pendidikan
  • Penelitian bidang keilmuannya
  • Publikasi bidang keilmuannya
  • Produk

Pengukuran latar belakang pendidikan ada berbagai macam, ada yang cukup melihat levelnya saja S1/S2/S3, ada yang mengukur lebih detail seperti perguruan tinggi tempat belajar, prestasi selama belajar, topik penelitian untuk tugas akhir dan kualitas dosen pembimbingnya. Rumit juga kalau faktor-faktor berikutnya dimasukkan, tapi ini memungkinkan dikombinasikan dengan semantic web (RDF) dalam Internet sebagai rimba informasi.

Pengukuran penelitian pada bidang keilmuannya ada yang melihat cuma berapa banyak penelitan yang dilakukan. Yang lebih detail melihat : berapa besar biaya penelitian, bagaimana tim kerja penelitian, bagaimana hasil penelitian dan juga pemanfaatan hasil tersebut.

Acuan melihat kepada publikasi akan dilihat secara sederhana pada umumnya, mana yang proseding, jurnal dan popular. Tapi ada beberapa yang agak ‘gila’ melihat kepada level proseding/jurnalnya juga. Kalau untuk buku dilihat juga level dari penerbitnya.

Pengukuran produk relatif jarang, beberapa kampus yang bertitik berat ke industri, maka output produk dari dosen sangat diukur. Hasil produk sebagian besar adalah bawaan dari penelitian, dan beberapa karena kerjasama dengan industri.

Melihat kepada parameter di atas beserta teknik pengukurannya. Kira-kira yang cocok diterapkan di Indonesia model yang mana? Dan khususnya untuk kampus tercinta Universitas Gunadarma akan kita terapkan yang mana?

Sehingga bukan saja kita menilai mahasiswa, tapi mahasiswa menilai kita. Disisi lain ini juga merupkan salah satu indikator dalam memilih perguruan tinggi, karena publik bisa menilai dosennya seberapa tinggi kualitasnya. Karena perlu diingat bahwa perguruan tinggi adalah produksi sumber daya manusia. Maka salah satu komponen produksi yang sangat penting adalah DOSEN.

6 Responses to “Bagaimana Menilai Dosen ?”

  1. on 19 May 2008 at 5:27 pm mohiqbal

    Ada satu lagi mas, dosen juga mengajar kan, tentu ada satu poin penilaian lagi dari kemampuan mengajar dan mendidiknya. Parameter ini susah juga, karena masuk ke wilayah subyektif. Tapi kalo bisa dirumuskan tentu sudah mencakup indikator dosen yang baik.

  2. on 19 May 2008 at 5:42 pm iwayan

    Betul Iqbal, cuma memang sulit untuk menilai unjuk kerja dosen dalam mengajar. Lebih-lebih kalau kita ingin melakukkan pengukuran berdasarkan web dari personal web dosen (seperti Webometrics). Makanya aku tidak berani memasukkan ini, karena sulit mengukurnya. Idealnya tiga pilar bisa kita ukur : Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Dari tulisanku pada point Penelitian lebih dititik beratkan, dengan alasan relatif lebih mudah mengukurnya, terutama untuk berbasis web.

  3. on 11 Dec 2008 at 12:47 am Taufan

    halo mas wayan, salam kenal dari alumni gunadarma ‘99

  4. on 28 Dec 2008 at 5:00 am iwayan

    Hallo Taufan, salam kenal kembali, silahkan sharing utk kampus dalam berbagai hal
    Wayan

  5. on 10 Feb 2010 at 5:19 pm riama sarah

    selamat sore mas iwayan, saya sedang melakukan penelitian tentang IMD (indeks Mengajar Dosen), salah satu variabelnya adalah” mengukur kualitas Dosen” dan “bagaimana penguasaan materi kuliah ”
    paertanyaan saya: bagaimana mengukur ini ya? indikator nya apa? dan sejauh mana sumber informasi (mahasiswa) memberikan penilaian yang subjektif?
    Trimaksih? mahon ikirim ke email saya ya mas..??

  6. on 10 Feb 2010 at 7:51 pm iwayan

    Pemahaman saya ada dua yang mau diukur yaitu : kualitas dosen dan penguasaan materi kuliah oleh dosen. Dilihat dari pertanyaan tersebut, maka penguasaan materi kuliah oleh dosen, sebenarnya adalah subbagian dari kualitas dosen. Jadi kita batasi kualitas dosen dulu.

    Kualitas dosen dianut dari model indonesia adalah melihat kepada tri dharma perguruan tinggi yaitu : pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dari tiga pilar utama dapat kita down grade lebih lanjut. Sebagai contoh (sebab bisa banyak sekali parameternya) :
    1. Pendidikan :
    - disiplin (kehadiran, jam di kelas, kesesuaian SAP, kesesuaian soal, kedisiplinan menyerahkan soal dan memeriksanya, dsb)
    - kegiatan kelas (kemampuan penyampaian, keragaman metode penyampaian, keragaman kegiatan kelas dsb)
    - penguasaan (literatur yg digunakan, keterkinian, kemampuan menjawab pertanyaan)
    - dll

    2. Penelitian
    - jumlah publikasi di prosedin, jurnal, popular dsb
    - kemampuan melibatkan mahasiswa atau dosen yunior
    - kemampuan mendapatkan dana eksternal dari beragam sumber
    - kemampuan penelitian lintas instansi
    - dll

    3. Pengabdian masyarakat
    - jumlah kegiatan
    - manfaat kegiatan
    - mencari sumber dana pendukung abdimas
    -dll

    Jadi kalau bicara parameter akan banyak sekali.
    Pengukuran dari mahasiswa sangat relatif, kita sadari kelas mahasiswa ada beragam, apakah di PTN top, di PTS ujung indonesia, ini akan memberikan umpan balik yg berbeda. Jadi saya sengan pengukuran dari berbagai sisi, bukan dari mahasiswa saja.

    Mudah2an membantu info saya.

Trackback this Post | Feed on comments to this Post

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.