May 2008


education19 May 2008 05:55 pm

Saat ini semua murid dan orang tua dari SD hingga SMA menjadi was-was dengan ujina nasional. Bahkan dari berbagai media kecemasan menjalar juga ke tingkat guru hingga Bupati. Sebegitu mengerikannya kah Ujian Nasional?

Pertanyaan mendasar apakah manfaat dari Ujian Nasional? Layakkah kita di Indonesia melihat keragaman dan luasan geografis menyelenggarakan Ujian Nasional yang ’seru’ itu?

Melihat dari pengalaman pribadi, pengamatan dari berita media baik terhadap para ahli pendidikan maupun masyarakat umum terkesan bahwa Ujian Nasional model saat ini belum memadai untuk kita laksanakan, lebih banyak repotnya dari pada untungnya.

Coba kita lihat satu persatu pertimbangan pribadi saya :

  1. Apakah sarana dan prasarana sudah bisa ’seragam’ di seantero Nusantara?
  2. Apakah faktor pengajar/guru sudah bisa ’seragam’ dalam standard kualitas minimum baik kualitas perorangan maupun dukungan pelaksanaannya?
  3. Apakah kurikulum termasuk buku panduan (text book) sudah ada acuan standard untuk mata ujian yang akan dilakukan?
  4. Apakah ada contoh bank soal sebagai materi latihan persiapan untuk Ujian Nasional?

Dari empat pertanyaan di atas, jawabannya adalah BELUM dan BELUM. Sehingga pelaksanaan Ujian Nasional akan sangat bias, kita belum bisa melakukan perbandingan ‘apple to aplle’. Sehingga kalau begitu apa manfaat ujian nasional yang dilakukan paa 2008?

Saya mencoba mencari jawaban yang memuaskan belum menemukan sampai sejauh ini. Salah satu yang saya dapatkan adalah untuk mengukur kemampuan siswa dengan alat ukur yang sama sehingga kita bisa tahu kualitas pendidikan Nasional. Tapi perlu diingat, kalau pengukuran hanya mendapatkan hasil ukur tidak masalah, tapi cilakanya pada ujian nasional juga banyak terjadi kambing hitam. Sehingga timbul kembali dua pertanyaan : (i) apa kalau begitu manfaat ujian nasional dan (ii) apa alat ukur untuk pendidikan nasional.

Ini memerlukan pandangan dari berbagai pihak, termasuk para pendidik dan pengajar, pelaksana pendidikan yang lebih tinggi, pemakai lulusan anak didik dan masyarakat umum. Saya menunggu pendapat dari berbagai pihak untuk kita melihat ke depan model pendidikan kita di Nusantara.

education17 May 2008 08:04 am

Topik ini timbul dari obrolan kegiatan visitasi baik antar sesama asesor ataupun dengan perguruan tinggi yang divisit. Beberapa asesor yang notabene juga seorang dosen, kerap kali guyonan, mahasiswa sudah dinilai via ujian yang dituangkan dalam IPK. Sementara program studi atau institusi juga sudah diperiksa oleh tim asesor. Lalu bagaimana dengan dosen?

Banyak yang nyletuk, yach kita kan dinilai dengan KUM untuk kepangkatan. Tapi banyak yang tidak setuju, karena penilaian KUM tidak terstruktur dengan maksimal. Untuk itu beberapa dosen dan aku sendiri beserta beberapa mahasiswa S2 untuk mencari model pengukuran unjuk kerja dosen.

Ternyata dari literatur sebagian besar yang dinilai adalah :

  • Latar belakang pendidikan
  • Penelitian bidang keilmuannya
  • Publikasi bidang keilmuannya
  • Produk

Pengukuran latar belakang pendidikan ada berbagai macam, ada yang cukup melihat levelnya saja S1/S2/S3, ada yang mengukur lebih detail seperti perguruan tinggi tempat belajar, prestasi selama belajar, topik penelitian untuk tugas akhir dan kualitas dosen pembimbingnya. Rumit juga kalau faktor-faktor berikutnya dimasukkan, tapi ini memungkinkan dikombinasikan dengan semantic web (RDF) dalam Internet sebagai rimba informasi.

Pengukuran penelitian pada bidang keilmuannya ada yang melihat cuma berapa banyak penelitan yang dilakukan. Yang lebih detail melihat : berapa besar biaya penelitian, bagaimana tim kerja penelitian, bagaimana hasil penelitian dan juga pemanfaatan hasil tersebut.

Acuan melihat kepada publikasi akan dilihat secara sederhana pada umumnya, mana yang proseding, jurnal dan popular. Tapi ada beberapa yang agak ‘gila’ melihat kepada level proseding/jurnalnya juga. Kalau untuk buku dilihat juga level dari penerbitnya.

Pengukuran produk relatif jarang, beberapa kampus yang bertitik berat ke industri, maka output produk dari dosen sangat diukur. Hasil produk sebagian besar adalah bawaan dari penelitian, dan beberapa karena kerjasama dengan industri.

Melihat kepada parameter di atas beserta teknik pengukurannya. Kira-kira yang cocok diterapkan di Indonesia model yang mana? Dan khususnya untuk kampus tercinta Universitas Gunadarma akan kita terapkan yang mana?

Sehingga bukan saja kita menilai mahasiswa, tapi mahasiswa menilai kita. Disisi lain ini juga merupkan salah satu indikator dalam memilih perguruan tinggi, karena publik bisa menilai dosennya seberapa tinggi kualitasnya. Karena perlu diingat bahwa perguruan tinggi adalah produksi sumber daya manusia. Maka salah satu komponen produksi yang sangat penting adalah DOSEN.

education12 May 2008 02:27 pm

Sudah lama sekali kata ini didengungkan oleh semua pihak “LINK AND MATCH”, tapi kenyataan dilapangan masih sangat rendah penerapannya. Problem klasik dari dua kubu adalah :

Perguruan Tinggi : “Kami mencetak lulusan siap belajar bukan siap kerja”

Pemakai Tenaga Kerja : “Lulusan dari perguruan tinggi tidak memiliki kompetensi yang memadai”

Kalau kita balik pertanyaan kepada Pemakai Tenaga Kerja, “Seberapa jauh sumbangsih perusahaan/institusi anda mendukung Tenaga Kerja agar sesuai dengan harapan anda?”. Jawabannya sudah pasti “Ini bukan tugas kami, ini tugas perguruan tinggi”

Dan hal yang sama kalau kita balik ke Perguruan Tinggi, “Seberapa jauh perguruan tinggi dalam mempersiapkan proses belajar-mengajar secara real melibatkan pemakai Tenaga Kerja?” Jawabannya : “Mereka kan tidak tahu menyusun kurikulum”.

Melihat kondisi di atas maka sangat disadari sangat sulit untuk mewujudkan Link and Match, sebab kita berjalan sendiri-sendiri. Alangkah lebih indahnya jika kegiatan kebersamaan antara Perguruan Tinggi dan Pemakai Tenaga Kerja bisa dilakukan dengan mesra. Contoh kecil yang saya ingat waktu menempuh pendidikan di Australia adalah :

  • Pengajar pada bidang dan level tertentu wajib magang di perusahaan selama bbrp bulan setiap 5 tahun. Tujuan untuk sinkronisasi kebutuhan materi pengajaran.
  • Beberapa pekerja dari perusahaan wajib menjadi dosen tamu di perguruan tinggi, untuk menginformasikan kebutuhan tenaga kerja dan memberikan kondisi kerja nyata yang ada di lapangan.
  • Banyak dibangun laboratorium di perguruan tinggi yang ruangan dimiliki oleh perguruan tinggi, tapi peralatan oleh perusahaan. Sehingga kalau ada client dari perusahaan akan pelatihan maka dilakukan di lab itu dengan komposisi pengajar 50-50. Tetapi jika lab menganggu bisa sebenuhnya dimanfaatkan oleh perguruan tinggi.
  • Kegiatan pameran lowongan kerja dan magang yang dilakukan bersama antara kampus dan perusahaan-perusahaan, hampir rutin dilakukan setiap tahun pada open house untuk menarik mahasiswa baru dan para alumni.

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.