respect15 Mar 2008 09:12 pm

Irwan Arifin adalah sobatku yang kukenal ketika 1983 sebagai teman seangkatan Fisika’83 Universitas Indonesia sampai dengan saat dipanggil Yang Kuasa pada 11 Maret 2008 sekitar 12:15 WIB di Bogor. Tidak terasa waktu berjalan secara cepat, ternyata telah dua puluh lima tahun aku berkenalan dengan Irwan Arifin dengan intensitas hubungan yang sangat variatif.

Aku mencoba kembali mengingat-ingat periode-periode berkesan selama pertemanan dengan sobatku dalam berbagai masa.

Masa Mahasiswa Fisika’83
Sebagai mahasiswa baru dengan kekuatiran untuk lolos dari DO, maka relatif pada dua tahun awal, pergaulan dengan Irwan relatif tidak banyak. Karena Irwan termasuk mahasiswa yang serius, sedangkan aku termasuk golongan mahasiswa taman, karena seringnya nongkrong di taman untuk cuci mata melihat mahasiswa Ekonomi dan FKG yang cuantik-cuantik, maklum di Fisika yang dilihat ’seram-seram’. Jadi jarang ketemu, kecuali di kelas kuliah.

Kedekatan dimulai pada tahun ketiga, ketika kita mulai aktif di laboratorium Terapan dan Instrumentasi Fisika, terutama lab Elektronik. Yang sangat berkesan pada periode ini adalah waktu ada pameran teknologi, maka dalam persiapan kita membutuhkan kepiawian Irwan sebagai fotografer untuk mengabadikan beberapa percobaan Fisika. Salah satu kesulitan adalah untuk mendemonstrasikan rambat cahaya laser merah, kerena harus bisa memfoto track laser merah tersebut. Setelah dicari akal, maka dilakukan dengan memberi asap rokok maka partikel asap akan dipantulkan oleh laser ini yang di foto. Maka kita bersama-sama merokok di ruang gelap yang ber-AC, sementara kita bukan perokok, jadi setelah pengambilan gambar, terjadilah perlombaan batuk-batuk pada perokok dadakan.

Masa Awal Pengabdian di Gunadarma
Aku, Sarifudin, Chandra, Irwan, Subali adalah merupakan mahasiswa Fisika 83 yang bergabung dengan Gunadarma. Salah satu kegiatan yang sangat berkesan adalah persiapan Open House 89 dari STMIK Gunadarma. Untuk keperluan Open House kembali kita membutuhkan Irwan untuk menjadi fotografer. Dia sangat serius, beberapa kali saya menemani untuk begadang agar dapat mengambil nuansa subuh dengan background gedung 1 kampus Depok (pada waktu itu baru ada 1 gedung). Karena keseringan begadang sampai masuk angin. Periode ini kami sangat dekat, karena untuk persiapan Open House 89, relatif saya dan teman-teman begadang terus menerus di kampus selama hampir tiga bulan.

Sisi lain persiapan Open House adalah cerita yang termasuk katagori MISTERI. Salah satu yang menarik adalah seringnya aiphone berdering ditengah malam walau sentral telah dimatikan, atau Sarifudin yang tidur dipindahkan lokasinya ini terjadi di lantai 2 yang sekarang menjadi lab Elektro sebelah ruang pak Bin dan masih banyak cerita Misteri lainnya. Sehingga kalau mulai malam, kita mulai akrab kerja disatu ruangan yang sebenarnya sama-sama TAKUT sich. Tapi Irwan ternyata memilki nyali yang besar dia cuek aja pergi kemana-mana ditengah malam untuk mengambil foto.

Masa periode 1992-2003
Setelah aku menyelesaikan S2 ku di Melbourne pada 1992 dan kembali ke tanah air, Irwan ternyata sedang studi di Jerman. Sehingga pada masa ini adalah intensitas hubunganku yang terendah dengan Irwan. Satu peristiwa yang menarik, adalah pada masa-masa ini Irwan melangsungkan pernikahannya, tapi pastinya aku koq sudah lupa.

Masa Mahasiswa S3-TI Universitas Gunadarma
Ini kembali masa dekat bersama dengan Irwan sebagai angkatan pertama program Doktor TI Universitas Gunadarma. Kita berjumlah enam mahluk dalam angkatan satu terdiri dari : Asep, Dewi, Fitrin, Irwan, I Wayan, dan Setia. Perkuliahan dimulai di awal 2003, walau kita sudah tidak muda lagi (pantang ngomong tua) tetap aja kalau jadi mahasiswa begajulan. Aku adalah mahasiswa yang paling rajin membolos, Irwan adalah yang paling tekun dan serius selama perkuliahan, termasuk mengerjakan tugas-tugas dari dosen.

Sempat kita beberapa kali mengadakan family gathering dengan serunya, termasuk terakhir adalah sebelum keberangkatanku ke Perancis pada Oktober 2003. Selama di Perancis juga intens komunikasi via email dalam seangkatan cukup tinggi. Terlebih-lebih ketika persiapan kedatangan para pendekar ke Dijon.

Pada kunjungan kedatangan ke Dijon, Irwan dengan semangat fotografinya mengabadikian banyak hal di sekitar kampus dan kota Dijon, sampai-sampai kamera digitalnya nyerah alias rusak. Dan sempat suatu ketika Irwan di apartemenku mendemokan masak spaghetti, tapi cilakanya yang dimasak baunyakkk jadi terpaksa nambah berat badan, tapi yang jelas enak tenan.

Yang paling bahagia aku dengar adalah : akhirnya Irwan pada 2006 dapat menyelesaikan program Doktornya dengan perjuangan yang luar biasa. Sayangnya pada saat sidang terbuka aku tidak bisa hadir karena masih terjebak di kota Dijon.

Masa Perjuangan
Mengapa babak ini aku sebut masa perjuangan, ini adalah saat-saat akhir dari Irwan sejak 2006 untuk berjuang melawan penyakit yang menggerogoti dirinya. Perjuangan ini berhasil dilewati dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Buktinya ditengah grogotan penyakit, Irwan berhasil menyelesaikan program Doktornya. Disisi lain dia juga masih mampu mengendarai mobil Bogor-Depok untuk membimbing mahasiswa ataupun Bogor-Salemba untuk menguji sidang.

Aku rasakan grogotan penyakit semakin besar ketika meninggal ibunda tercinta dari Irwan sekitar Januari 2008. Karena kesibukan mengurus ibunda tercinta, maka fisik dan pikiran Irwan tergerogoti dengan luar biasa. Pada awal Februari 2008 Irwan kembali terpaksa masuk ke rumah sakit ke HCU (high care unit).

Selama sekitar satu bulan di rumah sakit, Irwan sempat beberapa kali pindah antara HCU dan ruang inap biasa. Detik-detik terakhir adalah setelah pindah ke-tiga kalinya ke ruang HCU. Saya masih ingat, pada Minggu 9 Maret saya berencana membesuk, tapi karena anak panas saya tidak jadi membesuk. Senin ada rapat persiapan seminar nasional KOMMIT 2008, dan Mas Pri bilang dia Minggu sempat besuk Irwan dan kondisi memprihatinkan, dan kita berdoa untuk kebaikan Irwan. Selasa pagi, aku telpon ke Dian istri Irwan untuk menanyakan kondisinya serta juga bagaimaan urusan formulir-formulir asuransi yang diurus sama Subali. Dan pas siang hari, aku terkejut dapat telpon dari Subali kalau Irwan sudah dipanggil menghadap Yang Kuasa, dan aku lihat juga ada SMS dari Dian. Aku segera telpon ke Dian dan cuma isak tangis yang aku dengar. Setelah itu aku berusaha untuk mengontak beberapa rekan di Univeristas Gunadarma, Fisika’83, dan Jurusan Fisika UI. Sekitar jam 15.00 Selasa 11 Maret aku sampai di rumah sakit dan telah banyak teman-teman disana. Sekitar jam 16.00, jenasah Irwan diberangkatkan dari rumah sakit ke rumah duka di jalan Burangrang no.20 Bogor.

Sesampai di rumah duka, kita belum tahu rencana pemakaman akankah hari ini atau besuk. Selepas magrib akhirnya dipastikan besuk akan dimakamkan di kuburan Blener Bogor dan berangkat jam 0900 dari rumah duka.

Rabu, 12 Maret 2008, jam 10.00, sobat kita Irwan telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi dengan telah menyelesaikan semua perjuangan dan tugas di dunia ini.

Selamat Jalan Irwan
Kau tetap sobatku walau telah menghadap Yang Esa

diselesaikan pada 21:30 GMT+7, 12 Maret 2008, Jakarta

8 Responses to “DUA PULUH LIMA TAHUN BERSAMA IRWAN ARIFIN”

  1. on 16 Mar 2008 at 2:52 pm Budi Hermana

    Walaupun secara pribadi saya tidak terlalu dekat dengan almarhum, namun saya mempunyai kesan mendalam tentang kiprah beliau dalam kegiatan pengajaran dan penelitian di Universitas Gunadarma. Seingat saya, almarhum sangat aktif membantu teman-teman dalam pemanfaatan multimedia untuk proses belajar-mengajar, terutama penggunaan Matlab dan macromedia flash. Almarhum tergolong pribadi yang tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman ke rekan-rekannya yang masih belum tergolong ICT-minded.
    Almarhum juga terlibat aktif dalam implementasi proyek TPSDP di Universitas Gunadarma, diantaranya adalah:
    1. Sebagai narasumber atau panitia seminar dan workshop mengenai metode penelitian dan teknologi pembelajaran
    2. Pelaksana program domestic non-degree training, kalau gak salah di salah satu BUMN yang bergerak di bidang telecommnucation
    3. Overseas non degree training di Universitas Bourgoundy, Dijon- Perancis
    4. Pemenang Teaching Grant, kalau tidak salah bersama Pak Benny mengenai simulasi semikonduktor dengan macromedia flash
    5. Pemenang Research Grant, kalau tidak salah topiknya terkait dengan disertasi beliau

    Salah satu prestasi beliau yang membawa harum Universitas Gunadarma adalah menjadi penyaji terbaik seminar nasional Research&study yang diselenggarakan oleh CPMU TPSDP Dikti-Depdiknas untuk bidang teknologi informasi. Hasil Research Grant beliau di Universitas Gunadarma mengalahkan pemenang-pemenang research grant TPSPDP dari PTN dan PTS lainnya di Indonesia. Saya masih ingat ketika pada saat presentasi, almarhum membawa seperangkat organ dan komputer. Semua reviewer dan peserta lain pada terkesima dengan presentasi dan demo hasil risetnya. Berkat beliau juga, tujuh orang mahasiswa bisa menyelesaikan skripsinya dengan bantuan dana dari hibah Research Grant.

    Demikianlah sebagian kecil kiprah dan prestasi almarhum yang saya ketahui. Tak salah kalau saya berpendapat bahwa Universitas Gunadarma telah kehilangan salah seorang staff yang potensial dan berdedikasi. Semoga ilmu dan pengalaman yang telah diajarkannya kepada kita menjadi amal ibadah yang Insya Allah akan menjadi bekal yang tiada habisnya untuk mengantarkan almarhum menghadap ke Yang Maha Kuasa. Amin.

  2. on 16 Mar 2008 at 10:16 pm Iza Yunita

    Sebelumnya saya ingin menyampaikan kedukaan saya yang sangat dalam atas kepergian Bpk. Irwan Arifin selaku mantan dosen saya di Gunadarma. Beliau merupakan salah satu dosen favorit saya dan juga mungkin beberapa teman saya di TI ‘98 saat itu, dikarenakan banyaknya mahasiswa yang tertarik untuk menjadikan beliau sebagai dosen pembimbing mereka saat penulisan ilmiah kami di tahun ke-3. Bila saat itu ada pemillihan dosen favorit di IT, mungkin beliaulah yang akan menyandang gelar tersebut. Beliau merupakan dosen yang sangat baik, pintar, berkharisma, tidak pelit ilmu, tidak sombong, mau selalu meluangkan waktunya untuk mahasiswa2nya.
    Wajar saja, banyak juga teman2 saya yang saat itu sudah memiliki dosen pembimbing lain, selalu datang meminta kesediaan beliau memberikan bimbingan dan juga masukan untuk penulisan mereka. Dan dengan kebesaran hatinya, beliau selalu membuka lebar-lebar pintunya bagi mahasiswa2nya. Karena bagi beliau, dedikasinya sebagai seorang pendidik bukan hanya harus dilakukan di dalam kelas, dimanapun, bila beliau ada waktu, beliau dengan sangat senang hati meluangkan waktunya. Mendengar berita kepergiaan beliau dan juga membaca perjuangan beliau melawan penyakitnya disaat beliau merampungkan S3nya membuat saya semakin kagum akan usaha beliau untuk tetap exist di dunia pendidikan ini, dedikasi beliau yang tinggi semoga dapat menjadi ladang ibadah bagi beliau.

    Bpk. Irwan, sekarang kau sudah tenang di alam sana, tugasmu sudah berakhir di dunia ini, kami yang disini masih harus menyelesaikan tugas2 kami, hingga pada akhirnya kami pun akan menyusulmu untuk mengakhiri pengabdian kami di bumi ini…..
    Selamat jalan pahlawan pendidikan…..,
    Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT, amiiin….

  3. on 17 Mar 2008 at 8:14 am Imam B. Sarjono

    Untuk Sahabat:
    Elang itupun telah pulang

    Kepak sayap yang kukuh
    merengkuh angin membumbung tinggi
    ke ujung harapan
    dicengkeramnya kuat keinginan
    terbang melintas pulau
    di setiap perhentian tertera bekas jamahanmu namamu ada di bibir yang menyebutmu
    di benak sahabatmu yang mengenang

    angin musim hujan dulu
    tak mampu menghempasmu
    panasnya kemarau saat itu
    tak membuatmu jera
    hujan badai rintangan bahkan memacu semangatmu seperti tonggak terpancang kuat hanya satu kata, maju

    detik berlalu, menit mengejar, tahunpun berganti
    dua puluh tahun lebih sudah tak kudengar celoteh canda tawamu yang biasa terdengar nyaring di rimbun taman Salemba
    kita semua melangkah maju kedepan meraih impian memburu harapan

    dan waktu yang telah memisahkan
    sementara jarakpun telah semakin menjauh namun kuyakin semua tak akan menggoyahkanmu seperti dulu, saat aku memanggilmu sahabatku engkau tetap tegar dalam keyakinan seperti tonggak terpancang kuat hanya satu kata, maju

    seperti tak percaya
    berita ini membuatku terpana,
    engkau telah pergi
    elang perkasa yang sanggup mengarungi samudra
    telah pulang kembali ke sarangnya
    rumah abadi yang akan ditempati selamanya

    Selamat jalan sahabat
    Sekali lagi kupanggil kau sahabat,
    seperti dua puluh lima tahun lalu
    saat aku memanggilmu, sahabat.

  4. on 17 Mar 2008 at 4:46 pm iqbal

    Selamat jalan, sahabat.
    rindu kami untukmu

    Semoga diberkahi dan mendapat ampunan tiada henti.

  5. on 05 Apr 2008 at 2:22 am dillah

    Innalillahi wainnailahi rojiun..

    Saya TI gunadarma 99 yang pernah diajar beliau, kenangan yang membekas adalah ketika beliau mengajar matakuliah sistem digital. Beliau memberikan tugas kelompok untuk mencari bahan2 yang diperlukan untuk praktek seadanya didalam kelas, begitu hari H nya kelompok kami baru sibuk mencari barang2 tersebut dan ternyata ada beberapa komponen yang belum didapat.

    Begitu jam kuliah beliau kelompok kami pura2 sibuk dan beliau berkeliling ke tiap2 kelompok untuk mengecek, tiba dikelompok kami beliau sepertinya curiga karena ketidak profesionalan kami untuk berpura-pura sibuk, begitu mengetahui bahwa kami belum menyiapkan kebutuhan praktek secara lengkap beliau menyuruh kelompok kami keluar kelas, beliau sudah tidak mentolerir kegagalan kami mengumpulkan bahan2 yang dibutuhkan karena sudah diberikan waktu yang panjang…yah itu semua murni salah kami :)

    Selamat jalan pak guru, semoga ALLAH mengampuni dosa2 anda semua dan ilmu yang anda ajarkan kepada murid2 anda dapat menjadi amalan yang tidak putus2…amiinnn

  6. on 05 May 2008 at 9:51 am madewibawa

    pertama kali saya goggling mencari materi kuliah saya tentang elektronika saya sangat tercengang dengan nama irwan arifin. karena materinya sangat menarik dibaca ternyata hari ini tanggal 5 mei 2008 kaget apakah benar pemilik nama tersebut telah tiada…

    Jika demikian kami selaku pemegang tugas yang sama ikut berbela sungkawa dengan keluarga besar universitas Gunadarma

    Terima kasih..

  7. on 06 May 2008 at 11:56 am andy

    Sebelumnya saya mohon maaf baru membaca berita ini dari blog ini ….. saya mewakili kelas MMSI 2 dan 1 yang terakhir kali pernah diajar beliau pada matakuliah matrikulasi mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya beliau semoga segala amal perbuatannya diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa.
    Kesan kami sangat mendalam sewaktu beliau mengajar kami dengan segala aplikasi yang beliau demokan di depan kelas,,,,,
    Semoga apa yang telah beliau berikan kepada kami dapat menambah wawasan kami.

    Selamat Jalan Pak Irwan Semoga kami bisa melanjutkan cita-citamu……

    Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Gunadarma ( MMSI 1 dan MMSI 2)


  8. [...] DUA PULUH LIMA TAHUN BERSAMA IRWAN ARIFIN oleh I Wayan Simri Wicaksana [...]

Trackback this Post | Feed on comments to this Post

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.