Antara Niat dan Perbuatan

Judul itu tidak asing bagi orang-orang yang mendalami ilmu perilaku.  Bahkan bagi orang yang tidak mendalami ilmu perilakupun, judul  tersebut bukan hal aneh.  Pada banyak perilaku, dan dibuktikan banyak penelitian, niat mendahului perbuatan.  Itulah juga yang terjadi pada perilaku ilmiah dosen UG.

Coba perhatikan, setiap ada pengumuman dibuka pendaftaran untuk menjadi peserta seminar, banyak dosen berbondong-bondong mendaftarkan diri.  Hanya dalam beberapa jam, biasanya kuota yang disediakan sudah terpenuhi.  Dan pendaftar tidak akan berhenti meskipun kuota sudah dilewati.  Fenomena ini sesungguhnya sangat menggembirakan.  Bagaimana tidak, fenomena itu menunjukkan semangat ilmiah yang tinggi dari para dosen.  Dan seingat saya, dari jaman dulu semangat mendaftar seperti ini sudah sangat tinggi.

Tapi tunggu dulu.   Niat tanpa perbuatan tidak akan berarti apa-apa.  Fenomena lainnya, pada hari “H”, maksimum 30% dari pendaftar akan hadir pada waktu yang ditentukan.  Jika beruntung, sampai sebelum istirahat makan siang, pendaftar yang hadir dan tetap bertahan di ruang seminar bsia mencapai 80%, jika beruntung.  Most of time, peserta akan saling tukar, hilir mudik, sehingga peserta yang akan selalu ada di ruangan mungkin maksimum hanya 30%.  Bisa dimaklumi memang, semua dosen kita sibuk dengan tugas masing-masing, sehingga sebenarnya sudah tidak ada waktu untuk ikut seminar seperti itu.

Apa yang harus dilakukan penyelenggara? Apa juga yang harus kita lakukan?  Apakah dengan adanya niat sudah cukup?  Apakah niat tidak perlu diwujudnyatakan dalam perbuatan?  Apakah hanya dengan niat sudah layak mendapatkan penghargaan dalam hal ini?

Tanya ke rumput yang bergoyang…..hehehehehe.

Bertindak karena kepepet

Curhat ini terinspirasi karena banyaknya pertanyaan yang masuk ke saya, baik melalui telpon, email, atau chatting, sehubungan dengan surat edaran “scan hasil penelitian.” Kalau dilihat dari sisi positif, senang juga sih, ternyata cukup banyak yang senang  dan merindukan saya, sehingga mereka harus menelpon, kirim email, dan chatting.  Siapa coba yang tidak bangga dicari-cari banyak orang.

Tapi di luar itu, saya punya kekhawatiran.  Pertanyaan yang diajukan membuat saya berpikir, jangan-jangan surat edaran itu dianggap hanya wajib dipenuhi sampai tanggal 25 September.  Meskipun bukan saya yang membuat surat tersebut, tapi saya percaya, surat itu dimkasudkan untuk dipenuhi sepanjang kita di UG, mulai dr September ini sampai seterusnya di waktu mendatang.

Karena kepepet, banyak mungkin yang berpikir, iay sudah, bimbingan PI saya saja yang saya laporkan.  atau tesis saya yang sudah diselesaikan lebih dari sepuluh tahun yang lalu saja yang dilaporkan.   Bapak/ibu yang baik hati, saya yakin surat itu juga bukan dimaksudkan ditanggapi seperti itu.  Penelitian dan publikasi yang harus dilaporkan adalah penelitian dan publikasi yang dilakukan pada semester yang bersangkutan.  Karena ini baru yang pertama, oke…silahkan bapak/ibu laporkan 5 tahun terakhir.  Tapi untuk semester berikutnya, yang harus dilaporkan adalah hasil semester yang bersangkutan.  Apakah PI/skripsi/tesis bimbingan kita dapat dianggap sebagai penelitian kita?  Itu tergantung peran kita dlm pembimbingan.  Ada caranya untuk menghitung, danbapak/ibu bisa pinjam bukunya di ruangan saya.

So…..supaya tidak bertindak saat kepepet (karena hasilnya pada umumnya tidak memuaskan), marilah kita meneliti dan publikasi mulai dari sekarang secara terencana.

Salam,

Honesty

Lately, I keep asking myself………how hard to be honest.  What price shall I sacrifice being honest?  What price that I forfeit…. presuming anybody being honest with me?

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.