San Fransisco = Jakarta

Tanggal 21Oktober waktu San Fransisco, USA, saya naik kereta cepat sana (mereka nyebutnya BART) menuju UCLA Berkeley. Kereta sepi, tidak seperti di Jakarta. Begitu masuk, saya ambil tempat duduk di sebelah kiri. Tempat duduk itu isi dua orang dan hadap-hadapan seperti kereta jarak jauh di Indonesia. Di sebelah kiri pintu saya masuk, ada 10 kursi (masing-masing isi 2 orang) yang terbagi dua oleh lorong jalan. Saat saya masuk, sudah ada seorang cowok di sisi kiri duduk paling pojok (dekat sambungan gerbong). Keliatannya dari asia juga. Saya ambil tempat duduk di kanan, dekat dengan pintu.

Di stasiun berikutnya masuk beberapa penumpang ke gerbong tempat saya duduk. Seorang cowok India mengambil tempat duduk di depan saya. Setelah jalan, saya berpikir untuk mengambil gambar luar, tapi di sisi saya ada sinar matahari yang mungkin akan membuat gambar saya kurang bagus. Lalu saya pindah ke sisi kiri, di depannya si cowok yang asia tapi terpisah oleh kursi yang menghadap dia dan kursi yang menghadap saya. Saat BART berhenti di stasiun berikutnya, 5 orang (4 orang negro dan 1 orang bertampang asia) masuk dari arah pemisah gerbong, berarti dari arah depan saya dan dari arah belakang si asia dan India. Satu orang duduk di depannya si cowok asia yang tadi (berarti di depanku juga tapi ngebelakangi saya), satu orang duduk di belakangnya si India dan ngadap ke si India, satu orang dengan bawa tatakan, satu guli merah dan empat kayak penutup botol duduk di depan si India. Satu orang duduk di belakangku dan membelakangi aku krn kursinay ngadap ke pintu, dan satu orang lagi kurang aku perhatikan (mungkin berdiri di lorong di belakang kananku).

Saya sudah mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa gambar saat mereka masuk. Tidak lama saya perhatikan orang yang bawa tatakan tadi memainkan sulap, mengacak letak guli dan minta orang-orang nebaknya. Oh iya, mereka berlima pura-pura saling tidak mengenal. Karena sudah terbiasa dengan cerita kejahatan dan penipuan di Indo, saya langsung berpikir, “wah…ada penjahat dan berkelompok.” Saya langsng menutup kamera, memasukkannya ke ransel, dan mengambil ransel untuk dipangku.

Orang yang di belakang si India, di depanku, dan yang di belakangku langsung menunjukkan ketertarikan. Kedua cowok yang sudah dari tadi duduk juga ikutan tertarik. Mereka diminta nebak posisi gulinya setelah diacak. Tebakan mereka benar. Lalu orang yang ngacak letak gulinya mengeluarkan uang 1 dolar dan ajak main pakai taruhan. Orang yagn di belakang si India langsung pura2 tertarik dan mengeluarkan uang 20 dolar. Orang yang memainkan guli itu bilang, pegang ajah dulu. Ternyata tebakan orang itu benar, lalu dia dapat 1 dolar. Terus mereka mendesak si India untuk ikut main. Si India buka dompet, dan dia tunjukkan semua isi dompetnya saat nyari 1 dolar. Ternyata gak ada, Cuma ada 20-an dolar. Orang itu bilang, gak apa pegang ajah dulu. Terus si India dibiarkan menang. Taruhan diulang lagi, dan uang 1 dolar yang sudah sempat dipegang sama si India diambil lagi karena salah nebak. Lalu orang itu menaikkan taruhan ke 100 USD. Si India mau ajah disuruh mengeluarkan uangnya 100 dolar, 5 lembar 20-an dolar. Saat orang itu sudah megang uang si India, si India bilang, buat apa uang saya? Orang itu dan teman2nya bilang, taruhan. Si India bilang..”tidak (sambil mengambil uangnya kembali), saya tidak mau taruhan. Saya cowok baik-baik.” Lalu dia mengambil uangnya lagi dan dibiarkan oleh orang itu.

Lalu orang yang di belakang si India mau taruhan 100 USD. Dan dia dibiarkan menang oleh orang itu. Lalu kembali si India digoda untuk main dengan meminta dia nebak dulu dimana letak gulinya. Si India yakin banget letak gulinya, krn yang main sengaja menunjukkan dimana letaknya. si India ditantang lagi untuk taruhan 100USD. Lalu si India setuju. Dia membuka dompet lagi dan mengeluarkan uang 100 USD dan hamper menutupi tatakan yang dipegang orang itu. Perhatian si India juga udah ke dompetnya. Lalu uang dipegang sama orang itu. Terus diulang lagi pertanyaanya di mana letak gulinya. Si India yakin banget, dia masih menunjuk ke tempat yang sama. Orang itu buka, dan ternyata gulinya sudah tidak di sana. Saat si India buka dompet kayaknya dia sempat memindahkan ke penutup botol lainnya. Orang itu langsung memasukkan uang si India ke kantung dan pura-pura nanya lagi masih mau main apa enggak. Si India Cuma bengong, menggumam, dan bilang, “mana uang saya?” Orang itu bilang, “kamu sudah kalah.” Teman-temannya juga menguatkan bilang “kamu sudah kalah.” Orang yang memainkan sulap itu bilang “kalo gak mau main lagi, iya udah.” Teman-temannya (yang pura-pura tidak kenal tadi) bilang “jangan main lagi.” Lalu 3 orang turun di stasiun berikutnya, tinggal 2 orang. Mungkin untuk jaga-jaga supaya si India tidak mencet alarm di kereta.

Dua orang yang tinggal itu pura-pura membahas bersama dengan si India permainan tadi. Sebenarnya dari awal saya sudah kasih tanda ke India itu supaya tidak mau taruhan. Tapi kayaknya “tanda” yang saya kasih tidak dia mengerti. Kedua orang itu akhirnya turun juga di satu stasiun berikutnya. Setelah orang itu turun, saya ngomong sama si India. Saya nanya kenapa dia gak mengerti tanda yang saya berikan. Dan saya ingatkan supaya dia hati-hati.

Dalam waktu kurang dari 5 menit, si India kehilangan uang 100 USD. Ternyata San Fransisco tidak beda dengan Jakarta.

4 Responses to “San Fransisco = Jakarta”

  1. tapi beda cara kejahatannya, kalo KRL di sini langsung dijambret duitnya sekalian dompetnya

    memang harus hati-hati sih, dimana aja bisa terjadi kejahatan
    waspadalah.. waspadalah..

  2. Iya, betul sekali. Kejahatan emang ada dimana-mana, meskipun frekuensi dan levelnya agak berbeda. Di SF misalnya yang membuat kejahatan kayaknya masih memiliki rasa takut, karena di sana mereka pastinya tidak “backed up” jadi kalo tertangkap oleh aparat pasti akan diproses dengan benar. Sebenarnya masih pengen lanjutin dengan pertidaksamaan kedua kota besar tersebut. Nantilah kalo sduah punya waktu luang lagi ya…hehehehehe.

  3. teteup aja di San Francisco jadi KSB … whoahahahaa …

  4. iye..iye…sampai buat cowok India pun ye…hehehehehhe.

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.