Cerita Perjalanan Mumbai

Tanggal 31 Desember 2008, jam 13.05, pesawat Thai Airways (TG) yang membawaku dari Jakarta ke Thailand lepas landas.  Sejak di Bangkok dulu, saat nyelesaiin pendidikan S2, saya selalu dianggap orang Thai oleh orang Thai sendiri.   Anggapan itu sudah dimulai oleh orang Indo sendiri, saat saya ke kamar mandi ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta.  Petugas di sana coba mengajak saya berbahasa Inggris….hehehhehe.  Saat masuk ke pesawat, disambut oleh pramugari-pramugari cantik Thai, saya diajak berbahasa Thai.  Saya hanya tersenyum, mencoba mau bales dengan “sawadee kap...”dan “kappun ka“….tapi rasanya lidah kelu.  Rasanya mata saya sangat segar melihat pramugari-pramugari Thai yang cantik-cantik, langsing, dan segar-segar heheheeh.

Kenapa ini saya sebut sebagai “perjalanan spiritual?” Saya adalah orang yang tidak bisa menunggu.  Saya selalu berpikir bahwa apapun dapat dikendalikan oleh pikiran, tapi dalam hal menunggu, saya belum pernah berhasil mengatasi ketidaksabaran saya dalam menunggu.  Dalam perjalanan ini, saya berencana untuk mengalahkan ketidaksabaran menunggu.  Saya mulai dengan berangkat ke bandara lebih awal.  Pukul 11.00 saya sudah sampai di bandara.  Sekitar pukul 11.30, saya sudah masuk ke ruang tunggu.  Saya belajar menikmati yang namanya menunggu. Beruntung memang ada Pico dan telkomflash, jadi pelajaran pertama menunggu saya bisa berhasil. Saya sungguh menikmati waktu menunggu tersebut dengan on line dan chatting, tanpa merasa bersalah bahwa harusnya saya bisa melakukan hal lain yang lebih bermanfaat hehehehehehe.  Latihan pertama berhasil.

Latihan kesabaran menunggu ini berlangsung terus dan cukup berhasil selama di India (tidak mungkin diuraikan dengan detil, karena bisa puluhan halaman).  Betapa nikmatnya tidak harus terburu-buru dan tidak merasa bersalah kalau harus menghabiskan waktu untuk menunggu.  Setiap kesempatan menunggu selalu ada hal yang bermanfaat yang bisa dilakukan.  Mengamati orang-orang di sekeliling, mengamati alam yang ada di sekeliling, akhirnya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari itu semua.

Perjalanan di Mumbai selama 1 minggu sangat mengagumkan dan membahagiakan.  Betapa senangnya menyebarkan senyum bagi semua orang dan disenyumi semua orang.  Betapa bahagianya tidak mencurigai kebaikan orang-orang yang mencoba mendekati dan mengajak mengobrol. Betapa bahagianya membuat orang bahagia dengan tidak menolak saat mereka minta berfoto bersama.  Oh iya, saya kan jadi orang asing di sana (selalu dianggap cewek Thailand), jadi sangat laku untuk diajak berfoto kalau lagi ada di tempat umum.

7 Responses to “Cerita Perjalanan Mumbai”

  1. Wah.. jadi artis donk di sana. Sekali jepret pasang tarif berapa hehehe.. laku keras ya :D

    Gunadarma University
    http://gunadarma.ac.id

  2. Bak Artis yach……! pastilah semua orang mimpi itu, Selamat atas perjalanan yang menyenangkan!! Tapi oleh-olehnya mana ?

  3. Halo Hanum,

    Sayangnya gak dapat bayaran…hahahahahha. Kalo pasang tarif kayaknya gak ada lagi yang tertarik untuk minta foto bareng. Tapi yang pasti, saya dapat pelajaran berharga dalam hal itu, pelajaran hidup, saya tidak perlu selalu khawatir atau curiga dengan orang-orang yang mendekati atau ngajak foto. Rasa khawatir dan curiga yang selama ini muncul untuk hal seperti itu dapat dikalahkan dalam perjalanan ini. Mudah-mudahan hal ini tetap bsia saya pelihara. Saya tetap sadar, aware itu harus dan kudu, karena saya mengakui masih banyak kejahatan di dunia ini….tapi tidak harus berlebihan.

  4. Iya…kalo mau sepert artis, pergilah ke tempat atau negara yang penduduknya sangat berbeda dengan penampilan fisik kita, akrena kitta jadi orang aneh di sana….hehehehehe, ternyata segampang itu ye. Tadi saya mau menuliskan perjalanan spiritual yang mungkin bisa banyak dibagikan ke teman-teman, tapi ternyata bisa puluhan halaman. Bisa-bisa gak ada yang baca kan? Tulisan perjalanan spiritualnya entar dalam bentuk novel ajah kali ya. itu aja entar oleh-olehnya ya Ma hehehehehe.

  5. Iya setuju. Waspada juga perlu asal ndak berlebihan. Jangan sampe Paranoid mode ON :D

    ~Take care~

    Gunadarma University
    http://gunadarma.ac.id

  6. Berarti sy harus foto bareng kak Niar juga, supaya gak kalah sm bule2 itu..hehehehe….

  7. Kog bule sih Neni? Wong di india kog. Oang India sampai saat ini belum diapnggil bule kan di Indo? hehehehehe

    Lagian gak perlu mengalahkan bule atuh. Kalo mau foto ama Niar mah bilang ajah….hahahahahahhaa, ge er pisan nya….

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.