INDONESIA….INDONESIA…..ATAU SAYA YANG TIDAK PUNYA IDENTITAS (???)

Beberapa kali punya kesempatan melihat negara lain, ada satu hal yang pasti saya alami : kehilangan identitas. Pengalaman pertama saat kuliah di Asian Institute Technology (AIT) selama tahun 1993-1994. Begitu bertemu orang baru yang bukan orang Indonesia, percakapan kira-kira akan terjadi seperti ini:

Hi….how are you? Are you Philippines? Are you Thai? Oh…no…so you are from Malaysia?

Itu pertanyaan kalau orang asing yang baru ketemu itu bukan orang Thailand. Kalau orang barunya orang Thailand, mereka akan langsung nyerocos ngajak ngobrol dalam bahasa Thailand.

Dan kalau akhirnya saya bilang…No, I’m from Indonesia. Mereka akan kaget. Kaget entah karena gak pernah dengar Indonesia, atau karena wajah saya kagak ada Indonesia-Indonesianya acan. Dua tahun di Thailand belum pernah ada orang yang langsung bisa menebak ”Are from Indonesia?”

Setelah ada kesempatan pergi ke beberapa Negara lainnya, ternyata pengalaman ini tidak berubah. Makin mengherankan, karena lebih memungkinkan bagi orang yang baru saya ketemui menebak saya sebagai orang Brazil, Jepang, China, tentu saja di luar sebagai orang Thailand. Pada umumnya memang orang yang baru ketemu saya selalu menduga saya orang Thailand. Senang juga sih, berarti agak mirip dikit kan. Jadi bisa merasa diri agak cantik dikit….hehehehehhehe.

Anehnya, di Jerman, beberapa orang asing yang sempat ngobrol dengan saya, selalu langsung menebak ”You are Brazil?” Ini yang sangat mengherankan emang, karena menurut saya, tidak ada sedikitpun penampilan fisik saya yang menunjukkan sebagai wanita Brazil. Kayak langit dan bumi bahkan menurut saya.

Pengalaman paling menggelikan dianggap sebagai orang Thailand terjadi tahun lalu. Saat perjalanan pulang dari India (juga), petugas yang saya temui (karena mau ganti pesawat), langsung menyapa dengan sangat ramah dan nyerocos dalam bahasa Thailand. Saya sih emang gak kaget, karena sudah terbiasa mengalaminya. Bahkan kalo tidak penting untuk mengerti apa yang mereka omongin, meskipun hanya ngomong ke saya, biasanya saya pura-pura mengerti saja dengan cara melemparkan senyum termanis. Karena kadang-kadang kalo saya bilang ”I don’t understand” suka ada yang langsung diam. Nah yang ini, yang sudah nyerocos dan sangat ramah ini, ternyata tidak bisa menerima saat saya bilang ”English please.” Dia langsung cemberut, ngomongnya langsung galak saat minta dokumen yagn dibutuhkan, dan meletakkan barang-barang yang dia pegang itu atau mengambil kertas dan paspor dari tangan saya dengan cara kasar. Dan tidak ngomong sama sekali lagi. Saya sih maklum, mungkin dia pikir saya pura-pura tidak mengerti bahasa Thailand karena tinggal di luar negeri….hehehehhehehe.

Di Brazil, saat jalan sama mbak Susy, orang sana langsung menoleh ke saya dengan bahasa mereka begitu merasa mbak Susy gak mengerti bahasa mereka. Mereka langsung berpikir minta bantuan menerjemahkan ke saya heheheheh. Orang Brazil emang payah bahasa Inggrisnya. Di bandara Paris, atau di pesawat Air France, ke saya mereka selalu berbahasa Perancis, tapi begitu ke mbak Susy mereka berbahasa Inggris.

Paling menyedihkan perjalanan baru-baru ini ke India. Biasanya di India mereka langsung menebak saya Thailand…kalau salah baru bilang Philippines. Kali ini, dari berbagai orang baru yang saya temui, begitu ketemu mereka mengatakan ”Are you Japan?” ”Are you China?” ”Are you Vietnam?” ”Are you Philippines?” Dan yang paling mengherankan…..orang India sendiri nanya ke saya ”You are India?” Secara statistic memang tetap terbanyak adalah “You are from Thailand?” dan semua mereka selalu kaget begitu saya jawab “No, I’m from Indonesia.”

Di sepanjang perjalanan pulang, selama sekitar 8 jam, saya bertanya-tanya dalam diri sendiri. Kenapa ya tidak pernah ada orang yang bisa menebak dari mana negara saya(???) Apa emang orang luar tidak familiar sama sekali dengan nama ”Indonesia”? Kalau memang iya, tugas kita berat sekali dong, apalagi tugasnya menteri parawisata (eh masih ada gak sih?). Kita harus memperkenalkan Indonesia lebiah giat ke luar negeri.

Atau…wajah saya yang tidak punya identitas? Perlu dipertanyakan seperti apa wajah orang Indonesia yang dibayangkan oleh orang-orang asing. PENELITIAN PERLU DILAKUKAN!!!!!giving feedback on closing ceremonialgiving feedback on closing ceremonial

Pilgrim

Hidup adalah peziarahan…..kayaknya ada di lagu ya…tapi lupa :) Tempat peziarahan….berarti sifatnya temporary. Semua serba sementara. Hidup ini adalah sementara. Lalu bagaimana hidup yang sementara ini harus diisi? Menyenangkan diri sendiri? Menyenangkan orang lain? Kesenangan pribadi juga berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Seseorang mungkin sudah merasa senang dan sangat bahagia kalau bisa melayani orang lain. Seseorang mungkin sudah senang dan sangat bahagia kalau bisa makan makanan favoritnya. Seseorang akan sangat senang (kalo ini tidak akan bahagia kayaknya) kalau dia bisa membuat orang merasa malu. Ok, cukup pembicaraan tentang senang dan bahagia, karena tulisan ini berbicara tentang peziarahan.

Di peziarahan, dalam arti harafiah, peserta sibuk berdoa, merenung, bahkan ada juga sih yang sibuk ngobrol. Tapi apapun yang dilakukan, saya yakin semua orang yang datang berziarah tujuannya sama, mencari suasana kedekatan dengan Sang Pencipta.

Itu yang saya alami di salah satu tempat peziarahan yang namanya Lourdes. Rasanya dekat sekali dengan Sang Pencipta. Suasana yang tidak saya dapatkan meskipun saya sudah berusaha hening di kamar saya, atau di tempat ibadah. Di kedua tempat terakhir ini, suasana kedekatan dengan Sang Pencipta hanya bersifat sesaat, susah sekali untk bertahan lebih dr beberapa menit.

Dalam suasana kedekatan seperti itu, rasanya diri ini sangat kecil,belum berbuat apa-apa yang berarti bagi sesama, terlalu banyak kekurangan, terlalu banyak kekhilafan, terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna, dan lain-lain. Tapi yang pasti, dari peziarahan setiap peziarah punya semangat dan keyakinan baru untuk lebih baik dan lebih dekat dengan Sang Pencipta melalui karya dan perbuatan (semoga).

Satu kesimpulan saya dari perjalanan ini, setiap orang perlu melakukan perjalanan ziarah dalam arti harafiah.

Distorsi Informasi

Siang bu..
siang…..
apa kbr bu?….
Selamat ya bu..
semoga pernikahannya langgeng…
apaan?
kenapa kamu ngucapin selamat gitu?
lho,,gosip yg beredar ibu katanya nikah…
jd ya sy ucapin selamat..
lagian kamu dengar gosip…..
kalo gosipnya baik kan gapapa bu..
katanya ibu nikah sm bule gitu..
oh…begitu toh
jangan suka bergosip…..
sy kan ga bergosip bu……
cm denger gosip aja……
ya Amin-in aja bu, kalo gosipnya baik mah…..

Itu sepenggal pembicaraan saya dengan seorang mahasiswa. Kenapa begitu mudahnya seseorang menyebarkan info yang tidak benar? Kenapa dengan mudahnya orang percaya dengan info yagn tidak benar? Pembicaraan tadi hanyalah contoh kejadian sehari-hari. Mungkin yang membuat gosip merasa dan berpikir bahwa saya tidak dirugikan sama sekali dengan adanya gossip itu. Bahkan dari potongan pembicaraan tadi, dia yang berbicara dengan saya, gosip itu perlu diaminin..karena katanya “baik.” Apakah gosip emang layak diaminin? Wong namanya gosip.

Bagaimana kalo gosip itu sudah merusak nama baik seseorang? Apakah yang membuat gosip masih punya hati nurani untuk merasa bersalah…atau malah menikmati kalo orang yang digosipkan bsia menderita?

Apakah gosip itu merupakan distorsi informasi? atau malah imajinasi dari pembuat gosip yang ingin diujudnyatakan?

Paling parahnya lagi, menanggapi gosip serba salah. Kalau marah, yang bawa gosip dengan santainya akan bilang…”ye..segitu ajah marah” Kalo diam….dia akan bilang..”benar kan…” atau “kamu senang kan…” So, apapun pilihannya….tetap menyebalkan. Saya hanya bisa bilang…sedihnya jadi korban gosip. Moga2 makin berkurang orang-orang yang senang menyebarkan gosip, apalagi yang bsia merugikan dan menyakiti orang lain….amin.

Tenth International Scientific Conference

Tenth International Scientific Conference

UN Millennium Development Goals: Challenges and Perspectives

Godollo, Hungary 23-26 June 2009

 

 

Conference ini merupakan kolaborasi Delhi School of Professional Studies and Research, India dengan Szent Istvan University of Godollo Hungary.  Pertama sekali conference diadakan di luar Delhi India.  Kali ini saya menemukan pembukaan conference yang mengagumkan.  Tidak seperti biasanya, pada conference ini saya datang lebih awal.  Sekitar 80 menit sebelum acara dimulai, saya sudah duduk manis di aula megah tempat acara pembukaan akan dilangsungkan.  Sayang saya tidak bisa mengunggah gambar megah aulanya, karena saat itu kamera saya kehabisan baterai dan chargernya tidak fit ke colokan listrik yang ada di sana.  Kapasitas aula saya perkirakan di atas 1000 orang.  Aula ini adalah tempat mereka melangsungkan wisuda juga.  Saya sempat melihat wisuda mereka yang dilaksanakan tanggal 26 Juni 2009.  Lihat, mereka bisa mengkoordinasikan dengan baik pelaksanaan 2 events yang sangat besar, wisuda dan international conference pada waktu dan tempat yang sama.

 

Kedatangan saya jauh lebih awal bukan karena diniatkan (niatnya hanya datang lebih awal 15 menit), tapi karena kebetulan saya salah ingat jadwal hehehehe.  Acara terjadwal dimulai jam 10.00, tapi saya sudah hadir jam 08.45 (mengingat kebiasaan di Indo acara dimulai jam 09.00 pada umumnya).  Tapi saya tidak menyesal datang lebih awal (peserta pertama yang hadir, bahkan dari antara panitia) karena banyak hal yang bisa saya saksikan dari kerja sama mereka menyiapkan segala sesuatunya.  Saya bisa menyaksikan berapa orang dan siapa saja yang lari pontang-panting menyiapkan segala sesuatunya.

 

Diawali dengan kedatangan Sri Sri Ravi Shankar (pemimpin spritual tertinggi salah satu aliran Hindu di India), disambut oleh media dan kerumunan peserta. Sri Sri Ravi Shankar bukan hanya sebagai pemuka agama, tapi beliau juga intelektual tinggi.  Yang paling saya kagumi dari beliau sejak Januari 2008 (saya ikut meditasinya di Ninth Conference di Delhi tahun lalu) adalah kerendahan hatinya, kelemahlembutannya, dan kebaikannya.  Semua itu terpancar saat beliau berbicara dan melihat ke arah kita. Sri Sri Ravi masuk diikuti dengan panitia dari India dan Hungary, dan disambut dengan sorakan yang sangat meriah dari peserta, baik yang bertampang India maupun yang bukan India.  Sri Sri Ravi masuk tepat jam 10, seperti biasa, dengan jubahnya yang seperti jubah pastor saat mimpin misa.  Karena saya duduk tepat sekali di pintu masuk, saya punya kesempatan mengambil foto Sri Sri Ravi menggunakan HP dan tetap dalam posisi duduk (semua orang sudah berdiri dan mendekat kearah Sri Sri Ravi).  Saat beliau melihat saya mengarahkan kamera HP, beliau berhenti sejenak, melihat ke arah saya dan melemparkan senyumnya yang sangat damai.  Tidak ada kesan sombong sama sekali dalam senyum dan wajahnya, meskipun beliau selalu dielu-elukan kerumuman massa.  Tatapan matanya terasa mengkotbahkan damai dan kasih.  Dalam dua kali kesempatan bertemu dengan beliau, saya selalu berpikir, kapan saya bisa sebaik dan selemah lembut beliau?  Beliau mendedikasikan dirinya buat manusia, khususnya buat kaum miskin di India.  Beliau mendirikan banyak sekolah dan perguruan tinggi.

 

Setelah itu acara dimulai.  President Szent Istvant masuk yang didahului oleh dua orang panitia (salah satunya Prof. B.P. Singh) dan diikuti 2 orang panitia (salah satunya Prof. Ajay Kumar Singh), diiringi dengan lagu singkat.  President Szent Istvan University menggunakan toga lengkap dengan ketua penyelenggara dari Szent Istvan Universty, Prof. Villanyi.  Setelah itu diikuti dengan lagu kebangsaan, semua peserta berdiri.  Welcome greeting diberikan oleh MC, terutama bagi Sri Sri Ravi.  Semua duta besar dari negara peserta diundang, termasuk duta besar Indonesia.  Tapi saya tidak tahu apakah semua duta besar itu atau perwakilannya hadir.  MCnya adalah Dr. Nagy Henrietta. Prof. Villanyi dan Dr. Nagy Henrietta adalah panitia yang selama ini banyak berkomunikasi dengan peserta. Tepuk tangan sangat meriah dan panjang saat memberikan greeting ke Sri Sri Ravi.

 

Lalu welcome speech dari ketua penyelenggara dari India, Prof. B.P. Singh.  Welcome speechnya Prof. B.P. Singh benar-benar berbobot ilmiah, bukan hanya ucapan selamat datang.  Banyak membicarakan perekonomian di negara-negara dunia ketiga.  Speech berikutnya adalah dari Prof. Ajay Kumar Singh, selaku secretary-general  conference (India), berbicara tentang tema conference dan juga tentang perekonomian dunia. 

 

Speech dari president szent istvan univ yang sekaligus jadi ketua penyelenggara.  President ini juga membicarakan hal-hal ilmiah.  Sebelum acara berikutnya dilanjutkan, peserta disuguhkan satu lagu seriosa yang dibawakan penyanyi cantik dan pemain piano cantik.  Lagunya sungguh bagus, suaranya juga sangat merdu. 

 

Acara berikutnya adalah welcome address dari Sri Sri Ravi dan sekaligus diminta membuka jurnal yang dibungkus rapi sebagai simbol pembukaan seminar.  Pada kesempatan itu, setelah acara resmi dibuka oleh Sri Sri Ravi, rektor Szent Istvan University menganugerahkan honorary professor ke Sri Sri Ravi.  Setelah itu diikuti dengan penganugerahan penghargaan ke petinggi-petinggi conference dan juga bagi sponsor dan undangan khusus seperti Master Del Pe.  Sponsor utama conference ini adalah Four Season Hotel, KPMG, Vodafone, Invitel, GTK, Fiat, dan TATA.

 

Sebelum acara dilanjutkan ke plenary session, peserta disuguhkan lagi dengan seriosa dari kedua penyanyi dan pemain piano yang cantik itu.  Plenary sessions diisi oleh dekan School of Management Studies dari salah satu universitas di India, duta besar Afrika Selatan, dan direktur UN FAO regional Eropa dan central Asia.  Plenary sessions diakhiri dengan Ode dari simfoni ke 9 Beethoven.  What such amazing conference  opening.

Negeri Impian

DREAM LAND

 

Alangkah indahnya tanah ini.  Sawah gandum menghampar hijau dengan sangat rapid an luas.  Ada juga sedikit yang sudah menguning seperti emas, tapi tidak membuat pemandangannya rusak, malah semakin indah dan rapi.  Tanaman jagung juga dapat ditemukan dalam petak-petak yang lebih sempit, dan juga semakin menambah keindahan pemandangan.  Sawah gandum dan jagung begitu luasnya menghampar, tidak digantikan oleh gedung-gedung tinggi atau pabrik.  Rumah-rumah petani yang dibangun dengan model yang sama, bahkan konstruksinya juga, menambah keindahan pemandangan.  Bunga-bunga berwarna-warni mekar di balkon rumah-rumah petani.  Sangat indah.  Saya tidak bisa melukiskan keindahannya dengan kata-kata.  Saya khawatir kata-kata saya malah akan mengurangi keindahannya.  Saya hanya bisa bergumam…..NEGERI IMPIAN.

 

Dahulu kala, di dalam kepolosan dan keluguan kanak-kanak, saya bercita-cita jadi presiden.  Saya ingin membangun negaraku seperti negeri impian yang saya saksikan itu.  Saat itu, saya tidak pernah berniat atau membayangkan membangun kota dengan mercu suar tinggi atau gedung2 yang menjulang ke langit, atau jalan-jalan yang tumpang tindih, atau kehebatan-kehebatan lainnya yang orang pada umumnya anggap sebagai ciri modernitas dan teknologi tingkat tinggi.  Saya hanya ingin membangun pertanian dengan perkampungannya, yang sangat rapi, asri, nyaman, yang tidak akan merendahkan petaninya, petani yang sejahtera bukan buruh tani yang miskin, petani yang pintar bukan petani yang dibodoh-bodohin oleh tengkulak, petani yang bangga menyebutkan dirinya adalah PETANI.

 

Keindahan pemandangan ini hanya saya nikmati dari jauh, hanya dilihat dari kereta.  Saya ingin turun dan menyentuh semua gandum-gandum itu.  Saya ingin turun untuk mengukur tinggi semua gandum-gandum itu.  Saya ingin turun untuk melihat rumah petani itu dari dalam.  Saya ingin tinggal di sana.  Saya membayangkan rasanya pasti menakjubkan, dengan cuaca yang dingin, tinggal di rumah yang besar dan sangat indah desainnya, dikelilingi oleh hamparan gandum yang sangat luas, dan tentunya dikelilingi dengan kehangatan tetangga yang tidak berdesak-desakan seperti di kota.

 

Munchen nama aslinya, Munich nama internasionalnya…….ohhhh, saya ingin tinggal di pangkuanmu.  Saya ingin jadi petani.  Itu adalah jatuh cinta pada pandangan pertama.  Apakah keinginan saya hanya tinggal keinginan saja?  Apakah saya mampu menciptakan Munich kecilku di tanah airku tercinta?

 

Apakah ada dari antara nomor 1, 2 atau 3 yang bisa menciptakan Munich-munich kecil di Indo?  Kalau ada, kasih tau saya.  Saya akan mendaftar jadi pemilih dan akan mencoblos nomor itu.

Please don’t gossipying

Sudah kebiasaan orang kita membicarakan orang lain, mulai dari hal jelek sampai hal baik.  Hal jelek biasanya lebih seru membicarakannya.  Bahkan supaya makin seru, banyak bagian-bagian yang ditambahkan atau dimodifikasi……hehhehehehe.  Saya yang gak tau, apakah pengalaman ini hal jelek apa baik?  Rasanya sudah beberapa kali saya mengalaminya.

It’s Saturday night on June 20th, 2009, when I’s queeing to enter departure terminal of Soekarno-Hatta international airport.  A group of ladies, around 50-60 years old, escorted their family members or friends waving hands to them and in parallel gossipying.  They looked at me and then talked each others.  This occurence repeated until I reached the line close to them.  At that time, one of them asked politely “dek, mau ke Dubai ya? Are you going to Dubai?”  I knew what they’r thinking since the beginning.  Believe it or not, I’m a good observer and reader. so I answered by saying….”nope…I’m going to Munich but via Dubai”  You know how’s the face of the lady who asked me the question?  Seems she won.I heard (not so clearly) she said to her friends…”i’ve told you so, she is not…….”  What I’s thinking is that they argued whether I’m a TKW (female worker) or not.  So  instead by saying “yes,” I said “nope…I’m going to Munich but via Dubai”  I’m not ashmed to be TKW.  For me, all works are noble as long as it’s for human prosperousity.

what’s the useful to talk about others?  Or what’s the pleasure about it? hmmmm….still looking for the answer.

Pengalaman sama terjadi selama di pesawat.  Hampir semua pramugari memandang rendahnya kayaknya, tidak mau senyum meskipun aku sudah senyum.  Mereka pikir aku gak bisa sama sekali bahasa Inggris.  Hampir di sepanjang perjalanan aku tertidur.  Saat mimuman dan makanan pertama dihidangkan, saya tidur.  Saat semua sudah hampir selesai, pramugari sudah mulai membereskan sisa-sisa dan tempat2nya, saya bangun.  pasangan bule di sebelah saya ngeliat ke saya dan senyum.  saya memang belum benar-benar bangun, masih sangat ngantuk.  pramugarinya diam ajah dan tidak menawarkan apa-apa.  lalu saya minta makanan dan minuman.  Pramugarinya menjawab dengan rada ketus, kayaknya dia gak mengerti apa yang gw omongin.  pdhal kedua bule di sebelah saya ngerti benar apa yang gw omongin. mereka berdua jawab saat aku tanya ke pramugari apa pilihannya.  akhirnya mereka berdua melanjutkan ke pramugari apa yang gw omongin, tapi pramugarinya dengan nada agak merendahkan bilang sambil memainkan tangannya, lupakan ajah, nanti ajah  Untung pramugari yang satunya lagi berinisiatif mengambilkan aku makanan.  datang deh makanannya.  pdhal ternyata aku juga tdk tertarik dengan makanannya, dan lebih tertarik melanjutkan tidur lagi.  saya tidak pernah ditanyakan mau makan apa or minum apa meskipun saya bangun saat mereka bagi2 makanan dan minuman.  Tapi setelah transit di Dubai menuju Munchen, pramugari itu semua ramah2.  selalu saya yang ditanyakan terlebih dahulu dengan wajah ramah dan senyum.  Kenapa, krn tidak ada TKW ke Dubai.  So, mereka pikir kalo bukan student, berarti traveling or business.  Kenapa penghasil devisa selalu diperlakukan beda?

Kata Ebit “tanya rumput yang bergoyang”

Tulang Rusuk Siapakah Aku????

Tulisan ini muncul dari hasil diskusi dengan Prof. Cumi, caprofs Buher, Bamby, dan Pri.  Jangan dimasukin ke hati ya, dimasukin ke daftar tugas…boleh…hehehehe.  Apalagi tugas untuk menerjemahkan, ke bahasa Inggris (siapa tau yang kehilangan tulang rusuknya hanya bisa berbahasa Inggris), bahasa Italia (siapa tau yang kehilangan tulang rusuknya hanya bisa berbahasa Italia) , bahasa Jerman (siapa tau yang kehilangan tulang rusuknya hanya bisa berbahasa Inggris), bahasa Perancis (siapa tau yang kehilangan tulang rusuknya hanya bisa berbahasa Inggris), bahasa India (yang ini gak boleh dilupakan hahahahaha), bahasa Portugis, dll.

TULANG RUSUK SIAPAKAH AKU?

 

Apakah aku boleh bertanya : “Tulang rusuk siapakah aku?”

Apakah ada yang bertanya saat melihat saya : “Apakah dia tulang rusukku?”

Apakah setiap laki-laki kehilangan satu tulang rusuknya?

Apakah setiap perempuan pasti merupakan tulang rusuk dari seorang laki-laki?

Kalau gitu, saat jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki, apakah ada laki-laki yang kehilangan lebih dari satu tulang rusuk?  Bagaimana itu mungkin terjadi?

Saat nanti, jumlah laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan (beberapa tahun ke depan hal itu akan terjadi), apakah ada laki-laki yang tidak kehilangan tulagn rusuk atau seorang perempuan merupakan tulang rusuk yang hilang dari lebih satu orang laki-laki?

Hmmmmmmmm……relasi matematiknya akan berubah?

Penutup, apakah saya masih harus bertanya : ”Tulang rusuk siapakah aku?” atau buat pengumuman : ”siapa yang kehilangan tulang rusuknya dan belum menemukannya?”  heheheehehhe.

 

Tapi Prof. Cumi katanya mau cari orang yang kehilangan tulang rusuknya hehehehehehe.  Good luck Prof. Cumi.

FRIENDSHIP

ada beberapa alasan curhat ini dalam bahasa Inggris.  Berhubung ada seseorang nun jauh di sana berkomentar “ just loved your website… but I didn’t understand a word!” menjadi alasan pertama.  Alasan kedua,  semoga makin banyak yang tertarik membaca blog Niar dari luar sana, supaya webometricnya Budi bisa naik hehehehe.  Alasan ketiga, belajar menggunakan Bahasa Inggris.  untuk alasan ketiga ini, para master Inggris, please correct ya.

FRIENDSHIP

 

Hmmmmm….everybody hear and speak loudly the word frequently….either in English word or in other languages.  In Bahasa Indonesia, we say it as “persahabatan.”  The question is “Does everybody understand the meaning of the word?”  In our adolescent attitude, I believe everybody will say…”yes….I do understand.” Hehehehehe.  However, it’s so easy to say, but not to perform.  As well, it’s so easy to admit, but not to behave.

 

It become the title of the song…or lyrics…..engrossing everybody.  Try to listen to Hannah Montana music with title True Friend, sung since 2007.

 

In fact, I made friend many times….with many people….in every place that happen visited….with varied nationalities…..younger or older….but still my question rise…..have I found a true friend?  Have I made friendship?  Am I a true friend for someone else?

 

Someone stating at his/her site, that

“A true friend sticks with you through the good times and the bad,

A true friend will say what you might not want to hear, but a true friend won’t stay mad…

A true friend looks from the inside out and doesn’t judge by a glance

A true friend will stick by you even when you take a stance…

A true friend loves you for who you are not what you could be… A true friend should be cherished cause’ few exist you see…

A friend to love with… A friend to play with… A friend to be with… A friend to stay with… “

I keep asking myself, “HAVE I FOUND A TRUE FRIEND AS WELL HAS SOMEONE FOUND THAT I’M A TRUE FRIEND FOR HIS/HER.”  Hmmmm….I think I’m still looking for.  IS’T YOU?

Cerita Perjalanan Mumbai

Tanggal 31 Desember 2008, jam 13.05, pesawat Thai Airways (TG) yang membawaku dari Jakarta ke Thailand lepas landas.  Sejak di Bangkok dulu, saat nyelesaiin pendidikan S2, saya selalu dianggap orang Thai oleh orang Thai sendiri.   Anggapan itu sudah dimulai oleh orang Indo sendiri, saat saya ke kamar mandi ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta.  Petugas di sana coba mengajak saya berbahasa Inggris….hehehhehe.  Saat masuk ke pesawat, disambut oleh pramugari-pramugari cantik Thai, saya diajak berbahasa Thai.  Saya hanya tersenyum, mencoba mau bales dengan “sawadee kap...”dan “kappun ka“….tapi rasanya lidah kelu.  Rasanya mata saya sangat segar melihat pramugari-pramugari Thai yang cantik-cantik, langsing, dan segar-segar heheheeh.

Kenapa ini saya sebut sebagai “perjalanan spiritual?” Saya adalah orang yang tidak bisa menunggu.  Saya selalu berpikir bahwa apapun dapat dikendalikan oleh pikiran, tapi dalam hal menunggu, saya belum pernah berhasil mengatasi ketidaksabaran saya dalam menunggu.  Dalam perjalanan ini, saya berencana untuk mengalahkan ketidaksabaran menunggu.  Saya mulai dengan berangkat ke bandara lebih awal.  Pukul 11.00 saya sudah sampai di bandara.  Sekitar pukul 11.30, saya sudah masuk ke ruang tunggu.  Saya belajar menikmati yang namanya menunggu. Beruntung memang ada Pico dan telkomflash, jadi pelajaran pertama menunggu saya bisa berhasil. Saya sungguh menikmati waktu menunggu tersebut dengan on line dan chatting, tanpa merasa bersalah bahwa harusnya saya bisa melakukan hal lain yang lebih bermanfaat hehehehehehe.  Latihan pertama berhasil.

Latihan kesabaran menunggu ini berlangsung terus dan cukup berhasil selama di India (tidak mungkin diuraikan dengan detil, karena bisa puluhan halaman).  Betapa nikmatnya tidak harus terburu-buru dan tidak merasa bersalah kalau harus menghabiskan waktu untuk menunggu.  Setiap kesempatan menunggu selalu ada hal yang bermanfaat yang bisa dilakukan.  Mengamati orang-orang di sekeliling, mengamati alam yang ada di sekeliling, akhirnya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari itu semua.

Perjalanan di Mumbai selama 1 minggu sangat mengagumkan dan membahagiakan.  Betapa senangnya menyebarkan senyum bagi semua orang dan disenyumi semua orang.  Betapa bahagianya tidak mencurigai kebaikan orang-orang yang mencoba mendekati dan mengajak mengobrol. Betapa bahagianya membuat orang bahagia dengan tidak menolak saat mereka minta berfoto bersama.  Oh iya, saya kan jadi orang asing di sana (selalu dianggap cewek Thailand), jadi sangat laku untuk diajak berfoto kalau lagi ada di tempat umum.

Antara Niat dan Perbuatan

Judul itu tidak asing bagi orang-orang yang mendalami ilmu perilaku.  Bahkan bagi orang yang tidak mendalami ilmu perilakupun, judul  tersebut bukan hal aneh.  Pada banyak perilaku, dan dibuktikan banyak penelitian, niat mendahului perbuatan.  Itulah juga yang terjadi pada perilaku ilmiah dosen UG.

Coba perhatikan, setiap ada pengumuman dibuka pendaftaran untuk menjadi peserta seminar, banyak dosen berbondong-bondong mendaftarkan diri.  Hanya dalam beberapa jam, biasanya kuota yang disediakan sudah terpenuhi.  Dan pendaftar tidak akan berhenti meskipun kuota sudah dilewati.  Fenomena ini sesungguhnya sangat menggembirakan.  Bagaimana tidak, fenomena itu menunjukkan semangat ilmiah yang tinggi dari para dosen.  Dan seingat saya, dari jaman dulu semangat mendaftar seperti ini sudah sangat tinggi.

Tapi tunggu dulu.   Niat tanpa perbuatan tidak akan berarti apa-apa.  Fenomena lainnya, pada hari “H”, maksimum 30% dari pendaftar akan hadir pada waktu yang ditentukan.  Jika beruntung, sampai sebelum istirahat makan siang, pendaftar yang hadir dan tetap bertahan di ruang seminar bsia mencapai 80%, jika beruntung.  Most of time, peserta akan saling tukar, hilir mudik, sehingga peserta yang akan selalu ada di ruangan mungkin maksimum hanya 30%.  Bisa dimaklumi memang, semua dosen kita sibuk dengan tugas masing-masing, sehingga sebenarnya sudah tidak ada waktu untuk ikut seminar seperti itu.

Apa yang harus dilakukan penyelenggara? Apa juga yang harus kita lakukan?  Apakah dengan adanya niat sudah cukup?  Apakah niat tidak perlu diwujudnyatakan dalam perbuatan?  Apakah hanya dengan niat sudah layak mendapatkan penghargaan dalam hal ini?

Tanya ke rumput yang bergoyang…..hehehehehe.