“Hidup ini terasa hampa sepi tanpa internet dan lebih gelisah setengah mampus ketinggalan BB ketimbang buku kuliah..” tutur teman. Ya, internet memang sudah menjadi bagian dari keseharian hidup, mulai bangun pagi sampai tidur semua tidak lepas dari internet bahkan menjadi “Mental Disorders” akibat kerajingan internet, hehe.. segala informasi bisa didapat dengan mudah, cepat, murah bahkan gratis dengan internet.

Bersasarkan informasi yang didapat [Okezone, 2010] mengenai penetrasi internet Depok tertinggi se-Jabodetabek, Diskominfo mencatat tingkat penyebaran atau penetrasi internet di Depok, Jawa Barat mencapai 80 persen. Hal ini diklaim pemerintah kota sebagai angka tertinggi yang dicapai wilayah se-Jabodetabek. Sebagai civitas akademika kita patut bangga, karena Universitas Gunadarma sebagai kampus yang turut membuat penetrasi internet di Depok menjadi tinggi. Pengguna internet didominasi oleh kalangan usia muda dengan usia antara (12-25 tahun) yang mencapai 60 persen, sedangkan usia dewasa yaitu diatas 25 tahun mencapai 40 persen.

Bagaimana dengan penetrasi internet di Gunadarma sendiri? Tahun 2008 saya melakukan survei pemanfaatan fasilitas internet di kampus di kalangan mahasiswa sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah. Survei dilakukan terhadap aspek-aspek profil, lokasi akses, jenis fasilitas, alasan, kendala pemakaian fasilitas, waktu akses, dan perasaan pengguna terhadap fasilitas yang tersedia. Hasil pengolahan data menunjukkan fasilitas internet kampus yang banyak dimanfaatkan adalah Internet Lounge dan Hot Zone (WiFi). Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa alasan mahasiswa memanfaatkan fasilitas internet di kampus adalah karena bebas biaya dan akses yang cepat. Sebagian besar mahasiswa menyatakan setuju bahwa mereka puas secara keseluruhan terhadap fasilitas internet yang telah disediakan kampus. Bagaimana dengan sekarang? Yang pasti sekarang bandwidth Gunadarma lumayan besar yaitu 40 MB dan memiliki total 72 akses poin yang tersebar di semua kampus.

Internet memiliki peran penting dalam rangka menumbuhkan roda perekonomian di Indonesia, khususnya di dunia bisnis (internet marketing) internet sangat memudahkan masyarakat dalam bertransaksi secara online bahkan para pelaku bisnis di Indonesia dapat melebarkan sayap usahanya sampai keluar negeri yang tentunya akan sangat berpengaruh pada kemajuan perekonomian di Indonesia. Sebaliknya, konsumen pun semakin mudah dalam memenuhi kebutuhan apapun, entah untuk kebutuhan bisnis ataupun pribadi. Konsumen bisa langsung bertransaksi di Forum Jual Beli (FJB) ataupun toko online lainnya. Dengan demikian roda perekonomian di Indonesia jadi semakin maju.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Internet World Stats [update 30 Juni 2010], Indonesia masuk ke dalam Top 20 negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia sebesar 30 juta pada urutan ke-16. Siapa yang pertama? Ya, Cina (420 Juta) disusul USA (239 Juta) dan yang ketiga adalah Jepang (126 Juta). Kemajuan penetrasi internet di suatu negara tidak lepas dari infrastruktur teknologi yang digunakan. Setiap orang menambakan koneksi internet yang cepat, murah, unlimited tanpa quota. Ada? Ya, teknologi broadband jawabannya. Apa itu broadband? dan bagaimana kesiapan infrastrukur dan teknologi broadband di Indonesia?

Teknologi internet broadband adalah sebagai jaringan yang memiliki kecepatan transfer yang tinggi karena lebar jalur data yang besar. Jaringan internet broadband dapat digunakan oleh banyak kalangan. Mengapa harus mempertimbangkan broadband? Broadband menjadi begitu terkenal tidak lain karena teknologi jaringan internet umum seperti dial-up sudah tidak memadai lagi untuk digunakan dalam aplikasi saat ini. Pada umumnya, aplikasi-aplikasi sekaran ini menuntut internet yang berkecepatan tinggi dengan waktu tempuh data yang tidak lama. Maka dari itulah, broadband berkembang sebagai solusi yang tepat dengan kemampuannya dan juga keekonomisannya.

Kesiapan broadband di Indonesia dibuktikan dengan backbone major operator dan proyek palapa ring, digantinya kabel kawat tembaga dengan serat optik meliputi 2.1 Juta satuan sambungan sekunder dan 9 Juta satuan sambungan primer serta mulai tumbuhnya industri Broadband Wireless Access (BWA), diantaranya Technology Research Global (TRG), Hariff Daya Tunggal Engineering, PT. LEN, dll. [detik.com, 2010]. BWA adalah next generation technology.

Pada laporan akhir mengenai Broadband Quality Score (BQS) oleh World Economic Forum tengah 2009 yang menilai parameter download, upload, dan latency untuk mengukur kualitas koneksi broadband suatu negara lebih dari 240 kota di dunia, 9 negara diantaranya dinyatakan memiliki kualitas broadband sebagai “For Future Web Applications” adalah Korea, Jepang, Swedia, Lithuania, Bulgaria, Latvia, Belanda, Denmark, dan Romania dimana menyediakan 11.25 MB/s kecepatan download, 5 MB/s upload dan 65 millisecond latency.

Pada seminar bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bertema “Pengembangan Teknologi Broadband Wireless Access (BWA) Menuju Kemandirian Bangsa” yang diselenggarakan BPPT (25 Nov 2010), Direktur Standarisasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), Azhar Hasyim mengatakan bahwa tentunya sangat terkait dengan bagaimana peranan perangkat BWA itu sendiri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. “Penetrasi pertumbuhan 1% infrastruktur di BWA akan meningkatkan dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Akan tetapi sangat disayangkan, lokal content di Indonesia sangat kecil sekali padahal pemerintah sudah melakukan proteksi salah satunya adalah dengan meningkatkan kemampuan industri nasional”, jelas Azhar.

Dalam sejarahnya, pada tahun 2007 pemerintah telah menetapkan standar BWA yang akan digunakan di Indonesia adalah jenis nomadik atau lazim disebut standar ‘d’. Namun seiring perkembangan, standar tersebut dirasakan memiliki kelemahan karena sistem yang digunakan impor semua sehingga harga perangkat untuk customer (CPE) relatif mahal. Untuk bisa menguasai teknologi di bidang telekomunikasi, sebelumnya otak dari teknologi tersebutlah yang harus dikuasai, yaitu Chip. “Xirka merupakan satu-satunya perusahaan Chip WiMAX di  Asia Tenggara dan salah satu diantara 8 Produsen Chip WiMAX SS di dunia, serta satu-satunya perusahaan di Indonesia yang  mengkhususkan pada Digital Signal Processing for  Communication yang didukung lebih dari 60 R&D engineer”, kata Director Of Technology, PT. XIRKA, Trio Adiono. “Ide dari Xirka adalah ingin menciptakan suatu teknologi yang tidak perlu membutuhkan biaya yang besar tetapi diinginkan dan dapat dipakai masyarakat, jadi bukan hanya untuk mendapat pujian dari negara lain”, jelas Trio. Untuk mewujudkan ide-ide tersebut, Xirka tidak bekerja sendiri atau survive sendiri karena bagaimana pun juga hidup membutuhkan semacam ekosistem yang baik di industri chip ini. “Xirka bekerja sama membangun industri hilir dalam negeri, yang terdiri dari Operator, Regulator, Layanan Konten, Konsumen dan Akademik LPND”, lanjut Trio. Selain bekerjasama dengan stakeholder dalam negeri, Xirka juga bekerjasama dengan stakeholder luar negeri untuk masalah vendor atau pabrikan. Di luar negeri untuk membuat perangkat itu tidak simple, artinya ada RF, antena, software, tester dan sebagainya. Ekosistemnya juga sangat besar, jadi tidak hanya fokus pada satu chipset saja. “Jadi Indonesia sebenarnya tidak hanya fokus pada perangkat wimax saja tetapi juga dalam membangun ekosistem ini”, tegasnya.

“BPPT dalam hal ini berupaya memikirkan agar industri BWA dapat berkembang, sehingga diperlukan susunan Sistem Inovasi Nasional  (SIN) sebagai perekat untuk beberapa stakeholder didalamnya seperti regulator, pendidikan, litbang dan pelaku bisnis atau industrinya”, ungkap Sarinanto dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT. Berdasarkan sudut pandang makro mengenai broadband economy, kata Sarinanto, sejak tahun 2006 upaya persayaratan yang dilakukan untuk memaksimalkan kontribusi industri telekomunikasi dalam negeri adalah harus mengandung TKDN sebanyak 30% untuk Capital expenditures (CAPEX) dan 50% untuk operational expenditure (OPEX).

“BPPT mengeluarkan rekomendasi tentang BWA kepada beberapa Kementerian terkait dengan membantu memberikan tahapan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dan tindak lanjutnya BPPT melakukan upaya penyusunan roadmap Teknologi BWA Indonesia kemudian perbaikan konsep TKDN termasuk penyelenggaraan audit teknologi bagi verifikasi BWA, dan Konsorsium Teknologi BWA Indonesia”, jelas Sarinanto. Selain itu, “BPPT juga berupaya dalam pengembangan Lab TIK di Puspiptek Serpong agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri BWA dalam negeri di Indonesia untuk mendapatkan BWA Certification Lab”, tegasnya.