Hello world!

April 16th, 2007

Welcome to nustaffsite.gunadarma.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!


Kekerasan terhadap wanita kah ini?

March 12th, 2007

Harusnya tulisan ini telah terposting tanggal 8 Maret lalu, tepat saat
memperingati hari wanita se-dunia. Karena ini merupakan wujud rasa
keperihatinan terhadap sesosok wanita, keperihatinan? hmmnn memang agak sedikit
membingungkan untuk otakku yang telah terkontaminasi peradaban kontemporer ini.
Sebab kisah ini masih serba tidak jelas, apakah memang penindasan terhadap
wanita, ataukah karena keluguan seorang wanita yang tidak sadar telah terperdaya,
atau bahkan mungkin tidak merasa tertindas karena telah menganggapnya sebagai
anugrah dan kenikmatan?

Masih shock dengan email yang dikirim oleh rekan lama beberapa hari lalu,
hari ini ternyata email susulan nggak kalah membuatku lebih geleng-geleng
kepala sembari mengelus dada. Potongan cerita perbincangan yang hanya pantas
dibaca oleh pria ataupun wanita yang mengaku telah dewasa. Sosok yang konon
kabarnya sangat teguh dengan pendiriannya, sangat kuat dengan ibadahnya, sangat
santun dengan budayanya, sangat mempesona dengan kecantikannya, kini
bayangan-banyangan itu memudar dengan perlahan dari imagi tentangnya.

Betapa ia telah sangat menikmati perbuatan yang sebenanya belum pantas
dilakukan. Bagaimana dengan sangat jelas digambarkan bahwa semua dilakukan
dengan kesenangan, sama-sama mereguk kenikmatan dunia, mendesah dan memuncak
dengan bersama, tanpa ada satu paksaan.

Tapi kebingunganku bertambah, bahwasanya itu semua dilakukan tanpa ada satu
ikatan yang jelas. Ataukah perasaan sama-sama menuai peluh keringat setelah
“bertempur” beberapa kali, sudah cukup untuk meng”absah”kan perbuatan tersebut?
Berarti nggak usah neko-neko pake status “kekasih” , hubungan “pacaran” atau
bahkan “ijab kabul” segala?

Kan kalau pacaran itu harus tau segalanya tentang pasangan, kan kalau “ijab
kabul” itu harus tahu silsilah keluarga, apalagi yang namanya “Bibit, Bebet,
dan Bobot” buat sebagian besar orang masih sangat penting?

Eyalah… apa ini tho yang namanya jaman serba instan, nggak cuman Mie
saja, tidak hanya bubur thok, apalagi penyimpanan data-data, karena sudah
sangat dimudahkan dengan teknologi digitalisasi yang cepat. Ternyata masalah yang
katanya “mereguk kenikmatan bersama” juga bisa yah dibuat instan?

Jarak yang lumayan jauh bukan menjadi penghalang untuk melakukan yang
“instan-instan” itu. Tanpa harus memikirkan apa yang selanjutnya terjadi
ataukah memang belum terpikirkan yah? namun semoga bukan “nggak terpikirkan”!

Air mata yang mengalir bukanlah air mata penyesalan atas terenggutnya
“kesucian wanita” bukan pula tangisan penderitaan atas perbuatan seorang pria
yang dikencaninya. Namun air mata “kebahagiaan” atas “kenikmatan” sesaat yang
instan.

Tertindaskah dia sebagai “wanita”? Menindaskah dia sebagai “pria”?
Tertindaskah mereka dengan “instanisasi asmara”?

Kurasa aku tak berhak untuk menanyakan apalagi mengomentari, karena terlalu
dangkal pengetahuanku tentang itu semua. Mungkin hanya coretan iseng ini
sebagai wujud rasa keprihatinan terhadap apa yang telah terjadi dengan rekan
baru, yang dia juga adalah seorang “wanita”.


Satu Cerita dari Kota Tercinta…

March 6th, 2007

Duh Gusti,
kawulo nyuwun pangapunten, ternyata ndhak salah kalo toh Panjenengan memberikan
azab bagi kami umatMu. Tapi, bukankah semua itu cobaan dengan harapan semoga
kami menjadi lebih arif menjadi manusia di muka bumi ini, ataukah saya, dia,
serta mereka yang memang kelewatan dan tak tau malu di hadapanMu Yang Memiliki
sertifikat atas seluruh dunia ini bahkan hidup dan mati kami?

Belum lagi sirna
dari ingatan hamba yang mudah lupa ini tentang dasyatnya gempa yang meluluhkan
Jogja, kini angin puting beliung menerpa…. Apakah ini peringatan ataukah memang
petunjuk yang tersembunyi dariMu.

Ah, kalau coba
direnungkan memang sepertinya sudah sewajarnya Kau kirim itu semua, karena
memang umatMu sebagian besar sudah khilaf dah lupa pada hakikat sebenarnya
tentang makna hidup ini.

Kotaku tercinta
yang dulu selalu terlihat lugu dan ayu, tak hanya porak poranda oleh bencana,
tapi juga telah luluh lantak oleh pergeseran budaya.

Paras asli Jogja
kini telah bersolek dengan gincu dan bedak kamuflase sosial.

Kata orang,
persepsi adalah kesan yang ditangkap oleh panca indera ditambah pengalaman yang
akan menghasilkan perilaku. Hmmnn pengalamanku mengatakan Jogja masih aseli seperti logo Dagadu, namun
panca inderaku kini menangkap hal yang sungguh fantastis berbeda, sungguh sangat…sangat berbeda. Lantunan lagu Jogjakarta milik Kla
Project kini menjadi getir terdengar. Jikalau kotaku mampu menitikkan air mata,
barangkali tak hanya tetesan yang
terlinang namun derai yang mengucur deras ke pangkuannya.

Duh Gusti… kini mau dikemanakan
paras jelita si gadis lugu itu. Peradaban yang telah tercoreng serta
tercabik-cabik oleh kenikmatan sesaat yang tak Kau ijinkan.

Aku tertegun sejenak karena hampir
tak percaya setelah kubuka email yang terkirim dari rekan lama.
Potongan
bukti bahwa kini ketabuan dan kesucian tak lagi dianggap berarti. Aku pikir ini
hanya terjadi di ibu kota,
di mana pusat terjadinya kemaksiatan, kehancuran moral, dan pergeseran budaya.
Tapi ini…. di Jogja??? leherku serasa tersekat tak dapat mengeluarkan
potongan-potongan kalimat.

Ataukah aku yang
terlalu bodoh ndhak bisa ngikutin perkembangan zaman, it has been changed man!
wake up! you’re too slow to catch it!
Apa aku yang memang sangat tolol dan
naif.

Hal-hal yang aku
anggap masih tabu ternyata sudah lazim dilakukan oleh yang lain. Aku pikir hal
itu masih “zinah” dilakukan, ataukah sudah bergeser menjadi “halal” untuk
dinikmati?

Membuktikan
sudah tak lagi menstruasi dengan telah melakukan “sholat” sehingga bisa leluasa
untuk melakukan hubungan badan pra Nikah?

Kalimat apa yang
pantas terucap dari bibirku yang kaku ini, “Alhamdulillah” kah karena toh
ternyata dia masih ingat kewajibannya untuk menyembahMu. Atau “Astagfirullah” kah karena melanggar batas
yang telah Kau tetapkan?

Apa yang sepantasnya hamba lakukan?
menolong mereka dari “kenikmatan”? ataukah termenung membayangkan balasan
dariMu yang pasti akan datang. Sekilas
aku teringat potongan lagu milik Java Jive

“Deru nafas memacu di dalam ruang
seiring hasrat manusia. Gelap melanda jiwa dan mereka terlena oh begitu cepat
dosa itu terbuat.”

Duh Gusti, hamba
yang terlalu lugu dengan perubahan zaman ataukah memang manusianya yang sudah
tak lagi perduli dengan azabMu? aku hanya dapat mengurut dada dan geleng
kepala. Modernisasi ataukah kebebasan yang kebablasan? Otorisasi atas hidup
manusia ataukah kebodohan atas nafsu birahi yang tak tertahankan?

Barangkali
kewarasanku sudah tak lagi dapat dipercaya, haruskah ikut tergilas dengan
keterkinian ataukah tetap bertahan pada akar rapuh tradisional kampungan yang
tersisa. Please Gusti Allah, kuatkanlah akar rapuh itu….


Satu Cerita dari Kota Tercinta…

March 6th, 2007

Duh Gusti,
kawulo nyuwun pangapunten, ternyata ndhak salah kalo toh Panjenengan memberikan
azab bagi kami umatMu. Tapi, bukankah semua itu cobaan dengan harapan semoga
kami menjadi lebih arif menjadi manusia di muka bumi ini, ataukah saya, dia,
serta mereka yang memang kelewatan dan tak tau malu di hadapanMu Yang Memiliki
sertifikat atas seluruh dunia ini bahkan hidup dan mati kami?

Belum lagi sirna
dari ingatan hamba yang mudah lupa ini tentang dasyatnya gempa yang meluluhkan
Jogja, kini angin puting beliung menerpa…. Apakah ini peringatan ataukah memang
petunjuk yang tersembunyi dariMu.

Ah, kalau coba
direnungkan memang sepertinya sudah sewajarnya Kau kirim itu semua, karena
memang umatMu sebagian besar sudah khilaf dah lupa pada hakikat sebenarnya
tentang makna hidup ini.

Kotaku tercinta
yang dulu selalu terlihat lugu dan ayu, tak hanya porak poranda oleh bencana,
tapi juga telah luluh lantak oleh pergeseran budaya.

Paras asli Jogja
kini telah bersolek dengan gincu dan bedak kamuflase sosial.

Kata orang,
persepsi adalah kesan yang ditangkap oleh panca indera ditambah pengalaman yang
akan menghasilkan perilaku. Hmmnn pengalamanku mengatakan Jogja masih aseli seperti logo Dagadu, namun
panca inderaku kini menangkap hal yang sungguh fantastis berbeda, sungguh sangat…sangat berbeda. Lantunan lagu Jogjakarta milik Kla
Project kini menjadi getir terdengar. Jikalau kotaku mampu menitikkan air mata,
barangkali tak hanya tetesan yang
terlinang namun derai yang mengucur deras ke pangkuannya.

Duh Gusti… kini mau dikemanakan
paras jelita si gadis lugu itu. Peradaban yang telah tercoreng serta
tercabik-cabik oleh kenikmatan sesaat yang tak Kau ijinkan.

Aku tertegun sejenak karena hampir
tak percaya setelah kubuka email yang terkirim dari rekan lama.
Potongan
bukti bahwa kini ketabuan dan kesucian tak lagi dianggap berarti. Aku pikir ini
hanya terjadi di ibu kota,
di mana pusat terjadinya kemaksiatan, kehancuran moral, dan pergeseran budaya.
Tapi ini…. di Jogja??? leherku serasa tersekat tak dapat mengeluarkan
potongan-potongan kalimat.

Ataukah aku yang
terlalu bodoh ndhak bisa ngikutin perkembangan zaman, it has been changed man!
wake up! you’re too slow to catch it!
Apa aku yang memang sangat tolol dan
naif.

Hal-hal yang aku
anggap masih tabu ternyata sudah lazim dilakukan oleh yang lain. Aku pikir hal
itu masih “zinah” dilakukan, ataukah sudah bergeser menjadi “halal” untuk
dinikmati?

Membuktikan
sudah tak lagi menstruasi dengan telah melakukan “sholat” sehingga bisa leluasa
untuk melakukan hubungan badan pra Nikah?

Kalimat apa yang
pantas terucap dari bibirku yang kaku ini, “Alhamdulillah” kah karena toh
ternyata dia masih ingat kewajibannya untuk menyembahMu. Atau “Astagfirullah” kah karena melanggar batas
yang telah Kau tetapkan?

Apa yang sepantasnya hamba lakukan?
menolong mereka dari “kenikmatan”? ataukah termenung membayangkan balasan
dariMu yang pasti akan datang. Sekilas
aku teringat potongan lagu milik Java Jive

“Deru nafas memacu di dalam ruang
seiring hasrat manusia. Gelap melanda jiwa dan mereka terlena oh begitu cepat
dosa itu terbuat.”

Duh Gusti, hamba
yang terlalu lugu dengan perubahan zaman ataukah memang manusianya yang sudah
tak lagi perduli dengan azabMu? aku hanya dapat mengurut dada dan geleng
kepala. Modernisasi ataukah kebebasan yang kebablasan? Otorisasi atas hidup
manusia ataukah kebodohan atas nafsu birahi yang tak tertahankan?

Barangkali
kewarasanku sudah tak lagi dapat dipercaya, haruskah ikut tergilas dengan
keterkinian ataukah tetap bertahan pada akar rapuh tradisional kampungan yang
tersisa. Please Gusti Allah, kuatkanlah akar rapuh itu….


Rebo vs Robby part 1

February 22nd, 2007

Ahh… lama juga ternyata aku ndhak corat-coret, jangankan di Blog… di kertas aja rasanya tangan ini enggan buat digerakkan. Entah karena kesibukan yang membludak apa memang sok sibuk aja biar dibilang kayak orang penting…. ah wes mboh lah yang pasti nggak ada karya (wih…kayak pujangga aja), nggak ada coretan-coretan iseng…

Tapi memang sejak balik lagi ke Jakarta blas nggak pernah lagi bikin tulisan. Nggak tau kenapa kok hari ini jadi pengen nulis aja… apa karena baru “Ngeh” kalo blogspot udah dibeli google jadi blogger hehehe emang cah ndheso kuper banget, katanya seh IT Freak cuman telat terus infonya hahahaha….

Anyway… udah empat bulanan neh di kantor baru… rasanya lumayan asik, karena memang orangnya asik-asik juga seh yah, semoga aja terus begini suasananya.

Hari ini Jakarta lumayan terang setelah seminggu lalu hujan terus plus banjir, hari ini cerah secerah hatiku (halah…halah… sok puitis) yang lagi berbinar-binar buka-buka FS dan MPnya someone (masih dirahasiakan…). Jadi pengen balik kampung cepet-cepet deh, yah sementara ndengerin lagu-lagunya Kla aja deh hehehe…

“Emang dasar pengecut sampeyan, minder terus seh bawaannya, coba dong langsung ngobrol aja, kalo nggak ditanggepin yah berarti dia lagi sibuk kerja, gitu aja kok repot!” eealah… kok suara itu muncul lagi seh, nggak tau apa kalo lagi mengagumi dari jauh keindahan mahluk ciptaan Allah? Hhmmn jadi inget film Rebo dan Robby yang dimainin sama Om Didi Petet hehehe, berantem sama hati nurani yang kadang lebih berat daripada beranten sama orang lain.

Abis kadang suka takut juga kalo mau telp. Soalnya ngomongnya irit banget, jangan-jangan emang dia males ngomong ma aku aja kali yah? Tapi coba selalu buat berpositif thinking lah… mungkin masih sibuk banget kalo nggak yah memang lagi nggak pas aja waktunya. Sampe-sampe ada yang bilang “masak loe bisa kehabisan kata-kata, bukannya loe biasa bermain dengan kata-kata?”

Tapi emang bener seh kok sekarang bisa speechless gini yah, kayaknya nggak biasanya lho begini, jangankan di telp, ngobrol langsung sama orang lain aja bisa lancuar buanget kok. Padahal kok yah bodoh banget yah aku ini, wong belom pernah ketemu langsung kok udah mbingungi ngene? Ah wes lah ra karuan…

Opo yo mau jadi secret admire selamanya? Mboh ra dhong… pokoknya selama ini nyoba buat menikmati apa yang ada aja, kan jadi lebih bersyukur sebagai mahluk Allah… (hehehe mencoba bersembunyi di balik ketidakberanian)…

Wah dia lagi Online neh, sapa ah… siapa tau ada keajaiban pagi ini wish me luck yah Robby, sekarang Rebo yang mau beraksi…Bismillah…


Monolog 7

November 20th, 2005

Malam mengendap-endap, mengambang menyergap tenda-tenda penjual bajigur dan wedang ronde.
Alun-alun kidul, sebuah simbol masa silam di rentang sejarah perjalanan kita masing-masing.
Ada perbincangan yang mestinya kita nikmati sehangat air jahe meluncur di tenggorokan kita.
Ada lagu-lagu para pengamen yang mengiringi lagu-lagu kita.

Mungkin bukan lagu-lagu cinta atau tentang gadis berbaju merah delima.
Lagu-lagu kita semestinya tentang hidup, tentang getar hati paling jujur.
Sejauh kejujuran yang mampu kita endapkan lalu kita sajikan di lapik perbincangan ini.
Ada yang tersendat mencoba melugaskan makna, meski tak selalu berhasil.

Sepatutnyalah kita mencoba bersetuju dengan hati, tak hanya logika kepala atau kecemasan-kecemasan yang menghantu.
Mungkin memang perlu kita perhitungkan kemungkinan-kemungkinan matematik,
tetapi, sayang, aku tak terlalu pintar aritmatika atau hitungan probabilitas.

Waktu telah kutafsir agak berbeda kini, setelah kematian tak lagi menakutkan
dan masa depan tak lagi menjadi muara kecemasan.
nafas yang telah lesap serta detak jantung yang telah menggema
adalah tanda betapa prasasti perjalanan hanya bisa ditulisi setelah peristiwa usai.

Aku, sayang, tak terlalu mencemaskan akhir lakon yang harus kumainkan di panggung ini.
Kisah yang harus kujalankan adalah perjuangan sepanjang naskah drama tragi-komedi telah kunikmati setiap reguk dan sisipnya.

Mungkin saja aku akan mati sebagai pecundang atau pahlawan, apalah bedanya.
Pada akhirnya layar akan diturunkan dan lampu pun akan padam.
Kegelapan tak lagi menakutkan, sejak kutahu aku takkan pernah sendiri.
Ada kerinduan yang akan selalu menjadi sahabat, kerinduan yang setia.

***
embun malam kemarau seperti diakrabkan padaku setetes demi setetes.
ia seperti mencoba melebur dingin kering musim ketiga dan langit lautan dini hari.
kutemukan diriku semakin tinggi melayang di langit dadamu, semakin dalam menyelam di palung hatimu.

***

Cinta seperti telah berdamai dengan puisi-puisiku setelah tercabik-cabik badai salju di musim yang lain.
Kutemukan diriku pulang ke negeri tempatku bermukim, tak lagi negeri dongeng para peri dan kurcaci.

Seorang kekasih, meski tak akrab dengan kata-kata dari bibirnya, telah menyalakan tungku tanah merah di dapur rumah gubug bambu di masa kecilku.
Kehangatan tempat kularikan diriku di musim-musim yang tak ramah, semisal musim badai, atau musim hama.

Pelukmu, meski masih tersamar keraguan, telah kubaca sebagai prosa yang liris.
Seliris sapaan lembut telapak tanganmu di pipiku yang usang oleh cuaca dan debu jalanan, di tengkukku yang meriang oleh nasib.
Seliris puisi-puisimu yang tak kautuliskan.

***
mentari semakin redup. bayang-bayang tetumbuhan semakin pudar saja.
perjalanan belum lagi melewati saat tengah hari, tetapi awan seperti ingin menggoda kesabaran kita.

***

Gerimis sesekali membasahi lahan kemarau tempat kita menyemai bibit cinta.
Memang bukan pilihan musim yang tepat, sementara pupuk dan cacing penggembur tanah seperti enggan bekerja.

Mungkin ladang yang kita siapkan ini tak cocok untuk tanaman kita,
Tetapi bukankah cinta adalah jenis varietas tanaman yang cocok tumbuh di segala iklim dan jenis tanah?
Kita lahir dari darah petani, pastilah kita benar-benar mengerti hal ini.

Sementara itu, seorang lelaki setiap penggal siang menjelma menjadi debu dalam demamnya yang akut.
Mungkin bukan demam biologis, mungkin hanya semacam psikosomatis, sakit perasaan.
Dari helai rambutnya yang mulai panjang, luruh sehelai sajak rayuan.

***
perempuan bunga
adakah ingin dekap lelaki debu
dalam kelopak jantungmu yang ragu
agar angin luput menyapu
lelaki debu dari tangkaimu

***

Dan saat senja terjatuh, ia menjelma jadi kabut.
Menguap lalu mengawang-layang di lelangit ladangnya yang masih saja keras hati.
Ladang keraguan. ladang hati. ladang hati yang ragu. ladang hati yang ragu oleh rindu.
Adakah rindu akan bertahan, ataukah hanya remang gairah sejenak hinggap, lalu lesap entah ke mana.

***
kekasih, sisihkan sepotong saja
rindumu untuk lelaki kabut

mengembun dalam cintanya yang akut
dalam cekam dingin inginnya
akan-mu

***

Tetapi darah petani ada dalam setiap riam pembuluh di tubuhku.
Sepenuh hati kucangkul-gemburkan ladang-ladangku, meski musim bisa sangat kejam, meluluhlantakkan semua jerih payah sepenuh jiwa dan tetes keringat gairah dan cita-cita.
Namun, tak ada arang yang patah dalam tunggu jantungku.

Setiap kisah yang patah akan kuhayati sepenuh hati dan kusyukuri seperti keramat amanat Dewi Sri.
Aku tak bertani sebagai hobi atau pelampias waktu jeda di antara musim tunggu.

Kubercocok-tanam dengan darah dan keringat.
Kucecap setiap tetes amis dan asin, sebagai sajak-sajak di relung puisi.
Serupa genggaman tangan yang lembut atau kecupan pipi yang tercuri.

***
debar hangat semakin guncang
dada meluap oleh kasih
menyimpan peluk di lubuk hati
hingga cinta membebaskannya
dari belenggu ragu

***

Kubaca tatap matamu bosan dengan semua yang tampak.
Hal-hal seperti telah menetap dalam posisinya masing-masing.

Posisiku tak terlalu aman serupa awan yang mengambang, rawan terberai oleh angin jahat.
Angin yang menghembus doa-doa pecinta sejati dan membelokkannya dari arah yang semestinya.
Bebatuan di sungai yang kita lalui berserak di kiri-kanan rakit kita.

Legam berkilau menunjukkan kekerasannya.
Perjalanan yang ini mungkin akan sangat melelahkan, banyak batu yang harus kita hindari.

Rakitku tak terlalu aman, bisa terusir oleh sungaimu setiap saat, karam dalam palung jeram atau dampar di hempas riak ke tebing tepian.

Langit adakah peduli dengan arah arus sungai?

Tampak di mataku hanyalah ejekan yang dipertontonkannya melalui gemawan yang tersebar tanpa bentuk jelas, bergerak tanpa arah jelas, seperti menghina arah yang kutempuh. sepotong rakit yang rapuh.
Tapi aku tak akan mengeluh.


Secuil makna hidup……..

November 16th, 2005

Hari ini keliatannya akan menjadi hari yang luar biasa buat orang biasa sepertiku. Bukan karena hari ini Valentine’s Day, bukan juga karena hari ulang tahun seseorang yang special.
Cuman keliatan agak beda karena nanti malam rencana untuk datang ketemu langsung yang namanya Cak Nun plus Kyai Kanjeng. Oalah seumur-umur yah aku baru mau ketelu langsung jeee…. Tapi kok jadi geli sendiri, mo ketemu sama Cak Nun aja, persiapannya udah mirip mau ketemu selebritis top hahahaha….. Padahal waktu jadi penyiar dulu, wawancara sama artis-artis top sering banget, dan nyantai aja, kadang malah cuman pake t-shirt hehehe….

Udah lah… nggak perlu pethengseng sok nggaya, wong juga nggak bakalan ada yang ndhelok….
The important thing (wah bahasa inggris iki…..) harus siap mental mo ketemu sama Kyai, lho kok Kyai?, Ulama? Penyair? Penulis? Artis? Orang Terkenal? Tukang Ngapusi? ah mboh lah… nggak penting…. Yang pasti mo ketemu sama Mbak Via, kan ayu tenan hehehehe……

Wes…. dengan langkah pasti, sambil nenteng segala macem peralatan lengkap, termasuk camera digital pinjeman, handycam digital pinjeman juga, aku jalan menuju Dewan Bahasa Kuala Lumpur, soalnya digelar (walau nggak pake tiker) di sana acaranya….
Ealah…. kok kecepetan, ternyata acaranya jam 9 malem, padahal sampai sana baru jam 7-an.
Selepas Maghriban, baru Cak Nun dan Mbak Via muncul, dan langsung masuk ke ruang pertemuan buat makan malam dulu sebelom pentas….
Tanpa pikir panjang, karena memang nggak biasa mikir panjang-panjang, langsung aku ambil camera, and ceprat….cepret sana sini udah kayak wartawan…..

Cak Nun keliatan serius nikmatin makan malemnya sambil diwawancara wartawan harian lokal Malaysia. Sementara mbak Via ngobrol asik dengan beberapa Mak Cik- Mak Cik di meja lainnya.
Abis diwawancara sementara belom selesai dengan makanan penutupnya, Cak Nun sendirian di meja. Dengan inisiatif ndhadakan aku langsung duduk di situ, sambil tentunya dengan kepedean ngenalin diri dulu hehehe…..
Ternyata asik juga first impressionnya…. Cak Nun langsung bilang, “Ambil dulu makanan di sana trus bawa ke sini kita ngobrol-ngobrol”
Wah kayak gayung bersambut aja, langsung ambil makanan trus duduk satu meja sama Cak Nun yang juga belom selesai ngemil. Kayaknya neh orang paranormal kali yah, kok yah tau aja perut lagi laper hehehe…..

Baru dimulai chit-chat awal tiba-tiba dateng lagi wartawan yang mo wawancara, sekarang dari TV3 Malaysia, wah… yo wes lah… kalo ini harus ngalah, kayaknya penting banget….
Aku mo pamitan sebentar maksudnya, cuman malah tetep disuruh stay di situ. Usut punya usut ternyata aku jadi translator ndhada’annya Cak Nun hahahaha…..
Walau bahasa mirip-mirip, tapi kan beda juga, jadi dengan keterbatasan bahasa Malay yang aku bisa, sok pede nerjemahin ke kedua belah pihak.

Selesai makan dan wawancara, waktu menunjukkan jam 8.45, ternyata pementasan diundur jam 9.30. Waahhhh kebeneran banget neh pikirku, mumpung masih sama Cak Nun, aku mulai nerocos dengan seabrek pertanyaan, mulai dari tuliasannya, sampe masalah sosial ekonomi Indonesia saat ini, dari masalah Tsunami di Aceh sampe kabar burung Mama Lorenz di milis yang bilang bakal ada gedung di Kuningan Jakarta yang ambruk….
Wah…. sok tau banget deh aku ini….
Cuman asik juga yah, ternyata seorang Cak Nun kalo ngobrol nggak pandang orang, mau sama siapa aja sama aja… kalo dipikir-pikir emang aku ini siapa seh? kok ya Cak Nun serius banget ngebahasnya.

Dari beberapa topik yang dibahas ada satu hal yang menarik. Satu pertanyaan yang langsung bikin alis Cak Nun seolah-olah mau dempet mikir. Aku cuman nanya siple aja, “Cak, menurut sampeyan, hidup yang baik itu gimana seh?”
Lumayan sak wentoro waktu Cak Nun diam, trus dia mengambil naskah di sampingnya, sambil duduk di anak tangga, sembari sesekali keluar asap dari mulut menikmati Dji Sam Soe kretek ditangannya.
“Wah kalo ini agak sulit, karena yang bisa jawab hanya Allah semata. Saya ndhak tau ukuran hidup yang sampeyan atau perdana menteri ataupun tukang baso mauin. Karena pada hakekatnya hidup ini sudah ada yang mengatur.”
“Sampeyan tau ini naskah, di sana ada panggung, coba sampeyan baca naskahnya, trus maen’o di atas panggung itu. Nah di sana akan terlihat kualias hidup yang baik atau ndhak?”

Aku cuman melongo dengar apa yang dia suruh, “Lha kok? maksud sampeyan apa Cak?”
Sambil tetep ngebul santai dia berkata “Hidup ini seperti halnya pementasan kethoprak di panggung. Ada yang nulis naskahnya, dan kita sebagai pemain wajib memainkan peran kita masing-masing dengan baik. Sama juga dengan hidup, Allah Yang Maha Penulis Naskah hidup manusia, dan kita manusia khalifah Allah di dunia wajib menjalankan hidup ini dengan sebaik-baiknya dengan peran kita masing-masing.”
Sambil tetep nikmatin udhut yang makin kian pendek Cak Nun meneruskan “Kalo sampeyan jadi petruk, jadilah petruk yang baik, kalo jadi gatotkaca jadilah yang wibawa, dan sebagainya. Jadi sebenernya hidup ini sudah diatur sedemikianrupa, sehinga manusia hidup bervariasi dan beraneka, dan dari keanekaragaman serta perbedaan itu muncul keindahan yang disebut kebersamaan yang saling melengkapi.”

Mendengar penuturannya aku asal njeplak nggak mikir lagi nerocos ” Lah kalo gitu yah santai-santai aja lah, nggak usah ngoyo belajar, sekolah, kerja, dan sebagainya, lha wong udah ada garisnya masing-masing. Kalo emang garisnya jadi bangsa mlarat ya udah nggak usah usaha supaya jadi bangsa yang maju. Nek sudah jadi wong kere yah kere aja, nggak usah ngimpi jadi wong sugih.”

Dengan lebih santai sembari membakar rokok kedua Cak Nun njawab “Lha sampeyan ini emangnya penulis naskah? Emangnya sampeyan ini Tuhan? Kok bisa nebak sak’ enak’e udhel’e dhewe akhir lakonan cerita. Kan sampeyan dan saya ini termasuk pemain-pemain di pentas ini.”

Manggut-manggut aku tampak sepemikiran dengan kalimatnya. Cuman dengan nggaya sok nggak mau kalah dari omongannya, aku menimpali “Lha sekarang, gimana kita bisa tau kwalitas hidup kita di dunia ini, maksud saya, apa barometernya kita jadi manusia yang baik atau buruk? bagaimana kita bisa sadar kalau kita sudah atau belum menjadi manusia yang manusiawi?”

Sambil tertawa kecil dia nggak kalah kalimatnya “Sekarang gini aja, sampeyan naik ke atas panggung itu, trus sampeyan maen seenaknya aja, nggak usah belajar naskah, cerita dibuat suka-suka, nggak perlu penghayatan watak, wes tho’ karepmu dhewe lah, trus apa yang akan terjadi?”

Dengan sangat mantheb aku jawab secepat kilat “Yah maennya jadi jelek dong Cak, nggak karuan jalan ceritanya, penokohan nggak jelas, cerita absrud, mbundhel nggak karuan. Trus kalo kita maennya jelek jelas nggak bakalan dapet tepokan tangan apalagi standing applause, yang ada dilempari, mending cuman makanan atau botol minuman, sialnya kalo kursi penonton ikutan melayang.”

Sambil senyum Cak Nun menjawab “Nah itu sampeyan udah dapet jawabannya! ayo masuk udah waktunya manggung, selak dientheni penonton”. Ngeloyor dia pergi masuk ke dalam gedung Dewan Bahasa Kuala Lumpur Malaysia yang sudah mulai dipenuhi orang.
Masih dalam keadaan bengong mlongo akupun ikut ngloyor masuk gedung tersebut, mbunthuti Cak Nun.

KL, 14 Feb 2005


Prolog……..

November 9th, 2005

Hidup Seputarku
Di tasik kearifan…..
Perlahan ku selam makna hidup seputarku
Tertegun menangkap fakta
Manusia kian beranjak dari hakekatnya
Kasih t’lah memudar, sekejap sana sini seteru
Norma yang merapuh karena angkara
Insan saling berlomba
Memperebutkan kuasa pribadi semata
Tak beda dengan fauna, buas merampas sesama
Si lemah terhempas
Di mana harapan berada, selaksa tangan meminta
Langitku merindu damai
Berhentilah, dan berkaca
Begitu banyak noda nista yang telah tertumpah
Bawa jiwa bersih, berpeka nurani
‘pabila itu kau perbuat, dunia kita bersuka… (sewajarnya)

By. Kla Project


Sejumlah Kartu yang Tak Pernah Kukirim Padamu

September 17th, 2005


WALAU pun minta maaf itu sebuah kesalahan
aku akan terus memohonkannya padamu atas
kesalahan-kesalahanku, sampai aku menemukan
cara lain untuk menebus rasa salah ini hingga
tak tercatat sehuruf pun di buku tagihan piutangmu.

HINGGA lunas kau dan aku. Tutup buku.

AKU punya dua buku. Buku pertama untuk mencatat
kebaikan-kebaikanmu. Dan buku kedua untuk mengingat
kesalahan-kesalahanku padamu. Hanya saja aku kadang
lupa, lalai membedakan sebuah peristiwa harus dicatat
di buku pertama atau buku yang kedua. Maafkan aku,

“MUNGKIN kau perlu buku ketiga,” dulu rasanya kau pernah
menyarankan itu. Tapi, aku tak mengingat apalagi mencatat.

AKU punya selembar kartu khusus buatmu. Aku sudah
lama ingin menuliskan sesuatu yang khusus buatmu
di kartu itu. Aku sejak dulu terus berupaya menggubah
kalimat khusus yang hendak kutulis di kartu buatmu itu.

TAPI, aku selalu merasa tidak teramat khusus buatmu,
jadi kutuliskan saja kalimat ini, dan tentu kau tidak tahu,
betapa bahagianya aku karena hingga saat ini aku bisa
menyimpannya di tempat yang khusus di dalam diriku.


Nyanyian Putus Harapan

September 17th, 2005

Kenangan tentangmu bangkit dari malam seputarku.
Sungai membaurkan keluh kesahnya dengan laut.

Tinggal sunyi sendiri, bagai para liliput di fajar hari.
Ini jam bagi keberangkatan, O aku yang tinggal sepi.

Bungkul kuntum bunga beku menghujani hatiku.
O lorong runtuh, puing berkeping kapal karam.

Padamu yang perang dan yang terbang tersatu.
Darimu sayap-sayap pada lagu burung terbangkit.

Engkau menelan habis segalanya, seperti jarak.
Seperti laut, seperti waktu. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya, waktu yang leluasa menyerang dan mengecup.
Waktu untuk mengeja apa yang berkobar: rumah cahaya.

Ketakutan penerbang pesawat, kegeraman pengemudi buta.
gerak acak Cinta yang mabuk. Padamu segala terbenam!

Di masa kanak kabut jiwaku, bersayap dan terluka.
Penjelajah pun tersesat. Padamu segala terbenam!

Maka kugambar lagi, kubangun dinding bayang,
antara bertindak dan angan, kaki kulangkahkan.

Oh daging, dagingku sendiri, perempuan terkasih yang hilang,
Aku memanggilmu di jam basah, kuteriakkan lagu bagimu.

Seperti guci, engkau berumah di kerapuhan tak hingga.
dan melupa yang tak hingga menghancurmu seperti guci.

Ada kesunyian pulau-pulau yang hitam. Dan di
sana, perempuan dengan cinta, tanganmu meraihku.

Ada rasa haus dan lapar, dan engkaulah buah-buahan.
Ada batu nisan dan reruntuhan, dan engkau keajaiban.

Ah perempuan, tak tahu aku, bagaimana kau mengisiku,
di bumi jiwamu, di dekap rengkuhnya kedua lenganmu.

Dahsyat dan ganasnya, angan inginku menuju engkau,
Betapa sulit dan kepayang, betapa keras dan keranjingan

Makam-makam kecupan, masih ada api di kuburmu,
masih ada buah terbakar, dipatuk-patuki burung.

Pada mulut yang tergigit, cabang-cabang terkecup,
pada geligi yang lapar, pada tubuh-tubuh terlilitkan.

Oh sepasang kegilaan: harapan dan kekuatan,
di mana kita bersatu menyatu lalu dikecewakan.

Dan kelembutan itu, sinar adalah air dan serbuk.
Dan kata-kata mencekam, mulai ada di bibir.

Inilah takdirku dan perjalananku, dan kerinduanku
dan ketika rindu menimpa, padamu segala terbenam!

O puing-puing reruntuhan, semua jatuh menimpamu,
derita yang tak kauucap, derita yang tak kau genangkan.

Dari gelombang ke gelombang masih kau seru berlagu
Berdiri tegak seperti pelaut di haluan kapal.

Engkau masih mekar dalam lagu, menunggangi arus.
O puing retuntuhan, membuka sumur yang empedu.

Si pengendara yang rabun, penyandang tanpa keberuntungan
si pencari jejak yang sesat. Padamu segala terbenam!

Ini saatnya keberangkatan, saat yang keras membeku
Malam yang dipercepat pada setiap jadwal-jadwal.

Debar sabuk-sabuk samudera membebat pantai
Bintang yang beku memberat, burung hitam beranjak.

Tertinggal sunyi sendiri, seperti dermaga di fajar hari,
Hanya ada bayang gemetar meliuk di dua tanganku
.
O jauh dari segala, O terpencil dari segala.
Ini saatnya berangkat. O seorang telah disiakan!

Sajak Pablo Neruda



Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.