farida

Kursus Matematika untuk Anak

Tulisan ini bukan untuk promosi sebuah kursus matematika tapi sebagai jawaban terhadap komentar yang menanyakan kapan tepatnya memulai kursus matematika di luar kelas. Ternyata jawabanku kok panjang lebar, ya udah dijadikan postingan tersendiri saja :) Jawaban singkatnya sih, tergantung dari anaknya masing-masing yang bisa saja berbeda-beda. Ada yang mulai 2 tahun dan berhasil lulus seluruh materi kursusnya saat berumur 6 tahun.
Anakku- Dinda mulai les matematika ketika kelas 1 SD pas semester kedua. Itu berawal dari kemauan sendiri untuk les. Atau jangan-jangan ikut-ikutan juga ya karena beberapa temannya sering ngomongin kursus itu. Tapi emang saat itu Dinda sangat lambat mengerjakan soal matematika. Sebenarnya sih memang ia suka matematika, tapi kecepatannya kadang suka berubah2 tergantung moodnya. Ya sudah, akhirnya aku sih setuju aja. Yang penting tetap ngikutin saran bapaknya untuk tidak memaksakan diri. Yang penting anaknya mau dan senang jalaninnya.

Saat ini Dinda sudah kelas 5 SD, namun materi kursus matematika sudah setara kelas 1 SMA. Padahal pas dinda masih kelas TK B, dia masih menolak ikut kursus itu ketika aku menawarinya. Syukur deh sekarang dinda tergolong sangat cepat dalam mengerjakan soal matematika. Guru kelasnya sering meminta dinda menerangkan soal-soal matematika di kelasnya ke teman -teman yang belum mengerti.

Keinginan kursus ternyata diikuti sama adiknya, Diva. Mungkin gara-gara sering mengantar kakaknya semenjak diva masih di TK B. Namun kayaknya ada alasan laen deh, kenapa kedua anakku suka kursus Kumon. Bisa jadi mereka lebih tertarik dengan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, yang hampir dilakukan setelah kursus selesai :) Sekarang Diva yang di SD nya kelas 3 SD sudah mencapai level E di kursus matematikanya, atau setara kelas 5 SD. Mudah-mudahan 2 minggu lagi dapat naik level F.

Memang sesuatu hal yang dikerjakan atas keinginan sendiri akan lebih langgeng dalam melaksanakan aktifitasnya. Kalau anak sudah ada minat tentang matematika, misalnya suka berhitung dan mengenal angka sudah lebih dini, bisa anak tersebut ikut kursus tambahan. Dan itu tetap bisa dilakukan walaupun anaknya belum bisa membaca. Memang level paling rendah pada kursus tersebut adalah belajar menulis angka, menghitung dot, menyambungkan garis, dll.

Beberapa kegunaan atau dampak kursus matematika tambahan tersebut- ini menurut aku lho adalah :

  1. Lebih menguasai materi Matematika di kelas normalnya
  2. Materinya per level disesuaikan dengan tingkatan kelas (walaupun tidak mencapakup keseluruhan)
  3. Menghilangkan mitos matematika itu sulit dan anak suka belajar matematika apalagi bila anak sudah belajar di atas level kelasnya maka materi di sekolah dianggap mudah
  4. Percaya diri karena pelajaran sulit dianggap mudah
  5. Lebih dispilin, mandiri dan menghargai waktu

Sedangkan beberapa saran dariku jika anak-anak mengikuti kursus matematika di luar kelas adalah:

  1. Prinsip kursus tersebut adalah belajar dari hal yang paling mudah, bertahap, berulang-ulang jika masih banyak salah, bisa karena biasa, dan setiap hari ada PR yg harus dikerjakan. PR inilah yang kadang suka dikhawatirkan sih :)
  2. Ikut kurus atas kemauan sendiri, bukan paksaan, atau hanya sekedar keinginan dari orang tuanya. Kalo mereka lagi bosan dengan PR-nya, ya biarin aja gak usah dipaksakan. Toh kenaikan levelnya tergantung kesiapan dari anaknya juga.
  3. Kadang aku suka ngasih penghargaan dan hadiah, bahkan dari penyelenggara kursusnya suka ngasih juga. Misalnya pas kenaikan tingkat atau pemberian point untuk pengerjaan PR yang bisa dikonversi untuk penukaran hadiah di kursus. Bila pembayaran kursus dilakukan untuk 2 bulan berturut-turut dan dilakukan dengan transfer ke bank maka akan mendapatkan bonus point yang cukup besar. Kalo yang terakhir sih bonus buat anaknya tapi ortunya ya terengah-engah ngeluarinnya duitnya (karena hrs bayar 4x biaya kursus: 2 bln x 2 anak x biayanya hehehe). Tapi demi anak senang yah nggap apa-apa deh . Atau bisa jiga anaknya diundang konvensi dan menerima pengahargaanyang bersifat nasional  jika berhasil mencapai 3 level di atas kelas normalnya di sekolah
  4. Kita sebagai orang tuanya tetap harus mengawasi dan memberikan bimbingan serta perhatian. Banyak Ortu yg beranggapan bahwa kita bisa lepas tangan karena merasa anaknya sudah diserahkan ke tempat lesnya.

Saran dan pendapat di atas belum tentu sesuai lho untuk diterapkan kepada anak-anak lain. Aku hanya sekedar berbagi pengalaman saja berdasarkan pengalamanku ketika kedua anakku ikut les matematika di luar kelas.

5 Responses to “Kursus Matematika untuk Anak”

  1. Esraon 16 Aug 2009 at 8:32 pm

    Tadinya ponakan aku juga less kumon bu di cibubur indah cuma sampe level D Bu. Aku tanya kenapa ga mau less lagi katanya sih capek banget ngerjain PR tiap hari.( Belum lagi ngerjainnya pake stopwatch pst dah ngambek duluan.( Saat itu dia ngejalani 3 less sekaligus bu). Kasian jg sih bu terlalu padet jadwalnya. Ya kita turutin deh kemauannya berhenti less kumon. Takutnya klu dipaksain nggak baik hslnya.
    Skrg ponakanku pun ikut less piano di Cibubur ma Bhs inggris bu di ILP. Dan kayanya dia enjoy banget ngejalaninya. Semangat yang hrs tetap dipertahankan.
    Dinda dan Diva ttp semangat ya sayang

  2. faridaon 18 Aug 2009 at 11:39 am

    Iya nih, Dinda mulai kendor ngerjain PR & PS kumon-nya karena emang sudah sih … Tapi sayang kalau mau cuti karena mau tunggu konvensi yg syaratnya harus aktif sampai dengan bulan Oktober (kalau nggak salah). Paling kalau cuti aku mau dia ikut Kumon Inggris aja(lihat Diva semangat bener ngerjain PRnya karena emang sangat fun sih metodenya). Sekarang dia ikut NF(senin&Rabu), Kumon Mat(Selasa & Jum’at), eskul nari(Jum’at), dan baca Alqur’an(Kamis) yang pasti senin s/d Jum’at penuh les. Jadi Sabtu & Minggu bonus buat istirahat & jalan-jalan.
    Sedangkan Diva nggak ikut NF tapi hari Rabu ada guru private dateng ke rumah, Kumon mat & Inggris(Selasa, Jum’at), Kamis & Jum’at (Iqro), Nari (Jum’at).

  3. Esraon 20 Aug 2009 at 8:56 pm

    Skedjul yang padet ya bu… Semangat yang harus tetap dipertahankan:)

  4. anggeron 01 Sep 2009 at 12:01 am

    Pengalaman yang sangat menarik.
    Semoga bermanfaat besar bagi putra-putri kita.

    Salam hangat…
    angger

  5. Edo Rodadion 04 Oct 2009 at 11:01 pm

    Hallo semua,
    Kebetulan anak saya didaftarkan ikut kumon mulai bulan Agustus 2009 dengan level 4A dan tiap bulan mulai naik tingkat dan tingkat saat ini adalah level A.
    Saya coba perhatikan proses dan kemajuan belajar anak saya, beberapa hal yang saya cermati:
    - positif
    1. anak menjadi pintar saat mendapatkan soal matematika yang berupa angka.
    2. anak menjadi terbiasa belajar rutin, namun namanya anak kecil tetap moody, fungsi orang tua lah yang memompa semangat anak dengan cara pemberian reward dan punishment untuk ukuran anak, yang saya terapkan adalah setiap mulai level kumon baru, anak saya mengajukan hadiah yang diinginkan jika naik tingkat, dan jika naik tingkat akan dapat rewardnya dan jika tidak naik tingkat tidak akan naik reward.
    3. anak memiliki rasa percaya diri saat sekolah.
    - negatif
    1. anak kurang terlatih jika mendapatkan soal cerita yang agak komplek yaitu kesulitan dalam mendapatkan inti sari dari soal (untuk mendapatkan point2 diketahui) dan logika berpikir dalam menghubungkan antara point2 yang diketahui dan tools matematika spt penjumlah dan pengurangan (untuk sementara ini)

    Hal ini saya ketahui saat saya memberikan soal2 matematika kelas 1 yang babnya disesuaikan dengan materi kumon di level A.

    Workaroundnya adalah melatih anak dengan tambahan soal cerita di buku matematika sekolah sesuai level kumonnya.

    Selain itu saya nggak begitu yakin dengan logika berpikir anak jika hanya menyerahkan pada kumon saja.
    Karena setahu saya, dalam metoda kumon tidak ada instruktur yang menerangkan mengenai logika dalam soal yang diberikan.
    Jadi inilah fungsi orang tua selanjutya berperan jadi instruktur.

    Kemudian ada yang saya ragukan adalah jika anak saya tekun bisa spt anak bapak yaitu pada kelas 5 SD bisa mencapai kumon level SMA kelas 1, apakah benar level kumon SMA kelas 1 itu benar2 bisa mengerjakan soal kelas 1 SMA, karena kenyataanya hampir semua soal SMA kelas 1 adalah soal cerita, dan matematikanya adalah soal logika yang cukup kompleks. contoh kasus adalah Level J kumon mengajarkan soal hubungan akar dan pemfaktoran, pertanyaannya apakah jika lulus level J ini maka anak tsb bisa mengerjakan soal buku SMA mengenai hubungan akar dan koefisien?

    Rencana yang saya miliki untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah membeli buku matematika SD yang sesuai dengan level kumonnya dan menerangkan teorinya dilanjutkan meminta anak saya untuk mengerjakan soal dibuku matematika tersebut.

    Meskipun metoda kumon ini memiliki kekurangan, namun saya tetap mengakui bahwa metoda kumon ini adalah solusi yang tepat agar anak2 tidak takut dengan pelajaran matematika.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.