farida

Anak atau ibunya yang stress?

Akhirnya selesai sudah anak-anakku mengikuti Ulangan Akhir Semester (UAS). Dinda dan Diva harus jungkir-balik menghapal buku-buku pelajaran yang tebal-tebal.  Gimana enggak jungkir balik, orang anak-anakku belajarnya di tempat tidur kok hehehe. Bapak-Ibunya pun ikut pusing mendampinginya- sebenarnya yang lebih sering sih Ibunya aja :) Bapaknya kalo gak dipanggil sih paling sibuk lagi ngutak-ngatik NB nya .  Melihat pelajaran anakku yang banyak dan berbeda dengan jaman aku dulu, Aku kadang suka ikut2an puyeng juga :)

Kayaknya beda banget deh dibandingkan ketika ibunya sekolah di SD tahun 70-an. Waktu itu anak-anak SD lebih banyak maennya abis pulang dari sekolah. Gak ada tuh yang namanya eskul, inilah, atau itulah. Mata pelajarannya juga gak sebanyak kayak zaman sekarang. Jadi enggak heran juga kalo aku pun jadi ikutan belajar pelajaran yang dulu malah gak dipelajari pas aku seumur mereka. Masa anak zaman sekarang dah harus menghapal sistem pemerintahan dari mulai kelurahan sampe pemerintah pusat. Gak heran Dinda harus menghapal apa itu MK, KY, DPD, bahkan harus tahu juga berapa sih jumlah anggota DPR dan MPR. Kayaknya aku sendiri dah gak tahu lagu berapa sih anggota DPR dan MPR sekarang ini? hehehe

Dulu aku kayaknya lebih banyak mengandalkan materi yang diceritakan oleh Guru. Buku paket pun tergolong masih sedikit, dan tidak ada kewajiban harus membeli.  Kondisi ini  berbeda banget dengan kedua anakku kini. Putri bungsuku tetap harus membeli buku paket. Padahal Diva bisa menggunakan buku warisan kakaknya. Jadi setiap tahun pun aku harus menggangarkan biaya buku untuk kedua anakku. Kalo kata bapaknya sih, “Uang sebesar itu dah cukup buat bayar kuliah bapaknya setahun dulu ” :) Yee, emang bapaknya aja yg jadul ya hehehehe

Biasanya aku menyempatkan ke sekolah sebelum berangkat ke Kampus. Namun UAS kali ini udah tidak sempat lagi. Hari pertama UAS sudah ada jadual panitia pelatihan blog dosen dari jam pagi sampai sore di kampus. Hari-hari selanjutnya aku harus datang lebih pagi ke kampus untuk mengejar pekerjaan rutin di PSA. Maklumlah lagi numpuk banget kerjaannya mulai dari ngurusin honor partimer, benerin program scan jawaban UAS mahasiswa ekonomi, dan ngolah hasil kuisener kinerja dosen :) Aku coba datang pagi ke kampus, agar bisa pulang lebih cepat untuk mengejar materi uas anakku hehehe.

Materinya Dinda memang lebih banyak dan lebih sulit. Belum lagi selama hampir 3 minggu, ia tidak sekolah karena sakit. Untungnya , aku masih dibantu sama guru les yang rutin datang dua kali seminggu, bahkan bisa tiap hari jika diminta dan lagi kosong jadwalnya. Cuma guru lesnya lebih banyak dikuasai sama Diva hehehe. Jadi kurang efektif bagi Dinda.  Diva selalu mencari perhatian dan harus yang pertama melakukan aktifitas seperti mandi, pakai baju, selesai berpakaian, makan, belajar  dll :)  Diva juga paling  sering bertanya dan bertanya lagi, sering gak bisa konstentrasi tapi tetap susah dibilangin :) Maklum si Bungsu kali ya.

Walaupun belum semuanya, Dinda sudah menerima nilai Agama Islamnya. Turun sih dari UTS sebesar 98 jadi 83.  Aku sendiri tidak mentargetkan yang tinggi untuk nilai kedua anakku. Paling berharap  mencapai nilai minimal 7 hehehe. Apalagi bapaknya yg suka ngingetin untuk tidak terlalu memaksakan ke anak-anak. Katanya perjalanannya masih jauh, jgn sampe kehabisan bensin :) Pantesan aja bapaknya gak banyak bantuin dampingi anaknya belajar ya hehehe. Kalo mereka turun nilainya, paling aku berusaha membesarkan hati mereka. Kan masih bisa dikejar lagi di semester-semester berikutnya.

Sebenarnya bukan anakku yang “stress”  tapi Akunya aja yang terlalu khawatir kali ya  :)  Tapi pas aku meraba telapak kaki si bungsu terasa dingin dan berkeringat, Aku pun bertanya, “Ade lagi stress ya?”. Si Bungsu pun cuma cengengesan. Emang salah satu ciri anakku yang bungsu jika stress adalah telapak kakinya dingin hehehe

6 Responses to “Anak atau ibunya yang stress?”

  1. hanumon 14 Jun 2009 at 6:41 pm

    Hehehehe.. sama seperti ku. Kedua orang tua ku terlalu khawatir dengan skripsi ku. Eh, anaknya (aku) malah ngeluyur cari kerjaan :) Besok sudah mulai magang di PT. Infomedia Nusantara (TelkomGroup) sampai 3 bulan. Otomatis (belum saatnya) kerjaan di Research Center selesai. Tenang Pak Budi soal visibility, hehe..
    Walah.. walah.. sih ade sudah bisa stress. Selamat deh sudah dewasa :D

  2. Faridaon 14 Jun 2009 at 7:01 pm

    ya gitu dech yg namanya orang tua, apalagi ibunya pasti lebih cerewet ya hehehehe. Num, apaan sih visibility. Bapaknya gak pernah banyak cerita kerjaan sih. Tahunya sih emang kyknya banyak kerjaannya dech

  3. hanumon 14 Jun 2009 at 8:54 pm

    Mamahku memang paling cerewet. Anaknya aja yang kelewat bandel, hahaha.. piss Mom :D
    Pak Budi mah bukan ‘kayanya’ banyak kerjaan (tapi always) :D Hmm.. mending tanya saja langsung sama kakanda tercinta wong seatep sekamar to, hehe.. Intinya merupakan salah satu parameter (50%) penilaian yang setiap setahun sekali, dua kali terbit: edisi Januari dan Juli (kaya majalah aja) tau kan.. tau kan.. :D

  4. erion 14 Jun 2009 at 9:27 pm

    ndak usah pusing dengan pelajaran, jangka waktu belajar anak masih panjang. ndak usah dipaksa kerja keras. ibarat lari marathon, diawal start ndak usah sprint, ntar malah mau finish letoy alias ndak punya tenaga.

    lihat tuh bapaknya dari majalengka aja, bisa jadi doktor, he he

  5. Esraon 16 Jun 2009 at 6:39 pm

    Ibu yg Perfect…he…he..
    Walaupun lagi sibuk2nya dikampus, tapi slalu dampingin 2D buat belajar..
    Oh ya Bu gimana kumonnya Diva bu??? jadi ikut konvensi kummon kan Bu tgl 30 seperti si kakak???

  6. faridaon 21 Jun 2009 at 4:03 pm

    Duh …bukan Ibu yg perfect seperti kata Ersa. Tapi hanya tanggung jawab aja kepada 2D. Ditambah waktu mendampingi mereka di rumahkan sedikit dan beban juga kalau anak-anak tidak mengerti pelajarannya. Komentar orang lain kalau nilainya bagus, terang aja orangtuanya “Pengajar” tapi kalau nilainya tidak bagus dibilang kok bisa yah, orang lain diajari tapi anaknnya nggak …diajari. Itu komentar, pas nilai Penjas Diva 6.75 dan harus ikut remedial. Padahal memang bahasa bukunya yg tidak dimengerti anak SD kelas 1 yang baru sampai bisa “calistung” tanpa mengerti maknanya. Paling aku hanya tersenyum merespon tanggapan tsb.

    Diva belum bisa ikut konvensi karena perubahan penilaian saat awal Juni sudah didaftar padahal biasanya per 30 Juni. Atau karena awal Juni , 2D ijin lagi untuk tdk les karena sedang UAS. Jadi Pembimbingnya sudah memastikan Diva tidak bisa mengejar target. Iya sih, sekarangnya aja baru di 120 masih 80 lembar yg harus dilewati minimal 4 s/d 8 minggu, baru bisa naik ke level F.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.