farida

Tips Merawat Penderita DBD

Ini pengalaman pribadiku ketika merawat Dinda selama rawat inap di Rumah Sakit. Setelah menulis berbagai obat tradisional untuk pasen DBD yang telah kutuliskan di sini, mudah-mudahan ada manfaatnya juga jika kutuliskan pengalaman merawat penderita DBD selama di RS. Agak panik dan stres-stres juga sih :(

TIPS

  1. Jangan Panik.  Teorinya…sih, pas ngalamin sendiri sih ya panik juga :)
  2. Curiga bila anak panas lebih dari 2 s/d 4 hari. Sebaiknya segera ke dokter dan cek darah. Untuk jaga2 juga, sebaiknya kita mengingat hari pertama anak kita panas. Biasanya itu yang akan ditanya Dokter jika ada indikasi DBD yang dilihat dari hasil test. Katanya untuk memperkirakan waktu inkubasi virusnya.
  3. Bila tidak panas tetapi ada bercak merah yg tidak hilang bila ditekan dan dibawah kulit, segera ke dokter dan cek darah. Inilah yang terjadi pada Dinda, sehingga dokternya bilan DBD jenis non-klasik.
  4.  Minum yang banyak, karena cairan tubuh bocor sehingga tidak dehidrasi dan perhatikan pembuangannya (air seni) bila banyak juga itu sangat baik, tetapi bila sudah minum banyak dan tidak diiringi pengeluaran cairan maka kebocoran masih terjadi dan kerja ginjal sangat berat. Ini sih kata dokter yang saya dengar. Mohon maaf jika salah tangkap :)
  5. Makan yang banyak dan bergizi, jangan panik bila anak tidak buang air besar lebih dari 1 hari, karena selama istirahat total, makan secara alami tidak cepat bergerak turun ke bawah (posisi berbaring). Bila lebih dari 2 hari beritahu dokter.
  6. Instirahat total dan usahakan jangan banyak bergerak. Katanya untuk mencegah penurunan trombosit secara cepat. Saya gak tahu apa dasar teorinya hehehe. Tapi saya ikutin juga kok, sampai buang air besar dan kecil pun pake pispot.
  7. Waspada bila tangan dan kaki dingin,  selama DBD karena saat itu adalah masa kritis dan bisa menyebabkan syok sindrome dimana bisa menyebabkan kehilangan kesadaran. Sering bertanya kepada dokter atau suster bila ada keluhan pada pasien. Mungkin ada sedikit cerita lucu juga. Saya sempat panik ketika Minggu Sore- saat keluarga besarku berkumpul menjenguk , muka dinda kelihatan semakin pucat, keluar keringat dingin serta tangan dan kakinya terasa dingin. Saya langsung tanya ke Dinda,” Ada yang sakit, nak?”. Dinda mengangguk dan menekan-nekan perutnya yg sakit. Langsung aku panggil suster dan Dokter jaga. Saat menunggu dokter datang, suamiku bertanya ” Dinda mau pupy, yah?” Dinda menggeleng dan menjawab ” Aku kepengen pipis”. Ternyata  karena malu masih pipis di pispot, Dinda berusaha untuk menahan pingin pipisnya. Mungkin ini gara-gara Adiknya juga kali ya, Diva pernah ngomong sih, “Ih malu dong kak, masa udah gede masih pipis di pispot” :) Setelah pipis, keadaan Dinda normal kembali dan aku bilang, “Nanti ibu, suruh keluar kok yang lain …, janji yah tidak ditahan lagi”. Dokter jaga yang sempet datang memeriksa Dinda akhirnya cuma ikut tersenyum.
  8. Perhatikan laju atau dosis tetesan infus.  Jila jumlah tetesannya semakin lambat/terlalu cepat segera hubungi suster. Biasanya bapaknya sih yang suka ngintip berapa dosis tetesan infusnya dari buku pasen. Biasanya kalo waktu kritisnya udah lewat, dosisnya semakin diturunkan, bahkan dilepas infusnya jika trendnya naik terus trombositnya. Ya paling susah sih jagain Dinda selama tidur. Maklum tidurnya suka “piknik” yang bisa menggangu aliran cairan infus. Makanya Aku dan bapaknya suka gatian ronda jagain tangan Dinda :).
  9. Perhatikan letak jarum infus dan keadaan tangannya. Bila terlihat bengkak atau sakit, segera konsultasikan kepada dokter atau suster
  10. Bila sudah diperbolehkan pulang dari RS, tetap jalani instirahat total. Karena saat keluar RS, belum tentu trombosit telah norma kembalil. Seperti anakku, saat pulang trombosit sudah naik mencapai  70 rb setelah sempat menyentuh angka terendah di 44 ribu. Alhamdulilaah setelah 3 hari kemudian, trombositnya naik menjadi 113 rb.
  11. Jangan putus asa, kenaikkan trombosit sangatlah lambat tidak seperti saat turun. Ini tergantung pula dengan kondisi pasien. Yang panting tetap istirahat dan banyak makan, yang bergizi tentunya.
  12. Lapor kepengurus RT setempat dengan dilampiri hasil test positif DBD atau surat keterangan dari RS. Kata Pak RT, surat tersebut akan dilaporkan ke puskesmas untuk pelayanan fogging. Namun saya sendiri tidak tahu persis dimana Dinda digigit nyamuknya. Bisa saja di lingkungan rumah, di sekolah, di kursus KUMON atau di rumah sakit ketika Dina sempat menjenguk temannya yg terkena DBD juga.

Itulah sedikit pengalamanku yang mungkin saja berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Sekali lagi mudah-mudahan bermanfaat.  Oh iya, kemaren Dinda dites lagi. Hasilnya adalah 173 ribu. Alhamdulillah sudah normal lagi. Malah anaknya sudah berlari, bercanda lagi sama adiknya, dan sudah ikut les lagi.  Btw,  namun aku sempet panik juga ketika selama tiga hari sebelumnya, hasil testnya ternyata trombositnya tetap di angka 113 atau tidak ada kenaikan setelah tiga hari. Dokternya sempet bilang kemungkinan terkena Idiophatic Thrombocytopenia Purpura (ITP). Nanti deh ceritanya disambung lagi tentang ITP.

Update:

Cerita tentang Idiophatic Thrombocytopenia Purpura (ITP) dah bisa dibaca di sini

One Response to “Tips Merawat Penderita DBD”

  1. rental mobil murahon 03 Jun 2009 at 11:03 am

    thx buat tipsnya…..:D

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.