farida

Moda Transportasi di Jakarta

img_1644.jpg img_1664.jpg img_1668.jpg

Kemarin pagi Diva- anakku yang bungsu sudah merengek-rengek ke bapaknya, “Pak katanya liburan ini mau naik busway?”. “Masa liburan cuma di rumah terus nih, bosen deh ……..”. Begitulah anakku suka mengingat terus janji yang dikatakan bapak-ibunya. Bapaknya yang masih utak-atik di depan komputer seperti biasanya, hanya mesem-mesem saja. Bolak-balik juga anakku menagih ke bapaknya tentang janjinya tuk jalan-jalan naik busway seharian. “Iya deh nanti siang kita berangkat”, celetuk bapaknya, namun masih tetap tidak bergerak juga dari depan komputer. Tiba-tiba terlintas ide di kepalaku dan terucap, “Ke Bogor aja yuk”. Serentak kedua anakku pun berteriak. “Horeeeeeeeeee ………”

Naik Angkot ke Stasiun Kereta

Perjalanan menikmati berbagai moda transportasi di Jakarta pun dimulai. Kami hanya beberapa saat menunggu di gerbang pagar depan rumah, ketika sebuah Angkot berwarna merah berhenti tepat di depan rumah. Angkot yang trayeknya hanya mengelilingi jalan-jalan kecil di sekitar kompleks perumahan dan perkampungan penduduk di sekitar Jati Padang-Pasar Minggu tersebut membawa kami ke Pasar Minggu. Tumben pasarnya kok rada tertib karena sepanjang jalan Ragunan tersebut relatif bersih dari pedagang kaki lima. Beberapa hari sebelumnya biasanya para pedagang tumpah ruah memenuhi ruas jalan, hanya menyisakan satu jalur untuk angkot. Pas belokan ke arah terminal Pasar Minggu, terlihat mobil bak terbuka dengan tulisan di badan mobilnye terlihat jelas, “Satpol PP”. Pantes tertib.

Di Pasar itu kami pun turun dan naik ke angkot kedua yang menuju stasiun kereta Pasar Minggu. Disela hiruk-pikuk pedagang yang sekarang pindah memenuhi trotoar yang dihalangi pagar besi, kedua anakku tampak teriak bergantian, “….empat…lima….. sebelas”. Tak lupa mereka pun sesekali berantem. ” Kakak tadi sudah sampe berapa?”, teriak Diva. “Udah ah, kakak gak mau ngitungin lagi….”, bales Dinda. Ternyata kedua putriku sedang asyik berebut menghitung jumlah kucing (kegemaran sebelumnya adalah menghitung tower air bermerk pinguin …. ada-ada aja bocahku….) yang terlihat mereka sepanjang perjalanan kami di tengah hari bolong. Hembusan udara panas pun menerobos dari kaca mobil yang sudah tidak bisa dibuka-tutup lagi. Sesekali hembusan udara panas tersebut membawa berbagai aroma dari berbagai jenis dagangan yang hanya beralasan lapak seadanya yang digelar di sepanjang trotoar.

Naik Kereta Ekonomi Menuju Bogor

“Stop bang”, teriak Dinda. Kami pun berhenti di seberang pintu masuk sebelah utara stasiun kereta Pasar Minggu. Dengan harga 2000 rupiah per orang, empat lembar tiket pun sudah ditangan. Setelah sampai di peron, terdengar pemberitahuan adanya kereta jabotabek- kelas ekonomi tapi AC menuju Bogor yang berhenti di setiap stasiun. Yaaah, dah terlanjur deh. Kami pun hanya melongo ketika kereta api ber-AC dengan harga tiket 6000 tersebut berhenti di depan kami. Tak berapa lama disusul juga dengan kereta ekspress yang melintas cepat dengan sombongnya hehehe (maksudnya tidak berhenti di Pasar Minggu). Tiba-tiba Diva nyeletuk, “Bu, kok kita gak naik kereta api yang bagus tadi”. ….Gubrakkkkkk. Aku pun hanya bisa berkilah, “Nanti kita naik itu pas pulangnya aja ya, sayang….”.

Setelah menunggu beberapa menit, kereta api yang ditunggu pun datang. Upps, ternyata penumpangnya berjubel kayak ikan pindang yang tadi dijajakan di pasar. Penumpang yang turun dan naik pun berhamburan, sesekali terdengar terikan, “Hey, kasih jalan yang turun dulu dong….”. Memang begitu banyak penumpang yang juga akan naik kereta itu. Mungkin mereka pun punya tujuan yang sama dengan diriku ini, menuju bogor di hari libur. Sayup-sayup terdengar dari pengeras suara stasiun. “Mohon para penumpang tidak memaksakan diri, kereta api ekonomi berikutnya sudah sampai di stasiun cawang ……..”. Ok deh, kami pun memutuskan untuk menunggu kereta berikutnya di jalur1, yang berarti kereta ekspres berikutnya akan menyalip lagi si ekonomi.

Tidak lama, kereta yang akan membawa kami ke Bogor pun tiba. Sambil berdiri memegangi Dinda yang sudah hampir mendekati tinggiku, aku mengajak berbicara mengenai tempat-tempat sepanjang rel kereta, misalnya bakso & somay langganan kami di dekat pom bensin selepas kolong jembatan TB Simatupang yang hanya buka di sore hari. “Eh itu dia kampus bapak…..”, teriak Dinda ketika kereta melintas di kampus Gunadarma Depok. Diva dan Dinda sekali-kali meminta minum air putih kemasan yang selalu dibawa kemanapun perginya. Anakku senang sekali melihat banyak pedagang yang hilir mudik, dan ibunya lebih senang lagi karena mereka hampir tidak pernah meminta dibelikan berbagai mainan dan jajanan yang lewat di depan mata mereka. Mungkin takut kali ya atau ibunya pelit …. he . he. Enggak kok, mereka memang anak yang baik. Kalo aku meminta mereka untuk mengambil barang-barang yang mereka suka di toko atau supermarket, mereka hanya mengambil beberapa barang yang relatif murah. Di stasiun Depok lama kedua putriku sudah duduk, sambil menyindir orang tuanya yang masih berdiri, “Kasihan deh, capek nih ye….”. Kedua bapak dan ibunya baru bisa duduk setelah stasiun Cilebut, berarti stasiun berikutnya sudah sampai deh di Kota Hujan.

Naik Angkot lagi

Di stasiun kereta Bogor, kami mencari angkot nomor 02 (ini sesuai dengan info dari suamiku, mudah-mudahan daya ingatnya masih tajam hehehe) dengan tujuan ke Sukasari. “Duh … kok jalan kaki…. kapan naik angkotnya ….”, celoteh Dinda yang agak kelelahan saat itu. Memang kami hanya berjalan kaki dulu mencari-cari angkot yang bisa membawa kami berempat. Mulai di depan Kebun Raya Bogor, kemacetan pun mulai menghadang dan angkot pun akhirnya berjalan tertatih-tatih. Menjelang belokan ke arah sukasari, tepat di depan pintu masuk utama kebon raya tiba-tiba ………….. byurrrrrr…. hujan turun dengan derasnya. Sudah kami perkirakan sih ketika awan hitam mulai menggantung begitu kami turun di stasiun kereta tadi. Diva mulai merengek karena kelaparan, “Kapan nyampenya sih, … aku laper berat nih ….” katanya lirih. Aku melihat jam yang menunjukkan 13.30. Ya ampun, pantas saja kelaparan karena sudah lewat 1,5 jam dari jadwal waktu makannya. Sebenarnya saya sudah menawari untuk makan sesaat di stasiun Bogor, tapi Dinda menjawab, ‘Ah, .. masih kenyang”. Memang mereka tadi sempet ngemil bagelan dan pisang sale, oleh2 dari Bapaknya sepulang dari Surabaya.

Akhirnya kami berhenti di toko asinan yang, kata suamiku memang sudah terkenal sejak dulu. Kami pun makan siang di restoran yang berada tepat di samping toko asinan tersebut. Seperti sudah diduga, suamiku memesan toge goreng yang outletnya (baca pikulannya) berada di depan restoran. Sambil menunggu menu pesanan terhidang di meja, aku membeli sekedar oleh-oleh di toko asinan. Sayang outlet roti unyilnya sudah pindah, yang ada hanya outlet roti mungil. Setelah hujan mulai reda, kami pun siap-siap kembali melanjutkan perjalanan. Kayak jalan-jalan kemana aja gitu ya hehehe.

Akhirnya Naik KA Ekspress juga

img_1641.jpg img_1646.jpg

Kami pun kembali naik angkot 02 menuju stasiun kereta Bogor. Ternyata waktunya jauh lebih lama dibandingkan perginya. Rupanya Bogor sudah ketularan macet dari Jakarta ya. Angkot pun berjalan dengan kecepatan rata-rata 10 km per jam (nebak aja, pokoknya lambat banget deh). Macet baru mereda setelah angkot sampai di daerah Empang. Sempet-sempetnya suamiku bergumam ketika angkot melintas di depan sebuah department store, “Dulu disini kan ada Bogor Theater, kok sekarang depannya jadi department store….”. Hmmm, pasti deh suamiku lagi bernostalgia nonton bersama pacarnya ketika kuliah di Bogor. Huh, dasar laki-laki hehehe.

Kami akhirnya sampe stasiun jam 1/2 4 sore. Dengan tergesa-gesa, suamiku menuju loket tiket dan membeli 4 tiket KA Pakuan Ekspress. Uang 50 ribu pun akhirnya cuma dikembalikan sebesar 6000. Berapakah harga tiket per orang? Hehehe biasanya soal cerita seperti itulah yang dibuat untuk latihan matematika-nya Dinda. Tepat jam 16.17 kereta api akhirnya meninggalkan Bogor menuju Stasiun Jakarta Kota. Sudah aku duga, kedua anakku bener-bener pecicilan deh. Mereka seneng banget kayak pertama kali aja naik kereta. Memang mereka relatif jarang sih naik kereta, paling jauh nyampe ke Cirebon dengan kereta Cirebon Ekspress. “Bu, enakan kereta yang sekarang”, kata Dinda. “Dingin dan empuk Bu”, timpal adiknya sambil tak henti-hentinya pantatnya loncat-loncat di atas tempat duduk.

Kami tiba di Stasiun Jakarta sekitar jam 5 sore lebih. Stasiun tersebut dikenal juga dengan sebutan Beos, singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij. Di sebelah utara terlihat Stasiun Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta.

img_1649.jpg

Horee……Kita naik Busway lagi

Setelah selesai makan sore di sebuah rumah makan waralaba, kami pun akhirnya menuju terminal busway yang berada di seberang jalan. Terlihat mata kedua putriku berbinar-binar lagi setelah tahu mereka akhirnya naik busway juga. Ternyata kami harus melewati terowongan bawah tanah tuk menyebrang ke arah stasiun busway. Aku sih sudah tahu tapi suamiku kayaknya baru tahu tuh, udik bener ya hehehe, maklum tahunya rute ke Depok, ke Tebet (pasti nostalgia lagi deh suamiku), ke Kenari dan Salemba (tugas menyidang sarjana) - ke Jatiwaringin (silaturahmi dengan saudara), ke Ratu Plaza (sesekali setelah kerja di dikti juga) dan Bogor (jangan-jangan suamiku yang paling seneng nih jalan-jalannya, sekalian napak tilas). Coba deh suamiku diturunin di Blok M sendiri …. nyasar kali …. maklum orang Majalengka yang jarang jalan-jalan di Jakarta. Kalau aku sih memang lahir dan besar di Jakarta, malah ada turunan betawi juga. Jadi gak terlalu binggung, paling rute busway-nya aja, apalagi untuk menyambung dari koridor ke koridor lainnya :).

Perjalanan Kota-Blok M, kami lalui dengan cepat karena Jakarta tidak macet apalagi dengan jalur khusus Busway-nya (… ya … iyalah … kan long weekend ya). Ketika melewati Museum Gajah atau Museum Nasional, saya segera memberitahukannya ke Dinda. Dia sangat terkejut karena materi tersebut dipelajarinya di PLBJ (Pendidikan Linkungan Budaya Jakarta) kelas 3 semester 2. Setelah museum Fatahillah, Dinda tak menyangka bisa melihat sendiri beberapa museum walaupun hanya dari jauh. “Emang …. ini jalan apa Bu? ” kata Dinda . “Jalan Medan Merdeka Barat”, kataku. “Oh iya, kan ada di buku PLBJ ya Bu”, balas Dinda. Aku pun tak lupa memberitahu Monas di sebelah kiri jalan. “Itu sih dah bosen, kan sering juga kalau jemput aki atau eni dari Majalengka”, celoteh Dinda. Selanjutnya Gedung Bank Indonesia pun terlewat sudah, yang pernah dikunjungi Dinda pada saat pentas tari Ondel-ondel sekaligus mampir ke tempat bekerja Budenya.

Mendekati terminal BlokM, putriku Diva mulai tertidur karena kelelahan, maklumlah tidur siang merupakan kebiasaan putri-putriku setiap hari. Terpaksa aku bangunkan karena telah sampai di terminal Blok M. Perjalanan pun dilanjutkan dengan menaiki Metromini S75 jurusan Blok M - Pasar Minggu. Kami berencana turun di tengah perjalanan, dan akan berganti ke moda transportasi berikutnya, yaitu Taksi. Tapi tak disangka, Diva gak mau turun dari metromini. Kayaknya Diva asyik duduk tepat di belakang Pak Supir sambil mengamati sorot lampu motor dan mobil dari arah berlawanan. “Enak kena angin, nanti kita turun di Pasar Minggu aja, terus naik ojek ya Bu….”, celoteh Diva. “Kak, lihat tuh banyak bajay…..”, teriak Diva. Hmmmm, memang selain naik pesawat, obsesi Diva yang lain adalah naik Bajaj. Kebayang deh jika Diva dan Dinda naik bajay, pasti tergetar hatinya…….. juga seluruh tubuhnya hehehe.

Diturunkan di tengah jalan

Tiba-tiba di jalan buncit Metromini berhenti mendadak setelah menyalip metromini lainnya. “Tolong semuanya pindah ke bis yang belakang”, kata Pak Supir. Ups, emang bener kata orang-orang, kadang beberapa oknum supir metromini suka menurunkan penumpang seenaknya sebelum sampe ke tujuan. Ketika Aku menoleh ke deretan bangku di belakang, terlihat memang penumpangnya kurang dari 10 orang. Pantes metromininya muter balik ke arah Blok M lagi. “Kenapa Bu semua penumpangnya turun dari Metromini?”, tanya Diva. “Kita pindah naik Taksi aja deh…”, jawabku. Akhirnya rencana naik taksi terkabul juga ya. “Gak jadi naik ojek dong Bu?”, tanya Diva. “Iya nanti besok kita naik ojek dari rumah ke pasar ya”, hiburku. Memang ojek merupakan moda transportasi yang paling sering digunakan di lingkungan rumahku, daripada nunggu angkot merah yang interval kedatangannya agak lama.

Akhirnya kami tiba dirumah tepat pukul 20.00 sesuai keiinginan Diva sebelum berangkat.”Pokoknya sampai jam 8 malam jalan-jalannya ya”, katanya pas tadi berangkat dari rumah. Bapak dan Ibunya akhirnya mengabulkan keinginannya. Sekalian ada maksud lain juga sih. Aku bersusah payah menulis di blog ini karena ingin menjelaskan juga berbagai moda trasportasi darat dan lokasi berbagai museum di Jakarta, dua materi yang sedang dipelajari Diva dan Dinda saat ini. Biar mereka merasakan atau melihatnya secara langsung. Jadi sengaja juga Aku mencari informasi tambahan mengenai berbagai moda transportasi tersebut dengan membuat link ke wikipedia sesuai dengan moda transportasi dan informasi terkait lainnya. Banyak dibantu oleh suamiku juga sih hehehe. Oh iya, jalan-jalan ini juga semacam kompensasi atau “upeti” buat anak-anakku karena bapaknya berangkat ke Jepang selama 8 hari pada tanggal 23 Maret. Kedua putriku memang punya kebiasan minta “upeti” ke bapaknya jika ditinggal beberapa hari. Bukan aku yang ngomporin lho hehehe.

“Hayo sudah berapa jenis transportasi darat yang Diva dan Dinda naiki hari ini”, tanyaku ketika kami hampir mendekati rumah. “4 angkot, 1 kereta panas, 1 kereta dingin, 1 metromini, 1 Busway, dan 1 taksi”, jawab Dinda dan Diva serentak. Tiba-tiba DIva nyeletuk, “Jalan-jalan berikutnya nanti kita naik pesawat ya Bu?” …………..Gubrakkkk lagi deh.

8 Responses to “Moda Transportasi di Jakarta”

  1. hanumon 25 Mar 2008 at 6:42 am

    Wah.. keluarga yg harmonis ya ibu yg satu ini.
    Jadi ngiri :)
    Family is number 1.. right..
    Ughhh… enak sekali liburan, jd pengen having fun n enjoy holiday. Hiks…hiks… ga ada wkt jln2, banyak deadline :(

  2. faridaon 25 Mar 2008 at 12:21 pm

    Mudah-mudahan jadi keluarga yang harmonis ….Amin, Tapi tetap dibumbui pertengkaran kecil terutama Si Kakak & Si Adik … he …he.. jadi rame rumahnya ….
    Cari liburan yang murah meriah …. tapi ada edukasinya ….
    Rencananya … mau pergi ke Museum …. di Jakarta…
    Mudah-mudahan cepet selesai web SMAnya … biar jalan-jalan …yah

  3. mohiqbalon 08 Apr 2008 at 6:06 pm

    perjalanannya seru… mbak. tp waktu di bogor lupa naik delman. pasti tambah muantap lagi. ditunggu kisah selanjutnya.

    Salam dari seberang lautan… buat dinda dan diva

  4. faridaon 09 Apr 2008 at 12:33 pm

    Boro-boro mau naik delman, orang hujan lebat ditambah lagi perut Diva yang sudah tidak diajak kompromi karena lapar ….. sampai-sampai Aku juga malu di angkot ,ada mas-mas ..( orang jawa sih akunya) … seyum-seyum lihat Diva yang tidak kuat menahan kosong perutmya …..
    Tapi kalau Naik Delman sih, memang kegiatan rutin kalau pulang ke Majalengka, … sampai-sampai kudanya cape karena kejauhan rutenya … dan karena berat beban yang diangkutnya ….

  5. [...] Pada hari terakhir di Waseda University, kami bertiga sempat kabur menuju Ueno. Kami pun bergegas ke Halte bis di depan kampus. Dengan membayar 120 Yen kami pun menuju stasiun kereta api terdekat. Pas sampai stasiun kami pun kebingungan ketika peta-peta perjalanan KA di depan stasiun semuanya menggunakan huruf kanji. Kami pun bergegas ke ruang “information” untuk meminta brosur peta dalam bahasa Inggris. Singkat cerita kami pun sudah di atas JR (PT KAI-nya Tokyo kali ya) setelah memasukkan uang 160 Yen ke mesin tiket. KA-nya penuh juga, ternyata sama aja deh dengan Kereta Jabotabek. [...]

  6. bheenaon 12 Sep 2008 at 1:47 pm

    Menyenangkan skali bisa jalan2 sambil belajar. Buat kita ibu2 ini sangat mbahagiakan sekali dpt mbuat anak2 kita bahagia n senang meskipun hrs merasakan udara yg tdk bersahabat sekalipun. Anak2 mendptkan pembelajaran dgn usaha kita sbg ortu masa kini dituntut kreatif. slmt ya bu dgn jalan2nya yg murah meriah tp byk mendptkan manfaat. Merdeka!!!

  7. erlynon 24 Sep 2008 at 11:08 am

    wah keren mbak. kalo aku sering aku sendiri yang KO kalo ngajak keponakan pake kendaraan umum, ngurusin bawa bekelnya, anaknya tidur, kadang mabuk ampyun d. ujung-ujungnya pasti loncat ke taxi.

  8. faridaon 25 Sep 2008 at 11:14 am

    wah … seneng juga memberikan info ini. Kalau repot-nya yah repot, kebetulan aku, orang yang tidak bisa membawa perbekalan yang sedikit selama pergi, baik perjalanan pendek atau jauh pun selalu siap minimal snak ringan & berat, minum dan baju ganti. Walaupun anakku yang besar sudah tidak kecil lagi malah besarnya hampir sama dengan aku tetap baju ganti lengkap selalu dibawa.
    Malah perabotan pribadiku yang mengalah hanya cukup dompet saja yang utama … itu yang paling penting dari yang lainnya sih apalagi isinya …
    Tapi rencana ke musiem belum sempat karena kesibukan suami dan aku … nunggu waktu yang pas ….belum ketemu …
    Dan naik pesawat yang belum dipenuhi … sebenarnya pernah direncanakan untuk ke Jogya kebetulan ada mengirim paper ke sebuah seminar yang kami berdua lakukan ( saya dan suami ) tapi anakku lebih senang untuk pentas menari di Ragunan dibandingkan naik pesawat … gagal deh rencana kami.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.