Bambang Wahyudi

8 October, 2007

Perbedaan dalam Keberagamaan

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:19 pm

PEMAKNAAN AGAMA ITU BERTINGKAT-TINGKAT
(DERAJAT KEIMANAN BERBEDA-BEDA)

“Tiadalah sama, orang yang berilmu dan orang yang awam. Tiadalah sama pahala seorang imam dan seorang makmum. Tiadalah Tuhan menilai hambanya kecuali atas dasar ketaqwaannya. Surga dan neraka pun dicipta bertingkat-tingkat.”

Kalau ada orang yang menyalahkan kita tentang makna dari suatu ayat, maka hendaknya ia bertobat atas penyalahannya itu. Kita kenal empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki), padahal ada ratusan bahkan ribuan mazhab, dan boleh tidak mengikuti hanya satu mazhab itu, bahkan kita bisa punya penafsiran sendiri (dengan ilmu kita),¬† toh mereka juga manusia semua seperti kita dan hidup di jaman mereka sudah berbeda sekali dengan jaman kita kini.Yang penting, pemaknaan ayat itu berazaskan pada ilmu (bukan hanya sekadar ilmu agama), dan bukan semata-mata atas kepentingan diri sendiri. Contoh sederhana, pengertian `malam lailatul qadr,’ mungkin dari kita masih SD dulu hingga sekarang, banyak yang mengartikan seperti sebuah malam yang indah, tenang, sejuk, dan pada malam itu tepat turunnya Al Quran ke bumi.Sebetulnya kita boleh bertanya, apakah Al Quran itu seperti sebuah pesawat terbang yang mengelilingi dunia (selalu bergerak mengelilingi bumi untuk mencari tempat-tempat yang malam di hari itu) ?. Bukankah malam di Indonesia berarti siang di Amerika ?. Jadi, malam yang di mana ?.Itu baru satu contoh bahwa pemahaman kita boleh saja berbeda, tetapi kita jangan menyalahkan pemahaman orang lain, mungkin karena ilmunya baru sebatas itu (atau sudah tinggi di luar jangkauan kita), apalagi terhadap mereka yang `percaya mati’ artinya tidak perlu lagi dipikir-pikir, tidak perlu lagi dikaji-kaji, pokoknya kalau sudah begitu ya begitu, kalau Tuhan sudah punya mau, kita bisa apa ?.Contoh pemahaman lain yang bisa berbeda adalah ketika nabi Muhammad SAW melakukan isra-mi’raj untuk menghadap Allah. Sebelumnya, dadanya dibelah dan dicuci dengan air zam-zam agar hatinya bersih tak bernoda. Kemudian beliau diperjalankan hingga ke langit ketujuh untuk menerima perintah sholat. Di perjalanan dari setiap lapis langit beliau bertemu dengan nabi-nabi lain sebelum beliau (Adam, Yahya & Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim).
Saya tak bisa menyalahkan mereka yang berpikir bahwa atas kuasa Allah nabi Muhammad SAW diperjalankan secara fisik melewati planet-planet dan galaksi-galaksi. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan mereka yang berpandangan bahwa nabi Muhammad tidak melakukan perjalanan secara fisik, melainkan secara batiniah (terbebas dari dimensi ruang dan waktu), dan saya tidak menyalahkan mereka yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan simbol-simbol belaka bahwa ada tujuh tingkatan batin menuju kesempurnaan iman seseorang. Silakan saja.

Yang jelas Tuhan telah memerintahkan kita bahwa jangan pernah berhenti menuntut ilmu guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Dan kemana pun ilmu itu kita kejar, ujung-ujungnya pasti mengarah kepada kehebatan penciptaan dan kekuasaan Tuhan. Dengan begitu, keimanan dan ketaqwaan kita semakin besar dan derajat kita ditinggikan oleh Allah SWT.

Kita tahu, semua yang ada di jagad ini bersumber dari Tuhan. Begitu juga dengan agama-agama yang ada di dunia ini, bersumber dari satu, yaitu Tuhan. Lalu, mengapa akhirnya terjadi banyak agama, dan kepercayaan-kepercayaan lain yang ada di sekitar kita ?.
Jawabannya mudah saja, jika ada sebidang tanah, kemudian dua orang menanam tumbuhan yang sama dari bibit yang sama di tanah itu, hasilnya bisa berbeda. Dua orang saudara kembar identik sekalipun, yang merupakan keturunan dari orang-tua yang sama, sifatnya tidak akan sama seratus persen. Jadi, maklumlah jika ada banyak organisasi Keislaman, seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Ahmadiyah, Jamaah Islamiah, dan banyak lagi yang lainnya, belum lagi yang tidak berorganisasi.
Seharusnya, perbedaan-perbedaan semacam ini tidak perlu dipermasalahkan karena hal ini menjadi hak asasi individual setiap pengikutnya. Perbedaan-perbedaan semacam ini jangan dijadikan pemicu perpecahan umat (bangsa), sebaliknya harus dijadikan referensi kekuasaan Tuhan dan dijadikan sarana untuk berbuat amal kebaikan. Jika ada satu kaum yang menganggap sesat kaum lainnya, maka duduklah dengan damai, musyawarahkan, dan ambil kesimpulan, bukan harus dimusuhi dan diperangi. Benar-salah, dan pahala-dosa dalam beragama adalah urusan Allah, kita tidak memiliki hak menghakimi (menentukan pahala-dosa) sesama manusia dalam menjalankan keyakinan (agama)nya masing-masing.

Ada pertanyaan dan pernyataan yang menggelitik dari buku “Hidup Lebih Bermakna” Muhammad Zuhri, 2007 yang bisa menjadi introspeksi bagi diri kita sendiri agar jangan suka (gampang) menyalahkan (keyakinan) orang.
1. Agama itu satu, dan agama datang dari semesta di luar ruang dan waktu. Karenanya, untuk merealisasikan perintah atau larangan Tuhan ke dalam ruang dan waktu, manusia harus menginterpretasikan firman-firman Tuhan, karena ia sendiri yang harus mempraktikkannya. Manusia harus memberi interpretasi-merespons apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan. (p.34)
2. “Adilkah (Tuhan) ketika seorang yang baru lahir dalam kondisi cacat, sedangkan dia belum berdosa ?.” (p.36)
3. Jika seorang scientist menghasilkan perubahan yang nyata dari waktu ke waktu (misalkan teknologi informasi), perubahan apa yang nyata dari seorang yang telah menunaikan kelima rukun Islam ? (intisari p.36-38)
4. Tidak satupun makhluk yang tahu keberadaanNya, pun nabi dan malaikat. Dia tidak dapat dikenal oleh siapapun dan oleh alat apapun, bahkan dengan akal, budi, perasaan, ibadah, dan kesucianpun tak sanggup mengenalNya. (intisari p.100)

Nah, jelaslah, bahwa tidak ada satupun makhluk yang bisa “membayangkan” seperti apa Tuhan. Jika membayangkan saja tidak bisa, dari mana mereka tahu apa yang dikehendakinya ?. Bisa jadi dari para nabi yang Tuhan sendiri¬† memperkenalkan dirinya kepada para nabi (karena para nabipun awalnya tidak bisa mengenal Tuhan). Seperti seorang guru yang mengajar ilmu yang sama di depan kelas, tidak semua murid bisa menerima materi pelajaran itu (dengan hasil yang sama).
Meski berbeda, atas persepsinya, atas hal-hal yang dialaminya, atas hal-hal yang dikajinya, pendapatnya itu kemudian menjadi keyakinan dirinya dan disampaikan kepada murid-murid (pengikutnya). Demikian seterusnya turun-temurun berkembang sesuai dengan perkembangan jaman.

Kesimpulan:

Pemahaman orang per orang tentang agama yang dianutnya bisa berbeda-beda. Keyakinan seseorang berawal dari apa yang ia terima dari `guru’nya, kemudian diuji oleh `suasana’ dalam perjalanan hidupnya. Keyakinan itu bisa semakin kuat (karena menurutnya terbukti benar), tetapi bisa juga berpaling (berubah, karena meragukan).
Sebagaimana pendidikan formal, maka pemaknaan agama bisa bertingkat-tingkat dan umumnya sesuai dengan kematangan pendidikan, usia serta pengalaman hidupnya. Itulah, mengapa Al Quran adalah kitab yang berlaku sepanjang masa, karena jika `burung ababil’ saat ini sudah tidak ada, tentu ayat itu perlu kita tip-ex, begitu juga dengan `budak’, bila saat ini sudah tidak ada budak, maka ayat itu juga perlu kita tip-ex. Kalau pemahaman kita tidak bertambah (tidak terus mengkaji ilmu pengetahuan), maka berapa banyak ayat yang sudah kita tip-ex ??.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.