Bambang Wahyudi

18 November, 2010

Ada Kolektor Daging Kurban

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:17 am

Pak Dr. Ravi bilang bahwa justru Idul Adha seharusnya ‘dirayakan’ jauh lebih besar dibanding Idul Fitri, tapi malah yang terjadi sebaliknya. Kenapa terjadi sebaliknya ?, karena jumlah hewan yang dihurbankan (di Idul Adha) jauh lebih sedikit dibanding ketupat, opor, dan THR (di Idul Fitri) ….it’s joke…..

Tapi, pada setiap perayaaan Idul Fitri atau Idul Adha kita bisa tahu bahwa masih terlalu banyak penduduk miskin (atau merasa miskin) di negeri kita ini. Pada Idul Adha, bisa disaksikan di layar-layar televisi, jumlah mustahik (dalam hal ini, penerima hewan kurban) terlalu banyak sehingga berdesak-desakan dan bahkan sampai ada yang rusuh. Paling-paling dapat bungkusannya setengah hingga satu kilo daging plus tulang plus jeroan, tapi mereka rela bermalam di dekat pembagian hewan kurban, takut kalau tidak kebagian.

Memang, menjadi panitia kurban tidak semudah yang dibayangkan. Senang karena bisa membagi-bagikan daging kurban ke orang lain, tapi kesal karena para penerima hewan kurban tidak bisa diatur rapi agar dapat berjalan dengan tertib.

Tahun ini saya ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana perayaan kurban di Musholla Nur-Rahman di lingkungan RT saya (45 rumah). Jumlah hewan kurban yang terkumpul hanya 3 ekor sapi dan 3 ekor kambing, dan jumlah kupon yang sudah saya edarkan sebanyak 357 lembar. Memang, kami seRT bergotong royong untuk melaksanakan kurban itu. Ada 30 pria yang melaksanakan penyembelihan hingga pembagian daging kurban, dan ada 15 wanita yang membuat masakan/ minuman yang dihidangkan untuk seluruh “panitia.”

Di kupon, saya bagi waktu pengambilannya tiga tahap, masing-masing berbeda 15 menit yang dimulai pukul 15.00. Karena kami bukan orang profesional dalam hal pemotongan daging, maka kami bisa menyelesaikan itu pada pukul 15.30. Tapi apa yang terjadi, banyak orang yang meminta daging kurban sudah berdatangan jam 13.00 (selesai sholat Dzuhur), dan lagi, mereka justru bukan orang yang mendapat kupon. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai sekitar 100 orang.

Padahal, musholla kami berada di ‘cluster’ yang tidak bisa dlihat dari jalan utama, dan jalannya eksklusif (terbatas) hanya untuk wilayah itu saja. Musholla kami kecil, tapi dibangun bertingkat hasil swadaya di 2/3 wilayah warga RT kami, namun indah dan nyaman dengan 4 buah AC yang ‘didukung’ oleh Bapak Taufik Kiemas (Ketua MPR) di mana salah satu warga kami bekerja sebagai akuntan di seluruh SPBU miliknya.

Kekhawatiran saya tentang pembagian daging kurban akhirnya bisa teratasi. Dengan 3 ekor sapi dan 3 ekor kambing, kami bisa ‘meracik’ menjadi 500 kantung, sehingga dari 357 lembar kupon plus 100 orang non kupon dapat menerima daging kurban seluruhnya. Sisanya, kami masak bersama sebagai bagian dari jatah panitia.

Malam harinya, saya berbincang-bincang dengan panitia lain dan Satpam perumahan (sebagai bahan evaluasi). Terungkap di sana, bahwa dari semua yang meminta daging kurban, tidak semua digunakan sebagai konsumsi baginya. Ada yang dijual, bahkan sempat berburu ke berbagai penjuru hingga sehari ia mampu mengumpulkan 20 bungkus (Satpam perumahan itu dapat 6 bungkus dari 6 lokasi di perumahan kami). Semua itu rejekinya, kami tak ambil pusing, karena itu hanya terjadi setahun sekali….

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.