Bambang Wahyudi

16 April, 2007

Tentang Saya …..

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:32 am

HIDUP HARUS DAPAT MEMBERI MANFAAT BAGI ORANG LAIN

 

Masa kanak-kanakku harus kulalui dengan penuh keprihatinan dan kesengsaraan, maklum kedua orang tuanku hanya berpendidikan sekolah dasar dan bekerja sebagai buruh pabrik peralatan listrik. Aku masih ingat selama sekitar setahun tidak boleh keluar rumah, dan pintu selalu ditutup hanya karena kedua orang tuaku tidak sanggup membelikan jajanan yang berlalu-lalang di depan rumahku.

 

Untungnya, sejak usia dini, aku sudah terbiasa berpikir dan  menimbang rasa, sehingga sering dipuji sebagai seorang anak yang menjadi kebanggaan orang tua karena dinilai menjadi anak yang penurut, sopan, dan tidak suka macam-macam. Memang, sejak kecil, mungkin sebelum masuk SD (tidak melalui TK), aku sudah bisa berpikir logis-realistis dan strategis. Namun karena kurangnya pergaulan, ketika masuk SD, aku menjadi murid yang pendiam, penyendiri, minder, dan cenderung cengeng sehingga harus didampingi orang tua di dalam kelas hingga sekitar setengah tahun.

 

Pendek kata, karena dinilai menjadi anak yang baik, lambat-laun teman-temannya mulai banyak, namun justru selalu lebih banyak teman wanita ketimbang teman prianya. Pernah dalam satu kelompok belajar yang terdiri dari tujuh orang ketika di SMA, prianya hanya aku sendiri,  makanya tak heran kalau selama hidupku aku tidak pernah berkelahi secara fisik, sesuatu yang jarang didapat dari seorang anak laki-laki.

 

Ketika lulus SMA, 1981, aku bimbang antara harus bekerja membantu orang tua atau melanjutkan kuliah. Kebetulan, ketika itu, orang tuaku dipensiun dan mendapat uang pesangon yang tidak seberapa. Tentu tidak mungkin untuk membiayai kuliah di PTS, dan untuk PTN, saya kurang beruntung, saya ranking kelima di kelas, dan empat ranking di atas saya semua diterima masuk PTN melalui Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru-red) ketika itu.

 

Dan kebetulan, aku mendapat surat panggilan dari Program Pendidikan Ilmu Komputer (PPIK)  yang merupakan cikal bakal Universitas Gunadarma saat ini, dan biayanya masih dapat terjangkau, kalau tidak salah ingat biayanya sebesar Rp. 200.000,- per semester, dan orang tuaku bersedia membiayainya dengan catatan mereka hanya mampu membiayai selama satu semester, selebihnya mereka tidak tahu. Kesempatan ini aku ambil karena aku tahu kalau masa depan komputer akan sangat baik. Itu aku peroleh dari teman-teman SMAku.

 

Tidak mudah aku menyelesaikan kuliahku karena ketiadaan biaya, sehingga kuliah S1-nya selesai selama tujuh tahun (lokal) plus satu tahun lagi (lulus Ujian Negara). Jadi, kalau ada uang, aku kuliah, kalau tidak ada, ya cuti dulu. Uang itu aku dapatkan dengan cara mengajar di SMP, SMA, SMEA di bilangan Kota, dan mengajar kursus di jalan Hasyim Azhari, les privat di rumah-rumah, serta malam harinya menjadi asisten laboratorium komputer di tempat kuliah. Semuanya untuk materi bahasa pemrograman komputer (dulu yang lagi ngetrend adalah Basic, Pascal, dan dBase). Bila masih ada waktu luang, digunakannya untuk membantu orang tua mengembangkan warung di rumahnya yang buka dari jam 5.30 pagi hingga 21.30 malam non stop.

Kepontang-pantingannya dulu tidak ingin aku tularkan ke adik-adik serta keponakan-keponakan dekatnya. Aku merasakan beban kehidupan yang cukup berat, jangan sampai orang di sekeliling aku merasakannya,  Hingga saat ini kedua adik kandungku dan seorang keponakanku telah berhasil menjadi sarjana dan semuanya sudah mentas. Dan tidak berhenti di situ, kini aku masih membiayai dua keponakannya yang masih menimba ilmu, ”semuanya di Gunadarma.”

 

Mulai Bergabung di Gunadarma

 

Aku tidak tahu pasti kapan aku bergabung di Gunadarma, tetapi aku mulai berkiprah menjadi asisten laboratorium komputer tahun 1983 dan aku tidak pernah menulis surat lamaran kerja ke Gunadarma. ”Justru saya dilamar untuk bergabung membantu mengembangkan Gunadarma oleh Pimpinan …ha..ha..ha..” .

 

Sebetulnya, sebelum diminta bergabung, aku yang hobi menulis sudah banyak berkiprah membantu Gunadarma, seperti menyusun Tata Tertib Laboratorium, Penulisan brosur-brosur untuk promosi, Pembuatan Modul-modul Praktikum, dan sebagainya. Semua aku lakukan tanpa pamrih, sama sekali tidak ada hitung-hitungan, Namun, meski aku tidak pernah menghitung-hitung, justru Tuhan Yang Maha Cepat Perhitungannya, semua keikhlasan saya seakan dibayar langsung olehNya. Saya diberi nikmat sehat wal afiat meski harus bekerja dari pagi kadang sampai ke pagi lagi, saya diberi banyak teman yang baik, dan rejeki ada saja dari pos-pos yang tidak diduga sebelumnya.”

 

Loyal dan Selalu Berpikir Positif

 

Kalau tidak percaya, silakan tanya pak Fikri, kami berdua selesai tugas di Lab. Komputer kadang-kadang sampai jam 20.00, dan baru tiba di rumah jam 24.00, dan besok harinya sering harus mulai bertugas lagi jam 07.30. Dari tempat kerja sampai ke rumah sebetulnya tidak sampai empat jam, hanya sering kali kami melakukan tukar pendapat, baik di warung, di jalan, di dalam bus, atau dimana pun, dan pembahasannya tak lain dan tak bukan adalah mengenai pengembangan Gunadarma, khususnya dalam hal manajemen (pengelolaan).

 

Dan itu hampir setiap hari kami lakukan. Aku mau berdiskusi dengan pak Fikri karena beliau aku anggap orang yang lurus yang kalau diajak bicara tidak ada intrik-intrik pikiran macam-macam, jadi sejalan. Karena kami ada di level bawah, yang kami pikirkan dan diskusikan tentu saja lebih banyak ke arah operasional kampus saja, yaitu bagaimana mengefektifkan dan mengefisienkan sistem pelayanan kampus kepada mahasiswa atau orang tua mahasiswa.

 

Logis-realistis dan Strategis

 

26 tahun berkiprah di Gunadarma, banyak asam-garam telah aku kecap, mulai dari hal yang pahit-getir hingga yang manis. pahit-getir ketika aku sering dibohongi, dicurigai, difitnah, atau diadu-domba. Menurutku, hidup bermasyarakat, seperti juga di dalam organisasi seperti kampus, tidak luput dari perilaku ”cari muka,” ”asal bapak senang,” dan sebagainya.

Mungkin karena aku termasuk orang yang tidak banyak cing-cong, cuek (easy going), nothing to loose, maka sering dijadikan ”kambing hitam” atau ”objek penderita” dari orang-orang yang merasa tersaingi. Dan sesuai dengan sifatku itu, aku tidak suka menanggapi hal-hal semacam itu, ”biar saja, toh Tuhan Maha Tahu…, orang yang suka mencelakai orang lain, sesungguhnya ia sedang dan akan selalu mencelakai dirinya sendiri…” pendapatku, ”justru sebaliknya, kita harus mengasihani orang-orang semacam itu, jadi harus kita dekati, dan kalau mungin, kita nasihati.”

Jabatan tertinggi yang pernah aku emban adalah sebagaii Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi mulai Februari 2001 sampai Februari 2009. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Bagian Ujian Negara (sekarang Ujian Utama-red) sejak 1990 hingga 2000. Cara berpikir logis-realistis dan strategis yang sejak kanak-kanak dilakukannya terus terbawa hingga kini.

 

Aku pernah seorang diri di Bagian Ujian Negara dan melayani 10.000an mahasiswa peserta dan 300an orang pengawas, di mana saya harus mencetak blanko pembayaran ujian negara, mendistribusikannya, menginput data yang sudah bayar, mencetak tanda peserta dan menempel foto pesertanya, mendistribusikannya, dan seterusnya sampai pelaksanaan dan pencetakan Daftar Nilai Ujian Negaranya. Tentunya, saya harus berpikir secara strategis, bagaimana melakukan hal tersebut agar sukses, meski secara logis-realistis saya harus bekerja lebih dari 20 jam selama sekitar satu minggu”

 

Untungnya, Tuhan memberi kekuatan fisik dan mental baja kepada saya, Alhamdulillah saya sehat-sehat saja hingga saat ini, meski ketika itu saya bisa menghabiskan rokok kretek sampai tiga bungkus per hari. Jadi saya berkesimpulan, bukan rokok yang membuat orang sakit, tetapi hati dan pikiranlah yang lebih utama  menjadi penyebabnya, sehat atau sakit.

 

”Lalu, kenapa sekarang aku tidak merokok lagi ?” tanya beberapa rekan.

”Ya, itu juga dari hasil pemikiran yang logis-realistis. Aku masih punya dua orang yang harus aku biayai kuliahnya. Sementara, kenaikan gaji tidak seimbang dengan kenaikan kebutuhan hidup, karenanya harus ada yang dikorbankan, salah satunya adalah rokok itu, selebihnya adalah penghematan pengeluaran” jelasnya, ”intinya, jika kita ingin mencapai sesuatu, dalam hal ini mensarjanakan orang, maka kita harus dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan hambatan yang bakal dihadapi dan kita harus memiliki strategi apa yang harus kita lakukan jika hambatan itu akan kita temui nantinya.”

”Pemikiran seperti itu akan berimbas ke pelaksanaan pekerjaan kita sehari-hari, sebelum kita memutuskan sesuatu, maka harus dipikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi akibat atau dampak dari keputusan itu, dan apabila itu terjadi, langkah-langkah strategis apa yang harus kita jalankan. Kalau semua sudah siap, barulah keputusan tersebut bisa dikeluarkan atau ditetapkan.”

 

Keinginan yang Belum Tercapai

 

”Saya ingin seluruh mahasiswa kita tidak cengeng dan tidak manja. Bila siap ke kampus maka ia harus siap belajar, baik dengan dosen maupun belajar secara mandiri. Saya ingin lingkungan kampus adalah lingkungan ilmiah, bukan lingkungan gosip atau tempat bercengkerama. Saya sangat suka melihat mahasiswa yang belajar mandiri melalui laptop atau membaca text book, berdiskusi dan semacamnya yang sudah mulai membudaya meski baru dilakukan oleh segelintir mahasiswa..”

”Saya tidak ingin melihat mereka membuang-buang waktu di kampus tanpa tujuan untuk masa depannya, sayang kalau masa mudanya digunakan untuk bersantai-santai. Kalau masa mudanya tidak digunakan untuk bekerja keras, maka Insya Allah, masa tuanya akan dipaksa bekerja keras”

 

”Saya dengar dari banyak dosen, Bapak suka dengan filosofi ?” tany beberapa rekan lain.

 

”Ya, semua orang sebetulnya harus tahu filosofi. Misalnya, kenapa orang harus sholat ?, orang harus tahu filosofinya, kenapa harus belajar matematika ?, mahasiswa harus tahu filosofinya, kenapa muncul sistem database ?, orang harus tahu filosofinya, dan yang paling mendasar adalah kenapa kita harus hidup ?, tentu kita harus tahu filosofinya. Tanpa mengetahui filosofinya, hidup kita menjadi tanpa arah.”

”Sebelum menyudahi kuliah ini, ada nasihat dari Bapak untuk mahasiswa ?” tanya mahasiswa di kelas.

”Ah, saya ini manusia biasa-biasa saja, tidak memiliki keistimewaan sama sekali dari yang lain, maka tidak pantas jika saya harus memberi nasihat kepada orang lain, apalagi mereka tidak memintanya. Saya hanya akan menasihati diri sendiri, bunyi nasihatnya adalah ’jangan pernah berpikir untuk menjadi orang sombong, karena kesombongan akan menjebloskan kita ke lembah kenistaan, dan jangan pernah berusaha menyepelekan orang lain, karena menyepelekan orang lain akan menghantarkan kita ke kehinaan diri.’ Semoga saya selalu mengingat nasihat ini. Aamiin.”

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.