Bambang Wahyudi

29 May, 2011

Korupsi oh Korupsi …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:08 am

Satu lagi anggota “Udin Sedunia” yaitu “Udin yang punya niat minggat sebelum dicekal” yaitu “Nazaruddin.” Bisa jadi pembuktian perbuatan korupsi dirinya akan sulit dilaksanakan oleh para penegak hukum. Tapi, bila memang ia tidak korupsi, mengapa mendadak ia ke luar negeri ketika akan dimintai penjelasan oleh KPK. Berobat ? seperti Nunun atau para tersangka koruptor lainnya yang ‘menetap’ di Singapura ?, “alasan basi !.”

Memang sulit membersihkan negeri ini dari para koruptor, ibarat membersihkan lantai dengan sapu yang kotor, atau ibarat mengoperasi timbunan kanker di tubuh, atau ibarat maling yang teriak maling. Jadi, tipis kelihatannya beda antara korupsi dan hibah, tipis beda antara korupsi dan rejeki, “mendapatkan uang yang haram saja susah, apalagi yang halal….” demikian kata slogan orang yang putus asa.

Sebetulnya, kenapa sih ke Singapura ?, yang pasti karena negara kecil tersebut tidak mau kehilangan rejeki dengan hadirnya koruptor Indonesia di sana. Berapa banyak dana yang mereka bawa dari Indonesia dan simpan di sana ? (bisa jadi Singapura akan bangkrut jika tidak ada uang koruptor dari Indonesia yang diparkir di sana). Singapura juga tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia (ya jelaslah, siapa yang mau membuat perjanjian yang merugikan dirinya). Tapi alasan yang paling mudah adalah karena Singapura dekat dengan Indonesia. Karena dekat maka biayanya murah (bagi rekan-rekannya). Dengan demikian mudah bagi para ‘penjenguk’ untuk bertemu dengannya setiap saat. Tentu bukan pertemuan biasa melainkan membuat rancangan ‘sandiwara’ yang akan dimainkan atau diperankan sepulang ia nanti.

Ingat saja peristiwa “Gayus,” setelah ia pulang dan ‘masuk penjara’ ternyata ia bisa tetap plesiran ke Bali atau ke luar negeri. Itu merupakan bagian dari ‘sandiwara’ yang harus atau bisa dilakonkan sekembalinya ia dari ‘pengasingan.’ Apakah setelah peristiwa itu (ketahuan wartawan) ia ‘kapok’ ke luar dari penjara ?. Belum tentu, skenario baru bisa diciptakan atau dimainkan kembali untuknya. Jika harus sesuai dengan janji perannya semula, maka sang ‘Sutradara’ perlu ‘membersihkan panggung’ terlebih dulu sebelum ia melanjutkan perannya lagi.

Kita tunggu saja, apa peran yang akan dimainkan Nazaruddin sekembalinya dari Singapura. Mengapa ia tidak menetap saja dan menjadi warga negara di sana ?. Sangat kecil kemungkinan itu. Ia sudah terlalu lama tinggal di Indonesia sehingga telah mendarah-daging, baik dalam kehidupan sosial-budaya, mencari nafkah, dan sebagainya. Apa enaknya tinggal di negara ‘asing,’ kan paling enak tinggal di negeri sendiri, apalagi sudah dikenal sebagai orang kaya ?.

Apakah enak makan dari uang korupsi ?. Makan sih sesuai selera, kalau suka ya enak saja. Masalahnya bukan di sana, tapi “jadi apa makanan itu di tubuhnya (orang yang memakan hasil korupsinya) ?.” Dunia kedokteran terhebatpun tidak ada yang pernah tuntas menjawab selain teoritis saja, misalkan konsumsilah “prinsip 4 sehat 5 sempurna” setiap hari agar tubuh menjadi sehat. Berapa banyak orang yang sudah memenuhi anjuran tersebut, tetapi masih sering sakit juga ? atau sebaliknya, berapa banyak yang tidak memenuhi anjuran tersebut, tetapi sehat-sehat saja ?. Ada satu unsur yang mempengaruhi yang sama sekali tidak terkait dengan fisik makanan itu sendiri. Unsur tersebut adalah “berkah” yaitu keridhoan Tuhan yang menyertai makanan yang akan dikonsumsinya.

Berapa banyak orang yang ‘curang’ (termasuk koruptor, pengganjal rejeki orang, dll.) di masa tuanya hidup sengsara (misalkan penyakitan, stroke, dan keinvalidan lainnya), berapa banyak orang yang ‘curang’ anggota keluarganya (yang menjadi tanggung jawab dirinya) menyusahkan dirinya (misalkan sering mengalami musibah, sakit parah, sakit jiwa, ketergantungan narkoba, sering berbuat kriminal, dan lain-lain), berapa banyak orang yang ‘curang’ akan dicurangi lagi oleh orang lain dengan jalan yang tidak diduga-duga (misalkan ditipu, dirampok, diculik, dan sebagainya) ?.

Oleh karena itu, “jangan korupsi !.” Masih untung jika ‘karma’ itu sudah terbayar ketika kita masih hidup di dunia ini (lunas di dunia), yang lebih sengsara, jika di dunia belum diberi ‘karma’ itu, maka tidak akan ada lagi kata penyesalan jika karma itu terjadi di akhirat…

22 May, 2011

PSSI ? I Dont Care !

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:05 pm

“Pak, Bapak kan sering nulis di blog, apalagi kalau kondisi masyarakat sedang ramai, kok PSSI lagi ramai sekarang, Bapak tidak menulisnya ?. sibuk ya ?,” tanya seorang rekan. “Iya Pak, pemilihan calon Ketua Umum PSSI ramai, berantakan, memalukan, amit-amit deh…” kata yang lain menimpali.

Saya sama sekali tidak sedang sibuk, saya hanya mengatakan kepada mereka: “Saya sama sekali tidak tertarik pada PSSI.”

12 May, 2011

DPR Susah ‘Membuang’ Uang ??

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 6:25 pm

Jika benar berita-berita yang dilansir pusat-pusat pemberitaan kita, berarti DPR sekarang lagi kesulitan ‘membuang’ uang. Siapa yang mau menampungnya ?. Seperti berita terakhir bahwa setiap anggota DPR diberi dana pulsa sebesar Rp. 14.000.000,00 (empat-belas-juta rupiah) per bulan !. Edddaaann tenaaann. Bisa tiga sampai empat kali ngajar full sebulan… :p

Tapi ramai-ramai anggota DPR membantahnya, “hanya Rp. 2.000.000,00 (dua-juta rupiah) per bulan !” katanya. Oh, kalau segitu sih wajar-wajar saja, saya saja sebulan bisa habis Rp. 50.000,00 (lima-puluh ribu rupiah), jadi dua-juta rupiah bagi anggota DPR masih wajar, asal digunakan untuk kepentingan keanggotaannya.

Kalau terus-terusan menolak, seperti besarnya biaya ‘plesiran ke luar negeri’, besarnya rencana biaya membangun gedung baru DPR/MPR, biaya pembuatan website DPR yang di atas 1 miliar, dan penolakan-penolakan lain yang terkait dengan pemborosan dana, lantas dapat data dari mana berita itu ?. Ini harus diusut tuntas, jangan-jangan orang-orang di luar anggota DPR yang memanfaatkannya ?!.

Bisakah kita ‘menghemat’ pengeluaran dana untuk DPR ?, misalkan, setiap anggota DPR memiliki Dewan (Staf) Ahli yang harus dibayar mahal, bagaimana kalau yang dipilih menjadi anggota DPR memang benar-benar orang yang ahli sehingga tidak membutuhkan Dewan (Staf) Ahli lagi ?.  Bagaimana seorang anggota DPR diusung oleh masyarakat (bottom-up), bukan melalui kampanye yang menghabiskan dananya sehingga ia harus ‘mengembalikan pengeluarannya’ untuk menjadi anggota dewan ?.

Ah, repot. Yang berkepentingan saja tidak mau mengurus, ngapain ikut mikirin…, yang penting mari selamatkan uang rakyat !.

5 May, 2011

Realitas

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 5:53 am

REALITAS

Ada dua hubungan yang harus dilakukan oleh seorang manusia, yaitu hubungan dengan Sang Pencipta dan hubungan dengan sesama ciptaanNya. Hubungan dengan Sang Pencipta sangat pribadi sifatnya (meski kadang dilakukan secara bersama-sama/ berjamaah), sedangkan hubungan dengan sesama ciptaanNya, bisa pribadi dan bisa berkelompok (organisasi/ perwakilan).

Dalam beragama Islam, setelah nabi Muhammad wafat, kita mengenal adanya beberapa mashab yang pada umumnya mengajarkan agama (khususnya yang berkaitan dengan sunnah/ hadis nabi) yang agak berbeda pendapat. Hal itu wajar-wajar saja karena persepsi manusia bisa beragam, tergantung pengalaman, tingkat pendidikan, daya analisis, dan lain-lain yang berbeda-beda.

Kita kembali ke masyarakat, dulu Kyai AA Gym sangat fenomenal, mulai dari anak-anak sampai orang tua, dari umat Islam sampai non Islam, dan seterusnya. Namun, begitu ia menikahi wanita untuk yang kedua kalinya, kefenomenalan itu langsung runtuh, seakan ia tenggelam. Padahal ilmu agamanya tidak berkurang ketika ia menikah lagi.

Apa artinya ?

Masyarakat (orang) tidak dapat menilai atau melihat “isi hati” orang lain, itu merupakan rahasia orang yang bersangkutan dan Tuhannya. Masyarakat tidak dapat melihat atau mengetahui niat seseorang, baik atau buruk, itu rahasia orang yang bersangkutan dan Tuhannya. Intinya orang tidak mengetahui, bahkan tidak mau tahu sepandai apa seseorang, sekuat apa kemauan seseorang. Yang masyarakat (orang) tahu adalah apa yang telah diperbuatnya !.

Seorang pencuri habis digebug massa karena ia telah melakukan pencurian (tindakan kriminal), massa tidak mau tahu kalau sebetulnya itu dilakukan karena ia (keluarganya) kelaparan yang seharusnya justru kewajiban masyarakatnyalah yang harus menolong.

Masyarakat sekarang kurang sadar hukum karena mereka melihat aparat penegak hukum banyak yang korup (melanggar hukum).

Seorang anak tidak akan menjalankan perintah orang tuanya untuk sholat kalau si orang tua dilihatnya juga tidak pernah sholat.

Kesimpulannya ?

Perkataan dan perilaku seseorang kepada orang lain adalah kunci penilaian seseorang kepada orang lain. Jadi, jangan berharap seorang guru mau digugu dan ditiru (dipercaya dan diikuti) bila perkataan dan perilakuknya tidak disukai murid-muridnya. Jangan berharap ummat akan setia kepada guru (kyai) jika sang guru (kyai), ucapannya dan tindakannya di luar norma-norma yang dianut oleh ummatnya.

Orang tidak tahu (baca: tidak mau tahu) sehebat apa pemikiran seseorang, sehebat apa ia berguru dengan orang lain, sehebat apa pendapatnya, sekuat apa niatnya, dan seterusnya. Yang orang lain tahu hanyalan apa yang diucapkannya dan apa yang telah diperbuatnya. Selama ucapan dan perbuatannya dapat diterima orang lain, maka orang lain itu dapat menilai (meski bisa juga salah) bagaimana moral orang itu.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.