Bambang Wahyudi

27 April, 2011

Merekrut Anggota NII

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:27 pm

PEREKRUTAN ANGGOTA NEGARA ISLAM INDONESIA (NII )

NII adalah sebuah organisasi ‘bawah tanah’ yang tidak memiliki bentuk (seperti siluman). Meski tanpa bentuk, namun NII terus merekrut anggota-anggota baru yang bentuknya jelas, manusia. Meski marak dibincangkan bahwa manusia yang direkrut umumnya dari kalangan cendikia (mahasiswa dan pelajar), namun secara terinci, hampir semua kalangan akan menjadi bidikannya.

Saya pribadi tidak terlalu yakin kalau pimpinan NII adalah orang Islam (dalam arti luas), karena Islam bertujuan baik dan dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. Saya khawatir, karena siluman, ia bisa masuk ke organisasi dengan struktur yang jelas (menyurupi). Yang lebih khawatir lagi, NII telah menyusupi organisasi intelectual crime, yang mampu membelokkan Islam dengan (logikanya) sehingga boleh melakukan cara-cara yang buruk (menghalalkan segala cara) untuk mencapai tujuannya (pasti yang buruk pula).

Di lingkungan rumah saya, ada empat orang yang sempat direkrut (semuanya wanita berjilbab), tiga orang di antaranya mahasiswa, dan satu orang pembantu rumah tangga (PRT). Satu orang (mahasiswa) masih hilang, satu orang (mahasiswa) sudah meninggal (karena penyakit ginjal), satu orang (mahasiswa) sudah hidup normal kembali, dan satu orang PRT kabur dari kantor polisi.

Ciri-ciri ketiganya (mahasiswa) sangat mirip ketika awal-awal direkrut, yaitu: berkali-kali kehilangan handphone (HP) dan minta belikan lagi ke orang tua, dan salah satunya pernah kehilangan sepeda motor sebanyak dua kali, dan terus digantikan oleh orang tuanya. Kesamaan lainnya adalah, menjadi penyendiri, pendiam, namun hampir setiap malam berhubungan melalui HP dengan seseorang yang tidak boleh diketahui identitasnya oleh orang tua atau anggota keluarga lainnya. Lambat laun, mereka sering pulang larut malam, atau sampai menginap ke rumah orang lain yang tidak boleh diketahui siapapun, hingga akhirnya menghilang sama sekali. Satu mahasiswa yang berhasil kembali ke kehidupan normalnya adalah karena ketegasan ayahnya. Suatu ketika (sang ayah sudah mulai geram), anaknya yang sering pulang larut malam, di’sidang’ di malam itu juga. Karena ketika ditanya identitas temannya (tempat menginap dan selalu menelponnya di malam hari) selalu tidak dijawab, tega tidak tega sang ayah menggamparnya dengan keras hingga ia jatuh terduduk, kemudian dirampas HPnya dan dibanting hingga hancur berantakan. Tentu saja melihat itu, si ibu ikut menangis keras dan melerai perilaku kasar sang ayah. Anak itu tidak diperkenankan keluar rumah selama satu minggu. Alhasil, singkatnya, anak itu kembali sadar dan memulai kembali kehidupannya seperti sebelum direkrut (dibai’at).

Adapun kisah anak yang meninggal, sudah sempat meninggalkan rumah lama, namun keluarganya dapat menemukannya di suatu tempat dan dipaksanya untuk pulang. Meski berhasil pulang, namun perilakunya sudah jauh berbeda (maaf, seperti orang gila). Tak lama kemudian, ia mulai sering sakit perut, pingsan, dan seterusnya hingga harus melakukan cuci darah setiap minggu sekali.

Sedangkan anak yang sampai sekarang belum pulang (sudah sekitar 2 tahun), ia tadinya kuliah di PTN di Bogor. Karena jauh, ia kos di dekat kampusnya. Awalnya, setiap hari minggu ia pulang, namun lambat laun makin jarang. Ketika sulit dihubungi, selalu ia bilang HPnya hilang, dan selalu dibelikan lagi. Lama-lama karena perilakunya berbeda dari biasanya, orang tuanya pun curiga dan mulai menginterogasinya. Alhasil, ia justru meninggalkan orang tuanya dan berhenti kuliah. Saat ini tidak diketahui rimbanya.

 

 

 

 

Pembantu Rumah Tangga

Yang justru saya sangat terkesan adalah seorang wanita yang bekerja sebagai PRT persis di depan rumah saya. Keluarga itu memang sulit berbaur dengan warga, entah karena rumahnya yang paling mentereng dibanding yang lain, entah minder, entah kuper yang jelas keluarga itu seakan menutup diri dengan lingkungannya meski warga lain sering mencoba ‘menariknya.’ Saya cerita mulai dari apa yang saya lihat, dan perlahan akan diceritakan hal-hal yang terkait dengan itu.

Ketika pulang kerja, saya melihat garasi (dengan pagar besi tinggi) di depan rumah saya penuh terisi barang. Ada lemari, ada tempat tidur, ada meja, bantal, dan sebagainya. “Wah, orang kaya habis belanja” pikir saya. Tak lama setelah itu, istri saya bercerita bahwa tadi siang barang-barang itu akan diangkut ke dalam truk. “Kok nggak jadi ?” tanya saya. Istri saya bilang “Pak Edmon yang menyelamatkannya !.”

Pak Edmon adalah tetangga di sebelah kanan rumah itu. Ia sudah lama tidak bekerja (pensiunan perusahaan swasta) karena penyakit diabetes yang telah membuatnya glukoma sehingga kedua matanya tidak dapat lagi melihat. “Kok bisa ?” tanya saya lagi.

“Pak Edmon keluar (mungkin masih hafal jalannya), dan menunjuk-nunjuk kuli serta supir truk sambil berteriak “turunkan lagi barang-barang itu !, kalau tidak, saya datangkan polisi ke sini !”” jawab istri saya. Pak Edmon adalah keturunan Batak dan biasa kerja di lapangan (mandor bangunan di perumahan), meski perawakannya kecil dan berkulit gelap, namun suaranya masih keras dan tegas.

“Pak, demi Allah, ini perintah majikan saya, ia mau pindah rumah…” kata sang PRT. Pak Edmon tetap bersikeras, “pokoknya dia harus ijin ke tetangganya dulu sebelum pindah !!.” Akhirnya truk itu berlalu kembali, dan mungkin ada urusan dengan si PRT, PRTpun ijin ke ‘depan’ sebentar bersama sang supir truk. Melihat gelagat seperti ini, istri saya mengambil gembok di rumah dan dikunci rumah itu dengan gembok rumah, dipikir si PRT pasti kabur.

Ternyata salah, si PRT itu ternyata kembali, namun tentu tidak bisa masuk kembali ke dalam rumahnya. Mengetahui ini, diam-diam tetangga lain menghubungi keamanan perunahan (anggota polisi), dan dibawalah PRT itu ‘dititipkan’ di Polsek Sukmajaya, Depok. Ketika maghrib tiba, sudah banyak warga yang kembali dari aktivitasnya dan berkerumun. Ternyata, tidak satupun dari kami yang bisa menghubungi si pemilik rumah karena satu-satunya nomor HPnya (yang ada pada kami) tidak bisa nyambung.

Akhirnya Pengurus RT dan beberapa warga, termasuk kaum ibu datang menjenguk PRT tersebut di kantor polisi, menanyai dan ‘menginterogasinya.’ PRT itu berumur sekitar 40an tahun, sangat sopan, sangat santun, dan seperti ‘berakhlak baik,’ karena menjalankan sholat dan membaca Alquran. Ada yang terkecoh menjadi tak percaya kalau ia mau berbuat jahat, termasuk istri dari pak RT. Saking tidak teganya, ia memberikan uang untuk makan sehari-hari di sana.

Dari PRT itulah warga tahu bahwa si pemilik rumah baru akan kembali dua hari lagi, dan sudah pergi satu hari lalu (berarti ia ke kampung selama 4 hari). Tidak ada yang kami kerjakan selain hanya mengawasi rumah itu dan menjenguk sang PRT (ada yang membawakan makanan). Tiba pada hari H si tuan rumah kembali dari kampung. Sekitar pukul 20.00 ia tiba dengan ciri khasnya, membunyikan klakson berkali-kali hingga si PRT membukakan pintu pagarnya.

Saya menghampirinya, dan iapun membuka kaca mobilnya. “Malam pak, apakah Bapak menyuruh pembantu Bapak untuk mengangkut barang-barang Bapak ?” tanya saya. “Enggak, mau ngangkut ke mana ?” tanya si tuan itu sambil terheran-heran. “Kalau begitu, silakan Bapak parkir mobilnya, dan turun dulu karena garasi rumah Bapak banyak barang”

“Ada apa ini ?” tanya si tuan begitu melongok ke dalam pagarnya, “kok barang-barang saya dikeluarkan seperti ini ?” tanyanya heran. Istri saya membukakan gembok rumah dan ditemani warga lain, ia masuk ke dalam pagar dan rumahnya. Saya kembali pulang karena tidak sadar saya kasih mengenakan kaos kutang dan celana pendek saja. Tapi saya tidak kembali lagi karena pasti sudah banyak warga yang menginformasikannya.

Warga meminta si tuan itu mengucapkan terima kasih kepada pak Edmon, karena atas keberaniannyalah semua barangnya diselamatkan. Bukannya segera melaksanakan permintaan warga, malah yang paling mengesalkan mendengar istrinya bersuara keras “emas-emasku ?!, HP-HPku ? …, hilang ya ?!.” Tak lama setelah itu, si tuan dan beberapa warga mendatangi kantor polisi untuk menemui sang PRT, tapi apa yang terjadi ?, si PRT telah kabur !.” Ternyata polisi di sana juga terkecoh dengan ‘perilaku baiknya,’ mereka mengijinkan sang PRT membeli pembalut wanita ke warung sebelah, dan tentu saja, tidak kembali.

Akhirnya, si tuan tadi mengambil beberapa tukang becak untuk mengembalikan barang-barangnya ke tempat semula. Ternyata, semua barang sudah hampir ludes, temasuk gorden, keset, dan sebagainya. Ternyata pula, istri si tuan tadi mengambil PRT itu beberapa hari lalu (bertemu di jalan menuju sekolah anaknya), karena berperilaku sopan dan mengaku dari daerah yang sama (di kampungnya), maka ia pekerjakan di rumahnya. Barang-barang yang berhasil diambil adalah barang-barang yang kecil-kecil bentuknya, seperti berbagai perhiasan dan beberapa HP. Itu pasti dilakukan satu hari sebelum peristiwa itu terjadi karena istri saya sering melihat PRT itu keluar-masuk dari depan komplek, mungkin barang-barang curian itu diserahkan ke kenalannya yang menggunya di depan karena ketika digeledah polisi pada hari kedua, tidak ditemukan barang-barang berharga yang disembunyikannya.

Cerita ini bisa merupakan cerita kriminal belaka, namun, kehebatan akting dan ketenangan si pelaku dalam berperilaku dan berkata-kata, mengaitkan orang dengan organisasi yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, yaitu NII.

 

 

1 Comment »

  1. sasaran NII adalah orang-orang yang kosong jiwanya. yaitu orang yang sedang mencari jatidirinya…., jika dari kecil telah ditanamkam doktrin yang kuat dan benar, maka doktrin NII pastilah mentah, yang non ilmiah tidak mampu menantang. sayang …., doktrin yang benar belum muncul di permukaan, yang memberi peluang model kriminal yang berbuat demikian.

    Jwb.: Sepertinya peran orang-tua sangat penting di sini, untuk memberikan ‘doktrin’ yang benar kepada anak-anaknya sejak usia dini…

    Comment by rakhma — 28 April, 2011 @ 8:35 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.