Bambang Wahyudi

30 January, 2011

Semester Baru Lagi …!

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:44 pm

PERLUNYA PERTEMUAN PERTAMA

Dosen, bukan hanya berfungsi sebagai pengajar materi mata kuliah saja, lebih dari itu, fungsi dosen yang tidak kalah penting artinya adalah membuka wawasan mahasiswa, khususnya wawasan mengenai seluk-beluk dan keterkaitan materi mata kuliah yang akan diajarkan dengan materi kuliah lain, dengan bidang-bidang kehidupan, dengan pekerjaan, dan lain-lain.

Itulah pentingnya seorang dosen masuk di kuliah pertama atau di awal-awal kuliah. Selain memperkenalkan diri, dosen juga harus memberi kesan yang baik. Di sanalah persepsi mahasiswa akan muncul mengenai diri si dosen. Apakah dosen itu akan dianggap pemalas (karena tidak masuk di awal-awal kuliah), atau dianggap prokem (karena banyak berisi ancaman-ancaman, khususnya ancaman akan memberi nilai buruk), atau dianggap killer (karena tidak akan memberi nilai A, atau B), atau kesan baik, dan sebagainya.

Persepsi

Mudahnya, persepsi dikatakan sebagai pendapat (pandangan) diri. Jadi, seseorang bisa menyatakan pendapatnya sendiri tentang seorang dosen. Pendapat antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya tentang seorang dosennya, bisa saja berbeda-beda, itu sah-sah saja karena persepsi bersifat individual.

Begitu juga ketika seorang dosen mengajar, penerimaan mahasiswa bisa bermacam-macam, karena daya terima dari mahasiswa sedikit banyak dipengaruhi oleh persepsinya. Dalam banyak teori, persepsi didefinisikan sebagai sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri. Jadi, persepsi dipengaruhi oleh panca indera, dan pengalaman seseorang atau pengalaman orang lain yang dijadikan pandangan hidupnya.

Jadi, bila seorang dosen banyak senyum ketika mengajar, jangan lantas ia berpendapat kalau seluruh mahasiswa akan memiliki kesan bahwa dirinya adalah orang yang ramah. Bisa jadi ada yang menilainya sebagai ’suka mencari perhatian orang,’ ’sok alim,’ dan sebagainya. Tapi, sebagai dosen, tak perlulah memusingkan macam-macam persepsi mereka, cukuplah berpenampilan dan berperilaku wajar dan ikhlas. Biarkan mereka berkata (berpersepsi) apa.

Satu hal yang penting tentang persepsi adalah bahwa apa (sub-sub materi) yang telah kita sampaikan bisa berbeda-beda sampainya ke ’otak’ mahasiswa. Tentu, agar bisa relatif sama, kita harus menyampaikan hal itu berulang-ulang, memberi banyak contoh, memberi kesempatan bertanya, dan memberikan latihan.

Macam-macam Persepsi

Karena persepsi berhubungan dengan panca indera, maka macam-macam persepsi adalah: (1) persepsi visual, (2) persepsi auditori, (3) persepsi perabaan, (4) persepsi penciuman, dan (5) persepsi pengecapan. Dosen tinggal memilah-milah, mana yang berhubungan dengan materi kuliah yang akan diajarkan, apakah berhubungan dengan indera penciuman, pengecapan, dan lain-lain.

Di UG, minimal, setidaknya kita akan berhubungan dengan persepsi visual dan auditori mahasiswa. Karenanya, ketika kita membuat tayangan, atau tulisan, dan sebagainya yang dibaca oleh mahasiswa, hendaknya diperhatikan atau diperiksa berulang-ulang, apakah tayangan atau tulisan itu bisa memiliki pengertian ganda, apakah sudah cukup jelas terlihat, dan sebagainya. Juga ketika kita menyampaikan (mengucapkan) kalimat, apakah kalimat yang kita ucapkan cukup jelas, apakah pemilihan kata sudah tepat, apakah kata yang diucapkan bisa dimengerti seluruh mahasiswa (misalkan terselip bahasa daerah), karena kata ”cokot” orang Sunda akan berbeda artinya dengan ”cokot” orang Jawa. Sehingga jika ada tikus mati di got, maka orang Sunda akan biasa mendengar kalimat campuran Indonesia ”Ujang, cokot tikus itu !,” tapi jangan coba-coba ngomong ke orang Jawa ”Dimas, cokot tikus itu !”, karena ”cokot” di Sunda berarti ”ambil” dan ”cokot” orang Jawa berarti ”gigit.”

Kesimpulan

Jadi, arti pertemuan pertama (awal-awal masa perkulaiah) sangat penting. Isi di sana filosofi atau pondasi mata kuliah itu, misalkan dengan menjabarkan kata-kata di nama mata kuliah, sehingga mereka (mahasiswa) akan tahu ”mau dibawa ke mana.” jika mereka sudah tahu mau dibawa ke mana, maka mereka bisa ’lari’ sendiri tanpa dituntun lagi. Bisa juga ’cerita’ apa sebab kakak-kakak kelas mereka ada yang tidak lulus mata kuliah ini, atau apa kaitannya mata kuliah ini nanti di semester berikutnya, dan sebagainya.

Ketika kita harus ’memerintah’ mereka untuk membuat tugas, pastikan bahwa tugas itu untuk mengasah pengetahuan mereka, untuk meningkatkan kemampuan mereka, dan sebagainya, bukan untuk ’menghukum’ mereka atau hanya sekadar untuk ’kompromi’ nilai mereka.

Semoga bermanfaat.

29 January, 2011

Ketua Partai PDIP dan Golkar Kebakaran Jenggot

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:32 pm

19 TOKOH POLITIK DITAHAN KPK


Sebanyak 19 tokoh politik, khususnya dari Fraksi PDIP, Golkar, dan PPP periode 2003-2008 ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap dalam pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia, Miranda Gultom, Jumat 28 Januari 2011.

Tentu saja, para Ketua Partai yang anak buah (terbaik)nya ditangkap melakukan pembelaan diri. Umumnya mereka mengatakan ”Kalau penyuapnya belum ditangkap, mengapa penerimanya yang ditangkap duluan ?”.

Saya agak tergelitik dengan pernyataan mereka. Secara logika, semua yang bersalah harus dihukum, siapapun itu, dan siapapun yang mendapat kesempatan lebih dulu. Sebagai contoh, ada dua orang polisi yang berjaga di pos, mereka melihat sepuluh sepeda motor melanggar peraturan lalu lintas, dan pastilah mereka tidak akan sanggup untuk menangkap kesepuluh pelanggar itu sekaligus. Apakah polisi itu harus melepaskan (membiarkan) mereka semua karena tidak sanggup menangani seluruh pelanggar itu ?, atau harus menangkap semampu mereka ?.

Hal itu sama saja akan dilakukan pada saat polisi menangani kerusuhan, tindakan anarkis massa, dan semacamnya. Pasti polisi akan menangkap orang-orang yang mampu mereka tangkap, khususnya biang-biang keladinya. Selanjutnya, mereka (polisi) akan memproses, dan apabila mungkin, akan menangkap kembali mereka yang terlibat Alangkah naifnya bila mereka melepaskan seluruh pelanggar hukum karena tidak sanggup menangkap seluruhnya sekaligus.

Kalau saya jadi pimpinan partai, maka saya tidak akan membela anggota saya yang bersalah, malah saya bantu KPK dengan memecatnya dan tidak memberi bantuan apapun, termasuk bantuan hukum. Biar negara ini tetap berlandaskan hukum, dan bebas korupsi. Malah saya akan datang ke KPK dan memberi pernyataan yang bernada tanya ”KPK kenapa baru sekarang menangkap anak buah saya, seharusnya kan dari dulu …”

Saya tidak akan mengait-ngaitkan dengan, katanya karena mereka sedang menyerang Partai Berkuasa (dengan membuka kasus Century Gate atau Gayus Gate) sehingga mereka dipaksa ditahan atau kasus-kasus apapun. Toh kalau mereka mau membersihkan negara ini dari korupsi, tidak akan mungkin terlaksana, wong mereka koruptor juga.

25 January, 2011

Nonton Justin Bieber Yuuk…

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:44 am

Gaya Anak-anak Muda ‘the have’ Kita

Konser Justin Bieber, penyanyi remaja dari Amrik pada 23 April 2011 yang akan datang di Sentul International Convention Center relatif masih lama, tapi tiket sudah dijual mulai Sabtu (22/1/2011) di pelataran parkir EX Plaza, Jakarta Pusat. Harga tiket untuk kategori Festival dijual Rp 1 juta, Tribun I Rp 750 ribu, Tribun II Rp 500 ribu, semuanya laris manis melebihi larisnya penjualan gorengan di pinggir jalan. Pembelinya, mayoritas anak-anak remaja pula !.

Saya bukannya iri pada mereka, tetapi batin saya miris. Meski saya bukan ”orang ekonomi” tetapi saya dapat merasakan pedihnya dana kita yang mengalir ke luar negeri. Berapa dana kita yang sudah tersedot dalam belanja otomotif, berapa yang tersedot dalam teknologi informasi, berapa dana kita yang sudah mengalir ke luar negeri untuk belanja bahan bakar dan energi, dan seterusnya dan seterusnya, mengapa kini dana kita kembali harus terbang ke luar negeri hanya untuk menyaksikan sebuah tontonan singkat belaka.

Memang, negeri ini menjadi pangsa pasar yang ruaaarrr biasa !, apa saja barang yang dijual ke sini cepat ludes, bahkan mobil terbaru yang belum dipasarkan sudah dipesan oleh orang-orang kaya bangsa ini. Kalau mereka kaya dan banyak menghasilkan devisa bagi bangsa, bagi saya oke-oke saja, tapi yang ada malah menghambur-hamburkan devisa kita yang kabur ke luar negeri.

Di Singapura saja, jumlah mobil sudah dipatok, tidak boleh lebih, sehingga sulit bagi produsen memasarkan mobil ke sana. Tapi mereka tidak kuatir sama sekali karena tinggal membelokkan sedikit ke Indonesia, dagangan mereka laku keras, meski jalan raya pertambahannya sangat-sangat lambat dibandingkan jumlah pertambahan kendaraan bermotor. Pantaslah jika kemacetan menjadi budaya berkendara, ditambah sumpah serapah di jalanan.

Memang miris, di lain sisi sudah banyak rakyat yang sudah tidak bisa membeli beras, di sisi lain banyak yang menghambur-hamburkan uang demi gengsi belaka. Di sisi lain banyak rakyat yang bekerja keras ’membanting tulang’ untuk bisa sekadar membeli pakaian bekas, di sisi lain banyak rakyat yang belanja ke luar negeri, dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun, ”itulah hidup yang selalu memiliki dua sisi yang berbeda” kata seseorang, kalau semuanya kaya atau semuanya miskin ya tidak bakalan ada kehidupan. Para remaja mengeluarkan uang 1 juta untuk menonton Justin Bieber tentu tidak masalah, karena mereka anak-anak orang kaya. Kalau mereka tidak membelanjakan uangnya, nanti uang mereka tidak habis-habis. ”Buat amal dong, bantu orang-orang miskin !” kata yang lain lagi, ah, tentu masalah kesadaran beramal atau beragama tidak bisa dipaksakan, orang tua dan lingkungannyalah yang membentuknya untuk mengedepankan pemenuhan nafsu duniawiahnya atau akhiratnya.

Jadi ?, tentu kita hanya mampu mengajak, memberi contoh, dan menasihati orang-orang di sekeliling kita dan yang mau, untuk hidup bersahaja, produktif, dan membantu sesama yang kekurangan. Di luar itu, kita tidak akan mampu melaksanakannya. Pemerintahlah (eksekutif, yudikatif, dan legislatif) yang memegang kartu truf untuk membawa bangsa ini ke arah mana akan ’berlayar’. Mereka bisa membuat aturan, menegakkan hukum (aturan itu), dan memenjarakan orang-orang yang melanggar aturan itu. Tentu kalau nawaitunya (niatnya) dalam membuat aturan dilandasi dengan maksud-maksud ’busuk’ misalkan agar kelompoknya bisa kaya (meski dengan jalan korupsi) karena aturan itu, bisa bebas dari jeratan hukum, dan semacamnya, maka produk aturan yang ditetapkannya itu bisa kontra produktif. Produsen akan sulit mengekspor produknya karena margin keuntungannya habis untuk membiayai administratif (termasuk pungli-pungli), petani dan nelayan (produktif), akan terus hidup dalam kemiskinan.

Jadi, mari kita ’hibur’ diri kita dengan melihat remaja-remaja kita yang keluar-masuk Mc Donald, KFC, Hoka-hoka Bento, Hard Rock Cafe, dan semacamnya, dan ’hibur’ juga diri kita untuk menyaksikan para sindang (orang-orang yang memanggul cangkul) untuk mendapatkan order, para kuli yang melahap nasi + tempe di warteg-warteg, para petani gurem yang menyantap tiwul, gaplek, dan semacamnya setiap hari. Lalu memposisikan diri, di mana kita berada saat ini (pada kelompok mana), Pilihan memang ada pada kita sendiri karena hidup di dunia ini dan diakherat nanti, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya.

21 January, 2011

Gayus Bermain ‘Cantik’

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:09 am

GAYUS BERMAIN ‘CANTIK’

Kalau dipikir-pikir, siapa sih Gayus ?, ‘sekelas’ apa sih dia. Tapi dia begitu hebat mengobrak-abrik para ‘petinggi’ bangsa ini, mereka dibuat ‘kebakaran jenggot.’ Mungkin kalau sebelumnya ada anekdot ‘cicak lawan buaya,’ maka episode kali ini adalah ‘teri lawan paus.’ Bahkan ia berjanji kalau dirinya diangkat menjadi staf ahli Kapolri, staf ahli KPK atau staf ahli Kejaksaan, ia akan membabat habis biang-biang koruptor di negara ini hanya dalam waktu dua tahun.

Kalau saya jadi salah satu kepala yang disebutkannya itu, pasti ia saya angkat (tentu setelah ia menjalani proses hukumannya), dan kalau gagal, maka kepalanya akan saya penggal karena hanya bisa omong kosong. Tapi dengan pernyataan ‘cantik’nya itu, masyarakat bisa menilai (kalau Gayus tidak diangkat), maka memang tidak niat dari petinggi-petinggi negara dalam hal pemberantasan korupsi di negeri ini.

Gayus bak Superstar, yang bisa memberi ‘konferensi pers’ setelah selesai menjalani persidangan. Dengan ‘teks’ yang telah dipersiapkan (entah oleh siapa), dan lagi-lagi memberi pernyataan ‘cantik’nya yang menyeret nama-nama pejabat yang disinyalir memiliki andil menskenariokan jalannya Gayus. Bahkan ada yang sudah dikorbankan demi dirinya, seperti Antasari Azhar, dan nanti akan ada yang lainnya. Gayus merasa sebagai ikan teri tunggal yang sedang diperebutkan kakap dan paus yang banyak.

Pak Prof. Wayan benar, bahwa Gayus sangat nasionalis (100% Indonesia), dan gagah berani, tidak seperti Edy Tansil dan kawan-kawan yang menghilang entah kemana. Ia kembali ke tanah air untuk ‘dipenjara’ (sebetulnya, siapa sih yang mau ?), pasti ada deal-deal tertentu dengan pihak-pihak tertentu juga. Buktinya, meski di penjara ia bisa berlibur ke Bali, Singapura, Macau, Hongkong, dan sebagainya. Dengan ‘ulah’ Gayus, tentu kita bisa mengambil pelajaran, orang ‘biasa-biasa’ saja seperti Gayus bisa nikmat di penjara, apalagi orang-orang khusus ?, orang ‘biasa-biasa’ (kelas teri) saja seperti Gayus bisa korupsi miliaran rupiah, gimana yang kelas kakap dan paus ?

Orang bilang vonis 7 tahun bagi seorang Gayus terlalu ringan dan mengusik rasa keadilan masyarakat, saya bilang, itu terlalu lama. Ia seharusnya divonis kurang dari itu tetapi semua hasil korupsinya dikembalikan ke negara, dan angkat dia menjadi staf khusu KPK, Polri, atau Kejaksaan yang nyata-nyata tidak banyak berperan dalam pemberantasan korupsi di negeri ini.

16 January, 2011

Usaha Kerajinan Rumahan: SerbaBatik

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:49 pm

pot-bunga-lapis-batik SerbaBatik. Sebuah galeri seni yang beralamat di Pondok Sukmajaya Permai, Blok D1 No. 9, RT. 009/03, Sukmajaya, Depok di bawah pimpinan Bapak Suyono (Yono) membuat aneka barang yang dilapisi kain batik. Barang yang dilapisi berupa pot bunga (seperti foto di atas), helm, bodi sepeda motor, alat-alat kantor (interior), furniture, dan sebagainya.

Motif serta bahan batik bisa dipilih sendiri sehingga dapat sesuai dengan selera konsumen. Kain batik ditempel secara permanen di barang tersebut dan dibuat mengkilap dan tahan air. Dapat juga dilapisi fosfor pada motif-motif tertentunya sehingga akan memantulkan cahaya bila kena sinar lampu di malam hari.

Bagi peminat (konsumen maupun partner usaha), silakan hubungi pak Yono (087-888-350-374) atau di 021-270-59-702

6 January, 2011

Penghargaan Buat Gayus Tambunan

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:07 pm

PENGHARGAAN BUAT GAYUS TAMBUNAN

Kalau dilihat bentuk tubuh, bahasa tubuh, dan gayanya, Gayus Tambunan (selanjutnya disebut Gayus), sepertinya orang yang suka becanda, kelakar, dan sedikit ‘bloon.’ Tapi entah yang sebenarnya. Yang jelas, bagi saya, Gayus adalah sosok ‘pahlawan,’ bukan orang jahat seperti kata banyak orang. Saya memang orang yang suka berpikir terbalik dari cara berpikir orang kebanyakan, jelas banyak orang yang kontra dengan pendapat saya ini, tapi tak apa-apa, inilah bentuk keragaman yang diciptakanNya.

Mengapa saya sebut dia ’pahlawan’ ?. Gayus sudah membuka mata hati saya dan banyak orang tentang sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama ini hanya menjadi rahasia umum yang bisa ditutup-tutupi, yaitu ’nikmatnya hidup di penjara.’ Penjara ternyata tidak seseram yang kita bayangkan (dengan catatan ’bagi yang memiliki uang banyak’). Juga membuka mata hati kita bahwa ”petugas pajak kelas rendah saja bisa mengantongi uang miliaran rupiah.” Kita bisa menduga (dengan hitungan sederhana), ”gimana yang kelas kakap ya ?.”

Bayangkan, di penjara saja, seorang Gayus bisa plesiran ke Bali, Singapura, Malaysia, dan Macau, weleh weleh weleh. Berapa pintu yang harus ia lewati untuk melaksanakan itu ?. Mulai dari pintu sel, pintu ruang tahanan, pintu gerbang lapas, pintu imigrasi, pintu bandara, pintu pesawat terbang, dan seterusnya. Semua bisa lolos, tentu dan pasti dengan menyediakan uang sebagai kunci pembuka pintunya. Itu baru seorang Gayus, jadi gimana para pejabat lain sebelum Gayus ?, pasti lebih hebat dan lebih keren dari sekadar Gayus atau Artalita. Bisa jadi disediakan helikopter yang siap membawanya ke manapun. Yang salah bukan Gayus, Artalita, atau Pejabat yang dipenjara bila bisa ”hidup enak meski di penjara.” Yang salah adalah orang yang melanggar hukum dan norma yang memperlakukan tahanan ’senikmat’ itu.

”Mana mungkin seorang Sipir atau Kepala Penjara berani tidak mengikuti kemauan pejabat atau orang kaya yang sedang dipenjara ?, mereka (pejabat dan orang kaya) kan punya anak buah yang banyak ?.” Ya kalau tidak berani, jangan terima pekerjaan itu. Keluar saja, cari pekerjaan lain.’ Setiap pekerjaan memang ada risikonya, dan untuk saat ini banyak kok yang berani backing-in orang-orang benar. Bisa media massa, bisa aparat yang jujur, bisa kalangan DPR, bisa lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hukum dan perlindungan saksi, dan rakyat.

Jadi, kini ada dua orang pesakitan yang patut diberi penghargaan, yaitu Gayus Tambunan, dan Susno Duadji. Gimana dengan Antasari Azhar ?, tunggu waktunya.

Indonesiana ….

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:21 am

Di salah satu daerah di Indonesia, saat ini terjadi penurunan jumlah populasi kuda. Hal itu dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah setempat sehingga peternakan kuda terus berkurang, khususnya karena bibit kuda betina sangat kurang. Sebagai akibatnya, jumlah dokar atau delman di daerah itu terus menyusut. Tentunya, dapat berakibat pula pada menganggurnya joki-joki kuda di daerah itu.

Mungkin saja di Bojonegoro, kejadian serupa dialami. Namun, para joki di sana tidak kehilangan akal untuk tetap dapat mencari nafkah. Salah satunya menjadi joki narapidana yang bekerja untuk menggantikan seorang narapidana di penjara sementara narapidana aslinya bebas berkeliaran di luar penjara.. Seperti halnya joki three in one yang sudah lama menjamur di Jakarta, atau joki peserta UMPTN, profesi joki kini telah merambah di berbagai sendi kehidupan, sampai-sampai ada joki pada ujian masuk calon pegawai negeri.

Indonesia memang hebat ! dan akan terus menjadi negara hebat yang akan dikenal dunia sebagai negara hebat yang baru. Setelah lagu Wali, “Cari Jodoh” yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan dinyanyikan pula oleh orang asing yang lagunya mendunia, kini giliran pesaing Houdini dan David Coperfield sebagai pesulap ngetop telah mendapat pesaing baru dari Indonesia. Bukan hanya sekelas Demian, Deddy Corbuzier, atau Limbad saja, jauh dari itu, yaitu Gayus Tambunan.

Kalau Houdini bisa meloloskan diri dari penjara namun ia keluar tidak bisa jauh dari situ, Gayus Tambunan bisa keluar penjara dan pergi jauh dari situ, ke Bali bahkan ke Singapura yang jaraknya beratus-ratus kilometer. Satu prestasi yang sulit ditandingi pesulap-pesulap kelas dunia lainnya. Ia bisa mengelabuhi mata orang-orang di sekelilingnya, ia bisa mengelabuhi para pejabat imigrasi, dan banyak mata-mata lain.

Di lain hal, sepertinya Indonesia memerlukan satu lembaga khusus yaitu “Lembaga Penagih Janji.” Hal itu sangat penting dan sangat mendesak diadakan karena banyak pejabat baru, atau calon pejabat yang mengumbar janji-janji manis jika ia akan atau dipromosikan menduduki jabatan tertentu, misalkan saja jabatan sebagai Kapolri, jabatan sebagai Ketua KPK, jabatan sebagai Gubernur, sebagai anggota DPR, dan sebagainya. Nyatanya, banyak dari mereka yang tidak menepati janji atau ingkar janji setelah mereka menduduki jabatan-jabatan tersebut.

Sebetulnya banyak pihak yang telah melaksanakan itu sebelumnya, taruhlah, mahasiswa yang mendesak calon pejabat meneken “Janji Politik” atau “Kontrak Politik” ketika pemilu atau pada kesempatan-kesempatan lain. Hasilnya ?, mereka tidak dapat menagih janji-janji itu sampai pejabat itu selesai menduduki jabatannya.

Satu hal yang rakyat bisa lupa dengan janji-janji para pejabat adalah dengan adanya suguhan hiburan yang begitu sarat. Mungkin jumlah stasiun televisi di Indonesia masuk ke ranking pertama di dunia yang di dalamnya sarat dengan hiburan, seperti musik, lomba-lomba bakat, kuis, lawak, film, sinetron, olah raga, dan banyak lagi. Belum lagi hiburan yang sifatnya live, seperti musik gratis yang bisa muncul di mana saja dari pagi sampai malam hari.

Kalau lagi iseng, nonton kereta api juga bisa jadi alat hiburan. Nongkrong pagi-pagi atau sore hari di stasiun atau di dekat stasiun (biar gratis), kita bisa menyaksikan berbagai mimik wajah para penumpang kereta yang berdesakan di dalam hingga di atap-atap gerbong. Atau, kita bisa saja santai di tepi jembatan layang sambil menyaksikan jubelan mobil yang menyemut antri melaju meter demi meter di jalan raya yang di sela-selanya banyak pedagang asongan, penyeberang jalan, pengemis, pengumpul dana, pengamen, bahkan mungkin penjahat yang sedang berkeliaran. Malah tak tampak seorang pengatur lalu lintas resmi, melainkan banyak polisi gadungan alias pak Ogah di tiap-tiap putaran arah.

Dengan sifat khas ‘supir-supir’ Indonesia yang tidak sabar, egois, dan tidak peduli dengan peraturan lalu lintas, kita bisa menikmati caci-maki, suara klakson, lampu-lampu dim, antrean yang semrawut, dan sejenisnya di jalan raya. Keadaan itu pernah dipertanyakan orang asing ketika sopirnya minta ijin untuk memperpanjang SIMnya esok hari, ia bertanya: “Memang di sini masih perlu SIM ??”

4 January, 2011

Apa Hubungan Kuliah dan Kerja ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:51 pm

Manfaat KULIAH untuk dunia KERJA

Setiap bertemu alumni, saya sering sekali mendengar bahwa “ilmu yang diajarkan di bangku kuliah sama sekali tidak terpakai di dunia kerja (di tempatnya bekerja).” Ternyata, bukan hanya saya dengar dari alumni UG, tetapi dari alumni manapun. Apa yang salah ?.

Saya kembali mengingat mata kuliah yang saya ajarkan, ”Struktur Data.” Memang sejak awal saya katakan bahwa ilmu yang saya ajarkan tidak akan terpakai di dunia kerja, melainkan hanya dipakai di dunia science (pengembangan ilmu pengetahuan). Misalkan jika lulusan mau mengembangkan atau membuat sistem operasi, atau membuat software baru, dan sejenisnya, bukan di dunia bisnis. Contoh sederhana saja, ”ngapain belajar teknik-teknik sorting segala, toh sekarang hanya ditulis perintah sort saja, urusan mengurut data sudah selesai.” Nah, mempelajari teknik-teknik sorting adalah membuat algoritma bagaimana sorting bisa dilakukan dengan cepat dan dengan penggunaan memori yang sedikit mungkin. Algoritma (program) tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam memori sebagai function yang dapat dijalankan cukup dengan menulis perintah sort saja.

Tapi, apakah seluruh mata kuliah seperti itu sehingga tidak terpakai di dunia kerja ?. Bagaimana dengan mata kuliah ”Sistem Basis Data” misalnya. Ternyata, banyak perusahaan besar yang sudah menggunakan program jadi yang sudah dibelinya dari vendor. Pegawai hanya tinggal menjalankan sesuai prosedur kerjanya. Lagi-lagi, tidak ada relevansinya belajar di bangku kuliah dengan dunia kerja mereka.

Memang sebagian besar apa yang diajarkan di bagku kuliah hanya dapat dikatakan sebagai ”ah, teori !.” Para pengusaha tidak sempat melakukan perhitungan atau forcasting tentang peluang yang ada di hadapannya, mereka justru mengandalkan feeling atau nalurinya yang dilandasi dengan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang diyakininya. Mereka juga tidak bersusah payah menghitung riset operasional untuk pemecahan problem tertentu. Seorang jenderal perang di lapangan juga lebih percaya pada alat-alat perang yang digunakan beserta petunjuk pengoperasiannya ketimbang harus melakukan perhitungan secara matematis untuk membidik sasaran.

Jadi, sepertinya, pelajaran-pelajaran yang berbau teknislah yang lebih banyak digunakan jika si lulusan bekerja di pabrikasi alat-alat teknis, atau kuliah di jurusan teknis lebih banyak terpakai di dunia kerja yang mempersiapkan/ memproduksi alat-alat teknis. Seperti seorang lulusan teknik mesin yang bekerja sebagai pendesain mesin produksi, dan sejenisnya. Itupun kalau ia diberi kepercayaan untuk duduk di posisi tersebut. Kalau lulusan teknik mesin harus bekerja di bengkel sebagai tenaga mekanik, apa cocok ?, bisa tetapi tidak pas.

Namun demikian, tentu saja ada bedanya ”cara bekerja lulusan sarjana dengan lulusan SLTA,” yaitu cara berpikir, berlogika, dan melakukan pengambilan keputusan. Jadi, ada keterkaitan tidak langsung yang menjadikan seorang sarjana memiliki nilai lebih dari seorang lulusan SLTA. Kalau untuk sukses atau kaya, faktor lain masih dominan untuk berperan, misalkan faktor kemampuan softskill, kecerdasan selain kecerdasan akademis, dan lucky (keberuntungan). Para pengusaha kaya di seluruh dunia, bisa jadi tidak lulus dari bangku perguruan tinggi. Para seniman/ aktor-aktris kaya, bisa jadi tidak pernah duduk di bangku kuliah, dan seterusnya. Lalu, buat apa kuliah ? (dibutuhkan jawaban yang baik, silakan menjawabnya).

3 January, 2011

Gila

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:06 pm

GILA

Kata dasar “gila” bisa diberi berbagai imbuhan, menjadi (1) menggila, (2) digilai, (3) kegilaan, dan sebagainya yang tidak semuanya berarti “kurang waras” atau ”gangguan jiwa yang parah.” Bahkan, dalam beberapa kata dapat berarti “super hebat,” atau super aneh yang mengarah ke sanjungan. Banyak orang yang bangga menyatakan dirinya ”gila,” seperti contohnya ”Gendeng Pamungkas.”

Pak Aries Muslim berkata, ”bangsa kita sekarang butuh orang-orang gila,” dalam arti kata orang-orang hebat yang kehebatannya melebihi orang rata-rata, atau memiliki ide atau bahkan perilaku yang ide dan kelakuannya jauh melebihi kewajaran yang dapat dilakukan orang lain. Misalkan, saat ini semua orang seperti takut membongkar korupsi di tingkat menteri hingga presiden, maka jika ada orang yang berani membongkarnya, ia dikatakan orang ’gila.’ Tentu, ini adalah gila yang dalam arti kata positif. Begitu juga kepada orang-orang yang dapat menghijaukan lahan-lahan kritis di hutan, atau menjadikan kawasan Indonesia Timur memiliki fasilitas infrastruktur yang lebih hebat dari kawasan Indonesia Barat.

Kalimat, ”hebat orang itu !, bisa lari secepat kilat !” kini telah berubah menjadi ”gila orang itu !, bisa lari secepat kilat !.”

Bisa jadi, orang gila sebenarnya (dalam arti kata tidak waras), yang juga merupakan orang yang bertindak di luar kewajaran, merupakan orang hebat. Hebat karena makan makanan kotor tidak kena penyakit, hebat tidak mengenakan pakaian berani jalan-jalan di pasar, hebat bisa bahagia (tertawa terus) meski tidak ada yang becanda dengannya, dan seterusnya.

Karenanya, tak jarang kata ”gila” telah digunakan umum di berbagai kesempatan. Seperti ”diskon gila-gilaan,” ”pria itu digilai wanita sekampung,” ”kenaikan harga cabai terus menggila !,” ”kegilaan anakku pada games sudah menghawatirkan !,” dan sebagainya. Sedangkan kalimat ”sekarang jaman gila, kalau tidak ikut menggila tidak akan kebagian” mengonotasikan kata ”gila” ke arah negatif. Kata gila di kalimat itu tetap berarti ”tidak wajar,” misalkan banyak orang kaya karena korupsi, banyak orang sukses karena menginjak orang lain, banyak orang maju karena menyikut orang lain, dan semacamnya. Karenanya, jika kita tidak ikut-ikutan korupsi, menginjak, atau menyikut orang lain, maka kita tidak akan (kebagian) berhasil. Sangat berarti negatif.

Jadi, kata ”gila” bisa bermuka dua meskipun sama-sama berarti ”di luar kewajaran” atau ”di luar kondisi/ nilai-nilai umum,” ”positif,” atau ”negatif.” Karenanya, kata ”gila” tidak dapat dijadikan bahasa formal, kecuali berarti ”gangguan jiwa yang parah.”

Bagaimana jika sebuah penelitian ilmiah berjudul:

”Pengaruh Positif  Gilanya Letusan Merapi di Bidang Pertanian.”

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.