Bambang Wahyudi

29 December, 2010

Jauh Panggang dari Api

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:45 pm

JAUH PANGGANG DARI API


Pepatah itu bisa digunakan saat ini oleh bangsa Indonesia, khususnya para penggemar sepakbola. Artinya, harapan (kenikmatan, kebahagiaan, kebanggaan) tidak dapat terlaksana karena prestasi dan kepiawaian bermain bola dari Timnas tidak memadai. Setelah pernah menaklukkan tim Malaysia dengan skor 5-1 di babak penyisihan, Timnas menyerah 0-3 dari Tim Malaysia di putaran I Final di Bukit Jalil Malaysia dan kurang poin (hanya 2 -1) ketika putaran II Final dilangsungkan di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Tim Malaysia berhak menyandang tim terbaik se Asia Tenggara dengan menggondol piala AFF.

Yah, apa boleh buat, meski kita kecewa berat, namun itulah kenyataannya. Masih jauh panggang dari api, harapan tinggal harapan, mimpi tinggal mimpi, ayo kembali kita kubur harapan dan kembali tidur lelap. Mendung di hari ini di seputar Jakarta sejak pagi hari seakan memberi isyarat bahwa Timnas belum mampu bersinar. Mendung masih menyelimuti bangsa kita.

Padahal katanya, pemersatu bangsa Indonesia akhir-akhir ini adalah (1) bencana, (2) ancaman (klaim-klaim) dari Malaysia, dan (3) sepakbola yang berprestasi. Bila saja Timnas bisa menjadi juara AFF, maka bangsa Indonesia saat ini akan bersatu secara utuh, sebab bencana masih menjadi ‘teman’ karena kerap datang, dan ancaman dari Malaysia bisa kita atasi dengan baik (termasuk dari tim sepakbolanya).

Ketika nonton bareng di rumah tetangga, saya mengucapkan selamat kepada Timnas yang mampu menahan tim Malaysia (ketika bermain di Bukit Jalil) karena hanya kebobolan tiga gol. Kalau diamati dari permainannya, Timnas seharusnya bisa kebobolan lebih dari lima gol, karena tim Malaysia sangat baik.

Putaran II Final di GBK kok Timnas juga kurang greget, seperti permainan PSSI yang saya kenal. Hadiah tendangan pinalti saja tidak masuk. Gimana Firman ?, sebagai kapten kesebelasan kok seperti itu ?. Tekanan mental ?, kan ini di Indonesia ?!, kalau di Malaysia (sebagai jago kandang), grogi bisa diterima. Tampak di Babak I Timnas seperti tidak ingat kalau kita ketinggalam tiga gol. Mungkin itu karena saran beberapa tokoh politik yang mengharapkan para pemain bermain lepas tanpa beban. Gimana tanpa beban ?, kan masih ketinggalam tiga gol, kok 45 menit babak I disia-saiakan ?. Banyak peluang yang hanya terbuang percuma, dan sebagian besar tampak seperti hanya memberi bola enak ke kiper lawan, sehingga kiper mudah menangkapnya, tanpa bersusah-payah.

Sudahlah, terima saja kekalahan ini, ayo kembali kita bekerja, jangan menyesali yang sudah terjadi, bangkit dan berusaha sejak saat ini, dari hal-hal yang kecil (misalkan disiplin waktu), lupakan kekalahan lalu. Kita harus berlapang dada atas kekalahan itu, meski kita tidak berhasil di tingkat Asia Tenggara, kita mulai perbaikan dari tingkat kota saja dulu sampai ke tingkat nasional. Jangan euforia, jangan percaya klenak-klenik, jangan percaya ramal-ramalan, hanya satu cara untuk berprestasi, terus belajar, berlatih, dan berjuang keras !.

27 December, 2010

MENGUBUR KEMBALI HARAPAN

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:07 pm

Seperti terbangun dari mimpi-mimpi yang indah, kita kembali bangun menyapa sang kenyataan. Kenyataannya, kita kalah dari tim Malaysia. Kenyataannya, daya juang pemain kita tidak sekuat yel-yel “Garuda di dadaku.” Kenyataannya, kita harus kembali mengubur harapan bahwa para pemain sepakbola kita bukanlah ‘anak ajaib’ melainkan sama saja seperti yang sebelumnya. Justru yang paling berkembang di dunia sepakbola kita hanyalah para komentator, yang semakin banyak dan semakin canggih ulasannya meski tak ada yang berani mengulas bahwa tim Indonesia akan kalah dalam memperebutkan piala AFF dengan tim Malaysia. Tidak untuk pemain, pelatih, maupun pengelolanya.

Menghadapi tim Malaysia di Bukit Jalil, para pemain tampak loyo, tidak ada greget dan semangat “mengganyang Malaysia.” Bahkan beberapa penggemar yang kritis memprediksi bahwa tim Indonesia telah kalah dengan tim ‘penyogok.’ Bonus tiga miliar tambahan bila tim sepakbola Indonesia bisa merebut piala AFF mungkin kalah dengan bonus sekian kali lipat bila mau ‘mengalah’ dengan tim Malaysia. Ada yang bilang, tim nasional sengaja kalah karena bila menangpun hasilnya akan diklaim sebagai kemenangan negeri Jiran tersebut.

Di Bukit Jalil, kita sama sekali tidak disuguhi pemain kelas Timnas yang pernah jaya di kandang sendiri. Sepertinya, kita kembali disuguhi permainan PSSI yang sudah sering kita dengar beritanya sebelum ini, yaitu “kalah” dan “rusuh.” PSSI bukanlah nama yang baik, karena huruf “P” yang disandingkan di depan huruf “S” yang lebih dari satu mengesankan kata “kempis” atau yang semakin surut. Ciri-ciri PSSI adalah “senang bertahan,” “senang mengotak-atik bola di daerah kotak pinalti,” “tidak cermat dalam memberi umpan (passing),” dan “tendangan jauh melambung di atas mistar gawang lawan.”

Berbeda sekali dengan Timnas yang bermain di kandang sendiri yang begitu agresif menyerang, bermain cepat dengan umpan-umpan pendek yang akurat, dan selalu mengancam gawang lawan. PSSI di Bukit Jalil seperti anak-anak kampung yang bermain di tingkat kelurahan, bahkan mungkin lebih rendah lagi. Tidak ada semangat juang, seperti sengaja membiarkan lawan mengolah bola, dan seperti sengaja membiarkan lawan memasukkan bola ke gawang.

Sepertinya, kita harus rela mengubur kembali impian kita, dan menghadapi realita bahwa kita masih sulit menghimpun 20 orang pemain bola dari sekian ratus juta penduduk kita. Bahwa kita masih harus berpikir untuk meng-expose para pemain dengan memberikan sanjungan-sanjungan setinggi langit sebelum piala di tangan. Kita harus sadar bahwa tidak ada ‘anak ajaib’ atau ‘tim ajaib’ yang tiba-tiba bisa hebat, yang ada kita harus berjuang dari bawah, perlahan dan berjenjang.

Yah, tadinya kita mau ‘bertengkar’ untuk membuktikan bahwa ‘sayalah yang paling berjasa’ atas keberhasilan Timnas merebut piala AFF, nyatanya kini kita haru bertengkar tentang ‘siapa yang harus saya salahkan…!” oh PSSSSSSSS……I !!

26 December, 2010

Timnas: Hanya Jago Kandang ??

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:55 pm

Setelah dilumat tim Malaysia tanpa balas: 0-3, membuat para penggemar sepakbola nasional harus menunda kegembiraannya. Andaikan di Jakarta Timnas bisa mengalahkan Malaysia 4-0, berarti Timnas memang hanya jago kandang. Andaikan tidak sampai itu, berarti, jago kandang pun tidak.

Dengan kekalahan seperti itu (seperti tidak ada mental bertanding), saya hanya ingin bertanya atau berkomentar :

1. Kepada Televisi ‘Provokator’ TV-One: “Anda terlalu membesar-besarkan tim yang belum teruji. Kasihan mereka….”

2. Kepada Abu Rizal Bakrie: “Apakah pemberian tanah 25 Ha akan Anda tarik kembali, atau akan Anda kurangi, atau bahkan Anda tambah lagi biar Timnas bisa menang …..?”

3. Kepada SBY: “Kenapa Anda tidak nonton langsung di Malaysia ?, jadi, andaikan telat bergembira ketika Timnas berhasil membobol gawang lawan, tidak masalah, toh gawang lawan aman-aman saja…”

4. Para Kyai dan satri di Pondok Pesantren yang menyelenggarakan Istighosah untuk mendoakan kemenangan Timnas di Malaysia lalu: “Apanya yang salah kalau istighosah tidak berhasil ?, kyainya, santrinya, pemainnya, atau apanya ?”

5. Calon Penonton sepakbola final putaran II nanti: “Masih perlukah Anda berdesak-desakan, sikut-sikutan, mati-matian mengantri tiket untuk menyaksikan sesuatu yang di luar perkiraan Anda semangatnya ?”

Menyaksikan pertandingan semalam, Timnas tidak bekerja semaksimal orang-orang yang mendukungnya. Berapa ribu orang ‘terbang’ ke Malaysia untuk menyaksikan ’sejarah’ baru yang ‘diperkirakan tercipta di sana’, berapa ribu orang bersusah-payah membeli tiket, berapa orang bernazar, dan sebagainya, dan sebagainya.

Kita masih memiliki satu kesempatan di Stadion Gelora Bung Karno, 29 Desember 2010 nanti. Semoga peluang itu bisa diraih. Yang penting, kalau piala AFF sudah di tangan (baca: Timnas bisa menang sedikitnya 4-0),  jangan ada yang bersuara lantang “sayalah yang paling berjasa !!,”  karena hal semacam itulah yang banyak terjadi di Indonesia, bentrok gara-gara merasa yang paling berjasa.

Kalau kalah juga …..”ah, biasa….”

Tiket Final AFF: Terlalu Bloon

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 5:23 pm

Entah bagaimana cara berpikir orang-orang di PSSI, entah apa yang ada di otak orang-orang di PSSI yang bertugas untuk menjual tiket final putaran II, 29 Desember 2001 di Gelora Bung Karno. Terlalu bodoh, terlalu bloon,  terlalu tolol, terlalu naif !!.

Seperti terjun ke medan perang saja, para calon penonton pertandingan yang notabene sebagai penyokong, sebagai pendukung tim nasional berlaga, justru harus ada yang mati di saat mengantri pembelian tiket. Dia mau beli, bukan mau nyolong !!. Belum lagi jumlah orang yang pingsan, dehidrasi dan kelaparan akibat itu. Pengurus PSSI gila !!, tolol, bloon !!

Calon penonton sudah mengantre dari jam 19.00, padahal (katanya) tiket baru mau dijual di loket jam 09.00 esok harinya. Bukan lagi jam 9.00, malah jam 11.00 belum juga ada transaksi penjualan tiket. Malah pakai pemberian nomor urut segala, pakai nulis KTP segala, mau ngapain ????, mau naik pesawat terbang ????.

Males ah, pokoknya: goblok, tolol, bloon !!!

23 December, 2010

(Sepertinya) Piala AFF Sudah Di Tangan …!

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:01 am

Euforia (euphoria) atau kebahagiaan yang sangat besar memang dirasakan sebagian bangsa kita atas kemenangan tim sepakbola nasional (baca: Timnas, bukan PSSI) karena masuk ke final piala AFF setelah mengalahkan lawan-lawan sebelumnya. Setelah mengandaskan Laos 6-0, Malaysia 5-1, Thailand 2-0, dan Filipina 2-0, kini kembali Timnas akan berhadapan dengan Malaysia di final.

Euforia dapat disaksikan di stasiun-stasiun televisi yang menyiarkan aneka berita tentang Timnas sampai-sampai menghadirkan keluarga dari anggota Timnas yang diwawancarai mengenai ’sejarah’ anggota Timnas tersebut. Atau istri seorang anggota Timnas yang sudah tampak seperti selebritis baru. Euforia juga terjadi di mana-mana.

Wajar kebanggaan itu muncul karena sekian lama kita tidak pernah merasakan prestasi pesepakbola nasional yang telah mengeluarkan anggaran yang cukup besar. Publik merasa ‘gerah’ karena hanya disuguhi berita-berita kekalahan tim PSSI, yang tidak mampu mencari 20 orang saja dari ratusan juta penduduk Indonesia untuk menjadi pemain sepakbola yang tangguh.

Akan melawan Malaysia di final pertama yang akan dimainkan di Bukit Jalil Malaysia pada 26 Desember 2010, dan final kedua yang akan dilangsungkan di Jakarta pada 29 Desember 2010, sepertinya euforia itu masih kuat di genggaman. Sepertinya, kita ingin berbondong-bondong menjadi saksi sejarah ketika Timnas akan berhasil kembali ‘mengganyang’ Malaysia dan menjadi juara AFF 2010 ini.

Tiket pesawat yang menjual paket wisata sepakbola ke Malaysia, habis !, tiket untuk pertandingan di Gelora Bung Karno, pasti habis, meski harganya dinaikkan. Dukungan masyarakat kepada Timnas begitu kuatnya. Dukungan seperti ini bisa menjadi penyemangat, sekaligus sebagai beban bagi Timnas.

Pantaslah, bila musuh sejati Timnas di final bukanlah Malaysia, namun diri sendiri. Meski tim Malaysia ’sudah bangkit’ atas kekalahannya 5-1 dulu dari Indonesia, mereka bertekad akan melakukan balas dendam. Tapi, Timnas pasti dapat mengatasi itu, bila mental dan semangat bertanding, serta semangat untuk menang, sebesar euforia masyarakat pendukungnya.

Semoga Timnas sukses !!

9 December, 2010

PSSI Masih Mengkhawatirkan

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:12 pm

PSSI MASIH MENGKHAWATIRKAN


Mendengar PSSI menang telak 5-1 terhadap tim Malaysia, dan melihat setengah hati pertandingan antara PSSI melawan tim Laos yang menang 6-0, ‘memaksa’ saya melihat full time pertandingan PSSI melawan tim Thailand. Saya mau melihat itu karena gembar-gembor berita di televisi tentang si ‘anak ajaib’ Irfan, dan Okta. Kita memang haus akan berita kemenangan PSSI sehingga baru menang beberapa kali, para pemainnya langsung dielu-elukan.

Tim PSSI melawan tim Thailand: Babak I berlangsung, saya langsung kecewa dan khawatir tentang ‘hobi lama’ PSSI yaitu bertahan. Dan kebiasaan lama itu membuat PSSI menerima kekalahan karena sekuat-kuatnya bertahan, pasti kebobolan, dan itu terbukti, PSSI kalah dulu 0-1. Dua pertandingan sebelumnya bukan bukti PSSI semakin jago, melainkan lawan-lawannya yang menurun.

Saya melihat kelemahan dari kedua anak ajaib itu yang justru sangat fundamental. Si Okta terlalu egois, tidak pantas bermain untuk tim. Si Irfan tidak bisa berkutik apapun dan terkesan sangat amatiran. Untung keduanya diganti di babak kedua. Memang andaikan PSSI kalah saja, tidak akan berpengaruh untuk memposisikan diri sebagai juara grup, tapi tetap saja kualitas permainan (siapapun pemainnya) menunjukkan pantas tidaknya ia menjadi juara grup. Beruntung PSSI bisa menang 2-1 atas Thailand yang sebetulnya kemenangan itu bagi saya hanya kemenangan semu karena hanya diperoleh dari tendangan pinalti yang keduanya dilakukan oleh Bambang Pamungkas. Saya puas jika kemenangan itu dilakukan langsung masuk ke gawang ketika dilakukan penyerangan.

Saya jarang sekali nonton pertandingan sepak bola, baik pertandingan yang dilaksanakan di dalam negeri maupun di luar negeri, baik timnas maupun tim asing. Dan saya juga jarang mendengar atau membaca komentar dari para komentator atau wartawan. Tapi, saya bisa melontarkan komentar saya di sini.

Pertama, PSSI masih mengkhawatirkan, khususnya dalam hal (1) passing (mengirim bola ke rekan-rekan), (2) menerima passing (terlihat tidak ‘lengket’ alias terpental sehingga mudah direbut lawan), (3) kurang saling pengertian dalam team work sehingga gerakannya mudah dibaca lawan atau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Adapun kekurangan lain (misalkan rata-rata bertubuh kurang tinggi dari tim lawan), bisa disiasati dengan kecepatan (harus memiliki stamina yang prima) dan operan-operan pendek yang cepat (team work yang solid).

Jadi, PSSI masih mengkhawatirkan, dan ‘anak-anak ajaib’ belum bisa membanggakan, dan PSSI lemah ketika harus berhadapan dengan tim-tim lawan yang bertubuh rata-rata lebih tinggi, dengan umpan-umpan tinggi atau umpan-umpan panjang yang akurat. Namun demikian, kemajuan PSSI sejauh ini masih masuk dalam kategori baik. Semoga kelemahan-kelemahannya dapat terus diperbaiki.

6 December, 2010

Rekayasa

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 6:27 pm

REKAYASA

Orang Indonesia adalah orang yang paling pandai dalam merekayasa, bahkan pak Aries Muslim berani merekayasa yang katanya “Surat dari Tuhan.” Dalam kitab suci manapun dan dari hadis nabi manapun tidak ada kisah kalau Tuhan menulis surat kepada hambaNya. Tapi, inilah Indonesia.

Pemerintah sudah kehabisan akal gimana caranya ”menaikkan harga BBM.” Pemerintah malu karena dulu menggembar-gemborkan (dalam kampanyenya) adalah pemerintah yang pernah menurunkan harga BBM tiga kali !. Memang benar, tiga kali secara mencicil, karena jumlahnya cuma sedikit saja. Pemerintah pernah berniat memotong subsidi BBM dengan cara membatasi jumlah pemakaian BBM per kendaraan. Tapi, takut direkayasa, orang-orang kaya beli kendaraan yang banyak, jadi tetap tidak terbatas penggunaan BBM-nya.

Akhirnya, mulai Januari 2011, pemerintah memotong subsidi BBM dengan cara mobil seluruh pribadi (tanpa kecuali) tidak boleh mengisi BBM jenis premium (non subsidi). Tetapi untuk mobil plat kuning (angkutan umum) dan nelayan, diperkenankan menggunakan BBM bersubsidi. Ada seorang menteri yang berkata ”tidak ada alasan untuk terjadi kenaikan harga karena angkutan umum tidak naik BBM-nya.” Itu perkataan mentah, dan justru tidak beralasan. Memang semua kendaraan umum (khususnya angkutan barang) pasti berplat kuning ????.

Justru yang terjadi adalah ”otak rekayasa” kembali beraksi. Para supir angkot mendapat rejeki baru yang menggiurkan. Jika narik penumpang tidak [menjamin] dapat setoran, maka sebagai tambahan penghasilannya mereka bisa membeli premium dan menjualnya kepada pemilik mobil pribadi. Jika pemilik mobil pribadi harus mengeluarkan uang Rp. 65.000,00 untuk setiap 10 liter, mending ia mengeluarkan Rp. 55.000,00 dan si supir sudah mendapat Rp. 10.000,00 sebagai keuntungannya dari modal yang Rp. 45.000,00. Itu kalau ”hanya” 10 liter saja.

Bisa jadi, sebentar lagi terjadi perombakan tangki-tangki bensin di mobil-mobil angkot agar mampu menampung bensin sebanyak 100 liter. Kalau ia bisa jual 50 liter per hari, maka ia sudah mendapat untung Rp. 50.000,00 sebagai tambahan penghasilannya dari menarik penumpang. Yah, rejeki mereka….

Olah Raga Nasional

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:37 am

OLAH RAGA NASIONAL

Minggu pertama Desember, ada dua jenis olah raga nasional yang membanggakan, sepak- bola dan tinju. Sudah puluhan tahun saya tidak pernah menyaksikan kiprah sepakbola nasional karena sarat dengan kegagalan dan kekerasan, baik kekerasan antarpemain, pemain dengan wasit, pemain dengan supporter, maupun antarsupporter sepakbola. Kalau orang beramai-ramai nonton bola di stadion dengan mengeluarkan sejumlah uang, maka saya dibayarpun ogah nonton sepakbola di stadion.

Semula saya mendengar kalau kesebelasan Indonesia menang telak 5-1 atas tim Malaysia, saya pikir adalah ‘main sabun’ alias tidak sportif. Penasaran, saya menonton antara tim Indonesia melawan tim Laos (meski sambil mengetik di laptop). Ternyata saya cukup salut, Indonesia bisa menang telak 6-0. Saya dengar, tim Laos mampu menahan tim Thailand dengan skor 1-1. Padahal tim Thailand adalah ‘musuh’ utama tim nasional yang lebih banyak menang tim mereka dari tim kita ketika bertanding. Nah, tinggal menyaksikan tim kita melawan Thailand hari Rabu nanti, kalau menang, memang tim nasional kita bisa dibanggakan (setidaknya saya punya harapan untuk kembali mau menyaksikan tim nasional kita bertanding, cukup di kawasan Asia Tenggara dulu).

Saya juga gembira ketika Kris John menang melawan petinju Argentina yang jauh peringkatnya dari Kris John (yaitu di peringkat ke-15). Namun kegembiraan saya tidak sepuas ketika menyaksikan laga-laga Kris John sebelumnya. Kali ini kegembiraan saja sangat terselimuti oleh kekecewaan yang amat sangat. Betapa tidak, saya menyaksikan Kris John seperti ‘anak bawang’ yang baru mulai bertinju.

Sewaktu di pertandingan amatir yang rutin disiarkan di sebuah stasiun televisi, saya dulu berkata kepada istri, “ini petinju masa depan Indonesia” yaitu Kris John dan Alfaridzi. Namun sayang, beberapa saat kemudian terdengar berita bahwa Alfaridzi meninggal dunia usai bertanding. Jadi, tinggal Kris John. Saya menjagoi Kris John karena pukulannya yang taktis dan efektif, serta gerakannya yang ringan untuk maju menyerang atau mundur bertahan.

Namun apa yang saya saksikan Minggu malam (4/12) sangat mengecewakan, gaya bertinju Kris John seperti ‘ayam sayur’ seperti anak kecil yang berkelahi. Gerakan memukul yang membabi-buta, serta serangan-serangan kosong banyak terjadi. Tidak taktis dan tidak efektif. Saya memang yakin Ia menang angka mutlak, dan itu memang terjadi, tapi saya kecewa melihat penampilan petinju tingkat dunia bermain seperti itu. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi di pertandingan-pertandingan berikutnya. Saya kecewa karena saya selalu menjagokannya.

Setelah saya perhatikan juga, ternyata kedua cabang olah raga yang berprestasi tersebut dikomandoi oleh orang-orang asing, oleh orang-orang profesional, orang-orang yang tidak atau belum terkontaminasi budaya korupsi orang-orang kita. Kalau [sudah] terkontaminasi, maka prestasi itu akan semakin jauh….

1 December, 2010

Yogyakarta Tidak Lagi Istimewa

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:26 pm

YOGYAKARTA TIDAK LAGI ISTIMEWA

Di saat orang lain sibuk membicarakan dan membahas dampak Gayus, bak kata pepatah “tak ada angin tak ada hujan,” tiba-tiba saja SBY melontarkan gagasan agar Yogyakarta tidak bersifat monarkhi (kerajaan). Lha dhalah !, memang kenapa ?, memang ada apa ?, memang ada kasus apa ?, toh selama ini adem-ayem, biasa-biasa saja, ngapain ngusik ketenangan orang saja ?.

Apa sih ruginya ada kerajaan di dalam republik ?, malah antik, yang penting kan hidup rukun tata tentrem kerta raharja !.. Oh, mau Gubernurnya bukan Sri Sultan Hamengku Buwono dan keturunannya ?, silakan saja, toh beliau tetap panutan warga yang kedudukan di hati warganya melebihi seorang Presiden. Kalau diadakan pemilu yang menang ya orang kalangan keraton juga…, yakinlah… mana ada politisi yang pamornya mampu mengalahkan pamor seorang raja ?. aya aya wae…, ono ono wae.

Ah, itu mah masalah kecil, gak perlu dibahas (jangan gampang terpancing pengalihan masalah). Jadi, gimana Gayus dan dampaknya :?.

Gayus adalah seorang ahli sulap, mentalis, dan hipnotis sekaligus. Bagaimana tidak, masuk ke penjara saja (di Mako Brimob lagi !) tiba-tiba ia bisa berada di Bali. Ia juga seorang budayawan, yang mampu membudayakan gerakan pengemplang pajak nasional. Berapa perusahaan yang kini tengah ‘kebakaran jenggot’ takut kalu-kalau Gayus menyanyi di pengadilan perusahaan-perusahaan mana saja yang ‘bermain’ dengannya.

Kalau Gayus saja yang ‘anak kemarin sore’ sudah mampu mengantongi ratusan miliar rupiah, gimana dengan ‘atasan-atasannya’ ??. Sumpah, kalau gaji saya tidak dipotong langsung di Bagian Keuangan untuk pajak, saya tidak mau menyetorkan pajak penghasilan ke kantor pajak. Memang orang bayar pajak cuma untuk bikin kaya pegawai pajak yang seperti Gayus ?, gimana mungkin negara ini sejahtera. Memang kemiskinan berkurang, tapi penyebabnya bisa karena kecelakaan kendaraan, bencana alam, ledakan gas elpiji, kelaparan, dan sebagainya, bukan karena hasil pembangunan saja.

Korupsi bukan lagi sekadar menjadi penyakit masyarakat, tapi korupsi sudah jadi budaya nasional, khususnya korupsi yang berhubungan dengan uang (karena kadang-kadang, saya menginstal software bisa juga corrupt). KPK mampu ?, ah…(dari pada tidak ada).

Mengapa korupsi menjadi budaya ?. Yang pertama dan paling utama adalah kurangnya kesadaran kita dalam beragama. Amal sholeh dinilai dari keikhlasan seseorang dalam berbuat. Apakah seorang penceramah agama berbuat amal sholeh setelah ia melakukan tugasnya ?. Belum tentu, kalau ia memiliki tarif (bayaran) untuk ceramahnya, maka amalnya sudah dibayar di dunia ketika ia menerima honor sesuai tarifnya. Ikhlas berbuat baik kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun dari orang yang kita bantu merupakan kunci mencegah korupsi.

Yang kedua adalah hindari cash money di tempat-tempat pelayanan umum, plus keterbukaan informasi. Dengan sistem perbankan hal ini tidak terlalu sulit, tinggal membudayakan orang-orang yang ‘konvensional’ (meletakkan uangnya di balik kasur) untuk terbiasa menyimpan uangnya di bank.

Yang ketiga, hindari contact person antara yang mengurus dan yang diurus. Memang ada sebagian yang mau tidak mau harus terjadi kontak langsung, namun banyak juga yang tidak harus melakukan kontak langsung. Contoh sederhana saja, melakukan ujian teori untuk mendapatkan SIM, tidak perlu berhubungan dengan anggota kepolisian (petugas yang menjaga ujian), cukup di depan komputer saja, dan hasilnya secara tertbuka bisa disaksikannya.

Yang keempat, hindari pengurusan yang seharusnya tidak perlu diurus. Contoh sederhana saja, mengapa KTP tidak diberlakukan seumur hidup saja ?, kenapa harus diperpanjang setiap lima tahun ?. Hal itu bisa dikecualikan, misalkan ada unsur-unsur di KTP yang memang harus diubah, misalkan karena pindah alamat, dan sebagainya. Begitu juga dengan SIM, mengapa tidak ada penghargaan sama sekali buat saya yang selalu mematuhi rambu dan peraturan lalu lintas, tidak pernah ditilang, toh tetap saja harus memperpanjangnya setiap lima tahun sekali, buat apa ?, kecuali bila ada unsur-unsur di SIM yang memang harus diubah.

Itu kan pendapatan daerah ! (KTP/ SIM). Ah, itu mah hal kecil bagi bangsa ini yang sudah amat mahir dalam merekayasa. Alihkan saja pendapatannya dengan membayar lebih mahal untuk setiap pelanggaran (kehilangan, tilang … sstt…tapi lagi-lagi jangan saling berhadapan, nanti percuma saja…), dan sebagainyalah.

Kembali ke judul, apakah Yogyakarta akan kehilangan keistimewaannya ?. Bagi orang-orang Jogja, pasti tidak akan hilang, sebaliknya, yang mengotak-atik Jogja yang akan kehilangan kewibawaannya…..

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.