Bambang Wahyudi

23 November, 2010

Kecerdasan Non IQ

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:09 pm

PENTINGNYA KECERDASAN SOFTSKILL

Beberapa waktu lalu, teman yang bekerja di suatu perusahaan berkata kepada saya bahwa: “saat ini dibutuhkan pegawai yang bukan sekadar pandai secara akademis saja, melainkan harus pandai pula non akademisnya.” Maksud non akademis, biasa diistilahkan dengan softskill.

Di ilmu psikologi, ada banyak macam kecerdasan (multiple intelligence), seperti cerdas dalam berkata-kata (misalkan untuk menjadi penyiar, presenter, pelawak, dan sebagainya). Ada juga cerdas dalam indera penciuman (misalkan untuk menjadi tester deodorant, parfum, aroma minuman, dan semacamnya). Ada juga cerdas dalam hal mengecap (dengan lidah, misalkan untuk menjadi tester rokok, rasa minuman, rasa masakan, dan semacamnya), kecerdasan motorik, kecerdasan kinestetik, dan banyak lagi macamnya.

Namun, ada empat plus yang utama, yakni Intelligen Quotien (IQ), Emotional Quotient (EQ), Creative Quotient (CQ), dan Adversity Quotient (AQ), plusnya adalah Spiritual Quotient (SQ). Jadi, seorang calon pegawai, bukan hanya dituntut memiliki IQ yang tinggi, juga kecerdasan lainnya, yaitu memiliki rasa kebersamaan (kerja sama), tenggang rasa, dan rasa memiliki, memiliki kreativitas yang tinggi dalam berpikir dan berkarya, memiliki daya juang yang tinggi (tahan banting/ daya ketahanmalangan), dan plusnya adalah memiliki iman yang kokoh, memiliki feeling atau prasangka yang baik (positif), berketuhanan, dan selalu menaati perintah Tuhan.

Setidaknya, di tempat kerjanya, seorang pegawai harus: mampu bekerja sama (tidak menyendiri), memiliki kreativitas (bukan seperti robot yang harus selalu diperintah), memiliki etos kerja yang tinggi (tidak mudah menyerah), dan memiliki pribadi yang positif (ramah, sopan, toleran) dan sebagainya.

Nah, sebagai orang yang bergerak di dunia pendidikan yang harus menyiapkan calon tenaga kerja, maka kita harus berpikir bagaimana menyiapkan mahasiswa untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kita harus berpikir kegiatan-kegiatan apa yang membuat mereka memiliki kecerdasan-kecerdasan tersebut, dan melaksanakannya dengan konsisten dan berkesinambungan.

Berbagai lomba yang diadakan pihak kampus, seperti USB (Unlimited Software Building), Kompres, Blog, Fotografi, dan sebagainya sudah menjurus ke arah peningkatan kreativitas, namun sayang, jumlah persertanya amat sedikit dibanding jumlah mahasiswa keseluruhannya. Juga penyelenggaraan mata kuliah softskill, meski bermanfaat namun pelaksanaannya tidak terlalu mengena sasaran dalam meningkatkan kecerdasan non IQ. Karenanya, mari kita pikirkan berbagai kegiatan yang harus kita create untuk tujuan tersebut dan bersifat massal (sedapatnya seluruh mahasiswa merasakannya).

21 November, 2010

Derita TKW: Kekurangberesan Manajemen Pemerintah

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:21 pm

DERITA TKW: KEKURANGBERESAN MANAJEMEN PEMERINTAH


Bak makan buah simalakama, di satu sisi (bangsa) kita butuh penerimaan devisa asing untuk memperkuat perekonomian negara, di sisi lain, banyak TKW yang menderita akibat ulah para majikannya di luar negeri (khususnya Arab Saudi dan Malaysia). Negara belum mampu membiayai tanggungjawabnya untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya, belum mampu menciptakan keadilan sosial bagi rakyatnya.

Derita TKW yang disetrika seperti baju, yang digunting bibirnya, yang dibunuh, yang dibuat buta, yang dijadikan cacat seumur hidup, yang diperkosa, dan masih banyak lagi modus kejahatan majikan lainnya, membuat miris dan geram bangsa kita. Rakyat bisa apa ?, paling hanya bisa memaki dan melakukan demo di kedutaan-kedutaan besar negara majikan. Di sinilah peran pemerintah harus dominan. Bukan hanya mendatangi rumah para sahibul musibah, bukan hanya menyantuni keluarga TKW, tapi harus lebih dari itu, yaitu menjamin keamanan si TKW di luar negeri dan harus mampu menyeret para majikan jahat ke meja hijau.

Memang, kalau ada masalah, seperti benang kusut yang sulit diurai. Satu pihak menyalahkan si TKW yang tidak atau kurang memiliki keterampilan, pihak lain menyalahkan jasa pengirim tenaga kerja yang sering dilakukan secara ilegal, pihak lain menyalahkan kedubes atau perwakilan pemerintah di negara majikan, di lain pihak menyalahkan pemerintahan negara majikan, dan seterusnya. Padahal, seharusnya dari A sampai Z masalah TKW seharusnya dalam genggaman manajemen pemerintah.

Mulai dari informasi kebutuhan TKW dari negara majikan, pemantauan setiap saat para TKW yang bekerja di majikannya hingga bantuan hukum dan jaminan keamanan TKW di negara asing. Tapi kenyataannya ?, setiap ada kasus muncul sepertinya pemerintah kebakaran jenggot, tidak ada juklak dan juknis sehingga penangannya terasa amat sangat lambat. Saking lambatnya, belum satu kasus selesai, kasus lain menyusul. Apalagi secara global nasional, sepertinya kasus satu dimunculkan untuk menutupi kasus sebelumnya, dan seterusnya hingga yang tersisa hanya kasus terakhir saja.

Kasus penjarahan massal di masa krisis moneter lalu belum selesai, disusul kasus Trisakti, disusul lagi kasus semanggi, disusul lagi kasus Atmajaya, disusul lagi kasus Munir, disusul lagi kasus Lapindo, disusul lagi kasus Century, disusul lagi kasus Cicak vs Buaya, dan seterusnya, dan seterusnya, tidak satupun telah diselesaikan secara tuntas. Atau, memang inikah manajemen pemerintah kita ?.

18 November, 2010

Ada Kolektor Daging Kurban

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:28 am

Pak Dr. Ravi bilang bahwa justru Idul Adha seharusnya ‘dirayakan’ jauh lebih besar dibanding Idul Fitri, tapi malah yang terjadi sebaliknya. Kenapa terjadi sebaliknya ?, karena jumlah hewan yang dihurbankan (di Idul Adha) jauh lebih sedikit dibanding ketupat, opor, dan THR (di Idul Fitri) ….it’s joke…..

Tapi, pada setiap perayaaan Idul Fitri atau Idul Adha kita bisa tahu bahwa masih terlalu banyak penduduk miskin (atau merasa miskin) di negeri kita ini. Pada Idul Adha, bisa disaksikan di layar-layar televisi, jumlah mustahik (dalam hal ini, penerima hewan kurban) terlalu banyak sehingga berdesak-desakan dan bahkan sampai ada yang rusuh. Paling-paling dapat bungkusannya setengah hingga satu kilo daging plus tulang plus jeroan, tapi mereka rela bermalam di dekat pembagian hewan kurban, takut kalau tidak kebagian.

Memang, menjadi panitia kurban tidak semudah yang dibayangkan. Senang karena bisa membagi-bagikan daging kurban ke orang lain, tapi kesal karena para penerima hewan kurban tidak bisa diatur rapi agar dapat berjalan dengan tertib.

Tahun ini saya ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana perayaan kurban di Musholla Nur-Rahman di lingkungan RT saya (45 rumah). Jumlah hewan kurban yang terkumpul hanya 3 ekor sapi dan 3 ekor kambing, dan jumlah kupon yang sudah saya edarkan sebanyak 357 lembar. Memang, kami seRT bergotong royong untuk melaksanakan kurban itu. Ada 30 pria yang melaksanakan penyembelihan hingga pembagian daging kurban, dan ada 15 wanita yang membuat masakan/ minuman yang dihidangkan untuk seluruh “panitia.”

Di kupon, saya bagi waktu pengambilannya tiga tahap, masing-masing berbeda 15 menit yang dimulai pukul 15.00. Karena kami bukan orang profesional dalam hal pemotongan daging, maka kami bisa menyelesaikan itu pada pukul 15.30. Tapi apa yang terjadi, banyak orang yang meminta daging kurban sudah berdatangan jam 13.00 (selesai sholat Dzuhur), dan lagi, mereka justru bukan orang yang mendapat kupon. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai sekitar 100 orang.

Padahal, musholla kami berada di ‘cluster’ yang tidak bisa dlihat dari jalan utama, dan jalannya eksklusif (terbatas) hanya untuk wilayah itu saja. Musholla kami kecil, tapi dibangun bertingkat hasil swadaya di 2/3 wilayah warga RT kami, namun indah dan nyaman dengan 4 buah AC yang ‘didukung’ oleh Bapak Taufik Kiemas (Ketua MPR) di mana salah satu warga kami bekerja sebagai akuntan di seluruh SPBU miliknya.

Kekhawatiran saya tentang pembagian daging kurban akhirnya bisa teratasi. Dengan 3 ekor sapi dan 3 ekor kambing, kami bisa ‘meracik’ menjadi 500 kantung, sehingga dari 357 lembar kupon plus 100 orang non kupon dapat menerima daging kurban seluruhnya. Sisanya, kami masak bersama sebagai bagian dari jatah panitia.

Malam harinya, saya berbincang-bincang dengan panitia lain dan Satpam perumahan (sebagai bahan evaluasi). Terungkap di sana, bahwa dari semua yang meminta daging kurban, tidak semua digunakan sebagai konsumsi baginya. Ada yang dijual, bahkan sempat berburu ke berbagai penjuru hingga sehari ia mampu mengumpulkan 20 bungkus (Satpam perumahan itu dapat 6 bungkus dari 6 lokasi di perumahan kami). Semua itu rejekinya, kami tak ambil pusing, karena itu hanya terjadi setahun sekali….

12 November, 2010

Gayus ‘Plesir’ ke Bali ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:29 am

GAYUS ‘PLESIR’ KE BALI ??


Gayur ‘plesir’ ke Bali ?, kan lagi di penjara, kok bisa ?. Banyak orang merasa aneh atas kejadian itu, namun bagi yang tahu, itu sih biasa-biasa saja. Dengan uang, penjara <pernah> bisa menjadi hotel, lengkap dengan pendingin ruangan dan ruang karaoke. Dengan uang, penghuni penjara bisa menjalankan bisnis <termasuk bisnis narkoba> dari balik jeruji besinya. Dengan uang, narapidana bisa melakukan transaksi seksual <maaf> dengan para penjaja cinta. Dengan uang, jeruji besi hanya simbol belaka.

Ada yang pernah mengalami salah satu anggota keluarganya yang masuk penjara, menjadi sapi perahan <kalau terus diikuti kemauannya>, mulai dari uang <pungli> untuk memasukkan <memberi> makanan, uang memilih ruang penjara, uang meringankan hukuman <misalkan dengan mengubah isi BAP>, uang cuti <meninggalkan penjara untuk sesaat>, uang kunjungan <besuk>, dan sebagainya, dan seterusnya.

Ada alasan, itu dilakukan karena gaji para sipir dan orang yang bekerja di rumah tahanan tidak memadai. Lha, kenapa tidak jadi pengusaha saja biar bisa menggaji diri sendiri, atau kenapa tidak jadi menteri atau anggota DPR saja yang gajinya besar ?. Itu kan sudah sesuai dengan kemampuannya, jangan mencari dalih untuk menghalalkan perbuatan dosa. Kalau semua pegawai ditanya, pasti jawabannya sama, gaji kurang !.

Lalu, bagaimana mengatasi hal seperti ini ?. Tentu hal yang pertama dan utama adalah membenahi mental-spiritual. Kalau mental-spiritualnya bobrok, mau gaji sebesar apapun, tetap saja korup. Yang kedua adalah adilnya sang Pemimpin. Benahi sistem penggajian pegawai, misalkan dengan memasukkan unsur prioritas, risiko, dan sebagainya sehingga tidak ada keirian dari pegawai yang satu dengan pegawai lainnya. Yang ketiga adalah pemberian jaminan sosial bagi pegawai, misalkan jaminan kesehatan, pendidikan putra-putrinya, hari tua (pensiun), jaminan tempat tinggal, dan sebagainya. Yang keempat adalah kepastian hukum bagi seluruh rakyat (termasuk para pejabat).

Apakah negara mampu untuk itu ?. Untuk itulah, sampai saat ini masih dicari Pemimpin Bangsa. Andakah orangnya ???

11 November, 2010

Beda Obama dan SBY

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:01 am

Beda Obama dan SBY


Tentu amat berbeda dan tidak dapat diperbandingkan meskipun keduanya sama-sama memiliki jabatan Presiden di negara yang sama-sama memiliki jumlah penduduk yang besar. Namun, iseng-iseng saya mengamati perbedaan keduanya dalam pertemuan mereka baru-baru ini.

1. Obama tidak suka memegang kertas untuk dibaca, lebih suka langsung bicara saja;

2. Obama bicara dengan santai, tidak seperti sedang serius dan sedang berdeklamasi;

3. Obama pandai menarik simpati audience-nya, tidak menjemukan;

4. Obama tidak mudah bersedih, meskipun penghargaan diberikan kepada ibunya yang sudah almarhum;

5. Obama relatif kurus sehingga bisa berlari ketika naik tangga pesawat;

6. Obama mudah tersenyum dengan tulus dan senang bercanda;

Di luar itu, ada tiga pesan Obama bagi Indonesia, yaitu berantas korupsi, kembangkan demokrasi, dan jaga persatuan (antarumat beragama) dengan bungkus “keberhasilan Indonesia yang menjadi sumbangsih bagi dunia.” Jelas, Indonesia masih jauh dari pemberantasan korupsi, belum menjadi bangsa yang demokratis, dan belum sepenuhnya memiliki sikap toleransi antarumat beragama. Kita pun tidak bisa berharap banyak dari Obama yang tampak simpatik itu karena di negaranya masih (makin) banyak orang (rakyat, anggota parlemen, anggota senat, dan sebagainya) yang kurang setuju dengan berbagai kebijakan yang diambilnya.

Jadi, sementara ini kita bisa bangga saja bahwa Obama pernah tinggal di Jakarta, dan kurang dari 24 jam melakukan ‘pulang kampung.’ Meski hanya sebentar, banyak yang menderita karenanya… (padahal, itu memperingati perjuangan kita di hari Pahlawan masa kini, yaitu berjuang menembus kemacetan).

10 November, 2010

Untungnya Obama Datang Hanya Sebentar

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:05 am

Gila !,  seperti  kejadian kerusuhan Mei 1998. Polisi dan tentara di mana-mana. Macet di mana-mana, gerutuan di mana-mana !. Biasa dari rumah ke kampus hanya 30 menit, kali ini menjadi 90 menit !.

Banyak dosen dan mahasiswa keleleran di jalan (karena mobil tidak boleh ke Margonda). Mencari jalan ke arah kampus dari manapun macet total, mau jalan masih jauh. Weleh…weleh…weleh…

Untung Obama cuman sebentar, tapi, biar sebentar juga miliaran rupiah terbang bersama kembalinya Obama. Penyambutan tamu yang sangat berlebih-lebihan.

Coba uangnya disumbangkan ke korban bencana…, atau lain kali DPR bikin peraturan, “silakan tamu negara datang berkunjung ke Indonesia, tetapi jangan sampai merugikan kepentingan rakyat, meski hanya sesaat…”

9 November, 2010

Obama Akhirnya Datang

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:19 pm

Setelah beberapa kali membatalkan kunjungannya ke Indonesia, akhirnya Obama bisa datang di Jakarta, Indonesia pada Selasa, 9 November 2010. Orang Bekas Anak Menteng Atas (OBAMA) datang dengan adanya pro dan kontra masyarakat di dalam negeri. Kayaknya berlebihan, baik pada yang pro maupun pada yang kontra. Sebaiknya, kita menyambut saja tamu yang datang berkunjung seperlunya, tidak usah berlebihan, sampai-sampai kita bertengkar karena ada yang pro dan ada yang kontra.

Obama bukan siapa-siapa, ia orang biasa yang kebetulan diangkat menjadi Presiden Amerika, negara adikuasa. Sebagai presiden, ia juga tidak bisa memerintah Amerika sesuai dengan kehendaknya. Ada parlemen, dan ada ‘orang-orang kuasa’ yang tidak memegang tampuk kekuasaan. Biasanya, orang mengidentikkan dengan ‘kaum yahudi,’ yaitu orang yang super kaya yang dapat membuat presiden Amerika hanya menjadi bonekanya saja.

Jadi, kenapa harus terjadi pro dan kontra ?. Andaikan kaum muslimin bisa ‘menaklukkan’ si Obama, belum tentu Obama bisa melaksanakannya di Amerika. Satu-satunya cara menaklukkan Amerika adalah menjadi negara super kaya dan super cerdas sehingga kita memiliki kekuatan. Kapan itu bisa terwujud ?, lha dalam segala hal saja kita berkiblat ke sana ?, pakaian ala Amerika (ada celana jeans, t-shirt, backless…), komunikasi (TI) mengikuti Amerika, ilmu pengetahuan, mereferensi ke sana (sebuah penelitian belum bisa dikatakan hebat kalau belum banyak referensi dari sana), dan banyak lagi. Sepertinya kita diajari menjadi bengsa yang munafik.

Lha, kalau kita selalu menjadi ‘ekor’nya, jangan berharap kita bisa mendahului kepala-nya, kecuali kalau jalan mundur. Artinya, kalau soal merusak (lawan dari membangun), mungkin saja kita bisa menjadi juaranya…., hutan gundul, terumbu karang, hancur, korupsi, merajalela,.. weleh, weleh, weleh… Jadi, selamat datang Obama, saya menghormati Anda sebagai tamu kami, tapi saya yakin, Anda tidak bisa berbuat apapun untuk (membantu) negeri kami.

3 November, 2010

Tanya, dong …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:38 pm

Kini ada beberapa istilah (ukuran) baru yang masih membingungkan saya. Bila ada yang bisa menjelaskan, tolong dijelaskan, dan saya ucapkan terima kasih.

1. Dua-ratus kendaraan per menit

Istilah ini sering muncul ketika musim lebaran tiba. Saya bingung, situasi ini bisa dibilang lancar atau malah macet ?. Kalau macet total, kan bisa saja jalan tersebut hanya dilalui 3 kendaraan per menit, atau sebaliknya, 3 kendaraan per menit juga bisa dikatakan “amat lengang.” Jadi gimana ?

2. Banjir setinggi lutut orang dewasa

Ini juga membingungkan saya, apakah semua orang dewasa tinggi lututnya sama ?. Malah ada yang lebih tinggi, yaitu mata kaki. Mata kaki lebih tinggi dari lutut karena mata kakinya berada di lantai 2, lututnya di lantai 1.

3. Sepuluh kilometer dari puncak Merapi

Ini masih hangat, tetapi sampai sekarang saya masih bingung membayangkan sepuluh kilometer dari puncak Merapi. Gunung itu kan bentuknya cenderung segitiga, nah yang dikatakan 10 KM itu dari puncak (kawah) menuruni lereng hingga ke kaki gunung (misalkan baru 3 KM), lalu dilanjutkan ke daratan (7 KM), atau 10 KM dari kaki gunung itu ke dataran, atau dari puncak (kawah) ditarik garis lurus (di angkasa) sepanjang 10 KM (radius). Mana yang benar ?

Pertanyaan selanjutnya, apakah satuan ukuran (baru) itu bisa kita jadikan ukuran secara internasional ?

Selamat Menyongsong Idul Adha

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 5:32 pm

SELAMAT MENYONGSONG IDUL ADHA

Konon Idul Adha bermula dari peristiwa hendak disembelihnya Ismail AS oleh ayahandanya Ibrahim AS atas perintah Tuhan YME. Tuhan menguji kesetiaan Ibrahim AS pada setiap perintahNya sekalipun Ibrahim AS harus mengorbankan putra tunggalnya yang telah diidam-idamkan sejak lama kehadirannya.

Setidaknya, dari peristiwa tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa, apapun yang kita miliki (sebagai hak mutlak kita di dunia), harus kita serahkan (korbankan) untuk kepentingan (perintah) Tuhan. Lalu, apa saja hak mutlak kita di dunia ini ?. Tentu bisa berupa waktu (hidup), uang (harta-benda) yang kita peroleh, tahta (jabatan), keluarga, dan sebagainya. Hak-hak kita tersebut boleh dengan sekuat tenaga kita jaga dari orang-orang yang tidak berhak (maling, rampok, dan semacamnya), bahkan, bila kita harus mati karena mempertahankan hak kita tersebut, kita termasuk kaum syuhada (karena mati syahid).

Di setiap harinya, Tuhan meminta kita untuk berkorban. Contoh sederhana, kita diminta waktunya oleh Tuhan untuk ‘menghadap kepadaNya’ (sholat). Kita diminta untuk mambayar zakat, infaq, sedekah, dan sebagainya dari harta yang kita miliki. Kita diminta mengikhlaskan bila ada anggota keluarga kita yang meninggal, dan sebagainya. Khusus pada hari Idul Adha, kita diminta mengorbankan sebagian harta kita untuk menyembelih (membeli sembelihan) hewan ternak berkaki empat. Di sini letak ujiannya, bila Ibrahim AS berhasil diuji untuk mengorbankan anak tersayangnya, maka apakah kita akan berhasil jika diuji untuk mengeluarkan harta (kesayangan) kita, yaitu uang (hewan ternak) untuk dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya ?.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.