Bambang Wahyudi

30 October, 2010

Musibah = Laknat Tuhan ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:27 pm

MUSIBAH = LAKNAT TUHAN ?

Entah, dari dulu saya punya pendapat bahwa Tuhan tidak pernah jahat sama makhlukNya, sehingga saya tidak pernah setuju kalau musibah yang banyak menerpa bangsa kita adalah laknatNya. Saya amat yakin dengan kalimat yang selalu disebut berulang-ulang setiap waktu, yaitu “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Jadi, musibah lebih tepat jika dikatakan sebagai “sunatullah” atau “ketetapan Allah,” namun bukan karena tanggal 26 terkait dengan Surat ke-26 Alquran, maka malapetaka lebih banyak terjadi pada tanggal 26. Artinya, Tuhan (menurut saya) tidak menetapkan bahwa tanggal sekian akan ada malapetaka di suatu tempat, atau pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian jam sekian si Fulan akan meninggal dunia.

Karena saya biasa di dunia komputer, maka menurut saya, Tuhan adalah Maha Perancang Sistem sekaligus Maha Programmer. Artinya, ketia Ia menciptakan “sesuatu” maka di dalam ciptaanNya tersebut telah “ditanamkan” (embedded) sistem yang berlaku untuknya yang sistem tersebut juga akan terkait erat dengan sistem-sistem lain (termasuk dengan super sistemnya).

Jadi, ketika Tuhan menciptakan dunia, maka Ia menanamkan sistem untuk dunia. Ketika Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan, maka Ia menanamkan sistem untuk tumbuh-tumbuhan (misalkan, bila musim kering maka daunnya akan rontok), dan antara dunia dan tumbuh-tumbuhan ada keterkaitan sistemnya.

Jadi, berbagai musibah yang terjadi di negara kita bukanlah ‘ulah’ Tuhan, melainkan sistem Tuhan sedang bekerja. Bukit tanpa tumbuhan yang lebat akan menyebabkan tanah mudah longsor, sehingga ketika hujan lebat turun di atas bukit, penghuni lembah akan terkena banjir dan longsor, seperti terjadi di Wasior. Bisa jadi, di ‘perut’ Merapi memang sudah begitu penuh sehingga waktunyalah ia harus mengeluarkan isinya. Tinggal bagaimana penghuni di sekitar Merapi harus mengambil sikap. Begitu juga, bisa jadi akibat ‘perut’ bumi yang dikuras, bumi mencari keseimbangan dirinya, sehingga terjadi pergeseran yang bisa mengakibatkan gempa dan tsunami.

Kalau memang Tuhan mau melaknat, tentu Israel lebih cocok memperolehnya, atau kota judi Las Vegas, atau tempat-tempat maksiat lainnya. Kenapa harus Mentawai, Klaten, atau Wasior yang jauh dari hingar-bingarnya kemaksiatan dibanding kota-kota besar dunia lainnya. Wallahu’alam.

29 October, 2010

Juru Kunci

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 4:37 pm

JURU KUNCI

Saya agak bingung dengan maksud perkataan “juru kunci” yang akhir-akhir ini banyak disebut karena peristiwa Merapi. Adalah Mbah Maridjan yang dijuluki “juru kunci Merapi” yang akhirnya meninggal dunia karena sapuan awan panas yang menerpa dirinya. Mbah Maridjan dikenal sebagai pribadi sederhana yang lugu lagi bertanggungjawab, penuh pengabdian dengan apa yang diembannya, dan penuh canda tawa. Semoga arwah beliau kembali ke Pemiliknya dengan jalan yang mudah, aamiin.

Namun saya menjadi bingung ketika membandingkan dengan dua kalimat berikut ini: “Mbah Maridjan, juru kunci Merapi itu, kini telah tiada,” dengan “Indonesia menjadi juru kunci di kejuaraan bulutangkis China terbuka.” Jadi, apa arti juru kunci sebenarnya ?, di satu sisi sekilas bermakna “penjaga” namun di sisi lain bermakna “posisi terendah.”

Iseng-iseng saya mencari beberapa kata yang mengikuti kata “juru” yang umum digunakan. Saya dapatkan: “juru masak,” “juru mudi,” “juru parkir,” “juru ketik,” “juru bicara,” “juru rawat,” “juru penerang” dan sebagainya. Juru masak (koki) adalah orang (profesional) yang tugasnya mengolah masakan. Juru mudi (supir) adalah orang (profesional) yang bertugas untuk mengemudikan mobil. Juru ketik adalah orang (profesional) yang tugasnya membuat tulisan dengan mesin ketik, dan seterusnya. Jadi, kata “juru” adalah “orang yang berprofesi,” sehingga meskipun kita mahir menyetir mobil, kalau kita tidak berprofesi sebagai supir, maka kita tidak dapat disebut sebagai “juru mudi.”

Kata “kunci” terkait erat dengan “gembok” karena kunci digunakan untuk membuka gembok (baik dalam arti fisik maupun non fisik). Misalkan kalimat “kunci ini bukan pasangan dari gembok itu,” atau “belajar adalah kunci sukses mendapat nilai tinggi,”

Jadi, apakah “juru kunci” dapat berarti “orang yang berprofesi sebagai pemegang kunci ?.” Bisa jadi kalau itu adalah orang yang ditugaskan untuk memegang kunci masuk ke areal pemakaman yang tanpa kunci itu para pengunjung tidak bisa masuk. Lalu, apakah Mbah Maridjan benar-benar memegang kunci sehingga para pendaki (pengunjung) tidak dapat masuk areal pendakian tanpa membuka kunci yang dipegang Mbah Maridjan ?. Apakah Indonesia menjadi (negara) yang memengang kunci di kejuaraan bulutangkis tersebut sehingga tanpa Indonesia kejuaraan itu tidak dapat dilangsungkan ?.

Sepertinya ada beberapa makna dari “juru kunci,” yang pertama dan meyakinkan adalah “orang yang berprofesi sebagai…” Makna kedua sepertinya berkaitan dengan sisi software (batiniah), yaitu “orang yang secara batin mengetahui sifat sesuatu,” misalkan “Mbah Maridjan mengetahui sifat dari Merapi (sehingga ia menjaganya).” Makna ketiga bisa berarti “urutan paling buncit” atau “paling belakang,” misalkan “Indonesia menempati posisi paling akhir di kejuaraan bulutangkis China terbuka.” Jadi, kata “juru kunci” bisa dimaknai sesuai dengan kata-kata lain sebagai pembentuk kalimatnya, seperti kata “bisa” pada kalimat “kamu bisa mengerjakannya” dengan kalimat “kamu terkena bisa beracun.”

Kalau makna kata “juru kunci” pertama, kedua dan ketiga digabung, maka dapat diartikan: “Mbah Maridjan adalah orang terakhir yang berprofesi sebagai penjaga Merapi yang mengerti sifat Merapi.” Oleh karena itu, tidak akan ada lagi jabatan “juru kunci Merapi,” bila ada, maka penggantinya tidak mengerti sifat Merapi lagi. Mungkin saja, ketiga arti tersebut tidak akan pernah digabung menjadi satu pengertian sehingga akan diangkat orang baru sebagai “juru kunci Merapi” yang menggantikan Mbah Maridjan.

Bagi yang memiliki kamus, tolong beritahu saya, apa arti “juru kunci” tersebut, dan apakah kata “juru kunci” bisa digunakan di lingkungan kampus ?, misalkan “Kamu adalah juru kunci Universitas Gunadarma.”

23 October, 2010

Ayo, Mulai Menulis dengan Benar

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:14 pm

Kesalahan-kesalahan berbahasa dalam Konten Penulisan Ilmiah (PI)

Oleh: Bambang Wahyudi (bwahyudi@staff.gunadarma.ac.id)

Terkadang, kesalahan-kesalahan mendasar dan prinsipil mudah ditemui dalam sebuah penulisan ilmiah (PI, Skripsi, Tesis, Disertasi). Berikut ini beberapa kesalahan yang terjadi:

I. Kesalahan Pokok

Kesalahan ini menjadikan sebuah PI seperti sebuah buku atau laporan ilmiah. Beda PI dengan buku atau laporan ilmiah adalah, di PI ada tiga pokok bahasan utama, yaitu: (a) ada masalah, (b) ada teori (referensi), dan (c) ada pemikiran penulis dalam pemecahan masalah tersebut berdasarkan teori-teori yang ada.


Masalah yang akan dibahas diletakkan di bab-bab awal (misalkan di Bab I Pendahuluan). Bab I bisa saja terdiri atas (a) latar belakang masalah, (b) batasan masalah, (c) rumusan masalah, (d) tujuan penulisan, (e) metodologi penelitian, (f) sistematika penulisan, dan sebagainya.


Di latar belakang masalah (LBM), pembaca harus dapat menyimpulkan (mengetahui) masalah-masalah apa saja yang sedang dihadapi penulis sehingga si penulis perlu menyelesaikan masalah-masalah tersebut dalam PI-nya. Di LBM jangan sampai ada teori atau pemecahan masalah atau alat bantu yang akan digunakan untuk memecahkan masalah, apalagi ada kesimpulan. Ini yang sering tidak dicermati oleh penulis.


Contoh sederhana, seorang penulis ingin membuat sistem komputerisasi stok barang di sebuah toko material yang selama ini masih dilakukan secara konvensional tanpa bantuan komputer. Di LBM jangan disinggung-singgung kehebatan komputer, kemajuan teknologi, dan semacamnya, karena komputer justru akan digunakan sebagai alat bantu pemecahan masalahnya. Jadi, komputer tidak tepat dijadikan latar belakang masalah.


Lebih cocok bila di LBM ditulis masalah-masalah yang selama ini terjadi di toko tersebut, misalkan (a) kesulitan mengecek stok barang di gudang, (b) sering terjadi ketidakcocokan antara stok barang yang dicatat dengan stok barang yang ada di gudang, (c) sering terlambat dalam pemesanan barang untuk mengisi stok di gudang karena di catatan, jumlah barang tertentu masih banyak, ternyata kenyataannya sudah habis, (d) ketidakdisiplinan si pencatat mengakibatkan perbedaan jumlah stok barang di gudang dan di catatannya, dan sebagainya.


Sedang di batasan masalah (BM), bisa ditulis tentang pemilihan masalah dari sekian masalah yang dihadapi seperti tertuang di LBM. Jadi, tidak semua masalah di LBM akan dipecahkan di PI, silakan pilih yang mana yang akan dipecahkan. Oleh karenanya, di BM tidak perlu berisi batasan alat bantu pemecahan masalah yang digunakan, tujuan penulisan, dan sebagainya.


— sisanya bisa dibaca di tulisan saya yang lainnya —


Bab I ini selanjutnya akan berhubungan dengan Bab akhir (misalkan Bab IV Kesimpulan), khususnya hubungan antara tujuan penulisan dengan kesimpulan dan saran-sarannya.


II. Kesalahan Penggunaan Kata/ Kalimat


Masih terkait dengan butir I di atas, dapat dikatakan PI adalah karya pribadi (kelompok) yang dikerjakan sendiri (bersama kelompoknya). Dengan demikian, tidak boleh ada kata atau kalimat yang berinteraksi dengan pembaca (mengajak pembaca berpikir atau bahkan memerintah si pembaca).


a. Penggunaan kata ganti orang


Di PI tidak boleh ada kata ganti orang (khususnya untuk orang ketiga), misalkan kata “Anda,” “kita,” dan sebagainya. Bahkan, kata“saya,”  “kami,” “penulis,” dan semacamnya tidak perlu diadakan karena tanpa menyebut “penulis” orang juga tahu bahwa yang menulisPI ini adalah “penulis.”


Contoh kalimat: “Perlu Anda ketahui, bahwa penulis melakukan penelitian ini …..” seharusnya ditulis dengan “Perlu diketahui bahwa

penelitian ini dilakukan ….”


b. Penggunaan kalimat perintah

Di PI seluruhnya dilakukan sendiri oleh penulis, sehingga penulis tidak memiliki wewenang untuk memerintah pembaca. Contoh kalimat: “Setelah itu, kliklah tombol Enter untuk masuk ke …” yang seharusnya ditulis dengan “Setelah itu diklik tombol Enteruntuk masuk ke …”


c. Penggunaan kata/ suku kata “di”

“Di” bisa menjadi kata atau suku kata (bagian dari kata). “Di” menjadi kata apabila menunjukkan kata tempat, seperti “di atas,” “di samping,” “di Jakarta,” dan sejenisnya. “Di” menjadi suku kata jika dipadu dengan kata lain menjadi kata kerja, misalkan “diawasi,” “dilakukan,” “dijual,” dan sebagainya. Penulisannya, jika menjadi kata, harus dipisah dengan spasi dengan kata lain, dan ketika menjadi suku kata, penulisannya digabung.

III. Kesalahan dalam Kaidah Bahasa Ilmiah (dan Bahasa Indonesia)

a. Kata Sambung


Kaidah dalam bahasa ilmiah sering dilanggar (khususnya untuk bidang science). Misalkan penggunaan kata “dan.” Kata “dan” tidak boleh

dijadikan kata pembuka dalam sebuah kalimat karena kata “dan” merupakan kata sambung. Kata-kata lain yang senada dengan itu

misalkan kata “sehingga,” “maka,” “karena,” “yang,” “agar,” bahwa,” dan sebagainya.


b. Kata Majemuk

Kata “paru-paru” berbeda arti atau pembacaanya dengan kata “paru – paru” karena ada yang menggunakan spasi dan ada yang tidak.

Satu kata dengan kata lain dipisahkan dengan tanda spasi, artinya, kata “paru – paru” berarti ada tiga kata, yaitu “paru,” “-,“ dan “paru,”

yang jika dibaca oleh orang matematika adalah “paru dikurang paru.”


Jadi, penulisan kata majemuk tidak boleh menggunakan spasi.

Ada beberapa kesalahan lain, yaitu memajemukkan kata yang sudah majemuk. Kesalahan yang umum dilakukan adalah untuk kata

“data-data.” Kata “data” sesungguhnya sudah bersifat majemuk sebagaimana kata “air,” “udara,” dan semacamnya. Kita tidak dapat

mengatakan bahwa “setiap hari, saya minum air-air” untuk mempersepsikan bahwa setiap hari saya minum banyak air. Sebagai

penggantinya, kita bisa menggunakan ukuran, misalkan “setiap hari, saya minum berliter-liter air.”


Begitu juga dengan kata “data” (yang tunggalnya “datum” atau “fakta”). Kita bisa menggunakan kalimat perulangan “fakta-fakta,” atau

dalam bidang komputer dapat digunakan kata “files,” “bytes,” “records,” “databases,” dan sebagainya, tetapi kita tidak bisa

menggunakan kata “datas.”


— bisa dilihat catatan lain saya mengenai ukuran data di komputer —


IV. Kekonsistenan


Dalam PI, kekonsistenan penggunaan istilah (penulisan) sangat penting, dan bila ada istilah yang tidak lazim digunakan di masyarakat, kita harus membuat “Daftar Istilah” sebagaimana kita membuat “Daftar Isi,” “Daftar Gambar,” dan sebagainya. Daftar istilah tersebut menjelaskan arti atau maksud dari istilah yang digunakan di PI.


Contoh: “NunCollection” berbeda dengan “Nun Collection,” berbeda dengan “Nuncollection,” sehingga harus dipastikan, mana yang akan digunakan.


V. Bab Mengenai Teori


Sering si pembuat PI mengabaikan teori dasar dari masalah yang akan dibahas. Internet, web, dan sejenisnya bukan teori utama, melainkan sebagai teori pendukung. Sebagai contoh, jika kita membahas mengenai penjualan barang secara online, maka teori utama yang harus ada adalah teori mengenai pemasaran, jika kita membahas mengenai promosi melalui internet, maka teori yang harus ada adalah teori mengenai promosi, dan seterusnya.


VI. Bab Pemecahan Masalah

Dalam pembuatan PI, kita harus memposisikan diri sebagai siapa (yang jelas bukan sebagai mahasiswa). Misalkan, di toko material tersebut, kita sebagai Kepala Gudang, atau Pemilik Toko, atau Pegawai Toko, atau sebagai Penerima Order pembuat sistem, dan sebagainya.


Bila kita memposisikan diri sebagai orang yang menerima order untuk membuat sistem komputerisasinya, maka secara logis, langkah pertama yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah adalah melakukan analisis kebutuhan pengguna. Kita tidak dapat semena-mena merancang sistem sesuai kemauan kita sendiri tanpa mengajak kompromi si calon pemakai nantinya.


Analisis kebutuhan pengguna bisa berupa (a) perancangan lay-out input/ output, (b) struktur navigasi, (c) struktur jaringan, dan sebagainya.

Jadi, sistem yang nantinya akan digunakan sudah harus sesuai dengan keinginan si pemakai.


VII. Penggunaan Angka


Sudah jamak kesalahan yang terjadi di masyarakat, tetapi perlahan harus kita benahi, misalkan ucapan-ucapan berikut ini:

- HUT RI Ke 65

- HUT RI Ke-65

- HUT RI LXV

- HUT RI Ke LXV

- HUT RI Ke-LXV

Kelima ucapan di atas semua salah, karena sampai saat ini, RI hanya satu, tidak ada RI ke-enam-puluh-lima. Dengan demikian, yang dihitung (counter) bukan RI-nya, melainkan HUT-nya.

Jadi, ucapan tersebut yang benar adalah:

- HUT Ke-65 RI

- HUT LXV RI

Abjad Romawi lazim digunakan sebagai penghitung (ke-), misalkan III berarti ketiga (atau ke-tiga).

Lalu, apa bedanya menulis angka latin dan angka Romawi. Misalkan mengapa sila-sila Pancasila lebih tepat digunakan angka Latin dari pada angka Romawi ? (lebih tepat ditulis 3. Persatuan Indonesia, dari pada III. Persatuan Indonesia). Silakan Anda melogikakannya.


VIII. Penggabungan Kata

Hal yang paling sering ditemui adalah kesalahan dalam penggabungan dua kata. Masih banyak yang menulis “aktifitas,” atau “objektifitas,” atau “konektifitas,” dan semacamnya. Sesungguhnya, mereka adalah gabungan dari dua kata yang dijadikan satu kata: “aktif” + “vitas” yang seharusnya menjadi “aktivitas,” yang dalam bahasa Inggris ditulis dengan “activity.”


Begitu juga dengan gabungan antara kata “antar” dan “muka” menjadi “antarmuka.” Kata-kata lainnya, misalkan “antarkota,” “kacamata,” “intrasekolah,” “ketidakmampuan,” “ketidaktelitian,” dan sebagainya.


IX. Kesimpulan dan Saran

Bab mengenai kesimpulan dan saran bukan bab yang terpisah dari bab-bab lainnya. Kesimpulan bukanlah ringkasan, kesimpulan bukanlah apa-apa yang sudah kita lakukan sebelumnya, kesimpulan adalah jawaban atas pertanyaan: “apakah tujuan penelitian (seperti yang tertuang di Bab I) sudah atau bisa tercapai dengan selesainya PI ini ?.” Makanya, kesimpulan umumnya dibuktikan dengan kuesioner kepada pengguna yang berisi tentang kepuasan si pengguna dari sistem yang sudah dibuat.


PI tidak mengharuskan seluruh pengguna terpuaskan, baik sebagian maupun seluruh hasilnya. Ketidakpuasan atau kekurangan yang terdapat pada hasil sistem dapat dituangkan ke saran-saran. Jadi, saran adalah “kekurangan-kekurangan hasil penelitian yang bisa disempurnakan oleh penulis sendiri atau penulis lain di kesempatan-kesempatan berikutnya (future research).”


Demikian sekelumit catatan dari saya yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi diri pribadi maupun Pembaca sekalian.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.