Bambang Wahyudi

29 April, 2010

Mana yang lebih penting “Proses” atau “Hasil” ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:09 pm

Seperti pertanyaan “duluan mana, telur atau ayam ?.” Sebagian orang menjawab “telur,” karena tanpa telur, bagaimana bisa muncul ayam. Tapi banyak juga yang menjawab “ayam” dengan alasan, Tuhan tidak menciptakan telur, melainkan ayamnya. Banyak hal di dunia ini yang berpotensi menjadi bahan “debat kusir.”

Konon, kata “debat kusir” juga terjadi karena perdebatan antara seorang kusir dengan seorang penumpang dokarnya ketika kuda yang menarik dokarnya buang angin (kentut). Si kusir bilang “maaf, kuda saya memang sedang masuk angin,” tetapi si penumpang itu berkata, “kalau kentut itu bukan masuk angin, melainkan keluar angin.” Terjadilah perdebatan di antara mereka yang tidak selesai-selesai sampai si penumpang itu sampai tujuan.

Nah, yang berikut juga bisa dijadikan bahan perdebatan lain, yaitu “mana yang lebih penting, proses atau hasilnya ?.”

Jika ditilik dari hasil Ujian Nasional (UN), kelulusan seorang siswa diputuskan dari hasil, bisa atau tidak mengerjakan soal hingga menghasilkan nilai sesuai patokan yang telah ditetapkan. Tidak penting bagaimana (prosesnya sehingga) hasil itu diperoleh. Ini yang menjadi kecaman dari siswa atau guru. “Belajar tiga tahun hanya dinilai dari hasil UN saja,” “Dari puluhan mata pelajaran yang diajarkan, hanya lima saja yang dinilai sebagai keputusan lulus atau tidak,” dan banyak lagi keluhan serupa yang meminta “proses” pembelajaran dilihat dari awal hingga akhir.

Dalam banyak hal, memang “hasil” lebih dapat dilihat secara nyata dari pada “proses”nya. Misalkan di pengadilan, seorang yang terbukti menjadi maling ayam, akan dihukum sesuai tuntutan hukumannya, jarang dilihat bagaimana “proses” pencurian itu terjadi, misalkan apakah ia mencuri karena ia atau anggota keluarganya sedang kelaparan. Bisa jadi, jika prosesnya yang dipentingkan, justru si pemilik ayam itu yang dihukum karena membiarkan tetangganya kelaparan.

Seperti pada sholat, tujuan sholat adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Mana yang lebih penting, proses menjalankan sholatnya (misalkan rajin ke mesjid), atau lebih penting hasilnya, ia tidak sholat tetapi tidak berbuat keji dan tidak berbuat munkar ?. Apa yang akan orang katakan ketika ia mendapati orang yang rajin sholat tetapi suka menyakiti orang lain ?, apakah ia sudah sholat ?. Kalau harus memilih, mana yang harus dipilih ?

28 April, 2010

Menyoal Ujian Nasional Tingkat SLTA

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:21 pm

Dapat disaksikan berita di televisi beberapa hari ini, khususnya setelah hasil Ujian Nasional tingkat SLTA diumumkan. Mendiknas mengungkapkan, di seluruh Indonesia ada 267 sekolah yang tingkat kelulusannya 0%. Banyak siswa histeris, stress, brutal, bahkan ada yang sampai bunuh diri.

Aneh ?,

Mungkin bagi sebagian orang hasil ini dinilai begitu aneh, namun bagi saya, yang sering menjadi pengolah nilai di try-out SLTA di wilayah Jabodetabekar hal ini tidak begitu aneh. Saya merasakan penurunan nilai para siswa dari tahun ke tahun, dan saya yakin, di kota-kota dekat pusat pemerintahan saja hasilnya seperti ini, gimana yang jauh dari pemerintahan, apalagi di pelosok-pelosok desa sana.

Pentingkah UN ?

Menurut saya, Ujian Nasional memang penting dilakukan sebagai bahan evaluasi dan kajian bagi Pemerintah dalam menetapkan strategi pendidikan bangsa ke depan, namun bukan sebagai bahan kelulusan bagi para siswa. Kelulusan diserahkan saja ke sekolah masing-masing yang tahu persis kondisi si anak didiknya, baik dari segi kecerdasan maupun perilaku dan prestasi di bidang lain, seperti kesenian, olah raga, dan sebagainya.

Siapa yang Diuntungkan oleh UN ?

Banyak pihak yang merasa diuntungkan sehingga UN model seperti ini tetap diteruskan. Salah satu yang paling nyata adalah menjamurnya tempat-tempat bimbingan belajar. Positifnya, membuka lapangan pekerjaan. Negatifnya, perilaku sebagian siswa maupun pendidik menjadi buruk. Karena tidak ingin sekolahnya dinilai buruk, segala upaya (termasuk mencari bocoran soal) dilakukan mereka. Bisa dibayangkan, jika diumumkan Propinsi yang paling banyak sekolahnya yang tidak lulus (tingkat kelulusan 0%), pastilah si Gubernur malu (kalau masih punya rasa malu). Kalau diumumkan kota mana yang tingkat kelulusannya terburuk, pastilah Walikota akan malu (kalau rasa malu itu masih dimilikinya), demikian seterusnya sampai pada siapa guru yang mengajar, kok siswanya tidak ada yang lulus.

Lantas Bagaimana ?

Pendidikan adalah proses yang rumit. Orang juga kompleks. Apalagi kedua hal tersebut harus disatukan, mendidik orang. Kompleks karena akan terkait dengan guru (orang), terkait dengan fasilitas belajar (sarana dan prasarana), terkait dengan kurikulum dan silabus, dan terkait dengan iklim belajar (kondusif atau tidak). Untuk di kota Jakarta, kondisi kesejahteraan guru sudah lumayan baik, fasilitas relatif lengkap, kurikulum dan iklim belajar relatif sudah memadai, hasilnya banyak siswa yang lulus. Coba turun saja ke daerah timur Indonesia, apa sudah seperti itu ?, karenanya hasil evaluasi UN ini seharusnya menjadi cermin bagi pemerintah, di mana perhatian dan anggaran harus dikucurkan. Bukan dihabiskan untuk mengadakan pertemuan dan rapat-rapat dengan banyak kalangan guna membahas kelanjutan dari UN ini. Dipikir di kalangan sendiri saja bisa kok.

Ayo kerja, jangan hanya bicara !

25 April, 2010

Indahnya Persepsi

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 3:03 am

Saya amat yakin, belum ada satu orangpun pernah melihat Tuhan, apalagi pernah bercakap-cakap denganNya, sehingga ‘penggambaran’ tentang Tuhan tergantung persepsi masing-masing. Kita semua ‘mengenal’ Tuhan, bisa jadi dari para Ulama, dari orang tua, dari kitab-kitab karangan orang yang juga belum pernah ketemu Tuhannya, dan dari pengalaman-pengalaman diri pribadi dan dari orang lain.

Karenanya, tak patutlah kita merasa diri paling benar, memiliki persepsi yang paling baik, apalagi sampai bertanya dengan nada meremehkan orang lain yang seagama, “Apakah Anda Islam ?.” Silakan keyakinan kita, kita patri kuat-kuat dalam hati, tapi, kita tidak boleh mengganggu keyakinan orang lain, meskipun itu satu agama, apalagi dengan yang berbeda agama.

Bagi umat Islam, Tuhan “diperkenalkan” oleh para nabi, dan oleh Tuhan sendiri melalui kitabNya yaitu Alquran. Tapi, apakah penerimaan (persepsi) semua orang sama ?. Sama sekali tidak, pasti ada perbedaan antara satu (kelompok) dengan lainnya.Makanya ada mazhab, ada organisasi keagamaan, dan kelompok-kelompok lain yang memiliki kesepahaman (meski tidak mutlak seratus persen). Catatan sederhana, patutkah kaum Syiah memerangi kaum Sunny ?, patutkah umat Nahdhatul Ulama (NU) bersitegang dengan umat Muhammadiyah ?. Mengapa mereka tidak bersatu saja ?.

“Penggambaran” (sifat) Tuhan memang sangat fleksibel, makanya Tuhan adalah “sesuai dengan apa yang dipersepsikan seseorang.” Ada orang yang memiliki persepsi “Tuhan kejam” karena ia sering ditimpa musibah, ada yang berpersepsi “Tuhan tidak adil” karena ia dilahirkan dalam keadaan cacat, dan ada yang berpersepsi “Tuhan itu pemurah” karena ia hidup serba kecukupan. Meski ada juga orang yang sedang menderita sekalipun tetap berpersepsi “Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang.” Orang-orang yang selalu berprasangka baik (berpersepsi positif) dalam kondisi apapun terhadap Tuhan adalah orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Tugas orang-orang beriman kepada Tuhan sudah jelas, yaitu “bagaimana membuat persepsi orang lain menjadi selalu positif terhadap Tuhan.”

Contoh-contoh perbedaan: 1). Sifat-sifat Tuhan (dalam Islam) ada yang menyebut 99 sifat, ada yang menyebut 100 sifat, dan ada yang menyebut lebih dari itu. Selama itu berpersepsi positif, kenapa tidak ?. 2). Ada yang berkata surga itu sudah ada (buktinya nabi Adam telah terusir dari sana), dan ada yang bilang belum (sebelum kiamat, surga belum ada). 3). Ada yang berprinsip, cara beribadah ikuti orang-orang tua kita saja, tapi ada yang berpendapat, kaji lagi, siapa tahu orang-orang tua kita dulu salah, dan sebagainya.

Jadi, wajarlah bila ada satu “permasalahan” yang berbau agama dilontarkan, jawabannya bisa berbeda satu dan lainnya. Selama kita bisa membuka diri dan mengerti pendapat orang lain (“mengerti” belum tentu berarti menerima), maka silakan saja berdiskusi. Satu hal yang perlu kita perhatikan adalah, agama tidak menuntut orang hanya pandai berbicara (saja), melainkan “sejauh mana kita bisa memberi manfaat bagi orang lain.” Ciri sederhananya adalah, semakin kehadiran kita dirindukan oleh orang lain, maka semakin bermanfaatlah kita. Sebaliknya, semakin kehadiran kita dihindari orang lain, maka kita tidak bermanfaat di lingkungan itu.

14 April, 2010

Bodohnya Pemimpin Kita …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 5:48 pm

Seharusnya, seorang pemimpin tahu persis bagaimana budaya, adat istiadat, dan keyakinan para rakyatnya, dan seharusnya para pemimpin mengetahui bagaimana bernegosiasi dengan rakyatnya.

Tapi buktinya ?, kerusuhan tragis kembali terjadi di Tanjung Priok. Bak permainan catur, pion-pion diadu dan dikorbankan untuk mencapai maksud besar Sang Pemimpin.

Memang, kata Pak P seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, hal ini biasa-biasa saja dan memang akan terus terjadi sampai ada Pemimpin yang hebat. Malapetaka, bencana, tragedi dan semacamnya tidak akan berhenti di negeri ini.

Bagi sebagian orang, kuburan hanyalah tempat untuk menimbun jasad orang yang sudah tak bernyawa. Hanya itu. Karena doa kepada mereka yang meninggal bisa dilakukan dari manapun, tidak perlu datang ke makamnya. Namun, bagi sebagian orang lainnya, kuburan, khususnya kuburan para tokoh, adalah tempat keramat. Bisa saja bukan karena ingin berdoa secara langsung di sebelah makamnya, kadang tanah kuburannyapun diambil untuk dijadikan jimat. Tak jarang pula orang yang rela mati untuk mencegah penggalian, pemindahan, atau pengalihfungsian tanah di sekitar makam itu untuk keperluan lain, apalagi keperluan bisnis.

Pemimpin harus tahu itu, dan harus tahu pula bagaimana membuat strategi bila hendak melakukan kegiatan tertentu yang bersinggungan dengan tanah makam.

Dan perlu diketahui, bahwa rakyat saat ini sedang memendam emosi yang tinggi yang sangat mudah meledak bila ada pemicu sedikit saja. Apa sebab ?. Hidup semakin sulit, apalagi bagi kaum ekonomi lemah, sementara kaum elit dan ekonomi kuat demikian mudahnya mendapatkan uang. Bisa dibayangkan, nyogok seorang anggota DPR dalam pemilihan Deputi Gubernur BI saja sebesar Rp. 500 juta, Gayus yang pegawai rendahan saja bisa dapat puluhan miliar, dan seterusnya, sementara banyak dari mereka masih sulit mendapat makan sehari-hari. Merekapun tahu, koruptor banyak dari kepolisian, meskipun itu bukan dari pion-pion yang ada di lapangan saat kerusuhan itu.

Salah satu yang bisa membuat emosi rakyat mereda adalah adanya tempat ‘mengadu,’ yaitu makam sang Kiyai. Kita tidak dapat menyalahkan mereka. Itulah hebatnya sebuah keyakinan, mereka berani mati dengan keyakinan yang mereka pegang teguh.

Sekali lagi, menjadi seorang pemimpin jangan lagi bertindak sebagai penguasa. Pemimpin di era demokrasi adalah pemimpin yang mengerti apa yang dikehendaki rakyatnya, bukan menantang rakyatnya.

12 April, 2010

Susno Duadji, Pahlawan yang Masih Hidup

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:45 pm

“Susno ditangkap !” seru istri saya.

Benar, menyaksikan berita di TVOne dan di Metro, terpampang jelas bahwa Susno Duadji ‘ditangkap’ di Bandara Soekarno-Hatta ketiak beliau hendak berobat ke Singapura. Singapura ?, memang di Indonesia tidak ada dokter atau rumah sakit yang setara dengan di sana ?. Kata orang-orang kaya, dan bukti yang ada selama ini, memang di Singapura-lah rumah sakit yang banyak dikunjungi orang-orang berduit dari Indonesia. Katanya, di Singapura perhatian dokter dan petugas rumah sakit lebih telaten, lebih ramah, dan selalu mengajak pasien atau keluarga pasien berdiskusi dalam memutuskan segala bentuk tindakan.

Ah, lupakan Singapura, yang juga sering dijadikan penjahat kerah putih negeri ini melarikan diri beserta hartanya.

“Ditangkap ?” kok tanpa surat penangkapan. Masuk akal, jika seorang pencopet hanya bisa ditangkap oleh Polisi dengan membawa surat penangkapan, yah tentu sudah kabur entah kemana. “Tidak ditangkap, hanya dimintai keterangan karena telah melakukan pelanggaran disiplin, yaitu akan pergi ke luar negeri tanpa ijin Kapolri.” Kenapa meminta keterangan harus dibawa ke markas kepolisian ?, toh cegah dan tangkal (cekal) juga tidak diberlakukan kepadanya ?. Seharusnya, tunggu dulu Susno pulang dari Singapura dan baru kenai sanksi indisipliner karena telah pergi ke luar negeri tanpa ijin Kapolri. Kalau baru mau pergi ?, gimana pasal itu bisa dikenakan ?.

Pasti ada ‘apa-apa’ di balik penangkapan Susno Duaji.

Biar orang berkata Susno adalah orang yang ‘maling teriak maling,’ biar orang bilang ‘pahlawan kesiangan,’ biar orang bilang ‘dia pasti juga pernah korupsi,’ biar orang bilang ‘dia sudah kepalang basah,’ atau ada juga yang bilang ‘dia sakit hati,’ tapi bagi saya ‘dia orang hebat !.’ Hebat karena ia berani mengungkap kebusukan di ‘rumahnya’ sendiri yang sudah berpuluh-puluh tahun tak ada yang berani mengungkapnya, hebat karena ia ‘memiliki bukti yang kuat’ keterkaitan kepolisian dengan orang-orang yang ‘menyuapi’ lembaganya. Hebat karena ia tidak takut mati.

Kalau saja ada Parpol yang ‘menarik’ Soesno Duadji jadi calon Presiden RI 2014-2019 dan salah satu misinya adalah “membuat penjara terbesar di dunia serta akan memenuhi isinya dengan para koruptor,” saya pasti akan memilihnya.

7 April, 2010

Fatwa MUI ?, cuek ajalah…

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 4:06 pm

Mungkin sudah lebih dari lima tahun saya total berhenti merokok. Teman-teman, sanak-saudara, dan tetangga-tetangga kadang meledek, mengiming-imingi rokok ke saya agar saya kembali merokok atau niat saya berhenti merokok hanya sesaat saja. Namun sayang, mereka tidak ada yang berhasil, karena saya berhenti merokok bukan karena alasan dilarang, bukan karena alasan dosa, apalagi hanya karena alasan fatwa haram MUI.

Bila saya kenang kembali “kesadisan” saya merokok, ketika itu saya lagi senang menulis, kebetulan saya menulis buku pelajaran (Alhamdulillah, sudah beredar di pasaran nasional). Mulai menulis jam sepuluh malam hingga subuh. Saya menulis di dalam kamar ber-AC. Minimal satu bungkus Dji Sam Soe kretek selalu menemani saya, sementara istri saya tidur di sebelah saya. Apalagi ketika saya menemukan rokok yang semuanya tembakau (lisong = cerutu), saya ganti rokok Dji Sam Soe dengan itu. Jika orang biasanya merokok lisong dalam satu hari dua batang, saya merokok pada saat menulis (sekitar lima jam per hari) sebanyak sepuluh batang. Istri saya sering terbangun tengah malam atau pagi-pagi buta karena menjadi terbatuk-batuk.

Suatu saat, tak sengaja saya terantuk pada suatu kondisi di mana saya harus berpikir, bahwa ada keponakan kembar saya (yang yatim karena ayahnya sudah meninggal) sudah duduk di bangku SMP kelas tiga yang akan segera masuk ke SMA. Ibunya bingung karena untuk masuk SMA beliau kesulitan menyediakan uang Rp. 500.000,00. “Masya Allah !” uang sebesar itu masih di bawah uang rokok saya sebulan, ia sudah kebingungan. Saya merasa berdosa jika tidak sanggup membiayainya.

Pendeknya, Alhamdulillah kedua anak kembar itu kini berada di rumah saya dan sekarang sudah duduk ke semester IV FE-Gunadarma setelah sebelumnya kakaknya sudah lulus dari Filkom Gunadarma dan sekarang mulai bekerja di bank Mandiri. Mereka saya biayai dengan sebagian besar hasil dari konversi kebutuhan rokok saya ke kebutuhan pendidikan mereka.

Bagaimana cara saya memberhentikan merokok ?. Saya memang suka berpikir yang kadang nyleneh (tidak mengikuti kebiasaan orang lain, atau melawan arus, atau bahasa kerennya think different). Kalau orang-orang kebanyakan memberhentikan kebiasaan merokok dengan mengurangi ‘takaran’ rokoknya, saya malah sebaliknya. Jika satu hari biasanya saya menghabiskan 32 batang rokok Dji Sam Soe, maka dalam dua hari terakhir, saya menghabiskan 64 batang rokok Dji Sam Soe per harinya. Akibatnya ?. Tenggorokan panas dan gatal, batuk terus menerus dan terasa mual jika tercium bau asap rokok. Sejak saat itu saya berhenti merokok. Sampai sekarang, jika tercium bau asap rokok, mual masih terasa. Namun, jika ada rekan yang merokok di dekat saya, rasa mual itu saya hilangkan dengan sering meneguk air atau makan permen.

Produktivitas menulis jadi menurun ?. Tidak, buku kedua saya sudah beredar lagi di pasaran nasional, isinya bahkan tiga kali lebih tebal dibandingkan buku pertama ketika masih merokok. Istri bahagia karena tidak lagi terganggu asap rokok ketika tidur, dan biaya hidup dan biaya kuliah si kembar lancar-lancar saja. Alhamdulillah, Aamiin.

Apakah Saya Anti Rokok ?

Saya tegaskan, jika Anda belum (atau sudah berhenti) merokok, maka jangan coba-coba untuk melakukan (mengulangi)nya !. Tetapi bila Anda perokok, nikmatilah !.

Kalau saya melarang orang merokok, maka ia bisa berkilah “silakan Anda larang dulu orang yang naik motor atau naik mobil, karena asap knalpot motor atau mobil jauh lebih berbahaya dari asap rokok, bahkan bisa merusak lapisan ozon dan akibatnya merusak alam.”

Kalau saya katakan “MUI mengharamkan rokok” mereka (perokok) bisa berkilah “Memang MUI Tuhan ?.”

Memang, saya pribadi masih meragukan hasil penelitian yang mengatakan bahwa pada setiap batang rokok ada ribuan zat kimia berbahaya (racun) yang dapat merusak tubuh. Merusak tubuh (diri sendiri atau lingkungan) adalah perbuatan aniaya yang jelas dilarang agama. Jadi intinya yang diharamkan adalah aniaya, bukan sekadar rokoknya. Seperti minum bir, inti yang dilarang adalah hilangnya kesadaran diri (mabuk)nya. Nah, karena kekuatan orang berbeda-beda, maka secara umum (diumumkan/ difatwakan) bahwa merokok dan minum bir itu haram. Kalau ada orang yang masih merokok dan minum bir ?, silakan saja (dosa itu urusan Tuhan, bukan urusan saya), tapi, bagi sesama manusia, kita harus saling menghormati. Silakan Anda merokok, silakan Anda minum bir, tapi jangan sampai merugikan orang lain (lingkungan), nikmati saja sendiri.

Toh, mbah-mbah saya semua meninggal hampir bahkan ada yang melebihi usia 100 tahun, padahal mereka semua perokok berat. Tidak pernah masuk rumah sakit, tidak pernah sakit berat. Saya meragukan hasil penelitian rokok di atas karena saya yakin, rokok yang diteliti adalah rokok-rokok produk Amerika dan sekutunya. Silakan Anda ambil satu batang rokok, misalkan Marlboro, keluarkan isinya dan rendam di dalam segelas air. Tidak akan lama saus dari ‘tembakau’ rokok itu akan menjadikan air berwarna keruh, dan tembakaunya adalah kertas koran. Jadi, bukan tembakau alami.

Dan lagi, mungkin rokok mbah-mbah saya adalah ‘klembak menyan’ yang tidak ada di Amrik sana. Bila mereka menelitinya, bisa jadi, karena ada kemenyan, seluruh racun yang ada di tembakau akan netral atau bahkan berubah menjadi obat, siapa tahu ?.

Jadi, kesimpulannya, jika Anda mau tetap merokok, silakan nikmati, tapi tolong hargai orang yang tidak suka merokok (aktif maupun pasif), merokoklah di tempat khusus merokok yang Anda dan kelompok perokok lainnya berkumpul. Lalu, lihat sekeliling Anda, apakah Anda sudah membantu saudara-saudara yang masih butuh bantuan. Bila sudah, hisaplah rokok Anda dalam-dalam, dan nikmati setiap embusan asap yang Anda keluarkan…., tidak perlu menghiraukan fatwa MUI, kecuali Anda memang di bawah organisasinya.

Bila Anda bukan perokok (tidak lagi merokok), maka hiruplah udara segar dalam-dalam, nikmati setiap embusan udara kotor dari tubuh Anda mengalir keluar meninggalkan Anda jauh-jauh, jangan pusingkan fatwa MUI, fatwa Anda sendirilah yang terbaik bagi diri Anda.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.