Sejarah Singkat Penulisan Ilmiah di UG
Seperti diketahui, bahwa ASKI (Akademi Sains dan Komputer Indonesia) adalah generasi pendahulu dari Universitas Gunadarma. Sebagai akademi, maka silabus yang disediakan untuk enam semester. Lalu, apa “gong” mereka (mahasiswa) untuk dinyatakan lulus setelah menempuh seluruh kewajibannya dalam enam semester ?.
Mengacu pada Perguruan Tinggi Negeri di mana banyak pengajar (dosen) ASKI bernaung, dan berdasarkan pemikiran-pemikiran beliau-beliau, maka ditetapkan, “gong” untuk mahasiswa dinyatakan lulus adalah melaksanakan Seminar Penulisan Ilmiah. Jadi istilah untuk mempertanggungjawabkan PI disebut dengan “Seminar” dan untuk mempertanggungjawabkan skripsi (S1) disebut dengan “Sidang” (ada setelah menjadi Sekolah Tinggi).
Mengapa Penulisan Ilmiah (PI)?
Berdasarkan pengalaman beliau-beliau mengajar, banyak mahasiswa yang tidak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya melalui tulisan ketika diminta membuat tugas-tugas atau latihan. Apalagi jika harus dikaitkan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, apalagi jika harus dikaitkan lagi dengan tata cara penulisan keilmiahan, dan satu lagi, seorang alumni, minimal pernah melakukan penelitian ilmiah di masa mereka masih kuliah.
Waktu itu, sangat terbukti, mahasiswa-mahasiswa yang sedang memperoleh tugas PI, kesulitan dalam menyampaikan pikirannya dalam selembar kertas saja (dulu belum banyak contekan atau contoh PI lain). Hanya menulis satu lembar saja saya harus bolak-balik ke Prof. Dali S. Naga (dulu masih S1) dengan coretan yang banyak.
Saya ingat pertanyaan beliau “Apa masalah yang akan Saudara teliti ?”
Saya jawab “Masalah pergudangan, Pak..”
Beliau bilang “Itu bukan masalah !”
Saya bilang lagi “Masalah stok barang, Pak”
Beliau bilang “Itu juga bukan masalah !”
Apapun yang saya jawab, semua dikatakan bukan masalah. Jelaslah jika tulisan saya juga dicoret-coret. Setelah sekian lama, mengertilah saya, ternyata yang disebut dengan masalah adalah “kalimat tanya.”
“Pernah dengar anak kecil bertanya berapa lima ditambah tiga, atau semacam itu ?” tanya Beliau.
“Pernah Pak” jawab saya.
“Itu masalah bagi anak itu, kalau anak itu sudah tahu, bukan lagi masalah baginya, begitu juga Saudara, kalau Saudara sudah tahu jawabannya, maka tidak lagi menjadi masalah” jelasnya.
Pola-pola pikir seperti itu yang sering diabaikan oleh mahasiswa yang akan menyusun PI. Sampai saat ini, banyak tulisan tentang Latar Belakang Masalah di PI setelah dibaca ternyata tidak ada masalahnya, justru yang banyak ada (di banyak PI) adalah judul tulisan, dan tujuan penulisan. Entah ini kelalaian Pembimbing atau memang Pembimbingnya juga tidak mengerti bagaimana menulis tulisan ilmiah ?.
Pertemuan PI di Kelas
Keputusan ini diambil sekitar 10 tahun lalu. Sebelumnya, tidak ada tatap muka di kelas untuk PI. Keputusan itu diambil karena sekitar 90% dari mahasiswa yang belum lulus tepat waktu adalah mahasiswa yang belum menyelesaikan PI-nya.
Jadi, ketika itu ada hambatan kelulusan mahasiswa dari faktor PI. Berdasarkan laporan (di Raker), penyebab terbanyaknya adalah sulitnya menemui dosen pembimbing, dan kesulitan mahasiswa menuangkan pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Akhirnya diputuskalah bahwa Dosen Pembiming bertatap muka di kelas dengan bimbingannya sebanyak 8 kali pertemuan. Diharapkan dengan 8 kali pertemuan itu, mahasiswa bisa selesai membuat PInya. Meski harapan ini tidak sepenuhnya bisa direalisasikan. Amati saja, nanti (Juli-Agustus) yang seharusnya merupakan masa-masa libur kuliah, malah di saat itu mahasiswa banyak berkeliaran di kampus. Salah satu keperluannya adalah bertemu dosen pembimbing untuk menyelesaikan PInya.
Kelemahan PI Sekarang
Setelah sekian lama diberlakukan, PI sudah menggunung (berbagai masalah telah dipecahkan di PI) sehingga mahasiswa tidak mungkin mendapatkan masalah baru. Jeleknya, mahasiswa suka sekali mencontoh apa yang sudah ada. Baca saja kalimat atau alinea pertama di Latar Belakang Masalah, hampir semua memuji-muji perkembangan jaman, kemajuan teknologi, dan semacamnya. Padahal itu bukan dijadikan masalah, justru untuk dijadikan penyelesaian masalah yang harusnya ada di Bab Penyelesaian Masalah.
Kelemahan lain adalah dalam hal bahasa pemrograman (khusus untuk komputer), silakan tanya saja jika sedang membimbing atau menguji PI, “siapa yang membuat programnya ?,” sebagian besar menjawab “dibantu teman.” Dibantu sih tidak apa-apa, coba desak lagi dengan pertanyaan “statement …. jni untuk apa ?,” sebagian besar dari mereka mulai terdiam dan tunduk malu.
Jadi, banyak mahasiswa (senior) atau alumni atau rental-rental yang menawarkan pembuatan program komputer kepada pembuat PI, karena masalahnya dari waktu ke waktu ya itu-itu saja, mereka paling modifikasi sedikit programnya.
Kalau sudah begini, gimana ?
Untuk meyakinkan, maka tolong Dosen Pembimbing selalu menanyakan perkembangan penulisan mereka, mulai dari menyusun kata, kalimat, hingga ke pembuatan programnya. Uji ketika mereka mulai membuat.
Ketika saya uji dengan pilihan mana dari kalimat berikut ini yang paling benar, mereka terpecah-belah jawabannya:
1. HUT RI Ke 64
2. HUT Ke 64 RI
3. HUT RI Ke LXIV
4. HUT Ke LXIV RI
5. HUT RI Ke-64
Ada yang menjawab 1, 2, 3, 4, 5 , padahal kelima jawaban di atas tidak ada yang benar….
Tulisan yang sangat menginspirasi, saya jadi lebih mengerti bagaimana menulis suatu penulisan yang baik, tidak hanya PI akan tetapi skripsi yang akan saya buat.
Seperti yang dibicarakan Penulis, memang setiap saya membaca reverensi penulisan semua penulisan hampir memakai kata “perkembangan teknologi saat ini……..” jika dipikirkan baik-baik, itu bukan seuatu masalah, akan tetapi sebagai suatu kebaikan untuk kemajuan.
Terima kasih karena sudah memberikan wawasan seperti penulisan di atas.
Jwb. Syukurlah kalau tulisan ini bermanfaat.Sukses buat Anda.
Comment by rindy nurhafita — 24 March, 2010 @ 10:47 am
“Tidak selamanya Rumusan masalah harus dinyatakan dalam kalimat tanya, karena kalimat tanya tidak serta-merta menggambarkan masalah yang harus dicarikan solusinya”. Mahasiswa PI kita banyak yang terjebak oleh cara-cara penulisan lama yg sudah turun-tenurun diwariskan. Sebaiknya kita jangan sampai tidak tidak menyadari bahwa ada reformasi metode dan inovasi terbaru dalam hal menulis ilmiah. Jadi Rumusan masalah bisa saja disajikan dalam bentuk narasi bahkan eksposisi.”
Jwb. Silakan saja. Bagi saya, tidak selamanya reformasi menghasilkan sesuatu yang pasti lebih baik dari yang sebelumnya
Comment by ydnugra — 25 March, 2010 @ 11:12 am
Wah, memberikan inspirasi sekali tulisannya, Pak. Saya baru benar-benar menyadari, bahwa yang namanya mengerjakan PI/Skripsi itu bertumpu pada “pemecahan masalah”-nya. Jadi, bisa memberikan fokus kepada pembuatan PI/Skripsi. Terimakasih, Pak.
Jwb.: Ya.., ada perbedaan mendasar antara membuat PI, membuat buku, membuat laporan ilmiah, atau membuat novel…, selamat berkarya !.
Comment by Reza Lesmana — 25 March, 2010 @ 2:52 pm
Kata-kata yang bapak tulis sangat menjadi inspirasi buat saya dan membantu saya untuk bisa menyusun PI pada semester 6 nanti. Selain itu saya juga lebih mengerti bagaimana untuk menulis PI yang baik.
Terimakasih,Pak.
Jwb.: Nah, untuk mencapai ke sana, tolong perhatikan setiap detil yang Saudara lihat, dengar, baca, atau ucapkan sehari-hari. Misalkan, jangan menulis di depan kaca mobil, tulisan “DI JUAL”, tetapi seharusnya: “DIJUAL” dan banyak lagi. Sukses !
Comment by narulita eka desiana — 1 October, 2010 @ 10:44 am