Bambang Wahyudi

3 February, 2010

Pengayuh Sepeda vs Pengendara Mobil Super Mewah

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:08 pm

Tulisan ini diilhami oleh filosofi dari pak Ravi dan bu Rahma bahwa kemampuan beragama seseorang ibarat kendaraan yang dimilikinya. Agama adalah kendaraan untuk menuju keabadian. Ibu Rahma juga bilang kalau persepsi seseorang tergantung dengan tingkat ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tersebut. Persepsi membawa jiwa seseorang menuju keabadian.

KENDARAAN

Apa yang salah jika seseorang naik sepeda ke tujuannya, dan apa yang salah jika seseorang naik mobil super mewah ke tujuannya ?. Tidak ada yang salah, memang kemampuan sesorang dengan orang lain berbeda-beda. Tetapi, haruskah pengendara mobil super mewah tersebut berbuat semena-mena kepada pengendara sepeda di jalanan ?. Tentu tidak, semua ada aturan dan hukumnya, bahkan seorang pengendara mobil super mewah itu harus ekstra hati-hati agar mobilnya tidak tergores sedikitpun, apalagi hanya karena sepeda !.

Konotasinya adalah, seorang yang alim (baik dalam ilmu agama seperti kiyai, maupun ilmu pengetahuan umum, seperti sarjana), hendaknya ekstra hati-hati dalam berucap dan berperilaku. Tetap saja bagi mereka tidak ada kepantasan sedikitpun untuk mengecilkan atau meremehkan atau merendahkan derajat orang-orang di bawahnya. Orang yang berhasil adalah orang yang bisa membuat orang lain berhasil, tetapi tetap tidak boleh memaksa. Maka pantaslah bila surga juga memiliki tingkatan-tingkatan yang setiap tingkat dihuni oleh penghuni-penghuni sesuai tingkatan ketakwaannya (kealiman) masing-masing.

ILMU PENGETAHUAN

Ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh seseorang dengan cara belajar, tidak ada cara lain. Belajar hanya akan diperoleh dengan cara membaca, tidak ada cara lain. Karenanya, ayat pertama yang disampaikan ke nabi Muhammad adalah “iqra” (bacalah). Membaca dapat diartikan membaca tulisan, namun secara luas dapat diartikan dengan mengamati (mengambil pelajaran dari suatu kejadian). Belajar bisa secara formal (SD-SM-SMA dan seterusnya), non formal (kursus dan sejenisnya) maunpun informal (dari pengalaman orang lain, mendengarkan ceramah di radio, dan sebagainya).

Ingat-ingat saja sejak masa kanak-kanak ketika kita diceritakan tentang kekuasaan Tuhan sampai saat ini jika kita mendengar ceramah tentang kekuasaan Tuhan, maka persepsi kita tentang Tuhan bisa berubah-ubah sesuai tingkatan pengetahuan kita. Namun Tuhan sudah menggariskan bahwa “berprasangka baiklah kepadaKu.” Artinya berpresepsi baiklah untuk Tuhan dalam kondisi seburuk apapun. Secara sederhana, mengapa Tuhan menciptakan nyamuk sehingga jutaan orang menderita penyakit, mulai dari DBD hingga kakigajah dan sebagainya. Kita harus tetap berprasangka baik kepada Tuhan karena jika sekarang nyamuk ditiadakanNya, maka berapa juta orang kehilangan mata pencahariannya (dari pekerja di pabrik pembasmi nyamuk dan keluarganya, dari buruh-buruh fogging, dokter-dokter, peneliti-peneliti yang terkait dengan itu).

NASIB dan TAKDIR

Nah, ini persepsi saya mengenai nasib dan takdir (sesuai pengetahuan saya, dan ini tentu saja terbuka untuk diperdebatkan). Nasib adalah suatu kejadian atau ketetapan di masa lalu yang masih ada kesempatan diperbaiki di saat kini dan masa datang, sedangkan takdir adalah kejadian atau ketentuan yang telah terjadi atau telah ditetapkan di masa lalu yang tidak dapat diperbaiki kembali di masa sekarang maupun di masa depan. Masa lalu bisa saja sedetik yang baru saja berlalu.

Contoh: kematian seseorang adalah takdir, karena tidak dapat hidup atau dihidupkan kembali. Matahari terbit dari timur adalah takdir karena tidak bisa diubah, adanya nyamuk juga takdir karena sudah ketetapanNya. Pun adanya surga dan neraka adalah takdir, karena sudah ditetapkanNya sejak dulu (meskipun kata orang sekarang ini belum ada).

Orang jahat adalah nasib karena suatu saat bisa jadi, ia akan menjadi seorang ulama, kecuali sampai mati ia terus jahat, “Ia memang ditakdirkan sebagai orang jahat.” Jodoh kita saat ini adalah nasib, karena bisa jadi suatu saat akan berpisah (cerai), tetapi kalau keduanya berpisah hanya karena takdir (kematian), maka jodoh mereka juga bisa disebut dengan takdir, “mereka memang ditakdirkan untuk berjodoh.”

Orang yang gagal lulus tes masuk menjadi anggota TNI adalah nasib bila di tahun depan ia masih bisa kembali mengikuti tes, namun takdir bila sudah tertutup kemungkinannya untuk menjadi anggota TNI selamanya.

KESIMPULAN

Menurut saya (terbuka untuk diperdebatkan), Tuhan telah menciptakan takdir-takdirnya (ketetapan-ketetapan) sebelum menciptakan manusia. Ketika manusia pertama ditakdirkanNya ada, maka selanjutnya, ketentuan-ketentuan Tuhan itulah yang bekerja (Tuhan bersemayam di Arasy). Penciptaan-penciptaan manusia berikutnya sudah ada campur tangan orang lain (orang tuanya) “ridho Tuhan sesuai ridhonya orang tua.” Karenanya, jika di suatu daerah terlanda bencana, maka itu karena ketetapan Tuhan sedang berjalan di daerah itu, bukan karena Tuhan murka kepada penduduk di daerah itu (berprasangka baik kepada Tuhan, Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang). Kenapa nantinya ada orang yang masuk surga dan neraka ?, itu karena ketetapan-ketetapan Tuhan, jika ia menjadi orang alim, maka surgalah balasannya, dan sebaliknya. Apakah kita akan masuk surga atau neraka ?, ikutilah ketetapan-ketetapan itu, saat ini kita belum ditakdirkan masuk ke mana. Di mana kita bisa tahu ketetapan-ketetapan Tuhan ?, dalam Islam sudah jelas, Alquran dan hadits.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.