Bambang Wahyudi

30 January, 2010

Persepsi oh persepsi …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:38 pm

Manusia menjalani hidup dan kehidupannya berlandaskan pada persepsi dirinya. Persepsi berkaitan erat dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karenanya, sering persepsi antara satu orang dengan orang lainnya membuat mereka bersilang pendapat hingga ke tingkat yang sangat kritis. Satu kata kunci dalam bergaul antarsesama, yakni “maklum.”

Sangat mungkin, tidak ada persepsi yang sama, karena pengalaman dan pengetahuan orang berbeda-beda. Contoh sederhana, jika kita melihat budaya “mencuci keris pusaka,” maka persepsi kita bisa bermacam-macam. Ada yang bilang “itu musyrik,” ada yang bilang “itu penghormatan bagi alam,” ada yang bilang “itu budaya yang harus dilestarikan,” ada yang bilang “repot amat pakai dicuci segala,” ada yang bilang “kegiatan ini menghidupi rakyat miskin (penjual kembang),” dan banyak lagi yang lainnya.

Pun dalam beragama, pendapat atas satu kejadian atau satu ayat, bisa berlainan persepsi. Ada yang bilang “neraka itu sekarang belum ada karena dunia belum kiamat” ada yang bilang “neraka itu sudah ada, nabi Muhammad pernah diperlihatkan,” ada juga yang bilang “neraka itu hanya simbol pembalasan, bukan secara fisik,” ada juga yang bilang “neraka itu sudah dimulai di dunia ini,” dan sebagainya.

Saya senang dengan balasan pak Ravi atas tulisan saya “Apa itu Islam ?.” Beliau berkata, semua nabi adalah Islam, meskipun mereka tidak pernah naik haji. Yang saya persepsikan atas jawaban itu adalah “Islam bukan dibawa oleh Muhammad, melainkan oleh seluruh nabi, termasuk nabi Isa AS” dan “ritual keagamaan dijalankan sesuai jamannya,” yang tentu saja nabi Isa AS tidak pernah naik haji. Jadi, pertanyaan saya tetap berlaku “Apa itu Islam ?.”

Saya juga prihatin atas “kegelisahan” bu Rahma yang menurut persepsi saya “banyak orang yang menentang pendapatnya dalam beragama,” maksud beragama bisa saja “menerjemahkan ayat-ayat” dan sebagainya. Jika kita kembalikan ke nilai-nilai persepsi, maka di sana ada prasangka, praduga, prakiraan, dan sebagainya. Ada orang tua yang menasihati anaknya dengan “kalau mencari jodoh, jangan dengan suku …, nanti kamu pasti diduakan,” atau “tampangnya saja begitu, pasti dia tukang tipu,” dan sebagainya.

Jadi, kembali kepada kata “maklum.” Maklumlah, kata pepatah “rambut sama hitam pendapat bisa berbeda-beda.” Kalau ditambah dengan guyonan almarhum Gus Dur lebih canggih lagi jadinya, “maklumi saja, gitu aja kok repot !.”

Kalau saya tidak banyak maklum, mungkin orang yang saya bunuh sudah banyak. Kata-kata yang menyakitkan baik yang ditujukan ke diri sendiri maupun ke agama saya sudah banyak saya dengar dan saya terima. Untunglah Tuhan memberi saya kesabaran yang lebih, “jangan memecahkan masalah dengan masalah.”

Saya bergaul dengan orang yang (pemikirannya) sangat alim, istilahnya “berpikir membunuh nyamukpun tidak tega,” sampai yang menyatakan “Tuhan memiliki banyak kelemahan.” Ini pendapat yang sangat ekstrem yang sangat jarang orang berani katakan atau berani tulis. Ia katakan bahwa (contoh) kelemahan-kelemahan Tuhan adalah “1. Tuhan tidak bisa menciptakan tuhan-tuhan lain yang setara dengan diriNya, 2. Tuhan tidak mau menyalahi aturan-aturan yang telah ditetapkanNya sendiri, misal, menerbitkan matahari dari utara, 3. Tuhan tidak bisa membuat seekor gajah berjalan melewati lubang jarum.”

Belum lagi bergaul dengan orang-orang yang suka klenik, persepsinya sering “tidak masuk akal,” bayangkan saja “ada martil besar menyumbat lehernya,” atau “penyakit Anda sudah saya pindahkan ke ayam,” dan sebagainya. Lagi-lagi kuncinya “maklum, gitu aja kok repot.”

Pernah juga suatu saat, saya sholat Jumat di bilangan Pancoran, Jakarta. Sang Khatib berceramah bahwa “setiap diri ini sudah ada takdirnya, termasuk takdir kita nanti akan masuk surga atau neraka.” Wah !, perbedaan pesepsi dengan saya nih. Kalau saya sudah ditakdirkan masuk surga atau neraka sejak lahir, dari sekarang saya berbuat sebrutal-brutalnya saja, ngapain beralim-alim ?. Toh kalau akhirnya masuk neraka, ya memang sudah pantas, kalau masuk surga, wow nikmat sekali, di dunia foya-foya kejahatan, di akhirat masuk surga. Dari pada saya harus capek beralim-alim di dunia, kalau akhirnya masuk neraka juga.

Jadi, pertanyaan saya adalah “Apa beda nasib dan takdir ?.”

9 January, 2010

Apa itu “Islam ?”

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 4:45 pm

Pondasi yang rapuh akan menjadikan sebuah bangunan mudah runtuh, begitu juga jika kita memiliki suatu bangunan yang disebut dengan “keyakinan,” maka diperlukan pondasi yang kokoh untuk menopangnya. Sering kita dengar kalimat, “ibadahnya kuat, tapi kok masih korupsi ya ?.” Di sini patut dipertanyakan, apanya yang ibadah ?. Begitu juga kalimat, “sholatnya tekun, kok masih suka menghina orang ya ?”. Di sini juga patut dipertanyakan, pantaskah ia disebut “sudah sholat” ?.

Dua pertanyaan saya terdahulu (“Untuk apa Tuhan menciptakan manusia,” dan “Apa itu Alquran”) merupakan upaya saya untuk memperkokoh pondasi keyakinan saya. Saya tidak ingin memiliki iman “selemah-lemahnya iman,” yaitu iman keturunan, atau iman ikut-ikutan, atau iman asal sekadar iman saja. Batin dan pikiran saya harus mantap dengan apa yang saya yakini.

Pertanyaan kali ini juga merupakan upaya saya memperkokoh keimanan saya, yang justru menjadi pondasi utama, yaitu “Islam,” suatu agama keturunan dari leluhur. Pertanyaan saya adalah “apa itu Islam ?.”

Banyak permainan kata, reka-reka, mengada-ada tentang apa itu Islam. Ada yang berkata Islam adalah singkatan Isya Subuh Lohor Ashar Maghrib (ini sih mencari pas-pasnya saja, di luar penerimaan nalar saya, tapi pas buat anak-anak balita). Ada juga yang berkata, Islam adalah agama, tetapi ada yang berkata Islam adalah pedoman hidup.

Ada yang berkata Islam dibawa oleh nabi Muhammad SAW, tetapi ada yang berkata Islam adalah agamanya seluruh nabi, mulai dari Nabi Adam AS. Ada yang pernah bertanya: “Adilkah Allah yang menjadikan seseorang dilahirkan sudah dari keturunan Islam, sementara ada orang yang dilahirkan di suatu daerah yang belum kenal agama Islam, tetapi kelak jika meninggal ia dimasukkan ke dalam neraka karena tidak memeluk agama Islam padahal selama hidupnya ia menjadi orang baik ?.”

Perilaku orang-orang Islam justru kadang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Islam itu sendiri sehingga banyak pihak barat (umumnya) yang mengidentikkan Islam dengan kekerasan, terorisme, dan semacamnya. Tidak perlu dengan orang di luar Islam, dengan sesama orang Islam saja banyak yang “bertengkar,” bagaimana bisa menjalankan misi rahmatan lil alamin ?.

Bahkan ada seorang ulama yang telah menyimpulkan “sulit mencari koruptor yang tidak naik haji atau umroh.” Itu diucapkan karena kesalnya dengan budaya bangsa Indonesia yang sebagian besar orang Islam (termasuk koruptor-koruptornya).

Jadi, apa sebenarnya Islam itu ?

8 January, 2010

Apa itu “Alquran” ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:28 am

Pertanyaan saya yang pertama telah ditanggapi secara baik oleh Ibu Rahma tentang “buat apa Tuhan menciptakan manusia.” Kini saya lanjutkan pertanyaan saya tentang “Apa itu Alquran ?.” Saya butuh sekali jawaban yang ‘masuk akal.’

Katanya, Alquran (atau Al Quran, atau Al Qur’an, atau Alqur’an) adalah mukjizatnya nabi Muhammad SAW., sebagaimana tongkatnya nabi Musa AS, atau daya penyembuhnya nabi Isa AS. Padahal, ketika kata dari ayat pertama disampaikan kepada Muhammad, yang berbunyi “iqra” (bacalah), Muhammad justru bertanya “ma aqra ?” (apa yang harus saya baca ?).

Kenapa Muhammad bertanya ?, karena ketika menyampaikan ayat tersebut, malaikat Jibril tidak membawa satupun bacaan (kitab), dan saat itu Muhammad juga tidak bisa membaca alias buta huruf. Jadi, apa arti hakiki dari Alquran ?.

Selama nabi Muhammad menyampaikan ajarannya (wahyu-wahyunya), tidak ada perintah nabi untuk membukukan wahyu-wahyunya. Dalam kalimat sederhana, bahwa pembukuan Alquran adalah perbuatan bid’ah, namun termasuk bid’ah yang bermanfaat (jadi, tidak semua bid’ah dilarang, kecuali membawa tanah kuburan Gus Dur untuk disimpan menjadi jimat). Pembukuan itupun tidak sesuai dengan urutan turunnya wahyu, karena ayat pertama di Alquran bukan surat tentang al-iqra.

Kini kitab-kitab Alquran banyak yang mencetaknya dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia agar ajaran Islam dapat disampaikan hingga ke seluruh penjuru dunia. Tak ayal, banyak pula percetakan-percetakan non muslim turut mendapat rejeki (rahmatan lil alamin) karena mendapat order untuk mencetak Alquran.

Jadi, apa yang dimaksud dengan Alquran sebagai mukjizat nabi Muhammad, karena ketika itu nabi Muhammad tidak pernah menenteng-nenteng Alquran sebagaimana nabi Musa menggenggam tongkatnya dan nabi Isa bisa menyembuhkan orang sakit ?.

5 January, 2010

Tanya: “Untuk Apa Sih, Kita Diciptakan ?”

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:36 pm

Wah, mumpung dan kebetulan di blog ini banyak yang mengupas tentang agama (Islam), dan kelihatannya canggih-canggih, maka tak ada salahnya jika saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang saya sendiri sulit menjawabnya. Mudah-mudahan saya akan mendapat jawaban yang memuaskan rasa keingintahuan saya.

Untuk pertanyaan kali ini, saya akan bertanya mengenai “Untuk apa kita (manusia) diciptakan Tuhan di muka bumi ini ?.”

Saya tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan ini. Paling-paling beberapa jawaban yang pernah saya terima adalah:

a. Sebagai khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi.

Lho ?, kan Tuhan Maha Segalanya ?, kenapa juga Dia membutuhkan wakil untuk “menjaga” bumi ?, memang Dia tidak mampu menjaga bumi ini ?, bukankah manusia justru merusaknya ?

b. Itu memang sudah kehendakNya

Lho ?, memang Tuhan Maha Berkehendak, tapi, apa semua yang ada dari dulu sampai yang akan datang itu semua atas kehendakNya (ijinNya)?. kalau begitu, kenapa kita sering bersitegang, sering berselisih paham, sering berkelahi dan sebagainya kalau kita telah meyakini bahwa semua ini adalah kehendakNya. Biarkan saja ada aliran Ahmadiyah, biarkan saja ada aliran Kepercayaan, atau ada bencong, homo, lesbi, pembunuh, dan semuanya. Kan semua sudah atas ijin dan kehendakNya ?.

c. Untuk berbakti dan menyembahNya

Butuhkah Tuhan akan sesembahan dan perbaktian agar Ia bisa bergelar “Maha Agung” atau “Maha Besar” ?. Apakah jika tidak ada manusia, Tuhan tidak “Maha Besar” ?.

Dan saya yakin, kita semua belum ada yang mengenal Tuhan sama sekali sebagaimana kita mengenal presiden kita. Kita semua kenal Tuhan karena Tuhan sendirilah yang memperkenalkan Dirinya melalui kitab-kitab dan orang-orang yang dipilihNya untuk memperkenalkanNya (nabi dan rasul, serta para pengikut-pengikutnya).

“Akulah Yang Maha Pengasih, Akulah Yang Maha Penyayang, Akulah Yang Maha Besar yang menciptakan siang dan malam,….” dan sebagainya, dan seterusnya, ayat-ayat mengenai Tuhan yang memperkenalkan diriNya.

Selanjutnya, setiap diri kitalah yang mempersepsikan “bagaimana Tuhan.” Karenanya ada yang mempersepsikan diri kalau Tuhan itu tidak adil, ada yang mempersepsikan diri bahwa Tuhan itu tidak sayang padanya, dan banyak pula yang mempersepsikan kebalikannya.

Jadi: “kita ini diciptakan untuk apa ?”

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.