Bambang Wahyudi

30 December, 2009

Selamat Tahun Baru, Sobat …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:45 pm

Kita memang harus berpikir secara hakekat

Bahwa dengan pergantian tahun berarti ajal kita semakin mendekat

Karenanya perlu kita renungi apa saja yang telah kita perbuat

Bukan malah menyambut tahun baru dengan kegiatan maksiat


Ayo sobat,

Mumpung nyawa masih dalam kungkungan hayat

Segeralah kita berbenah diri dan bertobat

Dan menyusun langkah ke depan secara bermartabat

Mengisi kehidupan dengan selalu memberi manfaat

Baik bagi diri, keluarga, maupun masyarakat


Selamat tahun baru, sobat

Semoga Anda menjadi orang yang semakin hebat

Semoga Anda tetap dalam kondisi sehat wal afiat

Dan, selalu ingat Tuhan, tidak tinggalkan sholat

22 December, 2009

Kasihan Luna Maya …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:33 am

 

Cantik, seksi, pokoknya ideal-lah kalau dijadikan pacar bagi laki-laki (yang seleranya sama sama saya lho)…, tapi kasihan, ia sedang dirundung duka karena ia diadukan ke Polisi dengan alasan “pencemaran nama baik” oleh insan pers infotainment. Itulah Luna Maya yang terjerat kasus karena dunianya sendiri (dunia maya).

 

PENCEMARAN NAMA BAIK

 

Pencemaran nama baik adalah kegiatan merusak nama yang secara umum sudah diakui baik. Bagi MUI, penayangan infotainment pernah difatwakan sebagai tontonan yang diharamkan. Artinya, pembuat dan pengedarnya, namanya sudah tidak baik.

 

KEBEBASAN

 

Saya sudah beberapa kali menulis bahwa “kebebasan identik dengan kegilaan.” Orang yang paling terhormat adalah orang yang paling tidak bebas hidupnya, bahkan untuk sekadar melambaikan tangan saja, ia harus mengikuti aturan. Sebailknya, orang yang paling bebas hidupnya adalah orang gila. Karenanya, insan-insan pers seharusnya memiliki tata karma dan aturan-aturan kenormaan yang dibangunnya sendiri untuk mencegah penurunan martabatnya sendiri.

 

KONTROL DIRI

 

Sayang memang, kesempurnaan Luna Maya harus diperburuk dengan pencitraan dirinya sendiri yang kurang control, yaitu dengan mengungkapkan kata-kata makian dan hinaan yang ditujukan kepada pihak lain. Memang, sebetulnya cacian dan hinaan kepada pihak lain tidak bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik. Kalau itu bisa, maka seperti sudah sering saya tulis sebelumnya “Indonesia butuh penjara terbesar di dunia.”

 

BOIKOT

 

Kalau memang Wartawan infotainment kesal atau jengkel dengan tulisan Luna Maya, maka jalan terbaik adalah boikot (tidak memberitakan kegiatan-kegiatan) Luna Maya dan/ atau membalas tulisan-tulisannya di Twitter, bukan ‘minta bantuan Polisi.’ Silakan, mana yang menang, yang memboikot atau yang diboikot ?.

 

DAMAI SAJALAH ..

 

Kasus KPK Vs POLRI dan Kejaksaan yang besar seperti itu saja bisa dilakukan jalan damai di luar pengadilan, masak kasus Luna Maya (seorang) dengan Wartawan infotainment tidak bisa damai …., malu ah !

 

LUNA MAYA dan PRITA MULYASARI

 

Kasusnya jelas jauh beda meski hukum ITE-nya sama. Luna didenda 1M paling Cuma dengan ‘mengedipkan mata’ selesai, sedang Prita Mulyasari, bila tidak dibantu, sampai ‘mandi darah’ juga belum tentu bisa mengumpulkan uang sebesar 204juta. Luna Maya jelas-jelas mengeluarkan kata-kata makian yang kotor, pedas dan menghinakan, sedang Prita hanya mengeluarkan ‘keluhan dirinya’ dengan nada (kata-kata) yang biasa-biasa saja.

 

INDONESIA PENUH DENGAN PENCEMARAN NAMA BAIK

 

Perhatikan kasus-kasus saat ini, misalnya kasus Bank Century. Banyak orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui, tiba-tiba saja ikut-ikutan mencaci maki, membakar, merekayasa, menginjak-injak foto-foto orang yang belum tentu bersalah (belum ada vonisnya). Itu yang paling jelas mencemarkan nama baik. Silakan lakukan itu (kalau mau) nanti jika ia (mereka) terbukti bersalah atau memang sekarang kita sudah tahu pasti kalau ia (mereka) berbuat seperti itu. Bisa dibayangkan jika kita diperlakukan seperti itu.

 

PROSES PEMBELAJARAN BANGSA

 

Mudah-mudahan, semua kejadian ini menjadi bahan dalam proses pembelajaran bangsa. Kekisruhan, kemorat-maritan, keamburadulan, kesemrawutan yang terjadi di sana-sini, semoga bukan membenam menjadi budaya bangsa, melainkan membenam menjadi pengalaman yang tak boleh terulang yang akan menuntun bangsa ini menjadi bangsa yang besar di masa depan. Bahwa kejayaan bangsa akan bertumpu pada lima pilar yaitu kejujuran, keadilan, kepedulian, kesahajaan, dan kerja keras, yang berlandaskan pada keimanan.

16 December, 2009

Soal UAS buat Dosen

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:16 am

Waktu: 30 menit, tidak boleh nyontek, boleh menggunakan kalkulator, simak baik-baik pernyataan dan pertanyaannya, dan tentukan hanya satu jawaban pada setiap soalnya.

APA YANG SALAH DI NEGERI INI ?

1. KONTRADIKSI ANTARA BERITA DAN KENYATAAN

Kalau melihat berita di televisi, isinya melulu masalah kekisruhan dan kriminalitas negeri ini. Padahal katanya, negeri ini gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, negeri yang ramah murah senyum, negeri yang aman sentosa. Jadi apanya yang salah di negeri ini:

a). Kebanyakan stasiun televisi;

b). Terlalu bebasnya mengemukakan pendapat;

c). Lemahnya penegakan hukum;

d). Mudahnya aparat disogok;

e). Terlalu banyaknya pejabat yang korup.

2. PERLUKAH REFORMASI HUKUM ?

Untuk membuktikan dan membuikan orang miskin sangat mudah dan cepat, karena kebanyakan alat buktinya sangat meyakinkan dan tersangkanya sangat jujur mengakui perbuatannya. Sebaliknya, untuk membuktikan dan membuikan orang kaya yang korupsi milyaran bahkan triliunan rupiah amat sulit. Jadi apanya yang salah di negeri ini ?

a). Tidak ada street justice atau semacam detektif swasta;

b). Memang hukum dibuat untuk melindungi orang kaya;

c). Hukumnya memang dibuat banyak celah bagi orang yang berduit;

d). Pembuat hukumnya tidak selihai para pengacara;

e). Yang membuat hukum orang-orang kaya untuk melindungi dirinya sendiri.

3. MENGAPA SERING ADA KESURUPAN MASAL ?

Akhir-akhir ini, banyak kejadian kesurupan masal, baik di sekolah-sekolah maupun di pabrik-pabrik. Kebanyakan, yang kesurupan adalah kaum perempuan yang katanya sedang ‘tidak suci’ (datang bulan), atau yang suka menyendiri dan pendiam. Kenapa para setan sekarang suka berjamaah menyerang manusia ?. Jadi apanya yang salah di negeri ini ?

a). Karena sudah banyak setan yang menjadi pemeran utama di film-film nasional;

b). Karena pekerjaan setan sudah banyak yang diambil alih oleh manusia;

c). Karena setan-setan lelaki lebih banyak populasinya, berbalik dengan manusia;

d). Karena setan capek gentayangan terus tidak punya fisik;

e). Biar para dukun punya kesempatan menjadi orang kaya.

4. MENGAPA ADA TREN BUNUH DIRI ?

Beberapa kali kita mendengar atau melihat, baik langsung maupun tidak, peristiwa bunuh diri atau percobaan bunuh diri. Dari sekian banyak, yang paling ngetren akhir-akir ini adalah bunuh diri dengan cara melompat dari gedung bertingkat. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). Tidak ada racun dengan rasa apel, melon, anggur, dan sejenisnya;

b). Terlalu banyak gedung bertingkat;

c). Apapun dilakukan asal bisa ngetop;

d). Tidak mampu membeli tambang atau racun serangga;

e). Takut menghadapi tahun 2012

5. UNTUK APA “KOIN PEDULI PRITA ?”

Jumlah dana yang terkumpul dari kegiatan “Koin Peduli Prita” telah mendekati angka Rp. 500 juta rupiah, jauh melampaui denda Prita yang dituntut RS OMNI Internasional yang disetujui Pengadilan Negeri Tangerang sebesar Rp. 204 juta rupiah. Baru-baru ini Pengacara RS OMNI Internasional telah membatalkan tuntutan perdata tersebut sehingga Prita tidak perlu membayar denda tersebut. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). BI terlalu banyak mencetak uang koin;

b). Terbukti bahwa penduduk miskin di negara ini sangat banyak;

c). Berikan ke Pansus Bank Century untuk kerokan biar tidak masuk angin

d). Tempel saja di seluruh dinding rumah Prita;

e). Dilebur saja dan dijadikan patung “Prita Simbol Perlawanan Rakyat Kecil”

6. UNTUK APA POLISI PAMONG PRAJA ?

Di berbagai daerah, sedang marak-maraknya aksi penertiban, baik penertiban pedagang kakilima, penertiban bangunan-bangunan liar, penertiban gelandangan dan pengemis, dan berbagai jenis penertiban lain. Penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP tersebut tidak urung menuai protes dan adu mulut serta adu jotos dengan pihak yang akan ditertibkan. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). Satpol PP sengaja menunggu banyak yang melanggar dulu baru ditertibkan;

b). Gerakan disiplin atau tertib hanya seumur pohon toge saja;

c). Penertiban semacam itu sama sekali tidak membuat efek jera;

d). Prinsip pedagang kakilima “gugur satu tumbuh seribu”

e). Hitung-hitung, hanya coba adu nyali para anggota Satpol PP

7. KENAPA MAHASISWA/PELAJAR TAWURAN ?

Memang sungguh memalukan, mahasiswa/ pelajar  yang notabene kaum elit dan kaum terpelajar yang diharapkan membawa tongkat estafet pembangunan bangsa di masa depan malah sering berkelahi dengan sesamanya, bahkan sampai tewas.  Apanya yang salah di negeri ini ?

a). Pemimpin bangsa di masa depan memang harus berani berkelahi;

b). Menjalankan prinsip: “Berani karena banyak, takut kalau sendiri”;

c). Kalau mau menjadi anggota DPR kan harus ngetop dulu;

d). Karena tidak ada mata kuliah “Olah Raga” di fakultasnya;

e). Di kalender, warna merahnya kurang.

8. BISAKAH INDONESIA MENJADI TUAN RUMAH PIALA DUNIA 2022 ?

Dulu, Menpora Adyaksa Dault mencanangkan Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia sepakbola tahun 2022. Memang masih lama, dan memang harus dipacu prestasinya agar semakin mendekati tahun itu, prestasi persepakbolaan kita sudah mendunia. Namun bagi sebagian orang, keinginan Menpora tersebut terlalu mengada-ada. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). Belum ada pemain kita yang ditransfer ke AC Milan dengan nilai di atas 1 juta dolar;

b). Pemain masih bingung karena, selain harus pandai bermain bola juga harus bisa tinju;

c). Pembangunan SDM belum maksimal, sebagian besar SDM kita tubuhnya masih kecil-kecil dan IQ-nya rendah;

d). Waktu 12 tahun tidak bisa menjadikan juara RT menjadi juara klub dunia;

e). Bangsa kita terbiasa sudah kalah sebelum bertanding.


9. MENGAPA RAMAI-RAMAI MENANAM POHON ?

Ibu Ani Yudhoyono dan ibu-ibu pejabat lain (sampai di lingkup ibu RT) ramai-ramai menjalankan program menanam pohon. Program itu sangat baik untuk mengantisipasi perubahan iklim yang ekstrem di masa depan yang dapat mengakibatkan bencana besar. Namun, gerakan itu hanya sesaat saja tanpa diperhatikan apakah pohon yang ditanam bisa tumbuh. Program itu ada sejak jaman Ibu Tien Soeharto. Apa yang salah di negeri ini ?.

a). Program penanaman pohon tidak diikuti program pemeliharaan pohon itu;

b). Jumlah pengusaha pembabat hutan lebih besar dan kuat;

c). Boleh membabat hutan semaunya asal berani memberi upeti kepada aparat;

d). Tutup usaha perumahan yang areal hijaunya lebih kecil dari areal non hijaunya;

e). Banyak rumah yang sudah tidak memiliki halaman lagi untuk menanam pohon.


10. KENAPA MASIH TERUS TERKORUP ?

Dari laporan badan dunia apapun, nama Indonesia masih tercantum sebagai negara terkorup. Padahal, sudah banyak lembaga yang didirikan untuk memberantas korupsi. Apanya yang salah di negeri ini ?.

a). Lembaga anti korupsi boleh banyak, tapi aparat-aparatnya anti korupsi nggak ?

b). Lumayan, ada prestasi yang mendunia di luar Kris John;

c). Badan dunia itu sok tahu tentang negara kita;

d). Korupsi memang sudah jadi budaya kita;

e). Di negeri ini susah membedakan antara korupsi, hadiah (hibah), oleh-oleh, sumbangan, pinjaman, tips, uang rokok, dan semacamnya.

BONUS SOAL:

Bila Anda memiliki anak yang hendak masuk kuliah, jurusan apa yang Anda sarankan kepada Anak Anda tersebut ?

a). Ilmu Hukum, karena profesi di bidang hukum akan menjadi profesi yang ‘basah’ di masa mendatang;

b). Arsitektur, karena bisa merancang bangunan yang digunakan untuk kabur bila korupsinya mulai diendus aparat;

c). Seni Peran, karena di masa depan, kita dituntut untuk bisa memainkan banyak peran, mulai dari tertuduh, saksi, terdakwa, Pengacara, Ketua KPK, dan sebagainya.

d). Teknik Informatika, karena di masa datang, tenaga ahli bidang informatika banyak dibutuhkan di pengadilan-pengadilan, khususnya yang berkaitan dengan suara;

e). Teknik Sipil, karena di masa depan, kebutuhan akan bangunan penjara di berbagai lokasi akan banyak dibangun, khususnya yang berada di dasar laut.

14 December, 2009

Jelang Tahun Baru Hijriah

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:44 pm

 

 

Tahun Hijriah diawali ketika nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya melaksanakan hijrah dari Mekah ke Madinah. Namun saya tidak ingin mengupas hal itu (dari sisi agama secara mendalam) karena sudah ada ahlinya sendiri. Saya hanya ingin ingin menyampaikan pendapat tentang makna kata hijrah secara konsep kebatiniahan (bukan karena saya ahli kebatinan lho). Namanya penyampaian pendapat ya boleh-boleh saja toh?, adapun bagi yang merasa kontra, silakan saja, dalam dunia akademis hal itu sah-sah saja. Tak perlu disimpan di hati, apalagi sampai kesal, cemberut dan marah …, he..he..(merugikan diri sendiri saja).

 

Bagaimana ‘perpindahan batiniah’ itu ?. Batin itu imajiner, sangat fleksibel, sangat luwes, sehingga mudah dibelak-belokkan, turun-naik, diajak serius, diajak bercanda, dan sebagainya. Keinginan apapun akan mudah tercapai dari sisi batin, mau kaya ?, mau berjumpa bidadari ?, mau terbang ke langit ?, semua mudah. Anggota utama dari batin adalah pikiran dan perasaan. Pikiran juga bisa dibagi menjadi logis dan tidak logis. Logis juga bisa dibagi lagi menjadi khayal dan nyata. Sedangkan yang tidak logis bisa dibagi menjadi mimpi dan ketidaksadaran (alam bawah sadar). Karena batin itu sangat fleksibel, maka pembagian anggota ‘tubuh’nya tidak bisa dipastikan atau ditetapkan dengan pasti. Contoh seorang anak SD yang bercita-cita ingin menjadi dokter padahal ia anak seorang pemulung, maka kita tidak dapat memastikan apakah keinginannya itu pasti masuk ke kategori  “khayalan yang tidak logis” atau bukan. Cita-cita itu bisa jadi masuk ke kategori “khayalan yang logis” karena (bisa jadi) ada bantuan dari pihak eksternal.

 

Sedangkan perasaan dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu bahagia dan derita. Perasaan umumnya datang dari diri sendiri (internal), namun juga sangat tergantung oleh faktor-faktor eksternal. Faktor-faktor eksternal bisa berupa orang, iklim, barang, dan sebagainya. Kebahagiaan dan penderitaan seseorang sangat tergantung dari filter atau strata atau kedewasaan atau pengalaman seseorang. Seorang mahasiswa yang saya beri nilai “E” banyak yang tidak merasa sedih, karena dari dulu ia sudah sering mendapat nilai “E,”  sebaliknya, ada yang sedih mendapat nilai “B” karena ia merasa mampu menyerap seluruh materi yang saya ajarkan.

 

Jadi, apa makna dari kata “hijrah” secara batiniah ?

 

Hijrah secara batin bukan sekadar pindah, melainkan juga melakukan peningkatan. Seperti halnya anak sekolah yang harus selalu naik kelas dari tahun ke tahun. Kalau dulu kita sering berkhayal yang kadang tidak masuk akal, misalkan ingin bisa terbang ke sana ke mari, maka kita harus tetap terus berkhayal, namun yang masuk akal, misalkan ingin menciptakan mobil atau sepeda terbang pribadi untuk menghindari kemacetan lalu lintas di jalan raya.

 

Kalau dulu amat mudah tersinggung oleh perkataan orang lain, sekarang sudah lumayan kebal, karena memang tidak semua manusia diciptakan sama, maka maklumlah jika ada orang yang seperti itu. Yakinlah bahwa Tuhan menciptakan neraka pasti ada manfaatnya, siapa tahu orang yang membuat kita kesal itu memang sudah Tuhan rencanakan untuk tinggal di sana nantinya, apakah kita mau tinggal di sana juga (dengan menyimpan dendam di dalam hati) ?.

 

Jika kita dulu berpikir bahwa kita berusaha, bekerja, atau berbuat baik untuk teman atau pimpinan kita, maka kini kita tingkatkan bahwa kita berusaha, bekerja, atau berbuat baik untuk kebaikan diri sendiri  dan memohon ridhoNya. Jadi, jika kita berada di lingkungan yang buruk, bukan berarti kita juga harus berlaku buruk, tetaplah menjadi baik. Jika dulu kita memandang kata “iqra” yang berarti “bacalah” maka kita rajin membaca Alquran (tekstual), maka sekarang meningkat dengan ’membaca’ fenomena alam.

 

Contoh fenomena alam yang sederhana (?), antara fisik dan batin itu berkaitan sangat erat, seperti dalam komputer antara ‘hardware’ dan ‘software.’ Artinya, kondisi fisik seseorang terkait erat dengan sifat atau kondisi batiniahnya, dan sebaliknya kondisi batiniah seseorang akan terkait erat dengan kondisi fisiknya. Misalnya yang sering kita dengar “ciri orang sakit darah tinggi adalah suka marah-marah” namun banyak juga yang bilang “jangan suka marah-marah, nanti darah tinggi lho.”

 

Yah, jadi pada intinya, yang akan kembali ke akhirat nanti adalah roh kita (batiniah), atau di komputer, operating system akan kembali ke pabriknya, tapi program aplikasi harus dipertanggungjawabkan kinerjanya, karenanya, selain arti tekstual dalam Alquran, maka renungkan pula arti batiniahnya. Tak usah jauh-jauh, Tuhan memerintahkan kita sholat, apakah yang diinginkan Tuhan itu hanya gerakan-gerakan dan bacaan-bacaannya saja ?, apakah orang yang sudah mengerjakan shalat seperti itu, tetapi korupsi jalan terus pantas dikatakan sudah shalat ?. Apakah orang yang sudah shalat seperti itu tetapi selalu merendahkan orang lain dan menyombongkan diri sendiri pantas dikatakan sudah shalat ?.

 

Selama negeri ini hanya ‘membaca Alquran’ secara tekstual belaka, maka negeri ini akan terus gonjang-ganjing seperi ini. Seharusnya kita bisa berkaca kepada negeri-negeri yang makmur, aman, dan tenteram lainnya, bahkan di antara mereka (negeri itu) ada (bahkan banyak) yang belum pernah melihat Alquran sekalipun, apalagi membacanya. Kenapa kita tidak bisa melebihi mereka ?, padahal di negeri kita, banyak sekali orang-orang yang hafal Alquran, banyak sekali kiyai-kiyai, banyak sekali ulama, dan seterusnya. Pantaslah bila nabi Muhammad SAW bersabda “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Padahal kita tahu sendiri, negeri itu adalah negeri dengan sistem  pemerintahan komunis yang sebagian besar penduduknya atheis.

 

Sebagai penutup, kembali saya ungkapkan pernyataan bahwa “Tuhan tidak akan menyia-nyiakan apapun dari ciptaanNya, termasuk neraka. Maka, teruslah bekerja, berbuat, dan berusaha sebaik yang kita mampu untuk menjadi orang baik, dan berusaha selalu meningkatkan kemampuan kita itu agar kita bukan orang yang akan dijadikan manfaat dari neraka.” Kata kang Ebet Kadarusman: “Memang baik menjadi orang penting, namun jauh lebih penting menjadi orang baik.”

 

 

 

9 December, 2009

Fenomena (Baru) Latah: Pengumpulan Koin

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:49 am

Baru-baru ini ada fenomena baru, yaitu pengumpulan koin untuk menyumbang Ibu Prita Mulyasari yang terkena sanksi denda sebesar Rp. 204 juta rupiah yang diputus oleh Pengadilan Negeri Tangerang. Sejak berita ini tersiar, secara spontan Bp. Fachmi Idris (ex Menteri Depnakertrans) menyatakan diri menyumbang setengahnya (Rp. 102 juta). Akhir-akhir ini juga Partai Demokrat terdengar menyumbang Rp. 100 juta, belum dari yang lain-lain.

Sementara itu, di lingkungan lain, ada orang-orang yang peduli akan nasib ketidakadilan yang menimpa Ibu Prita tersebut, namun tidak mampu untuk menyumbang dengan uang besar. Akhirnya mucul ide untuk menampung kepedulian dari rakyat kecil atau yang tak mampu untuk menyisihkan sedikit hartanya, boleh Rp. 100,- boleh Rp. 200,- dan seterusnya dalam bentuk koin (mata uang recehan).

Ada pengendara becak, ada (maaf) WTS, ada anak sekolah, dan semacamnya dari berbagai tempat di seluruh Indonesia (yang memang mayoritas dari warga ekonomi menengah-bawah) sangat antusias. Dengan mengumpulkan recehan yang banyak, toh akan menjadi besar juga.

Tapi fenomena ini menjadi aneh tatkala di lingkungan mampu (the have, ekonomi menengah atas), diharuskan pula menyumbang dalam bentuk koin. Alhasil, ada di antara mereka malah jadi mundur teratur. Ada seorang warga yang ingin menyumbang sebesar Rp. 1 juta, karena panitia mengharuskan dalam berbentuk koin, ya akhirnya warga tersebut tidak jadi menyumbang di (melalui) panitia tersebut. Katanya “mau nyumbang kok disusahin…!, ngapain pake nuker koin segala…!”

Yah, budaya latah memang masih mendominasi perilaku di negara kita. Kalau satu petani berhasil menanam jagung, maka semua petani di lingkungannya mengubah tanaman asalnya menjadi jagung. Kalau satu petambak berhasil beternak udang, maka petambak-petambak di sekitarnya mengubah ikannya menjadi udang. Jarang yang mau berpikir beda (think different).

Maka, tak heran kalau terjadi “korupsi berjamaah” karena memang latah…..

Di pertengahan hari ini, saya telah membaca di email di UG, dan saya baru sadar kalau kebanyakan dari mereka mau juga menyumbang dalam bentuk koin, dan itu semata-mata bukan dinilai dari uangnya, melainkan menjadi simbol protes penegakkan hukum (yang dinilai tidak adil). Saya sadar ternyata mereka menyumbang bukan semata-mata mengharap ridho dari Allah SWT (ikhlas tanpa embel-embel apapun), namun untuk “memberi pelajaran kepada RS OMNI. “Saya ingin penuhi gudang RS OMNI dengan uang receh (koin)” katanya.

Nah, kalau sudah begini, mana bisa sama nilainya menyumbang Rp. 100,- tetapi dengan niat untuk ‘memberi pelajaran’ kepada aparat atau RS OMNI dengan menyumbang Rp. 102 juta, meskipun niatnya sama ?. Nilai akan sama (dalam hitungan amal ibadah), jika si miskin menyumbang Rp. 100,- dan si kaya menyumbang Rp. 102 juta dalam kondisi batin yang ikhlas Lillahi ta’ala.

Astagfirullah, inalillahi, ternyata kata ’sumbangan’ sudah dipolitisir secara berjamaah….

6 December, 2009

Indonesia Bebas Korupsi ? (Masih) Mimpi Kali Yee…

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:42 pm

 

 

Setiap 9 Desember, diperingati sebagai hari antikorupsi dunia. “Diperingati” memiliki kata dasar “ingat” yang dalam ilmu komputer adalah proses meretrive data yang sudah disimpan di memori sebelumnya. Apakah ingatan kita tentang korupsi di negara ini sudah tidak ada ?. Wah, sepertinya masih kental sekali, sehingga antikorupsi sepertinya masih sebagai impian, khayalan, bualan, atau dongeng pengantar tidur.

          Mungkin, jika semua kaum muda mulai saat ini bertekad tidak ingin korupsi dan pada masa depan mereka itu menjadi Pemimpin bangsa, berarti baru bisa efektif sekitar 25 tahun lagi Indonesia baru bisa bebas dari korupsi (data korupsi sudah sedikit sekali ada di dalam memori, mencarinyapun mungkin sudah sulit). Tapi, akan sulit sekali menciptakan pemuda-pemuda seperti ini, karena bisa jadi di dalam darah mereka telah mengalir benih-benih korupsi sebagai bagian dari budaya bangsa kita dari masa lalu hingga saat ini.

        Antonio (ustadz ahli ekonomi syariah) berpendapat bahwa pada intinya korupsi disebabkan oleh ketidaksabaran dan kekurangsyukuran orang. Tidak sabar dalam mendapatkan rizki Allah, dan kurang bersyukur dari apa yang telah diperolehnya. Belum lagi jika dikaitkan dengan sistem perpolitikan di sini. Sebagai contoh, bagaimana mungkin seorang Bupati tidak akan korupsi karena ia telah mengeluarkan dana yang mencapai puluhan miliar dalam kampanyenya sedangkan penghasilannya sebagai Bupati hanya sekitar tiga miliar dalam lima tahun ?.

        Dari faktor budaya, kecenderungan bangsa kita untuk hidup konsumtif juga mengambil peran tumbuhnya budaya korupsi. Tidak usah jauh-jauh, telepon selular saja sudah dikonsumsi anak-anak pra sekolah, dan banyak digunakan secara tidak efektif dan tidak efisien. Padahal, jika dihitung, berapa biaya yang harus negara keluarkan untuk mengimpor produk tersebut dari negara produsennya. Gaya konsumtif tersebut menjadikan banyak persaingan di antara pengguna (anak-anak sampai dewasa) untuk memiliki telepon genggam tercanggih yang dananya diperoleh dengan cara tidak halal.

        Gerakan (demo) antikorupsi yang bakal digelar pada 9 Desember 2009 tak ayal menggelisahkan orang sekelas SBY (Presiden kita). Tampak beliau masih terbawa ‘angin orde baru’ yang senang dengan ‘meng-kontra isu dengan isu lain.’ Beberapa tindakan beliau saya nilai aneh (kontradiktif). Misalkan, beliau dengan yakin dan pasti (100%) dana Bank Century tidak mengalir ke beliau dan lingkungan beliau. Kalau memang demikian, perintahkan saja Partai Demokrat dan koalisinya untuk memilih Ketua Pansus Century kepada Gayus (dari PDI Perjuangan). Kalau memang tidak terbukti, kan rakyat akan ‘angkat topi’ kepada beliau.

       Contoh lain, beliau berkata bahwa nanti pada demo hari antikorupsi ada pihak-pihak yang akan menunggangi atau menyusup. Lho, ini kan negara hukum, kenapa mesti repot-repot, tinggal perintahkan saja pihak Kepolisian untuk menangkap mereka yang melanggar hukum (kalau memang para pendemo itu melanggar hukum). Tak perlu diungkapkan di media masa seperti yang beliau lakukan belakangan ini.

 

      Sebetulnya, banyak hal yang dapat Pemerintah lakukan untuk mengurangi kemungkinan tindakan korupsi, khususnya secara administratif. Contoh sederhana, rakyat kecil banyak ‘menjerit’ dengan biaya pengurusan KTP yang semestinya gratis. Yang saya pertanyakan, kenapa KTP harus berlaku hanya 5 tahun ?. Apakah setelah 5 tahun, kita otomatis tidak menjadi WNI ?. Ini contoh sederhana ekonomi biaya tinggi bangsa kita. Seharusnya KTP diberlakukan seumur hidup, kalau ada sesuatu (data) yang berubah di KTP tersebut, baru ada pengurusan perubahan data di KTP. Begitu juga dengan SIM, STNK, Kartu Keluarga, dan sejenisnya. Jadi, para penduduk tidak selalu disibukkan dengan urusan 5 tahunan yang sebetulnya tidak diperlukan dan para pegawai bisa mengerjakan hal-hal lain yang lebih bermanfaat dari hanya sekadar mengurusi pencetakan KTP yang (sebetulnya) masih dimiliki warga.

        Atau, kenapa kita harus mengganti SIM kita dengan SIM baru hanya karena masa berlakunya hanya 5 tahun ?. Mana penghargaan bagi kita yang telah menjalankan tertib lalu lintas selama ini, kok masih juga disibukkan dengan mengurus SIM baru ?. SIM seharusnya berlaku seumur hidup, kecuali (1) telah melanggar tata tertib berlalu-lintas sekian kali, (2) menjadi cacat yang tidak mungkin dapat mengendarai kendaraan, dan ketentuan-ketentuan lain yang dibuat secara logis.

       Hal lain, instruksikan kepada bank-bank Pemerintah (khususnya milik Pemda) agar seluruh pemilik KTP otomatis menjadi nasabahnya dan buat  KTP dapat menjadi kartu ATM. Sehingga dalam pengurusan KTP, SIM, dan sejenisnya, pembayarannya (kalau memang harus bayar) dilakukan melalui bank (tidak ada transaksi dari warga ke Pamong/ Pegawai Negeri). Tentu masih banyak lagi cara yang bisa dilakukannya, tinggal, mau atau tidak. Itu saja.

        Jadi, menyongsong hari antikorupsi dekat ini, saya berpesan (jadi Eyang lagi nih), “Sebelum menyuarakan antikorupsi ke corong, teriakkanlah ke diri kita sendiri terlebih dulu, dan bertanya, apakah diri kita sudah bersih dari korupsi ?,” bila belum, malulah pada diri sendiri, malulah pada corong, dan malulah kepada orang-orang yang akan mendengarkan. Jangan ada kesan ‘maling teriak maling.’

 

 

1 December, 2009

INDONESIANA …..

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 6:37 pm

Salah Kebijakan Tidak Dapat Dikriminalkan ?

 

Menkeu Sri Mulyani berkonsultasi dengan beberapa pakar hukum terkait kebijakannya untuk ‘menolong’ Bank Century. Terdengar kabar dari pakar hukumnya bahwa pengambilan kebijakan  tidak dapat dikriminalkan. Lho kok ?.Enak sekali dong jadi Pemimpin kalau kebijakannya tidak dapat dikriminalkan, kalau begitu gak usah tanggung-tanggung, ‘tolong’ saja semua bank kecil dan tutup semua bank besar. Atau, untuk Menteri Hukum dan HAM, ambil saja kebijakan untuk memenjarakan semua aktivis dan pendemo antipemerintah. Aneh !

 

Hati-hati Presiden Akan Meminta Penyelesaian di Luar Pengadilan

 

Kasus Bank Century mulai akan dicermati (diselidiki oleh Pansus DPR) dengan disahkannya hak angket DPR mengenai bank tersebut. Namun, menilik ‘kemenangan’ KPK 1-0 atas Polri + Kejaksaan yang baru lalu yang diselesaikan di luar pengadilan, bisa jadi, setelah Pansus ini bekerja dan menemukan kejanggalan-kejanggalan atas pengucuran dana oleh BI, LPPS, yang dimotori oleh Menkeu, penyelesaiannya bisa diatur di luar pengadilan oleh Presiden.

 

Hujan Interupsi di DPR

 

Pusing, sebel, dan kesal melihat hujan interupsi di DPR ketika akan mengesahkan Hak Angket Bank Century di rapat paripurna DPR lalu. Gus Dur pernah berkata kalau DPR seperti Kinder Garten (Taman Kanak-kanak). Ada benarnya juga, karena biasanya anak-anak suka adu mulut, adu keras suara, dan berisik tak tentu arah di dalam kelas. Kok anggota DPR masih meributkan tata tertib yang dibuatnya sendiri ?, kok banyak yang ingin berbicara padahal yang akan dibicarakan sudah jelas. Kok belum ada kesatuan dan kesepahaman di antara mereka ya ?, kalau begitu, mereka bakal mudah diadu seperti anak-anak TK yang mudah terhasut temannya sendiri. Mereka memang memiliki hak suara, tetapi bukan berarti harus bersuara toh ?.

 

Berbondong-bondong ke Polri

 

Para anggota tim sukses SBY, pun yang sekarang sudah jadi menteri dan anak kedua SBY beramai-ramai mendatangi Polri untuk membuat pengaduan terkait dengan tuduhan bahwa mereka ‘menikmati’ kucuran dana dari Bank Century yang nilainya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Lho, kok repot-repot, kenapa mengadu ke Polri, nggak ke KPK saja (kan Polri dibikin KO sama KPK ?). Mengadu saja langsung ke Presiden, nanti akan diselesaikan di luar pengadilan dengan motto ‘win-win solution

 

Demo Marak di Mana-mana

 

Terkait kasus Bank Century, demonstrasi marak di mana-mana. Di lingkungan gedung DPR, di jalanan, di kampus-kampus, dan di berbagai tempat. Banyak di antara mereka mengenakan topeng Boediono, Sri Mulyani, dan SBY. Banyak orang yang curiga bahwa demo tersebut ada yang ‘menunggangi’ alias disuruh dan dibayari pihak lain sehingga demo tersebut bukan murni menyuarakan hati nurani. Ada pula yang mengatakan bahwa pimpinan demo sengaja melakukan itu agar ia dipilih oleh konstuennya ketika ia mencalonkan diri menjadi anggota legislatif nantinya. Jika itu memang yang mereka lakukan, berarti mereka tidak mengambil pelajaran bahwa untuk menjadi anggota legislatif, paling mudah kalau mereka menjadi artis dulu.

 

SBY Tertipu ?

 

Kemenangan mutlak Partai Demokrat dalam pemilihan umum legislatif dan kemenangan mutlak SBY dalam pemilihan Presiden, membuat banyak partai yang ‘merapat’ kepadanya dan hanya sedikit yang menjadi oposannya. Seakan di tangan SBY-lah semua kendali bangsa dipegangnya. Namun, tidak demikian kenyataannya, meski rakyat mayoritas memilihnya, namun tetap bersikap kritis. Kasus demi kasus mendera pemerintahannya yang belum genap 100 hari. Mulai dari kasus KPK Vs Polri + Kejaksaan, kasus Bank Century, sebentar lagi (mungkin terangkat) kasus PLN, kasus Ujian Nasional, kasus Lapindo (jilid II), dan sebagainya.  Tertipukah Beliau ?

 

 

 

 

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.