Bambang Wahyudi

26 November, 2009

Gak Enak Emang Jadi Orang Miskin

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:26 pm

Miskin identik dengan kesengsaraan dan kesedihan. Ini terbukti dengan pemberitaan akhir-akhir ini, beberapa orang miskin dipenjara gara-gara melakukan pencurian yang sangat ringan, misalkan mencuri tiga buah kakao yang akan dimanfaatkan sebagai bibit oleh seorang nenek di Purwokerto, meski sudah dikembalikan dan meminta maaf, sang nenek tetap dihukum pidana 45 hari, atau pencurian sebuah semangka di Madiun seharga Rp. 2.500,- yang diancam hukuman 5 tahun, sekarang sudah ditahan selama 2 bulan, dan banyak lagi.

Anehnya, di pemberitaan itu, pemirsa digiring agar mereka dibebaskan dari segala tuntutan. Hal ini berkaitan dengan dibandingkannya dengan kasus para pembesar yang korupsi miliaran bahkan triliunan yang terus bebas berkeliaran.

Bagaimanapun, mencuri adalah mencuri, perbuatan dosa, seberapapun kecilnya pencurian akan menyakitkan orang yang dirugikan. Tidak perlu dibandingkan dengan pencurian yang besar-besar (korupsi). Namun, hendaknya hakim mempelajari sebab-sebab pencurian itu terjadi. Bila memang pencurian itu dilakukan karena lapar, maka hakim wajib membebaskannya, dan justru tetangga atau pemimpin mereka yang harus bertanggung-jawab mengapa ada tetangga atau warga  atau anak buah mereka yang kelaparan. Namun, bila dilakukan karena iseng, atau karena ingin memperkaya diri, maka hukuman wajib dijatuhkan sesuai takaran (kadar) pencurian yang dilakukan.

Sulit memang mengangkat seseorang (sekelompok orang) dari garis kemiskinan. Biasanya orang miskin akan berkutat di daerah itu. Seorang ayah miskin ingin segera mengurangi bebannya dengan segera mengawinkan anak gadisnya yang masih belia. Tetapi sang ayah tidak pernah menemukan calon suami si anak yang dari kalangan orang kaya. Akhirnya ia mengawinkan anaknya dengan orang miskin juga, dan memiliki anak-anak yang juga ditangani seadanya (kurang gizi, kurang pendidikan, dan kurang-kurang lainnya) sehingga kelak kemungkinan besar akan menjadi orang miskin juga.

Harus ada satu bantuan dari orang-orang kaya untuk membantu mengangkat mereka dan keluar dari garis kemiskinan. Tidak perlu sampai mengawini mereka, tetapi bantulah gizi mereka, bantulah pendidikan, bantulah ekonomi mereka, dan masih banyak bantuan-bantuan lain yang bisa dilakukan oleh orang kaya (menengahlah).

Masalahnya hanyalah mau atau tidak, ikhlas atau tidak orang-orang kaya itu beramal, bersedekah, berinfaq, berkurban, berderma, berzakat, dan banyak lagi pintu-pintu kebaikan yang bisa dibuka oleh orang-orang yang bertaqwa. Memang ada di antara orang-orang kaya yang tidak ikhlas untuk itu, dan ia gunakan kekayaannya untuk kesenangan duniawi diri dan keluarganya.

Sayangnya, masih banyak orang kaya (non miskin) yang masih berdoa sebagai orang miskin karena pandangannya selalu tengadah ke atas. “Masih banyak orang yang lebih dari saya, merekalah yang harus membantu orang miskin, mobil saya baru dua, mereka sudah sepuluh…” Memang, kalau selalu mengejar dunia, tidak akan ada cukupnya, “dunia dan seisinya cukup untuk seluruh umat yang ada di atasnya, namun dunia dan isinya tidak akan cukup untuk satu orang yang rakus…”

Miskin memang tidak enak, salah-benar bila berperkara dengan orang kaya selalu kalah (di Indonesia saja ?)

Miskin memang tidak enak, jujur-dusta selalu dicurigai orang-orang kaya

Miskin memang tidak enak, sehat-sakit sulit mendapat perawatan kesehatan di rumah sakit

Ayo, bantu mereka semampu kita….

25 November, 2009

Selamat Idul Adha

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:23 pm

 

Menurut riwayatnya, berkurban adalah mau, mampu dan ikhlas menjalankan perintah Allah sesuai dengan kedudukan (hak)nya. Nabi Ibrahim AS diminta Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Ini perintah Allah, dan Ibrahim AS mau, mampu, dan ikhlas menjalankan perintah itu, karena memang Ismail adalah haknya, dan Ia adalah ayahnya. Beda kisahnya kalau Ibrahim AS harus menyembelih anak orang lain.

 

Berdasarkan kisah itu pula, Allah mengakui kemauan, kemampuan, dan keikhlasan nabi Ibrahim AS (termasuk putranya Ismail) untuk menjalankan perintahNya meski untuk itu (tadinya) ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri (kehilangan anak yang sudah lama didambakan dan disayangi). Karena Allah hanya menguji kepatuhan nabi Ibrahim AS terhadap perintahNya, maka Allah membatalkan perintah itu ketika nabi Ibrahim sudah siap menggorok leher Ismail, dan mengganti Ismail dengan hewan ternak.

 

Artinya, pada intinya, berkurban adalah kepatuhan (mau, mampu, dan ikhlas) mengorbankan keduniawian seseorang untuk menjalankan perintahNya. Bukan sekadar membeli hewan ternak yang besar, gemuk, sehat, dan mahal, dan disembelih untuk kemudian dagingnya diberikan kepada orang lain (khususnya kepada kaum fakir-miskin), melainkan juga keikhlasan kita untuk menjalankan perintah Allah dengan mengorbankan rasa keduniawian kita.

 

Artinya, kalau saya menjadi seorang Presiden, maka saya harus mau, mampu, dan ikhlas untuk tidak sejahtera sebelum rakyat saya sejahtera. Kalau saya jadi kepala rumah tangga, maka saya harus mau, mampu, dan ikhlas untuk tidak makan sebelum seluruh anggota keluarga saya bisa makan. Karena Allah memerintahkan setiap Pemimpin untuk membawa umatnya ke kondisi yang lebih baik.

 

Selamat Hari Raya Idul Adha….

 

23 November, 2009

Drama Antiklimaks, KPK Vs Polri

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:40 pm

Mendengar pidato SBY pada Senin, 23 November 2009 mulai Pk. 20.00 terasa kurang jelas dan terkesan ngambang kesimpulannya, tetapi setelah itu, dari beberapa pengamat saya peroleh kesan bahwa Kasus Bibit-Chandra dihentikan. Lho, kok ??.

Memang, tidak ada kebijakan yang dapat memuaskan semua orang, pasti di antara orang-orang tersebut ada yang merasa puas, kurang puas, atau tidak puas, dan ada yang merasa di posisi di antara ketiga pernyataan tersebut.

Seperti halnya kebijakan SBY mengenai konflik antara KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan yang merupakan drama yang panjang, mendebarkan, dan mahal. Bagi sebagian pihak (semua ?), kebijakan tersebut bisa memuaskan, namun bagi saya, kebijakan tersebut tidak memuaskan, tidak sesuai dengan harga yang dikeluarkan untuk menggelar drama tersebut (palingan mereka berkata: “emang siapa luh ?””).

Begini, ini bisa menjadi pelestarian kebiasaan atau budaya yang terbukti menyarangi perbuatan korupsi (termasuk tilang/ denda damai, pungli/ uang rokok, dan semacamnya). Damai di luar pengadilan untuk urusan sebesar itu, tidak mendidik dan tidak bijak. Bolehlah kalau damai itu untuk urusan yang kecil-kecil, seperti seorang nenek yang nyolong tiga butir kakau di hektaran kebun kakau, atau seorang ayah yang nyolong seekor ayam karena keluarganya kelaparan, dan semacamnya, karena kalau semua harus diproses di pengadilan, maka jadwal pengadilan bisa padat dan semua keputusan kemungkinan sudah menjadi bebas karena sudah dipenuhi di masa penahanan, bahkan ada yang lebih. Bisa juga penjara menjadi penuh berjubel-jubel (saya pernah menyarankan di blog kepada calon Presiden untuk membuat penjara terbesar di dunia sebagai program kerjanya). Apalagi kalau harus potong tangan, mungkin hanya segelintir orang saja yang tangannya masih utuh di negeri ini.

Tapi, untuk urusan yang besar tersebut (melibatkan dana yang miliaran, bahkan bisa triliunan) seharusnya diusut tuntas, baik nanti pada akhirnya bisa divonis bebas karena “tidak ada bukti yang kuat,” maupun divonis bersalah karena ada bukti “yang kuat dan meyakinkan.” Kalau tidak diusut tuntas, maka kasus-kasus besar lain yang sudah menunggu di depan akan berlindung di balik kebijakan SBY. Dengan demikian markus (mafia kasus) akan beralih (atau bertambah) dari “pencari keadilan” ke “Kepolisian” atau ke “Kejaksaan” (juga atau menjadi) ke “Kepresidenan.”

Sinetron “Cinta Fitri” saja sudah beratus-ratus episode belum selesai, padahal hanya karena seorang “Miska” saja yang punya “otak kotor” yang tidak bisa diselesaikan oleh orang sebaik dan secerdas “Farel,” apalagi ini drama besar yang melibatkan orang-orang besar yang notabene akan membawa bangsa ini lebih maju (?).

“Kurang cukup bukti,” itulah alasan TPF-8 yang diamini oleh SBY. Padahal sejak semula Kapolri dan Kepala Kejagung bersikeras untuk meneruskan perkara ini sampai ke pengadilan. Kalau memang “kurang” ya tugas Polri dan Kejaksaan-lah yang harus “mencukupi”-nya. Beda sekali kalimat “kurang cukup bukti” dengan “tidak ada bukti,” Mungkin mereka (dan juga SBY) kuatir, nama lembaga pemerintah menjadi rusak kalau salah satu dari mereka harus kalah. Padahal itu tidak perlu dikuatirkan, nama lembaga Polri, Kejagung, dan KPK tetap berkibar dan berwibawa, yang harus dipertanyakan adalah kredibelitas orang-orang yang ada di dalamnya. Copot dan berhentikan jika mereka bersalah, bukan Polri, Kejagung atau KPK-nya yang harus dibubarkan.

Yah, kembali, “siapa sih luh ?,” itu pertanyaan yang cocok buat mengganjal ketidakpuasan saya akan pengambilan kebijakan SBY. Saya sadar, sebagai rakyat (rakyat kecil sekali), tidak bisa menyuarakan apa-apa kecuali harus terus dibuat sibuk untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga….(“gak usah ikut-ikutan ngurusin kami-lah, urus saja urusan kamu sendiri…”).

19 November, 2009

Menanti Kejutan: KPK vs Polri

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:13 pm

Sampai saat ini, kasus KPK Vs Polri masih tak kunjung usai, bahkan rekomendasi Tim 8 pun menuai protes. Presiden jadi bingung (meski kalau disampaikan ini Beliau akan menangkis “saya tidak bingung.”). Kejujuran memang mahal. Sekian milyar (bahkan kalau ditotal sampai triliunan) bergulir di segelintir orang di antara mereka, tapi bak siluman, uang itu tidak ada di tangan mereka. Meributkan “pepesan kosong ?.”

Tentu tidak, uang itu pasti ada pada mereka, tapi yang mana ?. Bisa jadi uang itu sudah dibagi-bagikan ke massa agar mengatur dan menggiring opini publik sehingga mereka pro ke satu pihak. Tak tanggung-tanggung, bisa jadi penggiringan opini publik itu melalui media massa atau komentator-komentator yang saat ini banyak bersliweran di media massa.

Independen ?. Siapa yang bisa menyebut dirinya sebagai pihak yang independen (mutlak) ?, apalagi untuk orang-orang yang sudah ‘ngetop’ dan banyak bergaul di kalangan elit negara, sangat diragukan independensinya. Mungkin yang bisa menjadi orang paling independen di negara ini adalah mereka yang 1). Anti peluru, anti benda tajam, anti pukulan, anti intimidasi, 2). Tinggal sebatang kara tanpa keluarga dan famili sehingga tidak butuh banyak biaya hidup, 3). Bertaqwa dan berjihad.

Banyak di antara kita (yang tidak tahu apa-apa, yang hanya tahu melalui media massa, dan katanya, katanya), ikut tergiring opini tersebut dan sok tahu, berani menyalahkan satu pihak.

Senin, 23 November 2009, Presiden akan mengambil kebijakan mengenai hal tersebut (setelah mendengar dari berbagai pihak, seperti Polri, Kejakgung, KPK, Tim 8, Anggota DPR). Kita tunggu saja. Sekarang hari Kamis, masih ada Jumat, Sabtu, Minggu. Dalam tiga hari tersebut masih akan mungkin terjadi kejutan yang akan membalik opini sebagian besar masyarakat. Bisa jadi, Presiden akan menunda kebijakannya.

5 November, 2009

Dua Jempol untuk Kapolri !!

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:37 pm

Menyaksikan siaran langsung “Rapat Komisi III DPR – Kapolri” Kamis, 5 November 2009 malam di TvOne saya jadi kesal, namun saking kesalnya, saya justru menjadi terbahak-bahak.

Saya salut dengan strategi Kapolri yang ‘melempar bola’ suatu pertanyaan ke Komisi III yang akhirnya menyita waktu cukup banyak bagi anggota DPR berdiskusi guna memutuskan jawaban atas pertanyaan itu yang meminta Kapolri menjelaskan kasus yang sedang panas-panasnya ini. Jadi, saya tahu, mereka memanggil Kapolri tanpa persiapan sama sekali, sehingga tidak ada kesan mereka sudah kompak sebelumnya.

Pimpinan sidang menyatakan bahwa hal ini mendadak dilakukan karena ada hal-hal yang urgen. Lho ?, kalau mendadak, bagaimana mereka (dalam grup Komisi III) dapat menggiring Kapolri melakukan penjelasan ke arah yang tepat. Sebaliknya, Kapolri (kalau mau) bisa menggiring mereka ke daerah bias. Aneh !, di antara mereka sendiri tampak ingin menonjolkan diri pribadi dengan mengatur dan mengolah kata agar mengesankan bahwa dirinyalah yang paling hebat.

Seharusnya, mereka (Komisi III) melakukan rapat di antara mereka sendiri dulu, sebelum memanggil pihak luar, sesempit apapun waktu itu. Dari rapat itu harus dihasilkan, seluruh kemungkinan masalah (rapat dengan pihak luar) sudah harus ada jawabannya (seperti pertanyaan Kapolri di atas, seharusnya sudah dapat langsung dijawab oleh Pimpinan Sidang tanpa harus ‘ramai’ dulu dengan para anggota Komisi III lainnya).

Akhirnya, Kapolri dapat menjelaskan kasus tersebut dengan runut dan gamblang, meski ada bagian-bagian cerita yang masih tetap harus disembunyikan pada rapat terbuka ini.

Sesuai tulisan-tulisan saya terdahulu mengenai KPK versus Polri, saya tetap dengan kesimpulan saya, yaitu yang harus kita selamatkan adalah lembaga KPK-nya bukan personilnya, karena personil KPK juga manusia biasa (bukan malaikat) tempatnya khilaf dan salah. Dalam kasus-kasus besar, Polri tentu tidak ingin ‘main api’ dengan kekuatan rakyat, dan bagi kita yang tidak tahu dengan pasti kasusnya, sebaiknya tidak mudah memfonis siapapun sebelum segalanya jelas.

Terakhir, saya masih miris dengan anggota-anggota DPR, khususnya Komisi III yang tampak masih banyak yang bersenda-gurau atau main-main dalam rapat terbuka yang membahas kasus serius yang menjadi perhatian masyarakat tersebut (ayo, profesionallah !). Juga, saya miris karena kasus ini menjadi melebar ke mana-mana, padahal para tersangka (Bibit-Chadra) tinggal diadili saja di persidangan (KPK vs Polisi). Jadi, tak perlu dibentuk tim 8 TPF segala, Susno dituntut mundur, tapi begitu mundur dipermasalahkan kenapa mundur, dan seterusnya…(jangan sampai cicak vs buaya yang menang justru para kadal…)

Sukanya kok “Ngelebarin”

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:03 am

Saya amati, kalau terjadi kasus yang melibatkan para petinggi atau pengusaha besar, maka kasus itu dibuat melebar hingga tak lagi fokus pada masalah utamanya. Tak heran banyak para petinggi dan pengusaha besar yang akhirnya “hilang ditelan bumi” dan kasusnya melebur tak jelas lagi karena tertimbun kasus-kasus lain yang diciptakan atau tercipta karena daya kreativitas sang maestro (aktor intelektual di belakangnya).


Akankah kasus “KPK vs Polisi” akhir-akhir ini akan bernasib sama hingga Anggodo tiba-tiba “hilang ditelan bumi” dan kasusnya menjadi lebur juga ?. Kasus ini juga sengaja dilebar-lebarkan hingga mengarah tak tentu arah, termasuk dibentuknya TPF. Hampir semua lembaga hukum negara menjadi terlibat, KPK, Kepolisian, Kejaksaan, (Kehakiman ?), bahkan sampai RI 1. Kalau semua akhirnya terlibat, berarti banyak lowongan kerja yang bisa ditawarkan kepada rakyat, dan harus dibangun penjara terbesar di dunia. Saya malu jadi orang Indonesia (bukan berarti harus pindah kewarganesaraan).

3 November, 2009

Cicak Vs Buaya ?, Kadal yang Menang !!

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:53 pm

 

Beberapa hari ini, nonton tv sungguh menyebalkan, isinya orang pada ribut, adu mulut, kalang-kabut, saling sikut, juga pantang takut. Tak ayal, petinggi negara kita alias orang nomor 1 alias presiden juga ikut tersangkut. Jadilah yang semula cicak vs buaya, alias KPK vs Polisi, kini sudah melibatkan gajah. Gimana juga yang menang sang kadal, alias orang yang bisa memanfaatkan situasi seperti ini untuk mengambil keuntungan.

 

Situasi ini merupakan lahan empuk bagi para pemburu berita, lahan enak buat para pengacara, dan lahan asik buat para penggosip. Seperti biasa, “wong cilik” (alias pihak yang ‘dizalimi’) alias KPK mendapat simpati yang amat luar biasa. Padahal, orang-orang yang duduk di KPK nota bene adalah “manusia biasa” yang juga bisa berbuat khilaf dan salah. Artinya, yang perlu kita perjuangkan adalah lembaga KPK-nya, bukan sekadar orang-orangnya. Percepatlah proses peradilan mereka agar segera diketahui, siapa yang salah dan siapa yang benar.

 

Namun, sudah menjadi kebiasaan orang-orang kita, jika ada masalah, maka ramai-ramai menuang bensin ke ‘api’ masalah tersebut. Tapi kali ini, ‘api’ tersebut cepat membesar dan berhasil menerangi kegelapan perilaku petinggi-petinggi alias orang-orang kaya di negeri ini yang biasa ‘bermain’ di atas ayat-ayat hukum dan perundang-undangan. Aparat terlambat memadamkan api tersebut dan malah ikut terbakar.

 

Siapa yang menang dan kapan masalah ini akan berakhir ?. Kata sang ‘kadal’: “tunggu dulu…, berilah kami waktu untuk meneguk keuntungan lebih banyak…” Iya, mereka bisa menikmati itu, tetapi bagi rakyat pada umumnya, ‘api’ tersebut turut menghangatkan dan bahkan bisa membakar hatinya. Bayangan mereka: “kalau begitu, selama ini perilaku mereka seperti itu dong …, mudah sekali mendapatkan uang bermilyar-milyar dalam waktu singkat, padahal, sebagian besar rakyat kita masih berada di bawah garis kemiskinan…..” Teganya mereka !.

 

 

 

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.