Bambang Wahyudi

28 October, 2009

Bahasa Indonesia ??

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 3:48 pm

Saya sependapat dengan MT Wilson yang miris tentang penggunaan bahasa Indonesia yang semakin tergerus dengan bahasa-bahasa asing. Saya sering mendapatkan (baca: membaca, mendengar, dan melihat) tulisan atau ucapan yang tidak sesuai dengan kaidah baku bahasa Indonesia. Karenanya, saya memilih menjadi pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia ketimbang Grafik Komputer.

Tidak tanggung-tanggung, bukan mahasiswa yang sering salah menulis, justru seorang dosen. Dari sana kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, seorang pengajar saja tidak peduli dengan bahasa Indonesia apa jadinya si murid atau mahasiswa ?

Dalam sidang sarjana saja, banyak mahasiswa yang tidak lulus gara-gara ditanya “apa itu data ?.” Bayangkan, calon sarjana informatika saja tidak bisa menjelaskan arti kata data yang setiap saat disebut, ditulis atau didengarnya. Belum lagi kalau kita lihat di tepi-tepi jalan, banyak mobil yang di depan kacanya ditulis “DI  JUAL.”  (red: mudah-mudahan yang menulis bukan mahasiswa atau dosen, apalagi mahasiswa atau dosen UG).

Beberapa saat lalu, ucapan selamat berulang tahun kepada negeri ini banyak ragamnya yang pada contoh ini kesemuanya salah kaprah, misalkan dengan tulisan: “HUT RI KE-64,” atau “HUT RI 64,” atau “HUT RI KE 64″ atau “DIRGAHAYU RI KE-64″ dan seterusnya. Pertanyaan saya simpel: “Memangnya RI ada berapa ?.”

Belum lagi kalau membaca PI, skripsi, bahkan sampai ke disertasi, masih banyak tulisan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Misalkan, isi KESIMPULAN ditulis dengan ringkasan, di LATAR BELAKANG MASALAH  ada judul, bahkan ada cara penyelesaiannya, di Landasan Teori malah tidak ada teorinya, dan sebagainya.

Karena itu, ayolah, mulai kita gunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam setiap karya-karya ilmiah atau karya-karya akademik lainnya. Jangan sampai orang lain membaca tulisan karya-karya kita merasa risih dan menjatuhkan keintelekan orang-orang akademis. Saya masih permisif jika bahasa gaul masih digunakan di dalam dialog pergaulan, tapi jangan terbawa di tulisan-tulisan ilmiah atau produk-produk akademis kita.

Misalkan, secara simpel, mana kata-kata yang benar :  1. jadwal atau jadual ?, 2. hutang atau utang ?, 3. handal atau andal ?, 4. aktifitas atau aktivitas, 5. resiko atau risiko ?, 6. sekedar atau sekadar ?, 7. silahkan atau silakan ?, 8. di samping atau disamping ?, 9. di berikan atau diberikan ?, 10. efektivitas atau efektifitas ?, 11. memproduksi atau memroduksi ?, 12. mempamerkan atau memamerkan ?, 13. menyakiti atau mensakiti ?, 14. menyukuri atau mensyukuri ?, 15. standarisasi atau standardisasi ?, dan sebagainya.

Jadi, bahasa asing tidak perlu ?, oh, sangat-sangat perlu, karena pergaulan kita hendaknya dilakukan dengan bangsa-bangsa lain juga…, tapi, jangan rusak bahasa kita…

26 October, 2009

Ribut Gaji Menteri

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:07 pm

 

Baru saja dilantik menjadi menteri, malah hal awal yang dibicarakan malah usul kenaikan gaji. Astaghfirullah !!. Pantesan mereka pada sujud syukur begitu namanya disebut SBY sebagai menteri yang mendampingi beliau di pemerintahan. Tadinya saya bingung, kenapa mereka melakukan sujud syukur (syukuran), kan di depan mereka bertumpuk berbagai masalah, bertumpuk berbagai kasus, bertumpuk berbagai ketidakberesan yang harus mereka selesaikan. Seharusnya mereka menangis tersedu-sedu, seharusnya mereka mengucapkan “Innalillahi wa innalillahi roji’un” ketika diberi jabatan menteri itu.

 

Saya jadi maklum kenapa mereka melakukan sujud syukur ketika itu, karena yang ada di benak mereka adalah pangkat, kedudukan, dan penghasilan yang besuar. Bahkan, minta lagi yang lebih besuuaar, padahal prestasi belum kelihatan apa-apa, bahkan (maaf), tanpa maupun dengan adanya menteripun hidup rakyat terus begini-bigini saja. Gaji seorang menteri yang (tertulis) sebesar sekitar 18 juta rupiah memang terlampau kecil untuk mengurusi negara, tapi kalau mau jujur, seorang menteri akan menerima pendapatan take home pay berada di kisaran 100 sampai 200 bahkan 300 juta rupiah per bulan !!. Dari mana saja ?. Banyak ‘lubang’ sebagai celah yang dapat menghasilkan uang bagi seorang menteri. Sederhana saja, memenuhi undangan pengusaha atau pejabat lain, setidaknya ia bisa mengantungi 25 sampai 50 juta per undangan. Kalau dia bukan menteri, apakah pengusaha itu mau memberinya sebesar itu ??, tentu tidak.

 

Tapi kan, mereka harus ’membayar’ atau mengembalikan uang-uang yang telah dikeluarkan oleh partai atau partisipan-partisipannya ?. Ah !, itu kecil, tinggal ’colek’ saja pejabat-pejabat di bawahnya, minta saja mereka menyediakan dana sekitar 100 juta per bulannya, beres. Kalau mereka tidak mau atau tidak sanggup, mutasi atau pecat saja, toh masih banyak yang sanggup atau mau (itu saya dengar sendiri dari mereka yang berada di departemen-departemen).

 

”Gimana laporan keuangan departemen itu ?” tanya saya. ”Kok repot, yang penting menterinya mau tanda tangan saja laporan keuangan itu, dan pasti mau, rekayasa saja laporannya…” Saya dibodoh-bodohi, ”jangankan sampai departemen atau menteri, laporan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) di tingkat kelurahan saja, pasti melakukan rekayasa laporannya..” sambungnya.

 

Wah, wah, wah, … pastas saja negara ini tak maju-maju, pantas saja negara ini dikurung bencana, jangankan bencana yang tidak jelas kapan terjadinya, bencana yang di depan mata saja sudah menunggu saat ’meledaknya,’ seperti bencana banjir, bencana lumpur lapindo, bencana kebakaran hutan, dan sebagainya.

 

Jadi, bagaimana kalau gaji menteri akan naik ?. Masa bodoh-lah, innalillahi wa inna lillahi roji’un, Tuhan tidak pernah tidur, dan Tuhan Maha Cepat Perhitungannya, saya kembalikan saja kepadaNya kepantasan itu….

 

(Kalau sudah membawa-bawa nama Tuhan, selesailah segala masalah…nyaman….)

 

 

 

5 October, 2009

Jakarta, bersiaplah …..

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:25 pm

Seperti ditulis di blog pak Budi Prijanto (Karami), negeri ini tidak henti-hentinya dirundung duka karena ditimpa musibah. Pak Budi berharap kita semua berdoa untuk mengakhiri musibah-musibah seperti itu. Memang benar, doa bisa mengubah ”kejadian buruk di masa depan” menjadi ”kejadian baik di masa depan.”

Namun demikian, tentu yang dimaksud dengan doa bukan sekadar ”komat-kamit” seperti membaca kalimat-kalimat tanpa makna. Ada banyak prasyarat, ada banyak ketentuan, dan ada banyak keharusan agar sebuah doa itu dikabulkan oleh Sang Maha Pengabul Doa.

Niat, ucapan, dan perilaku adalah bagian dari doa. Bagaimana mungkin kita memanjatkan doa agar Jakarta tidak banjir di musim hujan apabila perilaku masyarakat masih suka membuang sampah di selokan, jalanan, atau sungai. Lihat saja di sepanjang tepi rel kereta api jika kita naik dari Pondok Cina sampai ke Cikini (belum jika kita lihat di tempat-tempat lain), banyak sekali tumpukan sampah, bahkan telah menjadi tempat pembuangan akhir sampah. Kata orang ’beriman’: ”Kalau Tuhan mau, biar banyak tumpukan sampah, tidak akan terjadi banjir..!”

Benar, banjir bukan disebabkan oleh banyaknya tumpukan sampah, banjir terjadi karena terlalu banyaknya air !. Tetapi Tuhan tidak main-main dengan sunnah (ketetapan)Nya, ”air akan mengalir ke daerah yang lebih rendah.” Bila aliran air itu terhambat (sampah), maka air akan menggenang (banjir). Meskipun Tuhan Maha Segalanya, Ia tidak akan membuat air itu terbang jika kita sama-sama membaca doa sampai mulut ini berbusa.

 

Mengutip perkataan Cak Nun, ”bangsa kita baru hebat dalam beribadah (habluminallah, red), sehingga amat sulit mencari koruptor yang tidak melaksanakan umroh, naik haji atau menyumbang anak-anak yatim.”

Artinya, untuk urusan sholat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah yang langsung berhubungan dengan Tuhan, maka bangsa kita sangat hebat. Tetapi, masih lemah dalam ibadah yang berhubungan dengan sesamanya (habluminannas). Pendidikan budi pekerti, hapus. Siskamling, urusan pembantu saja. Gotong-royong, bubar. Orang miskin masuk rumah sakit, usir. Pekerja, peras tenaganya. Perilaku di jalan, brutal, dan masih banyak lagi, sampai-sampai saya pernah menulis di blog dengan judul ”Saya malu jadi orang Indonesia (bukan berarti harus pindah kewarganegaraan)”

Seperti di lingkungan saya (RW), kalau sedang rapat dan diminta pendapatnya untuk rencana suatu kegiatan kemasyarakatan, maka hampir semua peserta rapat berbicara keras, lancang, hebat, spektakuler, dan sebagainya. Namun, ketika diminta sumbangan dana untuk melaksanakan kegiatan tersebut, hampir semua mundur teratur dan kembali bungkam….

 

Dalam ceramahnya, Ustadz di acara Halal bil halal di UG Senin 5 Oktober 2009 mengatakan bahwa: ”ada rumusnya bagaimana negeri ini agar tidak terkena bencana, termasuk bencana gempa bumi ini.”

Pendapat ini mirip dengan pendapat saya sejak lama, namun kata ”rumus,” saya istilahkan dengan ”sistem.” Artinya, Tuhan mencipta jagat raya ini selama enam masa (dan kini sudah selesai). Dengan demikian, Ia kini bersemayam di Arasy mengatur segala urusanNya.

Jadi, setiap bayi yang lahir ke dunia, tidak lain sudah berikut sistem yang telah diberlakukanNya terhadap (seluruh) bayi (manusia). Begitu juga terhadap seluruh makhluk ciptaanNya yang semua tunduk pada ketentuan (sunnahNya). Selanjutnya, segala urusan bumi ini diserahkan kepada makhluk yang bernama manusia.

Bisa jadi, kini Tuhan sedang ’menangis’ menyaksikan negeri ini ditimpa malapetaka yang bertubi-tubi dan demikian dahsyatnya. Tapi, sekali lagi, Tuhan tidak pernah bermain-main dengan sunnahNya (meskipun Ia bisa membuat segalanya menjadi lebih baik). Tinggal kita (manusia) sendirilah yang harus berdoa agar segala sesuatunya menjadi lebih baik, berdoa dalam arti kata: niat, perkataan dan perilaku (perbuatan) yang harus mengarah ke perbaikan (yang diinginkan) itu.

”Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya.”

Jadi, selama doa kita buruk selama musim penghujan ini, Jakarta, bersiap-siaplah menghadapi banjir…., dan duka kembali (akan) menyelimuti bumi pertiwi ini….

 

 

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.