Bambang Wahyudi

21 August, 2009

Berkah Perbedaan…

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:45 pm

Saya sering mendengar pernyataan bahwa “perbedaan adalah berkah dari Yang Kuasa…,” padahal, banyak perbedaan yang justru menimbulkan peperangan. Jadi, apakah peperangan itu (juga) termasuk berkah ?.

Tidak usah jauh-jauh, perbedaan dalam penentuan awal dimulainya puasa saja banyak perbedaan, belum lagi nanti penentuan 1 Syawal (Idul Fitri). Itu juga berkah ?.

Menurut saya, berkah dalam perbedaan, bila (bisa) memberi manfaat. Misalkan adanya siang dan malam, adanya lelaki dan perempuan, adanya kaya dan miskin, dan sejenisnya… itu adalah perbedaan yang membawa berkah. Pun perbedaan pendapat, bila itu bisa memberi manfaat, maka di sanalah terdapat berkah.

Jadi, apa kira-kira ya manfaat dari perbedaan penentuan awal dan berakhirnya saat (hari) Ramadhan itu ?.

18 August, 2009

Marhaban Ya Ramadhan …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:48 pm

 

Ramadhan, bulan pembakar segala dosa

Kembali datang menghampiri

Tapi, apakah kita dapat ikhlas menyambutnya ?

Sepertinya, banyak di antara kita yang tak ikhlas dosa-dosanya terbakar

Dengan tetap memendam rasa dendam

Dengan tetap memelihara sifat dusta

Dengan tidak mengakhiri rasa iri

 

Ramadhan, bulan penyuci diri

Kembali datang menjumpai

Tapi, apakah kita dapat mengiringinya ?

Sepertinya, banyak di antara kita yang tak sejalan dengannya

Kerja menjadi lebih malas

Hidup menjadi lebih boros

Bahkan dengan begitu mudah alasan membatalkan puasa

 

Ramadhan, bulan yang penuh berkah

Kembali datang menjamah

Tapi, apakah kita dapat menerimanya ?

Sepertinya, banyak di antara kita yang tak mau mendapat berkahnya

Padahal dengan berpuasa, tubuh akan menjadi lebih sehat

Padahal dengan bersedekah, jiwa akan menjadi lebih terang

Padahal dengan beribadah, batin akan menjadi lebih tenang

 

Ramadhan

Selamat datang kolak

Selamat datang timun suri

Selamat datang kelapa muda

Selamat datang baju-baju baru

Selamat datang THR

Selamat datang naiknya harga-harga

 

Ramadhan

Mungkin baru sebatas itulah sebagian besar dari kami mengartikanmu

Meski kami berpuasa, pungli terus tegak berdiri

Meski kami berpuasa, kekerasan tetap jalan

Meski kami berpuasa, mencari keuntungan berlebih tetap menjadi keharusan

 

Ramadhan

Keburukan itu semua hanyalah cerita masa lalu

Mudah-mudahan tidak terjadi lagi di masa kini dan masa datang

Semoga kali ini kami mulai khusuk menyambutmu

Semoga kami mampu mengiringimu dalam mencapai ketaqwaan

Semoga Allah meridhoi kami

Aamiin.

 

 

 

 

 

5 August, 2009

Selamat Datang Mahasiswa Baru

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:45 pm

Sebagai kakak tertua (mungkin udah gak pantes lagi disebut kakak, saking tuanya), ada beberapa nasihat yang perlu saya sampaikan (berdasarkan pengalaman saya) kepada mahasiswa baru. Mudah-mudahan nasihat ini dapat memberi manfaat.

 

1. NIAT

 

Dalam semua bentuk ibadah, dalam hal ini termasuk ibadah ‘menuntut ilmu’ hal yang terpenting dan utama adalah meneguhkan niat bahwa “saya masuk ke UG karena saya ingin menuntut ilmu.” Tanpa niat yang teguh, maka ‘keimanan’ akan mudah goyah, terbawa arus sesat yang menyesatkan. Godaan dalam menuntut ilmu sama dengan godaan untuk beribadah lainnya karena setan (penggoda orang yang akan berbuat baik) dapat menjelma menjadi apapun (merasuk ke hati), termasuk menjadi teman-teman kuliah.

 

2. APA YANG AKU LAKUKAN, HASILNYA KEMBALI KEPADA AKU

 

Selanjutnya adalah harus memiliki prinsip, ”jika aku mau berhasil, maka akulah pemeran utamanya, begitu juga sebaliknya, jika aku gagal, maka aku jugalah pemeran utamanya.” Jadi, bagaimanapun, masa depan kita tergantung dengan apa yang kita lakukan sejak saat ini. Keberhasilan kita di masa depan, bukan tergantung dari orang atau pihak lain. Tidak ada satupun sekolah di dunia ini yang berani menjamin keberhasilan kita di masa depan. Dengan demikian, hilangkan sifat kekanak-kanakan, yaitu sifat yang sering harus disuruh-suruh, dipaksa-paksa dan semacamnya untuk melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri.

 

3. MILIKI STRATEGI DALAM BELAJAR (BERKAITAN DENGAN DOSEN)

 

Banyak hal yang harus ’dipelajari’ agar hasil belajar bisa optimal. Setiap orang harus mengertahui apa kelemahan dan kelebihannya sendiri, dan orang juga harus tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh dosennya. Contoh sederhana, tampaknya dosen X lebih suka kalau memberi soal selalu minta jawaban yang merupakan hasil analisis atau pendapat pribadi, bukan hafalan dari buku. Maka, kita harus banyak memiliki wawasan (bisa dengan membaca buku, mendengar berita, melihat televisi, dsb.) karena kemungkinan besar sewaktu ujian nanti, dosen tersebut akan memberi soal yang serupa dengan itu.

 

4. MEMILIKI STRATEGI DALAM BELAJAR (BERKAITAN DENGAN FASILITAS BELAJAR)

 

Tidak semua dari kita memiliki fasilitas yang baik sesuai tuntutan pembelajaran yang ada di kampus. Sebagai contoh, kita diminta mendownload catatan atau soal oleh dosen melalui internet. Lalu bagaimana yang tidak memiliki jaringan internet di rumah ?, kalau menyewa di Warnet bisa-bisa tekor, kalau yang gratisan (misal, di Internet Lounge UG, waktunya terbatas sekali), dan kendala-kendala lainnya. Untuk itu, kita seharusnya memiliki kelompok belajar yang salah satu rekan kita memiliki fasilitas untuk itu. Kelompok belajar tersebut harus saling mendukung agar dapat bekerja sama dengan baik.

5. MEMILIKI STRATEGI DALAM MENJAMIN BIAYA KULIAH

 

Kalau orang-tua atau wali kita mampu membiayai uang kuliah sampai akhir, maka itu tidak ada masalah. Namun, pada umumnya, jika seorang anak sudah mulai masuk kuliah, orang-tuanya sudah atau mendekati masa pensiun. Bagaimana dengan kelanjutan kuliah kita nantinya ?. Tentu, sejak dini, berhematlah, dan kalau mungkin menabunglah. Bila tidak, maka kita bisa mulai berpikir untuk mendapatkan dana tambahan yang kita upayakan sendiri. Misalkan, memberi les atau privat kepada anak-anak SD, SMP atau SMA. Bisa juga mulai mengembangkan jiwa wirausaha, misalkan dengan membuat catatan kuliah yang bagus lalu dijual ke rekan-rekan seangkatannya, atau membuat kreasi barang-barang seni yang memiliki nilai jual, dan sebagainya. Atau, bisa saja mengajukan beasiswa melalui bidang kemahasiswaan UG bila nilai-nilai kita bermutu baik.

 

6. PANDAI MENANGKAP PELUANG

 

Jangan suka membuang-buang umur di kampus. Jika ada peluang untuk menjadi asisten, ada peluang untuk mengikuti seminar, ada peluang untuk melakukan penelitian bersama dosen, ada peluang lomba, ada peluang mendapatkan beasiswa, ada peluang menjadi pengurus organisasi kemahasiswaan, dan peluang-peluang lain, maka rebutlah. Namun semua peluang itu tentu dalam balutan ’menuntut ilmu,’ sehingga dapat menjadi bekal diri di kemudian hari.

 

7. DEWASAKAN DIRI

 

Orang yang dewasa (pemikirannya), akan tahu sendiri, mana hal yang pantas dilakukan, dan mana yang tidak, tanpa perlu dibelenggu oleh peraturan yang ada. Contoh sederhana, pantaskah mahasiswa melakukan tawuran ?, mana pemikiran inteleknya ?, mana pemberian contoh ke adik-adiknya ?. Jadi, kita harus dapat mengukur diri, mana yang pantas dan tidak pantas kita lakukan sebagai seorang mahasiswa. Pikirkanlah kalimat ini, ”semakin tinggi derajat seseorang, maka ia akan membelenggu diri dengan banyak peraturan (menjadi orang yang tidak bebas), sebaliknya, semakin rendah derajat seseorang, maka ia tidak ingin dibelenggu peraturan apapun (menjadi orang yang sangat bebas).” Misalkan, silakan bandingkan antara seorang ratu dan orang gila.

 

8. BELAJARLAH

 

Belajar bukan hanya ada di bangku kuliah (di dalam kelas), belajar memiliki arti yang luas. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, termasuk pengalaman dosen. Kita bisa belajar dari keberhasilan atau kegagalan kakak-kakak kelas kita. Kita bisa belajar bagaimana seharusnya bersikap kepada teman dan dosen, Kita bisa belajar berorganisasi atau berkelompok, dan sebagainya. Jadi, tidak ada waktu yang tersia-sia melainkan semua bisa dijadikan pelajaran bagi diri kita.

 

9. BERBAKTILAH

 

Meskipun segala kesuksesan diri adalah karena hasil upaya diri sendiri, namun semua itu ada andil dari pihak lain. Pertama kepada Pemberi Hidup, Tuhan Yang Maha Esa, Kedua, kedua orang-tua yang telah melahirkan dan melindungi kita hingga kita bisa menjadi seperti ini. Ketiga, guru-guru kita yang telah mengisi jiwa kita dengan lentera kehidupan. Keempat, orang-orang yang ada di sekitar kita (teman-teman, saudara, tetangga, dan sebagainya). Rendahkan hati kita, jangan sombong, jangan mentang-mentang, dan pantaskan segala tindakan dan ucapan kita yang mencerminkan bahwa kita memiliki akhlak yang baik.

 

Jika kita memiliki akhlak yang baik, maka Tuhan akan meridhoi apapun yang telah diberikanNya kepada kita. Jika kita memiliki akhlak yang baik, maka orang-tua akan mengikhlaskan semua pemberiannya sejak kita masih di dalam kandungan hingga kini. Jika kita memiliki akhlak yang baik, maka guru-guru akan akan bangga dan turut mendoakan keberhasilan kita. Jika kita memiliki akhlak yang baik, maka orang-orang di sekeliling kita akan merasa teduh dan tenteram berada di dekat kita.

 

Silakan buat kalimat sebaliknya….

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.