Bambang Wahyudi

31 July, 2009

Yang Tersirat dari Raker 2009

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:09 am

 

Mengikuti acara rapat kerja (Raker) ke-14 Universitas Gunadarma (UG), terpancar keoptimisan yang tinggi mengenai masa depan UG. Mulai dari bahan-bahan ajar (di SAP) maupun materi-materi ajar (di staffsite dan buku-buku UG) yang banyak dijadikan acuan di berbagai perguruan tinggi (PT), hingga pada peningkatan kemampuan (profesionalisme) dosen-dosen, serta ketersediaan IT yang sangat memadai.

 

Menjadi acuan di berbagai PT diketahui karena banyak dosen UG yang menjadi asesor yang menemukan hal itu di setiap kunjungannya. Menjadi profesional karena banyak dosen UG yang telah mengantongi berbagai sertifikat baik nasional maupun  internasional dalam bidangnya masing-masing. Ketersediaan IT karena UG telah menyediakan fasilitas seperti staffsite, studentsite, virtual class, virtual laboratory, electronic library, carier center, dan banyak lagi yang didukung pula dengan area hotspot dan internet lounge yang gratis.

 

Akhir-akhir ini memang UG terasa sedang berlari kencang. Berbagai kegiatan dilaksanakan menuju visi UG 2012 yang pada intinya akan berkiprah dan dikenal di percaturan PT di dunia. Hal tersebut sudah ketara pasti akan tercapai dengan telah banyaknya dosen yang lulus dari PT di luar negeri, pengiriman dosen untuk menjadi pemakalah di berbagai PT di luar negeri, penyelenggaraan seminar tingkat internasional, serta seringnya kunjungan dilakukan oleh perwakilan PT luar negeri ke UG.

 

Meski tengah mengarah ke luar negeri, namun UG tidak meninggalkan kegiatan dengan berbagai pihak di dalam negeri. Berbagai kesepakatan telah dicapai dengan beberapa pihak, seperti dengan dunia usaha, institusi pendidikan, pemerintah daerah, kementerian, dan sebagainya. Isi kesepakatan itu beraneka ragam, namun pada intinya adalah untuk memajukan sivitas akademika (dosen dan mahasiswa), misalkan untuk magang kerja bagi mahasiswa, penerimaan pegawai dari lulusan UG, pelaksanaan pendidikan/ pelatihan bagi pegawai instansi lain, dan banyak lagi.

 

Pada pelaksanaan sertifikasi dosen, dua periode ini, UG menjadi top score jumlah dosen di PTS yang diusulkan sertifikasinya, dan pada tahun ini, UG telah menjadi PT yang menjadi Pelaksana Pensertifikasian dosen dari PT lain.

 

Jadi, intinya, dari raker tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa UG sedang berlari kencang untuk jauh melebihi target yang dicanangkan di visinya, dan ini segera akan tercapai.

 

Karenanya, melalui ini, saya mengajak mereka yang belum ’in’ atau masih berjalan di tempat, atau masih belum sadar diri berada di lingkungan yang sedang berlari cepat ini, segera ikut berlari, sebelum akan tertinggal.

 

Caranya ?

 

Banyak. Bisa dengan melakukan penelitian (khususnya yang dibiayai oleh pihak luar), menulis buku ajar, mengembangkan modul praktikum, aktif mengisi staffsite dan berbagai fasilitas IT lain (agar peringkat webometric UG bisa naik lagi), menjadi pemakalah di seminar-seminar, mengembangkan teknik mengajar, melaksanakan kegiatan keilmuan bersama mahasiswa, melaksanakan pengabdian pada masyarakat, berusaha mendapatkan sertifikasi keahlian, dan banyak lagi.

 

Semoga optimisme ini akan terus dapat dipertahankan dan ditingkatkan sehingga UG dapat menjadi PT world class yang patut diperhitungkan. Aamiin.

 

 

 

30 July, 2009

Penjabaran Nasihat Eyang (Part II) No. 6

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:40 pm
New comment on your post #98 "NASIHAT EYANG (part II)"
Author : Dede (IP: 192.168.38.90 , 192.168.38.90)
E-mail : muhajirin_dede@yahoo.co.id
URL    : 
Whois  : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=192.168.38.90
Comment: 
eyang ijin copas spy bisa dipahami lebih dalam dan diamalkan

 

Dua terbitan blog saya (dulu), saya manfaatkan untuk berbagi kebaikan kepada Pembaca sekalian, yaitu berisi mengenai “nasihat dari Eyang kepada saya,” namun malah saya yang jadi dipanggil “Eyang.” No problem lah !.

 

Dede, salah seorang Pembaca meminta saya untuk mengupas nasihat-nasihat itu, tapi nanti bakal menjemukan karena tulisannya bisa panjang. Karenanya, saya coba mengupasnya satu per satu saja, dan secara singkat pula.

 

PENGANTAR

 

Nasihat itu saya dapatkan selama perjalanan hidup saya (sekarang 47 tahun), dan saya dapatkan dari berbagai pengalaman (”Eyang”), karena pengalaman itu telah menuntun hidup saya selama ini, yang Insya Allah selalu berusaha berada di jalan yang benar. Memang, nasihat-nasihat itu sulit ’dicerna’ tanpa tempaan kerasnya hidup yang telah dialami seseorang. Dengan penjabaran ini, saya akan berusaha membuatnya menjadi mudah dicerna.

 

NASIHAT 6

 

“Jangan suka berbicara yang tidak keruan, karena ucapanmu itu sesungguhnya  termasuk bagian dari doa-doamu yang Insya Allah akan dikabulkanNya”

 

PENJABARAN

 

Logikanya sederhana. Saya berdoa kepada Tuhan dengan menengadahkan kedua tangan sambil berucap, “Ya Allah, kayakanlah aku agar aku dapat menolong saudara-saudaraku…”  Pertanyaannya, apakah Tuhan langsung mengabulkan doa itu ?. Tentu tidak, karena saya harus berupaya, berusaha, dan bekerja, tidak duduk diam tanpa berupaya apa-apa.

 

Upaya untuk ‘menggapai’ hasil dari doa saya tadi harus dilakukan dengan  konsentrasi penuh (niat bersungguh-sungguh), yang dilanjutkan dengan bekerja sebaik mungkin (dengan tindakan, perilaku dan ucapan) sesuai dengan tugas saya dalam bekerja. Jadi, kalau pekerjaan saya adalah dosen, maka saya harus bertindak, berperilaku, dan berucap sebagaimana dosen harus melakukannya. Bila tidak, maka saya hanya ‘bermain-main’ dengan doa saya semula.

Ambil saja contoh sederhana, bila saya sebagai dosen, lalu ucapan saya di kelas di hadapan para mahasiswa saya tidak mencerminkan selayaknya seorang dosen (misalkan dipenuhi dengan gosip, omongan kotor, adu-domba, dan semacamnya), maka mahasiswa akan melakukan protes ke atasan saya, dan seterusnya yang dapat mengakibatkan ’putus’ atau ’terpotong’nya rejeki saya. Akibatnya, doa saya semula tidak akan terkabul atau akan ditangguhkan (ditunda) terkabulnya.

 

Kalau begitu, orang tidak boleh bercanda dong ?

 

Lihat tugasnya dulu. Seorang nabi (utusan Tuhan) tidak pernah bercanda dalam menjalankan tugasnya (tidak ada hadist yang pernah menyatakan bahwa seorang nabi bercanda dalam menyampaikan ajaran-ajarannya). Tapi, bagi seorang (yang berprofesi sebagai) pelawak, bercanda merupakan hal yang wajib. Bagi seorang dosen, ketika ia berperan sebagai dosen, maka ia tak boleh bercanda dengan tugasnya, tetapi ketika membawakan atau menyampaikan pelajarannya di depan kelas, boleh saja bercanda tetapi  dengan tujuan untuk lebih mudahnya atau untuk lebih cepatnya materi yang disampaikan diterima mahasiswanya. Di luar sedang menjalankan tugasnya, silakan bercanda sebatas kewajaran (tidak merendahkan harkat dan martabat diri atau orang/ pihak lain).

 

Jadi, kesimpulannya adalah, ucapan merupakan bagian dari (keberhasilan) doa. Karenanya saya sangat berharap semoga kaum Ibu jangan berucap seperti contohnya ”dasar anak nakal !” kepada anaknya ketika anak itu tidak dapat dilarang. Karena saya khawatir doa Ibu itu akan dikabulkanNya dan menjadikan anak itu benar-benar tumbuh menjadi anak yang nakal. Carilah kata-kata yang indah, misalkan ”aduh anak ibu yang cantik…, jangan dipetik bunga itu ya…” dan sebagainya.  Mudah-mudahan anak Ibu itu akan menjadi anak yang cantik, begitu juga dengan Ibunya…..

 

23 July, 2009

Penjabaran Nasihat Eyang (Part II) No. 2

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:14 pm
New comment on your post #98 "NASIHAT EYANG (part II)"
Author : Dede (IP: 192.168.38.90 , 192.168.38.90)
E-mail : muhajirin_dede@yahoo.co.id
URL    : 
Whois  : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=192.168.38.90
Comment: 
eyang ijin copas spy bisa dipahami lebih dalam dan diamalkan

 

Dua terbitan blog saya, saya manfaatkan untuk berbagi kebaikan kepada Pembaca sekalian, yaitu berisi mengenai “nasihat dari Eyang kepada saya,” namun malah saya yang jadi dipanggil “Eyang.” No problem lah !.

 

Dede, salah seorang Pembaca meminta saya untuk mengupas nasihat-nasihat itu, tapi takutnya, nanti bakal menjemukan karena tulisan saya bisa panjang jika harus menjabarkannya. Karenanya, dengan ini saya coba mengupasnya satu per satu saja, dan secara singkat pula.

 

PENGANTAR

 

Nasihat itu saya dapatkan selama perjalanan hidup saya (sekarang 47 tahun), dan saya dapatkan dari berbagai pengalaman (”Eyang”), karena pengalaman itu telah menuntun hidup saya selama ini, yang Insya Allah selalu berusaha berada di jalan yang benar. Memang, nasihat-nasihat itu sulit ’dicerna’ tanpa tempaan kerasnya hidup yang telah dialami seseorang. Dengan penjabaran ini, saya akan berusaha membuatnya menjadi mudah dicerna.

 

NASIHAT 2

 

”Jangan berharap orang akan percaya dengan ide-ide besar kau, sementara belum ada satu karya nyata kecil kau yang dapat mereka rasakan.”

 

PENJABARAN

 

Nasihat ini berisi ajakan agar kita memiliki karya cipta yang nyata (Krishnamurti sang motivator berkata ”Tuhan mencipta otak kita untuk menciptakan ide-ide kreatif, bukan hanya sekadar untuk operating”), sekecil apapun karya cipta kita itu lebih berharga dari sekadar bualan besar. Contoh sederhana, jika kita sebagai dosen mata kuliah bahasa pemrograman komputer, maka mahasiswa  hanya akan memandang kita dengan sebelah mata atau bahkan tidak dipandang sama sekali jika kita belum pernah membuat program yang nyata.

 

Jika kita mengatakan sebuah buku itu buruk, maka orang lain akan bertanya, ”mana buku karangan Anda ?,” atau ”coba saya lihat, tulisan Anda barang selembar saja..!.” Atau, ibarat seorang komentator pertandingan sepak bola, sebagus apapun komentarnya, orang akan bertanya ”Anda pernah jadi pelatih klub sepak bola ?,” bila belum, maka orang akan mudah berkata ”kalau hanya modal ngomong doang, semua juga bisa !.”

 

Atau, Pak Mario Teguh, sang motivator pula, pernah mengumpamakan (saya bumbui sedikit): ”Ide Anda untuk membangun jalan tol dari Jakarta ke Surabaya, memang bagus, tapi, pernahkan Anda membuat satu jembatan kecil saja yang bisa dilalui orang untuk menyeberangi sungai ?. Kalau belum, buang saja ide Anda ke laut.”

 

Tidak ada sesuatu tiba-tiba menjadi besar tanpa melalui proses dari kecil dulu. Sebagai contoh nyata, seseorang yang memiliki supermarket besar, ia pernah menjadi penjaja sayur keliling kampung. Seseorang yang memiliki pabrik besar air mineral, dulunya pernah menjual air putih dibungkus plastik di terminal-terminal bus kota, dan sebagainya. Tidak usah jauh-jauh, diri kita yang sekarang telah menjadi sebesar ini, dulunya kecil, bahkan dimulai dari yang sangat kecil.

 

Karenanya, kesimpulan yang dapat diambil dari nasihat ini adalah, pastikan sekarang kita ada di posisi mana. (1) Posisi sebagai pegawai di kampus misalkan, tunjukkan karya nyata kita untuk kampus, misalkan menciptakan (memperbaiki) tata tertib praktikum, atau menciptakan (memperbaiki) prosedur absensi, atau menciptakan (memperbaiki) tata cara pengambilan DNS, dan sebagainya. (2) Posisi kita sebagai anggota dari RT/ RW di lingkungan tempat tinggal kita, tunjukkan karya nyata kita, misalkan dengan menciptakan (memperbaiki) siskamling, menciptakan gerakan sosial kepada warga miskin, menciptakan gerakan gotong-royong penghijauan lingkungan, dan banyak lagi. (3) Posisi kita sebagai anggota perhimpunan orang-tua murid di sekolah anak-anak kita, ciptakan pertemuan rutin untuk membahas kebutuhan anak didik dan/atau sekolah, melakukan gerakan orang-tua asuh bersama  bagi siswa yang tak mampu, dan sebagainya.

 

Jadi, karya apa yang bisa kita perbuat mulai sekarang ?

 

21 July, 2009

Penjabaran Nasihat Eyang (Part 2) No. 1

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:59 pm
New comment on your post #98 "NASIHAT EYANG (part II)"
Author : Dede (IP: 192.168.38.90 , 192.168.38.90)
E-mail : muhajirin_dede@yahoo.co.id
URL    : 
Whois  : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=192.168.38.90
Comment: 
eyang ijin copas spy bisa dipahami lebih dalam dan diamalkan

 

Dua terbitan blog saya, saya manfaatkan untuk berbagi kebaikan kepada Pembaca sekalian, yaitu berisi mengenai “nasihat dari Eyang kepada saya,” namun malah saya yang jadi dipanggil “Eyang.” No problem lah !.

 

Dede, salah seorang Pembaca meminta saya untuk mengupas nasihat-nasihat itu, tapi nanti bakal menjemukan karena tulisannya bisa panjang. Karenanya, saya coba mengupasnya satu per satu saja, dan secara singkat pula.

 

PENGANTAR

 

Nasihat itu saya dapatkan selama perjalanan hidup saya (sekarang 47 tahun), dan saya dapatkan dari berbagai pengalaman (”Eyang”), karena pengalaman itu telah menuntun hidup saya selama ini, yang Insya Allah selalu berusaha berada di jalan yang benar. Memang, nasihat-nasihat itu sulit ’dicerna’ tanpa tempaan kerasnya hidup yang telah dialami seseorang. Dengan penjabaran ini, saya akan berusaha membuatnya menjadi mudah dicerna.

 

NASIHAT 1

 

Jangan pernah merasa rugi ‘dimanfaatkan’ orang lain, karena kau memang dituntut hidup untuk sebanyak-banyaknya memberi manfaat bagi orang lain.

 

PENJABARAN

 

Inti kita diciptakanNya adalah untuk menjadi individu yang mengabdi kepadaNya. Sebagian besar pengabdian kepadaNya, justru dengan berbuat baik kepada seluruh makhluk ciptaanNya (lebih khusus lagi kepada sesama manusia), karena Tuhan tidak membutuhkan sama sekali bantuan kita untukNya.

 

Dengan kata lain, manusia yang terbaik adalah manusia yang bisa membawa manfaat sebesar-besarnya untuk sesamanya. Dua ciri manusia seperti itu antara lain: (1) selalu membawa keteduhan, keamanan, dan kenyamanan bagi lingkungan di manapun ia berada. Sebaliknya, orang yang terburuk adalah orang yang di manapun ia berada, orang lain (lingkungannya) merasa risih, kesal, curiga, was-was, dan sebisanya pergi menghindar dan meninggalkannya. (2) selalu dirindukan kehadirannya karena kehadirannya bisa membuat suasana bahagia, ceria, bersahabat, dan mampu memecahkan masalah, sebaliknya, orang yang paling tidak diharapkan kehadirannya karena bisa menimbulkan kegaduhan, menambah masalah, membuat muram suasana, dan semacamnya adalah orang yang buruk.

Atas dasar itulah, jadi, jangan sampai kita merasa rugi jika ”dimanfaatkan” orang lain, karena memang kita hidup harus menjadi orang yang mampu memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Kata ”dimanfaatkan” di sini adalah memberi nilai tambah, bukan dalam hal negatif, misalkan untuk berbuat jahat.

 

Kata ini memang sering disalahartikan, ”dimanfaatkan” sering diartikan kepandaian kita digunakan orang lain untuk mencapai tujuan orang lain itu. Jika memang tujuan tersebut baik, tentu tidak apa-apa, tetapi kalau tujuannya jahat, maka kata ”dimanfaatkan” di sana sebetulnya adalah ”ditipudaya.” Jadi, kalau kebaikan kita dimanfaatkan oleh orang lain agar orang itu bisa hidup lebih baik, maka bersyukurlah kita.

 

”Rugi dong kita, nggak dapat apa-apa ?.”

 

Percayalah, Tuhan Maha Cepat Perhitungannya, jangan putus asa dari rahmatNya, rejeki untuk kita akan datang dari mana saja yang kadang-kadang di luar dugaan kita. RahmatNya bukan semata-mata berupa materi (uang), melainkan dapat berupa kepandaian (ilmu), ketenangan hidup, dijauhi dari berbagai malapetaka, kesehatan, penghormatan, dan sebagainya.

 

Jadi, nasihat di atas bermakna, di manapun kita berada, sedapat mungkin dapat membawa manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan kita. Sedapat mungkin di manapun kita berada, lingkungan tidak merasa terganggu dengan kehadiran kita di sana. Di manapun kita berada, sedapat mungkin kita dapat membantu memecahkan masalah di lingkungan kita. Jangan merasa rugi mereka mengambil manfaat dari kehadiran (keberadaan) kita, karena sekecil apapun sumbangan kita kepada lingkungan kita akan menutup lubang-lubang jalan kita menuju surgaNya. Aamiin.

 

 

 

17 July, 2009

Ngapain Lagi Sih Ngebom ??

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 3:22 pm

Berbagai spekulasi merebak tentang siapa yang melakukan pemboman di hotel-hotel yang saling berdampingan, JW Marriott (Pk. 07.45) dan Ritz-Carlton (Pk. 07.47) Jumat pagi 17 Juli 2009 ini. Tudingan paling kuat dialamatkan pada teroris “Jamaah Islamiah” atau “Noordin M. Top.” Sampai berita ini diturunkan, tercatat 9 orang meninggal dunia dan 50 orang lainnya luka-luka. Selain dari pribumi, mereka ada yang berasal dari Amerika, Selandia Baru, Inggris, Belanda, dan sebagainya.

Tapi untuk alasan apa lagi mereka membom ?

Amerika dan negara-negara barat sudah mau ’berbaikan’ dengan negara-negara Islam. Tentara-tentara sekutu sudah mulai mau ditarik mundur dari Irak, serangan Israel ke Palestina sudah mereda. Atau ada isu-isu di dalam negeri ?. Ada yang bilang, ”untuk mengalihkan perhatian karena pemilu masih memiliki banyak masalah,” ada lagi yang bilang ”biar kepercayaan dunia kembali melorot untuk Indonesia,” ada juga yang bilang ”biar MU tidak menarik devisa kita,” dan masih banyak lagi.

Tapi yang paling konyol adalah yang bilang ”gara-gara Polisi menangkap Syech Puji dengan kasar,” atau ”gara-gara Kepolisian berperkara dengan KPK,” atau ”Malaysia sengaja mengirim Noordin M. Top biar para wisatawan lebih memilih ke Malaysia dari pada ke Indonesia karena Indonesia dinilai tidak aman,” dan lain-lain. Memang semua itu boleh-boleh saja, toh hanya praduga belaka.

Yang jelas, saya prihatin dengan keadaan ini. Kembali saya hanya bisa berharap, semoga para petugas di Badan Intelejen Negara dan di Kepolisian bisa bekerja lebih keras lagi agar segera dapat mengungkap siapa pelaku pengeboman dan apa motifnya, untuk selanjutnya, di masa-masa berikutnya mampu mengantisipasi ancaman-ancaman semacam ini yang ditujukan kepada bangsa ini. Aamiin.

15 July, 2009

MP3 & MP4 Wireless Car FM Transmitter

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:34 am

Keponakan-keponakan saya selalu kesal kalau naik mobil saya, khususnya yang berkenaan dengan radio dan kasetnya. Maklum, mobil kantor itu tidak saya otak-atik, digunakan apa adanya saja. Pemancar radio yang bisa saya terima lumayan baik hanya radio Elshinta (FM 90.0) saja, itu pun sering storing bila posisinya tidak terjangkau atau terganggu dengan frekuensi radio lain. Ternyata radio saya tidak ada antenenya.

Radio Elshinta isinya cuma ngobrol dan berita terus, tidak ada musik dan lagunya sama sekali. Kalau keponakan saya minta diputarkan musik dari kaset isinya lagu-lagu ‘jadul’ banget yang dia tidak pernah tahu. “Serba salah deh !” kata mereka. Akhirnya, radio-kaset saya lebih banyak dimatikan saja ketika mereka naik. Akhirnya, suatu saat mereka saya beri uang untuk beli kaset yang sesuai dengan jamannya. Setelah berapa lama (beberapa hari) saya minta kaset itu, mereka malah berkata: “sekarang nggak lagi jaman kaset, kaset udah gak ada di mana-mana.”

Masak saya harus beli CD player ? kan lumayan mahal, enggak ah !, mendingan dimatiin saja radionya.

Akhirnya, saya mendapatkan perangkat pemutar musik yang namanya “MP3 & MP4 Wireless Car FM Transmitter” yang harganya 65 ribu perak. Alat itu bekerja dengan catu daya (power) dari pemantik rokok (cigarette lighter) yang ada di dekat radio-kaset player, lalu kita samakan frekuensi yang ada di alat itu dengan frekuensi yang ada di radio kita, maka kita bisa mendengarkan musik mp3 kita dari flash disk, atau SD card, atau dari mp3 player lainnya secara mudah. Ada remote & display controlnya lagi, jadi mirip dengan cd player-lah !.

Kini, mereka senang naik mobil saya, karena mereka bisa mendengarkan musik atau lagu-lagu kesukaan mereka. Lagu-lagu MP3 gratis sangat mudah mendownloadnya, saya biasa mendownloadnya melalui http://mp3sgratis.net/ atau di www.gudanglagu.com

12 July, 2009

SBY Segera Akan Bersemedhi kembali

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:07 pm

 

 

Sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, dalam memperjuangkan sesuatu, biasanya semua komponen akan bersatu menghadapi tantangan. Namun sesudah perjuangan tersebut berhasil, maka mereka saling berseteru dalam menyatakan diri bahwa dirinyalah yang paling berjasa.

 

Seperti bangsa Indonesia, semua komponen bersatu untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, namun setelah merdeka, terjadilah perseteruan di antara mereka yang semula berjuang bersama. Tersebutlah kisah pemberontakan DI-TII, pemberontakan G-30S PKI, hingga kini masih terdengar pemberontakan RMS dan OPM.

 

Dalam skala yang lebih ‘kecil’ ketika Partai Demokrat memenangkan pemilu legislatif, maka partai-partai lain bersatu (berkoalisi) dengan Partai Demokrat untuk bersama-sama berjuang memenangkan SBY sebagai Presiden RI Periode 2009-2014. Partai-partai tersebut pernah dibuat ‘gusar’ oleh ‘ulah’ SBY yang tidak menunjuk sama sekali dari mereka sebagai pasangan Cawapresnya. Namun SBY tetap ‘the show must go on.

 

Ganjalan pemilihan Boediono sebagai cawapres terjadi di mana-mana, karena beliau dikenal  dengan istilah ‘neo liberalism,’ tak ayal orang sekelas Amien Rais sangat menyayangkan penunjukan beliau sebagai cawapresnya. Pun beberapa partai lain menjadi ragu untuk mendukungnya, tarik-ulur dukungan terjadi, namun SBY tetap tak berubah. Nyatanya, SBY sanggup memenangkan pemilu capres-cawapres, bahkan memenangkan secara mutlak, sehingga tidak perlu dilaksanakan putaran kedua yang hanya akan menghabiskan waktu, pikiran, dan biaya yang tak sedikit.

 

Dari kisah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa SBY adalah orang yang sangat teguh dengan pendiriannya. Meskipun harus melawan arus, beliau tetap tegar. Pertanyaannya, mengapa beliau bisa setegar itu ?. Salah satu kuncinya, beliau sering bangun malam,bertafakur dan bermunajat memohon petunjuk dari Sang Penguasa Alam, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam istilah Jawanya disebut dengan ‘semedhi.’

 

Mau tidak mau, SBY harus melakukan hal serupa dalam menghadapi ‘rekan-rekan’ koalisi partainya yang mulai mengajukan ‘nama-nama’ untuk dijadikan pembantunya di pemerintahannya mendatang. Meskipun pemerintahan mendatang merupakan pemerintahan terakhir bagi dirinya, namun beliau pasti tidak ingin meninggalkan kesan buruk bagi dirinya di mata rakyatnya. Maka, beliau akan memilih orang-orang yang tepat untuk menduduki jabatan-jabatan, bukan semata-mata karena berbalas budi telah mendukungnya. Andaikan ada orang yang dapat bekerja sama dengan dirinya, meskipun partainya tidak mendukung, tetap akan digandengnya. Siapa yang tepat, beliau kembali akan ‘berkomunikasi’ dengan Penguasa Alam ini.

 

Awal-awal pemerintahannya nanti, beliau akan memperkuat pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga di akhir masa pemerintahannya nanti, pembangunan akan dapat dilaksanakan dengan ’tegak.’ Memang, awal-awal pemerintahannya nanti, kebijakan beliau akan kembali dinilai oleh banyak pengamat sebagai kebijakan yang tidak populer bahkan ’melawan arus’ pemikiran rakyat pada umumnya, seperti kenaikan beberapa harga barang dan jasa mengikuti pergerakan harga internasional (neo liberalism). Kebijakan itu baru akan dinilai tepat ketika pemerintahan beliau sudah berjalan di tahun keempat.

 

Karenanya, partai-partai pendukung SBY harus memiliki sifat legowo sejak saat ini apabila tidak ada (kurang banyak) kadernya yang akan diambil SBY untuk menjadi menteri-menterinya kelak. SBY akan membalasnya dengan ’cara lain.’ Selamat bersemedhi pak SBY, Lanjutkan !.

 

11 July, 2009

Ilmu adalah atheis

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 6:47 pm

Bapak Dr. Ravi A. Salim pernah berkata kepada saya ”Ilmu itu Atheis” dan langsung saya jawab ”tepat !.” Kenapa begitu ? karena para penemu ilmu (khususnya ilmu non Ketuhanan), biasanya dimulai dengan membaca atau mempelajari fenomena alam (iqra). Ambil misal, penemu listrik dengan permainan layang-layangnya, penemu ilmu gravitasi dengan jatuhnya buah apel, dan sebagainya.

Nyatanya, mereka tidak berkata ”ah, itu kan kehendak Tuhan…,” atau ”kalau Tuhan sudah punya mau, apapun bisa terjadi…, atau ”kita tidak bisa melawan hukum Tuhan…,” dan banyak lagi kalimat-kalimat lain yang serupa dengan itu. Kalau para penemu tadi berkata seperti itu, maka mungkin mereka tidak jadi meneliti, dan berbalik pasrah dan menerima saja apa yang dilihatnya.

Memang Tuhan telah menciptakan dunia dan isinya dengan hukum-hukum yang telah dibuatNya. Siapapun pasti tunduk dan patuh kepada hukum-hukumNya itu, seatheis maupun seiman apapun mereka. Namun di balik itu, Tuhan berkata bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya (Tuhan ’lepas tangan ?’).

Di balik atheisnya sebuah ilmu, maka pada umumnya sang penemu atau penulis rumus alam akan menjadi sangat beriman kepada Tuhan karena mereka tidak pernah sampai pada titik di mana mereka bisa puas dengan hasil penelitiannya, karena ilmu yang mereka miliki (mereka merasa) hanyalah sebatas sebuah butir pasir di padang pasir yang sangat luas.

Apa yang dapat diambil kesimpulan dari atheisnya ilmu ?. Kesimpulannya adalah 1. Orang yang beriman adalah orang yang tidak pernah berhenti menimba ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang maka ia akan tahu batas ’kemampuan dirinya’ yang ternyata ’tidak ada apa-apanya,’  sehingga ia akan ’tahu diri’ di hadapan Tuhannya. 2. Orang yang selalu berpasrah diri adalah orang yang lemah yang tidak memiliki keinginan untuk maju dan memiliki derajat lebih rendah dari orang yang bertawakal (berpasrah diri setelah berusaha semaksimal mungkin hingga di batas kemampuan dirinya).

9 July, 2009

Kenapa SBY Bisa Menang Mutlak ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:16 am

 

 

 

Melihat dan mendengar komentar-komentar para ahli, para pengamat, tim sukses capres-cawapres, dan juga tak kalah hebatnya, para pembawa acara televisi membuat saya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka seakan-akan menjadi orang-orang yang paling hebat, paling berjasa, paling benar, dan sebagainya, sehingga kadang mereka tak ingin atau tak bisa mendengar orang lain berbicara, biar orang lain hanya menjadi pendengar saja.

 

Memang mereka berasal atau berlatar belakang dari dunia pendidikan, khususnya yang  berhubungan dengan dunia politik, atau bahkan mereka memang pelaku politik praktis. Komentar mereka hebat-hebat, bagus-bagus, dan argumentatif sekali. Saya sangat mengakui. Kalau semua rakyat Indonesia memiliki pemikiran yang ilmiah, argumentatif seperti itu, mungkin SBY tidak akan bisa menang mutlak, atau bahkan bisa saja kalah. Tapi sayang, sebagian besar rakyat Indonesia belum sampai ke taraf seperti itu.

 

Bisa kita bayangkan, seorang (dedengkot) politik sekelas Agung Laksono bisa ’menyerah’ pada Eko Patrio misalnya. Apa masuk akal ?, apa ilmiah ?, apa argumentasinya bisa seperti itu ?.

 

PENAMPILAN FISIK dan WAJAH

 

Bisa diamati, dari ketiga calon Presiden kita, maka penampilan fisik dan wajah paling ideal memang milik SBY, apalagi didukung fakta bahwa pemilih wanita lebih banyak dari pemilih pria.

 

KETENARAN

 

Mungkin, ketenaran ketiga calon presiden kita dapat dianggap sama sehingga perolehan nilai mereka fifty-fifty di sini. Berbeda dengan pemilihan calon legislatif, yang bisa jadi  seorang pelawak atau pemain sinetron jauh lebih tenar dari seorang dosen atau politikus baru sehingga banyak pemilih memilih mereka.

 

KESUKUAN dan DAERAH PEMILIHAN

 

Memang, kita dilarang berbicara yang menyangkut SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan), namun pada prakteknya, hal ini tidak dapat dilepaskan. Andi Mallarangeng, kepeleset bicara di sini sehingga ia dihujat banyak orang. Ia berkata ”orang Makassar belum waktunya memimpin Indonesia” yang akhirnya banyak disalahtafsirkan menjadi ”Orang Makassar tidak sanggup memimpin Indonesia.”

 

Akhirnya terbukti, SBY jauh mengungguli JK. Terbukti di sini bukan berarti kemampuan JK jauh di bawah SBY melainkan, jumlah pemilih di Jawa lebih banyak dari pada di Makassar (Sulawesi bagian selatan), dan faktor kesukuan masih lekat. Bahkan perolehan nilai JK masih di bawah Megawati (yang juga dari Jawa).

 

 

SIKAP BERBICARA dan BERPERILAKU

 

Dalam banyak kesempatan (misalkan pada saat debat), sikap berbicara SBY jauh mengesankan bahwa ia ’lebih Islami’ dari calon-calon presiden lain yang semuanya beragama Islam (lagi-agi SARA, tapi dalam prakteknya, ini sangat penting, kalau tidak percaya, coba saja ajukan calon presiden yang non Islam). Yang saya sebut Islami adalah, sopan-santun, tidak bernada dendam, tidak mengarah ke permusuhan, dan tidak suka menyerang pribadi, dan sebagainya.

 

SBY juga merupakan pribadi yang berjiwa besar. Ketika harus bersaing dengan JK yang merupakan wakilnya, ia tidak memperlihatkan sikap ’persaingan.’ Pun ketika seluruh wartawan ingin menyaksikan jabatan tangan pertama antara SBY dan Megawati setelah sekian lama tidak pernah berjumpa, SBY dengan ’legowo’ mendatangi Megawati.

 

SUKA MENOLONG

 

Pribadi-pribadi bangsa Indonesia pada umumnya adalah pribadi-pribadi yang suka menolong. Ingat saja peristiwa kebanjiran besar di Jakarta tahun 2002, di kantor radio Elshinta kebanjiran bantuan sehingga mereka terus menerus menawarkan bantuan ke posko-posko banjir yang ada. Pada peristiwa tsunami di Aceh, bantuan warga Indonesia banyak yang menumpuk jadi sampah karena tidak habis terbagi ke penderita, dan sebagainya.

 

Konotasi hal di atas adalah: SBY dinilai rakyat sedang ’dikeroyok’ oleh dua orang capres yang didukung oleh orang-orang ’ngetop’ di belakangnya, termasuk puluhan purnawirawan Jenderal dengan perilaku (lagak) atau berkomentar yang dinilai ’sombong (belagu).’  Sebetulnya, Megawati seharusnya jangan melupakan sejarah bahwa kekalahannya di 2004 atas SBY juga atas hal seperti ini.

 

ORANG-ORANG DI SEKITARNYA

 

Penilaian rakyat lainnya adalah ”siapa saja (perilaku dan komentarnya) orang-orang di sekitar capres.” Lagi-lagi, orang-orang di sekitar capres tersebut harus memiliki pesona dan sopan-santun. Semakin kuat ia berbicara ngotot dan sok tahu, maka semakin menurun pula keinginan rakyat untuk mendukungnya.

 

TAHU KELASNYA

 

Capres Megawati dan JK sebetulnya tidak pantas mengurusi DPT yang bermasalah, apalagi sampai terjun ke TPS-TPS. Hal itu sebetulnya merupakan kampanye negatif bagi dirinya. Pertanyaan rakyat ”apakah mereka tidak memiliki anak buah yang sanggup mengurusi itu ?, apakah mereka tidak memiliki basis massa yang bisa mengawal pemilihan suara sampai ke tingkat-tingkat TPS ?”

 

 

KESIMPULAN

 

Kemenangan mutlak SBY sepertinya tak masuk akal (khususnya oleh orang-orang pandai atau kaum akademisi), tapi begitulah kenyataannya bahwa secerdas apapun ia (sampai jadi profesor) memiliki hak atau hitungan yang sama dengan pemilih lain yang sama sekali tidak sekolah.

 

Jika jumlah mayoritas penduduk pemilih Indonesia masih dianggap ’bodoh’ maka konotasi yang bisa diambil adalah pemerintah kita ditentukan oleh orang-orang bodoh. Makanya, tugas kita di dunia pendidikan adalah membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. LANJUTKAN !

 

 

 

 

 

8 July, 2009

Biar Ramai

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 6:19 pm

Sewaktu kuliah S2 dulu (1995), saya pernah bertanya kepada seorang Dosen (sekarang sudah almarhum): ”Pak, di negara kita ini kan banyak sekali ahli ekonomi, kenapa negara kita ekonominya selalu terpuruk ?.” Semula saya sangat menginginkan jawaban yang bisa memuaskan saya, tetapi yang keluar dari mulut Dosen tersebut hanya jawaban singkat dan sama sekali tidak memuaskan saya, yaitu: ”Biar ramai..!.”

Apa maksud dari kata ”biar ramai ?.”   Setelah saya amati, ternyata jawaban itu banyak benarnya. Pertama, hal ”ekonomi” bisa menjadi bahan ”jualan” para capres dan cawapres untuk menarik simpati rakyat (kampanye bisa jadi ramai). Ada istilah ”neoliberal” (yang sebelumnya amat jarang terdengar), dan ada istilah ”ekonomi kerakyatan” yang katanya ekonomi nasional harus berpihak pada rakyat.

Kedua, ketika terjadi ketimpangan ekonomi yang demikian besar (dan disulut oleh krisis ekonomi regional), maka banyak rakyat yang menjarah toko-toko dan rumah-rumah orang-orang ”kaya” pada peristiwa Krisis Moneter 1997 (kerusuhan menjadikan jalan-jalan bertambah ramai).

Ketiga, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan jumlah penduduk Indonesia yang tergolong miskin, maka banyak perdebatan terjadi (jadi ramai) karena perbedaan penggunaan standar miskin antara satu pihak dengan pihak lainnya. Ada yang menggunakan standar pengeluaran untuk biaya konsumsi sebesar Rp. 200.000,- per bulan, ada yang menggunakan 2 dollar per hari, dan sebagainya.

Keempat, ketika ada satu pemerintahan yang menjual aset-aset negara, terjadi adu argumen di antara ahli-ahli ekonomi (pemberitaan jadi ramai),  ada yang berkilah, penjualan aset-aset itu justru untuk membayar utang-utang negara, dan dengan negara tanpa utang, kita akan mudah membangun. Tetapi justru ada yang menyanggahnya, karena aset-aset tersebut bisa mempengaruhi hajat hidup orang banyak (rakyat).

Kelima, ketika diputuskan untuk memberi bantuan kepada rakyat dengan menggelontorkan program bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp. 300.000,- per tiga bulan untuk penduduk miskin, maka ada yang berpendapat bahwa itu merupakan program yang sangat baik. Namun yang lainnya menyatakan bahwa itu akan menjadikan rakyat semakin malas (kontra produktif). Katanya, ”jangan beri ikannya, tapi beri kailnya…,” lalu dibalas lagi ”kalau diberi kailnya tetapi ikannya tidak ada, gimana ?.” Jadi ramai.

Keenam, ketika digulirkan program konversi (kompor) minyak tanah ke (kompor) gas, maka terjadi kekistuhan (ramai lagi). Ada yang belum dapat kompornya, sementara minyak tanah sudah tidak ada. Ada yang sudah dapat kompornya, tapi tidak bisa menggunakannya. Ada yang bisa menggunakannya, tetapi banyak pula yang menjadi korban meledaknya tabung gas.

Ketujuh, seseorang telah dinyatakan memenangkan pemilu (meski baru dengan cara penghitungan cepat/ quick count), maka pihak lain banyak yang berkata ”karena ada serangan fajar” yang artinya membagi-bagi uang sebelum Pemilih melakukan pemilihan di TPS. Para ekonom berpendapat perputaran uang tunai di masa kampanye dan pemilihan umum jumlahnya jauh lebih besar dari hari-hari normal. Hal itu dijadikan alasan untuk melontarkan bahwa telah tejadi money politics. Seru dan ramai jadinya.

Wah, pokoknya banyak lagi lah yang ramai-ramai itu. Ternyata, semakin banyak ahli ekonomi, semakin banyak pula pendapat atau faham yang berbeda yang masing-masing sangat kuat memegang filosofi dan keyakinannya bahwa prinsip-prinsip ekonominyalah yang paling benar. Jadi benar, bahwa banyaknya ekonom di Indonesia  justru membuat Indonesia ”biar ramai.”

Next Page »

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.