Bambang Wahyudi

29 June, 2009

MAU NANYA

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:59 pm

Tadinya, saya sudah tidak pernah masuk lagi ke bioskop sejak 1988. Bukan karena apa-apa, alasan utamanya adalah, mutu film Indonesia secara keseluruhan (saat itu) mulai menurun, dan benar saja, film Indonesia sempat terpuruk hingga setiap tahunnya tidak lebih dari 5 film diproduksi dengan minim penonton, bahkan sempat pernah tidak berproduksi sama sekali dalam setahun. Lalu, berganti menjadi era televisi (karena kehadiran stasiun-stasiun TV swasta) dengan sinetron-sinetronnya. FFI (Festival Film Indonesia) sempat diganti dengan FSI (Festival Sinetron Indonesia). Sejak tahun 2005an, mulai bangkit film-film Indonesia dengan tema-tema utama Remaja (Percintaan) dan Dedemit (hantu-hantuan), saya sama sekali tidak tertarik untuk menontonnya. Lalu muncul film bertema agama (Islam) Ayat-ayat Cinta (AAC), meski membludak, saya masih belum tertarik, paling-paling cuma film biasa yang sok di agamis-agamiskan (seperti sintron-sinetron di TPI) yang nggak masuk akal apalagi mendidik.  

Baru-baru ini, saya tergelitik atas rengekan keponakan-keponakan saya untuk menonton film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Keponakan-keponakan tersebut tersulut karena rekan-rekannya sudah lebih dulu menonton. Begitu juga di RCTI, iklan-iklannya begitu dahsyat, membawa tokoh-tokoh nasional seperti Din Syamsudin, dan lain-lain untuk memberi komentar, serta mendapat rekor MURI. Saya jadi penasaran. Akhirnya, Juni tahun 2009 ini saya kembali masuk ke bioskop untuk menontoh film KCB. 

Tetapi apa yang saya rasakan ?. Sumpah, saya kecewa bukan kepalang, saya tertipu (oleh image atau harapan saya sendiri), sumpah serapah keluar dari mulut saya ketika selesai menyaksikan film itu, keponakan-keponakan saya juga tidak bisa menampik alasan-alasan saya bahwa film itu sama sekali tidak ada isinya buat saya, mereka juga merasakan hal yang sama, kecewa. Baik dilihat dari segi sinematografinya, alur ceritanya, teknik tata suara, tata cahaya, editing, dan sebagainya, tidak satupun yang dapat membuat saya merasa bangga dan dapat berkata ”welcome back film Indonesia.” Ada yang bilang, dari sisi agama sangat baik. Bagi saya, baik apanya ?????, cetek sekali, apa hanya segitu saja kemampuan pemahaman beragama bangsa kita ?.  Untuk itu, tolong, tolong bantu saya untuk mengurangi rasa kecewa saya, beri tahu saya sisi bagus dari film KCB tersebut…. 

26 June, 2009

JER BASUKI MAWA BEA

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:37 pm

Terjemahan kasarnya adalah “untuk menjadi sukses dibutuhkan biaya,” dan terjemahan itu kini menjadi lebih sadis lagi “sekarang, mau apa juga butuh biaya, kencing saja dipungut biaya.” Di Jawa, ada lagi istilah “ono botoh ono jago” yang artinya “ada taruhan, ada (ayam) jago” atau ditafsirkan dengan “untuk lebih maju, maka harus ada orang yang dapat diandalkan, dan ada biaya atau fasilitas yang mendukungnya.” 

Makanya, bagi orang Jawa (asli), sangat tidak percaya kalau ada sekolah yang gratis segalanya. Uang SPP boleh gratis, tapi tetap saja ada uang iuran dan uang sumbangan macam-macam yang akhirnya, besarnya mengalahkan SPP itu sendiri. Intinya, kalau orang mau maju pasti akan dibutuhkan biaya, dan ‘botoh’ dan ‘jago’nya harus sama-sama kuat. Anaknya pandai tetapi biaya (fasilitas)nya kurang, tidak akan maju, sebaliknya, uang (fasilitas)nya banyak tetapi anaknya bodoh, juga tak akan maju. 

Namun demikian, jika kita adalah ‘jago’nya, apakah ‘botoh’nya harus selalu dari orang tua ?. Kita sendiri bisa menjadi ‘botoh’ diri sendiri. Ini banyak dialami generasi saya di lingkungan saya dulu. Contoh, saya masuk kuliah pas orang tua di-PHK jadi buruh pabrik, dan dari uang pesangonnya itu, orang tua hanya bilang “saya hanya bisa membayar uang kuliah kamu satu kali, sisanya terserah kamu….” Ya, no problem,  itu kenyataan, dan itu tantangan. Maka, untuk menabung guna membayar uang kuliah-uang kuliah berikutnya, saya bekerja serabutan, jadi pedagang kelontong, jadi guru SMP, guru SMEA, guru SMA, guru privat, guru kursus, asisten laboratorium, dan apa sajalah. Maka tak heran, saya kuliah S1 saja bisa sampai 7 tahun, karena kalau tidak dapat uang, ya cuti dulu. 

Rata-rata di lingkungan saya semua seperti itu, malah kami jadi bersaing sehat, dan dari empat orang rekan saya, sayalah pertama yang ‘mentas’ menyelesaikan S1-nya. Saya akhirnya jadi dosen, rekan saya ada yang jadi pengacara (sarjana hukum), pegawai Bank Niaga (sarjana ekonomi), dan Guru Olah-Raga SMA (sarjana dari Sekolah Tinggi Olahraga/ STO). Tentu kalau kami sedang ‘reuni’ kami sering flashback melihat masa lalu kami yang ‘sungsang sumbel.’ 

Tetapi kalau ditanya, “apakah anak-anak kalian sekarang memiliki jiwa wirausaha atau kemandirian ?,” mereka akan menjawab “boro-boro !.”  Dari hasil pembicaraan kami dapat disimpulkan bahwa anak-anak sekarang ‘manja-manja.’

Padahal, saya sendiri belum yakin bahwa anak-anak sekarang ‘manja-manja.’ Saya yakin, justru para orang tualah yang menjadikan mereka manja karena mereka tidak ingin membagi ’kesulitan’nya dulu kepada anak-anaknya. Atau, bisa juga si anak berpikir, “ngapain susah-susah, yang gampang saja ada kok…” Orang tua sekarang cenderung mem-backup anak-anaknya. Orang tua sekarang sudah berpikir bagaimana menyediakan rumah buat anak-anaknya kelak, karena belum tentu anak-anak mereka bisa membeli rumah di masa yang akan datang. Tentu itu hanya berlaku bagi orang tua yang sekarang mampu lho…, tetapi setidaknya, para orang tua sudah mempersiapkan diri untuk menjadi ‘botoh’ bagi ‘jago-jago’nya kelak, bahkan sudah berinvestasi bagi pendidikan anak-anaknya. Bukankah menjadi orang tua sekarang lebih pusing mengurusi pendidikan anak-anaknya ketimbang mengurusi dirinya sendiri, sampai-sampai ada pepatah: “murid yang ujian, orang tua yang stress.” 

Saya sering kaget kalau mendengar biaya masuk sekolah anak-anak sekarang, yang mulai Taman Kanak-kanak, dan Sekolah Dasar saja sudah bicara “jut-jutan,” gimana anak-anak jalanan bisa sekolah ?, gimana anak-anak pemulung bisa sekolah ?, gimana anak-anak miskin bisa sekolah ?. Gimana masa depan bangsa ini ?, berapa banyak SDM kita di masa depan yang masuk dalam kategori ‘the lost generation ?.’ Wah, wah, wah…, ngurus negara begitu sulit, runyam dan stres, tapi masih saja mereka berebut menjadi Presiden.

Banyak dari mereka yang mengeluh uang masuk anaknya yang baru tingkat SMP atau SMA yang berbilang ’jut-jutan’ tadi. Saya hanya bilang ke mereka, ”ya sudah, langsung masuk ke UG saja, ngapain pakai masuk SMP dan SMA segala….” ha..ha..ha…

25 June, 2009

SIFAT-SIFAT MANUSIA

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:59 pm

Di dalam berbagai pustaka, karakter manusia dibagi atas banyak jenis (ada yang empat, ada yang sepuluh, ada yang seratus, dan lain-lain), sebagaimana kecerdasan manusia (ada yang membagi dengan satu, dua, empat, delapan, dan lain-lain). Hal itu bisa dimaklumi, karena (selalu) di antara dua perbedaan yang nyata, terdapat sekian banyak perbedaan yang dapat mendekati keduanya. Karenanya, di antara dua karakter manusia, yaitu baik dan buruk, terdapat banyak karakter lain yang mendekati keduanya. Di antara sekian banyak jenis karakter manusia, ada banyak pula yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang yang dapat dibagi menjadi dua hal utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi antara lain, kondisi fisik, tingkat pendidikan, tingkat pergaulan, dan tingkat keimanan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi, antara lain, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, lingkungan kerja, dan sosok panutan.

Tuhan sendiri telah memperingatkan sifat-sifat dasar yang buruk yang dimiliki manusia, antara lain: zalim dan tidak pandai bersyukur, ingkar akan kebesaran Tuhan, sombong dan sewenang-wenang, condong mengikuti hawa nafsunya, boros dan berlebih-lebihan, aniaya diri, tergesa-gesa, dan taklid buta (berbuat sesuatu tanpa pengetahuan). http://www.hudzaifah.org/PNphpBB2-viewtopic-t-165.phtml

Memang, sifat atau karakter manusia bisa ditinjau dari banyak segi. Di internet, banyak sekali literatur yang meninjau sifat manusia dari berbagai segi, misalkan dari tanggal lahir, dari shio, dari golongan darah, dari cara berbicara, dari nama, bahkan dari cara dia mengupil atau (maaf), dari kentutnya. http://www.nyem.or.id/2008/01/sifat-manusia-dilihat-dari-kentutnya/

Syekh Al Kholil ibn Ahmad membagi karakter manusia menjadi empat macam. Pertama, rojulun yadri wa yadri annahu yadri fabidzalika ‘alimun tattabi’uhu, yaitu manusia yang mengerti dan dirinya mengerti kalau ia mengerti. Ia adalah manusia yang memiliki ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ciri manusia seperti ini adalah selalu bekerja dengan landasan istiqomah dan ikhlas. Kedua, rojulun yadri wa la yadri annahu yadri, fabidzalika naimun fa aiqidzuhu, manusia yang mengerti namun tidak mengerti kalau dirinya mengerti, seperti orang yang sedang tidur. Manusia yang berkarakter seperti ini adalah manusia yang tidak konsisten dengan apa yang diucapkan atau yang dipahaminya. Kata-katanya (yang baik) tidak sama dengan perilakunya (yang buruk). Umar ibn al Khottob pernah berkata ” aqwa ma akhofu ‘inda hadzihi ummati minal dajjal al munafiq al ‘alim“ yang artinya: ”yang paling saya takuti pada ummat ini daripada dajjal adalah orang munafik yang pintar atau alim, ”  atau secara mudah dapat dikatakan sebagai ”orang yang berbuat jahat dengan memelintir dalil agama.” 

Karakter ketiga adalah rojulun la yadri wa yadri annahu la yadri, fa bidzalika mustarsyidun fa arsyiduhu. Manusia yang tidak mengerti namun ia tahu kalau dirinya tidak mengerti. Manusia model ini relatif baik, karena orang-orang yang selalu ingin belajar untuk lebih mengerti adalah manusia yang memiliki sifat selalu ingin memperbaiki diri. Inilah orang-orang yang cerdas-al kayyis- yaitu orang-orang yang tidak melakukan sesuatu perbuatan kecuali telah jelas halal atau haramnya. Manusia model ini adalah manusia yang selalu terikat dengan syara’. Apa yang dimakan, dipakai dan yang dijkerjakan selalu terukur dan berlandaskan pada hukum Tuhan.

Karakter keempat, adalah rojulun la yadri wa la yadri annahu la yadri, fabidzalika jahilun fatrukuhu, manusia yang tidak mengerti kalau dirinya tidak mengerti, inilah manusia bodoh. Karena orang-orang seperti ini biasanya tidak mau belajar dan tidak mau peduli dengan hukum-hukum. Mereka termasuk manusia-manusia yang selalu mengedepankan syahwat (nafsu) dunia semata. http://al-kayyis.co.cc/?p=22

Sedangkan menurut Florence Littauer, empat sifat manusia adalah kolerik, sanguinis, melankolik, dan plegmatis. Manusia yang memiliki sifat kolerik adalah manusia yang memiliki motivasi diri yang kuat, kreatif, pekerja keras, dan semua yang dilakukannya dilandasi oleh keyakinan dirinya yang kuat. Ia akan bertekad menyelesaikan pekerjaannya dengan caranya sendiri (my way), namun ia tidak ingin diatur orang lain. Sedangkan sifat sanguinis adalah orang yang ingin batinnya selalu bahagia sampai-sampai segala tugas yang harus dikerjakannya, akan dikerjakan jika ia bisa bahagia dengan pekerjaan itu (fun away). Jangan coba-coba memberinya pekerjaan yang dia tidak sukai, karena ia sulit sekali menerima tantangan baru, dan biasa kerja tanpa rencana dan tanpa target penyelesaian. Ia biasa ingin tampil lebih menonjol dari yang lainnya, baik dari suaranya, pakaiannya, atau apapun yang bisa menarik perhatian orang lain. 

Adapun sifat melankolik adalah orang suka kerja dengan teratur, rapi, tekun, serius, dan sistematis dengan prinsip kerja best way. Sayangnya, orang seperti ini menginginkan anak buahnya juga memiliki sifat yang sama, dan ia akan mudah tersinggung bila ada orang lain yang menyalahi prinsip hidupnya ini. Sedangkan sifat plegmatis adalah orang yang memiliki sifat yang murah senyum, tulus, dan nyaris tidak pernah marah. Orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri, dan tidak ambisius. Orang ini bersifat terbuka atas saran maupun kritik orang lain, meskipun kadang saran dan kritik itu tidak serta-merta dijalankannya. Prinsip kerja orang seperti ini adalah mendapatkan cara mudah (easy way) untuk menyelesaikan pekerjaannya. http://ugm-club.blogspot.com/2007/07/ karakter-manusia.html 

Sifat seseorang tidaklah bersifat mutlak, paten, atau pasti. Banyak kondisi yang dapat mempengaruhi sifat dasar manusia, seperti tekanan mental atau batin (misalkan karena dikejar deadline, musibah keluarga, dan sebagainya), kondisi sosial-ekonomi (seperti kemapanan, penerimaan dari lingkungan, dan sebagainya), dan yang tak kalah pentingnya adalah hubungan dengan Tuhannya (habluminallah), semakin dekat hubungan seseorang dengan Tuhannya, maka orang itu pasti selalu ingin berbuat yang terbaik, selalu berusaha menjadi orang yang (memiliki sifat) yang terbaik, dan memiliki satu keinginan utama, yaitu Tuhan selalu tersenyum untuknya….

24 June, 2009

PONDASI

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 3:12 pm

PONDASI 

Istilah ”pondasi” khususnya pondasi bangunan, bagi orang-orang arsitek adalah santapan mereka sehari-hari, saya tidak akan dapat berbicara banyak dengan mereka karena merekalah ahlinya. Tapi, pondasi di sini saya ambil sebagai pengganti istilah “landasan,” “tumpuan,” “dasar pijakan,” dan semacamnya dalam menjalankan roda organisasi. Tapi mirip-miriplah. 

Semegah dan seindah apapun bangunan yang berdiri di atasnya, pasti akan rubuh dan berantakan bila pondasinya tidak kuat menyangga kemegahan dan keindahan bangunan tersebut. Begitu juga dalam sebuah organisasi, sehebat dan sejauh mana visi dan misi organisasi, tentu tidak akan dapat berjalan baik tanpa landasan yang kokoh. 

Dalam ilmu manajemen, landasan sebuah organisasi disebut dengan sumber daya, baik itu sumber daya manusia, sumber daya finansial, sumber daya energi, sumber daya informasi, dan sumber-sumber daya lainnya. Dari sekian banyak sumber daya, maka hal yang paling penting adalah sumber daya manusia (SDM). Dalam manajemen, muncul istilah “the right man on the right place” atau “man behind the gun.” Artinya, dalam mengelola organisasi, maka dibutuhkan orang-orang yang profesional dan bertanggung-jawab (mengerti apa, bagaimana, mengapa, untuk apa, dan berbagai pertanyaan lain tentang sesuatu yang harus dilakukannya). 

Walaupun visi yang dituju sudah jelas, misi yang diemban juga jelas, tetapi manusia bukanlah robot yang dapat diprogram untuk mengikuti jalan-jalan yang sudah ditetapkan organisasi. Manusia juga memiliki pondasi yang harus kuat agar ia mampu berdiri dan berjalan menopang diri dan kehidupannya. Pondasi pada manusia terdiri dari dua jenis, yaitu batiniah dan lahiriah. Meski dua jenis, namun masing-masing jenis dapat saling mempengaruhi jenis lainnya dalam relasi yang kadang bisa menjadi sangat kompleks dan tak mudah diurai. Seperti halnya hubungan antara suka marah-marah dengan tekanan darah tinggi. Orang yang suka marah-marah bisa menderita penyakit tekanan darah tinggi, sebaliknya, orang yang bertekanan darah tinggi, bisa menjadikan dirinya suka marah-marah. Tapi, bisa juga tidak. Memang, manusia kompleks, bisa individualistis kasusnya. 

Belum lagi dalam hal hubungan dengan orang lain, diperlukan pula pondasi agar hubungan keduanya bisa erat dan selalu dapat berjalan berdampingan atau beriringan. Di sini dibutuhkan empati dan toleransi sebagai pondasinya. Seseorang harus maklum bila harus berhubungan dengan rekannya yang entrovert (tertutup), namun ia harus mengerti (memiliki empati) bagaimana ia harus berhubungan dengan orang itu agar tujuan bersama dapat tercapai. Tetapi tentu saja sang entrovert harus memiliki pula sikap toleransi kepada rekannya, bila tidak, maka akan terjadi masalah di hubungan mereka. 

Penyakit-penyakit yang suka menggerogoti pondasi pribadi antara lain adalah sikap apatis dan pesimistis. Sikap apatis seperti kata pepatah ”hidup segan mati tak mau,” ia tidak mau berbuat apa-apa karena ia yakin apa yang akan diperbuatnya tidak menghasilkan apa-apa. Jika ia berada dalam organisasi maka ia bersikap diam, tak menanggapi apapun, seperti orang yang hanya asik dengan dirinya sendiri, bahkan sampai meninggalkan kewajiban-kewajibannya. Sedangkan sikap pesimistis adalah sikap yang ”belum apa-apa sudah dipastikan kegagalannya,” jadi isinya hanya keluhan saja. Orang seperti ini jika diberi tugas, maka sebelum ia coba menjalankannya, ia sudah memastikan bahwa tugasnya itu tidak perlu dikerjakan karena diyakini hasilnya tidak akan berguna. 

Sedangkan penyakit-penyakit yang suka menggerogoti pondasi hubungan antarpribadi antara lain sikap masa bodoh, tidak peduli, dan mau menang sendiri. Secara gampang dapat diilustrasikan sebagai ”kalau enak kita bagi rata, kalau susah kamu tanggung sendiri.” Penyakit ini muncul karena beberapa faktor, antara lain dendam pribadi, ketidakpuasan, kurang dihargai, ditinggalkan (tidak diperhatikan, disingkirkan), diperlakukan tidak adil, dan sebagainya. Kadang, faktor-faktor tersebut hanya persepsi dirinya saja, dan akan selesai begitu saja setelah orang yang dianggapnya berperilaku demikian mengajaknya berbicara atau bekerja sama. 

Jadi, komunikasi menjadi hal yang amat penting dalam menjalankan hubungan antarpribadi dalam sebuah organisasi, agar tidak terjadi persepsi yang liar (tidak terkendali) yang bisa berkembang jadi persekongkolan, permusuhan, penganak-emasan, penganak-tirian, dan penyakit-penyakit lain yang bisa menggerogoti kesehatan organisasi. 

Kesimpulan: ”Apakah kita sudah peduli dengan pekerjaan atau kesulitan orang (bagian) lain bila kita tidak menyelesaikan tugas-tugas kita ?.”

23 June, 2009

4L

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:08 am

“Wuaah…., berapa sih jumlah dosen UG ?” tanyaku dalam hati. Ketika aku buka blog komunitas UG isinya hanya 4L (lu lagi lu lagi). Aku jadi inget kata-kata pak Prof. Benny, “kalo gue posting alamat-alamat web sebagai bahan acuan bagi penelitian dan pengajaran, yang nanggepin ya cuma 4L.”

“Padahal, dari postingan di mailstaff maupun di blog kan bisa kita amati ‘curahan hati,’ ‘alur pemikiran’, atau sifat-sifat positif dari mereka yang siapa tahu bisa kita ajak kerja sama dalam melakukan suatu kegiatan…, pantas saja kalau ada kegiatan keilmiahan isinya juga 4L…” pikirku lagi.

Yah, aku juga sering mengalami hal ini, khususnya ketika aku menggebu-gebu agar dosen bersedia menulis buku, yang nanggepin juga hanya 4L yang bisa dihitung dengan jari tangan saja.

Jadi, pada kemana dosen-dosen lainnya ya ?, apa memang sebagian besuar (lebih dari 50%) memang tidak hobi menulis, tapi kok bisa membimbing mahasiswa menulis ya ? (apalagi menulis ilmiah), ah.. teori ! kalau guru harus digugu dan ditiru (dipercaya dan diikuti). Sama saja kita menyuruh anak-anak untuk tidak merokok sementara di bibir kita sedang menggelayut rokok dengan asap yang mengepul.

Tapi, tak apalah (menenangkan diri), toh memang kondisi setiap orang beda-beda. Ada yang hobi menulis, tapi (lebih banyak) yang hobi ngomong, itu wajar-wajar saja. Ada orang yang hobi meneliti, tapi (lebih banyak) yang hobi ngegosip, itu wajar-wajar saja. Jadi, kalau diamati atau bahkan kalau mau diteliti, saya yakin, sebagian besar orang maunya yang enak-enak saja, nggak mau yang sulit-sulit, karena tingkat keinginan manusia Indonesia pada umumnya (sebagian besuar) belum ingin mencapai (belum sanggup mencapai) tingkat aktualisasi diri. Mereka masih berkutat di masalah perut (makan-minum-seks), dan sebagian masih berpikir di ‘menjaga keamanan’ (baik keamanan pangan, dalam mencari atau mendapatkan penghasilan yang layak, keamanan lingkungan, mendapatkan rumah tinggal yang dapat melindungi).

Jadi, saya tak boleh heran kalau yang bersedia mengaktualisasikan diri di lingkungan UG hanya 4L (dari mereka yang kehidupannya sudah ‘mapan’ atau ‘memapankan’ diri). Padahal, dalam kenyataannya, banyak orang yang kehidupannya belum mapan bisa mengaktualisasikan diri, baru kemapanan itu ia dapatkan. Seperti teman sepermainanku saat kecil, Tukul Arwana….

19 June, 2009

ADIL…

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:28 pm

Bapak Prof. Benny Mutiara pernah bertanya: “Apakah Tuhan adil kepada seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan buta atau cacat, sementara bayi-bayi lainnya lahir normal ?” 

Seorang perempuan yang menjadi istri  ketiga dari seorang laki-laki selalu merengek kepada suaminya itu: “Kamu harus berbuat adil dong !, masak uang belanja saya diberi 3 juta per bulan, sementara istri tua kamu diberi 5 juta sebulan !” 

Seorang pasien di rumah sakit mengeluh: “Kenapa aku yang miskin ini malah menerima musibah sebesar ini, sementara yang kaya hidup dengan nikmatnya…, di mana keadilan dalam hidup ini ?” 

Seorang pencuri ayam merintih-rintih di dalam sel tahanan: “Di mana keadilan ?, saya mencuri ayam karena terpaksa untuk makan anak-istri saya besok, saya diganjar kurungan 6 bulan. Sementara para koruptor yang sudah kaya, menggasak uang negara miliaran rupiah, hanya dihukum 2 tahun saja…” 

Seorang mahasiswa mengeluh kepada dosennya: “Bapak nggak adil ah, saya masuk setiap hari, mengerjakan semua tugas, nilainya kok kalah sama teman saya yang nggak pernah masuk kuliah, meskipun nilai UTSnya tinggi…” 

Begitulah, banyak orang menyangsikan adanya keadilan, dan banyak pula yang tidak mengerti kriteria keadilan itu. Dalam materi yang jelas saja, masih terdapat perselisihan menganai keadilan, misalkan dalam pembagian harta waris (dalam Islam), di mana laki-laki mendapat dua bagian lebih besar dari wanita. Atau misalkan pembagian hasil pengerjaan proyek bersama, bisa saja dikatakan adil bila hasil itu dibagi rata saja, tetapi ada yang dibagi berdasarkan perannya, atau ada yang dibagi atas dasar jabatannya, dan sebagainya. 

Pada dasar Negara kita saja, yaitu  Pancasila, dari dulu sila kelima sudah berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” apa arti kata adil di sana ?, apakah semua rakyat akan dibuat sama kondisi sosialnya ?. 

Kalau mengingat pembicaraan dengan Dr. Eri Prasetyo, ”dunia ini selalu mencari keseimbangan,” katanya. Maka, suatu saat terjadi gempa bumi, karena bumi sedang mencari keseimbangannya. Karena manusia kini sudah banyak yang mengeksploitasi (baca: merusak) alam, maka mau tidak mau, alam akan mencari keseimbangannya, dan umumnya dalam bentuk bencana. 

Menurut berita, tahun 2012 akan terjadi badai matahari yang sebagian orang akan mengaitkan kejadian itu sebagai “bencana terburuk manusia” karena alam yang sudah porak-poranda akan mencari kesimbangannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa tahun itu akan terjadi kiamat (banyak manusia yang musnah, atau bahkan seluruh kehidupan di muka bumi akan berakhir). Jadi, bisa saja definisi dari adil adalah tercapainya keseimbangan, dan bukan berarti harus sama persis. Sebagaimana ada hardware dan software, adil juga ada yang dapat dinilai dari sisi materi, dan ada yang dari sisi non materi, dan sebagai manusia, kata adil tetap berkaitan dengan persepsi diri. 

Seorang hakim bisa menghukum seorang koruptor kelas kakap hanya dengan 6 bulan penjara, karena berdasarkan persepsi dirinya, 6 bulan di penjara bagi seorang koruptor kelas kakap (yang sudah terbiasa hidup serba mewah dan terpuaskan)  akan sama rasa (tersiksanya) dengan 6 tahun di penjara bagi orang biasa. Bagaimana pendapat Anda ?. 

18 June, 2009

NASIHAT EYANG (part II)

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:52 pm

1. Jangan pernah merasa rugi ‘dimanfaatkan’ orang lain, karena kau memang dituntut hidup untuk sebanyak-banyaknya memberi manfaat bagi orang lain; 

2. Jangan berharap orang akan percaya dengan ide-ide besar kau, sementara belum ada satu karya nyata kecil kau yang dapat mereka rasakan; 

3. Bila hasil (perilaku) orang lain belum berada di jalan yang benar, amatilah proses (usaha) orang itu untuk menuju ke jalan kebenaran, siapa tahu kau dapat menolongnya; 

4. Jika kau ingin diterima di lingkungan seseorang, maka berbuatlah sesuatu agar lingkungan itu merasa menerima manfaat atas kehadiran kau; 

5. Jangan suka membalas kejahatan seseorang dengan kejahatan pula, apakah engkau ingin memperebutkan ‘neraka’ dengannya ?; 

6. Jangan suka berbicara yang tidak keruan, karena ucapanmu itu sesungguhnya  termasuk bagian dari doa-doamu yang Insya Allah akan dikabulkanNya; 

7. Berpikir positif bukan berarti menghilangkan kewaspadaan terhadap orang lain, berpikir positif adalah memikirkan tindakan apa yang harus kau lakukan  yang membuat orang lain itu tidak perlu diwaspadai lagi; 

8. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang telah mengenal Tuhan, mereka hanya kenal karena memang Tuhan-lah yang telah memperkenalkan diriNya melalui kitab-kitabNya. Sayangilah dirimu, karena dirimu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaranNya; 

9. Biarkan orang lain memperdayakanmu, memfitnahmu, mengerdilkanmu, dan memburuk-burukkan dirimu kepada orang lain, maafkan orang itu dan kasihanilah ia, karena ia sedang menganiaya dirinya sendiri; 

10. Jangan sampai jadi raja-raja….rajanya setan (cerita pak Fikri dulu), oleh karena pendirianmu atas suatu kebenaran, runtuh oleh silaunya materi. 

“MENYEMBUNYIKAN TUHAN” TERLEBIH DULU

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 3:39 pm

Dulu (80an), Pak Thomas J. Kakiay mengajar kami tentang Operation Research. Karena beliau dari militer, maka pelajaran itu diarahkan ke peperangan. Beliau minta kami menghitung siapa yang akan menjadi pemenang bila ada dua pihak yang saling berperang. Pihak I misalkan memiliki kekuatan 10 tank, 100 serdadu, dan 5 pesawat udara, sementara Pihak II memiliki kekuatan 15 tank, 50 serdadu, dan 10 pesawat udara. Tanpa banyak menghitung, lantas saya bilang saja “tergantung nasib, Pak..!” Di situ saya kena marahnya, “Hey !, jangan bawa-bawa nasib ke dalam kelas.., hitung !!” 

Dalam tulisannya, pak Budi Hermana mengisahkan bagaimana kejadian dialami oleh seseorang terlebih dulu, baru dibuat teorinya. Itu terjadi karena memang yang mengalami dan/atau yang membuat teori itu (sementara) ‘menyembunyikan’ Tuhan terlebih dulu (atau beberapa dari mereka malah atheis). Kalau tidak, pasti dia akan bilang “Ah, itu kan sudah kehendak Tuhan…, ya sudah…” Tuhan menciptakan alam dan fenomenyanya terlebih dulu, baru manusia menuliskan teori-teorinya (Tuhan mengajari manusia dengan kalam-nya). 

Kadang, kepasrahan memang tidak membuat kita maju, tetapi bisa membuat sebagian orang menjadi tenang. Misalkan, kita menunggu orang sakit yang sudah demikian parah, apa yang biasa kita dengar dari lingkungan kita yang sama-sama sedang menunggu orang yang sedang sekarat itu ?. “Ya sudah, pasrah saja kepada Tuhan…” atau “kalau Tuhan berkehendak, pasti bisa sembuh…” atau “bila Tuhan mengijinkan, maka umurnya akan bisa lebih..” dan sebagainya. Bagaimana bila sang dokter yang menanganinya berperilaku sama ?, dokter itu akan duduk-duduk saja sambil baca koran dan berkata “kalau Tuhan berkehendak, maka si pasien juga akan sembuh…” 

Ada lagi, mereka yang terkena musibah banjir, paling-paling hanya dapat berkata “ah, sudah nasib…” atau setara dengan “ini memang sudah kehendak Tuhan…” dan kata-kata semacam itu. Kata-kata itu bisa menjadikan diri seseorang menjadi tenang karena kepasrahannya, namun bila ditelaah lebih jauh, justru mereka yang mengucapkan kata-kata semacam itu dapat dikatakan bahwa mereka tipis imannya. 

Karenanya Tuhan sendiri meninggikan derajat orang-orang yang berilmu (belajar, meneliti, membaca fenomena alam, dsb) beberapa derajat dari orang-orang awam. Proses belajar adalah proses untuk (sementara) menyingkirkan Tuhan, untuk selanjutnya membesarkan namaNya, karena ia tahu bahwa ilmunya tak berbanding dengan ilmuNya. Jadi, sebagai seorang peneliti, misalkan sedang meneliti “mengapa sebagian besar nelayan masih hidup di garis kemiskinan ?” maka jangan disimpulkan bahwa “itu memang sudah nasib mereka” atau “itu memang sudah kehendakNya” melainkan menemukan faktor-faktor penyebab yang membuat mereka miskin…. 

17 June, 2009

MESIN KETIK …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:30 pm

Tahun 1992, saya menyekolahkan satu adik di UG, tamat sarjana. Tahun 2000, saya menyekolahkan satu adik dan satu keponakan di UG, tamat sarjana. Tahun 2008, saya menyekolahkan dua keponakan di UG, sekarang baru tingkat 1. Dari sekian lama tersebut, ada yang tidak berubah, yaitu semuanya membuat laporan praktikum menggunakan mesin ketik !. ”Hare gene masih pake mesin ketik ?!” kata tetangga saya pada suatu saat karena mesin ketik di rumah lagi ngadat dan mencari pinjaman ke tetangga-tetangga. 

Memang dari nada bicaranya, beliau hanya becanda, namun candanya itu kedengarannya agak menyinggung juga, apalagi beliau tahu saya bekerja di UG yang notabene banyak yang tahunya kalau UG adalah kampus komputer. Saya sempat bertanya ke bagian lab, namun pada intinya mereka (ketika itu) tetap bersikukuh terus menggunakan mesin ketik dengan alasan agar tidak mudah menggandakan laporan hanya dengan meng-copy paste bila menggunakan komputer. 

Alasan seperti itu sebetulnya sangat lemah. Justru seorang asisten harus lebih jeli untuk bisa membedakan atau mengetahui mana sumber asli atau si penyadur ketika dilakukan copy-paste di komputer, banyak trik yang bisa dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi. Misalkan, jika ada yang sama persis, maka nilainya diberi rendah keduanya. Biasanya orang yang mengerjakan dengan sungguh-sungguh akan ’menghadap’ untuk meminta kebijakan.  

Bisa juga dilakukan dengan mengirim laporan melalui e-mail ke staf lab., siapa yang lebih cepat, maka dianggap dia yang asli (bila ditemukan ada laporan yang sama). Memang, fasilitas e-mail untuk staf lab., masih dirasa kurang jika dibandingkan dengan jumlah praktikan yang harus diperiksa. 

Intinya, mari kita pikirkan, mana yang lebih penting, mahasiswa sulit melakukan penjiplakan laporan praktikum (karena menggunakan mesin ketik), atau ejekan orang kepada staf UG karena (mahasiswanya) masih (diharuskan) menggunakan mesin ketik ??

16 June, 2009

PEMICU DAN PEMACU

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:11 pm

 (dalam Pemanfaatan Internet) 

Akselerasi UG terus dipacu karena telah terpicu oleh berhasilnya UG meraih posisi keempat webometric untuk perguruan tinggi di Indonesia atau peringkat pertama untuk perguruan tinggi swasta di Indonesia yang telah memanfaatkan internet sebagai sarana komunikasinya. Berbagai pemikiran, strategi, dan upaya telah dan akan terus diperjuangkan untuk mempertahankan ‘kedudukan’ itu, bahkan kalau bisa meningkatkan diri ke peringkat yang lebih baik lagi.

Lokomotif telah dihidupkan dan dipacu untuk berlari cepat, namun masih saja ada gerbong yang  bengong tak bergerak, mungkin karena sambungannya yang terputus atau memang tak sanggup lagi untuk dibawa lari dengan cepat. Di tengah UG berupaya meningkatkan penggunaan jaringan internet dalam berbagai kegiatannya (v-class, e-mail, e-library, blogging, chatting, teleconference, dll.) masih saja banyak staf UG yang belum memiliki atau belum memanfaatkan e-mail, blog, staffsite, dan sebagainya yang telah disediakan UG.

Internet adalah budaya baru yang lambat laun akan membaur dengan budaya kita sehari-hari. Rasanya, bila belum membuka e-mail atau blog hari ini, hidup kita seperti ada yang kurang. Sebagaimana jika kita terlupa membawa HP, seakan ada sebagian dari diri kita yang tertinggal. Memang, jangan sampai teknologi membuat kita ‘lupa diri’ apalagi sampai ‘lupa ingatan.’  Teknologi diciptakan untuk membantu kita, bukan untuk tempat ‘menggantungkan  diri’ kita di
sana. Saya juga kesal kalau orang di sebelah saya selalu sibuk (atau lebih peduli) dengan HPnya dari pada ngobrol dengan saya, padahal ia menumpang di mobil saya, dan saya sedang menyetirinya. Itu tak tahu diri namanya.

Bagaimana agar akselerasi UG bersinergi dengan akselerasi kita ?. Kita memerlukan pemicu dan pemacu sebagaimana pemicu dan pemacu UG di atas dalam hal meningkatkan diri menggunakan sarana komunikasi internet. Pemicu adalah dorongan terjadinya suatu gerakan (baik gerakan langkah, gerakan ledakan, atau gerakan apapun dari yang semula hanya diam atau tidak tertarik). Sedangkan pemacu adalah dorongan untuk melakukan akselerasi atau pemercepat, memperkeras, atau percepatan apapun dari gerakan tadi.

Pemicu utama dari kita (sebagai dosen) adalah rasa malu. Malu kalau predikat dosen saat ini dikatakan ’gaptek,’ tak punya e-mail, tak punya blog, atau tak punya individual-site di tengah semaraknya layanan gratis untuk itu, khususnya yang sudah disediakan UG. Rasa malu itu seharusnya mau mendorong kita untuk mendaftarkan diri (bila belum terdaftar), dan mulai memanfaatkan sarana itu (bila sudah terdaftar). Selanjutnya, paculah diri, bahwa dengan memanfaatkan (sarana-sarana) itu kita bisa membuka wawasan pengetahuan, mendapatkan kawan, mendapatkan informasi apapun yang tidak dapat diperoleh dari lingkungan pergaulan sehari-hari. ”Ask to the google anything you want” cerita Prihantoro.

 Setelah itu, ayo sama-sama kita wujudkan UG menjadi salah satu perguruan tinggi yang masuk dalam kategori world class. Ada banyak syarat agar suatu perguruan tinggi masuk dalam kategori world class tersebut, di antaranya: membuka kelas internasional (minimal berpengantar bahasa Inggris), diakui oleh beberapa lembaga pemeringkat (baik akreditasi nasional, maupun pemeringkat mutu secara internasional). Di mana kita bisa berkiprah ?, tak usah sulit-sulit, perbanyaklah materi (upload) pembelajaran dan penelitian  di staffsite, manfaatkan komunikasi dengan lembaga-lembaga nasional maupun internasional melalui e-mail atau chatting, dan sebagainya. Punya kemampuan lebih ?, ajukan ke BAPSI ide-ide untuk memperkaya konten dari site UG yang informasinya (kemungkinan) diminati oleh masyarakat internasional sehingga mereka merasa ’ada yang tertinggal’ bila tak mengakses www.gunadarma.ac.id sehari saja. Ayo kita sebarkan ’budaya kita’ ke seluruh dunia, mulai saat ini. 

Next Page »

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.