Bambang Wahyudi

29 May, 2009

FENOMENA: KESURUPAN BERJAMAAH !!

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:02 pm

Di sekolah-sekolah, di pabrik-pabrik, dan entah di mana lagi, banyak orang kesurupan secara berjamaah. Ada apa gerangan ?, bisa saja (1) setan-setan sudah jenuh berkeliaran tanpa jasad, (2) setelah berhasil “menguasai” para pemimpin bangsa (dengan banyaknya pemimpin yang korupsi, yang kriminal, dll.) maka mereka mau melebarkan sayap kekuasaannya hingga ke tingkat paling bawah, rakyat jelata, (3) setan-setan marah karena sifat dan perilakunya sudah diambil alih oleh manusia sehingga mereka banyak yang nganggur tak punya kerjaan lagi. Jadi, jika diamati, sudah banyak penduduk kita yang sudah dikuasai mereka (para setan), mungkin negara kita bisa saja mereka ganti (dan diproklamirkan) menjadi kerajaan iblis. Siapa lagi yang belum mereka kuasai ?.

Para pedagang sudah banyak yang mencurangi timbangan, menggunakan bahan-bahan berbahaya, memalsukan merek, mengganti daging sapi dengan daging babi, dan banyak lagi.
Para pengajar sudah banyak yang menjual nilai, menyiksa murid-muridnya, melakukan pelecehan seksual, dan banyak lagi. Para penyerobot tanah lebih galak dari pemilik sah tanahnya.
Para pelajar bahkan mahasiswa dan masyarakat sudah hobi dengan tawuran. Para polisi masih asik dengan uang damai dan uang rokok. Para pengusaha, sudah banyak yang menyelundupkan barang, memainkan pajak, menyengsarakan penduduk (Lapindo), membabat hutan, dan banyak lagi. Para ulama banyak yang sudah memasang tarif untuk menjual ayat-ayat Tuhan. Para dokter sudah banyak yang (bebas) melakukan malapraktek, membisniskan organ-organ tubuh, melakukan tindakan aborsi, dan banyak lagi, dan seterusnya. Siapa lagi yang belum mereka kuasai ?.
 

Dan setan-setanpun sudah menjadi tema dan pemeran utama dalam film-film layar lebar di Indonesia….. 

Ternyata, setan-setan lebih mudah merasuki orang-orang yang pandai dan punya kedudukan tinggi ketimbang harus merasuki rakyat jelata. Dengan smooth mereka masuk ke benak para penguasa, tak terasa dan tak terlihat secara kasat mata, tapi hasilnya, sungguh menakjubkan, sampai-sampai mereka tak merasa kalau sudah berbuat salah. Tetapi, ketika ingin menguasai rakyat jelata, mereka sulit sekali, sampai-sampai harus meronta-ronta, melotot-melotot, bahkan harus berhadapan dengan orang-orang ”pinter.” 

Mungkin para setan akan kembali ”menghadap” Tuhan guna melakukan ”negosiasi ulang” karena mereka saat ini sudah jobless, bahkan merekalah yang merasa diganggu dan digoda oleh manusia.

26 May, 2009

PERANG BINTANG & STRATEGI

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:42 pm

 

Makin seru dan makin panas, benar-benar enak nonton kampanye (yang belum waktunya) dari ketiga calon presiden dan calon wakil presiden kita. Perang bintang (karena masing-masing didukung oleh para Jenderal TNI dan Polisi yang sudah pensiun) yang pasti masing-masing memiliki strategi pemenangan pemilu untuk pasangan yang diusungnya. Apalagi tambah dikipas-kipasi oleh orang-orang yang menyebut dirinya pengamat politik, pengamat ekonomi, dan semacamnya yang terkesan dirinya lebih hebat dari para calon presiden dan wakil presidennya. 

Untuk menghasilkan strategi yang tepat, maka mereka harus memiliki data yang akurat mengenai pemilih. Berapa jumlah pemilih di suatu daerah (untuk prioritas kunjungan), apa profesi pemilih terbesar (untuk materi kampanye), apa jenis kelamin pemilih terbanyak (untuk membuat tebar pesona yang tepat), siapa yang bisa mempengaruhi orang lain (untuk didekati), dan sebagainya. 

Maka, ramai-ramailah mereka ke pasar-pasar tradisional (karena mereka tahu sebagian besar bangsa ini memiliki penghasilan menengah ke bawah) yang sangat akrab dengan pasar-pasar tradisional. 

Maka, ramai-ramailah mereka ke pondok-pondok pesantren untuk bertemu (baca: bersilaturrahim) ke Kyai-kyai pondok pesantren untuk mohon doa restunya (karena biasanya, bila sang Kyai “manggut-manggut” maka para santrinya tak berani “geleng-geleng”) 

Maka, ramai-ramai mereka berkunjung ke kota-kota di Jawa dan Sumatera, hampir tak ada yang ke
Kalimantan atau Papua (karena jumlah penduduk di Jawa dan Sumatera lebih banyak).
 

Perlu diingat, dalam demokrasi, suara seorang profesor yang cendikia sama nilainya dengan seorang pemulung tak berpendidikan sama sekali. Artinya, jauh lebih banyak masyarakat yang tidak mengerti apa itu neo-liberalisme (dari pada yang mengerti), jauh lebih banyak masyarakat yang tidak peduli pelanggaran HAM (dari pada yang mengerti), jauh lebih banyak masyarakat yang tidak mengerti pertumbuhan ekonomi dua dijit (dari pada yang mengerti), lebih banyak masyarakat yang tidak mengerti ekonomi kemasyarakatan (dari pada yang mengerti). Namun kebanyakan masyarakat tahu bualan tentang akan mengangkat derajat wong cilik. 

24 May, 2009

Facebook …? Haram !!

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:17 am

Melihat tayangan Trans TV, Minggu 24 Mei 2009, cukup mengejutkan.
Para ulama di Jawa Timur memfatwakan bahwa menggunakan (jejaring sosial) facebook diharamkan. Alasan mereka adalah karena facebook dapat membuat anak-anak kecanduan sehingga tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar, kurang bergaul (sosialisasi secara fisik), dan bagi kalangan dewasa, facebook dapat dimanfaatkan untuk tindakan-tindakan maksiat, seperti perselingkuhan, saling kirim gambar porno, dan sebagainya.

Tentu saja hal ini akan mendapat tanggapan yang kontra dari masyarakat karena facebook banyak juga manfaatnya, seperti menemukan kembali kawan lama (menyambung tali silaturrahim), saling tukar-menukar informasi yang bermanfaat, berbisnis (mencari nafkah), dan lain sebagainya. Hal seperti ini (pro-kontra) bisa dan biasa saja terjadi di masyarakat yang majemuk (heterogen), dan itu sah-sah saja karena setiap diri kita memiliki hak asasi untuk mengemukakan pendapat. Bagi kalangan terdidik, tentu dalam menanggapi hal ini tidak perlu dilakukan dengan cara reaktif-negatif dan kontraproduktif.

Setiap fatwa yang dikeluarkan para ulama, tentunya memiliki tujuan baik dan mulia, yaitu “menghindarkan umat dari perbuatan dosa” yang lebih ekstrem dapat dikatakan bahwa para ulama akan “menghindari umat dari kehancuran moral.” Bisa saja dari kita lantas berkilah “kalau begitu, jangan hanya facebook saja yang diharamkan, menggunakan internet sekalian saja yang diharamkan, karena banyak situs porno dan informasi yang menyesatkan di dalamnya.”

Mari kita kembali flashback sejenak ke belakang. Baru-baru ini, para ulama memfatwakan tayangan infotainment diharamkan, selanjutnya, mengharamkan rokok (meski masih dibatasi), dan mengharamkan golput. Memang, setelah reformasi bergulir,  ada sisi-sisi keterbukaan yang menjadi kebablasan. Padahal semulia-mulianya orang adalah orang yang penuh dilingkupi dengan aturan-aturan, norma-norma, dan semacamnya. Bahkan seorang ratu di Inggris memiliki aturan bagaimana cara melambaikan tangan kepada masyarakat umum, bagaimana sikap di meja makan, dan seterusnya. Sebaliknya, sebebas-bebasnya orang adalah orang gila (orang yang tidak ingin diatur dan orang yang tidak mengindahkan norma-norma sosial). Maka, hal positif yang dapat kita terima dari fatwa ulama adalah, mereka ingin menjadikan kita orang yang mulia dengan batasan-batasan, larangan-larangan, dan aturan-aturan yang mereka keluarkan.

Apakah fatwa ulama mengikat umatnya ?. Ya, tentu saja. Tetapi fatwa ulama memiliki strata di bawah hukum Ilahi dan sunnah nabi. Dalam Islam, kalau jelas-jelas di Al Qur’an dinyatakan dilarang, maka tidak ada bantahan lagi, misal, mengkonsumsi daging babi. Tidak perlu ditanya, tidak perlu diteliti, tidak perlu dibantah, tinggal jalankan saja, jangan makan daging babi, meski tetap memiliki fleksibelitas, yaitu boleh dimakan bila tidak ada lagi yang harus dimakan untuk mempertahankan hidup, atau tidak tahu (tidak dengan kesengajaan). Sunnah nabi di strata berikutnya, namun bersifat lebih umum, misalkan dilarang meminum khamar (minuman yang memabukkan), tidak dirinci ke jenis minumannya apalagi merk dagangnya.Strata berikutnya barulah ijtima para ulama (dikenal dengan kesepakatan ulama dengan produknya fatwa ulama) yang bersifat lebih operasional, seperti larangan-larangan di atas. Jika ada pertanyaan ”mana yang lebih baik proses atau hasil  ?” maka jawabannya mudah saja, tentu hasil yang lebih utama. Bila hasil belum memuaskan, maka nilai pula bagaimana prosesnya. Seperti terjadi pada ujian nasional para siswa yang sekolah lama-lama (katakan tiga tahun, dengan banyak mata ujian), tapi kelulusannya hanya ditentukan oleh enam mata ujian yang hanya dilaksanakan dalam duabelas jam saja. Hasil lebih utama.

Singkat kata (saya tidak ingin berpanjang-lebar dengan pemikiran filosofis), selama kita bisa menjauhi hal-hal negatif (yang ditakuti para ulama akan merusak moral kita) ketika kita mengakses facebook, maka silakan akses facebook, ambil manfaatnya.  

19 May, 2009

Blackberry: Antara Kebutuhan dan Gengsi

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:26 pm

Bagi saya, sebuah handphone yang bisa untuk bicara dan SMS saja sudah cukup, gak perlu yang neko-neko yang bisa internetan segala karena hidup saya tidak serumit dan tidak terlalu terdesak oleh pekerjaan, apalagi dengan relationship antarkenalan. Handphone ini saja kadang saya rindu mendengar nada panggilnya (karena gak ada yang panggil-panggil), atau saya lupa kalau hari ini harus isi pulsa karena masa berlakunya sudah habis sedangkan isinya masih banyak. Malah (saya sebetulnya malu), handphone yang pertama dulu (termasuk nomornya hingga sekarang) adalah pemberian dari pak Tjahjo, dan handphone yang saya pegang sekarang adalah pemberian dari pak Supono (dua kali ganti). Dua orang yang tidak saya lupakan jasanya karena memberi saya handphone (siapa lagi yang mau memberi saya ?). Saya memang termasuk orang yang irit dalam bicara, dan hemat dalam segala hal, jadi saya harus berpikir berulang-ulang (sampai akhirnya batal) kalau harus membeli handphone.

Ada tawaran handphone blackberry dari pak Fikri, langsung dalam hati bertanya sendiri ‘buat apa ?.’ Ya, itu bagi saya, karena saya tidak terlalu butuh dan bagi saya uang sebesar itu lebih baik untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat.Tapi Anda jangan terpengaruh, silakan saja beli handphone blackberry itu, karena mungkin Anda orang yang supersibuk dan Anda orang yang perlu ‘menjual gengsi’ demi prestise Anda. Dari spesifikasi yang dijelaskan, memang handphone tersebut sangat canggih, sehingga Anda tidak perlu bingung-bingung untuk menghubungi atau dihubungi orang lain, dan tidak perlu repot mencari majalah atau nonton televisi untuk mendapatkan berita.

Apalagi bagi Anda yang pusing membelanjakan uangnya ke mana, membeli satu atau lebih handphone blackberry adalah jalan keluarnya, bisa untuk hadiah atau kado yang pasti akan menyenangkan banyak orang yang menerimanya. So, sesuai dengan tulisan saya terdahulu, saya akan sangat senang bila semakin banyak rekan-rekan saya mau dan mampu membeli handphone blackberry.

Melalui ini, saya mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah berusaha dan mewujudkan pemeberian asuransi pensiun bagi saya dan rekan-rekan, semoga atas kebaikan ini, beliau-beliau mendapat limpahan rahmat dan karuniaNya. Aamiin.

15 May, 2009

LIBURAN PANJANG NANTI, MAU KE MANA ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 5:27 pm

LIBURAN PANJANG NANTI MAU KE MANA ??

Oh iya, waktu memang berputar sangat cepat. Sebentar lagi sudah mau ujian akhir, terus ujian utama, dan … libur puanjang…banget, Juli dan Agustus. Mau ke mana ya ?. Ketika pertanyaan itu saya sampaikan ke rekan-rekan, beraneka ragam jawabannya.

”Gimana libur, bimbingan PI masih banyak !”
”Emang kita ikut libur ?”
”Liburan ?, emang punya duit !”
”Nabung saja buat Lebaran.., kan sebentar lagi puasa !”
”Krisis gini kok berlibur !“
“Nanti kalau liburan dibilang sombong..!“
“Mending beres-beres rumah saja..!“
“Wong proyek belum kelar kok..!“
“Saya sedih kalau liburan, mendingan masuk aja deh !“

Tapi ada juga jawaban yang lain lagi:

”Tiap hari juga libur, emang ada liburan apa lagi ?“
”Tergantung anak-anak saya, saya sih ikut saja..”
”Yah, paling-paling cuma ke rumah neneknya di Jogja..”

Yah, memang bingung kalau libur sepanjang itu (kecuali jika kita orang kaya..). Kalau memang berkunjung ke rumah sanak famili atau rekreasi, paling-paling juga beberapa hari saja. Sisanya ?

Mending dari sekarang kita ’create’ mau menjalankan kegiatan apa. Terutama yang bermanfaat, baik bagi peningkatan kum, peningkatan kemampuan diri (dalam ilmu, mengajar, dsb.), atau untuk menambah penghasilan (kan itu waktu-waktu yang sangat ’kritis’ bagi dompet kita).

Gimana ?

13 May, 2009

RAKER ? GAK LAGI DEG-DEGAN

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 7:26 pm

RAKER ? GAK LAGI DEG-DEGAN

Ketika itu, saat memulai memimpin rapat di Filkom saya berkata: ”Ada dua hal yang membuat saya paling stress di kampus yaitu, 1 ketika mengikuti Raker, dan 2 ketika ada akreditasi program studi…” Karena saat itu menjelang akreditasi dan persiapan pembuatan laporan raker, maka rapat kali itu membahas hal-hal yang berkaitan dengan itu, utamanya adalah administrasi, pemberkasan, dan kerja sama dengan unit-unit terkait.

Pada akhir rapat, saya menyampaikan kata penutup “saya puas dengan rapat kali ini yang berlangsung dengan baik, seperti saya kemukakan di pembukaan tadi, bahwa ada dua hal yang membuat saya, sebagai dekan, stres, tapi kali ini raker dan akreditasi tidak akan lagi membuat saya stres…”

“Wah…pak Bambang rupanya sudah siap sekarang…” tebak pak Lingga. ” Iya nih…” kata yang lain.

“Bukan, bukan itu, sAya tidak akan lagi stres menghadapi dua kegiatan itu karena, setelah ini saya tidak lagi menjabat sebagai Dekan, dan ini adalah rapat fakultas terakhir yang saya ikuti…” jelas saya.

 “Ha ???!!” mereka kaget dan bingung. 

Yah, kalau memang konsisten dengan pilihan orang-orang yang diundang ke Raker, maka saya sudah tidak masuk kriteria lagi, sehingga saya ’aman’ di raker (mulai) kali ini. Raker yang dilakukan setiap tahun itu adalah sesungguhnya rapat pimpinan (Rapim). Yang diundang ke raker itu adalah Pimpinan unit-unit kerja struktural yang ada di UG, plus pendiri dan Dewan Kehormatan (undangan khusus). Yang pasti, saya tidak perlu membuat laporan evaluasi dan rencana kerja.

 Namun demikian, ada beberapa orang yang sempat bertanya kepada saya mengenai ”apa sih raker itu ?, ngapain saja ?.” Pertanyaan-pertanyaan itu tentu bukan berasal dari orang-orang yang pernah ikut raker, mereka adalah ’pendatang baru,’ dan melalui ini perlu disampaikan pula penjelasan singkat mengenai raker yang telah berlangsung selama ini. 

Dahulu, ada rapat kerja pimpinan (Rapim) dan rapat kerja (raker). Rapim untuk para pimpinan, dan raker untuk seluruh staf yang dilaksanakan masing-masing satu kali dalam setahun. Karena krisis moneter, maka hingga saat ini hanya ada satu rapat kerja saja dalam satu tahun.

Sistem penyelenggaraan pendidikan UG dapat diibaratkan sebagai suatu ”mesin besar” atau sebuah super sistem, dan raker adalah alat untuk melakukan pengecekan, penyetelan, dan penyesuaian terhadap sistem tersebut. Terkadang, ada staf yang tergelincir keluar sistem (tidak mengikuti aturan atau budaya organisasi di UG), bahkan ada yang masih belum bisa masuk ke dalam sistem (masih merasa terisolasi atau tidak dapat bermasyarakat dengan staf-staf lain), dan sebagainya.

Pimpinan unit kerja harus memberi laporan evaluasi tentang kinerja unit kerja yang dipimpinnya dalam setahun terakhir. Laporan tersebut dapat berisi susunan organisasi unit kerja, job description masing-masing staf, penyelenggaraan kegiatan, prestasi yang dihasilkan, atau hambatan-hambatan yang dialami serta bagaimana upaya mengatasi hambatan-hambatan itu.

Pimpinan unit kerja juga harus memberi laporan mengenai rencana kerja setahun ke depan yang dapat berupa, jadwal kegiatan rutin, kegiatan tambahan (seminar, kuliah umum, pameran, refreshing mata kuliah, perbaikan kurikulum, dsb.), prediksi jumlah kelulusan, jumlah cuti akademik, jumlah mahasiswa aktif, dan sebagainya.

 Pada kesempatan itu pula dapat dilakukan ’penyetelan’ kinerja dari beberapa unit kerja yang saling terkait, agar jadwal, prosedur, dan semacamnya tidak berbenturan, saling tumpang-tindih, berbeda aturan, atau terjadi konflik kepentingan.  Biasanya, raker didahului oleh BAAK yang membacakan kalender akademik yang merupakan acuan utama dalam penyelenggaraan pendidikan dan kegiatan di lingkungan UG. Dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing unit kerja bidang akademik, per fakultas, per program pendidikan, dan dilanjutkan unit-unit kerja bidang administratif, seperti UPT, Perpustakaan, dan seterusnya hingga selesai.

Hari pertama, raker dimulai Pk. 14.00 – 17.00 dan dilanjutkan Pk. 20.00 – 23.00 (bisa lebih). Hari kedua, raker dimulai Pk. 20.00 – 23.00 (bisa lebih). Sisa waktunya bisa digunakan untuk acara-acara santai atau diskusi antarunit kerja untuk menghasilkan kesepakatan-kesepakatan. ”Katanya raker menyeramkan ?” tanyanya lagi.

”Yah, sering raker itu dikatakan sebagai arena ujian, apakah seorang pimpinan unit kerja mengetahui dengan pasti dan detil tentang segala sesuatu yang berada di bawah kepemimpinannya.., itu memang sulit, terutama jika yang ditanyakan itu berhubungan dengan unit kerja lain…” jawabku.

 ”Contohnya ?” tanyanya lagi.

”Misal saya di Fakultas X, saya ditanya, berapa jumlah mahasiswa aktif yang akan menjalani sidang sarjana di tahun ini…, ini sulit karena datanya ada di PSMA-Online. Tapi pertanyaan itu tidak salah, kenapa saya tidak memiliki data itu yang diupgrade setiap saat di fakultas ini..?” jawab saya.

 ”Terus gimana ?” tandasnya lagi

”Ya pasrah, dimarahi,..eh bukan, dikritik…, malah ini jadi pengalaman bahwa memimpin itu bukan pekerjaan mudah, kita harus tahu apa dan siapa yang berada di bawah kepemimpinan kita.” jawabku.

 ”Oh, kirain memimpin itu enak, tinggal nyuruh-nyuruh saja…” katanya. ”Yah, kalau tinggal nyuruh saja, semua bisa dong jadi pemimpin..” 

12 May, 2009

POLITIK ? NO WAY !

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 3:32 pm

Politik ?

No Way

! 

“Mau Presidennya siapa kek, mau menterinya siapa kek, yang pasti kita gini-gini aja !” celetuk seseorang pada rekannya. “Iya, paling-paling kalau kepilih cuman bikin gebrakan awal doangan !” jawab rekannya. “Contonya, Perda membuang sampah sembarangan, perda larangan merokok di tempat umum, larangan berada di atas gerbong kereta api, berantas premanisme, larangan pornoaksi dan pornografi, dan lain-lain… mana buktinya ??”

 Kesimpulannya, banyak para politisi dan pejabat publik dianggap hanya mencari popularitas yang dianggap kebijakannya hanya anget-anget <smurf>  ayam saja. Tidak ada konsep yang jelas dalam menggiring bangsa kita ke depan, sehingga dikenal istilah “ganti menteri ganti peraturan.” Kalau begini terus, kapan majunya…

Politik dianggap bermuatan black strategy, yaitu strategi yang dibuat agar kekuasaan itu tetap pada dirinya atau kelompoknya (bagi yang sedang berkuasa), atau strategi menjatuhkan orang dari kekuasaanya (bagi yang ingin merebut kekuasaan). Jadi, banyak yang beranggapan politik itu kotor, bahkan keji.

 Bisa saja ia beranggapan seperti itu karena ia memandang dari sisi gelapnya. Bila orang lain memandang dari sisi terangnya, maka politik adalah cara atau sarana untuk menjual program-program yang diyakininya akan membawa manfaat bagi bangsanya, namun untuk menjalankan program tersebut dibutuhkan kekuasaan.

Maka, ramai-ramai partai politik berkoalisi agar bisa mendapatkan kekuasaan itu untuk menjalankan program-programnya. Koalisi antar-partai dilakukan oleh partai-partai yang memiliki platform (visi, misi, dan program) yang sama. Tetapi apa yang terjadi di lapangan, biasanya platform tersebut dibuat seakan-akan sama, dan banyak yang tidak yakin kalau itu murni untuk (kesejahteraan) rakyat. Semuanya UUD (ujung-ujungnya duit).

 Jadi, sudah sebagian besar rakyat tidak lagi percaya pada politisi-politisi, meskipun mereka hebat-hebat. Bahkan, sekelas Agung Laksono (Ketua DPR sekarang) tidak terpilih lagi, malah Eko Patrio, Komar atau Miing yang basisnya adalah seorang pelawak malah terpilih. Mau di bawa ke mana negeri ini jika pembuat undang-undang atau hukum di negeri ini adalah seorang pelawak ?.

Saya yakin, DPR ke depan akan meriah kalau ada rapat, tidak seperti sekarang, banyak yang mangkir atau tertidur pulas. Betapa tidak, jangankan mau mendengar pendapat Eko atau Miing, baru liat tampang-nya saja orang sudah cekikikan. Bahkan, jika memungkinkan, masyarakat boleh ikut menyaksikan mereka mengadakan rapat meskipun harus membayar karcis terlebih dulu.

 Salah satu produk hukumnya mungkin seperti ini: 

”Daripada yang mana dinyatakan di atas, maka dengan itu, karena sebab rakyat Indonesia banyak yang mana hidup di bawah yang namanya kemiskinan, seorang gubernur bank Indonesia harus berasal dari yang namanya pernah menjadi orang miskin, agar dapat merasakan yang namanya susahnya menjadi orang miskin” 

 

10 May, 2009

NASIHAT DARI EYANG

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 5:54 am

1. Jangan suka menghitung-hitung rejeki orang lain
(Bisa berkembang jadi iri, fitnah, berpikiran jahat, dan banyak lagi penyakit turunannya)

2. Gunakan masa mudamu untuk bekerja keras
(Kalau tidak, maka masa tuamu akan dipaksa bekerja keras)

3. Bahagialah kalau saudara atau orang-orang sekitar kamu lebih kaya dari kamu
(Setidaknya, akan berkurang orang yang akan berusaha berutang uang pada kamu)

4. Jangan terlalu memusingkan orang yang selalu berbuat jahat padamu
(Sesungguhnya, ia telah menganiaya dirinya sendiri)

5. Bekerjalah sebaik mungkin, meski imbalannya tidak sesuai dengan yang kau harapkan
(Karena sisanya akan dibayar sendiri oleh Tuhanmu)

6. Berbuatlah dengan penuh keikhlasan
(Karena kekecewaan sering menghinggapi orang-orang yang penuh pamrih)

7. Usahakan selalu berpikir dan bertindak positif
(Karena Tuhan telah menyediakan kepedihan bagi mereka yang selalu berpikir dan bertindak negatif)

8. Dari pada mencari ilmu agar tidak mempan ditembak, lebih baik mencari ilmu yang membuat orang tidak tega, tidak kuasa, atau tidak mampu mengacungkan pistolnya kepadamu.
(Dengan ilmu berbuat baik kepada semua orang)

9. Berpikirlah dari segala arah sebelum memutuskan sesuatu
(Agar keputusanmu tidak merugikan orang lain)

10. Jangan suka meremehkan atau menghina’wong cilik’

(Suatu saat, kau pasti akan minta tolong dan butuh kepadanya)

8 May, 2009

ISTILAH: STLS atau SSTL ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:10 am

STLS ATAU SSTL ? Meski bahasa sendiri, bahasa Indonesia memang kadang ‘njelimet’. Tak heran bila amat sulit memperoleh nilai 7 untuk mata ujian ini di Ujian Nasional.

Di lingkungan kita sendiri banyak yang terjadi, misalkan ‘jadwal’ atau ‘jadual’ ?. Yang memakai ‘jadwal’ sebab katanya, bahasa itu diambil dari bahasa Arab, bukan dari bahasa Inggris. Beda dengan quality = kualitas, quantity = kuantitas dan semacamnya yang diadopsi dari bahasa Inggris, yang memang dari ‘sononya’ nggak ada huruf ‘w’ –nya.

Belum lagi banyak yang menulis ‘aktfitas’ dan ‘efektifitas’, padahal kata-kata itu diadopsi dari bahasa Inggris, ‘activity’ dan ‘efectivity’ yang disadur (seharusnya) menjadi ‘aktivitas’ dan ‘efektivitas.’

Yang masih sering terjadi kesalahan berjamaah adalah ketika pada perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Negara kita. Pusing mana yang benar HUT RI Ke-64, atau HUT RI Ke 64, atau HUT Ke-64 RI, Dirgahayu RI Ke-64, HUT RI LXIV, dan sebagainya. RI (Republik Indonesia) itu hanya ada 1, sehingga jangan ditulis RI Ke…, jadi, yang berulang adalah HUT-nya. HUT Ke … RI. Keberapa itu seharusnya kalimat sambung, sehingga tidak boleh dipisah (ke di sini bukan menunjukkan tempat). Jadi, Ke-64. Penulisan ‘ke’ bisa diganti dengan angka Romawi, Jadi, HUT LXIV RI.

Sekarang, Surat Tanda Lulus Sementara (STLS) atau Surat Sementara Tanda Lulus (SSTL) ?

7 May, 2009

Menjaring Siswa Menjadi Mahasiswa Baru UG

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:31 pm

Menjaring Calon Mahasiswa UG

Pernah terbayangkah (pedulikah kita-red) kalau pada tahun ajaran baru jumlah mahasiswa baru UG hanya sedikit ?. Sebagian besar PTS menggantungkan biaya operasionalnya dari uang kuliah mahasiswanya, lalu, gimana kalau jumlah mahasiswanya hanya sedikit ?


Saya sering berbicara mengenai hal ini kepada beberapa yang peduli dan memikirkannya. Bagaimana UG menyiasati hal ini, dan sudah cocok-kah strategi yang diterapkan UG selama ini ?.
Bapak Dr. Didin Mukodim, orang yang bertindak sebagai ‘ujung tombak pemasaran’ UG adalah orang yang pas kalau diajak bicara mengenai hal ini. Saya tahu, beliau adalah penerus dari Bp. Drs. Achmad Muchji, MM yang selalu berusaha membuat jejaring dengan cikal bakal mahasiswa, yaitu siswa SLTA. “Bagaimanapun juga, kerja sama yang sudah terjalin selama ini perlu terus digalang dan diperkuat. Bisa saja strateginya diubah-ubah, namun kerja sama ini harus terus dilanjutkan.”
Kerja sama yang dimaksud meliputi: penerapan teknologi informasi dalam dunia pendidikan (contoh: UG melatih atau membuatkan website SMA-SMA, membuat e-learning, latihan soal, dsb.), mengadakan penataran, pendidikan dan pelatihan TI bagi guru-guru atau staf administrasi sekolah, mengadakan lomba cepat-tepat, lomba robot, dsb., uji coba Ujian Nasional, dan berbagai kegiatan lainnya.
Bapak Prof. I Wayan Simri, juga enak diajak ngobrol soal ini. “Tren saat ini adalah orang tua yang ingin menentukan anaknya sekolah di mana.” Kalau dulu orang tua menyerahkan ke anaknya sendiri akan ke perguruan tinggi mana nantinya, sekarang orang tua yang mengarahkan. Masuk akal, karena orang tua sekarang sudah banyak yang jadi sarjana ketimbang jaman dulu, karenanya menjadi lebih kritis dalam memilih perguruan tinggi.


“Strategi kita harus diubah, bidik orang tuanya” Banyak cara membidik orang tua menjadi pangsa pasar kita, misalkan dengan sering memasang “iklan” yang sebetulnya merupakan promosi kita secara tidak langsung. Misalkan, anak-anak kita yang mengikuti lomba dan berhasil menang di tingkat nasional (ini banyak sekali), diberi penghargaan dengan memasang ucapan selamat di media masa. Baru-baru ini kita memiliki prestasi menghasilkan 8 orang professor sekaligus, beri penghargaan melalui media masa, dan sebagainya.
“Keunggulan Gudarma sebetulnya memang sudah tidak dapat diragukan lagi, apalagi menjadi empat besar perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam webometric dunia, tapi kita sepertinya adem-ayem saja tidak menyuarakan ini ke media masa, sementara pesaing-pesaing kita banyak gembar-gembor.”
Lain lagi dengan stategi Bp. Irwan Bastian, Skom., MMSI., ”kalau setiap mahasiswa kita bisa membawa satu orang saja dari adik-adiknya, sanak-familinya atau dari rekan-rekannya masuk ke UG sebagai mahasiswa baru, maka tidak kurang 20.000 orang akan menjadi mahasiswa baru” katanya.
Caranya ? ”ya, tentu dengan meningkatkan pelayanan dan fasilitas yang bisa memuaskan mahasiswa kita yang ada.” Menurutnya, masih banyak sistem pelayanan dan fasilitas yang perlu dibenahi atau disempurnakan. Contoh sederhana saja. Ada mahasiswa yang sudah kuliah, sudah bayar uang kuliah, tetapi terlambat mengambil KRS sehari saja, dia harus dicutikan. Sombong sekali kita, emang kita nggak mikir kalau nyari calon mahasiswa itu susah sekali, sementara setelah mereka masuk, diperlakukan seperti ini ?. Peraturan sih peraturan, tapi kan harus diimbangi dengan kebijakan dan pengarahan agar kesalahan ini tidak diulanginya lagi di masa depan.”


”Jadi strategi kita adalah bagaimana memuaskan mahasiswa yang saat ini dirasa masih belum dapat dipenuhi, contoh lain yang sederhana adalah belum tersedianya lapangan (ruang serbaguna) untuk berekspresi…”
”Itu sih sederhana dalam pemikirannya, dalam perwujudannya, nggak sederhana…ha..ha..ha..” Tapi dalam hal strategi, boleh juga.
Adalagi pemikiran dari ibu Dr. Lussiana dkk., ”kita perlu melakukan kegiatan open-house di mana orang-tua diajak untuk ikut serta di dalamnya. Dari kegiatan itu, para orang tua perlu diinformasikan mengenai perkembangan UG, sistem pendidikan dan pelayanan di UG dan sebagainya, sehingga mind-set para orang tua mahasiswa sudah kita isi bahwa UG adalah pendidikan tinggi yang harus dipilih oleh anak-anak dan familinya..”


Kendala untuk melakukan hal seperti itu adalah waktu dan para narator yang bisa mengisi mind-set orang-tua, untuk mengumpulkan 10 orang dosen saja susah, apalagi jika harus ditambah mengumpulkan mahasiswa dan orang tuanya. Belum lagi harus memilih siapa dosen yang akan dijadikan nara sumber, salah-salah bukannya hal positif yang masuk ke mind-set para orang tua mahasiswa, malah membingungkan mereka. Tapi strategi ini juga sangat baik.

Bagaimana menurut Bapak/ibu sekalian, ada lagi strategi yang belum dicatat di sini ? silakan ungkapkan.

Next Page »

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.