Bambang Wahyudi

30 March, 2009

Musibah Situ Gintung = Rencana Tuhan ??

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:08 pm

 

Saya risih mendengar ucapan beberapa orang, termasuk seorang artis yang menyatakan bahwa “Musibah Situ Gintung merupakan bagian dari rencana Tuhan.” Semoga saja ucapan itu hanya keliru dalam memilih dan mengambil kata-kata, maklum manusia memang tak luput dari kesalahan.

 

Mengapa saya risih ?. Pertama, karena seumur hidup saya, saya percaya sekali bahwa Tuhan Maha Pengasih, jadi saya amat tidak percaya kalau Tuhan memiliki rencana jahat, keji, dan semacamnya seperti itu. Kedua, saya ingat pesan bahwa saya tidak boleh berprasangka buruk terhadap Tuhan, sebuah pesan yang tak mungkin saya lupakan.

 

So, jadi apa yang dapat dikatakan tentang musibah Situ Gintung ?. Simpel, 1. Semua yang ada di jagat raya ini berawal dari ciptaanNya, 2. Tuhan Maha Pengatur dengan segala bentuk hukum dan peraturanNya untuk seluruh ciptaanNya, dan 3. Tuhan Maha Berkehendak, namun kehendak itu sesuai dengan hukum dan peraturan yang telah dibuatNya sendiri.

 

Artinya, musibah itu terjadi karena peraturan dan hukumNya menyatakan itu, yaitu air selalu mencari tempat yang lebih rendah yang dapat dijangkaunya, dan air memiliki kekuatan (daya tekan) yang hanya dapat ditahan dengan kekuatan lain yang lebih besar dari itu. Singkatnya, musibah itu semata-mata kelalaian manusia sendiri.

 

Jadi, Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mungkinlah Dia memiliki rencana-rencana jahat dan keji untuk segala yang diciptakanNya. Tuhan tidak pernah semena-mena dengan kekuatan dan kehebatanNya, semua dilakukan sesuai dengan hukum-hukum atau petunjuk-petunjukNya (sunatullah) yang telah dibuatNya. Karenanya, jika kita ingin selamat dunia dan akherat, tak lain dan tak bukan, kita harus menjalankan sunatullahnya.

 

 

13 March, 2009

Bahaya Laten Kampanye

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:51 am

Bahaya Laten PEMILU

 

Dari judulnya, memang seram dan menyeramkan. Tapi itu dapat dikatakan sebagai suatu kenyataan yang ada di sebagian masyarakat kita. Bayangkan, untuk memilih seorang Gubernur saja, menghabiskan dana triliunan rupiah, dan masih saja berbuntut masalah.

Untuk memilih seorang Gubernur saja, puluhan rumah hangus terbakar dan sekian ratus orang menderita, bahkan ada yang sampai tewas. Silakan dengar berita tentang bursa efek, para pelaku pasar masih menahan diri untuk menanamkan modalnya di bursa efek, ”wait and see” katanya. Yah, tentu saja wait and see untuk proses kampanye yang sebentar lagi berlangsung. Bila terjadi kerusuhan, maka mereka (pananam modal asing) mendingan hengkang ke China atau Vietnam yang jauh lebih aman.

Bagi masyarakat miskin, ”wait and see” juga berlaku, siapa yang berani membayar mereka lebih tinggi, mereka akan memilih. Pendapat umum sudah terlanjur terjadi ”mau memilih siapa saja, isinya sama, nantinya juga pasti lupa sama mereka karena asik menghitung-hitung pundi-pundinya sendiri, sekarang hanya bisa ngobral janji saja.” Karenanya, mereka berani ”memasang tarif.”

Prof. Dr. dr. Dadang Hawari telah memberi sinyalemen kuat bahwa banyak calon legislatif telah menderita sakit jiwa, sakit karena tekanan partai yang meminta dana untuk kampanye, sakit karena tekanan lingkungan yang minta dana bantuan, sakit karena lingkungan keluarga yang kurang mendukung, sakit karena takut kalah, sakit karena pesaingnya ternyata lebih kuat, dan sebagainya.

Penyakit ini menular hingga ke pucuk-pucuk pimpinan partai, mereka kini berlomba melakukan kalkulasi kekuatan diri dan musuh (mungkin pakai algoritma SWOT atau SEWOT, E nya bisa macam-macam). Kalau hasil kalkulasinya menyatakan mereka kalah atau fifty-fifty, mereka saling merger (baca: koalisi), dengan satu tujuan memenangkan pemilu. Satu trik sesaat yang memalukan dan memilukan, kenapa gak merger dari dulu dan jadi satu partai saja, kan jadi jumlah partainya sedikit ?.

 

Yah, jawabannya atau alasannya bisa berjuta-juta, silakan saja. Sampai saat ini, saya belum menentukan partai mana yang akan saya pilih (kalau orang-orangnya saya bingung, karena banyak yang tidak saya kenal pribadinya), tetapi saya memiliki kriteria, yaitu 1. menjalankan kampanye dengan tertib, santun, tidak memaksa, dan disiplin. Kalau massa kampanyenya sudah arogan, bising, brutal, dan sejenisnya, saya tidak akan memilih partainya (tentu juga orang-orangnya), 2. sewaktu melaksanakan debat atau menyampaikan visi-misinya, mereka tidak suka memotong pembicaraan orang, mereka suka mendengarkan pendapat orang terlebih dulu. Kalau mereka suka ngotot dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, jauh-jauhlah, 3. sewaktu menjelaskan program-programnya, mereka mampu berpikir logis, runut, sistematis dan realistis. Kalau mereka seperti menjual obat di pinggir jalan, hanya mengumbar janji-janji yang gak masuk akal, enyahlah, 4. mereka tidak mau menjelek-jelekkan orang lain, partai lain atau pemerintah-pemerintah sebelumnya. Kalau mereka merasa paling hebat, yang lain tidak hebat, maaf saja.

Itulah, sekelumit uneg-uneg saya tentang Pemilu. Hendaknya pemilu menjadi sesuatu yang membawa angin segar bagi masyarakat untuk menentukan orang-orang yang akan memimpinnya di masa depan, bukan sebaliknya, menjadi momok atau hantu yang menakutkan. Semoga.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.