Bambang Wahyudi

25 February, 2009

2012 KIAMAT

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:44 pm

2012 KIAMAT

 

Alhamdulillah, kiamat ternyata sudah dekat, katanya tahun 2012. Mudah-mudahan berita ini bisa mengajak orang-orang yang selama ini salah jalur, dan orang-orang yang selama ini jauh dari Tuhan, bisa berbondong-bondong datang ke rumah-rumah ibadah, mau menyantuni orang-orang susah dan terlantar, mau berkorban demi kesejahteraan umat, mau meminta maaf atas segala kesalahan-kesalahannya, dan mau bertobat tidak akan berbuat jahat lagi.

2012 kan berarti tinggal 3 tahun lagi, berarti pemerintahan terpilih kita nanti tidak bisa sampai 5 tahun, tetapi pasti mereka akan terus terjun ke bawah untuk menolong dengan sepenuh hati, para fakir miskin, kaum papa, petani, nelayan, dan “wong-wong cilik” lainnya. Harapannya tentu, bisa menghapus dosa-dosa yang selama ini telah dibuatnya, dan akan masuk surga.

3 tahun lagi tahun 2012, buat apa lagi kita repot-repot nyari kekayaan, buat apa kita bersusah payah untuk menimba ilmu, buat apa lagi kita repot-repot menjadi pejabat, sudah, mulai sekarang gelar saja sajadah di rumah, buat pengajian, melantunkan puji-pujian kepada Tuhan, mudah-mudahan Tuhan mengabulkan keinginan kita, masuk ke dalam surgaNya.

 

Gila !!, aliran apa lagi ini ?, bisa-bisanya menghitung kapan dunia kiamat. Pernah suatu saat ada rekan yang pernah menyampaikan hal serupa kepada saya, katanya (dulu), tahun 1988 akan kiamat, itu menurut “gurunya” yang sakti mandraguna (dekat dengan lingkungan Ketuhanan). Nyatanya, yang kiamat itu dia sendiri.

Kata berita, mama Laurent (si peramal ulung), tidak bisa melihat tanda-tanda kehidupan lagi di tahun 2013, yang disimpulkan oleh orang-orang bahwa sebelum tahun 2013, dunia sudah kiamat. Kalau menilik pengalaman saya sebelumnya, maka si mama Laurent itu yang akan tidak ada lagi (orang yang sudah meninggal, mana bisa melihat kehidupan lagi di dunia, dia sudah sibuk dengan urusan berikutnya).

Yah…, mau bilang apa, keyakinan itu tidak bisa dipaksakan, keyakinan itu milik individu, silakan saja kalau mau dibilang 2012 akan kiamat karena mereka meyakini itu. Sama halnya dengan pengobatan batu Ponari, biar kaum cerdik pandai (termasuk professor plus-plus sekalipun), tidak akan mampu melarang mereka yang meyakini kesaktian batu Ponari. Karena masih banyak yang belum meyakini bahwa “agama adalah akal” karena banyak hal yang “tidak masuk akal” dalam agama (menurut pandangan sebagian orang). Padahal bukan tidak masuk akal, melainkan belum waktunya akal mencapainya, seperti teknologi sederhana, remote control televisi yang ada pada saat ini, itu akan dikatakan tidak masuk akal kalau dikatakan pada tahun 1960an di sini, dan akan dibilang sihir…..

 

14 February, 2009

Opo Tumon, Rek ?!

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:02 pm

OPO TUMON, REK !!

 

Ponari oh, Ponari, kau ini memang bocah ajaib, belum lagi lulus SD, kau sudah diberi gelar ‘orang pinter.’ Jan, pinter tenan koe Rek, kau bisa membius ribuan orang rela mengantri setiap hari untuk meneguk air cucian tanganmu !. Buat apa lagi sekolah tinggi-tinggi nak.., cuci tangan saja terus. Koe uwis pinter…, sak kabehe sing bodo-bodo…

Di Semarang, syech Puji dicela karena mengawini anak-anak di bawah umur, terus baru KPAI, Kak Seto dan kawan-kawan gerah dan meminta mereka berpisah (dulu). Lho..opo tumon rek.., sudah suami istri harus dipisahkan (lagi), aneh… itu jauh lebih menyakitkan jadinya (buat mereka), silakan dibayangkan sendiri, si istri sudah hamil, dicemooh dan diejek masyarakat sekitar, jauh dari perlindungan suami…. Kalau bisa jangan seperti di sinetron-sinetron dong, kalau polisi selalu datang terlambat setelah semuanya terjadi.

Di televisi, iklan SBY menggembar-gemborkan penurunan harga BBM, sampai tiga kali !!, hua ha ha ha … opo tumon…, kalau pas harga minyak dunia turun drastis seperti itu, mungkin saja kalau Presidennya bukan SBY harga minyak sudah turun sepuluh kali lipat !!, dengan penurunan 200 rupiah per kali turun, hua ha ha ha…., emang rakyat makan minyak ?, prinsip ekonomi masih tetap (penawaran VS permintaan), jangan harap sembako turun kalau produksi masih minim.. bukan karena BBM turun…

Seorang Ketua DPRD wafat ketika terjadi demo anarkis menuntut “pemekaran wilayah.” Setelah diselidiki, ternyata demo itu justru ingin mengurangi wilayah Sumatera Utara untuk dibagi-bagi lagi menjadi beberapa propinsi lagi, jadi akan terjadi “penciutan wilayah” Sumatera Utara. Lha, kalau semua penduduk bisa seenaknya minta wilayah nanti bisa-bisa jadi negara kita menjadi negara seribu propinsi dong, padahal, menurut arsiteknya, pembagian propinsi menjadi beberapa propinsi adalah wewenang pemerintah pusat (pemerintah yang lebih tinggi) dengan tujuan agar mereka bisa melakukan pengawasan dan menjalankan roda pemerintahannya dengan baik. Misal, berdasar pengalaman, satu kepala RT hanya sanggup mengurusi 50 KK, jadi kalau ada 60 KK, pak RW bisa saja membaginya menjadi 2 RT, masing-masing 30 KK. Bukan kemauan si KK membagi RT.

Orang ramai-ramai ribut film ‘wanita berkalung sorban’ yang katanya melecehkan pesantren dan umat Islam pada umumnya. Salut buat Hanung (sorry kalau salah namanya, maklum  saya tidak pernah ke bioskop sejak 1988 jadi saya tidak mengikuti semua film, termasuk aktor dan sutradaranya). Saya salut karena beliau berani menentang arus. Maklum, di Indonesia, semua yang tergambar di film harus yang bagus-bagus. Siapa yang berani buat film tentang kekejian polisi (seperti film India), siapa yang berani buat film tentang BIN yang sering kecolongan (seperti film James Bond), dan sebagainya. Sepertinya, Indonesia adalah pusat dari yang bagus-bagus saja, jadi tidak ada orang yang mengaku agama Islam yang jelek perilakunya, yang jelek penafsirannya, dan sebagainya.

Opo tumon rek…, negara sebagus Indonesia ini memang tidak ada korupsi, tidak ada pemakai narkoba, tidak ada yang bengis, tidak ada yang brutal, tidak ada yang berperilaku menyimpang…… sehingga jangan coba-coba bikin film yang membuat citra buruk Indonesia.

 

 

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.