Bambang Wahyudi

12 November, 2008

Latar Belakang Dibangunnya Praktikum Mandiri di I-Lab.

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:43 pm

 

LATAR BELAKANG DIBANGUNNYA PRAKTIKUM MANDIRI dan INTEGRATED LABORATORY (I-LAB)

 

Ada beberapa alasan mengapa Praktikum Mandiri dan Integrated Laboratory (I-Lab) dibangun di Universitas Gunadarma. Alasan-alasan tersebut antara lain adalah: (a) Perkembangan Universitas Gunadarma, (b) Faktor Perkembangan Teknologi Komputer, (c) Faktor Pendidikan Kemandirian, (d) Faktor Kenyamanan dalam Kegiatan Praktikum.

 

A. Faktor Perkembangan Universitas Gunadarma

 

Cikal bakal Universitas Gunadarma berdiri tahun 1981. Dimulai dengan nama Program Pendidikan Ilmu Komputer (PPIK), dua tahun kemudian menjadi Akademi Sains dan Komputer Indonesia (ASKI), setahun kemudian menjadi Sekolah Tinggi Komputer Gunadarma (STKG) yang selanjutnya diubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Gunadarma. Pada tahun 1990 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Gunadarma, dan akhirnya pada tahun 1996 STMIK Gunadarma dilebur dengan STIE Gunadarma dan ditambah beberapa program studi baru, namanya berubah menjadi Universitas Gunadarma.

Perjalanan selama 27 tahun sejak lembaga ini didirikan, tentu telah melewati masa-masa pasang-surut dan suka-duka. Pengalaman itu tentu telah menerpa diri dan menjadi hikmah yang sangat berarti bagi bahan perenungan dan evaluasi diri untuk menatap dan menyongsong masa depan yang lebih baik. Sejalan dengan perkembangan bangsa, sejarah telah membuktikan bahwa Universitas Gunadarma telah berbuat  yang terbaik bagi bangsa.

Berdasarkan pengalaman dalam pengelolaan, ada banyak kesimpulan  yang dapat diambil dan dijadikan pegangan untuk pengelolaan berikutnya yang lebih baik (menjadi konsep pengelolaan). Beberapa kesimpulan itu antara lain: (1) Diperlukan pengelolaan (kepemimpinan) yang efektif dan efisien, (2) Pemilahan yang tepat, mana pengelolaan yang tersentralisasi dan mana yang desentralisas, dan (3) Resource sharing beberapa sumber daya agar diperoleh kinerja sumber daya yang optimal. Dengan demikian, untuk melangkah ke depan, tentunya diperlukan rencana-rencana strategis, dan visi yang harus dijadikan tonggak pencapaian berikutnya. Setelah melalui berbagai analisis faktor, termasuk faktor evaluasi diri tentang kekuatan dan kelemahan, serta peluang dan tantangan, ditetapkanlah visi dan misi Universitas Gunadarma yang dapat dilihat di bawah ini:

Visi:

Pada tahun 2012 Universitas Gunadarma menjadi Universitas berbasis teknologi informasi dan komunikasi terkemuka di Indonesia yang kontribusinya di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat diakui (recognized), baik di tingkat regional maupun internasional

Misi:

1.    Menyelenggarakan pendidikan tinggi berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang berkualitas dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.

2.    Menciptakan suasana akademik yang mendukung terselenggaranya kegiatan penelitian yang bertaraf internasional dan bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia.

3.    Menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai ujud pengejawantahan tanggung jawab sosial institusi (university social responsibility).

4.    Menyelenggarakan kerjasama dengan pelbagai institusi, baik di dalam maupun di luar negeri.

5.    Mengembangkan organisasi institusi dalam rangka merespon pelbagai perubahan yang terjadi. 

 

Untuk mencapai visi tersebut, diperlukan kerja keras secara gradual dan terpimpin dari seluruh elemen atau unit kerja di dalamnya, sehingga motto Universitas Gunadarma ”Coloring the Global Future” atau menorehkan arti di lingkungan global mendatang, dapat terwujud. Tak terkecuali dari unit kerja laboratorium di seluruh program studi yang ada, khususnya yang mempergunakan komputer sebagai alat bantu praktikumnya.

Seiring dengan perjalanan Univeristas Gunadarma di masa lalu, laboratorium-laboratorium dibangun sebagai sarana penunjang kegiatan belajar-mengajar di seluruh program studinya. Tak pelak, karena Universitas Gunadarma telah mencanangkan diri merupakan perguruan tinggi yang berbasis information technology (IT),  maka hampir di setiap laboratorium program studi, memiliki laboratorium komputer. Hal tersebut tidak lagi sesuai dengan kesimpulan yang dipelajari dalam pengelolaan Universitas Gunadarma seperti yang telah dijabarkan sebelumnya.

 

B. Faktor Perkembangan Teknologi Komputer

 

Perkembangan teknologi komputer yang begitu dinamis di pasaran, tidak mungkin secara serta-merta diikuti perubahan seluruh komputer yang ada di laboratorium. Banyak kendala untuk mengadaptasi perkembangan teknologi komputer ke dalam laboratorium komputer, antara lain: (1) faktor dana, (2) faktor waktu, (3) faktor kesiapan kurikulum, dan (4) faktor risiko kerusakan.

Dana yang dibutuhkan untuk mengupgrade komputer tidak sedikit, apalagi di Universitas Gunadarma terdapat seribu lebih komputer yang berjenis personal computer (PC) di berbagai laboratorium program studinya. Perkembangan teknologi komputer yang demikian pesat di pasaran menjadikan nilai upgrade yang telah dilakukan tidak lagi efisien karena harus kembali diupgrade dengan teknologi baru, sementara pemakaian komputer tidak optimal, karena kemampuan komputer sebesar itu (dengan teknologi baru) tidak tereksplor sepenuhnya dengan materi praktikum yang harus dijalani seorang mahasiswa.

Waktu yang digunakan untuk mengupgrade dan reinstall komputer yang berjumlah lebih dari seribu tentu akan lama. Di Universitas Gunadarma jadwal praktikum yang demikian padat, tentu proses pengupgradean dan reinstall komputer dapat mengganggu jadwal praktikum, apalagi harus diuprade dan reinstall berkali-kali mengikuti perkembangan teknologi komputer.

 

Selain perkembangan hardware, perkembangan software komputer juga lebih pesat lagi. Sulit untuk mengadaptasi perkembangan tersebut ke dalam kurikulum, karena mengubah kurikulum harus melibatkan banyak pihak dan perlu waktu lama dalam pembahasannya, tidak secepat waktu perkembangan software di pasaran. Setiap terjadi perubahan di kurikulum yang berkaitan dengan praktikum, maka harus terjadi perubahan di satuan acara perkuliahan (SAP), dibutuhkan perubahan atau upgrading kemampuan dan kesiapan dosen pengajar, perubahan atau pembuatan modul-modul praktikum, dan kesiapan asisten laboratorium. Belum lagi seluruh kegiatan tersebut selesai dilakukan, software baru telah bermunculan di pasaran.

Faktor lain adalah risiko kerusakan dalam proses upgrading komputer. Barang-barang elektronik rentan terhadap banyak faktor dalam proses upgradingnya, belum lagi harus disesuaikan (reinstall) sistem barunya. Komputer PC juga amat rentan dengan kerusakan saat pemakaiannya, antara lain pada komponen hardwarenya: power supply, hard disk, dan disk drive. Kelemahan lain dari komputer PC adalah kerusakan pada sistemnya yang diakibatkan oleh virus komputer yang variannya sudah demikian banyaknya.

Tentu faktor-faktor tersebut dapat dinilai menyimpang dari kesimpulan (konsep) yang telah diambil sebagaimana dijelaskan di atas, karena tidak efektif, tidak efisien, dan menjadi tidak optimal dalam pemakaian komputernya. Belum lagi, laboratorium-laboratorium komputer milik program-program studi berada di tempat-tempat yang saling terpisah (menyalahi konsep efisiensi, resource sharing, dan sentralisasi pengelolaan laboratorium komputer).

 

 

C. Faktor Pendidikan Kemandirian

 

Kampus memiliki kewajiban untuk mendidik setiap mahasiswanya memiliki sifat kemandirian, artinya, setiap mahasiswa harus mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Bertanggung jawab terhadap tugasnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang praktikan, sebagai pribadi yang sedang menyongsong masa depannya yang terbaik, dan sebagai anak bangsa yang harus memberi sumbangsih bagi bangsanya.

Dahulu, ketika seorang mahasiswa sulit untuk menggunakan komputer karena memang komputer masih menjadi barang yang amat langka, maka pantaslah seorang mahasiswa yang akan memasuki laboratorium komputer diwajibkan membuat Laporan Pendahuluan. Hal itu dimungkinkan karena komputer (PC) masih dianggap barang mewah, sehingga pemakaiannya harus dilakukan secara selektif dan memahami apa yang akan dikerjakan di dalam ruang laboratorium. Apa yang akan dipraktikkan di laboratorium komputer itu dituangkan ke dalam sebuah Laporan Pendahuluan.

Ketika itu, mahasiswa memang serius dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri (membuat sendiri Laporan Pendahuluannya) dalam melakukan praktikumnya, karena di luar jam praktikum tersebut, sulit baginya untuk menggunakan komputer lagi. Jadi, dulu mahasiswa kalau bisa mencuri-curi waktu untuk memperpanjang masa praktikumnya (bahkan sampai diusir-usir untuk segera meninggalkan laboratorium).

Tapi, bagaimana dengan saat ini ?. Hampir setiap rumah tangga memiliki PC. Andaikan belum memiliki, seorang mahasiswa bisa meminjam komputer teman-temannya, atau menyewa di tempat-tempat penyewaan PC yang tersebar di mana-mana dengan harga yang relatif murah. Sehingga, apabila ada tugas menyelesaikan suatu modul praktikum untuk minggu depan, misalkan pembuatan program komputer, maka seorang mahasiswa bisa mengerjakannya jauh-jauh hari sebelum praktikum dilaksanakan. Lalu, buat apa lagi Laporan Pendahuluan ?. Laporan Pendahuluan hanya akan menjadi formalitas belaka, dan kegiatan praktikum hanya menjadi kegiatan yang menggugurkan kewajiban hadir di dalam laboratorium saja. Toh mereka sudah mencobanya di rumah atau di tempat lain. Di sini, tampak pihak lembaga menjadi kehilangan wibawa dalam mendidik mahasiswanya.

Karena PC sudah banyak sekali, maka bagi mahasiswa yang malas atau memang tidak berniat untuk bisa, maka Laporan Pendahuluannya minta dibuatkan temannya, atau menyalin beramai-ramai Laporan Pendahuluan seorang temannya yang dikategorikan pandai. Toh ketika ia melaksanakan prakteknya nanti, program (temannya) itu sudah benar. Begitu juga dengan Laporan Akhirnya nanti, yang berisi kesimpulan atau listing program yang benar.  Bisa saja laporan tersebut kembali dibuat beramai-ramai.

Praktikum Mandiri di I-Lab hadir tanpa seorang pun mahasiswa (praktikan) perlu membuat Laporan Pendahuluan dan Laporan Akhir. Tetapi mereka secara individu harus belajar teori pendukung praktikum yang akan diikutinya nanti, karena Laporan Pendahuluan diganti dengan Pre Test, yaitu kegiatan praktikum awal yang berisi soal-soal mengenai teori dari modul praktikum hyang akan dijalani. Soal-soal tersebut muncul secara acak, sehingga di sisi-sisi sebelah seorang mahasiswa akan muncul soal-soal yang berbeda-beda (dan bisa jadi, di sebelah-sebelahnya adalah mahasiswa dari program studi-program studi lain, karena jadwal praktikum default-nya untuk praktikum berikutnya bisa diubah sendiri). Sedangkan Laporan Akhir diganti dengan Post Test, yang berisi soal-soal yang berhubungan dengan kegiatan praktikum yang telah dijalaninya tadi (Lab. Activity, yaitu kegiatan kedua setelah Pre Test yang juga berbeda-beda antara satu praktikan dengan praktikan lainnya, meskipun dalam satu program studi). Selama praktikan mengerjakan soal-soal tersebut, tentu saja kehadiran Asisten Laboratorium tidak diperlukan, dan diganti oleh sistem,  sehingga kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang berkaitan dengan modul praktikum telah disiapkan jawabannya di help system.

Jadi, kemandirian mahasiswa diuji di sini. Mereka harus belajar teori sebelum masuk ruang I-Lab., mereka harus berlatih mengerjakan modul di luar laboratorium sebelum menjalani Lab. Activity, karena mereka harus mengerjakan soal-soal Post Test-nya, mereka harus menjawab sendiri soal-soal tersebut karena di sekeliling mereka juga sibuk mengerjakan soal-soalnya masing-masing, dan tidak ada Asisten Laboratorium yang mau menjawab di luar sistem praktikumnya, dan mereka bisa menentukan sendiri jadwal praktikum berikutnya.

 

 

D. Faktor Kenyamanan dalam Kegiatan Praktikum

 

Seorang praktikan membutuhkan suasana yang nyaman untuk berkonsentrasi dalam menjalani proses praktikumnya. Karenanya, konsep kenyamanan menjadi perhatian pengelola Universitas Gunadarma dalam menyediakan ruang laboratoriumnya. Kenyamanan yang disediakan pihak kampus bagi praktikan di I-Lab. antara lain: (1) mengurangi kebisingan dan udara panas yang dihasilkan oleh PC, dan diganti jenisnya dengan console terminal dengan layar LCD, (2) memberi jarak yang cukup antara satu praktikan dengan praktikan lainnya. Luas lantai yang sekitar 1300 M2 akan ditempati oleh 500 orang praktikan, (3) ruang yang sejuk, dengan suhu yang diatur antara 20 – 25 derajat celcius, (4) dekorasi ruangan yang indah dan tampak mewah disertai dengan view yang indah di sekelilingnya, dan (5) faktor keamanan yang dijaga dengan memanfaatkan monitor CCTV.

 

HAMBATAN

 

Hambatan utama adalah mengubah mind-set, kebiasaan, atau budaya mahasiswa. Selama ini, mahasiswa sudah terbiasa dengan memanggil asisten jika ada sedikit hambatan atau masalah. Sekarang hal itu tidak dapat lagi dilakukan. Belum lagi harus dituntut sikap kedewasaan mahasiswa, pada saat ini tidak sedikit mahasiswa yang masih berperilaku kekanak-kanakan, seperti: manja, usil, suka bercanda tidak pada tempat dan waktu yang tepat, bersuara keras, dan sebagainya yang bisa mengganggu jalannya ketertiban praktikum secara umum.

Hambatan lain adalah mutu modul. Pembuat modul belum terbiasa membuat soal-soal yang valid (tidak melalui proses validasi soal), sehingga soal-soal yang dibuatnya belum mencerminkan kebutuhan pendidikan praktikum secara khusus. Soal-soal yang dibuat masih mengacu pada (bentuk) soal-soal untuk UTS dan UAS.

 

Kesimpulan yang dapat diambil adalah, Universitas Gunadarma tidak pernah berhenti untuk berinovasi memperjuangkan pendidikan untuk bangsa yang selalu akan menjadi lebih baik. Visi Universitas Gunadarma ke depan, akan diikuti oleh kerja keras seluruh elemen atau unit kerja yang ada di dalamnya agar visi tersebut dapat dicapai. Hal itu telah dibuktikan dengan dibangunnya laboratorium I-Lab. dengan Praktikum Mandirinya yang merupakan buah dari pemikiran bersama menuju masa depan Universitas Gunadarma yang lebih baik khususnya, dan pendidikan bagi anak bangsa pada umumnya.

Catatan Untuk Mahasiswa PI Saya

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:05 am

Catatan Penulisan Ilmiah : Perancangan Sistem Komputerisasi

Oleh : Bambang Wahyudi, SKom., MMSI.

 

 

Pengantar

 

Penulisan Ilmiah (PI) diwajibkan di Universitas Gunadarma bagi seluruh mahasiswanya. Banyak latar belakang pemikiran bahwa PI diwajibkan, utamanya adalah sebagai sarana latihan bagi mahasiswa untuk menuangkan alur pemikiran logis dari hasil suatu analisis akademis yang menghasilkan sebuah karya intelektual diri mahasiswa itu sendiri ke dalam sebuah tulisan.

Intelektualitas seseorang sedikit-banyaknya dapat dibaca dari tulisannya. Tulisan yang sulit dimengerti, sulit diikuti alur ceritanya, dan tidak terstruktur menjadikan ia dianggap tidak intelek. Karenanya, sebelum terjun ke masyarakat (dunia kerja), setiap mahasiswa setidaknya pernah melakukan sekali saja penulisan ilmiah, agar ia dapat mengerti bagaimana ia harus menuangkan hasil pemikirannya ke dalam tulisan. Hal ini akan menunjang karirnya, karena dalam berkarir, seorang pegawai harus lihai membuat segala macam bentuk laporan atau proposal kepada pimpinan atau kantornya.

 

Perancangan Sistem Komputerisasi

 

PI hendaknya dibuat mahasiswa dengan mengikuti pepatah “sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui,” artinya, sambil mengerjakan tugas, ia seharusnya sekaligus memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi diri dan lingkungannya. Misalkan, sambil membuat PI, ia ingin memasarkan produk software-nya ke suatu unit usaha tertentu, sehingga dapat menghasilkan uang (memiliki jiwa enterpreunership).

Hal ini yang amat kurang dilakukan oleh mahasiswa, bahkan justru sebaliknya, dengan membuat PI mahasiswa malah mengeluarkan banyak biaya, untuk kertas, tinta printer, bahkan untuk minta bantuan orang lain membuatkan program komputernya (sesuatu yang amat naïf yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi).

 

Salah satu bentuk PI adalah pembuatan Perancangan Sistem Komputerisasi, yaitu membuat sebuah sistem komputerisasi untuk satu tujuan tertentu di suatu unit usaha yang dituju.

 

Langkah Awal Persiapan Pembuatan PI

 

Langkah pertama adalah dengan “membidik” bidang usaha yang belum menggunakan komputer, dengan tujuan, bila PI selesai, software yang telah jadi akan dipasarkan ke sana. Misalkan, “bidikannya” adalah Toko Material.

Nah, dari toko material tersebut, pilihlah satu modul kegiatan yang akan dibuat sistemnya (jika semua kegiatan akan dikomputerisasi, akan memakan waktu yang lama dan perlu dilakukan dalam bentuk sebuah tim), misalkan hanya modul “Persediaan Barang-”nya saja. Sehingga judulnya adalah “Sistem Persediaan Barang di Toko Material XYZ.”

 

Langkah Pengamatan

 

Langkah ini digunakan untuk mengisi sub-judul “Latar Belakang Masalah.” Amati, apa kesulitan yang terjadi dalam hal persediaan barang di toko itu. Misalkan, butuh waktu yang lama untuk mengetahui jumlah ketersediaan barang di gudang karena harus dilihat secara langsung, terjadinya perbedaan jumlah barang yang dicatat dan yang ada di gudang, kesulitan untuk menentukan kapan harus memesan ke pemasok, dan sebagainya. Amati.

Jadi, isi dari “Latar Belakang Masalah” adalah “masalah-masalah apa yang terjadi jika kegiatan itu (dalam hal ini pencatatan persediaan barang) tidak dibantu oleh komputer ?.” Jika yang ditulis adalah Sistem Penjualannya, maka isi dari “Latar Belakang Masalah” adalah “masalah-masalah apa yang terjadi jika administrasi penjualan yang dilakukannya tanpa bantuan komputer ?.”  Tulis sebanyak mungkin masalahnya. Bila tidak ada masalah, maka PI tidak bisa dilanjutkan, karena inti struktur penulisan PI adalah adanya (1) masalah, (2) teori, dan (3) pemecahan masalah dengan teori yang dituliskannya.

Jadi, di Latar Belakang Masalah, bukan diisi tentang perkembangan komputer atau teknologi komunikasinya, melainkan masalah-masalah apa yang ada di bidang usaha yang dipilih untuk diselesaikan dengan PI ini.

 

Batasan Masalah

 

Dari berbagai masalah yang muncul di Latar Belakang Masalah, ambil atau pilih satu atau beberapa masalah saja (ini yang namanya  dibatasi masalahnya). Misalkan, untuk Sistem Persediaan Barang di atas, PI ini tidak membahas masalah kecurangan-kecurangan yang dilakukan orang (misalkan kasus pencurian barang, tidak disiplinnya pemberian laporan oleh bagian Penjualan, dan sebagainya), tidak membahas pula sejumlah barang yang masih ada di pemasok (belum sampai ke gudang), dan seterusnya selengkap mungkin.

Jadi, pada pembatasan masalah, dituliskan hal-hal mengenai persediaan barang yang tidak dicover oleh PI atau software kita. Dengan demikian, jika di Latar Belakang Masalah, ditulis banyak sekali masalah di suatu bidang usaha, maka di Batasan Masalah, hanya diambil satu atau lebih masalah yang akan diselesaikan dengan penulisan PI ini. Batasan masalah juga dapat berarti batasan ruang lingkup pembahasan yang penguji boleh tanya, di luar itu, Penguji tak boleh tanya.

 

Mencari Teori yang Tepat dan Dipahami

 

Langkah berikutnya adalah menuliskan teori yang akan kita gunakan untuk memecahkan masalah di atas. Teori utamanya yang harus ada adalah tema atau pokok bahasan utama yang akan dibahas di PI. Misalkan, jika kita mengambil tema mengenai ‘Persediaan Barang” maka harus ada teori mengenai persediaan barang, jika kita mengambil tema tentang “Pemasaran”, maka harus ada teori tentang pemasaran, dan seterusnya. Teori tambahan tentang itu boleh berisi mengenai tools (alat-alat) yang digunakan. Banyak alat-alat yang digunakan untuk membuat perancangan sistem, tapi kita pilih yang kita kuasai saja (yang pernah dipelajari), dan akan digunakan untuk memecahkan masalah di PI kita.

Tentang bahasa pemrograman di teori, silakan disinggung, tetapi tidak seperti membuat buku, dibahas panjang lebar sampai-sampai tampilan di monitornya dicetak. Cukup bahasa pemrograman itu digunakan untuk apa dalam PI kita. Berdasarkan pengalaman, kebanyakan PI menggunakan tools (minimal) : Data Flow Diagram (DFD), Entity/ Relationship Diagram (E/R D), Normalisasi Data, dan Input/ Output Design. Ada beberapa yang menambahkannya dengan HIPO Chart, Kamus Data, Flowchart System, dan sebagainya. Ada pula yang menggunakan UML (Unified Modelling Language).

Umumnya, DFD yang digunakan hanya Context dan Zero diagramnya saja, dan normalisasi datanya hingga 3NF saja.

 

Memecahkan Masalah

 

Terakhir adalah memecahkan masalah dengan teori yang sudah dipilih. Ada beberapa kaidah dalam pemecahan masalah yang perlu diperhatikan.

 

1.            Konsistensi : konsistensi umumnya terabaikan dalam hal penulisan istilah, misalkan, di Bab 1 ditulis “Persedaiaan Barang,” tetapi di Bab 3 ditulis dengan “Stock Barang,” meski memiliki arti yang mirip, tetapi hal ini tidak boleh dilakukan. Begitu juga di alur data di DFD, misalkan di context diagram ditulis dengan “Laporan Keuangan,”  tetapi di zero diagram ditulis dengan “Lap. Keuangan,” dan sebagainya.

2.              Penggunaan Lambang : lambang-lambang yang digunakan di DFD, ERD, Flowchart, dan sebagainya sudah “diatur oleh penciptanya,” dan diakui seluruh insan akademisi di dunia, sehingga jangan muncul lambang-lambang baru kreasi sendiri, meskipun itu lebih “nyeni.”

3.              Urutan logis : perlu diperhatikan, mana tools yang digunakan terlebih dulu dan mana yang berikutnya, jangan terbalik-balik.

4.              Kaidah bahasa : gunakan kaidah bahasa Indonesia baku (Ejaan Yang telah Disempurnakan/ EYD). Kapan menuliskan suku kata “di” harus dipisah dengan kata berikutnya dan kapan harus disambung, jangan menulis kata “efektifitas,” melainkan “efektivitas,” jangan menuliskan kata “resiko,” melainkan “risiko,” begitu juga dengan kata “hutang” yang seharusnya “utang,” dan sebagainya. Andaikan ada kata asing yang sulit diterjemahkan secara pas ke dalam bahasa Indonesia, tuliskan saja kata itu tetapi dicetak miring atau berbeda dengan penulisan kata dalam bahasa Indonesia lainnya.

 

Yang terpenting dalam pemecahan masalah adalah analisis kebutuhan pengguna. Jadi, di analisis pengguna diisi dengan “mau dibuat seperti apa software kita nanti agar sesuai dengan keinginan si pengguna ?.” Misalkan, informasi apa saja yang harus disajikan di monitor, bagaimana desainnya (desain input-output), data apa saja yang harus disimpan), dan sebagainya.

 

 

Penutup

 

Penutup berisi mengenai langkah-langkah kerja yang sudah dibuat, kesulitan, harapan, maupun kekurangan dari PI yang sudah diselesaikan ini. Kadang kala (tetapi malah dijadikan keharusan) di Bab Penutup ini ada “Kesimpulan” yang berisi “apakah perancangan sistem (software) yang sudah dibuat dapat memecahkan masalah ?,” “seberapa membantu, dan seberapa puas client tersebut ?.” Jadi, kesimpulan berhubungan dengan Tujuan Penulisan di Bab 1, apakah tujuan penulisan kita sudah tercapai dengan pembuatan software ini ?

Di Bab Penutup juga ada “Saran” yang bisa diisi apa saja untuk lebih menyempurnakan atau memberdayakan perancangan sistem (software) yang sudah dibuat.

Sebagai gambaran yang lebih nyata, jika kita selesai nonton sebuah film, maka jika kita ditanya “gimana kesimpulan isi film tersebut ?,” pastilah jawabannya “bagus, kurang bagus, jelek,” dan sebagainya mengenai kualitas dari film tersebut (jadi, kita tidak perlu menceritakan kembali jalan cerita film itu)

Jika kita diminta saran untuk memperbaiki isi film tersebut, kita bisa jawab “kalau pemeran utamanya diganti si X pastilah lebih cocok,” atau “coba kalau pemeran utamanya ikut mati, pasti lebih seru dan mengharukan.”  Jadi, saran bisa juga berisi mengenai hal-hal yang belum kita capai dari PI kita yang bisa dijadikan bahan bagi penulis berikutnya.

 

Daftar Pustaka

 

Setiap teori yang ditulis di Bab Teori harus diambil dari text book.  Teori tidak boleh diambil dari PI orang lain, atau dari catatan dosen, atau dari perkataan orang, atau dari koran/ majalah yang tidak diakreditasi selayaknya jurnal-jurnal ilmiah internasional.

Setiap text book yang dikutip harus dicantumkan di Daftar Pustaka secara urut abjad nama pengarangnya. Karenanya, seharusnya, PI yang baik sedikitnya ada 10 buah text book yang dicantumkan di Daftar Pustaka. Misalkan kita menuliskan “penggunaan komputer akan menjadikan pekerjaan lebih efisien dan efektif,” Penguji berhak bertanya “kata siapa ?,” “apa buktinya ?.” Tetapi Penguji tidak akan bertanya kepada buku, karena pernyataan itu kita kutip dari buku. Dengan demikian, semakin banyak tulisan yang kita kutip dari buku (terutama untuk Bab Teori), maka semakin sedikit Penguji bisa bertanya. Selain text book, pustaka boleh diambil dari jurnal-jurnal ilmiah, dan juga dari internet.

 

Sebenarnya banyak yang akan saya jelaskan di sini, namun bisa-bisa tidak efektif (lelah membacanya. Kalau begitu, ajukan saja pertanyaan bila ada yang belum dimengerti mengenai PI, kirim  melalui e-mail ke bwahyudi@staff.gunadarma.ac.id

 

 

 

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.