Bambang Wahyudi

23 October, 2008

Depok, Kota Incaran Penjahat

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:54 pm

Banyak e-mail yang dikirim ke alamat kita yang menceritakan tentang aksi-aksi kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat di kota Depok ini. Sepertinya, kota Depok yang demikian maju pembangunannya ini, kini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para penjahat, mulai dari kelas teri (pencopetan)  sampai ke kelas kakap (pembunuhan dengan kekerasan dan mutilasi).

Banyak informasi dari rekan-rekan, tetangga, atau bahkan istri saya sendiri bahwa mereka pernah dicuri HP-nya di angkot jurusan Pasar Minggu - Depok Timur (Miniarta Kijang 04). Mereka memang tidak pernah sadar ketika HP-nya dicopet, mereka mulai sadar ketika si pencopet sudah turun atau mereka ingin menelpon. Bahkan, tetangga saya persis (mahasiswi IISIP)  dicopet langsung 2 HP (GSM dan CDMA) sekaligus.

Mereka rata-rata kehilangan HP justru selesai menggunakan HP tersebut dan dimasukkan ke dalam tas. Istri saya bilang, bus dalam keadaan penuh dan ada orang yang gelantungan di pintu yang tidak mau pindah ke bus di belakangnya yang masih lumayan kosong. Orang tersebut bertugas untuk mengalihkan perhatian, sementara temannya yang duduk “bekerja.” Jadi, menurut saya, kalau mau aman, HP-nya dipegang saja terus.

Lain pula cerita tetanggaku (Depok II) dan saudaraku di Kranggan, Cibubur . Mereka terkena hipnotis (kebetulan mereka semua wanita paruh baya). Kalau saya bilang, mereka bukan kena hipnotis, tapi terkena bujuk rayu dan ditipu (atau hipnotis = bujuk rayu + tipu ??). Ceritanya, saudaraku Sabtu itu iseng-iseng jalan-jalan ke pasar tradisional di Kranggan, tiba-tiba ia ditegur seorang pria (tampan pastinya), berpakaian perlente dan berlogat Malaysia (taulah negara itu…). Pria itu menegur “Mak Cik, Mak Cik…, di mana Yayasan Al Ihsan ya ?, kok saye dah puseng-puseng tak berjumpe ?.” Mendengar itu, tentu saja saudara saya menjawab: “Oh, ada di dua jalan di sebelah sana…” katanya sambil menunjuki arah yang harus dilalui.

Si Malaysia itu berkata “Saye ndak menyumbang dana ke yayasan itu, tak banyaklah, cuma 100 juta rupiah…” mulai dia berlagak. Pendek kata, dia bilang bos-nya di Malaysia biasa menyumbang ke yayasan itu setiap bulan, tapi kini giliran dirinya yang harus mengantarkannya (nggak masuk akal kan ?, emang gak ada bank di sini ?). Agar tidak kesasar ia meminta saudara saya naik ke mobilnya (Kijang) untuk membantu mengantarnya. Di dalam juga sudah ada 2 orang lain yang setipe.

Orang tadi menerima telpon dari HP-nya. “Ya bos…, oke bos…, saye..saye bos…,”  selanjutnya orang itu bercakap-cakap dengan rekannya: “Bos minta kite talangi dulu uang 50 jute lagi buat yayasan itu, gimane ?.” Percakapan itu menghasilkan keputusan arloji orang itu harus dijual, toh nanti akan diganti oleh bosnya di sana. Orang itu berlagak keberatan karena arloji itu berharga (kalau dirupiahkan) 500 juta rupiah, karena bertahtakan berlian, emas dan batu permata.

Pendek kata, saudara saya itu diminta untuk membeli. “Saya nggak punya uang sebanyak itu…” katanya. Setelah berbicara simpang-siur akhirnya saudara saya setuju untuk membeli jam itu dengan harga 10 juta ditambah dengan HP yang dimiliki, nanti HP itu akan diganti dengan model terbaru setelah ia (si Malaysia itu) mendapat ganti dari bosnya. Saudara saya diantar sampai ke depan rumahnya, mengambil uang 10 juta plus HP dan menulis alamat rumahnya di secarik kertas untuk pengiriman HP penggantinya.

Transaksi terjadi diam-diam, saudara saya mendekati pintu mobil menyerahkan uang dan barang, orang itu juga menyerahkan kotak yang katanya berisi jam tangan tadi. Merekapun berpisah. Kagetlah saudara saya itu ketika dilihat isi kotak itu adalah jam tiruan !. Ia lemas, tapi tak mau bercerita dengan siapapun, shock hingga ia mampu menceritakannya.

Intinya, kalau ingin berbelanja, yang legal-legal saja lah (di toko, di warung, dsb.) dan jangan sampai tergiur keuntungan besar (bayangannya, dengan modal 10 juta plus HP ia bisa mendapatkan setidaknya 500 juta !).

Cerita itu mirip dengan kasus yang menimpa tetangga saya, ia mengalami kerugian 20 juta. Uniknya, ia sempat diantar pulang untuk mengambil buku tabungan, dan diantar ke bank untuk mengambil uang dan menyerahkannya kepada penjahat itu.

Cerita kejahatan lain yang menimpa dua tetangga saya yang kehilangan sepeda motor. Justru sepeda motor yang hilang itu adalah milik tamunya yang  berkunjung ke rumahnya. Bagaimana tak enak hatinya si tuan rumah tersebut, dan kedua sepeda motor itu belum dilunasinya (motor kreditan). Cerita uniknya, si tamu (keluarganya, suami-istri) sedang berbincang dengan istri tuan rumah di ruang tamu, karena si suami belum pulang. Tak berapa lama, si suami tiba dan menyalami para tamu itu.

“Lho, mas kan naik mobil tho ?” tanya si tamu, “Iya..” jawab si tuan rumah. “Maaf ya mas, garasinya saya pakai buat naruh sepeda motor saya…, mobilnya jadi di pinggir jalan….” kata si tamu.Si tuan rumah kaget: “Lho !, di garasi nggak ada apa-apa kok…, mobil saya sudah masuk garasi…”. Kontan kegegeran terjadi.

Kejadian itu juga hampir sama dengan tetangga saya lainnya (yang kebetulan saling berhadapan). Si tamu hanya ingin menyerahkan berkas (karena tetangga saya itu bekerja di notaris Sri Hartati, di sebelah Plaza Depok). Mungkin penyerahan dan perbincangan di ruang tamu itu tak sampai lima menit, tetapi ketika ingin kembali, sepeda motornya sudah raib…

Jadi sepertinya, meskipun hanya ditinggal sebentar, sepeda motor perlu diberi kunci tambahan atau dibuatkan kunci rahasia.

Ada satu lagi cerita jahat dari orang yang tampak lugu. Di depan rumah saya, ada orang baru yang rumahnya tergolong paling “wah”, tetapi mereka (penghuni rumah itu) entah mengapa, sulit bergaul dengan lingkungan. Mungkin saja ia introvert (tidak suka bergaul), meskipun pendidikannya sudah S2 dan bekerja di BPPT.

Suatu hari keluarga itu pergi pulang kampung (Tegal) yang tinggal hanya seorang pembantu rumah tangga wanita paruh baya, dan yang dititipi hanya Ketua RT, di sekelilingnya tidak. Keesokannya, siang hari (dan hari kerja) sebuah truk berhenti di depan rumahnya. Supir truk dan dua orang kernetnya mengangkuti barang-barang dari rumah itu, lemari, tempat tidur, kursi, dsb… Seorang warga yang kebetulan lewat bertany: “Bi…, kok pada diangkatin…”, si Bibi menjawab: “Iya bu.., pak Asep mau pindahan…, nyicil-nyicil…”

Si ibu itu percaya saja, lha waktu datang juga tak bilang-bilang, tentu sekarang mau pindah juga tak perlu bilang-bilang. Tapi tidak dengan pak Edmon, di sebelahnya. Meskipun ia tidak dapat melihat (buta karena glukoma, sehingga tidak bekerja, dan ada di rumah), dan ia juga tidak pernah ditegur oleh tetangganya itu, tapi ia memiliki firasat bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk. Dengan dibantu istrinya, ia keluar rumah. Berlagak orang yang dapat melihat, ia menghardik supir truk dan keneknya dengan logat Bataknya: “Berhenti !!, turunkan kembali semua barang-barang itu !!, kalau tidak, saya telpon polisi sekarang !!”

Ternyata gertakan itu mempan juga, mereka menurunkan kembali barang-barang itu, tapi dibiarkan digeletakkan di garasi (tidak diangkut ke lantai atas seperti semula), dan mereka segera kabur. Saat itu, sang pembantu tidak ada, ia sedang ke depan. Istri saya menggembok gerbang rumah tu dengan gembok yang dibawa dari rumah. Begitu si pembantu tidak dapat masuk, maka beberapa orang “menangkap” pembantu itu dan diinterograsi di rumah pak RT. Dengan lagak yang lugu, pasrah, dan semacamnya, ia mempersilakan mereka menghubungi tuan rumah, “memang mereka mau pindah” katanya.

Bagaimana mau menghubungi semua tidak tahu ke mana menghubunginya,  dan tidak tahu berapa nomor HP (telepon) orang itu. Karena terjadi keraguan, antara benar dan bohong si pembantu ini, kami bersepakat, pembantu ini dititip ke kantor Polsek Sukmajaya Depok Timur sampai si tuan rumah tiba, tetapi biaya makan kami yang tanggung. Hari pertama dan hari kedua kami mengunjungi pembantu itu untuk memberi makan, dan selalu ada di sana (meski bukan di ruang tahanan).

Hari ketiga malam, si tuan rumah pulang. Betapa kagetnya ia ketika ia tidak dapat masuk karena garasinya penuh barang-barang. Kami hampiri mereka dan menceritakan kejadiannya “benar pak Asep mau pindah ?” tanya saya. “Siapa ?,  ah saya nggak mau pindah kok, saya dari Tegal…” katanya. Ceritapun datang bertubi-tubi dari kami, orang-orang di sekelilingnya.

Di tengah cerita-cerita tersebut, istri pak Asep langsung nyerocos: “gelang saya masih nggak ?, HP saya dua saya tinggal, perhiasan saya banyak di lemari, kemana ?”. Tentu saja tak ada yang mau menjawabnya, “cari aja ‘ndiri EGP, udah untung ditolongin…, kalo nggak kan semua ludes…, orang kordennya, sepreinya aja udah diturunin…” celetuk ibu-ibu kesal.

Uniknya lagi, si pembantu berhasil kabur dari Polsek….”tadi pamit beli permen…” kilah seorang Polisi di sana….

(kalau nggak males, bersambung…….)

12 October, 2008

Doa Setelah Lebaran

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:03 pm

Lebaran, identik dengan waktunya mengeluarkan uang gede-gedean; buat beli atau bikin kue; buat beli atau bikin baju baru; buat beli atau bikin ketupat plus opor ayam, dll.; buat beli bensin mondar ke sana mandir ke sini; buat ngepelin anak-anak kecil; buat ngongkosin pembantu; buat pulang kampung (piknik); buat THR sanak famili-handai tolan; dlsb.

Yah, namanya sudah tradisi memang sulit dihindari, “Setahun sekali” katanya.

Setelah eforia Lebaran berlalu, seakan terbangun dari mimpi, dompet hampir dempet, pekerjaan terus mepet, pembantu datangnya lelet, sepertinya semua serba kepepet.

Hikmah puasa seakan telah sirna terhapus lebaran; yang seharusnya hidup secara bersahaja, malah menghambur-hamburkan harta; yang seharusnya semakin percaya pada ketentuan Allah, malah menebarkan benih-benih fitnah; yang seharusnya berpandangan positif, malah berpikir negatif; yang seharusnya mengasihi sesama, malah suka mengadu-d0mba.

“Ya Allah, pertemukan kembali hamba pada Lebaran tahun depan”

“Berilah hamba rejekiMu yang banyak, biar hamba bisa menabung untuk lebaran nanti”

“…dan tanamkan ke dalam hati hamba nilai-nilai ibadah puasa yang sesungguhnya

Aamiin.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.