Bambang Wahyudi

16 June, 2008

MENYAKSIKAN KONTES ROBOT 2008 DI UNIVERSITAS INDONESIA

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:46 am

MENYAKSIKAN KONTES ROBOT INDONESIA (KRI) dan KONTES ROBOT CERDAS INDONESIA (KRCI) NASIONAL
14 - 15 JUNI  2008

Sebelum mengulasnya, berikut saya informasikan para pemenangnya terlebih dahulu. Untuk KRI, Juara I adalah kelompok JUMP-BE dari Politeknik Elektronika Negeri (PEN-ITS) Surabaya. Juara II dari kelompok KHIL-G Universitas Brawijaya Malang. Penghargaan untuk Inovasi Terbaik diraih oleh Kelompok PALAPA dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Desain Terbaik oleh kelompok KOUMORI dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Algoritma terbaik dari kelompok KHIL-G Universitas Brawijaya Malang, dan Peraih Skor Tertinggi dari POSTER-MPX Universitas Hasanuddin, Makasar.

Sedangkan untuk KRCI Devisi Senior Beroda, Juara I diraih tim DU 114-V8 Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung, Juara II tim TENSAI dari Politeknik Elektronika Negeri (PEN-ITS) Surabaya. Untuk Devisi Senior Berkaki, Juara I dimenangkan oleh RASYID dari Politeknik Caltex Riau, dan Juara II oleh kelompok al_FajRy dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Untuk Devisi Expert Single, Juara I diraih oleh kelompok gho-zie dari Politeknik Elektronika Negeri (PEN-ITS) Surabaya. Juara II diraih oleh kelompok dot.B dari Politeknik Negeri Bandung. Akhirnya, untuk kelompok Expert Swarm, Juara I diraih oleh kelompok DU-102 dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung. Selain itu, ada penghargaan untuk kategori Inovasi terbaik yang diraih oleh Universitas Surabaya, Algoritma terbaik oleh Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung, dan kategori Best Spirit oleh Universitas Indonesia.

Jadi, jika ditotal, perguruan tinggi yang berhasil meraih juara dan penghargaan terbanyak untuk seluruh kategori adalah: PEN-ITS (4), dan ITS (3) serta UNIKOM (3).

Universitas Gunadarma, dengan robotnya Chuunin-6 New Version kali ini belum mampu menembus elite perobotan nasional untuk kategori Devisi Senior Berkaki yang diikuti oleh 10 kelompok yang lolos dari seleksi regional. Sebelumnya, di kelompok tersebut robot Chuunin-6 mampu menduduki peringkat II regional Jakarta dan Jawa Barat di bawah UNIKOM, Bandung.

Kesepuluh kelompok Devisi Senior Berkaki tersebut adalah dari ITB, ITS, Politeknik Caltex Riau, Politeknik Negeri Bandung, UGM, UG, UI, UNIKOM, Universitas Surabaya, dan Universitas Tarumanegara.

Secara umum, memang UI adalah “Juara Pelaksana” kegatan, karena tidak ada satupun kelompok UI yang menjadi juara (kecuali Penghargaan). Demikian kata sang Rektor UI dalam kata sambutan penutupannya, dan juga kata seorang Panitia (saya tidak tahu namanya) yang sempat duduk di sebelah saya di bangku VVIP (padahal saya tidak ada hak duduk di situ, hanya karena saya ingin melihat dengan jelas saja, dan kebetulan ada bangku yang kosong, sayang jika tidak dimanfaatkan), sebelum Rektor mengucapkan kata-kata itu. UI siap menjadi Panitia Pelaksana, jangankan di tingkat nasional, UI juga mengajukan diri menjadi tuan rumah untuk kontes robot serupa di tingkat internasional tahun 2010.

Saya juga merasa UI pantas menjadi Panitia Pelaksana karena infra struktur dan kepanitiaanya sepertinya sudah siap sejak dulu kala. Tamu-tamunya sepertinya tidak sempat “keroncongan” karena jamuannya yang datang terus-menerus yang dilayani oleh gadis-gadis belia (mahasiswi) nan cantik yang menyegarkan mata.

Secara umum, kontes robot yang sangat besar menyita perhatian penonton adalah Kontes Robot Indonesia (KRI). Kali ini temanya adalah “Robot Panjat Pinang” yang diadopsi dari ABU Robocon 2008 “Govinda”. Kontes ini sangat menyita perhatian karena robot ini berukuran besar (ada yang otomatis dan ada yang manual dikendalikan oleh Operator) yang benar-benar bertanding di antara dua kelompok untuk menjadi pemenang. Selain kecanggihan dalam merancang robot-robotnya, juga harus mampu membuat strategi menghambat perolehan nilai lawan. Jadi, ada strategi menabarakkan robot (otomatisnya) ke robot lawan, menutupi daerah perolehan nilai lawan, mencuri poin di daerah lawan, dan sebagainya.

Tak heran, jika banyak penonton (supporter) yang datang seperti penonton sepak bola. Saya amati, supporter terbanyak justru datang dari Surabaya dan Yogyakarta (masing-masing sekitar 100 orang). Mereka datang dengan berbagai atribut seperti seragam, spanduk, yel-yel, alat-alat musik, pengeras suara, dan pemandu gerak tari dan nyanyi. Meski pada awalnya saya khawatir akan terjadi bentrokan (karena yel-yel dan nyanyiannya saling mengejek bahkan menghina), namun sampai acara berakhir, justru di antara mereka dapat terjalin persahabatan. Salut buat mahasiswa seperti itu ! (sportif).

Contoh yel-yel tersebut seperti nyanyian “Buat Apa Susah” yang liriknya diubah menjadi “Buat apa Jogja, buat apa Jogja, Jogja itu tak ada gunanya?” atau lagu “Sayonara” ketika tim lawan kalah. Anehnya, para supporter juga secara bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan membaca Surat Al-Fatihah. Macam-macamlah ulahnya, seperti penonton sepak bola di luar negeri (kebetulan saya tidak pernah lagi melihat pertandingan sepak bola dalam negeri sampai tuntas sejak SD dulu).

Meski harus bayar Rp. 10.000,00 per hari, supporter maupun penonton umum memenuhi Balairung UI yang jika ada jeda istirahat diisi hiburan band mahasiswa. Untuk pertandingan KRCI, yang robot dan lapangannya kecil, mereka harus melihat ke layar agar jelas. Itupun jika pertandingan timnya diliput oleh sang Kameraman. Bagi mereka, bila timnya disebut saja, cukup memacu mereka untuk meneriakkan yel-yel atau nyanyian, tak peduli, robotnya tampak atau tidak. Hal ini yang dimanfaatkan oleh Pembawa Acara (MC) untuk menghidupkan suasana, tapi terkadang hal ini bisa menjadi `senjata makan tuan’ karena mereka sulit diminta untuk tenang ketika ada suatu kegiatan yang membutuhkan suasana tenang seperti wawancara dengan tim pemenang untuk diliput televisi (utamanya TVRI).
Bagaimana Tim UG ke Depan ?

Kalah dalam kancah nasional, sementara ini dapat dianggap sebagai suatu kewajaran dan dapat diterima secara total tanpa bisa menyalahkan tim kita sedikitpun. Betapa tidak, tim kita masih dapat dikategorikan `anak bawang’, `under dog’ atau tim `kuda hitam’ yang merupakan tim baru yang berusaha mendapatkan perhatian `dunia per-robotan di tanah air’.¬† Bisa masuk ke kancah tingkat nasional saja sudah merupakan prestasi yang cukup luar biasa.

Saya tahu mereka kecewa, tapi saya masih tersenyum, karena mereka kalah setelah mereka berusaha mengerahkan segala kemampuannya yang tak kenal waktu dan putus asa. Itu sudah suatu modal yang patut saya acungi jempol, mereka kalah bukan karena mereka malas. Justru kekalahan ini harus mampu menjadi pemacu dan pemicu kreativitas mereka dan menjadikan momentum menimba ilmu dan pengalaman yang akan berguna di kancah-kancah berikutnya, “mundur selangkah untuk maju beberapa langkah ke depan.”

Apalagi jika dilihat latar belakang bidang ilmu kelompok kita, mereka semua hanya dari program studi Teknik Komputer dan Sistem Komputer, tidak ada dari Teknik Elektro, Teknik Mesin dan lain-lain yang seharusnya bisa bergabung untuk menciptakan robot dengan dasar multi disiplin ilmu.

“Kita tidak menghitung suhu ruangan yang pagi ini dingin sekali karena hujan semalaman. Sensor api kita tidak berhasil menemukan api meskipun api itu sudah ada di hadapannya,” jelas Musa, Pembimbing tim robot Chuunin-6 dari UG, “mana robotnya di luar ruangan semalaman,” tambahnya.

“Nggak apa-apa, jadikan ini pengalaman. Ke depan, sudah menanti UGM yang mengajak kita bertandang ke kampusnya. Gimana ?” tanya saya. “Mudah-mudahan Pak?” jawab Musa.

Bagimanapun, setelah melihat pertandingan KRI dan KRCI ini saya mengharapkan mereka (juga) mau mengikuti KRI karena saya nilai kategori ini merupakan kategori yang “enak ditonton” dan “lebih bergengsi.” Kelompok yang memenangkan kategori ini bisa “show” di pitstop mereka untuk “membagi-bagi ilmu” dan memamerkan hasil karyanya yang dikerubungi banyak peserta lain, panitia, kameraman televisi atau penonton di barisan VVIP, VIP, dan undangan lainnya.

“Mereka juga tertarik dan pengin Pak, tapi kita harus mempersiapkan lapangan untuk latihan mereka yang bisa Bapak lihat sendiri, berukuran sangat besar dan pastinya mahal. Kami juga butuh bantuan ilmu dari disiplin ilmu lain, seperti dari teknik mesin?” jelas Musa.

Yah, pelan-pelanlah akan saya usahakan, tapi, kalau tidak ada partisipasi aktif dari rekan-rekan lain, apalah artinya saya, apalagi kalau tidak ada dukungan dari para pengambil keputusan, saya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya bisa menghayal dan bermimpi memiliki tim robot yang bisa menjadi wakil Indonesia di kancah per-robotan internasional. Kalau ini terjadi, maafkan saya Pak Musa.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.