Bambang Wahyudi

28 May, 2008

Chuunin-6, si Robot Imut Jadi Juara II di UI

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:14 pm

ROBOT CHUUNIN-6 YANG IMUT, JADI JUARA


Memang, menyaksikan pertandingan robot KRI (Kontes Robot Indonesia) dan KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) yang diselenggarakan di Balairung UI (Universitas Indonesia) 24 Mei 2008, bagi saya tidak sedramatis sewaktu menyaksikan Galelobot (Ganesha Line Follower) di ITB (Institut Teknologi Bandung). Ada beberapa alasan untuk itu.
Pertama, saya duduk sebagai Undangan yang bangkunya disusun menghadap lapangan pertandingan untuk KRI yang justru tidak diikuti team robot Gunadarma. Memang, lapangan KRI jauh lebih besar dari lapangan untuk KRCI. Kalau saya perkirakan, lapangan KRI berukuran 14 X 14 meter2, sedangkan untuk lapangan KRCI yang diikuti team robot Gunadarma sekitar 3 X 3 X 0,5 meter3, dan itu diletakkan jauh di ujung kanan saya. Selain jauh, bentuk lapangan menyerupai sebuah kotak yang ada tingginya sehingga ketika robot dimasukkan di arena pertandingan, robot tersebut tak tampak.
Memang, para penonton dibantu dengan adanya dua kamera yang hasil bidikannya ditampilkan di dua layar lebar di dua sisi yang dapat dilihat dengan jelas. Sayangnya, kamera tersebut terus “dipikul” kameraman sehingga sering saya lihat tampilan yang menyorot kaki-kaki penonton, lantai, dan sebagainya yang bukan seharusnya ketika sang kameraman sedang pindah dari satu arena ke arena lain. Kenapa harus pindah-pindah ?, karena kameranya ada dua sedangkan arena pertandingan untuk KRCI ada tiga buah yang dipertandingkan secara paralel.
Kedua, karena pertandingan KRCI secara paralel di tiga lapangan, kameraman tidak bisa mengantisipasi mana pertandingan yang menarik. Terbukti dengan ketika Chuunin-6 berhasil menjalankan misinya, saya justru tidak menyaksikannya, karena tidak ditampilkan di layar lebar. Saya hanya mengetahui dari team robot Gunadarma yang dari jarak jauh tampak mengangkat-angkat kepalan tangannya tanda keberhasilan si robot.
Ketiga, karena setiap robot diletakkan di arena secara bergantian (masing-masing), maka unsur “pertandingan”nya kurang mengena. Sama seperti jika kita menyaksikan balapan mobil atau motor, tetapi jalannya satu-satu (satu selesai, satu masuk), baru diakhir (semua mobil atau motor telah selesai) dihitung siapa yang tercepat.
Keempat, pertandingan yang seharusnya dilakukan 2 hari, dipampatkan menjadi 1 hari. Terjadi kejenuhan, karena saya hadir pukul 07.30 dan pulang pukul 19.30 (setelah mengetahui Chuunin-6 pasti menang).
Tapi, bagaimanapun juga, saya pulang dengan hati yang senang karena dari dua kategori yang diikuti team robot Gunadarma, satu kategori, yaitu senior robot berkaki KRCI bisa meraih tempat kedua. Kesenangan itu bertambah ketika panitia mengumumkan bahwa untuk kategori tersebut, di Wilayah I (Sumatera) tidak ada pemenang, di Wilayah II (DKI, Banten dan Jawa Barat) hanya ada 2 pemenang yaitu Unikom Bandung dan Gunadarma, di Wilayah III (Jawa Timur dan sekitarnya) hanya ada 1 pemenang, dan di Wilayah IV (Kalimantan, Sulawesi, Irian dan sekitarnya) tidak ada pemenang. Jadi, di Indonesia hanya ada 3 robot yang berhasil menjalankan misinya.
Misi robot yang diikuti Chuunin-6 adalah untuk mematikan api (di lilin) yang diletakkan di satu kamar (kotak) di antara beberapa kamar yang ada. Ada beberapa bahan yang digunakan untuk mengacau kinerja robot, seperti cermin (yang mengacau sistem sensor), tiang (yang menutupi jalan ke arah lilin), dan bantalan jalan yang tidak paten (sehingga bisa mempengaruhi kaki robot ketika `tersangkut’ di halangan itu). Saya mendapat istilah `imut’ atas robot Chuunin-6 ini dari pembawa acara yang menyaksikan kecilnya robot Gunadarma dibandingkan dengan robot-robot lainnya dan mereka menjulukinya dengan `imut.’

Saya amati, sepertinya ada 5 kategori yang diperlombakan saat itu, yaitu 4 untuk KRCI : 1) senior robot beroda, 2) senior robot berkaki, 3) expert robot tunggal, 4) expert robot ganda, dan 1 untuk KRI : panjat pinang.
Untuk KRI diikuti 14 tim, dan KRCI diikuti oleh 54 tim. Team robot Gunadarma mengikuti lomba untuk kategori 1 dan 2. Untuk KRCI, kategori 1 dan 2 memiliki misi yang sama yaitu mematikan api, dan menggunakan lapangan yang sama. Cara mematikan apinya boleh menggunakan kipas maupun menyemprotnya dengan air. Penilaiannya dilakukan atas keberhasilan dalam menjalankan misinya, bila tidak berhasil maka akan dikategorikan “gagal,” dan bila berhasil menjalankan misinya, penentuan pemenangnya akan dihitung berdasarkan a) waktu, b) bonus, dan c) penalti. Contoh bonus : mematikan api dengan air lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kipas. Contoh penalti : menabrak dinding akan mengurangi skor.
Misi untuk kategori 3 adalah menyelamatkan bayi (ditandai dengan melepaskan sesuatu dari robotnya), setelah itu mematikan 3 titik api yang ada di ruang yang diacak (lapangan dibongkar-pasang berbeda-beda setiap kali robot baru terjun ke arena). Kategori ini hanya melibatkan satu robot beroda. Hambatan yang ada antara lain : tanjakan tajam, cermin, dan jalan bergelombang. Kategori 4 sama dengan kategori 3, hanya dilakukan oleh 2 robot sekaligus, dengan demikian hambatannya adalah bagaimana di antara kedua robot tersebut bisa saling bekerja sama dan tidak saling bertabrakan.

Untuk KRI, hanya ada 1 kategori yakni panjat pinang. Kalau ini benar-benar bertanding karena setiap kali terjun ke arena ada dua team yang bertanding. Setiap team terdiri atas 3 orang, 1 orang mengendali robot manual (dikendalikan), dan 2 orang menyiapkan robot otomatisnya.
Sebagai bayangan atau gambaran lapangan dan permainan sebagai berikut. Lapangan berukuran 14 X 14 m2, sekitar 2 meter sekeliling lapangan tersebut dijadikan arena buat robot manual yang dikendalikan oleh seorang anggota team, seperti ketika bermain playstation. Sisanya digunakan untuk robot otomatis.
Misi yang dijalaninya adalah : mendapatkan hadiah sebanyak-banyaknya (boleh mengambil hadiah di area lawan) seperti pada acara panjat pinang (dalam hal ini diwakili oleh 3 kotak dan 8 bola). Hadiah kotak berada di area robot otomatis (1 di tiang yang agak rendah di daerah permainan lawan, 1 di tiang yang agak rendah di daerah permainan sendiri, dan 1 di tengah arena pertandingan, dengan tiang yang lebih tinggi. Hadiah bola berada di area robot manual (4 bola di daerah sendiri dan 4 bola di daerah lawan). Ada satu daerah manual yang agak menjorok ke arena otomatis, yaitu mendekati pohon pinang (tiang) yang lebih tinggi.
Hadiah kotak di tiang yang lebih tinggi tidak mungkin dijangkau oleh satu robot (dengan spesifikasi yang sudah ditentukan), sehingga harus ada robot yang `menggendong’ robot lainnya agar dapat menjangkau hadiah tersebut. Robot yang menggendong boleh robot manual maupun robot otomatis.
Penentuan pemenang dilakukan dengan menghitung poin terbesar (setiap hadiah memiliki poin) dan dikurangi dengan penalti. Seingat saya, ketika menyaksikan itu, team UI pernah mendapatkan poin 34, dan banyak team yang memperoleh nilai minus. Jadi ada team yang ketika bertanding dinyatakan menang walaupun tidak berhasil mendapat hadiah alias poin 0 karena musuhnya mendapat nilai minus.
Berikut gambaran atau bayangan bagaimana bentuk robot-robot tersebut. Kebanyakan robot-robot tersebut berbentuk kerangka persegi-panjang yang bagian panjangnya dari atas ke bawah. Tiang-tiang kerangka tersebut terbuat dari alumunium atau semacamnya, dan ada `tangan-tangan’ (dari alumunium juga) yang akan digunakan untuk mengambil bola (berikut pot, kedudukan dari bola tersebut yang berbentuk silinder bertopi). Tangan-tangan tersebut bisa digerakkan naik-turun atau maju mundur untuk mencari posisi yang pas ketika akan mengambil bola dan meletakkannya di tempat yang telah ditentukan.
Sedangkan robot-robot otomatisnya (bentuknya mirip dengan yang manual) boleh berjumlah 1, 2, atau 3 asalkan ketika diletakkan tidak berhimpitan, luasnya tidak melebihi daerah yang telah ditentukan. Robot-robot tersebut diprogram secara otomatis untuk mengambil hadiah. Sebagai ukuran perbandingan, jika Chuunin-6 beratnya sekitar 1,5 kg, maka robot-robot ini beratnya sekitar 20 sampai 25 kg. Jika Chuunin-6 tingginya sekitar 20 cm, maka robot-robot ini tingginya mendekati 1 meter.

———*************——–

BEBERAPA OBROLAN DENGAN PURNAWARMAN MUSA (MUSA)

Saya : “Lho Mus, KRI kan lebih gampang, ada yang boleh dikendalikan orang?”
Musa : “Iya Pak, semuanya kita bisa, cuma, saya nyerah sama mekaniknya,     terutama membuat fungsi tangannya. Kalau cara mengendalikan robot     manualnya     atau membaca posisi garis untuk mengambil hadiah untuk     robot     otomatisnya nggak masalah”
: “Pernah coba ?”
: “Pernah Pak, tapi gagal terus, tangannya kurang kuat, ini masalah     mekanik, saya nggak menguasai? ”
: “Gimana kalau minta tolong orang-orang teknik mesin??”
: “Boleh Pak?, mereka mau nggak ?”

[Bagaimana Teknik Mesin UG ??]

Musa    : “Pak, anak-anak (team) lain kali minta ikut untuk yang expert dan juga  KRI
Saya    : “Terus ??”
: “Ya, silakan saja kalau memang siap dan mampu.., mereka tertarik sekali”
: “Ya sudah, betul, minta saja mereka menyiapkan diri..”
: “Tapi Pak, untuk latihan KRI kan butuh lapangan yang lebar seperti ini”
: “Bisa knock-down kan ?”
: “Bisa, Pak, tapi di mana ruangannya yang cukup sebesar ini ?”
: “Ya, di Gedung 3 lantai 4 saja (kampus D)”
: “Tapi kan nggak permanen?(tidak bisa digunakan setiap saat)”
: “Ya, kita pakai skala prioritas, memang harus sebesar ini ?(14X14 M2)”
: “Setengahnya sih cukup?, itu daerah kita, sisanya kan daerah musuh..”
: “Mahal nggak bahan-bahannya?”
: “Mahal juga Pak, karpetnya saja sekitar 100 ribu per meter, belum lagi  tiang-tiang besinya, kayu-kayunya, lampu sorotnya?”
: “Memang lapangannya selalu seperti ini ?”
: “Polanya sih berubah, tapi ukurannya hampir selalu sama..”

[Pikir-pikir dulu ah?.]

Saya    : “Mus, apa kendala utama untuk bahan membuat robot ?”
Musa    : “Motornya pak..”
: “Sensor-sensornya ?”
: “Itu sih banyak?, relatif mudah..”
: “Motor kan cuma kumparan saja?.”
: “Bukan cuma itunya Pak, tapi harus sekalian sama gear-box-nya”
: “Memang nggak ada pabriknya??”
: “Nggak ada Pak?”
: “Lha terus, kalau mau buat kipas angin, motornya dari mana ?”
: “Ya itu, mereka jualnya kan nggak pretelan..”
: “Jadi selama ini, dapat dari mana ?”
: “Ya, Musa cari di tempat jual barang-barang bekas, tukang AC, tukang kipas angin atau apalah yang ada motor dan gear-boxnya.
: “Kalau kebetulan saya dapat, apa spesifikasinya..”
: “Agak susah neranginnya Pak, karena amat tergantung dari banyak hal, bisa dari voltasenya, kecepatannya, dan kekuatannya..”
: “Kalau voltasenya besar apa nggak otomatis kecepatannya lebih baik ?”
: “Bisa ya, bisa tidak, tergantung kondisinya?”
: “Wah, bingung juga ya, kalau saya dapat motor itu, mesti gimana ?”
: “Yah, bawa saja Pak, andaikan nggak terpakai di pertandingan, kan buat latihan juga bisa?”

———- setelah pertandingan di UI ————

Saya     : “Mus, performa Chuunin-6 kok kurang bagus ya ?, lambat banget..”
Musa    : “Itulah Pak, kita kalah di motor, saya lihat Unicom pakai motor (…. merek  disensor….), jalannya cepat sekali”
Saya    : “Ya sudah?, beli saja seperti dia..”
Musa    : “Anak-anak juga mau seperti itu Pak, kita lemah di kecepatan?”
: “Belinya di mana ?”
: “Di luar negeri, Pak?., ada di internet (sambil buka internet)”
: “Waduh, bertandingnya 14 hari lagi, gimana ya ?”
: “Yah kalau pesanan lewat dari tanggal itu, kita siapkan untuk lomba tahun depan saja Pak”
: “Harganya berapa Mus ?”
: “Satunya sekitar dua juta setengah Pak?”
: “Gimana kalau kita beli AC baru, terus kita copotin motornya ?”
: “Wah riskan, Pak?”
: “Yah?, kalau gitu, ajukan saja deh ke bu Dyah, biar urusan bu Dyah ke pak Sur..”

[Ada info tentang motor beserta gear-box-nya ?]

Saya     : “Mus, kalau cuma begini, kita mestinya berani ya ngadain event kontes  robot seperti ini?”
Musa    : “Kalau untuk materi sih kita siap Pak, kita berani untuk bertanding,  hanya, kita tidak memiliki fasilitas untuk sarana bertandingnya Pak..”
: “Maksudnya ?”
: “Bapak bisa lihat sendiri (ketika di ITB), orang datang sebanyak ini, butuh fasilitas untuk berteduh, untuk ke kamar kecil, dan sebagainya…”
: “Lho, kan bisa di aula atau di auditorium?.”
: “Ah, kurang representatif Pak…, kalau bisa di lantai 1 sehingga aksesnya jauh lebih mudah..”
: “Di lapangan parkir ?”
: “Repot Pak, kalau hujan bisa kacau….”
: “Jadi ?”
: “Kita memang belum siap ngundang Pak…”

[Kapan kita punya ruang serba guna yang cukup luas ?]

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.