Bambang Wahyudi

28 May, 2008

Chuunin-6, si Robot Imut Jadi Juara II di UI

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:14 pm

ROBOT CHUUNIN-6 YANG IMUT, JADI JUARA


Memang, menyaksikan pertandingan robot KRI (Kontes Robot Indonesia) dan KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) yang diselenggarakan di Balairung UI (Universitas Indonesia) 24 Mei 2008, bagi saya tidak sedramatis sewaktu menyaksikan Galelobot (Ganesha Line Follower) di ITB (Institut Teknologi Bandung). Ada beberapa alasan untuk itu.
Pertama, saya duduk sebagai Undangan yang bangkunya disusun menghadap lapangan pertandingan untuk KRI yang justru tidak diikuti team robot Gunadarma. Memang, lapangan KRI jauh lebih besar dari lapangan untuk KRCI. Kalau saya perkirakan, lapangan KRI berukuran 14 X 14 meter2, sedangkan untuk lapangan KRCI yang diikuti team robot Gunadarma sekitar 3 X 3 X 0,5 meter3, dan itu diletakkan jauh di ujung kanan saya. Selain jauh, bentuk lapangan menyerupai sebuah kotak yang ada tingginya sehingga ketika robot dimasukkan di arena pertandingan, robot tersebut tak tampak.
Memang, para penonton dibantu dengan adanya dua kamera yang hasil bidikannya ditampilkan di dua layar lebar di dua sisi yang dapat dilihat dengan jelas. Sayangnya, kamera tersebut terus “dipikul” kameraman sehingga sering saya lihat tampilan yang menyorot kaki-kaki penonton, lantai, dan sebagainya yang bukan seharusnya ketika sang kameraman sedang pindah dari satu arena ke arena lain. Kenapa harus pindah-pindah ?, karena kameranya ada dua sedangkan arena pertandingan untuk KRCI ada tiga buah yang dipertandingkan secara paralel.
Kedua, karena pertandingan KRCI secara paralel di tiga lapangan, kameraman tidak bisa mengantisipasi mana pertandingan yang menarik. Terbukti dengan ketika Chuunin-6 berhasil menjalankan misinya, saya justru tidak menyaksikannya, karena tidak ditampilkan di layar lebar. Saya hanya mengetahui dari team robot Gunadarma yang dari jarak jauh tampak mengangkat-angkat kepalan tangannya tanda keberhasilan si robot.
Ketiga, karena setiap robot diletakkan di arena secara bergantian (masing-masing), maka unsur “pertandingan”nya kurang mengena. Sama seperti jika kita menyaksikan balapan mobil atau motor, tetapi jalannya satu-satu (satu selesai, satu masuk), baru diakhir (semua mobil atau motor telah selesai) dihitung siapa yang tercepat.
Keempat, pertandingan yang seharusnya dilakukan 2 hari, dipampatkan menjadi 1 hari. Terjadi kejenuhan, karena saya hadir pukul 07.30 dan pulang pukul 19.30 (setelah mengetahui Chuunin-6 pasti menang).
Tapi, bagaimanapun juga, saya pulang dengan hati yang senang karena dari dua kategori yang diikuti team robot Gunadarma, satu kategori, yaitu senior robot berkaki KRCI bisa meraih tempat kedua. Kesenangan itu bertambah ketika panitia mengumumkan bahwa untuk kategori tersebut, di Wilayah I (Sumatera) tidak ada pemenang, di Wilayah II (DKI, Banten dan Jawa Barat) hanya ada 2 pemenang yaitu Unikom Bandung dan Gunadarma, di Wilayah III (Jawa Timur dan sekitarnya) hanya ada 1 pemenang, dan di Wilayah IV (Kalimantan, Sulawesi, Irian dan sekitarnya) tidak ada pemenang. Jadi, di Indonesia hanya ada 3 robot yang berhasil menjalankan misinya.
Misi robot yang diikuti Chuunin-6 adalah untuk mematikan api (di lilin) yang diletakkan di satu kamar (kotak) di antara beberapa kamar yang ada. Ada beberapa bahan yang digunakan untuk mengacau kinerja robot, seperti cermin (yang mengacau sistem sensor), tiang (yang menutupi jalan ke arah lilin), dan bantalan jalan yang tidak paten (sehingga bisa mempengaruhi kaki robot ketika `tersangkut’ di halangan itu). Saya mendapat istilah `imut’ atas robot Chuunin-6 ini dari pembawa acara yang menyaksikan kecilnya robot Gunadarma dibandingkan dengan robot-robot lainnya dan mereka menjulukinya dengan `imut.’

Saya amati, sepertinya ada 5 kategori yang diperlombakan saat itu, yaitu 4 untuk KRCI : 1) senior robot beroda, 2) senior robot berkaki, 3) expert robot tunggal, 4) expert robot ganda, dan 1 untuk KRI : panjat pinang.
Untuk KRI diikuti 14 tim, dan KRCI diikuti oleh 54 tim. Team robot Gunadarma mengikuti lomba untuk kategori 1 dan 2. Untuk KRCI, kategori 1 dan 2 memiliki misi yang sama yaitu mematikan api, dan menggunakan lapangan yang sama. Cara mematikan apinya boleh menggunakan kipas maupun menyemprotnya dengan air. Penilaiannya dilakukan atas keberhasilan dalam menjalankan misinya, bila tidak berhasil maka akan dikategorikan “gagal,” dan bila berhasil menjalankan misinya, penentuan pemenangnya akan dihitung berdasarkan a) waktu, b) bonus, dan c) penalti. Contoh bonus : mematikan api dengan air lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kipas. Contoh penalti : menabrak dinding akan mengurangi skor.
Misi untuk kategori 3 adalah menyelamatkan bayi (ditandai dengan melepaskan sesuatu dari robotnya), setelah itu mematikan 3 titik api yang ada di ruang yang diacak (lapangan dibongkar-pasang berbeda-beda setiap kali robot baru terjun ke arena). Kategori ini hanya melibatkan satu robot beroda. Hambatan yang ada antara lain : tanjakan tajam, cermin, dan jalan bergelombang. Kategori 4 sama dengan kategori 3, hanya dilakukan oleh 2 robot sekaligus, dengan demikian hambatannya adalah bagaimana di antara kedua robot tersebut bisa saling bekerja sama dan tidak saling bertabrakan.

Untuk KRI, hanya ada 1 kategori yakni panjat pinang. Kalau ini benar-benar bertanding karena setiap kali terjun ke arena ada dua team yang bertanding. Setiap team terdiri atas 3 orang, 1 orang mengendali robot manual (dikendalikan), dan 2 orang menyiapkan robot otomatisnya.
Sebagai bayangan atau gambaran lapangan dan permainan sebagai berikut. Lapangan berukuran 14 X 14 m2, sekitar 2 meter sekeliling lapangan tersebut dijadikan arena buat robot manual yang dikendalikan oleh seorang anggota team, seperti ketika bermain playstation. Sisanya digunakan untuk robot otomatis.
Misi yang dijalaninya adalah : mendapatkan hadiah sebanyak-banyaknya (boleh mengambil hadiah di area lawan) seperti pada acara panjat pinang (dalam hal ini diwakili oleh 3 kotak dan 8 bola). Hadiah kotak berada di area robot otomatis (1 di tiang yang agak rendah di daerah permainan lawan, 1 di tiang yang agak rendah di daerah permainan sendiri, dan 1 di tengah arena pertandingan, dengan tiang yang lebih tinggi. Hadiah bola berada di area robot manual (4 bola di daerah sendiri dan 4 bola di daerah lawan). Ada satu daerah manual yang agak menjorok ke arena otomatis, yaitu mendekati pohon pinang (tiang) yang lebih tinggi.
Hadiah kotak di tiang yang lebih tinggi tidak mungkin dijangkau oleh satu robot (dengan spesifikasi yang sudah ditentukan), sehingga harus ada robot yang `menggendong’ robot lainnya agar dapat menjangkau hadiah tersebut. Robot yang menggendong boleh robot manual maupun robot otomatis.
Penentuan pemenang dilakukan dengan menghitung poin terbesar (setiap hadiah memiliki poin) dan dikurangi dengan penalti. Seingat saya, ketika menyaksikan itu, team UI pernah mendapatkan poin 34, dan banyak team yang memperoleh nilai minus. Jadi ada team yang ketika bertanding dinyatakan menang walaupun tidak berhasil mendapat hadiah alias poin 0 karena musuhnya mendapat nilai minus.
Berikut gambaran atau bayangan bagaimana bentuk robot-robot tersebut. Kebanyakan robot-robot tersebut berbentuk kerangka persegi-panjang yang bagian panjangnya dari atas ke bawah. Tiang-tiang kerangka tersebut terbuat dari alumunium atau semacamnya, dan ada `tangan-tangan’ (dari alumunium juga) yang akan digunakan untuk mengambil bola (berikut pot, kedudukan dari bola tersebut yang berbentuk silinder bertopi). Tangan-tangan tersebut bisa digerakkan naik-turun atau maju mundur untuk mencari posisi yang pas ketika akan mengambil bola dan meletakkannya di tempat yang telah ditentukan.
Sedangkan robot-robot otomatisnya (bentuknya mirip dengan yang manual) boleh berjumlah 1, 2, atau 3 asalkan ketika diletakkan tidak berhimpitan, luasnya tidak melebihi daerah yang telah ditentukan. Robot-robot tersebut diprogram secara otomatis untuk mengambil hadiah. Sebagai ukuran perbandingan, jika Chuunin-6 beratnya sekitar 1,5 kg, maka robot-robot ini beratnya sekitar 20 sampai 25 kg. Jika Chuunin-6 tingginya sekitar 20 cm, maka robot-robot ini tingginya mendekati 1 meter.

———*************——–

BEBERAPA OBROLAN DENGAN PURNAWARMAN MUSA (MUSA)

Saya : “Lho Mus, KRI kan lebih gampang, ada yang boleh dikendalikan orang?”
Musa : “Iya Pak, semuanya kita bisa, cuma, saya nyerah sama mekaniknya,     terutama membuat fungsi tangannya. Kalau cara mengendalikan robot     manualnya     atau membaca posisi garis untuk mengambil hadiah untuk     robot     otomatisnya nggak masalah”
: “Pernah coba ?”
: “Pernah Pak, tapi gagal terus, tangannya kurang kuat, ini masalah     mekanik, saya nggak menguasai? ”
: “Gimana kalau minta tolong orang-orang teknik mesin??”
: “Boleh Pak?, mereka mau nggak ?”

[Bagaimana Teknik Mesin UG ??]

Musa    : “Pak, anak-anak (team) lain kali minta ikut untuk yang expert dan juga  KRI
Saya    : “Terus ??”
: “Ya, silakan saja kalau memang siap dan mampu.., mereka tertarik sekali”
: “Ya sudah, betul, minta saja mereka menyiapkan diri..”
: “Tapi Pak, untuk latihan KRI kan butuh lapangan yang lebar seperti ini”
: “Bisa knock-down kan ?”
: “Bisa, Pak, tapi di mana ruangannya yang cukup sebesar ini ?”
: “Ya, di Gedung 3 lantai 4 saja (kampus D)”
: “Tapi kan nggak permanen?(tidak bisa digunakan setiap saat)”
: “Ya, kita pakai skala prioritas, memang harus sebesar ini ?(14X14 M2)”
: “Setengahnya sih cukup?, itu daerah kita, sisanya kan daerah musuh..”
: “Mahal nggak bahan-bahannya?”
: “Mahal juga Pak, karpetnya saja sekitar 100 ribu per meter, belum lagi  tiang-tiang besinya, kayu-kayunya, lampu sorotnya?”
: “Memang lapangannya selalu seperti ini ?”
: “Polanya sih berubah, tapi ukurannya hampir selalu sama..”

[Pikir-pikir dulu ah?.]

Saya    : “Mus, apa kendala utama untuk bahan membuat robot ?”
Musa    : “Motornya pak..”
: “Sensor-sensornya ?”
: “Itu sih banyak?, relatif mudah..”
: “Motor kan cuma kumparan saja?.”
: “Bukan cuma itunya Pak, tapi harus sekalian sama gear-box-nya”
: “Memang nggak ada pabriknya??”
: “Nggak ada Pak?”
: “Lha terus, kalau mau buat kipas angin, motornya dari mana ?”
: “Ya itu, mereka jualnya kan nggak pretelan..”
: “Jadi selama ini, dapat dari mana ?”
: “Ya, Musa cari di tempat jual barang-barang bekas, tukang AC, tukang kipas angin atau apalah yang ada motor dan gear-boxnya.
: “Kalau kebetulan saya dapat, apa spesifikasinya..”
: “Agak susah neranginnya Pak, karena amat tergantung dari banyak hal, bisa dari voltasenya, kecepatannya, dan kekuatannya..”
: “Kalau voltasenya besar apa nggak otomatis kecepatannya lebih baik ?”
: “Bisa ya, bisa tidak, tergantung kondisinya?”
: “Wah, bingung juga ya, kalau saya dapat motor itu, mesti gimana ?”
: “Yah, bawa saja Pak, andaikan nggak terpakai di pertandingan, kan buat latihan juga bisa?”

———- setelah pertandingan di UI ————

Saya     : “Mus, performa Chuunin-6 kok kurang bagus ya ?, lambat banget..”
Musa    : “Itulah Pak, kita kalah di motor, saya lihat Unicom pakai motor (…. merek  disensor….), jalannya cepat sekali”
Saya    : “Ya sudah?, beli saja seperti dia..”
Musa    : “Anak-anak juga mau seperti itu Pak, kita lemah di kecepatan?”
: “Belinya di mana ?”
: “Di luar negeri, Pak?., ada di internet (sambil buka internet)”
: “Waduh, bertandingnya 14 hari lagi, gimana ya ?”
: “Yah kalau pesanan lewat dari tanggal itu, kita siapkan untuk lomba tahun depan saja Pak”
: “Harganya berapa Mus ?”
: “Satunya sekitar dua juta setengah Pak?”
: “Gimana kalau kita beli AC baru, terus kita copotin motornya ?”
: “Wah riskan, Pak?”
: “Yah?, kalau gitu, ajukan saja deh ke bu Dyah, biar urusan bu Dyah ke pak Sur..”

[Ada info tentang motor beserta gear-box-nya ?]

Saya     : “Mus, kalau cuma begini, kita mestinya berani ya ngadain event kontes  robot seperti ini?”
Musa    : “Kalau untuk materi sih kita siap Pak, kita berani untuk bertanding,  hanya, kita tidak memiliki fasilitas untuk sarana bertandingnya Pak..”
: “Maksudnya ?”
: “Bapak bisa lihat sendiri (ketika di ITB), orang datang sebanyak ini, butuh fasilitas untuk berteduh, untuk ke kamar kecil, dan sebagainya…”
: “Lho, kan bisa di aula atau di auditorium?.”
: “Ah, kurang representatif Pak…, kalau bisa di lantai 1 sehingga aksesnya jauh lebih mudah..”
: “Di lapangan parkir ?”
: “Repot Pak, kalau hujan bisa kacau….”
: “Jadi ?”
: “Kita memang belum siap ngundang Pak…”

[Kapan kita punya ruang serba guna yang cukup luas ?]

Saya Masih Malu Jadi Orang Indonesia

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:02 pm

SAYA MALU JADI ORANG INDONESIA (2)
(BUKAN BERARTI HARUS PINDAH KEWARGANEGARAAN)
Akhir-akhir ini bisa kita saksikan, pertarungan sengit antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang dipacu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang juga disulut oleh “calon-calon pemimpin” yang akan bertarung di 2009 nanti. Pepatah-pepatah kuno kini makin tampak kebenarannya, seperti “memancing di air keruh,” “gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak jelas,” “anjing menggonggong kafilah berlalu,” dan sebagainya.
Bisa jadi, bila saya dikategorikan sebagai penduduk miskin, hampir miskin, atau terlanjur miskin, saya tak lagi sempat mengamati “pergumulan” ini karena kepala saya sudah dipusingkan dengan kebutuhan rumah tangga yang makin meroket harganya. Tentu saja segala bentuk bantuan akan saya terima, termasuk bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah. Terserah kalau Jusuf Kalla mau menyebutnya sebagai “infaq” dari pemerintah kepada orang miskin, tetapi bagi Megawati dikatakan sebagai “menjadikan orang miskin seperti pengemis.”
Beruntung saya berada di atas garis kemiskinan (katanya batasannya adalah: masih ada barang berharga atau jasa yang dimiliki yang dapat dijual), maka saya masih sempat “menikmati” kekacauan ini. Kekacauan yang diakibatkan oleh rusaknya tatanan sendi-sendi kehidupan dan hilangnya “kesadaran diri.” Boleh jadi benar bila ada yang mengatakan “2 dari 3 orang Indonesia kini sedang sakit jiwa.” Artinya, kesadaran dirinya sedang hilang. Oknum-oknum Polisi hilang kesadaran dirinya sehingga tega-teganya memukuli kepala mahasiswa yang nota bene adalah calon-calon pemimpin bangsa di masa depan. Bayangkan, memukuli kepala mahasiswa dengan tongkat karet mati yang keras, dengan helm, dengan “sepatu baja” sampai kepala-kepala itu mengeluarkan darah segar?.????. Astagfirullah, iblis-iblis mana gerangan yang merasuki oknum-oknum polisi itu hingga hilang kesadaran dirinya ? (tak terbayangkan betapa pedih hati orang tua yang anak-anaknya diperlakukan seperti itu, biadab dan tak berkeprimanusiaan).
Dari sisi lain, oknum-oknum mahasiswa juga banyak yang hilang kesadaran dirinya. Mahasiswa adalah manusia pembelajar yang seharusnya memiliki kepekaan sosial, intelegensia tinggi, intelektualitas yang baik, dan sebagainya yang dapat dijadikan panutan bagi “generasi berikutnya (adik-adiknya)” dan menjadi kebanggaan “generasi sebelumnya (orang-orang tuanya).” Kepekaan sosial oke, mereka menyuarakan keberatan atas kenaikan BBM bagi warga miskin, tapi cara-caranya tidak oke, kenapa harus konfrontatif ?, kenapa harus dengan jalan anarkis (melempar batu, menutup jalan, merusak bangunan, menyandera kendaraan, dsb.) ?. Tak adakah lagi jalan yang elegan, atau sudah tertutupkah pintu dialogis ?.

PEMERINTAH TETAP HARUS BERTANGGUNG-JAWAB

Pembinaan polisi dan arah pendidikan, semua berada di tangan pemerintah. Kenapa mental oknum-oknum polisi bisa seperti itu dan kenapa pula moral oknum-oknum mahasiswa bisa seperti itu, tentu saja bersumber di tangan pemerintah. Bagaimanapun kondisinya, polisi harus bersikap profesional sebagai “pengayom masyarakat.” Banyak strategi dan tak-tik untuk bisa menghadapi demo mahasiswa dengan aman dan bersahabat. Bila belum tahu strategi dan tak-tik itu, perbaiki sistem pendidikan dan latihannya !.
Untuk Depdiknas, tinjau lagi secara menyeluruh, kurikulum mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, sepertinya pembelajar saat ini banyak kehilangan pendidikan “batiniah/ kesusilaan,” dan bahkan cenderung merusak jiwa (stress) pembelajar dengan menjejali banyak mata pelajaran yang “tinggi-tinggi” dan beberapa di antaranya diuji dalam ujian nasional.

Satu hal yang pasti, pemerintah saat ini kekurangan orang yang “jago strategi” yang pandai berpikir secara kesisteman (secara menyeluruh). Contoh sederhana, “bila BBM naik, apa saja yang harus dilakukan ?”. Sepertinya tak terpikirkan, “bagaimana dengan tarif transportasi ?” apakah harus menunggu sampai mereka bereaksi dengan mogok massalnya ?. “Bagaimana dengan BLT ?” apakah harus menunggu sampai mereka saling membunuh karena salah data ?. “Bagaimana dengan reaksi mahasiswa, buruh, dan nelayan ?” apakah menunggu sampai mereka “perang” dengan polisi ?.
Satu hal lagi yang aneh dari pernyataan pemerintah yang seringkali menyatakan bahwa banyak demo yang “ditunggangi” pihak ketiga. Kalau memang sudah tahu “ditunggangi” pihak lain, kenapa pihak lain itu tidak ditindak ???, takut ??? atau itu hanya sekadar mencari “kambing hitam” atau “strategi meredam massa” ???. Ah, kuno.

MEMANCING DI AIR KERUH

Tahun depan akan dilangsungkan pemilu 2009. Momen kenaikan BBM dan bagi-bagi duit lewat BLT ini banyak dimanfaatkan mereka sebagai momentum mencari simpati rakyat. Aneh ! dan kekanak-kanakan.
Saya yakin, rakyat kini tidak butuh lagi iming-iming dan pernyataan-pernyataan. Rakyat (kecil) akan senang menerima uang (pelicin) dalam kampanye, tetapi jangan harap mereka akan memilih di saat pencoblosannya. Rakyat sudah dapat merasakan (betapa tidak enaknya) ketika dipimpin mereka dan rakyat sudah pesimis nasib bangsa akan berubah, siapapun pemimpinnya. Cara-cara kuno yang masih dicoba untuk memperdaya rakyat seharusnya sudah ditinggalkan jauh-jauh.
Jangankan sampai presiden, jadi wali kota saja sudah banyak melontarkan jargon-jargon atau “kata-kata indah tanpa makna.” Hampir di setiap sudut kota terpampang papan bertuliskan “Selamat Datang di RW Siaga,” “apanya yang siaga ?, yang disiagakan apanya ?, siapa yang siaga ?”, nggak jelas. Belum lagi ada tulisan “strong point Polres Depok,” “daerah percontohan tertib lalu lintas,” dan banyak lagi yang tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.
Kini saatnya untuk bertindak, berbuat, dan bekerja secara nyata, jangan lagi hanya pandai membuat jargon-jargon. Para pemimpin sudah tidak dapat lagi hanya mendengar laporan dari orang-orang di sekitarnya, mereka harus turun dan melihat secara nyata apa yang terjadi di lapangan karena mereka harus dimintai pertanggung-jawabannya kepada Tuhan, kelak di kemudian hari atas kepemimpinannya.
Dengan demikian, saya menyarankan kepada calon-calon presiden 2009-2014, kini bukan saatnya gembar-gembor mencela kinerja pemerintah sekarang, bukan saatnya mengumbar janji-janji manis, bukan saatnya menciptakan jargon-jargon politik, bukan saatnya menebar pesona dengan penampilan dan kata-kata indahnya. Pendeknya, kini bukan lagi saatnya memancing di air keruh. Justru, saat ini adalah waktunya “menjernihkan air keruh” agar ikan yang akan dipancing jelas terlihat.
Kini waktunya untuk “mencegah matinya peradaban” dengan membereskan kasus Lapindo (sesuai porsinya), waktunya untuk “mencegah matinya nurani” dengan melontarkan kata-kata yang menyejukkan (bukan kata-kata makian, cercaan, umpatan, dan semacamnya) yang dibarengi dengan sikap dan perilaku yang elegan dan bersahabat. Kini waktunya untuk “mencegah matinya jiwa sosial” dengan mengajak serta kelompoknya untuk menyantuni orang-orang miskin dan terlantar, waktunya “mencegah matinya kesadaran diri” dengan mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama dirinya, bahu membahu membangun bangsa ini sesuai dengan profesinya masing-masing.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang diusung oleh rakyat (bukan semata oleh anggota partainya saja), dan bukan orang yang menyatakan diri sendiri ingin menjadi pemimpin. Jadi, hai para pemimpin partai yang ingin menjadi presiden, mulailah kerahkan semua anggota partainya untuk turun ke masyarakat, bantu atasi kesulitan masyarakat, Insya Allah, cara itu akan lebih jitu karena masyarakat kita sangat dikenal sebagai masyarakat yang “suka berterima kasih” sampai-sampai suka memberi uang kepada pak polisi yang tidak jadi menilangnya.

KESIMPULAN

Mungkin semua kejadian ini “lumrah” terjadi di dalam sebuah sejarah suatu bangsa yang ingin maju menuju bangsa yang demokratis. Bisa jadi, bangsa ini sedang terkena imbas dari kancah semesta yang sedang bergolak untuk mencari titik keseimbangan baru akibat naik tajamnya harga BBM dan aneka bahan pangan.
Boleh jadi ini gara-gara Amerika yang menginvasi Irak dan Afganistan yang memerlukan banyak dana sedangkan ladang-ladang minyak di kedua negara itu sudah sangat berkurang. Bisa jadi ini karena Indonesia menggunduli hutannya sehingga terjadi pemanasan global yang mengakibatkan banyak produk pertanian di banyak negara gagal panen.
Bisa jadi karena kaum intelektual ilmu pasti terlambat mengantisipasi perlunya bahan bakar alternatif karena kini banyak yang terjun ke bidang-bidang sosial-ekonomi yang lebih menguntungkan secara finansial.

Terlepas dari itu semua, marilah mulai dari diri kita, dan selanjutnya di lingkungan kita untuk terus berusaha menjaga kesadaran diri kita, kita sadar posisi kita sebagai makhluk ciptaanNya sehingga kita harus tunduk dan patuh atas segala perintah dan laranganNya, kita sadar posisi kita di rumah sebagai apa sehingga kita kita harus menjalankan segala kewajiban kita, kita di lingkungan sebagai apa sehingga kita menyadari kewajiban-kewajiban kita, dan seterusnya.
Dengan kesadaran diri yang tinggi, Insya Allah, mahasiswa tahu diri bahwa di dalam kampus ia sebagai seorang pembelajar, bukan sebagai seorang gladiator yang menantang polisi, polisi juga tahu, jika ia masuk ke dalam area kampus hanya sekadar untuk menegakkan hukum (menangkap pelaku anarkis) bukan untuk memukuli mahasiswa secara membabi-buta. Jika semua pihak sudah sadar akan dirinya, maka sendi-sendi kehidupan akan berjalan sebagaimana mestinya, dan saya tidak malu lagi jadi orang Indonesia.

Si “Imut” Chuunin-6 yang jadi Juara II di UI

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:44 am

ROBOT CHUUNIN-6 YANG IMUT, JADI JUARA

Memang, menyaksikan pertandingan robot KRI (Kontes Robot Indonesia) dan KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) yang diselenggarakan di Balairung UI (Universitas Indonesia) 24 Mei 2008, bagi saya tidak sedramatis sewaktu menyaksikan Galelobot (Ganesha Line Follower) di ITB (Institut Teknologi Bandung). Ada beberapa alasan untuk itu.
Pertama, saya duduk sebagai Undangan yang bangkunya disusun menghadap lapangan pertandingan untuk KRI yang justru tidak diikuti team robot Gunadarma. Memang, lapangan KRI jauh lebih besar dari lapangan untuk KRCI. Kalau saya perkirakan, lapangan KRI berukuran 14 X 14 meter2, sedangkan untuk lapangan KRCI yang diikuti team robot Gunadarma sekitar 3 X 3 X 0,5 meter3, dan itu diletakkan jauh di ujung kanan saya. Selain jauh, bentuk lapangan menyerupai sebuah kotak yang ada tingginya sehingga ketika robot dimasukkan di arena pertandingan, robot tersebut tak tampak.
Memang, para penonton dibantu dengan adanya dua kamera yang hasil bidikannya ditampilkan di dua layar lebar di dua sisi yang dapat dilihat dengan jelas. Sayangnya, kamera tersebut terus “dipikul” kameraman sehingga sering saya lihat tampilan yang menyorot kaki-kaki penonton, lantai, dan sebagainya yang bukan seharusnya ketika sang kameraman sedang pindah dari satu arena ke arena lain. Kenapa harus pindah-pindah ?, karena kameranya ada dua sedangkan arena pertandingan untuk KRCI ada tiga buah yang dipertandingkan secara paralel.
Kedua, karena pertandingan KRCI secara paralel di tiga lapangan, kameraman tidak bisa mengantisipasi mana pertandingan yang menarik. Terbukti dengan ketika Chuunin-6 berhasil menjalankan misinya, saya justru tidak menyaksikannya, karena tidak ditampilkan di layar lebar. Saya hanya mengetahui dari team robot Gunadarma yang dari jarak jauh tampak mengangkat-angkat kepalan tangannya tanda keberhasilan si robot.
Ketiga, karena setiap robot diletakkan di arena secara bergantian (masing-masing), maka unsur “pertandingan”nya kurang mengena. Sama seperti jika kita menyaksikan balapan mobil atau motor, tetapi jalannya satu-satu (satu selesai, satu masuk), baru diakhir (semua mobil atau motor telah selesai) dihitung siapa yang tercepat.
Keempat, pertandingan yang seharusnya dilakukan 2 hari, dipampatkan menjadi 1 hari. Terjadi kejenuhan, karena saya hadir pukul 07.30 dan pulang pukul 19.30 (setelah mengetahui Chuunin-6 pasti menang).
Tapi, bagaimanapun juga, saya pulang dengan hati yang senang karena dari dua kategori yang diikuti team robot Gunadarma, satu kategori, yaitu senior robot berkaki KRCI bisa meraih tempat kedua. Kesenangan itu bertambah ketika panitia mengumumkan bahwa untuk kategori tersebut, di Wilayah I (Sumatera) tidak ada pemenang, di Wilayah II (DKI, Banten dan Jawa Barat) hanya ada 2 pemenang yaitu Unikom Bandung dan Gunadarma, di Wilayah III (Jawa Timur dan sekitarnya) hanya ada 1 pemenang, dan di Wilayah IV (Kalimantan, Sulawesi, Irian dan sekitarnya) tidak ada pemenang. Jadi, di Indonesia hanya ada 3 robot yang berhasil menjalankan misinya.
Misi robot yang diikuti Chuunin-6 adalah untuk mematikan api (di lilin) yang diletakkan di satu kamar (kotak) di antara beberapa kamar yang ada. Ada beberapa bahan yang digunakan untuk mengacau kinerja robot, seperti cermin (yang mengacau sistem sensor), tiang (yang menutupi jalan ke arah lilin), dan bantalan jalan yang tidak paten (sehingga bisa mempengaruhi kaki robot ketika `tersangkut’ di halangan itu). Saya mendapat istilah `imut’ atas robot Chuunin-6 ini dari pembawa acara yang menyaksikan kecilnya robot Gunadarma dibandingkan dengan robot-robot lainnya dan mereka menjulukinya dengan `imut.’

Saya amati, sepertinya ada 5 kategori yang diperlombakan saat itu, yaitu 4 untuk KRCI : 1) senior robot beroda, 2) senior robot berkaki, 3) expert robot tunggal, 4) expert robot ganda, dan 1 untuk KRI : panjat pinang.
Untuk KRI diikuti 14 tim, dan KRCI diikuti oleh 54 tim. Team robot Gunadarma mengikuti lomba untuk kategori 1 dan 2. Untuk KRCI, kategori 1 dan 2 memiliki misi yang sama yaitu mematikan api, dan menggunakan lapangan yang sama. Cara mematikan apinya boleh menggunakan kipas maupun menyemprotnya dengan air. Penilaiannya dilakukan atas keberhasilan dalam menjalankan misinya, bila tidak berhasil maka akan dikategorikan “gagal,” dan bila berhasil menjalankan misinya, penentuan pemenangnya akan dihitung berdasarkan a) waktu, b) bonus, dan c) penalti. Contoh bonus : mematikan api dengan air lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kipas. Contoh penalti : menabrak dinding akan mengurangi skor.
Misi untuk kategori 3 adalah menyelamatkan bayi (ditandai dengan melepaskan sesuatu dari robotnya), setelah itu mematikan 3 titik api yang ada di ruang yang diacak (lapangan dibongkar-pasang berbeda-beda setiap kali robot baru terjun ke arena). Kategori ini hanya melibatkan satu robot beroda. Hambatan yang ada antara lain : tanjakan tajam, cermin, dan jalan bergelombang. Kategori 4 sama dengan kategori 3, hanya dilakukan oleh 2 robot sekaligus, dengan demikian hambatannya adalah bagaimana di antara kedua robot tersebut bisa saling bekerja sama dan tidak saling bertabrakan.

Untuk KRI, hanya ada 1 kategori yakni panjat pinang. Kalau ini benar-benar bertanding karena setiap kali terjun ke arena ada dua team yang bertanding. Setiap team terdiri atas 3 orang, 1 orang mengendali robot manual (dikendalikan), dan 2 orang menyiapkan robot otomatisnya.
Sebagai bayangan atau gambaran lapangan dan permainan sebagai berikut. Lapangan berukuran 14 X 14 m2, sekitar 2 meter sekeliling lapangan tersebut dijadikan arena buat robot manual yang dikendalikan oleh seorang anggota team, seperti ketika bermain playstation. Sisanya digunakan untuk robot otomatis.
Misi yang dijalaninya adalah : mendapatkan hadiah sebanyak-banyaknya (boleh mengambil hadiah di area lawan) seperti pada acara panjat pinang (dalam hal ini diwakili oleh 3 kotak dan 8 bola). Hadiah kotak berada di area robot otomatis (1 di tiang yang agak rendah di daerah permainan lawan, 1 di tiang yang agak rendah di daerah permainan sendiri, dan 1 di tengah arena pertandingan, dengan tiang yang lebih tinggi. Hadiah bola berada di area robot manual (4 bola di daerah sendiri dan 4 bola di daerah lawan). Ada satu daerah manual yang agak menjorok ke arena otomatis, yaitu mendekati pohon pinang (tiang) yang lebih tinggi.
Hadiah kotak di tiang yang lebih tinggi tidak mungkin dijangkau oleh satu robot (dengan spesifikasi yang sudah ditentukan), sehingga harus ada robot yang `menggendong’ robot lainnya agar dapat menjangkau hadiah tersebut. Robot yang menggendong boleh robot manual maupun robot otomatis.
Penentuan pemenang dilakukan dengan menghitung poin terbesar (setiap hadiah memiliki poin) dan dikurangi dengan penalti. Seingat saya, ketika menyaksikan itu, team UI pernah mendapatkan poin 34, dan banyak team yang memperoleh nilai minus. Jadi ada team yang ketika bertanding dinyatakan menang walaupun tidak berhasil mendapat hadiah alias poin 0 karena musuhnya mendapat nilai minus.
Berikut gambaran atau bayangan bagaimana bentuk robot-robot tersebut. Kebanyakan robot-robot tersebut berbentuk kerangka persegi-panjang yang bagian panjangnya dari atas ke bawah. Tiang-tiang kerangka tersebut terbuat dari alumunium atau semacamnya, dan ada `tangan-tangan’ (dari alumunium juga) yang akan digunakan untuk mengambil bola (berikut pot, kedudukan dari bola tersebut yang berbentuk silinder bertopi). Tangan-tangan tersebut bisa digerakkan naik-turun atau maju mundur untuk mencari posisi yang pas ketika akan mengambil bola dan meletakkannya di tempat yang telah ditentukan.
Sedangkan robot-robot otomatisnya (bentuknya mirip dengan yang manual) boleh berjumlah 1, 2, atau 3 asalkan ketika diletakkan tidak berhimpitan, luasnya tidak melebihi daerah yang telah ditentukan. Robot-robot tersebut diprogram secara otomatis untuk mengambil hadiah. Sebagai ukuran perbandingan, jika Chuunin-6 beratnya sekitar 1,5 kg, maka robot-robot ini beratnya sekitar 20 sampai 25 kg. Jika Chuunin-6 tingginya sekitar 20 cm, maka robot-robot ini tingginya mendekati 1 meter.

———*************——–

BEBERAPA OBROLAN DENGAN PURNAWARMAN MUSA (MUSA)

Saya : “Lho Mus, KRI kan lebih gampang, ada yang boleh dikendalikan orang?”
Musa : “Iya Pak, semuanya kita bisa, cuma, saya nyerah sama mekaniknya, terutama membuat fungsi tangannya. Kalau cara mengendalikan robot manualnya atau membaca posisi garis untuk mengambil hadiah untuk robot otomatisnya nggak masalah”
: “Pernah coba ?”
: “Pernah Pak, tapi gagal terus, tangannya kurang kuat, ini masalah mekanik, saya nggak menguasai? ”
: “Gimana kalau minta tolong orang-orang teknik mesin??”
: “Boleh Pak?, mereka mau nggak ?”

[Bagaimana Teknik Mesin UG ??]

Musa : “Pak, anak-anak (team) lain kali minta ikut untuk yang expert dan juga KRI
Saya : “Terus ??”
: “Ya, silakan saja kalau memang siap dan mampu.., mereka tertarik sekali”
: “Ya sudah, betul, minta saja mereka menyiapkan diri..”
: “Tapi Pak, untuk latihan KRI kan butuh lapangan yang lebar seperti ini”
: “Bisa knock-down kan ?”
: “Bisa, Pak, tapi di mana ruangannya yang cukup sebesar ini ?”
: “Ya, di Gedung 3 lantai 4 saja (kampus D)”
: “Tapi kan nggak permanen?(tidak bisa digunakan setiap saat)”
: “Ya, kita pakai skala prioritas, memang harus sebesar ini ?(14X14 M2)”
: “Setengahnya sih cukup?, itu daerah kita, sisanya kan daerah musuh..”
: “Mahal nggak bahan-bahannya?”
: “Mahal juga Pak, karpetnya saja sekitar 100 ribu per meter, belum lagi tiang-tiang besinya, kayu-kayunya, lampu sorotnya?”
: “Memang lapangannya selalu seperti ini ?”
: “Polanya sih berubah, tapi ukurannya hampir selalu sama..”

[Pikir-pikir dulu ah?.]

Saya : “Mus, apa kendala utama untuk bahan membuat robot ?”
Musa : “Motornya pak..”
: “Sensor-sensornya ?”
: “Itu sih banyak?, relatif mudah..”
: “Motor kan cuma kumparan saja?.”
: “Bukan cuma itunya Pak, tapi harus sekalian sama gear-box-nya”
: “Memang nggak ada pabriknya??”
: “Nggak ada Pak?”
: “Lha terus, kalau mau buat kipas angin, motornya dari mana ?”
: “Ya itu, mereka jualnya kan nggak pretelan..”
: “Jadi selama ini, dapat dari mana ?”
: “Ya, Musa cari di tempat jual barang-barang bekas, tukang AC, tukang kipas angin atau apalah yang ada motor dan gear-boxnya.
: “Kalau kebetulan saya dapat, apa spesifikasinya..”
: “Agak susah neranginnya Pak, karena amat tergantung dari banyak hal, bisa dari voltasenya, kecepatannya, dan kekuatannya..”
: “Kalau voltasenya besar apa nggak otomatis kecepatannya lebih baik ?”
: “Bisa ya, bisa tidak, tergantung kondisinya?”
: “Wah, bingung juga ya, kalau saya dapat motor itu, mesti gimana ?”
: “Yah, bawa saja Pak, andaikan nggak terpakai di pertandingan, kan buat latihan juga bisa?”

———- setelah pertandingan di UI ————

Saya : “Mus, performa Chuunin-6 kok kurang bagus ya ?, lambat banget..”
Musa : “Itulah Pak, kita kalah di motor, saya lihat Unicom pakai motor (…. merek disensor….), jalannya cepat sekali”
Saya : “Ya sudah?, beli saja seperti dia..”
Musa : “Anak-anak juga mau seperti itu Pak, kita lemah di kecepatan?”
: “Belinya di mana ?”
: “Di luar negeri, Pak?., ada di internet (sambil buka internet)”
: “Waduh, bertandingnya 14 hari lagi, gimana ya ?”
: “Yah kalau pesanan lewat dari tanggal itu, kita siapkan untuk lomba tahun depan saja Pak”
: “Harganya berapa Mus ?”
: “Satunya sekitar dua juta setengah Pak?”
: “Gimana kalau kita beli AC baru, terus kita copotin motornya ?”
: “Wah riskan, Pak?”
: “Yah?, kalau gitu, ajukan saja deh ke bu Dyah, biar urusan bu Dyah ke pak Sur..”

[Ada info tentang motor beserta gear-box-nya ?]

Saya : “Mus, kalau cuma begini, kita mestinya berani ya ngadain event kontes robot seperti ini?”
Musa : “Kalau untuk materi sih kita siap Pak, kita berani untuk bertanding, hanya, kita tidak memiliki fasilitas untuk sarana bertandingnya Pak..”
: “Maksudnya ?”
: “Bapak bisa lihat sendiri (ketika di ITB), orang datang sebanyak ini, butuh fasilitas untuk berteduh, untuk ke kamar kecil, dan sebagainya…”
: “Lho, kan bisa di aula atau di auditorium?.”
: “Ah, kurang representatif Pak…, kalau bisa di lantai 1 sehingga aksesnya jauh lebih mudah..”
: “Di lapangan parkir ?”
: “Repot Pak, kalau hujan bisa kacau….”
: “Jadi ?”
: “Kita memang belum siap ngundang Pak…”

[Kapan kita punya ruang serba guna yang cukup luas ?]

5 May, 2008

Kiprah si “RAPID” di ITB

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 4:21 pm

MENYAKSIKAN KIPRAH SI “RAPID” ROBOT GUNADARMA

Apa dan bagaimanapun cara saya, saya harus mendapatkan ruangan untuk bengkel robot Gunadarma. Itu yang saya tekadkan ketika saya “disindir” Petinggi Gunadarma, bahwa satu lomba yang tidak dimenangkan Gunadarma, bahkan “kalah sebelum bertanding,” atau “layu sebelum berkembang” adalah lomba robot.

Gerah dan seperti sesak dada ini mendengar kalimat tersebut terlontar di sebuah forum yang cukup besar di ruang Auditorium D460. Betapa tidak, tim robot itu berada di lingkungan Filkom yang saya pimpin.

Setelah bernegosiasi dan seterusnya, dapatlah saya sebuah ruang (yang ketika itu untuk mendapatkan sebuah ruang, seperti menunggu hujan emas dari langit, saking susahnya). Kebetulan Purnawarman Musa (selanjutnya disebut Musa saja), yang menjadi motivator mahasiswa untuk bergabung di tim robot Gunadarma merasa amat cocok dengan ruangan itu. Alhamdulillah, salah satu syarat mutlak yang harus saya penuhi agar tim robot kita bisa tidak layu sebelum berkembang (karena sebelum bertanding harus mengirimkan video perkembangannya) yang diminta Musa sudah saya penuhi. Syarat lain adalah ruang tersebut harus dapat diakses 24 jam penuh dan 7 hari dalam seminggu. Memang sempat terjadi “miss understanding” dengan Satpam, namun untung tak berlangsung lama (karena memang banyak yang mendukung Musa). Saya beri nama ruang tersebut dengan GRoW (Gunadarma Robotic Warehouse atau Gunadarma Robotic Workshop).

Kini Musa dan 9 mahasiswanya (Dadhang Budhiarto, D3-TK 2005, Muhammad Rum D3-TK 2005, Yogi Permadi S1-SK 2003, Akeda Bagus JS S1-SK 2002, Agung Mandala Putra S1-SK 2005, Irfan Susanto S1-SK 2005, Nur Frandianto Wijaya S1-SK 2003, Ahmad Taufiq S1-SK 2005, dan Dody Anggi S1-SK 2005) sudah dapat bernapas lega menggunakan ruangan itu di Gedung 3 Lantai 1 Utara Kampus Depok. Sayapun meminta UG-News untuk meliput kegiatan mereka agar semakin banyak mahasiswa yang tertarik bergabung di sana (meski sudah dimuat, namun belum juga berhasil). Saya tambah lagi dengan meminta mereka mengisi acara Kuliah Umum tentang robotika di Gedung 3 Lantai 4 Kampus Depok, pada Rabu, 7 Mei 2008, Pk. 09.00 – Pk. 12.00 (keberhasilan menambah mahasiswa yang mau bergabung, kita tunggu saja).

Tentu saja, selain ruangan, fasilitas pendukung lainnya juga harus dipersiapkan. Musa meminta labirin (arena pertandingan robot) untuk lomba KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) Mei 2008 sudah disediakan, peralatan-peralatan (termasuk sensor-sensor) sudah disediakan oleh pihak Kampus dengan begitu cepat dan berkualitas. Tinggal kini mereka harus bekerja keras untuk mewujudkan keinginan pimpinan bahwa di arena per-robot-an Indonesia, Gunadarma “memiliki nama.”

Di tengah persiapan merakit robot untuk lomba KRCI, Tubagus Maulana (Bembi) mendapat undangan agar Gunadarma mengirimkan tim robotnya untuk bertanding di Galelobot ITB pada 25-26 April 2008. Karena Bembi sedang sibuk mengurus pernikahannya, maka ia melimpahkan undangan tersebut ke Harjanto. Ternyata Musa tidak keberatan untuk sedikit “menyimpang” mengikutiGalelobot 2008 (Ganesha Line Follower Robot) dulu sebelum KRCI. Maka, dibuatlah salah satu arena (dari dua arena pertandingan), Musa tidak enak kalau meminta dua arena sekaligus karena belum berkiprah apa-apa sudah banyak meminta.

Arena yang diminta kebetulan berukuran lebih kecil (arena 1), sekitar 60 X 200 cm dengan tinggi sekitar 20 cm, sedangkan yang tidak diminta berukuran lebih besar (arena 2), sekitar 200 X 300 cm dan tinggi sekitar 100 cm. Arena 1 digunakan untuk babak penyisihan, sedangkan arena 2 digunakan untuk pertandingan utama. “Target saya hanya lolos dari babak penyisihan saja, Pak” kata Musa, mungkin karena ini kiprah pertamanya, dan “musuh”nya adalah perguruan tinggi yang sudah lebih dulu memiliki nama di kancah per-robot-an.

Tibalah hari Kamis, 24 April 2008, para dosen yang berangkat adalah saya, Soebijantoro (Dekan FTI), Haryanto Soetedjo (Tejo), Harjanto, dan tentu saja Musa. Musa ikut salah satu dari dua mobil pribadi mahasiswa bersama 5 mahasiswa lainnya. Sedangkan para dosen dan 4 mahasiswa ikut bus kecil Gunadarma.

Sampai di Bandung, kami singgah di rumah Agus Sumin, salah seorang pendiri Gunadarma. Pendek kata, ketika kami berkumpul sekitar Pk. 19.00 di garasi untuk menyaksikan demo robot, tidak satupun robot (dari 3 robot) yang dirakit tim bisa bekerja sebagaimana mestinya. Tampak wajah kecewa semua hadirin, terlebih tim robot dan Musa. Akhirnya, kami masuk meninggalkan tim yang terus mencoba robotnya. Pendek kata lagi, pada sekitar Pk. 23.00 kami berhasil disuguhi 1 robot yang dapat bekerja dengan sempurna (sebagaimana seharusnya). Legalah kami, meski kami tak tahu 2 robot lainnya. Ada 3 tim beserta robotnya yang dipersiapkan, yaitu robotDakochan (3 nama mahasiswa pertama di atas), robot Shiningami (3 nama mahasiswa kedua di atas), dan robot Rapid (3 nama mahasiswa terakhir di atas).

Malam itu, kami berpisah, Musa dan mahasiswanya menginap di suatu tempat di dekat ITB dan sisanya di rumah Agus Sumin. Menurut rencana, esok harinya, pertandingan dimulai jam 08.00 WIB. Sepanjang malam hingga pagi harinya kami berbincang tak tidur, dan saya yakin mereka juga tak bisa tidur (karena 2 robot lain belum siap).

Untung kami tidak dijemput untuk melihat pertandingan di pagi hari itu karena kami masih mengantuk, sempat tidur hingga menjelang sholat Jum’at, bahkan hingga menjelang pukul 14.00 WIB. Ternyata, yang terjadi adalah para peserta protes karena spesifikasi arenanya tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga mereka harus menunggu arena barunya.

“Semalam kami sampai jam 4 pagi Pak, alhamdulillah ketiga robot sudah siap” kata Musa.

Ternyata, arena yang dibuat panitia tidak “secanggih” yang dibuat Omi (proyek Gunadarma), jalanan menanjaknya patah-patah dan disambung menggunakan selotip, sedangkan arena yang dibuat Omi sangat mulus tanpa sambungan (ibarat jalan arteri yang penuh lubang dibanding jalan tol yang bebas hambatan).

“Jalan seperti itu mempengaruhi nggak ?” tanyaku pada Musa.

“Isnya Allah nggak Pak, selama tidak ada celah di sambungannya” jawabnya.

Pada babak penyisihan hari ini, dari 140an tim dari berbagai perguruan tinggi di Jawa, Bali, dan Kalimantan akan diambil 32 tim dengan waktu tercepat dalam mengarungi lintasan. Semula saya berpikir, robot (semacam mobil dengan track tertentu) dapat berjalan dengan lancar, tinggal mengitung waktunya saja.

Ternyata tidak, banyak robot yang “bingung” tidak dapat melaju sesuai dengan track yang telah ditentukan, atau ada robot yang hanya bolak-balik atau berputar-putar tanpa dapat menyelesaikan lintasannya.

“Kok bisa begitu Mus ?” tanya saya pada Musa.

“Ada beberapa hal Pak, mungkin sensornya, baterainya, atau programnya yang kurang baik” jelasnya.

Karena cukup membosankan, beberapa kali nonton tidak satupun yang berhasil melaju di lintasan, kami (saya, Soebijantoro, Harjanto, dan Tedjo) membeli minuman di luar area pertandingan, bahkan sempat melihat pertandingan bola voli mahasiswi di tempat lain tak jauh dari situ.

Ketika kembali, kebetulan giliran tim robot dari Bina Nusantara (Binus) yang bertanding. Karena penasaran, saya melihatnya, dan…. meski dengan gerakan meliuk-liuk robot ini berhasil melaju mencapai garis finish dengan waktu 30 detik. Sambutan tepuk tangan bergemuruh, tampak keceriaan di wajah mereka.

“Mus, tim kita gimana ?” tanya saya ketika ketemu dengannya.

“Satu tim lolos, satunya gagal…” jawabnya

“Satu lagi ?” tanya saya lebih lanjut.

“Belum pak, masih lama, ini baru nomor 50an, kita di seratusan Pak…”

Saya tak mau ketinggalan lagi, saya tetap di arena perlombaan meski lagi-lagi membosankan dengan beberapa tim lolos hingga finish dalam waktu lebih dari 30 detik, seperti tim dari UGM yang mencapai 38 detik.

Terdengar bahwa tim dari UGM dan ITB banyak sekali, mungkin mereka masing-masing mengirim lebih dari 20 tim, terbukti sebentar-sebentar nama perguruan tinggi mereka yang disebut-sebut.

Akhirnya, tibalah tim Rapid dari Gunadarma yang menempati arena yang lebih jauh dari posisi berdiri saya dibanding tim lawan yang ada di dekat sini. Hati berdebar-debar, apalagi pembacaan nama tim Rapid Gunadarma terkesan “biasa-biasa” saja, tidak seheboh pembacaan nama tim-tim lain. Tiba aba-aba hitungan tiga…, dua…, satu …, mulai.

Gila !!, betapa hebatnya robot Rapid Gunadarma, seakan tak mau lama-lama dipegang, begitu dilepas langsung melesat tak ada kesalahan, hanya dalam waktu 18 detik ia menyelesaikan putarannya, sementara lawannya belum juga beranjak jauh. Bahkan dalam dua putaran si Rapid melaju, lawannya belum juga beranjak lagi.

“Angkat !!” aba-aba dari Musa, “kita jangan terlalu over…” katanya perlahan. Sementara beberapa penonton meminta jangan diangkat, biar terus berputar mengelilingi arena. Setelah pertandingan itu, kami larut dalam kegembiraan, saling memberi salam dalam keceriaan.

Betapa leganya saya, dua tim lolos ke babak utama meski ternyata Rapid Gunadarma ada di urutan kedua, setelah Robotico X dari UGM yang bisa mencapai 12 detik dalam satu lap. Tentu saja berita gembira itu terus kami bicarakan hingga malam hari. Bayangkan baru ikut pertama kali, belum ada pengalaman apa pun, bisa “nangkring” di urutan kedua pada hari pertama babak penyisihan.

Esok harinya, Sabtu 26 April 2008 saya kembali menyaksikan laga robot di babak utama. Saya yakin Musa kurang tidur semalam, tampak matanya memerah ngantuk dan kulit mukanya yang juga memerah “gimana Mus ?” tanya saya.

“Saya sudah lega Pak, target saya sudah terpenuhi…, tapi saya masih penasaran, target saya berikutnya harus di atas tim Binus…” jelasnya.

“Kemungkinannya…” tanya saya.

“Cukup besar Pak, robot mereka gedek-gedek begitu pasti terhambat di arena pertandingan utama ini yang memerlukan power yang kuat..” jelasnya.

Memang arena pertandingan kedua ini jauh lebih berat karena ada jalanan menanjak meliuk tiga kali ke atas (seperti per), turun secara tajam, masuk ke terowongan berliku dan harus menghindari jebakan perempatan jalan.

Dari 32 besar, akan diambil 16 besar. Tim Gunadarma (Shiningami) melawan tim UNJ yang dimenangkan tim UNJ, dan tim Gunadarma (Rapid) memenangkan pertandingan melawan salah satu tim dari ITB. Tim Binus berhenti di sini. Benar kata Musa, robot mereka tak mampu menanjak. Akhirnya, dari 3 robot Gunadarma, hanya Rapid yang mampu menembus 16 besar, itupun karena keberuntungan pas bertanding mampu mengalahkan lawannya dengan jarak terjauh (tidak ada yang mencapai finish). Rapid bisa mencapai pertengahan jalan menanjak meliuk, sedang musuh masih di bawahnya.

“Sudah Pak, target saya sudah tercapai…” jelas Musa.

“Nanti dulu Mus, musuh kita di 32 besar tadi bisa mencapai finish, kenapa pas di 16 besar tidak bisa ?, kan arenanya sama ?” tanya saya penasaran.

“Ya, itu…, bisa faktor baterai, sensor, pencahayaan, atau programnya..” jelasnya.

“Kalau begitu, peluang kita masih ada dong…” kata saya.

“Ya, tinggal nunggu keberuntungan saja Pak…” jelas Musa.

Menjelang pertandingan 16 besar, Musa menginstruksikan agar jalannya robot dibuat “kedet-kedet” di tanjakan karena jika langsung “tancap gas” tidak kuat dengan bebannya. Tim pun berusaha mengotak-atiknya. Tiba saatnya pertandingan 16 besar yang nantinya akan diperoleh 8 besar. Benar saja, keberuntungan masih berpihak ke Rapid Gunadarma. Meski tim lawan (dari ITB lagi) sudah mendahului Rapid jauh di depan, sementara Rapid masih “mogok” di awal lintasan, namun robot mereka mengalami kendala di tengah jalan yang lama “diotak-atik” tidak selesai-selesai. Tiba-tiba, Rapid mampu menanjak sesuai dengan instruksi Musa sampai putaran ketiga, penonton mulai gemuruh memberi sambutan, Rapid menuruni jalan turunan tajam dengan sukses, melewati terowongan berliku dengan baik, meliuk-liuk di jalan berliku tanpa kesalahan, Rapid mampu “membalap” robot musuh hingga mencapai garis finish terlebih dulu. Sejak saat itu, si Rapid dijuluki “Pembunuh Raksasa” karena yang dikalahkan adalah tim favorit dari ITB dan menang pada ‘detik-detik’ terakhir.

Masuk ke 8 besar, tim tuan rumah tidak ada wakilnya, yang ada hanya 5 tim dari UGM, 1 tim Gunadarma, 1 tim UNJ, dan 1 tim dari Undip. Dalam 8 besar ini, tim Rapid berhadapan dengan tim dari UGM yang “jockey”nya wanita. UGM yang menurunkan banyak tim, tentu saja membawa supporter yang banyak pula, tidak seperti Gunadarma yang suporternya para anggota tim dan dosen saja. Tapi, mahasiswa dari ITB mulai mengalihkan supportnya ke Rapid (Gunadarma).

Tiba saat pertandingan, rasa was-was terus mencekam batin kami, tim UGM adalah tim-tim yang paling kuat selama ini. Bayangkan saja, di lintasan kedua ini, waktu tercepat dipegang oleh Robotico X dari UGM dengan waktu 43 detik, dan yang lainnya, selalu berhasil mencapai finish tanpa banyak kendala berarti, sedangkan Rapid, jika bisa mencapai finish, pasti waktunya sudah di atas 5 menit.

Rapid Gunadarma vs Mozaem UGM pun dimulai. Tiga…, dua…, satu…., mulai…., dengan cepat Mozaem berjalan menuju tanjakan, mampu mencapai putaran tanjakan pertama dengan baik, kedua, ketiga…, menuruni tanjakan… semua berlangsung dengan baik dan cepat. Sementara Rapid masih berkutat di garis start. Mungkin hanya dalam hitungan beberapa detik lagi Mozaem akan mencapai garis finish sementara si Rapid masih “mogok jalan.”

Saya berharap jahat di situ, mudah-mudahan Mozaem mogok terus, saya pandangi Mozaem sambil terus berharap tidak dapat berjalan.

“Waktu masih lama…., jangan terburu-buru…” demikian aba-aba dari pembawa acara ketika Mozaem tak mampu melewati terowongan. Mozaem selalu balik kembali melalui mulut terowongan seakan “takut kegelapan”.

Di sebelah-sebelah saya, supporter dari UGM yang meski di Bandung, tetap saja ngomong Jawa. Mungkin karena saya dikira orang Sunda atau yang penting tidak mengerti bahasa Jawa, mereka mensupport tim UGM dengan bahasa Jawa sambil meledek tim Rapid yang artinya “malu doong cowok kalah sama cewek…”

“Waktu masih tujuh menit lagi….” kata pembawa acara ketika 3 menit telah berlalu tapi tak satupun robot mencapai finish. Si “Jokey” wanita UGM seakan panik dan bingung, selalu saja robot itu tak mau menembus terowongan. Tapi mereka agak tenang karena musuhnya, si Rapid belum juga beranjak dari garis start.

“Tidak…Mozaem tidak boleh jalan…” pikirku sambil terus memandangi Mozaem yang terus diotak-atik si Jockey.

“Waktu tinggal satu menit lagi….” jelas pembawa acara.

Gila !, delapan menit Mozaem tak mampu menembus terowongan dan sembilan menit Rapid tak mampu meninggalkan garis start. Ada apa ?.

Tiba-tiba, Rapid mulai bergerak meninggalkan garis start, dan mampu mengelilingi jalan tanjakan !!, juga mampu menuruni jalan turunan tajam tanpa hambatan apapun !!, dan masuk ke terowongan. Di sini debaran jantung penonton semakin cepat, betapa tidak, beberapa saat Rapid masuk ke terowongan, Mozaem mengikutinya.

Penonoton lega (tentu bukan penonton dari UGM), begitupun kami dan tim, karena si Rapid mampu keluar terowongan terlebih dulu, dan Mozaem ternyata keluar terowongan juga !!.

Namun, si Rapid mampu mencapai garis finish terlebih dulu meninggalkan Mozaem yang mungkin saja “menangis” dibuatnya. Si Rapid mampu melaju tanpa kesalahan sedikitpun, dalam detik-detik kritis yang menegangkan. Jadilah si Rapid empat besar robot yang mengikuti lomba. Kami larut dalam kebahagiaan dan saling bersalaman.

“Gimana Pak ?” tanya Musa.

“Hebat, kita sudah sampai di empat besar, memang sudah cukup…” kata saya

“Ini sudah jauh melampaui target saya, Pak”

“Tapi Mus, juara 4 dapat apa ?” tanya saya

“Tidak tahu Pak, saya hanya tahu, hadiah totalnya 12 juta” jelas Musa

Tiba-tiba pembawa acara menyampaikan pengumuman “hadiah pertama 5 juta, kedua 3 juta, dan ketiga 2 juta. Semua ditambah piala dan piagam penghargaan…, selain itu ada pemilihan dua robot dengan desain yang terbaik yang masing-masing hadiahnya 1 juta rupiah…”

Wah, kalau desain sih jauh dari terpilih, soalnya bentuknya amat sederhana.

“Mus…, saya berharap dapat Juara 3. Kalau hanya 4 besar buat apa ?, nggak ada buktinya, uang nggak dapat, piala nggak dapat…” kata saya.

“Nggak tahu deh Pak.., saya pasrah saja…”

Perlombaan 4 besar (semi final) pun dimulai, tapi memang saya sudah pesimis karena lawan kami adalah P-Cool dari UGM yang sangat perkasa, meski tidak mencatat rekor, tapi robotnya selalu berhasil. Di 4 besar, 3 tim dari UGM, dan 1 tim dari Gunadarma. Saya tidak punya feeling tim kami akan mengalahkan P-Cool, saya hanya mengejar Juara 3 saja.

Ketika pertandingan usai, benar saja, P-Cool jauh meninggalkan Rapid untuk menjadi finalis. P-Cool tampak terlalu perkasa untuk Rapid. Hal itu sudah terbaca dari awal. P-Cool adalah selalu berjaya dalam menyisihkan lawan-lawannya.

Berdasarkan pengamatan, saya dan Harjanto punya pendapat sama, yaitu, kalau Rapid “main” di lapangan A hampir dipastikan kalah, sebaliknya kalau “main” di lapangan B selalu menang. Begitu juga dengan tim-tim lain, kebanyakan seperti itu. Ada apa di lapangan A itu ?. Waktu bertanding di 4 besar, Rapid bermain di lapangan A, P-Cool di lapangan B, sudah berdasarkan feeling kalah, berdasarkan pengamatan juga kalah, maka yang terjadi, kalah mutlak.

“Lomba perebutan juara 1, 2, dan 3 diubah aturannya. Kalau tadi hanya dilakukan 1 putaran di 1 lapangan, maka untuk sekarang aturannya adalah, setiap robot diadu dengan lapangan yang berbeda-beda, jadi 2 putaran di 2 lapangan secara bergantian. Bila terjadi draw, maka ditambah lagi 1 putaran. Semua penggunaan lapangan melalui undian.”

Setelah melalui undian, pada putaran pertama Rapid menggunakan lapangan B, sedangkan Robotico X dari UGM menggunakan lapangan A. Keyakinan saya dan Harjanto terbukti, si Rapid jauh meninggalkan Robotico X di garis finish. Padahal Robotico X adalah robot pemegang rekor kecepatan di kedua jenis lapangan, baik untuk babak penyisihan, maupun pada babak utama ini. Kedudukan sementara Rapid 1, Robotico X 0.

Pada putaran kedua, Rapid menggunakan lapangan A, dan Robotico X menggunakan kapangan B. Hasilnya sudah dapat ditebak, Robotico X jauh meninggalkan Rapid di garis finish. Kedudukan berubah menjadi Rapid 1, Robotico X 1, draw, maka diadakan putaran tambahan.

Di sini terjadi gambling, putaran ketiga diundi kembali penggunaan lapangannya. Saya tak lagi kuat mendengar atau menyaksikan pengundian lapangan, saya hanya menutup mata dan berdoa semoga mendapat lapangan yang B.

Hingga pertandingan berakhir, saya tak juga membuka mata, begitu sorak-sorai menggema, saya hanya melihat tim Gunadarma mengangkat tangan sambil bersorak dan saya menjabat sodoran tangan Musa dan Tejo dengan wajah ceria.

“Gimana ?, gimana ?, kita menang ?” tanya saya ke mereka.

“Ya pak… kita menang…”

“Alhamdulillah….”

Lega hati ini, segera saja saya sambut tim robot Gunadarma untuk menyalami mereka. Saya minta cerita dari Musa dan Tedjo tentang partai terakhir tadi.

“Kita dapat lapangan B..” kata Tedjo

“Robot musuh kita tabrak Pak…, karena start dan finish di garis yang sama, robot kita telah mencapai finish sementara robot mereka masih di garis start…” jelas Musa,

Rapid, si robot Gunadarma pertama yang berkiprah di kancah perlombaan robot antarperguruan tinggi, langsung mendapat Juara 3. Sementara Juara 1 diperoleh tim P-Cool dari UGM dan juara 2 dipegang oleh tim Melu Garis OG dari UGM, dan Juara 4 dipegang oleh tim Robotico X juga dari UGM.

Meski pergi tanpa target, karena ini hanya kegiatan lomba antara (bukan yang utama), namun keberhasilan tim robot Gunadarma membawa keyakinan diri yang lebih tinggi untuk berkiprah di ajang lomba robot lainnya.

Ibu Sulis yang kebetulan sempat melihat perlombaan itu beserta keluarganya (suaminya bertugas di ITB), turut memuji tim Gundarma “ITB saja yang penyelenggara, tidak ada yang masuk 4 besar, Gunadarma bisa masuk. Suami saya juga bilang, lapangan kedua itu lebih sulit dibandingkan kejuaraan asia bahkan kejuaraan dunia robot antar- perguruan tinggi.”

“Apalagi kalau lapangan kedua itu sempat dibuat pak Omi dan digunakan sebagai latihan dulu, kemungkinan besar kita bisa Juara 1”

“Kenapa nggak minta bikinin ?”

“Bayangkan saja…, sudah minta ruangan, minta peralatan yang lumayan mahal, minta buatkan dua lapangan, untuk KRCI 1 untuk Galelobot 1… itu saja sudah untung diberi karena kita belum punya prestasi apa-apa, kan nggak enak minta lapangan lagi…”

Sekali lagi, selamat kepada tim robotika Gunadarma, khususnya pak Purnawarman Musa sebagai “pembimbing, pelatih, dan Kepala Regu”-nya. Semoga dengan ilmu robotika dan robotnya, Gunadarma menjadi lebih dikenal di dunia pendidikan tinggi. SUKSES !!!

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.