Bambang Wahyudi

14 March, 2008

Saya Malu Jadi Orang Indonesia

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:56 am

SAYA MALU JADI ORANG INDONESIA
(Bukan berarti saya harus pindah kewarganegaraan)

Pernah sekali-kalinya saya ke luar negeri, meski sebentar, saya (sebagai orang Indonesia) memandang Indonesia dari sana, amat memalukan, dan amat memilukan. Betapa tidak, di sana, meski tak ada Polisi, kendaraan berjalan dengan tertib dan teratur. Meskipun tidak ada petugas loket karcis KA dan (kebetulan) tidak pernah saya temui kondektur KA, semua berperilaku tertib antri karcis dan antri naik KA.
Ketika saya ingin menghubungi keluarga di Indonesia melalui telepon umum, sengaja saya mencari telepon umum (dari 6 unit yang disediakan berdekatan) mana yang rusak, ternyata semuanya dapat berfungsi dengan baik. Ketika saya jalan-jalan di tepi danau Swan, tak pernah saya temui selembar pun sampah, padahal tidak pernah saya lihat tukang sapu berkeliaran di sana. Begitu juga ketika saya masuk ke gedung (kampus), tak satupun dosen atau mahasiswa merokok, meski di luar gedung saya sempat melihat beberapa orang merokok (di antaranya memang mahasiswa dari Indonesia).
Itu baru sekelumit perhatian saya, belum lagi jika saya melihat tata kota yang indah, taman-taman yang terawat baik dan bersih, fasilitas-fasilitas umum yang terawat, berfungsi dengan baik, tepat waktu, dan manusiawi. Jika makan di kantin, jangankan membuang sampah sembarangan, piring kotor kita pun harus diletakkan di tempat yang sudah ditentukan (tidak ditinggal di meja makan). Indah sekali kehidupan di sana.

GEMAH RIPAH LOH JINAWI

Alam Indonesia begitu subur, saking suburnya, tongkat kayu dan batu saja bisa jadi tanaman. Tak perlu susah-susah menangkap ikan karena ikannya justru yang menghampiri, tenang tak ada badai, teduh tak ada topan. Begitu kata lagunya Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu.” Lagu yang lebih tepat diberi judul “Nina Bobok.”
Begitu kayanya alam kita, sehingga kita tidak perlu repot-repot menanam kedelai untuk membuat tempe-tahu, impor saja. Lautan kita begitu melimpah hasilnya, sampai-sampai para nelayan kita tak sempat membuat rumah yang layak huni. Pandai-pandai penduduknya sampai-sampai lupa memikirkan bangunan sekolah yang sudah hampir roboh. Hasil minyak bumi yang begitu melimpah membuat bangsa-bangsa lain berebut menandatangani kontrak pembelian yang membuat rakyat berduyun-duyun datang ke pangkalan-pangkalan minyak tanah, antri ber jam-jam untuk membuktikan bahwa masih ada sisa untuk bangsanya.
Kebun sawit yang luas membentang mendatangkan dollar namun harga dalam negeri menjadi sulit dikejar, peternak kewalahan memberi pakan bagi ternaknya, pedagang banyak ditinggalkan pembelinya, pengajar banyak ditinggalkan pelajarnya karena tak mampu membayar uang sekolahnya yang (katanya) gratis.

PENDUDUK YANG RAMAH-TAMAH DAN BERBUDI LUHUR

Indonesia (katanya) dikenal dengan penduduknya yang ramah-tamah, berbudaya tinggi, dan berakhlak luhur. Kebenaran tentang hal itu bisa kita saksikan melalui siaran televisi setiap hari, boleh pagi, siang, sore, maupun malam (pada acara berita). Saking ramahnya, pelajar tawuran dianggap biasa-biasa saja, mahasiswa tawuran, wajar saja, apalagi kalau aparat yang tawuran, jamak lah?
Berbudaya tinggi, saking tingginya, aib orang disebarluaskan melalui mass media dan justru mendapat rating yang tinggi dari pemirsanya. Kakek memperkosa cucu, cucu memperkosa nenek, penyerobot tanah yang lebih galak dari pemiliknya, pemanfaatan lahan kosong di atas trotoar dan got menjadi kantor, bantaran sungai yang berubah menjadi pemukiman, jalan raya yang berubah fungsi menjadi sungai, pengamen jalanan yang dikatakan seniman. Ah, masih banyak lagi kebudayaan kita yang tinggi itu, termasuk budaya memark-up nilai proyek (biar kelihatan menjadi proyek besar), menerima uang pelicin (agar biaya pembelian sabun untuk keperluan rumah-tangga terpenuhi sudah), menebang pohon yang sudah besar di hutan lindung (biar sinar matahari sampai ke tanah), dan budaya yang paling tinggi adalah korupsi (budaya mencari hadiah).
Indonesia juga dikenal dengan negara yang berakhlak luhur, agamis, dan religius. Betapa tidak, prinsip “buang yang buruk ambil yang baik” masih banyak dianut penduduknya. Datang ke mesjid dengan sandal yang buruk, dan pulang membawa sepatu yang baik. Di lain hal, saking agamisnya, mereka berusaha merusak, menyerang, bahkan tega membunuh orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda (mungkin agama mereka mengajarkan itu). Saking religinya, mereka berpenampilan seperti tokoh-tokoh agama yang mereka anut di manapun mereka berada (hanya penampilan kulitnya saja). Anehnya, kadang mereka bangga bila ada orang lain merasa “ngeri” melihat dia dan kelompoknya, atau mereka bangga bisa membajak dan memperbanyak karya orang lain tanpa haknya.

SEMOGA TUHAN MENGIJINKAN BANGSA INI MENJADI BESAR

Tuhan selalu memberi ijin, karena Tuhan memang Maha Berkehendak, adakah satu hal sekecil apapun yang ada di alam semesta ini di luar kehendak Tuhan ?, tidak, semua terjadi atas kehendakNya. Artinya, jika bangsa ini semakin kerdil, itu juga karena ijin dan kehendakNya. Manusia (dan profesinya) adalah “kepanjangan tangan Tuhan” untuk mengurusi dunia ini (disebut dengan “khalifah”), dengan demikian, setiap kita adalah wakil (sifat) Tuhan dalam urusan dunia (profesi) kita.
Hakim, Jaksa, Pembela, Pengawas, dan Aparat Penegak hukum lainnya, mereka yang berprofesi di bidang hukum ini harus mewakili sifat Adil dan Bijaksananya Tuhan. Bila ada (sekarang lagi ramai dibicarakan) jaksa yang disogok untuk membuat keputusan yang tidak adil dan tidak bijaksana, maka Tuhan mengijinkannya sebagaimana Tuhan mengijinkan iblis menggoda manusia. Namun, sistem Tuhan tetap berlaku, setiap perbuatan baik ada imbalannya, begitu juga setiap perbuatan buruk, ada balasannya. Profesi ini tampak amat lemah karena tidak dijalankan sebagaimana mestinya, mungkin di Indonesia, profesi ini (kini) seharusnya berada di bawah Departemen Perdagangan.

MENDUNG DUKA MASIH TERUS MENYELIMUTI NEGERI INI

Bila mendung yang datang semata untuk menurunkan hujan agar bumi ini menjadi subur, itu mendung rahmat namanya. Tapi, mendung yang datang tak henti-hentinya menurunkan hujan dan mendatangkan badai serta mengakibatkan bencana di sana sini, mendung duka namanya. Pemerintah bisa saja berkilah, ini karena efek pemanasan global, ini merupakan fenomena alam yang tidak bisa kita tentukan atau kita prediksi.
Sah-sah saja kilahan tersebut, tetapi Tuhan tidak menciptakan manusia dan alam melainkan ada keterkaitan di dalamnya. Sederhana saja, berapa banyak daerah resapan air yang dialihfungsikan ?, berapa banyak pembangunan yang tidak dilakukan  dengan analisis dampak lingkungan ?, berapa banyak kawasan hutan yang menjadi tandus ?, berapa banyak areal persawahan yang subur berubah menjadi pemukiman ?, berapa banyak pembangunan infrastruktur yang tidak sesuai dengan persyaratan teknisnya ?, dll., dll., dll..
Memang, yang menjadi korban terberat selalu saja orang miskin. Kemiskinan dekat dengan penyakit, kemiskinan dekat dengan kelaparan, kemiskinan dekat dengan bencana, kemiskinan dekat dengan kelemahan, kemiskinan dekat dengan kebodohan, kemiskinan dekat dengan kedukaan, kemiskinan dekat dengan kekufuran, dekat?, dekat?, dekat?.
Ingat peristiwa kematian seorang ibu dengan dua anaknya karena kelaparan di Makassar ?, ingat berita tentang kasus-kasus busung lapar dan kurang gizi yang terjadi di banyak tempat di Indonesia ?, masih suka melihat siaran televisi tentang bencana banjir di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan di berbagai tempat lainnya ?. Masih mendengarkan berita tentang lumpur Lapindo ?. Duka masih terus menyelimuti negeri ini.
Di lain hal, masih suka mendengar berita pembagian harta gono-gini yang mencapai miliaran bahkan ada yang triliunan ?, masih suka mendengar seorang artis yang mendapat honor puluhan juta per episode ?, pernah mendengar pejabat yang membayar pajak tahunan ratusan juta ? pernah mendengar selebritis yang setiap liburan berwisata ke luar negeri nun jauh di sana ?.
Semoga ada keterkaitan di antara mereka, si kaya membantu yang miskin, semoga ada kepekaan hati, empati dari orang-orang yang mampu kepada orang-orang yang sedang menderita. Semoga si kaya menjalankan fungsi Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada masyarakat tak mampu agar alam kembali membawa curahan hujan kesejukan, bukan awan dan hujan bencana.

SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)

Bila ditarik ke akar masalahnya, maka kelemahan bangsa kita terletak pada SDM-nya. Baik dari sisi pendidikan, sisi budi pekerti, maupun sisi kepemimpinan-nya. Dari sisi pendidikan, banyak Pejabat yang mengambil keputusan hanya berdasarkan “bisikan” atau “insting” semata tanpa didasari pengetahuan (science) dan fakta (data) di lapangan. Bisa jadi proyek konversi minyak tanah ke gas elpiji hanya menjadi proyek menghambur-hamburkan uang saja.
Dari sisi budi pekerti, sulit mendapatkan sosok yang dapat dijadikan contoh atau panutan bagaimana harus berperilaku. Banyak pejabat yang korup, banyak tokoh agama yang hanya mencari popularitas dan dunia semata, banyak orang yang hanya manis di lidah. Bahkan sepertinya budi pekerti sudah tidak diperlukan lagi sehingga harus dibuang dari kurikulum di pendidikan dasar.
Dari sisi kepemimpinan, banyak pejabat yang ditunjuk bukan karena keahliannya (menyalahi prinsip “man behind the gun,” “the right man on the right place”, bahkan berani menantang prinsip “bila sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”). Bisa kita saksikan, susunan kabinet kita berubah-ubah tetapi orangnya itu-itu saja, apakah seorang menteri itu ahli di bidang transportasi sekaligus ahli di bidang kesekretariatan ?. Meskipun hanya jabatan politis, tentulah harus merupakan orang yang ahli di bidangnya (apalagi menentukan harkat hidup orang banyak).
Mari kita berandai, “jika negara kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak berpendidikan (bukan semata gelar lho), tidak memiliki budi pekerti yang baik (misal, ucapannya sering menyakiti hati rakyat), dan tidak dapat memimpin (misal, tidak memiliki prinsip),” apa jadinya ?. Tentunya, mendung duka tidak akan pernah pergi jauh.

PENGENTASAN KEMISKINAN

Selama masih banyak orang miskin di negeri ini, tentu negeri ini masih terus dekat dengan kesengsaraan (bencana). Kemiskinan memang sulit dientaskan selain ada orang kaya yang mau membantunya (sebagaimana orang bodoh tidak akan bisa pandai bila terus bergaul dengan orang-orang bodoh). Pria kaya setidaknya akan mencari pendamping hidup yang setara juga, kalau begitu pria miskin hanya akan mendapat wanita miskin, lalu memiliki keturunan yang (akan) miskin-miskin juga.
Pengentasan kemiskinan (bukan berarti yang miskin harus dimusnahkan) harus melibatkan orang kaya, karena jalur pendidikan merupakan sarana yang paling tepat untuk berinvestasi dalam mengentaskan kemiskinan, namun seperti kita ketahui, pendidikan itu mahal. Tentu bukan hanya biaya pendidikan yang harus disiapkan, namun juga sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak didik itu. Bisa jadi, anak didik itu tidak sekolah bukan semata karena orang-tuanya tidak mampu membayar uang sekolah saja, tapi lantaran ia harus membantu mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.
Pendidikan yang begitu pentingnya, luput (setidaknya belum dianggap penting) dari perhatian pemerintah. Anggaran pendidikan terus dihambat untuk mencapai 20% dari APBN. Sekolah-sekolah dasar banyak yang ambruk, guru-guru banyak yang mencari biaya tambahan dengan menarik ojek, menjadi pemulung, penarik becak, dan sebagainya. Di lain pihak, banyak penyelewengan atas bantuan operasional sekolah (BOS) yang tidak terdeteksi (atau sengaja tidak dideteksi). Biaya sekolah menjadi selangit yang sulit dijangkau orang-orang miskin, bahkan orang-orang yang belum miskin sekalipun.
Kalau semua harus mengikuti “harga pasar” buat apa ada pemerintahan, jadikan saja semua departemen menjadi Departemen Perdagangan. Jadi, Departemen Pendidikan Nasional menjadi Departemen Perdagangan Pendidikan Nasional. Departemen Sosial menjadi Departemen Perdagangan Sosial, dst??

KESIMPULAN

Saya malu jadi orang Indonesia yang kesannya brutal, garang, gahar, miskin, bodoh, primitif (kata Mandra), korup, penjual kecap nomor satu, dan kesan-kesan negatif lainnya. Namun, bagaimanapun juga saya tidak ingin menjadi warga negara lain, “dari pada hujan uang di negeri lain, lebih baik hujan batu di negeri sendiri.” Kemunafikan seperti ini yang tidak ada di negara lain.

6 March, 2008

Tentang Penulisan Ilmiah

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:46 am

TENTANG PENULISAN ILMIAH

Bagian I

Menulis, khususnya menulis ilmiah, adalah sebuah proses yang kadang membutuhkan waktu yang panjang dan bahkan bisa menjadi kendala bagi seorang mahasiswa untuk menyelesaikan studinya tepat waktu. Namun demikian, tidaklah pantas jika sebuah Perguruan Tinggi tidak mengajarkan atau membimbing mahasiswanya melakukan penulisan ilmiah selama ia menimba ilmu di sana. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dengan mengharuskan mahasiswa melakukan penulisan ilmiah, antara lain:
1. Proses pembelajaran diri. Memberi pengalaman kepada mahasiswa untuk membuat suatu karya tulis yang bersifat ilmiah (ada dasar teorinya);
2. Menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. Pikiran yang dituangkan dalam bentuk ucapan, mungkin sedikit terjadi yang berakibat orang lain (pendengarnya) salah penerimaan (beda persepsi) bila dibandingkan dalam bentuk tulisan (yang tidak mengenal intonasi atau dialek). Mahasiswa dibimbing agar ia bisa mengungkapkan apa yang ada di pikirannya ke dalam bentuk tulisan yang sesuai dengan apa yang ada di pikirannya, tanpa menimbulkan salah pengertian dari pembacanya.
3. Taat azas dalam berbahasa tulisan. Pemilihan kata, merangkaikannya menjadi kalimat, hingga terbentuk sebuah paragraf yang mengandung satu pengertian harus sesuai dengan tata bahasa yang digunakan. Jika ditulis dengan bahasa Indonesia, maka kita kenal tata bahasa Indoneia (EYD = Ejaan Yang Disempurnakan);
4. Melatih logika berbahasa. Di sini, mahasiswa dilatih untuk menulis sesuai urutan dan kaitan yang logis (misalkan, kesimpulan harus berkaitan dengan tujuan, batasan masalah harus dibuat setelah latar belakang masalah, dan sebagainya). Mahasiswa juga dituntut untuk menggunakan istilah yang konsisten dari awal hingga akhir (misalkan di awal “Sekolah Menengah Atas” disingkat dengan SMA, maka harus selalu menggunakan SMA, tidak boleh menjadi SMU);
5. Melatih berinteraksi. Penulisan ilmiah juga dimaksudkan agar mahasiswa terbiasa melakukan interaksi dengan orang lain (yang kedudukan sosialnya lebih tinggi, misalkan dalam hal ini dengan Dosen Pembimbing atau Kepala Bagian di mana ia magang) agar ia memiliki mental yang tangguh dan mengerti bagaimana harus bersikap dalam berinteraksi (tepat waktu, mau menerima kritikan, berani bertanya/ beradu argumen, dan sebagainya);
6. Melatih kepercayaan diri. Mahasiswa yang telah menyelesaikan penulisannya, maka ia akan berhadapan dengan Dosen Penguji untuk mempertahankan apa yang ia tulisnya. Di sini mahasiswa dilatih untuk pandai mempersiapkan diri ketika harus berhadapan dengan peristiwa yang akan menguji dirinya. Ia dilatih untuk menyiapkan diri dengan strategi yang dibuatnya sendiri agar ia memiliki kepercayaan diri “menghadapi ujian bagi dirinya.”

Tentu saja, kita harus maklum betapa “risaunya” mahasiswa ketika ia harus melakukan itu. Usia yang belia itu kini dituntut menjadi orang yang harus mampu melewati rintangan (baik dari dirinya sendiri/ kemampuan diri, teman, keluarga, Dosen Pembimbing hingga Dosen Penguji). Tapi, itulah pendidikan, memberi pengalaman yang berharga yang akan berguna bagi dirinya ketika dibawa ke masyarakat kelak. Penulisan Ilmiah menjadi sesuatu yang sangat penting bagi perkembangan diri seorang mahasiswa.

Tak jarang, mahasiswa yang tidak sanggup “menerima tantangan” penulisan ilmiah itu. Banyak jalam pintas yang ia lakukan seperti membayar orang yang mau mengerjakan penulisan ilmiahnya. Kalau sudah begini, tujuan pendidikan tidak tercapai. Mahasiswa tidak memiliki kemampuan untuk melakukan penulisan ilmiah, dan yang paling pasti, mahasiswa telah membohongi, mengerdilkan, dan tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Lalu, kalau pertanyaan ini disampaikan kepada Dosen Pembimbing: “Kesulitan apa lagi yang harus dibebankan kepada mahasiswa bimbingannya ?.” Tentu akan dijawab “tugas saya membimbing, bukan menyulitkan.” Tanyakan pada hati sanubari, benarkah kita membimbing, artinya, kita membantu, menuntun, mendorong, agar bimbingan kita selesai melakukan proses penulisan ilmiah ini hanya dalam waktu 3 bulan (2 SKS) ?, atau malah kita menghambatnya dengan cara sulit ditemui, ingkar janji, membodoh-bodohi (menyurutkan semangat), meminta sesuatu di luar batas toleransi kesanggupan, dan berbagai cara lagi ?.
Ingat, beberapa tahun lalu ada mahasiswa yang setiap hari duduk di pelataran Gedung 1 Kampus D dengan membawa setumpuk kertas, tetapi ia tidak melakukan aktivitas apapun kecuali hanya bengong saja. Setelah diselidiki, ternyata mahasiswa tersebut tengah mengalami stres (depresi) karena penulisan ilmiahnya tidak pernah mendapat persetujuan dari Dosen Pembimbingnya, dan orang tuanya sudah tak tahu lagi harus berbuat apa karena ia tidak memiliki biaya untuk mengobati anaknya ke psikiater?..(cerita selanjutnya, ada pihak kampus yang membantu membiayai itu?).
Ingat, pada tahun 1997, 90% mahasiswa yang belum maju sidang sarjana sesuai waktunya ternyata karena belum menyelesaikan penulisan ilmiahnya. Sehingga, sejak itu Dosen Pembimbing diminta masuk ke dalam kelas selama 8 kali (2 bulan) seperti yang dilakukan saat ini (diharapkan tidak ada lagi alasan mahasiswa sulit menemui Dosen Pembimbingnya, dan setelah delapan kali pertemuan itu, diharapkan banyak mahasiswa yang sudah menyelesaikan sebagian besar penulisannya), sisanya, dibuat perjanjian untuk bertemu.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, sebagai kata penutup, dilontarkan pertanyaan: “Siapa di antara kita yang tega merusak masa depan orang lain dengan menghambat langkah-langkahnya ?.”

Bagian II

Naluri joke saya muncul ketika mengikuti pertemuan antara Jurusan/ Program Studi Sistem Informasi/ Manajemen Informatika dengan Dosen Pembimbing (DP) Penulisan Ilmiah (PI) yang difasilitasi oleh Pembantu Dekan I (Ibu Dr. Dewi Agushinta Rahayu).
Naluri itu muncul ketika Ibu Dr. Lintang Juniar B., memaparkan bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini, penyelesaian PI tepat waktu oleh mahasiswa mengalami kemunduran (kemerosotan) terus menerus. Naluri joke saya mengatakan : “lho, bukannya beberapa tahun ini justru program Doktor kita malah meluluskan banyak Doktor baru ?.” Ada tidak hubungannya ?, jika jumlah doktor meningkat maka penyelesaian PI justru menurun ?. Ah, itu hanya joke saja kok, tak perlu dirisaukan.

Memang pada pertemuan itu, saya hanya diminta oleh Fasilitator untuk membuka atau menutup acara saja, dan saya akhrnya ditunjuk untuk menutup acara karena ketika acara dibuka, saya masih berada di luar ruang.
Namun demikian, acara itu saya ikuti dari awal sampai akhir, dan ada sedikit harapan saya yang tidak sampai dalam acara itu, yaitu pemberian pengetahuan/ pembelajaran kepada Dosen Pembimbing tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh ditulis dalam setiap sub-bab PI dari mahasiswa bimbingannya.
Hal ini penting, karena dalam sidang PI di Kenari (D3), ada beberapa Dosen Penguji yang “:kesal” dengan PI mahasiswa yang sidang. Kekesalan itu ia limpahkan ke Dosen Pembimbing melalui mahasiswa yang bersangkutan dengan pemberian catatan perbaikan yang harus dikonsultasikan lagi ke Dosen Pembimbing. Memang hal itu menyalahi prosedur (aturan). Ketika saya tanya kepada salah satu dari mereka, dijawab :”bukan saya ingin menyalahi aturan, tetapi saya ingin memberi pelajaran kepada Dosen Pembimbing.”

Jadi, saya pikir penting dilakukan pertemuan antara Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji dalam sebuah forum agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Jangan sampai ada yang berpikiran “sok pinter dia” dan jangan ada yang berpikiran “bloon amat sih membimbingnya,”
Ketika saya minta contoh kesalahan, beliau berkata : “Sederhana, misalkan kok kesimpulan berisi mengenai ringkasan PI, semacam abstrak saja,” atau “sudah tahu mau membuat sstem, kok di tujuan penulisannya tidak ada kata-kata pembuatan sistem..”
Saya menyetujui beliau, memang banyak sekali hal semacam itu ditemui di PI mahasiswa. Saya bisa duga, mereka menuliskan itu dengan melihat atau mencontoh PI-PI sebelumnya dan kebetulan tidak dicermati oleh Dosen Pembimbingnya. Saya menyimpulkan, mereka (mahasiswa pembuat PI) “lupa diri,” maksudnya mereka lupa `locus’ atau tempat di mana mereka meneliti.
Jika mereka tidak “lupa diri” pastilah mereka tahu apa saja masalah yang dihadapi di tempat di mana mereka meneliti untuk `diceritakan’ di Latar Belakang atau Latar Belakang Masalah. Jadi, jika seseorang meneliti di Bagian Pemasaran di suatu unit usaha, maka di Latar Belakang Masalahnya akan diisi dengan masalah-masalah yang dihadapi Bagian Pemasaran tersebut. Dengan kata lain, di Latar Belakang Masalah tidak perlu ada kalimat “Perkembangan komputer yang demikian pesat dewasa ini?..,” atau “Dalam era globalisasi saat ini?.,” dan semacamnya, toh perkembangan komputer dan globalisasi bukan menjadi masalah di Bagian Pemasaran itu. Begitu juga, ada yang menulis kalimat “Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Penulis memberi judul pada Penulisan Ilmiah ini :????,” di bagian akhir Latar Belakang Masalah. Memang judul menjadi masalah di Bagian Pemasaran ?. Ada lagi yang lebih tragis, di Latar Belakang Masalah ada jawaban atau cara untuk menyelesaikan masalah itu, misalkan kalimat “Karenanya Penulis akan membuat sebuah sistem yang terkomputerisasi untuk menyelesaikan masalah tersebut di atas?”
Memang, bila dicermati amat banyak tulisan yang tidak sesuai dengan pokok bahasan di sub-sub babnya. Inilah pentingnya orang yang telah berpengalaman (bukan orang yang lebih pandai) memberi pengarahan kepada orang-orang yang kurang berpengalaman (bukan orang yang lebih bodoh).

Contoh lain lagi. Di Landasan Teori atau Telaah Pustaka (Bab II) banyak PI yang tidak menuliskan teori yang semestinya ada, bahkan lebih cenderung menuliskan tools hingga sedetil-detilnya seperti hendak membuat tuntunan penggunaan software tertentu. Internet, Visual Basic, DreamWeaver, dan semacamnya, itu bukan teori, itu adalah alat (tools) yang digunakan untuk membuat atau menjalankan software (sistem yang akan dibangun), boleh ditulis, tapi sekadarnya saja, tidak perlu sampai menampilkan layar-layar yang muncul. Untuk teori, jika ia meneliti di bidang pemasaran, maka harus ada teori tentang pemasaran, jika ia ingin membuat software tentang bahan ajar, maka harus ada teori tentang belajar, dan seterusnya.
Masih banyak lagi contoh kasus yang ditemui di lapangan. Itulah perlunya kita sharing agar kita mendapat manfaat juga dari rekan-rekan kita lainnya.

Di lain hal, dalam pertemuan itu saya juga menanggapi isu tentang penggunaan software LaTex dalam penulisan ilmiah, khususnya untuk program studi Sistem Informasi, Sistem Komputer, Teknik Komputer, dan Manajemen Informatika. Saya katakan bahwa ada dua prinsip yang selalu saya pegang (berdasarkan pengalaman dari awal mula Gunadarma didirikan) untuk melakukan sebuah perubahan (sistem), yaitu 1. Berpikir kesisteman, dan 2. Memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.
Berpikir kesisteman adalah berpikir ke segala penjuru. Kita tidak hidup sendirian, karenanya keberadaan kita harus bermanfaat (tidak merugikan atau menyusahkan orang lain). Di kampus, kita (baik personal maupun per unit kerja) berkaitan dengan personal atau unit kerja lain, dengan demikian jangan sampai keputusan kita merugikan atau menyusahkan orang atau unit kerja lainnya. Jadi, berpikir kesisteman butuh toleransi tinggi dan komunikasi yang matang agar keputusan kita dapat diterima orang lain. Kita tidak meremehkan orang lain, dan orang lain tidak menilai kita arogan atau sok pinter.
Memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah baru adalah jangan sampai keputusan saya hanya sekadar memindah masalah ke tempat (bagian) lainnya, atau menjadi keputusan yang sia-sia. Jadi, dibutuhkan pemikiran dan perenungan yang mendalam (mengenai dampak untung-rugi, baik-buruknya) sebelum diambil keputusan.

Artinya, sedapat mungkin suatu perubahan berjalan dengan `smooth’ (halus), sebagaimana Tuhan mengajarkan kepada kita tentang perubahan dari siang yang terang benderang menjadi malam yang gelap gulita dan sebaliknya.
Tidak ada pikiran saya untuk menolak penggunaan LaTex atau open source software lainnya (komputer saya juga sudah sejak lama menggunakan sistem operasi Linux), bahkan sebaliknya, saya amat mendukung (agar tidak melanggar Hak Kekayaan Intelektual orang lain). Tetapi untuk menjadikan LaTex wajib diterapkan saat ini belum bisa saya putuskan.
Kita harus menyiapkan segala sesuatunya agar semua akan menjadi terbiasa dengan LaTex dan memandang LaTex menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Baru keputusan wajib bisa diterapakan. Persiapan kita antara lain : sesering mungkin mengadakan pelatihan kepada dosen-dosen atau staf administratif lainnya, dan memasukkan materi tersebut ke dalam konten mata kuliah dan ada praktikumnya untuk mahasiswa. Siapa yang jadi Pengajar ? tentu orang-orang yang sudah mengerti dan paham tentang LaTex, dan di UG dikenal istilah “siapa yang mengumpan, maka dialah yang terpancing” artinya, dalam hal ini, siapa penggagasnya, maka dialah Pengajarnya. Menggunakan istilah Pak Tjahjo, “jangan omdo” alias “omong doang?”
Secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, mari kita mulai segera. Jika nanti prasarana dan sarana sudah disiapkan untuk mempelajari LaTex namun ada orang yang tidak mau juga belajar, itu bukan salah si Pengambil Keputusan bila nantinya penggunaan LaTex dinyatakan wajib. Semoga para Pengajar LaTex yang mau memberi pengetahuan yang sangat bermanfaat ini, mendapat imbalan langsung dari Yang Maha Agung. Amiin.

Bagian III

Bisa jadi, jika penulisan ilmiah di kampus kita, mulai dari PI, Skripsi, Tesis, Disertasi, Makalah, Paper Penelitian, Jurnal, dan semacamnya ditumpuk, tingginya sudah melebihi Monas. Tetapi hasil karya itu tetap tidak mampu menyaingi `megahnya’ Monas.
Maksud saya, kenapa penelitian kita hampir tidak ada yang memiliki `nilai jual’ atau `komersial’ terutama untuk kalangan usaha di luar kampus. Contoh sederhana, penelitian tentang perilaku konsumen terhadap air minum menghasilkan (diciptakannya) dispenser yang tidak ada air dinginnya (hanya panas (hot/ warm dan biasa/ fresh) yang lebih laku di pasaran ketimbang yang ada air dinginnya.

Tentu saja, untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan perusahaan di luar sana, harus ada orang yang mau membuat link dengan pihak kampus. Sayang memang, konsep link and match karya Mendikbud Wardiman ketika itu tidak mendapat sambutan dari kaum usahawan. Ketika itu pengusaha sudah disibukkan dengan `biaya-biaya siluman,’ belum lagi kewajiban-kewajiban lain yang memperkecil keuntungannya, sehingga mereka tidak mau lagi `ditodong’ untuk membiayai penelitian di kampus-kampus. Mereka berkilah bahwa di perusahaannya sudah ada bagian penelitian dan pengembangan produk. Hasilnya, bisa kita saksikan, berapa banyak jenis produk kita yang mampu bersaing di pasar global ?.

Biarkan, andaikan perusahaan masih enggan bekerja sama dengan perguruan tinggi, maka kita bisa melakukan terobosan-terobosan lain yang bersifat personal. Kita bisa mendownload berbagai open source software, lalu kita kupas isinya dan dijadikan buku untuk ditawarkan ke penerbit (atau dipasarkan sendiri melalui internet), bisa kita lakukan. Membuat software aplikasi pembelajaran, atau membuat sistem komputerisasi untuk perusahaan kecil juga bisa kita buat dan tawarkan ke konsumen. Banyak lagi lainnya.
Nah, jika mahasiswa memiliki kemampuan untuk menciptakan produk tetapi tidak memiliki kemampuan bagaimana cara menulis atau membuat prosedur-prosedur penawaran produk, maka di dalam kegiatan penulisan ilmiah ini bisa menjadi ajang pembelajaran, baik bagi mahasiswa maupun bagi Dosen Pembimbing. PI bisa selesai dan laku dijual ke pasaran.

Di sini saya hanya ingin mengatakan bahwa saya setuju dengan usulan tentang pengayaan materi PI agar dapat menjadi (menghasilkan) suatu produk yang dapat dijual ke pasaran, Artinya, PI jangan melulu hanya menghasilkan sampah (tidak bermanfaat atau tidak aplikatif), tetapi memiliki `kemegahan’ yang menandingi megahnya Monas. Semoga.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.