Bambang Wahyudi

29 October, 2007

DA’I

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 4:11 pm

DA’I

Post dari : Edi_MP       Tanggapan Tulisan :”Jagalah Hati”

Fungsi yang kebanyakan di antara kita tidak sadar atau tidak sungguh2 akan peran sebagai hamba-Nya adalah peran diri sebagai seorang “da’i” yaitu sebanyak-banyaknya dalam amar ma’ruf nahi munkar bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat untuk meraih ridha Allah (QS.3:110). Padahal ini jalan yang sangat cepat untuk mencapai derajat tinggi di sisi Allah SWT. Semoga kita selalu mendapat cucuran hidayah dan rahmat Allah SWT dan tidak tergolong orang-orang yang fasiq. Amiin.

Jawaban :

“Serahkanlah segala urusan pada ahlinya, bila tidak, tunggulah saat kehancurannya”

Pak Edi yang saya hormati, saya sangat setuju sekali dengan pendapat Bapak di atas, di dunia ini yang kita cari adalah ridha Allah, yaitu Allah meridhoi apa saja yang terjadi dengan hati kita, sehingga hati kita kelak kembali sesuci seperti ketika Allah menitipkan pada kita sejak kita lahir (andaikan tidak sesuci itu, Allah tetap menerima apa adanya), seperti kita meminjamkan modal kepada kekasih kita, andaikan modal itu habis, kita tidak menuntut agar ia mengembalikannya modal itu, dan kita masih tetap sayang kepadanya.
Saya juga setuju, cara agar Allah ridho kepada kita adalah dengan jalan amar ma’ruf nahi munkar, artinya “sasaran akhirnya adalah ridha Allah, caranya adalah dengan berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaanNya.” Seperti paradoks, kita harus “turun (membumi) untuk mendapatkan ketinggian (kemuliaan di langit)” seperti air yang selalu menuju ke tempat yang lebih rendah tetapi memiliki kedudukan yang tinggi (sangat diperlukan) oleh semua makhlukNya.
Hanya, kata “Da’i” yang mungkin harus kita samakan pandangannya. Bagi saya, seseorang tidak dapat dikatakan da’i bila ia hanya bisa berbicara (ceramah, pidato, menulis, mengajak, dan semacamnya) tetapi tingkah lakunya tidak sesuai (menyimpang) dengan apa yang dibicarakan itu. Malah, jangan-jangan orang semacam itu lebih tepat dikatakan sebagai orang yang munafik.
Dengan demikian, kepada siapa kita harus berkelakuan baik ?, tentu dengan semua makhluk ciptaanNya (terutama dengan diri sendiri). Salah satu perbuatan baik adalah dengan mewujudkan sifat Allah, yaitu menolong (Allah Maha Penolong). Siapa yang wajib kita tolong ?, tentu di sini kita harus sanggup mengukur kemampuan diri. Di dunia ini amat banyak orang yang kelaparan, orang yang bodoh, orang yang sengsara, orang yang sakit, orang yang jahat, dan seterusnya. Sanggupkah kita menolong mereka semua ?.
Nah, di sinilah pentingnya kata fungsi dan peran. Semua orang memiliki fungsi dan peran masing-masing, karenanya setiap orang memiliki batasan manajerialnya (baik dari sisi kemampuan maupun keahliannya). Kita hanya wajib menjalankan fungsi dan peran di dalam lingkup kemampuan diri. Jangan coba-coba kita membantu mengoperasi perut orang yang sakit jika kita tidak memiliki kemampuan untuk itu (bisa-bisa ia malah meninggal), jangan sampai kita memberi nasihat atas masalah orang lain jika kita tidak memiliki keahlian untuk itu (bisa-bisa orang itu malah jadi celaka).
Jadi, mari kita menjadi “da’i” di lingkup kita sendiri terlebih dulu sebelum kita memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai untuk menjadi da’i di lingkungan yang lebih luas lagi. Lingkup awal kita adalah diri sendiri, dan orang-orang yang berada di bawah manajerial kita. Bila kita sanggup mengembangkan diri, barulah lingkup itu diperluas ke masyarakat umum (mulai dari RT, RW, dst).
Jelaslah, bahwa kekhalifahan kita di Indonesia kebanyakan “salah urus” karena tidak mengikuti tuntunan dasar dari prinsip manajemen yaitu “the right man on the rght place” atau “serahkanlah segala urusan pada ahlinya.”

Demikianlah, pak Edi_MP, mudah-mudahan kita sepaham dan dijauhkan dari golongan orang-orang yang fasiq. Aamiin.

Jagalah Hati

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:59 am

FUNGSI dan PERAN DIRI

“Belum beriman seseorang sebelum dia mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai diri sendiri” (hadis Rasulullah SAW).

KHALIFAH

Tuhan telah mengutus manusia sebagai khalifahNya di dunia. Manusia diwajibkan untuk menjalankan tugas-tugas manajerial Allah, yaitu mewujudkan (sifat-sifat) Allah bagi kemaslahatan seluruh alam (rahmatan lil alamin). Maka, kita sebagai manusia, tidak luput dari tugas-tugas tersebut, tunduk dan patuh pada titah Sang Pencipta. Bukti bahwa kita mencintai Allah adalah dengan mencintai segala ciptaan-ciptaanNya (manusia dan makhluk-makhluk yang ada di sekeliling kita). Dan proses ini kini tengah terjadi, selama hayat masih dikandung badan. Kita tidak dapat mencintai Allah secara langsung karena memang kita tidak tahu apa-apa tentangNya melainkan hanya dapat mempersepsikan melalui sifat-sifatNya yang telah diperkenalkan oleh rasul-rasul utusanNya kepada kita.

PANGGUNG SANDIWARA

Memang dunia ini mirip dengan panggung sandiwara, di mana, setiap pemain memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Bedanya, dalam sandiwara, skenarionya sudah jelas, siapa dan kapan harus masuk ke arena panggung, siapa dan kapan yang harus keluar arena panggung, dan jelas ending-nya akan seperti apa. Berbeda dengan fungsi dan peran yang harus kita mainkan di dunia nyata ini, yang sarat dengan misteri. Jangankan untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita setahun ke depan, besok saja apa yang akan terjadi pada kita, kita tak tahu pasti.
Jadi, tentu saja, kita akan berperan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Jika kita mampu menikah, maka kita bisa berperan dan berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau ibu rumah tangga. Jika kita mampu menjadi Manajer di perusahaan, maka kita akan berperan dan berfungsi sebagai Manajer. Tentu saja, kemampuan itu harus diyakini oleh orang lain (terutama para pengambil keputusan) sehingga mereka rela memberikan peran dan fungsi tersebut.

IBADAH

Tentu saja, fungsi dan peran yang kita jalani dalam dunia nyata harus bernilai ibadah kepada Allah. Keridhoan Allah sebagai tujuan utama kita, namun keridhoan itu akan diperoleh dari kegiatan kita sehari-hari yang memiliki nilai ibadah (amal). “Allah sebagai tujuan (ibadah kita), dan makhluk-makhlukNya sebagai perantaranya.”
Orang-orang bodoh adalah ladang amalnya orang-orang pandai, orang-orang miskin adalah ladang amalnya orang-orang kaya, orang-orang lemah adalah ladang amalnya orang-orang kuat. Perbuatan baik kepada makhluk-makhluk Allah yang dilakukan berulang-ulang (rutin) adalah wirid yang lebih utama ketimbang wirid dengan hanya membaca asma ul husna berulang-ulang.
Kita harus memiliki keyakinan bahwa orang yang sukses adalah orang yang bisa membuat orang lain sukses. Orang yang bahagia adalah orang yang bisa membuat orang lain bahagia, harta kita (kelak di akhirat) adalah apa yang telah kita berikan (sedekahkan) kepada orang lain (atau untuk jalan yang diridhoiNya). Sebaliknya, kotor hati kita manakala kita membenci orang (segolongan orang, baik golongan dalam bangsa/ ras, golongan dalam agama/ keyakinan, golongan dalam jenis kelamin/ gender, dan berbagai golongan lain), keji hati kita manakala kita suka menghujat orang (segolongan orang) lain, rusak hati kita tatkala kita menilai diri kita lebih bermartabat dari orang (segolongan orang) lain, karena kita hanya mampu melihat orang berdasarkan casing-nya saja.
Nabi Muhammad SAW adalah orang yang penuh kelembutan dan cinta kasih, Beliau mau berperang bukan karena keinginan dirinya melainkan karena beliau menjalankan fungsi sebagai pimpinan dalam khalifahnya (manajerialnya), yaitu suara aklamasi (demokrasi) dari umat yang dipimpinnya. Beliau tidak pernah membenci, menghujat, atau membeda-bedakan golongan dari manusia, camkan kembali hadis beliau di pembukaan tulisan ini. Maka, pantaskah diri kita (yang mengaku Islam) berkhianat pada Beliau dengan menentang ajaran-ajarannya ?, astaghfirullah !!, kedustaan mana lagi yang akan kita perbuat ??.
Banyak perilaku kita yang “membakar” nilai ibadah kita hingga hangus tak bersisa. Aa Gym terkenal dengan slogannya “Jagalah Hati”, karena hati (sanubari) milik Allah yang dititipkan pada kita yang kelak akan diminta pertanggung-jawabannya (masih sucikah seperti pertama kali dititipkan kepada kita ?). Karena itu, jangan suka merusak atau mengotori hati dengan perbuatan-perbuatan yang seakan “kecil” atau “sepele”, seperti sombong (sok jago, sok alim, sok suci, dsb.), fitnah (bohong, menipu, suka memanas-manasi diri dan orang lain), dan berbagai macam yang banyak diberitakan di Al Quran dan Hadis.

SILATURAHMI

Fungsi-fungsi setiap individu banyak yang sama, namun peran diri akan berbeda satu sama lain. Fungsi sabagai ayah banyak yang sama, namun peran seseorang sebagai ayah bagi anak-anaknya tidak akan tergantikan oleh orang lain. Karena kita sebagai makhluk sosial, maka kita sering berinteraksi dengan orang lain, khususnya yang memiliki fungsi yang sama, misalkan sama-sama sebagai dosen.
Silaturahmi bukan hanya sekadar bertemu dan ngobrol saja karena itu tidak akan memiliki banyak nilai ibadah (apalagi kalau sampai isinya hanya menggunjing, mencibir, senang melihat kesusahan orang, senang melihat orang-orang saling bermusuhan, dsb.). Silaturahmi hendaknya dilakukan untuk mengetahui hal-hal (masalah-masalah) yang sedang dialami orang lain yang mungkin bisa kita bantu atau selesaikan. Masalah-masalah bisa terjadi dalam hal finansial, keilmuan, kepengajaran, kepemilikan buku, dan sebagainya.

PENINGKATAN PERAN

Pertanggung-jawaban diri kita sebatas fungsi dan peran yang kita emban. Tidak layaklah jika kita mencampuri apalagi sampai menjelek-jelekkan fungsi dan peran orang lain, apalagi yang berada di atas peringkat manajerial fungsi dan peran kita. Misal, tidak layaklah kita sebagai rakyat menghina dan mengejek presiden kita. Bila kita merasa lebih mampu dan lebih hebat darinya, maka tingkatkanlah fungsi dan peran kita agar orang lain (rakyat) mau memilih kita menjadi presiden.
“Berkacalah pada diri, uruslah dirimu sendiri dulu” sebuah kalimat bijak untuk melaksanakan sebuah introspeksi diri. Bila kita sudah bisa memimpin diri sendiri, bisa memimpin keluarga, maka tingkatkanlah untuk memimpin masyarakat, tingkat-demi-tingkat sesuai kemampuan diri.
Semakin tinggi kedudukan seseorang maka semakin orang itu terkekang (jauh dari kebebasan), sebaliknya, semakin rendah kedudukan seseorang, maka semakin bebaslah orang itu. Seorang raja tidak bisa seenaknya duduk `nongkrong’ di pingir jalan, tetapi bagi rakyat jelata, hal itu sangat bisa sekali. Begitu juga bedanya orang yang bermartabat (bertaqwa) dengan orang yang tidak bermartabat. Orang-orang yang bermartabat pasti sangat menjaga lisan, tulisan dan perilakunya agar apapun yang diucapkan, ditulis dan apapun yang dilakukan jauh dari kesia-siaan (hal-hal yang tidak berguna, bahkan hal-hal yang merusak). Sebaliknya, orang yang tidak menjaga martabatnya, maka ia gemar mengumbar lisan (ct: omong kosong), tulisan (ct: menghasut) dan perilakunya banyak yang melanggar norma-norma kesopanan dan kesusilaan.

KESIMPULAN

Mari kita jalankan fungsi dan peran kita masing-masing secara konsekuen. Jangan sampai kita mengurusi fungsi dan peran orang lain kecuali mereka meminta kita untuk membantunya. Percayalah, hati sanubari seseorang hanya dirinya dan Allah yang tahu, karenanya jangan sampai kita mencerca, menghujat, atau membenci orang (segolongan orang) karena kita hanya mampu melihat casing-nya saja. Bisa jadi, orang yang kita hujat dan kita benci itu telah memiliki kedudukan (derajat) yang lebih tinggi dari kita di mata Allah.
Dengan bertambahnya tingkat usia, tingkat pendidikan, dan tingkat kedewasaan (kematangan berpikir), maka kita harus berani dan mampu memikul beban yang lebih berat, maka, tingkatkan atau tambahkan fungsi dan peran diri di masyarakat, agar kita bisa meningkatkan nilai ibadah kita, dan memiliki kedudukan (derajat) yang lebih tinggi di mata Allah.
Jika kita membenci seseorang maka sesungguhnya kita telah membenci diri kita sendiri (hati kita menjadi kotor karena kebencian itu). Filosofi : “jika satu jari telunjuk mengarah ke orang lain, maka tiga jari lain mengarah ke diri kita sendiri,” artinya, jika kita akan memberi tanggapan mengenai orang lain, maka introspeksilah diri kita terlebih dulu, dalam-dalam.

22 October, 2007

AKAL

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:50 am

AKAL BUKAN UNTUK AKAL-AKALAN

“Agama adalah akal. Tidak ada kewajiban beragama bagi orang yang tidak berakal.” (al-Hadis).

Memang, tidak semua hal di dalam agama yang mampu dikaji oleh akal, terutama yang berkaitan dengan dzat yang berada “di atas” manusia, yaitu Tuhan. Tidak mungkin kita yang berada di dalam lingkup ruang dan waktu dapat mengenal Tuhan dengan akal kita. Kita tidak tahu bentuk dan rupa Tuhan, kita tidak tahu di mana posisi Tuhan, kita tidak tahu sedang apa Tuhan, kita tidak tahu apa mau Tuhan, dan seterusnya, dan sebagainya. Bahkan seorang nabi pun tidak dapat mengenal Tuhan. Semua itu hanya karena Tuhan sendiri yang memperkenalkan diriNya kepada para nabi. Contoh : “Katakanlah (kepada mereka) bahwa Aku ini satu, Aku tidak beranak dan tidak diperanakkan?” dan seterusnya.
Jadi, kita “mengenal” Tuhan karena berita dari nabi, dan kita bisa menerima (perkenalan) itu (sebagian besar) dengan keyakinan (iman), sisanya kita hanya bisa “mengenal” Tuhan dari dari ciptaanNya (setelah lebih dulu kita memiliki iman). Jadi, tanpa iman, orang tidak akan percaya dengan adanya Tuhan. Kita mau bolak-balik akal dari hasil ciptaanNya yang bisa kita saksikan ini tidak akan mengubah pandangan orang atheis, karena mereka tidak dilandasi iman.

Hal gaib yang paling dekat dalam kehidupan kita adalah nyawa (sumber pemberi kehidupan/ power supply), dan ruh (kekuatan/ software). Mereka (gaib-gaib tersebut) memerlukan tempat agar dapat `berada’ di alam berdimensi ruang dan waktu, yaitu tubuh (hardware). Dengan demikian, gaib-gaib kita sebenarnya tidak ada di alam ini, sehingga bila mereka `dipanggil kembali’ oleh Sang Pencipta (istilahnya : meninggal dunia), maka mereka tidak ada (lagi) di dunia ini. Jadi tidak ada itu arwah gentayangan di dunia, arwah tersesat di dunia, dan sejenisnya. Akal kita pun tak bisa mengetahui dengan pasti di mana `kita’ berada sebelum diberi tubuh, dan kemana tempat `kita’ akan kembali.

Apakah Tuhan (dan arwah-arwah manusia) kini ada di (lapis) langit ke tujuh sebagaimana nabi Muhammad pernah melakukan perjalanan dalam rangka isra’ mi’raj ?. Kalau begitu, masih berada di alam material (dimensi ruang dan waktu), yang suatu saat bisa `dilayari’ pesawat ulang-alik (hasil karya akal manusia), jadi bisa piknik ke surga dan neraka dong ??. Ingatkah kita ketika (ruh) kita berkumpul sebelum kita menempati tubuh-tubuh kita sekarang ?, tentu tidak ada yang ingat. Itulah keterbatasan akal (daya ingat) kita. Ketika itu (menurut orang tertentu yang tidak perlu saya sebut namanya), kita sudah menandatangani `surat perjanjian’ dengan Tuhan, mau jadi apa kita di dunia nanti. Jadi (katanya), belum tentu seorang pelacur akan masuk neraka, tergantung perjanjiannya dulu. Yang pasti, tidak satu orangpun (kecuali mungkin para nabi) yang bisa tahu akan dimasukkan ke neraka atau surga nantinya. Kini kita hanya bisa berusaha dan berharap untuk dimasukkan ke surgaNya dengan mengikuti segala petunjuk yang diberikan oleh agama kita. Surga dan neraka pun akal kita tidak bisa mencapainya, semua hanya dipersepsikan (digambarkan) sesuai dengan petunjuk para nabi. Masuk ke surga atau neraka, itu adalah hak prerogatif Allah.
Dua hal yang pasti adalah (1) Tuhan tidak akan pernah berpaling (memungkiri)  ketetapan-ketetapan (hukum-hukum) yang telah dibuatnya, dan (2) setiap janji Allah pasti akan dikabulkannya. Untuk itu, bila kita ingin masuk surga adalah dengan cara mengikuti ketetapan-ketetapan Allah dan mengerjakan hal-hal yang telah dijanjikan oleh Allah akan dibalas dengan surgaNya.

HARDWARE dan SOFTWARE : IMBAL-BALIK

Virus komputer (yang software) bisa merusak data (software) kita dan akibatnya (bisa juga) merusak (fungsi) hardware. Air (yang hardware) bisa merusak CPU kita (hardware), dan akibatnya, bisa merusak pula (fungsi) software. Selalu ada aksi-reaksi antara software dan hardware.
Begitupun pada diri manusia, jangan berbangga atau berbahagia dulu jika Anda bergelimang harta karena (hasil) korupsi atau mengambil yang bukan hak Anda. Pasti harta itu akan kembali (pergi) lagi dari Anda, dan perginya itu dengan cara-cara yang merupakan pembalikan dari kebanggaan dan kebahagiaan Anda dulu ketika mendapatkan harta itu. Siapkah Anda ?.
Lihatlah di sekeliling kita, orang-orang yang korupsi, tampaknya mereka tenang dan bahagia. Sebetulnya tidak, mereka hanya pandai bersandiwara di depan kamera atau di depan publik. Padahal hatinya banyak yang sedang menderita hebat. Ada hartanya yang sedang dikeluarkan untuk membayar puluhan Pengacara kondang, sementara kasusnya tidak tuntas-tuntas, keluarga berantakan, anak-cucunya sakit-sakitan, istrinya minta cerai, teman-teman dekatnya kabur, tidurnya tidak bisa nyenyak, penyakit mulai menggerogoti, dan sebagainya-dan sebagainya.

HUKUM KARMA ?

Di Islam memang tidak digunakan istilah `hukum karma,’ tetapi banyak ayat yang secara tersirat menyatakan bahwa “apapun yang kamu lakukan (baik atau buruk) hasilnya akan kembali kepada dirimu sendiri.” Serupa juga dengan pepatah kita “siapa menanam benih, dialah yang akan memanen hasilnya.”
Secara akal memang tidak dapat diterima, kita mendapatkan uang (meski dengan cara apapun) kok (uang) itu (nantinya) akan kembali (pergi) dari kita. Kan bisa saja kita keluarkan dengan perhitungan cermat agar mampu dinikmati keturunan-keturunan kita, bahkan hingga tujuh turunan.
Tentu saja bisa, bahkan sampai turunan ketujuh bahkan lebih. Tapi itu harta yang tampak (hardware), tetapi tidak dengan harta tak tampak (software). Harta yang tidak tampak adalah kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, dan sejenisnya. Bisa jadi, biaya kesehatan ditanggung perusahaan (pemerintah), tapi, enakkah sakit ?, apalagi harus bolak-balik ke rumah sakit. Bahagiakah jika kita mendapatkan anak-anak kita nakal, bodoh, cacat, narkobais, dan semacamnya ?. Bisa jadi kita bisa membeli kebahagiaan lain (berpaling sejenak/ kebahagiaan semu), tetapi ketika kembali ke kenyataan ?. Bisakah kita tenang jika malam tiba kita diingatkan akan kematian kita ?, bisakah kita tenang ketika aparat penegak hukum mulai mendekati kasus kita ?.

NASIB dan TAKDIR

Akal kita juga sulit untuk memecahkan pertanyaan “berapa lama usia hidup seseorang ketika orang itu baru dilahirkan (masih bayi) ?.” Sama juga ketika ditanya “kenapa si A harus meninggal, sementara si B belum, padahal usianya sama, dan sama-sama naik pesawat naas itu ?.”
Nasib adalah keadaan nyata mulai saat ini ke depan (saat ini dan yang akan terjadi), sedangkan takdir adalah masa lalu (telah terlewati/ telah terjadi). Saat ini kita miskin, maka itu nasib, masih dapat diperbaiki ke depannya. Mobil itu telah hancur karena menabrak pohon, maka itu adalah takdir. Jadi, tidak ada satu orang pun yang sudah ditakdirkan masuk ke surga atau neraka, karena hal itu belum terjadi. Hal ini merupakan bantahan saya kepada ulama yang menyatakan bahawa setiap orang sudah ditetapkan (ditakdirkan) masuk ke surga atau masuk ke neraka sejak saat ia dilahirkan. Yang diterapkan akan masuk ke surga atau neraka adalah perilakunya, bukan orang per orangnya. Sehingga jika ada orang yang (misalnya) berperilaku buruk selama hidupnya, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka, siapa pun orangnya.
Hancurlah peradaban bumi jika orang per orang sudah ditetapkan surga atau nerakanya. “Kan kita belum tahu ?, maka kita harus berusaha berbuat baik agar bukan kita yang ke neraka ?” kata ulama itu. “Ngapain harus tahu dan ngapain harus berbuat baik kalau ketetapan itu sudah ada. Jika kita telah ditetapkan masuk ke neraka, kenapa juga capek-capek harus berbuat baik, mendingan mulai sekarang berbuat tidak baik saja, toh kalau masuk neraka memang sudah selayaknya, tapi mungkin juga kan (ditetapkan) masuk surga ?, dari pada berbuat baik terus tetapi telah ditetapkan masuk neraka juga.”
“Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika tidak kaum itu sendiri yang mengubahnya.” So, Tuhan `lepas tangan’ kan ?. Tuhan menciptakan segalanya sudah berikut sistem (tatanan) di dalamnya. Jadi, ke depan, silakan orang sendiri yang harus mengubahnya, jangan harap Tuhan menjatuhkan `harta’ ke orang-orang yang hanya menadahkan tangannya minta kekayaan.
Jadi, pesawat ulang-alik yang meledak di udara dinamakan dengan takdir (awaknya meninggal dan peswatnya hancur). Tetapi teknologi kedirgantaraannya baru saja menerima takdir buruk tentang kehancuran pesawat itu, ke depan, rancangan pesawat baru (nasib) masih bisa diperbaiki (diubah/ modifikasi) dengan cara mempelajari kejadian itu.
Seorang ulama pernah menyatakan bahwa nasib (buruk) akan terjadi ketika kenyataan yang (akan) didapatnya kurang dari apa yang dipikirkan, apa yang dikhayalkan, apa yang diharapkan, atau apa yang dipersepsikan oleh seseorang. Misalkan, seorang pedagang mengharapkan akan mendapat keuntungan 10 dari dagangannya, ternyata hanya mendapat keuntungan 2, sehingga dia berkeluh `oh, nasib?).

PAHALA dan DOSA

Banyak ayat yang mengajak kita untuk melakukan hitung-hitungan tentang pahala dan dosa. Misalkan saja, jika kita sholat berjamaah, maka pahalanya tujuhbelas kali lipat dari pada sholat sendiri. Beribadah di malam lailatul qadr pahalanya lebih baik dari seribu bulan, dan semacamnya. Sudahkah Anda menghitungnya ?.
Sementara, untuk dosa tidak ada hitung-hitungannya, melainkan secara global saja, dosa kecil, dan dosa besar (tentu ada pula yang di tengah-tengahnya atau yang mendekati keduanya). Saya sendiri sampai saat ini tidak tau pasti, dosa besar itu bisa dibayar dengan pahala sebanyak apa (berapa perhitungannya ?).
Tuhan itu Maha Cepat Perhitungannya, karenanya tidak ada ciptaanNya yang dibuat secara asal-asalan, semua memiliki perhitungan (rumusan atau satuan). Bumi berputar mengelilingi matahari ada hitungan rumusnya dan ada satuan waktunya. Lalu, untuk pahala dan dosa bagaimana rumusannya dan apa pula satuannya ?. Bisakah akal kita `menggapainya ?’ sehingga sejak dini kita bisa tahu neraca  `balance’nya.
Ada ayat yang intinya menjelaskan bahwa “tutupilah keburukanmu (dosamu) dengan kebaikan (pahala),” “penyakit yang kau derita merupakan pembakaran atas dosa-dosamu, maka bersabarlah,” “puasa merupakan upaya untuk menghapus dosa-dosamu,” “setan berada di setiap aliran darahmu,” dan ayat-ayat semacamnya.
Kemungkinan, ada hubungan antara dosa-penyakit-setan, dan pahala-obat-antibodi. Jadi, jika seseorang selalu berbuat kejahatan dalam hidupnya, maka dosa-dosanya akan bertumpuk yang menjadikan tubuhnya ditimbun berbagai bibit penyakit yang mengakibatkan tabiatnya menyerupai setan. Tabiat setan adalah  pengganggu orang baik, penggoda iman, memanasi hati, pembangkang dari kebenaran, dan sejenisnya. Jadi, orang yang jahat pasti paling suka mengganggu orang yang baik, menggoda orang yang beriman, suka memanas-manasi hati agar merusak keimanan seseorang, dan sejenisnya.
Sebaliknya, orang yang suka berbuat baik, maka ia telah menimbun dirinya dengan obat yang akan menyerang penyakit-penyakit (dosa-dosa) yang sempat masuk (tidak ada orang yang luput dari dosa), dan akan menguatkan tubuhnya dengan memproduksi zat antibodi (penguat iman) dalam tubuhnya sendiri. Dengan demikian, orang yang baik pasti (hatinya) akan merasa sehat (tenang, tenteram, damai), dan selalu meningkatkan amal ibadahnya dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, akan ada hubungan antara sifat (software) dan penyakit (hardware) yang diderita. “Hendaklah manusia memperhatikan apa yang dimakannya, pilihlah makanan yang baik-baik?” Makanan yang baik-baik di sini, bukan semata merupakan makanan yang berprotein baik, tinggi gizi, dan semacamnya, melainkan termasuk juga baik cara mendapatkannya (halal). Pernah kita perhatikan bagaimana seorang pemulung yang sedang makan di areal sampah yang penuh lalat tetapi ia sehat-sehat saja. Sering pula kita saksikan orang yang makan makanan bergizi, dan di tempat yang bersih tetapi sering sakit.
“Di dalam tubuh manusia ada segumpal daging yang bila ia sakit maka akan sakitlah seluruh tubuhnya, daging itu adalah hati?” Kata `hati’ di sini, bisa saja diartikan sebagai hardware, yaitu lever, dan dapat juga diartikan sebagai software yaitu batin. Orang yang terkena penyakit lever (stadium tinggi), maka hatinya akan mengeras, dan akibatnya, ia tak bisa makan maupun minum. Karena tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman, maka sakitlah seluruh tubuhnya. Begitu juga, orang yang batinnya sakit, maka seluruh sendi-sendi kehidupannya akan menjadi sakit. Salah satu penyakit batin yang berat adalah rasa putus asa, dengan keputus-asaan, orang bisa jadi `gelap mata’, bahkan bisa melakukan bunuh diri.

KESIMPULAN

Tuhan menganugerahi manusia dengan akal, berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya (anorganik), tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Sesuai dengan usia dan kematangan jiwa seseorang, maka seharusnya akalpun `diajak’ untuk maju berkembang, baik dalam cara berfikir maupun kemampuan mengolah data (informasi).
Seperti pada kata `membaca dua kalimat syahadat,’ jika kita masih di bawah umur (belum akil balik) maka cukuplah dengan mengucap kalimat itu (hafalan), tetapi kalau kita sudah akil balik, maka kalimat itu tidak cukup hanya untuk diucapkan (melainkan harus dimengerti). “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah” harus kita aplikasikan dalam kenyataan (sifat Wujud Tuhan), yaitu segala yang apa yang kita miliki berasal dan akan kembali kepada Allah, tidak ke yang lain. Karenanya, tidak perlu terlalu berduka bila kita sedang ditimpa bencana (simpanlah duka itu sendiri, jangan berkeluh-kesah), dan tidak perlu terlalu senang bila kebahagiaan sedang diberikan kepada kita (bagilah kebahagiaan itu pada sesama). Orang miskin adalah ladang amal orang kaya, orang bodoh adalah ladang amalnya orang pandai, dan seterusnya.
Begitu juga dengan amalan-amalan lainnya, sholat, puasa, zakat, haji, dan berbagai amalan-amalan lain, harus mampu diwujudkan dalam tingkah laku kita sehari-hari. Saya berpendapat, belum haji lah seseorang, bila di sana (masjidil haram), seseorang itu berhasil mencium hajar azwad (batu di sudut ka’bah) dengan cara menyakiti (menginjak, mendorong, menyikut, dsb.) jamaah-jamaah lain.
Jadi, manfaatkanlah akal untuk berpikir dalam `mewujudkan Allah’ di dalam sendi-sendi kehidupan kita. Jangan gunakan akal untuk menjadi akal-akalan (mencari dalih pembenaran) atas perbuatan dosanya. Misalkan, `saya tidak korupsi, (hasil) ini merupakan pemberian orang lain secara ikhlas,’ dari mana ia tahu orang lain itu ikhlas ?, apakah ia akan memberi itu juga bila ia tidak memegang jabatan tertentu ?.

Hidup Lebih Bermakna

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:11 am

AKAL, dan MORAL

(Kajian dari buku “Hidup Lebih Bermakna” oleh Muhammad Zuhri)

Tulisannya :
“Banyak informasi di bidang ilmu agama yang satu dengan yang lain berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan kemampuan narasumber dalam berinterpretasi. Perbedaan ketika menafsirkan masukan-masukan yang datang dari Rabbul `Alamin, fenomena-fenomena alam, gejala-gejala sosial, dan sejarah. Inilah sebabnya dalam Islam dikenal beberapa mazhab, misalnya mazhab Syafi’i, Hambali, Hanafi, dan Maliki. Mereka memiliki sesuatu yang berbeda (khas, unik), tetapi mereka menyandang misi yang sama, yaitu ingin menyampaikan makna atau nilai yang berguna begi perkembangan umat Islam pada zamannya.”
Selanjutnya :
“Agama itu satu, dan agama datang dari semesta di luar ruang dan waktu. Karena agama berasal dari semesta di luar ruang dan waktu, maka untuk merealisasikan perintah atau larangan Tuhan ke dalam ruang dan waktu, manusia harus menginterpretasikan firman-firman Tuhan. Manusia harus memahami karena manusia yang harus mempraktikkannya. Untuk memahami itulah manusia harus memberikan interpretasi–merespon apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan. Interpreter-interpreter itulah yang menjadi narasumber-narasumber, dan narasumber-narasumber harus kontekstual dengan tantangan zaman. Jika tidak kontekstual dengan tantangan zaman, informasinya akan ditolak oleh pendengar.”
Dilanjutkan lagi dengan :
“Penafsir-penafsir yang akan disambut adalah yang sanggup memberikan terobosan-terobosan (solusi) terhadap stagnasi, ketika seseorang tidak bisa berkembang atau mengalami peristiwa dilematis–bertindak salah, tidak bertindak juga salah. Penafsir-penafsir yang disambut adalah mereka yang sanggup memancangkan perspektif yang menggairahkan kehidupan beragama pada masa depan.”
Kutipan terakhir saya :
“Tantangan zaman sekarang, datang dari kalangan saintis dan filosof. Tantangan mereka terhadap doktrin-doktrin dari semua agama, bahkan teologi kita tentang Tuhan diporakporandakan. Mereka minta bukti bahwa Tuhan itu ada. Mereka minta bukti bahwa Tuhan itu adil. Mereka minta bukti bahwa Tuhan itu sempurna. Tentu saja permintaan-permintaan mereka ditujukan kepada para ulama, tetapi para ulama sendiri tidak sanggup memberikan bukti-bukti argumentatif yang memadai, sehingga serangan-serangan mereka tidak terjawab.”
—-Selanjutnya silakan baca sendiri, banyak tulisan-tulisan yang sangat menarik untuk disimak, termasuk dari pengertian Surat Muhammad [47]: 7 bahwa maksud dari “Menolong Allah” adalah membantu Dia yang gaib menjadi “nyata”, berkondisi syahadat [nyatakan/ ungkapkan (sifat-sifat) Allah di dalam sikap kita sehari-hari], jadi bukan menolong dalam arti kata fisik.—-

Saya memahami, akan “dibawa kemana” pikiran kita oleh tulisan beliau itu. Ada beberapa tujuan pikiran kita akan dibawa, yaitu (1) kita diminta menjadi penafsir-penafsir yang bisa menafsirkan agama (dalam hal ini Al Quran) ke konteks kekinian (agar Al Quran memang berlaku sepanjang zaman), (2) untuk itu, kita diminta untuk terus menggali ilmu (baik ilmu agama maupun ilmu umum), (3) agar kita memiliki argumentasi kuat dalam menjawab atau memberi penjelasan atas tantangan zaman (bukan sekadar pasrah dan berkata “pokoknya itu kemauan Tuhan, mau percaya syukur, tidak terserah”, yang berarti kita gagal mengemban misi sebagai penyampai ayat-sampaikanlah meskipun satu ayat).

Memang ada di antara rekan saya (saintis) yang pernah melontarkan pertanyaan : “Adilkah Tuhan ketika ada seorang bayi yang lahir dalam keadaan cacat, padahal ia belum berdosa.” Tapi hal itu sebenarnya pertanyaan yang menguji rekan-rekan lain sedangkan ia sendiri sudah mendapatkan jawabannya (menurut ilmunya sendiri tentunya). Dari sana bisa diketahui, mana rekan-rekan yang argumentasinya `nyeleneh’, ada yang menjawab seenaknya, ada yang bilang tidak perlu dijawab, tidak tahu, ada yang diam, dan ada yang menjawab pasrah “itu urusan Allah.”

Jelas terlihat, ada kelemahan kita dalam pemahaman keberagamaan kita, sering kita pasrah, masa bodoh, dan tidak mau mengkaji lebih mendalam untuk mendapatkan argumentasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan (semacam) itu. Jelas, hal ini menjadi `titik lemah’ umat kita, sehingga ketika negara lain sudah menciptakan pesawat ulang alik, kita hanya berucap “kalau Allah mau, bangsa kita bisa melebihi mereka.” Inilah potret keberagamaan kita.

Jangan jauh-jauh, ada rekan-rekan (dosen) yang berkata pada mahasiswanya : “bagi saya, nilai 100 hanya untuk Tuhan, saudara-saudara hanya mendapat nilai maksimal 90.” Bisakah kita tertawa dengan perkataan itu ?. Tega-teganya ia memberi nilai untuk Tuhan. Tega-teganya ia menyatakan bahwa seorang mahasiswa (bisa) memiliki ilmu (untuk mata kuliah yang diajarkannya) 90/100 dari ilmu Tuhan. Tega-teganya ia membandingkan Tuhan dengan mahasiswa.

Kata “Maha” dalam pengertian umum adalah sesuatu yang tidak dapat dibandingkan, mana mungkin Tuhan yang Maha Pengasih, sifat kasihnya dibandingkan dengan manusia (yang berlainan dzat). Kata “Maha” ini banyak yang disalahgunakan, termasuk kata “mahasiswa,” sehingga istilah student di negara barat, baik untuk anak SD, SMP hingga S3 sama, rasanya lebih islami. Banyak lagi kata “Maha” digunakan, seperti “Maha Karya” pelukis Affandi, bom yang diledakkan di Hiroshima “maha dahsyat,” dan sebagainya.

AKAL dan MORAL

“Agama adalah akal. Tidak ada kewajiban beragama bagi orang yang tidak berakal.” (al-Hadis).

Islam benar-benar suatu agama yang bisa dicerna dan dipahami dengan akal pikiran, meskipun agama itu sendiri bertujuan menggapai sesuatu yang tidak tergapai oleh akal pikiran.
Ketika kita masih kecil, akal kita tidak akan sampai untuk membuat argumen, kenapa kapal laut yang terbuat dari besi (dan diisi truk-truk dan orang-orang) bisa mengapung sedangkan uang logam kecil saja tenggelam ?. Inilah gambaran bahwa kita dituntut untuk mencari ilmu agar kita bisa mengerti (menguasai) hukum-hukum alam (mengkaji ayat-ayat Allah).
Dalam beragama, ada yang disebut dengan dalil aqli (akal) dan naqli (percaya saja). Namun demikian, jangan sampai dalil aqli yang kita miliki tidak berkembang, dari SD sampai sekarang kemampuan aqli kita sama saja. Tentunya, sedapat mungkin dalil naqli kita lambat laun menjadi aqli (meskipun tidak semua, karena ilmu kita amat terbatas, tak berbanding dengan ilmu Allah).
Dengan penguasaan aqli yang terus meningkat, maka moral kita akan mengikutinya. Istilah anak kecil “kalau tidak mau dicubit (karena rasanya sakit), maka jangan mencubit orang lain.” Peningkatan pemahaman akan meningkatkan moral (perilaku).

CONTOH

Surat Al Ma’un[107]:4-5 “Maka celakalah orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap sholatnya.”
Apakah kita bisa menemukan jawaban : “Apa bedanya orang yang sholat dengan orang yang tidak sholat ?.”
Banyak yang mengartikan ayat tersebut dengan “jangan sampai kita bolong-bolong sholatnya,” ada yang mengartikan “di dalam sholat, jangan sampai ada rukun sholat yang tertinggal,” dan sebagainya. Semua memang tidak salah, tetapi sesuai dengan bertambahnya usia, bertambahnya tingkat pendidikan, maka kita harus dapat memberi makna yang lebih dari sekadar itu.
Sholat berisi doa-doa, berisi janji (ikrar), dan berisi pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan, sehingga kita menghambakan diri untuk menuruti segala perintah dan larangan Tuhan. Apakah ini sudah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari ?. Sederhana saja, ucapan “Allahu Akbar” yang diucapkan berkali-kali dalam sholat. Apakah kita benar-benar mengakui Kebesaran Tuhan ?, (kalau sudah, berarti kita mengakui diri sangat kecil sekali, lalu karena itu) sudahkah kita selalu bersikap rendah hati, santun, dan tidak sombong kepada orang lain ?. Orang lain juga milik Tuhan, sehingga tidak boleh kita rendahkan/ remehkan.
Jadi, kita harus bisa melihat beda orang yang sholat dan orang yang tidak sholat, yaitu dalam tutur kata dan perilakunya sehari-hari, yang menandakan sudahkah ia khusuk dan tuma’ninah dalam sholatnya. Celakah ia bila ia sholat (secara fisik) tetapi lalai dalam (mengaplikasikan) sholatnya.

Apakah kita bisa menemukan jawaban : “Apa bedanya orang yang berpuasa dengan orang yang tidak berpuasa ?.” Orang yang berpuasa telah membakar sel-sel dalam tubuh (daging, tulang, dan otak) yang “merekam dosa-dosa” mereka untuk memenuhi energi (kalori) dalam menjalankan aktivitas mereka pada saat berpuasa, dan ketika lebaran tiba, sel-sel itu akan diganti (oleh Allah) dengan sel-sel baru yang masih nature (alami) dan murni (fitri). Dengan kemurnian sel-sel baru tersebut maka orang tersebut akan melakukan perbaikan sistem (perilaku yang menjadi lebih baik) hingga tiba masa puasanya lagi. Dengan demikian, orang yang tidak berpuasa akan sulit mungubah sistem (tabiat buruknya) yang selama ini ada di dirinya.

KESIMPULAN

Jagat raya yang luas ini memiliki aturan-aturan yang pasti, dan untuk mengetahui aturan-atruan itu, orang harus `mengekplorasi’ kemampuannya. Hal ini dilakukan, misalkan oleh Thomas Alfa Edisson, Archimedes, Albert Einstain, dan sebagainya. Secara garis besar, aturan-aturan itu juga dituangkan dalam kitab Al Quran, sehingga perlu dieksplorasi (dikaji) pula. Karena sifatnya yang abadi, maka ayat-ayat Al Quran harus dapat “diterjemahkan” mengikuti perkembangan atau tantangan zaman. Tentu saja, untuk menerjemahkan Al Quran agar dapat menjawab tantangan zaman, diperlukan orang-orang yang berilmu (dari bidangnya masing-masing). Jadi tantangan dari bidang manapun bisa dijawab oleh ahli (ulama) dari sisi ilmu manapun.

8 October, 2007

Perbedaan dalam Keberagamaan

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:21 pm

PEMAKNAAN AGAMA ITU BERTINGKAT-TINGKAT
(DERAJAT KEIMANAN BERBEDA-BEDA)

“Tiadalah sama, orang yang berilmu dan orang yang awam. Tiadalah sama pahala seorang imam dan seorang makmum. Tiadalah Tuhan menilai hambanya kecuali atas dasar ketaqwaannya. Surga dan neraka pun dicipta bertingkat-tingkat.”

Kalau ada orang yang menyalahkan kita tentang makna dari suatu ayat, maka hendaknya ia bertobat atas penyalahannya itu. Kita kenal empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki), padahal ada ratusan bahkan ribuan mazhab, dan boleh tidak mengikuti hanya satu mazhab itu, bahkan kita bisa punya penafsiran sendiri (dengan ilmu kita), toh mereka juga manusia semua seperti kita dan hidup di jaman mereka sudah berbeda sekali dengan jaman kita kini.
Yang penting, pemaknaan ayat itu berazaskan pada ilmu (bukan hanya sekadar ilmu agama), dan bukan semata-mata atas kepentingan diri sendiri. Contoh sederhana, pengertian `malam lailatul qadr,’ mungkin dari kita masih SD dulu hingga sekarang, banyak yang mengartikan seperti sebuah malam yang indah, tenang, sejuk, dan pada malam itu tepat turunnya Al Quran ke bumi.
Sebetulnya kita boleh bertanya, apakah Al Quran itu seperti sebuah pesawat terbang yang mengelilingi dunia (selalu bergerak mengelilingi bumi untuk mencari tempat-tempat yang malam di hari itu) ?. Bukankah malam di Indonesia berarti siang di Amerika ?. Jadi, malam yang di mana ?.
Itu baru satu contoh bahwa pemahaman kita boleh saja berbeda, tetapi kita jangan menyalahkan pemahaman orang lain, mungkin karena ilmunya baru sebatas itu (atau sudah tinggi di luar jangkauan kita), apalagi terhadap mereka yang `percaya mati’ artinya tidak perlu lagi dipikir-pikir, tidak perlu lagi dikaji-kaji, pokoknya kalau sudah begitu ya begitu, kalau Tuhan sudah punya mau, kita bisa apa ?.
Contoh pemahaman lain yang bisa berbeda adalah ketika nabi Muhammad SAW melakukan isra-mi’raj untuk menghadap Allah. Sebelumnya, dadanya dibelah dan dicuci dengan air zam-zam agar hatinya bersih tak bernoda. Kemudian beliau diperjalankan hingga ke langit ketujuh untuk menerima perintah sholat. Di perjalanan dari setiap lapis langit beliau bertemu dengan nabi-nabi lain sebelum beliau (Adam, Yahya & Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim).
Saya tak bisa menyalahkan mereka yang berpikir bahwa atas kuasa Allah nabi Muhammad SAW diperjalankan secara fisik melewati planet-planet dan galaksi-galaksi. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan mereka yang berpandangan bahwa nabi Muhammad tidak melakukan perjalanan secara fisik, melainkan secara batiniah (terbebas dari dimensi ruang dan waktu), dan saya tidak menyalahkan mereka yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan simbol-simbol belaka bahwa ada tujuh tingkatan batin menuju kesempurnaan iman seseorang. Silakan saja.

Yang jelas Tuhan telah memerintahkan kita bahwa jangan pernah berhenti menuntut ilmu guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Dan kemana pun ilmu itu kita kejar, ujung-ujungnya pasti mengarah kepada kehebatan penciptaan dan kekuasaan Tuhan. Dengan begitu, keimanan dan ketaqwaan kita semakin besar dan derajat kita ditinggikan oleh Allah SWT.

Kita tahu, semua yang ada di jagad ini bersumber dari Tuhan. Begitu juga dengan agama-agama yang ada di dunia ini, bersumber dari satu, yaitu Tuhan. Lalu, mengapa akhirnya terjadi banyak agama, dan kepercayaan-kepercayaan lain yang ada di sekitar kita ?.
Jawabannya mudah saja, jika ada sebidang tanah, kemudian dua orang menanam tumbuhan yang sama dari bibit yang sama di tanah itu, hasilnya bisa berbeda. Dua orang saudara kembar identik sekalipun, yang merupakan keturunan dari orang-tua yang sama, sifatnya tidak akan sama seratus persen. Jadi, maklumlah jika ada banyak organisasi Keislaman, seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Ahmadiyah, Jamaah Islamiah, dan banyak lagi yang lainnya, belum lagi yang tidak berorganisasi.
Seharusnya, perbedaan-perbedaan semacam ini tidak perlu dipermasalahkan karena hal ini menjadi hak asasi individual setiap pengikutnya. Perbedaan-perbedaan semacam ini jangan dijadikan pemicu perpecahan umat (bangsa), sebaliknya harus dijadikan referensi kekuasaan Tuhan dan dijadikan sarana untuk berbuat amal kebaikan. Jika ada satu kaum yang menganggap sesat kaum lainnya, maka duduklah dengan damai, musyawarahkan, dan ambil kesimpulan, bukan harus dimusuhi dan diperangi. Benar-salah, dan pahala-dosa dalam beragama adalah urusan Allah, kita tidak memiliki hak menghakimi (menentukan pahala-dosa) sesama manusia dalam menjalankan keyakinan (agama)nya masing-masing.

Ada pertanyaan dan pernyataan yang menggelitik dari buku “Hidup Lebih Bermakna” Muhammad Zuhri, 2007 yang bisa menjadi introspeksi bagi diri kita sendiri agar jangan suka (gampang) menyalahkan (keyakinan) orang.
1. Agama itu satu, dan agama datang dari semesta di luar ruang dan waktu. Karenanya, untuk merealisasikan perintah atau larangan Tuhan ke dalam ruang dan waktu, manusia harus menginterpretasikan firman-firman Tuhan, karena ia sendiri yang harus mempraktikkannya. Manusia harus memberi interpretasi-merespons apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan. (p.34)
2. “Adilkah (Tuhan) ketika seorang yang baru lahir dalam kondisi cacat, sedangkan dia belum berdosa ?.” (p.36)
3. Jika seorang scientist menghasilkan perubahan yang nyata dari waktu ke waktu (misalkan teknologi informasi), perubahan apa yang nyata dari seorang yang telah menunaikan kelima rukun Islam ? (intisari p.36-38)
4. Tidak satupun makhluk yang tahu keberadaanNya, pun nabi dan malaikat. Dia tidak dapat dikenal oleh siapapun dan oleh alat apapun, bahkan dengan akal, budi, perasaan, ibadah, dan kesucianpun tak sanggup mengenalNya. (intisari p.100)

Nah, jelaslah, bahwa tidak ada satupun makhluk yang bisa “membayangkan” seperti apa Tuhan. Jika membayangkan saja tidak bisa, dari mana mereka tahu apa yang dikehendakinya ?. Bisa jadi dari para nabi yang Tuhan sendiri memperkenalkan dirinya kepada para nabi (karena para nabipun awalnya tidak bisa mengenal Tuhan). Seperti seorang guru yang mengajar ilmu yang sama di depan kelas, tidak semua murid bisa menerima materi pelajaran itu (dengan hasil yang sama).
Meski berbeda, atas persepsinya, atas hal-hal yang dialaminya, atas hal-hal yang dikajinya, pendapatnya itu kemudian menjadi keyakinan dirinya dan disampaikan kepada murid-murid (pengikutnya). Demikian seterusnya turun-temurun berkembang sesuai dengan perkembangan jaman.

Kesimpulan:

Pemahaman orang per orang tentang agama yang dianutnya bisa berbeda-beda. Keyakinan seseorang berawal dari apa yang ia terima dari `guru’nya, kemudian diuji oleh `suasana’ dalam perjalanan hidupnya. Keyakinan itu bisa semakin kuat (karena menurutnya terbukti benar), tetapi bisa juga berpaling (berubah, karena meragukan).
Sebagaimana pendidikan formal, maka pemaknaan agama bisa bertingkat-tingkat dan umumnya sesuai dengan kematangan pendidikan, usia serta pengalaman hidupnya. Itulah, mengapa Al Quran adalah kitab yang berlaku sepanjang masa, karena jika `burung ababil’ saat ini sudah tidak ada, tentu ayat itu perlu kita tip-ex, begitu juga dengan `budak’, bila saat ini sudah tidak ada budak, maka ayat itu juga perlu kita tip-ex. Kalau pemahaman kita tidak bertambah (tidak terus mengkaji ilmu pengetahuan), maka berapa banyak ayat yang sudah kita tip-ex ??.

3 October, 2007

Hardware Versus Software

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:12 am

HARDWARE VS SOFTWARE

Ada dua istilah yang umum di komputer, yaitu hardware dan software. Umumnya, hardware diterjemahkan dengan perangkat keras, sedangkan software diterjemahkan dengan perangkat lunak. Contoh hardware adalah monitor, keyboard, hard disk, dan segala sesuatu yang keberadaannya dapat diraba oleh indera peraba kita. Contoh software adalah operating system, program aplikasi, utility program, dan segala sesuatu yang kehadirannya tidak dapat diraba oleh indera peraba kita namun dapat dimonitor.

MANA YANG LEBIH PENTING ?

Jelas keduanya saling berkait sehingga keduanya menjadi penting, komputer tanpa software, seperti onggokan besi yang tidak berarti apa-apa. Sedangkan software tanpa hardware ibarat angan-angan yang tak pernah terealisasi. Namun demikian, pada akhirnya, software sering bernilai (dihargai) jauh lebih tinggi ketimbang hardware (tetapi banyak juga software yang bernilai rendah, semua tergantung kemanfaatannya bagi user).

MANUSIA : HARDWARE dan SOFTWARE

Komputer diciptakan oleh daya nalar manusia untuk membantu pekerjaannya, sehingga pada perancangannya, komputer diciptakan meniru cara berpikir (logika) dan cara bekerja manusia, Manusia juga memiliki dua sisi yaitu hardware dan software. Jika manusia hanya berupa hardware (fisik) saja, tanpa software, maka ia disebut dengan jasad atau mayat, Sedangkan jika hanya memiliki software saja, maka disebut dengan arwah.

MANA YANG LEBIH PENTING ?

Sama dengan komputer, keduanya saling terkait dan menjadi sama-sama penting, namun akhirnya software menjadi lebih penting karena akan kembali kepadaNya, sedangkan hardware-nya kembali ke asalnya (tanah). Namun, ada kalanya software itu tidak memiliki nilai (harga) apapun, sehingga lebih cocok dilebur (dibakar) saja.

SELALU ADA DUA SISI

Hidup dan kehidupan manusia sungguhlah amat kompleks, dan dalam kekompleksannya tersebut selalu terkandung dua sisi yang saling terkait erat satu sama lain, hardware (lahiriah) dan software (batiniah). Berbeda dengan komputer, komputer hanya mengolah data yang tersurat (dapat dikodekan dengan kode-kode yang telah dikenalnya), sedangkan manusia, selain mengolah data yang tersurat, bisa juga mengolah data yang tersirat (terkait dengan perasaan atau naluri).

FUNGSI AGAMA

Agama berfungsi untuk `mengisi’ software manusia dengan nilai-nilai atau kaidah-kaidah sesuai tuntunan agama yang dianutnya (dipahaminya). Dengan software yang telah diisi tersebut, saraf-saraf motorik akan menggerakkan tubuh (harware) sesuai dengan perintahnya.
Berbeda dengan komputer yang terus `patuh’ atas perintah software-nya, manusia memiliki kekompleksan sendiri. Dalam perjalanannya, manusia bisa dipengaruhi oleh lingkungannya, orang-orang dekat, oleh paham-paham lain, bahkan oleh kondisi fisiknya sendiri. Sehingga boleh jadi, dalam beragama, seorang manusia akan mengenal naik-turun atau pasang-surut tingkat keimanannya (karena pengaruh itu). Dengan agama, diharapkan kehidupan sosial kemasyarakatan bisa berjalan teratur, tenteram, dan sejahtera.

PERBEDAAN PAHAM

Dalam perjalanannya, kehidupan keberagamaan mulai `disusupi’ paham-paham yang berbeda. Masuk akal dan manusiawi, contoh, untuk menyebut `sepeda’ saja di beberapa daerah berbeda-beda, apalagi di seluruh dunia.
Meski asalnya sama, dari Tuhan, dan bahkan dari nabi yang sama, sebuah agama (contoh Islam) bisa menjadi terdiri atas banyak aliran (mazhab). Sebetulnya itu biasa-biasa saja, dan manusiawi, tetapi menjadi tidak biasa-biasa saja ketika satu kelompok merasa yang paling benar dan kelompok lain salah, bahkan kemudian memusuhinya dan memeranginya. Kebanyakan aliran menyatakan bahwa ia berpegang teguh pada Al Quran dan hadist, dan aliran lainnyapun demikian. Apanya yang salah ?.
Banyak hal dapat kita utarakan mengapa hal ini dapat terjadi, salah satunya adalah perbedaan `penafsiran’ ayat-ayat Allah atau hadist Rasulullah. Banyak ayat Al Quran yang dapat diterjemahkan secara gamblang (jelas), namun banyak juga yang samar-samar. Justru yang samar-samar ini yang menjadikan Al Quran tidak pernah kenal kata usang. Contoh, ada surat yang mengisahkan burung ababil dengan kerikil-kerikil baranya menghancurkan pasukan gajah. Mungkin saja (ketika itu) hal ini nyata, tetapi untuk saat ini, jangan berharap ada burung ababil dan pasukan gajah di medan perang, melainkan, negara yang memiliki kekuatan angkatan udaranya akan menjadi negara adi daya, pesawat-pesawat tempur (burung ababil) akan lebih mudah mengalahkan pasukan tank-tank (gajah) di darat. Atau surat yang memerintahkan umat untuk membuat pakaian perang dari besi. Bisa kita saksikan dalam sejarah, banyak baju besi yang dikenakan ksatria ketika maju ke medan perang (dulu), kalau sekarang masih dilakukan seperti itu ?, tentu jadi bahan tertawaan.

Sekali lagi, perbedaan-perbedaan itu manusiawi, karena yang esa cuma Tuhan. Hanya, jangan sampai perbedaan-perbedaan itu jadi permusuhan, malah sebaliknya harus menjadikan ladang amal kita untuk selalu bisa hidup akur meski ada perbedaan. Beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk menghindari permusuhan yaitu berlega hati, berlapang dada, perbanyak maklum, dan yang sejenisnya untuk menerima perbedaan itu dan tidak merasa paling benar sendiri.

BACA DAN KAJI AL QURAN : MAJULAH NEGERIKU

Entah tulisan apa yang dibawa malaikat ketika ia meminta kepada Muhammad untuk membaca (iqra) ketika pertama kali surat di Al Quran itu disampaikan. Bisa jadi, kata “bacalah” berkonotasi sama dengan “ucapkanlah” (sehingga malaikat Jibril tidak membawa tulisan apapun), Bisa jadi kata “bacalah” berkonotasi sama dengan “perhatikanlah,” dan sebagainya. Jadi, satu perintah bisa juga ditinjau dari aspek `tersurat’ maupun `tersirat,’
Anak buah yang hebat adalah anak buah yang bisa `menerjemahkan’ perintah atasannya. Jadi, atasan tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang perintah itu, tetapi cukup sedikit saja dan anak buah itu bisa mengerti apa yang tersirat dari perintah itu. Jadi bisa saja pimpinan mengucapkan kata “kemplang” untuk menghadapi para koruptor, tetapi maksudnya bukan “ditempeleng/ dikemplang” melainkan ditangkap, diadili dan dijebloskan ke penjara. Apakah semua anak buah memiliki kemampuan menerjemahkan perintah semacam itu ?, tentu tidak. Begitu juga dalam agama. Sehingga diperlukan kehadiran para kiai, alim-ulama, dan cendikiawan agama untuk menjelaskan kepada orang-orang awam tentang ayat-ayat Allah. Tetapi, tentu saja, mereka itu harus melaksanakannya secara ikhlas dan merasa bertanggung-jawab untuk menyampaikan kepada umat (bukan atas dasar rupiah semata, atau karena ingin tersohor), Apakah penjelasan itu akan sama-sama mereka pahami, belum tentu juga, namun setidaknya ada panutan yang akan dicontoh dan ada tempat untuk bertanya.
Seperti pada sub judul di atas,apakah dengan membaca dan mengkaji Al Quran negara kita bisa maju ?. Kalau pemahaman kita hanya membaca dan mengkaji Al Quran seperti Qori dan Qoriah membaca Al Quran dan dikaji artinya, tentu tidak mungkin hanya dengan begitu negara ini bisa maju. Biarpun orang-orang se Indonesia membaca Al Quran dari kecil sampai tua, kalau pengertiannya seperti itu dijamin tidak akan bisa memajukan bangsa.
Secara tersurat, oke, silakan baca dan kaji Al Quran untuk mengisi keimanan kita, tetapi untuk mengejawantahkan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan nyata harus mengerti apa yang tersirat.
“Di mana pun kau hadapkan dirimu, di sana pula kau temukan wajah Allah,” “Rasulullah adalah Al Quran yang hidup (berjalan),” “Di setiap jengkal tanah di sanalah rumah (mesjid) Allah,” “Burung-burungpun sujud kepada (ketentuan) Allah,” dan banyak lagi gambaran-gambaran perumpamaan. Dengan kata lain, dunia seisinya ini adalah (isi kandungan) Al Quran, sehingga seekor burung pun tunduk pada hukum alam yang telah ditetapkan Allah, ia tidak dapat hidup di dalam air sebagaimana ikan. Dengan demikian, seluruh makhluk yang ada di dunia ini pasti (suka atau tidak suka, senang atau tidak senang) berpegang hidup pada Al Quran. Namun banyak di antara mereka yang ingkar (mengingkari kenyataan), kufur nikmat (mengingkari nikmat), dan sejenisnya,

Saya amat memegang ajaran bahwa “Al Quran diciptakan sebelum Rasulullah ada, bahkan sebelum nabi Adam diciptakan.” Nabi Adam “diturunkan” ke dunia setelah dunia ini diciptakan dengan segala macam sarana dan prasarana yang menopang kehidupan nabi Adam.
Jadi kalau mendengar kata Al Quran, maka benak saya tidak semata berpikir ke sebuah barang cetakan (kitab) tebal dengan tulisan huruf Arab yang kadang dicetak di negara-negara non muslim dan dijadikan komoditas dagangan, melainkan juga berpikir ke alam ini. Di alam ini berlaku ketentuan-ketentuan Allah (sistem dan sunah), di alam ini tergambarkan kisah-kisah orang-orang terdahulu yang ingkar, di alam ini terlihat hubungan sebab-akibat, dan seterusnya seperti yang dituangkan ke dalam barang cetakannya (kitab). Dan bukan kitab tersebut yang diturunkan lembar per lembar kepada Rasulullah, melainkan ajaran-ajaran mengenai alam ini yang akhirnya dituangkan dalam bentuk kitab itu oleh sahabat-sahabat Rasulullah.
Jadi, bagaimana membaca dan mengkaji Al Quran yang dapat memajukan negeri kita ?. Tentu semua tergantung pada kemampuan (misalkan, tingkat pendidikan, usia, tingkat pemahaman, tingkat kekuasaan/ jabatan, dan sebagainya). Jika (tingkatan) kita seorang mahasiswa atau dosen atau peneliti, maka kita diminta untuk membaca (tanda-tanda/ fenomena/ hukum-hukum) alam mengkajinya (meneliti secara ilmiah), dan mengaplikasikan-nya dalam kehidupan nyata. Misalkan, bagaimana agar tumbuhan padi bisa dipanen tiga kali setahun ?, bagaimana menjadikan petir sebagai pembangkit tenaga listrik ?, dan sebagainya. Bila hasil pikir dan hasil karya itu membawa manfaat bagi umat, maka ia telah “khatam membaca” Al Quran. Bila hasil kajian itu banyak dilakukan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata, maka, negara ini tentu akan maju. Tuhan merasa berutang kepada orang yang memberi manfaat bagi lingkungannya dan akan dibayar kelak dengan surgaNya.
Dahulu, kajian itu banyak yang berasal dari orang-orang mukmin (contoh Al Jabar, dsb), namun akhir-akhir ini justru kajian-kajian banyak dilakukan oleh orang-orang non mukmin sehingga orang-orang mukmin banyak yang tertinggal dan berdalih “yang penting masuk surga karena menjadi Islam.” Padahal Allah telah berfirman : “apa pun yang akan dapat kau raih kelak, tergantung apa yang kau upayakan saat ini.”

KESIMPULAN

Kata “sholat” juga memiliki dua sisi, fisik (lahiriah) dan batiniah. Seseorang dapat dikatakan sudah sholat secara khusu’ bila kedua sisi itu sudah sholat. Secara fisik ia mengerjakan rukun-rukunnya dan secara batiniah ia tunduk dan patuh atas segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Jadi, jika seseorang sholat di mesjid kemudian pulangnya mencuri sepatu, maka sholatnya belum khusu’, bahkan dalam pandangan yang ekstrem, dia itu belum/ tidak sholat. Begitu juga, bila ada orang rajin sholat (fisik) lima kali sehari, tetapi di hatinya masih menyimpan rasa iri, dengki, dendam, dan semacamnya, maka ia dapat dikatakan belum khusu’ sholatnya, atau lebih ekstrem, ia belum/ tidak sholat (tidak diterima sholatnya).

(Bila ada yang berpandangan lain dari saya, silakan saja, perbedaan menunjukkan Keesaan Allah dan merupakan Rahmatullah).

2 October, 2007

Pertanggung-jawaban Kita

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:00 am

PERTANGGUNG-JAWABAN KITA

 

 Dalam sholat, bila kita tak sanggup untuk berdiri, kita boleh duduk, bila kita tak sanggup duduk, boleh berbaring….., dan seterusnya. Intinya “kita akan diminta pertanggung-jawaban kita sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita.”

Dalam agama, ada ayat yang menyatakan bahwa kita harus membela agama Allah. Tentu tidak serta-merta kita wajib menghadapi mereka semua yang memusuhi agama Allah, karena Allah tidak ingin kita mati konyol.

Nabi besar Muhammad SAW sungguh berat menyebarkan Islam, banyak yang menghina, menolak, bahkan melemparinya dengan kotoran unta. Tapi, apa yang beliau katakan atau lakukan ?. Tidak ada hadis yang menerangkan kalau beliau lantas balas mencaci-maki, balas berbuat brutal, dan balas menghajar mereka. Beliau tetap senyum, santun, dan dengan perilaku yang penuh rasa cinta kasih pada sesama. Dan justru sikap itulah yang membuat orang-orang yang tadinya memusuhi berbalik menjadi pengikutnya.

Adakah keteladanan beliau itu kita ikuti sekarang ??

Saya tidak terlalu heran jika banyak pemimpin dunia “memusuhi” Islam, itu karena “perangai” yang kita tampilkan tidak mengikuti tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.

Saya ambil contoh sederhana, bagaimana Presiden Irak ketika itu (Saddam Husein) dengan gagah berani menantang AS. Tapi apa yang terjadi ?, kegagahan itu tidak dibarengi dengan kemampuan dalam menghadapi musuh, hanya sesaat saja Irak jatuh, dan apa yang terjadi ?, kini rakyat Irak menderita.  Saya yakin, nanti ia akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya.

 

Apakah saya nanti diminta pertanggung-jawaban saya kalau Indonesia semakin bobrok ???, Apa urusan saya ?, saya bukan presiden (pemimpin) yang membawahi seluruh rakyat indonesia. Tentu saya hanya akan diminta pertanggung-jawaban saya sebatas porsi dan kemampuan saya (sementara ini saya baru mampu memimpin keluarga dan diri sendiri, itupun masih perlu dipertanyakan).

 

Hal yang saya ingin sampaikan di sini adalah : (1) semakin tinggi jabatan kita di masyarakat, maka semakin besar tanggung-jawab kita (2) lawanlah kebatilan di masyarakat (di luar kepemimpinan kita)  sesuai dengan kesanggupan kita, dengan lisan, dengan tenaga, atau setidaknya diam dan kita tidak melakukan kebatilan itu, (3)  semua (apapun) yang kita lakukan kepada orang lain, hasilnya kembali kepada diri kita sendiri, sehingga amat banyak ayat dalam kitab Al Quran yang menyatakan (baik tersirat maupun tersurat) hal seperti itu, yang intinya, jika kita berbuat dzalim kepada orang lain maka sesungguhnya kita telah mendzalimi diri sendiri, sebaliknya, jika kita berbuat baik kepada orang lain maka kebaikan akan datang kepada kita, (4) semakin dewasa kita semakin perbanyaklah kemakluman, artinya, kadang kita harus sabar, dan harus maklum mungkin akal mereka belum cukup mampu menerima pelajaran dari kita, kadang kita harus tersenyum mendengar perkataan orang yang mencemooh pendapat kita, kita harus maklum karena boleh jadi orang itu tidak sadar apa yang mereka cemoohkan, dan sebagainya.

 

Intinya, teruslah berbuat baik kepada sesama karena kebaikan itu untuk kita, jauhkan berbuat bathil kepada sesama karena kita tak ingin kebathilan itu menjadi milik kita, adapun apabila ada orang lain berbuat bathil kepada kita, biarlah kebathilan itu miliknya dan kelak ia akan berurusan dengan Tuhannya.

 

 

1 October, 2007

Andaikan Aku Jadi Superhero

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:50 pm

 

 

ANDAIKAN AKU JADI SUPERHERO

Andaikan saja, ada partai politik yang mencalonkan aku menjadi seorang presiden Republik Indonesia, maka program utamaku adalah “membuat penjara terbesar di dunia.” Betapa tidak, jika mengamati, mengikuti, dan menyaksikan berbagai kebobrokan di negeri ini, maka pantaslah jika aku membuat penjara itu.

Tapi, justru sulitnya adalah, bagaimana memenjarakan para `penjahat’ itu, karena di pengadilanpun, katanya merupakan sumber kejahatan lain, ada jual-beli perkara, ada kong-kalingkong sesama pengacara, ada upeti buat hakim agar memperingan hukuman, dan sebagainya. Ah, ternyata jadi presiden pun belum tentu bisa membuat penjahat itu dipenjara.

Salah satu kejahatan yang membuat aku geram dan gemas adalah korupsi yang seakan sudah `harap dipermaklum.’ Katanya Karena gajinya kurang, padahal gaji mereka sudah puluhan kali dari gaji seorang dosen sepertiku, tapi memang jauh lebih rendah dari pemain bola di AC Milan.

Bisa kita lihat akibat jahat dari korupsi mereka, hutan-hutan gundul, lubang-lubang galian tambang dan pasir menganga tandus, jutaan rakyat berada di bawah garis kemiskinan, anak-anak terlantar tak berpendidikan merajalela, pengemis menjamur di mana-mana, dan berbagai macam bencana alam turut meng-amin-i penderitaan itu.
Mereka banyak yang berkilah bahwa mereka tidak korupsi karena harta kekayaan mereka banyak yang diperoleh dari hibah dan hadiah yang merupakan `penghalusan’ dari hasil korupsi. Bukan apa-apa, jika orang tidak memberikan hibah atau hadiah kepada mereka, urusan bakalan runyam, dipersulit, diperlama, bahkan tidak dikerjakan. Hibah dan hadiah macam apa itu yang berazaskan ancaman dan ketidakikhlasan.

Andaikan aku superhero yang tidak mempan ditembak, maka koruptor-koruptor itu akan aku jebloskan ke penjara. Tapi, selain tidak mempan ditembak, aku juga butuh kemampuan untuk menghilang yang tidak dapat dilihat orang, karena kemampuan itu akan aku gunakan untuk mendapatkan bukti-bukti kejahatan mereka yang kadang disembunyikan dan dijaga oleh `body guard’ yang bisa jadi berpakaian loreng-loreng.

Kemampuan itu akan aku gunakan untuk merekam pembicaran (intrik-intrik) mereka, memotret kejadian yang berhubungan dengan barang bukti kejahatan, dan mengetahui di mana barang bukti itu disimpan. Bukankah ada seorang koruptor dari negeri ini yang dinyatakan sebagai koruptor kelas wahid di seluruh dunia ?, tapi ia berkilah bahwa ia tidak memiliki uang sesen pun di luar negeri, lalu di mana ?, di dalam negeri ?, nah untuk mengorek itu aku harus bisa menghilang, masuk ke kamarnya, lalu aku memperlihatkan diri, aku todong ia untuk mengaku, dan bila tiba-tiba ada body guard yang datang, akan kuhajar mereka karena aku kebal senjata tajam, dan kembali menanyai koruptor itu sampai mengaku. Kalau tetap tidak mengaku, aku dor saja ia terus aku cari barang bukti di rumah itu.
Seperti itulah kira-kira yang akan aku lakukan, kecuali jika mereka mengaku, maka aku jebloskan mereka ke penjara, tidak sampai aku dor. Memang berat kerjaku jadinya, karena menurut anekdot “kalau semua penjahat dipotong tangannya, maka di Indonesia yang tangannya masih utuh tinggal beberapa orang saja.”

Hal lain yang juga kubenci adalah perendahan harga diri bangsa kita oleh bangsa-bangsa lain. Lihat saja, negara Malaysia yang katanya serumpun dengan kita, mereka mencibir dan memanggil orang-orang kita dengan sebutan penghinaan “Indon.” Bukan hanya itu, bangsa kita banyak yang disiksa oleh polisi-polisi, dan oleh majikan-majikan di sana, belum lagi jika kita ingat beberapa pulau kita yang sudah berpindah tangan ke mereka. Ditambah lagi dengan tapal-tapal batas negara yang telah bergeser puluhan kilometer ke dalam wilayah kita.
Begitu juga dengan Australia. Kita ingat ketika gubernur kita diperlakukan seperti penjahat, bagaimana mereka membantu timor timur lepas dari kita, dan berbagai pernyataan sikap yang amat menyinggung harkat dan martbat kita.

Andaikan aku jadi superhero itu, akan kutodong dia dan segera meminta maaf atas segala perlakuan dan pernyataan mereka kepada kita di seluruh jaringan televisi dan radio internasional, jika tidak mau, apa boleh buat, mereka memaksa aku harus melakukan dor.

Kembali ke negara kita, aku benci pada porak porandanya norma-norma keorganisasian, terutama organisasi-organisasi keagamaan. Bagaimana mungkin suatu keyakinan umat tertentu dapat dipaksakan ke keyakinan umat lain. Ada aliran yang diperkenankan, tapi ada aliran yang tidak diperkenankan, adilkah itu ?. Selama aliran itu tidak memaksakan ajarannya kepada orang yang tidak sepaham, mengapa dimusuhi bahkan dihancurkan ?. Selama aliran itu tidak mengancam dan tidak merusak hubungan baik dengan sesama manusia lainnya, mengapa harus dipaksa bubar ?.

Bahkan ada organisasi yang justru membuat `ngeri’ umat yang dengan beringasnya, dengan sok alimnya, dengan sok benarnya sendiri, bertindak anarkis atas nama agama. Agama mana yang mengajarkan itu ?. Itupun bukan tugas mereka, karena yang menjaga agama itu adalah Tuhan. Tidak sanggupkah Tuhan menjaga agama itu sampai-sampai butuh bantuan orang yang seperti mereka ?.

Andai aku seorang superhero, tidak lain akan kuhadapi mereka, dan aku beri pilihan, hentikan perbuatan itu atau aku dor.

Namun sayang, aku bukan siapa-siapa, aku hanya seorang manusia biasa yang lemah tanpa daya upaya sedikitpun melainkan atas ijinNya. Tentu hanya Tuhanlah yang pantas menjadi Maha Superhero. Tuhan tidak mempan oleh senjata api, Tuhan bisa menghilang tak tampak, dan Tuhan amat tidak menyukai kerusakan dan kebatilan, Tuhan memiliki semua kemampuan untuk mengubah dunia ini. Tapi mengapa tidak dilakukanNya ?.

Aku menemukan jawabanNya.

Tuhan telah mengajarkan kepada kita bagaimana Ia membuat susunan organisasi, dan urusan dunia telah diberikan kepada manusia sebagai khalifahNya. Bagimana jadinya dunia, baikkah, burukkah, jayakah, atau hancur sekalipun, itu diserahkan kepada manusia. Adapun juklak, juknis, dan semacamnya telah diberikan, baik melalui para nabi maupun pada kitab-kitabNya.

Sampailah susunan organisasi kepada kita, baik kita sebagai kepala rumah tangga di rumah, maupun sebagai anggota organisasi kemasyarakatan, anggota organisasi di kantor, dan organisasi-organisasi lain yang kita ikuti. Tentulah sebagai organisasi, ada susunan pejabat dan anggotanya yang masing-masing memiliki hak, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing.

Jika kita berada di organisasi A, pantaskah kita ikut campur urusan di organisasi B ??. Sejauh kita tidak diminta oleh organisasi B, maka tidak seharusnya kita mencampuri urusan mereka, mau benar ataupun mau salah. Secara sederhana saja, ada anak tetangga kita yang amat bodoh di sekolahnya yang kebetulan sama kelasnya dengan anak kita, maka untuk mengatakan kepada tetangga itu “tolong beri les anak Bapak itu” saja tidak pantas, kecuali jika Bapak itu bercerita (curhat) mengenai anaknya pada kita.

Nah, kesimpulan yang diambil adalah tidak mungkin aku akan menjadi seorang superhero, dan aku tidak sepantasnya mengurusi hal-hal di atas karena kedudukan aku di dalam sebuah organisasi tidak memungkinkan mengurusi hal-hal di luar tanggung-jawabku.

Jadi, biarlah mereka mau berbuat apa, yang penting, aku dan orang-orang yang menjadi tanggung-jawabku harus aku arahkan ke hal yang baik-baik sesuai dengan tuntunan agama, tuntunan keyakinan, dan tuntunan organisasi di mana aku berada. Adapun apa yang mereka (orang lain) lakukan biarkan pimpinan mereka yang mengurusinya.

 

Kita hanya diminta untuk menyampaikan nasihat kebenaran tanpa harus mencampuri urusan mereka, mau menerima kebenaran itu atau tidak ????..

PUISI ANAK NEGERI

Aku anak negeri yang hidup melarat
Tak bisa korupsi seperti para pejabat
Meski aku harus sekarat
Kucoba tak akan berbuat jahat

Katanya negeriku penduduknya ramah-tamah
Tapi setiap hari kulihat demonstran marah-marah
Katanya kekayaan alam negeriku melimpah-ruah
Tapi masih banyak rakyatnya yang hidup susah

Katanya negeriku adalah negeri yang religius
Yang taat menjalankan ibadah secara serius
Nyatanya masih banyak orang yang rakus
Menumpuk-numpuk harta sampai tak terurus

Aku anak negeri yang hidup serba kekurangan
Di antara orang-orang yang kekenyangan
Yang mungkin telah kehilangan rasa kasihan
Ditutupi oleh tangan-tangan setan

Memang, kini beda tipis antara pejabat dan penjahat
Sama-sama suka makan duit rakyat
Tak tahu arti kualat
Dan tak pernah takut akan hari akhirat

Meski bencana alam telah memberi isyarat
Bahwa Tuhan kini sedang melaknat
Namun mereka tak peduli amat
Yang penting hidupnya nikmat

Aku anak negeri yang tidur di kolong jembatan layang
Di antara gedung-gedung yang tinggi menjulang
Aku tahu hidup ini hanya numpang
Sampai ajal kan datang menjelang

Aku anak negeri yang kini sedang meratapi nasib bangsa
Mengapa tak bisa bangkit melawan dosa
Sehingga terus terpuruk tak punya kuasa
Bahkan oleh bangsa lain dijadikan mangsa

Oh, Tuhanku, di manakah Dikau gerangan
Tolonglah bangkitkan negeri kami dari keterpurukan dan keterbelakangan
Singkirkanlah kebatilan dan menangkanlah kejujuran
Tolong jadikan bangsa ini bangsa yang terdepan

Rahmatilah negeri kami dengan berbagai nikmat
Jauhkan dari segala tipu daya setan yang membuat kami sesat
Satukan hati kami dengan tali persaudaraan yang kuat
Tak terpecah, tak terputus, tak terpisah sampai kiamat

Dengan kehendakMu, jadikan negeri kami subur-makmur
Jadikan kami orang-orang yang pandai bersyukur
Jauhkan kami dari sifat sombong, kufur dan takabur
Inilah doa kami anak negeri yang kini hampir tertidur

Aku anak negeri yang tak pernah mengerti
Aku hanya bisa berharap dan menanti
Meski aku tak tahu dengan pasti
Kapan nasib akan berganti

TUHAN MUNGKIN JUGA SEDANG BERSEDIH

 

Melihat bencana yang tak pernah henti di negeri ini
Aku berpikir, di mana Tuhan kini ?
Tidakkah Ia membantu kita yang begitu merundukkan diri ?
Atau Ia memang sengaja membuat kita terus merasa ngeri ?

Ada apa Tuhan, kau siksa kami seperti ini ?
Bukankah setiap saat kami telah bersujud menghambakan diri ?
Tapi selalu saja bencana menghampiri kami
Seperti ia tak ingin pergi

Bukankah Kau Maha Pengasih dan Maha Penyayang ?
Bukankah Kau yang membuat bumi ini gelap dan terang ?
Lalu, mengapa Kau tega membuat nasib kami begitu malang ?
Tidak siang tidak petang, bencana seperti selalu datang

Oh, mungkin saja kini Kau tak mau tahu
Karena semua telah Kau tuangkan dalam kitab-kitab Mu
Kami hanya tinggal mempelajari sunah-sunah Mu itu
Karena semua yang Kau cipta sudah beserta sistem yang padu

Jadi, mungkin saja kini Kau sedang bersedih hati
Menyaksikan negeri ini diterpa musibah yang tak pernah henti
Karena memang tak mematuhi sunah-sunah Mu yang sudah pasti
Selalu berlaku dari seorang manusia itu lahir hingga kelak ia mati

Dan Kau tak ingin melanggar sunah-sunah Mu sendiri
Semua sudah Kau tetapkan dan tak akan pernah Kau ganti
Dari dunia ini Kau ciptakan hingga datangnya kiamat nanti
Jadi, Kau tak ingin mengubah nasib kecuali mereka ubah sendiri

Tuhan mungkin sedang bersedih menyaksikan negeri ini
Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi
Yang katanya seperti sepenggal tanah surgawi
Yang katanya bak mutu manikam menawan hati

Lagi, mungkin Tuhan sedang menatap negeri ini
Tapi Ia tak pernah ingin mengubah ketetapanNya sendiri
Semua sudah terbalut dalam sebuah sistem yang padu dan pasti
Tinggal kita sendiri yang harus jeli mengkaji dan menjalani

TUHAN BELUM INGIN IKUT CAMPUR

Kita saksikan, pembantaian umat muslim di Palestina
Pembantaian umat muslim di Bosnia, perang di Filipina
Dan kesengsaraan umat muslim di berbagai belahan dunia lainnya
Seperti menyayat-nyayat hati yang menyaksikannya

Mengapa sepertinya Tuhan tak pernah bertindak membela
Bukankah Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoiNya ?
Bukankah Tuhan Maha Kuasa
Yang dengan kuasaNya dapat berbuat apa saja ?

Ternyata tidak seperti itu memaknainya
Tuhan bisa dibantah oleh iblis yang tak mau menghormati manusia
Nabi bisa melakukan tawar-tawar tentang jumlah waktu sholat di dunia
Tuhan masih memerlukan malaikat untuk menjaga alam semesta

Jadi, bagaimana kita memaknai urusan kita di dunia ?
Tuhan sepertinya tak ingin diganggu dari singgasanaNya
Silakan kita urus sendiri urusan kita
Sambil kita memahami petunjuk-petunjuk yang telah dituliskanNya

Lalu, kenapa kita harus sholat, puasa dan selalu berdoa ?
Oh, Tuhan sama sekali tidak butuh dengan kepatuhan kita atas perintahNya
Jika disadari, semua itu adalah kebutuhan kita semata
Sebagai makhluk lemah yang tak punya daya upaya tanpa pemberianNya

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.