Bambang Wahyudi

20 September, 2007

Mendekati Dua Perbedaan Nyata

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:51 pm

MENDEKATI DUA PERBEDAAN NYATA

 

“Di antara siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir,” ada siang yang terang benderang dan ada malam yang gelap gulita. Di antara keduanya ada berada di tengah-tengahnya dan selanjutnya ada perbedaan tipis yang mendekati keduanya. Ada hitam ada putih, ada abu-abu dan berbagai warna lainnya yang mendekati keduanya. Ada halal dan ada haram, ada jugayang medekati keduanya, seperti makruh yang dibagi atas banyak tingkatan lagi.

 

Kita tahu, bahwa ada manusia dan ada hewan, tetapi di antara kedua perbedaan itu ada yang mendekatinya, ada manusia seperti hewan, dan ada hewan seperti manusia. Ada hewan dan ada tumbuhan, tetapi ada hewan yang seperti tumbuhan (contoh, karang) dan ada tumbuhan yang seperti hewan (contoh, kantong semar).

 

Pendek kata, di setiap dua perbedaan yang nyata, pasti ada sesuatu yang mendekatinya. Tak beda dengan adanya pria dan wanita. Ada pria yang mendekati wanita (baik fisik maupun sifatnya), dan sebaliknya, ada wanita yang mendekati pria (baik fisik maupun sifatnya).

 

Semua itu kehendak Allah dan Dialah yang menguasai setiap penciptaan makhluknya. Dan Allah tidak pernah mengedepankan atau membeda-bedakan manusia yang satu dengan manusia lainnya, kecuali atas unsur ketaqwaannya. Jadi bukan karena ia laki-laki, wanita, atau banci sekalipun.

 

Sesuatu yang dibenci Allah adalah pemalsuan, penipuan, dan sejenisnya. Jadi ada pria yang berdandan seperti wanita (misalkan untuk mendapatkan uang), itupun kalau ada unsur penipuan atau pemalsuan. Bagaimana dengan Aming dan Olga, mereka sering berdandan seperti wanita untuk mendapatkan uang, tetapi mereka tidak menipu ??. Tentu tidak masalah. Jadi, dalam menetapkan dosa dan pahala, Allah tidak melihat bentuk rupa makhluknya, melainkan dengan niat dan perbuatannya (menipu, memalsu, atau hal-hal lain yang merugikan dirinya atau orang lain).

 

So, jadi yang menjadi penyakit masyarakat itu bukan banci atau kebanciannya, melainkan apa yang diperbuat si banci (atau si normal-normal lainnya), seperti pelacuran, perjudian, dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.

 

Jadi, jangan sampai kita menghina, mencerca, atau meremehkan banci-banci itu, karena Allah tidak pernah meremehkan mereka, kecuali perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari apa yang telah diperintahkanNya kepada mereka.

 

Jika kita lihat “Bunda Dorce” yang sudah melaksanakan operasi kelamin dari pria menjadi wanita, apakah bisa kita sebut sekarang dia sudah menjadi wanita sejati ?? atau masih dapat kita katakan banci ??. Saya tak peduli, yang jelas, ia telah berbuat (kebaikan) yang jauh sekali dari apa yang bisa saya lakukan terhadap anak-anak yatim dan terlantar. Masihkah saya pantas mencerca beliau ????, sama sekali tidak, lebih baik saya mencerca diri sendiri yang tidak bisa berbuat banyak untuk menolong sesama.

 

15 September, 2007

Kesadaran Diri

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 11:21 am

 

KESADARAN DIRI

DERAJAT TERTINGGI MANUSIA

Bila kita harus mengambil contoh untuk menjawab pertanyaan berikut ini : “Sebutkan satu nama siapa orang yang paling pantas kita hormati selama dunia ini ada ?”, maka, meskipun saya belum tentu dapat menebak siapa nama yang Anda sebut, namun saya bisa menerka, pastilah ia seorang yang amat terkenal, orang yang patut untuk Anda teladani, dan Ia pastilah seorang pemimpin.

Catatlah bahwa semakin tinggi jabatan seseorang atau semakin terkenalnya orang itu, tentu Ia adalah orang yang paling terkungkung hidupnya. Terkungkung dalam arti kata, Ia banyak dilingkupi oleh peraturan-peraturan dan protokol-protokol pergaulan, dan Ia sendiri membuat batasan-batasan dirisebatas manakah saya pantas untuk bertindak ?.”

Saya ambil contoh, jika orang yang dikagumi adalah seorang ratu dari Inggris, maka Ia memiliki banyak sekali aturan yang diberlakukan kepadanya. Misalkan, aturan untuk berjalan, aturan untuk melambaikan tangan, aturan di meja makan, dan berjuta-juta aturan lain yang melingkupi dirinya. Memang, tidak pantas jika seorang ratu duduk nongkrong di pinggir jalan sambil menikmati jagung bakar. Tapi, bagi rakyat biasa, itu sah-sah saja dan pantas untuk dilakukan.

Saya ambil contoh lain, jika Anda menokohkan Nabi Muhammad Pesuruh Allah, maka apa saja ucapannya dan tindakannya akan dicatat di dalam hadist (agar ditiru para pengikutnya). Tentu saja hal tersebut akan menjadi kungkungan sendiri baginya dalam berucap dan bertindak. Saya tidak pernah membaca hadist yang menerangkan kalau Beliau (Nabi Muhammad) pernah tertawa terbahak-bahak karena mendengar lawakan orang lain, atau saya juga tidak pernah mendapatkan hadist yang pernah menyebutkan kalau Beliau pernah mengumpat orang lain karena membuatnya kesal, misalkan dengan perkataanmonyet, bangsat, …” dan sebagainya.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi derajat atau jabatan seseorang, maka ia akan menerima semakin banyak peraturan, dan sebaliknya, semakin rendah derajat atau jabatan seseorang, maka ia semakin tidak memiliki aturan. Tentu saja, orang gila adalah orang yang paling bebas (tidak memiliki aturan) di dunia ini.

Tapi, siapa yang menentukan derajat (ketaqwaan) atau jabatan seseorang ?. Kalau jabatan sudah jelas, orang-lah yang menentukannya, tetapi kalau derajat, yang menentukannya adalah diri sendiri dan Tuhan. Jadi, secara individual kita bisa meningkatkan derajat kita sendiri dengan menaati segala peraturan yang berlaku kepada kita, dan kita-pun harus mampu membatasi diri mana yang pantas dan tidak pantas kita perbuat (niatkan, pikirkan, ucapkan, dan lakukan).

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kesadaran diri adalah merupakan ukuran derajat ketaqwaan kita kepada Tuhan. Kita harus sadar bahwa apa-pun kita, siapa-pun kita, dan bagaimana-pun kita, kita adalah hamba yang diciptakanNya. Kita harus sadar untuk menjalankan peran kita di muka bumi ini sebagaimana tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini. Kita harus sadar sesadar-sadarnya untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Sebagai anak, kita juga harus sadar bahwa kita harus berbakti kepada kedua orang-tua kita karena keridhoan Tuhan adalah keridhoan kedua orang-tua kita. Sebagai karyawan, kita juga harus sadar untuk menjalankan segala kewajiban kita. Sebagai dosen kita juga harus sadar tugas kita untuk mendidik mahasiswa dalam menyongsong masa depannya. Sebagai pemimpin rumah-tangga kita juga harus sadar untuk menafkahi dan membimbing anggota keluarga menuju jalan yang benar. Sebagai individu, kita juga harus sadar untuk memimpin jiwa-raga kita agar menjadi orang yang baik dan orang yang bermanfaat bagi sekeliling kita. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Jadi, tahulah kita, semakin ngawur, semakin kasar, semakin kotor setiap ucapan yang keluar dari mulut seseorang, maka ia telah menjatuhkan derajatnya sendiri. Jadi tahulah kita, semakin sombong, semakin sok jago, dan semakin sok berkuasanya seseorang maka ia sebenarnya telah meruntuhkan derajatnya sendiri. Tahulah kita jika ada orang yang bertindak semena-mena, meremehkan orang lain, mentang-mentang dekat dengan pusat kekuasaan, maka sebenarnya ia sedang menanti kehancuran derajatnya. Kalau boleh menggunakan istilah prokem, Tuhan akan berkata pada orang-orang seperti itu kelak: ”EMANGNYA SIAPA LU ??!!”

September 2007

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.