Bambang Wahyudi

3 May, 2007

Perlukah Istighosah ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:34 pm

 

Nyoba buat ngisi Blog…

Bahan untuk diskusi :

PERLUKAH ISTIGHOSAH ??

Banyak dilakukan, dzikir bersama (termasuk bersama Presiden), taubat nasional, istighosah masal, dan sebagainya. Tapi, apa yang terjadi ?, Negara ini tetap saja begini-begini juga. Hasilnya nanti ??, kurang khusuk ??, entah apa lagi alasannya. Mungkin pendapat Aa Benny sama dengan pendapat saya (dan mungkin orang lain akan menyebutnya ‘pelecehan’) bahwa saat ini Tuhan juga bersedih menyaksikan negeri ini morat-marit begini.

Lho, kenapa Tuhan diam saja, tidak membantu atau menolong negeri ini yang sudah melaksanakan istighosah ??. Saya katakan, Tuhan juga bersedih melihat negeri ini morat-marit begini, tapi apa daya (apa ini kekuatan atau kelemahan Tuhan) bahwa Ia sama sekali tidak ingin main-main dengan hukum yang telah dibuatnya Sendiri. Salah satu hukum yang sudah dibuat adalah “Tuhan tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum jika bukan karena kaum itu sendiri yang mengubahnya.” Lalu, apa makna istighosah masal ??.

Kebetulan saya berkecimpung di dunia komputer, saya berpendapat bahwa Tuhan adalah Maha Programmer dan Maha Pembuat Sistem. Sistem dan programnya termasuk berlaku untuk semua makhluk hidup (bukan hanya makhluk mati seperti komputer saja). Artinya, setiap bayi yang lahir ke dunia, di dalamnya sudah terdapat sistem operasi, utility system, dan juga progam-program Tuhan. Tentu saja di dalam programNya tersebut terdapat banyak sekali kondisi IF…THEN … ELSE (dikenal dengan teori sebab-akibat, aksi-reaksi, dan semacamnya).

Tetapi, memang benar kalau dikatakan Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, karena sebagian listing program itu di-copy ke dalam kitab-kitabNya yang dapat dibaca, dipelajari, dan diikuti bagi orang-orang yang ingin selamat. Sayangnya, kata-kata taubat nasional, istighosah masal, dzikir bersama, dan semacamnya tidak pernah saya temukan di listing programNya. Yang saya jumpai justru “serahkan masalah kepada ahlinya (untuk diselesaikan), jika tidak, maka tunggulah saat kehancurannya…”

Jadi, kalau masalah transportasi, serahkan kepada orang yang memang ahli masalah transportasi, karena kecelakaan kereta api tidak akan mungkin bisa dihindari hanya dengan mengandalkan doa dan istighosah belaka, meskipun doa dan istighosah tersebut dipimpin oleh “Kiai yang berkharisma” sekalipun.

Pernah suatu ketika ada penelitian psikologi yang berkesimpulan “dua dari tiga masyarakat kita saat ini sakit jiwa.” Tentu saja, banyak pendapat yang kontra dengan hasil penelitian itu, bisa jadi sekontra hasil penelitian Darwin. Tentu yang kita pertanyakan adalah “apa ukuran yang digunakan si Peneliti itu tentang sakit jiwa sehingga menghasilkan angka yang sedemikian tragis ?.” Jika dikatakan “hilang kesadaran” merupakan bagian dari “sakit jiwa” maka saya termasuk orang yang sangat setuju dengan hasil penelitian itu.

Apakah banyak orang yang “hilang kesadarannya ?,” apakah ia hilang kesadarannya karena kerasukan makhluk halus ?, karena sakit sampai koma ?, amnesia ?, atau karena tidur terus ?. Tentu bukan, karena itu hanya sedikit, yang banyak adalah orang hilang kesadarannya karena ia “tak tahu diri” atau ia “lupa diri”. Bukankah orang yang tidak tahu siapa dirinya berarti telah hilang kesadarannya ?, berarti pula ia sakit jiwa ?.

Ia tak sadar kalau ia sebenarnya adalah makhluk Tuhan yang harus berbuat apa saja yang telah diperintahkan kepadanya. Ia tak sadar kalau sebenarnya di kampus ia berperan sebagai dosen yang memiliki kewajiban untuk mengajar, Ia tak sadar kalau di rumah ia berperan sebagai orang-tua yang harus menjaga dan mendidik putra-putrinya. Ia tak sadar bahwa ia adalah pemimpin bangsa yang harus dapat menyejahterakan rakyatnya. Bukan sebaliknya, uang rakyat yang triliunan rupiah dirampasnya, bukannya polisi kalau ia sendiri mengedarkan narkoba, bukannya mahasiswa kalau ia suka bertinju, bukannya dosen kalau ia suka meremehkan orang lain, bukannya ulama kalau ia suka menjual ayat-ayat, bukannya … bukannya … (banyak sekali…, termasuk orang-orang yang menggunakan jaket almamater untuk menyaksikan lawakan politik…).

Jadi…., (kembali ke istighosah lagi), kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa-doa kita melalui dzikir bersama, istighosah masal, dan taubat nasional ???.

Aa Benny adalah A. Benny Mutiara, orang Bogor yang anaknya sudah 4, yatim, Doktor, dan ganteng.

Powered by WordPress

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.