Bambang Wahyudi

3 February, 2010

Pengayuh Sepeda vs Pengendara Mobil Super Mewah

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 2:08 pm

Tulisan ini diilhami oleh filosofi dari pak Ravi dan bu Rahma bahwa kemampuan beragama seseorang ibarat kendaraan yang dimilikinya. Agama adalah kendaraan untuk menuju keabadian. Ibu Rahma juga bilang kalau persepsi seseorang tergantung dengan tingkat ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tersebut. Persepsi membawa jiwa seseorang menuju keabadian.

KENDARAAN

Apa yang salah jika seseorang naik sepeda ke tujuannya, dan apa yang salah jika seseorang naik mobil super mewah ke tujuannya ?. Tidak ada yang salah, memang kemampuan sesorang dengan orang lain berbeda-beda. Tetapi, haruskah pengendara mobil super mewah tersebut berbuat semena-mena kepada pengendara sepeda di jalanan ?. Tentu tidak, semua ada aturan dan hukumnya, bahkan seorang pengendara mobil super mewah itu harus ekstra hati-hati agar mobilnya tidak tergores sedikitpun, apalagi hanya karena sepeda !.

Konotasinya adalah, seorang yang alim (baik dalam ilmu agama seperti kiyai, maupun ilmu pengetahuan umum, seperti sarjana), hendaknya ekstra hati-hati dalam berucap dan berperilaku. Tetap saja bagi mereka tidak ada kepantasan sedikitpun untuk mengecilkan atau meremehkan atau merendahkan derajat orang-orang di bawahnya. Orang yang berhasil adalah orang yang bisa membuat orang lain berhasil, tetapi tetap tidak boleh memaksa. Maka pantaslah bila surga juga memiliki tingkatan-tingkatan yang setiap tingkat dihuni oleh penghuni-penghuni sesuai tingkatan ketakwaannya (kealiman) masing-masing.

ILMU PENGETAHUAN

Ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh seseorang dengan cara belajar, tidak ada cara lain. Belajar hanya akan diperoleh dengan cara membaca, tidak ada cara lain. Karenanya, ayat pertama yang disampaikan ke nabi Muhammad adalah “iqra” (bacalah). Membaca dapat diartikan membaca tulisan, namun secara luas dapat diartikan dengan mengamati (mengambil pelajaran dari suatu kejadian). Belajar bisa secara formal (SD-SM-SMA dan seterusnya), non formal (kursus dan sejenisnya) maunpun informal (dari pengalaman orang lain, mendengarkan ceramah di radio, dan sebagainya).

Ingat-ingat saja sejak masa kanak-kanak ketika kita diceritakan tentang kekuasaan Tuhan sampai saat ini jika kita mendengar ceramah tentang kekuasaan Tuhan, maka persepsi kita tentang Tuhan bisa berubah-ubah sesuai tingkatan pengetahuan kita. Namun Tuhan sudah menggariskan bahwa “berprasangka baiklah kepadaKu.” Artinya berpresepsi baiklah untuk Tuhan dalam kondisi seburuk apapun. Secara sederhana, mengapa Tuhan menciptakan nyamuk sehingga jutaan orang menderita penyakit, mulai dari DBD hingga kakigajah dan sebagainya. Kita harus tetap berprasangka baik kepada Tuhan karena jika sekarang nyamuk ditiadakanNya, maka berapa juta orang kehilangan mata pencahariannya (dari pekerja di pabrik pembasmi nyamuk dan keluarganya, dari buruh-buruh fogging, dokter-dokter, peneliti-peneliti yang terkait dengan itu).

NASIB dan TAKDIR

Nah, ini persepsi saya mengenai nasib dan takdir (sesuai pengetahuan saya, dan ini tentu saja terbuka untuk diperdebatkan). Nasib adalah suatu kejadian atau ketetapan di masa lalu yang masih ada kesempatan diperbaiki di saat kini dan masa datang, sedangkan takdir adalah kejadian atau ketentuan yang telah terjadi atau telah ditetapkan di masa lalu yang tidak dapat diperbaiki kembali di masa sekarang maupun di masa depan. Masa lalu bisa saja sedetik yang baru saja berlalu.

Contoh: kematian seseorang adalah takdir, karena tidak dapat hidup atau dihidupkan kembali. Matahari terbit dari timur adalah takdir karena tidak bisa diubah, adanya nyamuk juga takdir karena sudah ketetapanNya. Pun adanya surga dan neraka adalah takdir, karena sudah ditetapkanNya sejak dulu (meskipun kata orang sekarang ini belum ada).

Orang jahat adalah nasib karena suatu saat bisa jadi, ia akan menjadi seorang ulama, kecuali sampai mati ia terus jahat, “Ia memang ditakdirkan sebagai orang jahat.” Jodoh kita saat ini adalah nasib, karena bisa jadi suatu saat akan berpisah (cerai), tetapi kalau keduanya berpisah hanya karena takdir (kematian), maka jodoh mereka juga bisa disebut dengan takdir, “mereka memang ditakdirkan untuk berjodoh.”

Orang yang gagal lulus tes masuk menjadi anggota TNI adalah nasib bila di tahun depan ia masih bisa kembali mengikuti tes, namun takdir bila sudah tertutup kemungkinannya untuk menjadi anggota TNI selamanya.

KESIMPULAN

Menurut saya (terbuka untuk diperdebatkan), Tuhan telah menciptakan takdir-takdirnya (ketetapan-ketetapan) sebelum menciptakan manusia. Ketika manusia pertama ditakdirkanNya ada, maka selanjutnya, ketentuan-ketentuan Tuhan itulah yang bekerja (Tuhan bersemayam di Arasy). Penciptaan-penciptaan manusia berikutnya sudah ada campur tangan orang lain (orang tuanya) “ridho Tuhan sesuai ridhonya orang tua.” Karenanya, jika di suatu daerah terlanda bencana, maka itu karena ketetapan Tuhan sedang berjalan di daerah itu, bukan karena Tuhan murka kepada penduduk di daerah itu (berprasangka baik kepada Tuhan, Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang). Kenapa nantinya ada orang yang masuk surga dan neraka ?, itu karena ketetapan-ketetapan Tuhan, jika ia menjadi orang alim, maka surgalah balasannya, dan sebaliknya. Apakah kita akan masuk surga atau neraka ?, ikutilah ketetapan-ketetapan itu, saat ini kita belum ditakdirkan masuk ke mana. Di mana kita bisa tahu ketetapan-ketetapan Tuhan ?, dalam Islam sudah jelas, Alquran dan hadits.

30 January, 2010

Persepsi oh persepsi …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:38 pm

Manusia menjalani hidup dan kehidupannya berlandaskan pada persepsi dirinya. Persepsi berkaitan erat dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karenanya, sering persepsi antara satu orang dengan orang lainnya membuat mereka bersilang pendapat hingga ke tingkat yang sangat kritis. Satu kata kunci dalam bergaul antarsesama, yakni “maklum.”

Sangat mungkin, tidak ada persepsi yang sama, karena pengalaman dan pengetahuan orang berbeda-beda. Contoh sederhana, jika kita melihat budaya “mencuci keris pusaka,” maka persepsi kita bisa bermacam-macam. Ada yang bilang “itu musyrik,” ada yang bilang “itu penghormatan bagi alam,” ada yang bilang “itu budaya yang harus dilestarikan,” ada yang bilang “repot amat pakai dicuci segala,” ada yang bilang “kegiatan ini menghidupi rakyat miskin (penjual kembang),” dan banyak lagi yang lainnya.

Pun dalam beragama, pendapat atas satu kejadian atau satu ayat, bisa berlainan persepsi. Ada yang bilang “neraka itu sekarang belum ada karena dunia belum kiamat” ada yang bilang “neraka itu sudah ada, nabi Muhammad pernah diperlihatkan,” ada juga yang bilang “neraka itu hanya simbol pembalasan, bukan secara fisik,” ada juga yang bilang “neraka itu sudah dimulai di dunia ini,” dan sebagainya.

Saya senang dengan balasan pak Ravi atas tulisan saya “Apa itu Islam ?.” Beliau berkata, semua nabi adalah Islam, meskipun mereka tidak pernah naik haji. Yang saya persepsikan atas jawaban itu adalah “Islam bukan dibawa oleh Muhammad, melainkan oleh seluruh nabi, termasuk nabi Isa AS” dan “ritual keagamaan dijalankan sesuai jamannya,” yang tentu saja nabi Isa AS tidak pernah naik haji. Jadi, pertanyaan saya tetap berlaku “Apa itu Islam ?.”

Saya juga prihatin atas “kegelisahan” bu Rahma yang menurut persepsi saya “banyak orang yang menentang pendapatnya dalam beragama,” maksud beragama bisa saja “menerjemahkan ayat-ayat” dan sebagainya. Jika kita kembalikan ke nilai-nilai persepsi, maka di sana ada prasangka, praduga, prakiraan, dan sebagainya. Ada orang tua yang menasihati anaknya dengan “kalau mencari jodoh, jangan dengan suku …, nanti kamu pasti diduakan,” atau “tampangnya saja begitu, pasti dia tukang tipu,” dan sebagainya.

Jadi, kembali kepada kata “maklum.” Maklumlah, kata pepatah “rambut sama hitam pendapat bisa berbeda-beda.” Kalau ditambah dengan guyonan almarhum Gus Dur lebih canggih lagi jadinya, “maklumi saja, gitu aja kok repot !.”

Kalau saya tidak banyak maklum, mungkin orang yang saya bunuh sudah banyak. Kata-kata yang menyakitkan baik yang ditujukan ke diri sendiri maupun ke agama saya sudah banyak saya dengar dan saya terima. Untunglah Tuhan memberi saya kesabaran yang lebih, “jangan memecahkan masalah dengan masalah.”

Saya bergaul dengan orang yang (pemikirannya) sangat alim, istilahnya “berpikir membunuh nyamukpun tidak tega,” sampai yang menyatakan “Tuhan memiliki banyak kelemahan.” Ini pendapat yang sangat ekstrem yang sangat jarang orang berani katakan atau berani tulis. Ia katakan bahwa (contoh) kelemahan-kelemahan Tuhan adalah “1. Tuhan tidak bisa menciptakan tuhan-tuhan lain yang setara dengan diriNya, 2. Tuhan tidak mau menyalahi aturan-aturan yang telah ditetapkanNya sendiri, misal, menerbitkan matahari dari utara, 3. Tuhan tidak bisa membuat seekor gajah berjalan melewati lubang jarum.”

Belum lagi bergaul dengan orang-orang yang suka klenik, persepsinya sering “tidak masuk akal,” bayangkan saja “ada martil besar menyumbat lehernya,” atau “penyakit Anda sudah saya pindahkan ke ayam,” dan sebagainya. Lagi-lagi kuncinya “maklum, gitu aja kok repot.”

Pernah juga suatu saat, saya sholat Jumat di bilangan Pancoran, Jakarta. Sang Khatib berceramah bahwa “setiap diri ini sudah ada takdirnya, termasuk takdir kita nanti akan masuk surga atau neraka.” Wah !, perbedaan pesepsi dengan saya nih. Kalau saya sudah ditakdirkan masuk surga atau neraka sejak lahir, dari sekarang saya berbuat sebrutal-brutalnya saja, ngapain beralim-alim ?. Toh kalau akhirnya masuk neraka, ya memang sudah pantas, kalau masuk surga, wow nikmat sekali, di dunia foya-foya kejahatan, di akhirat masuk surga. Dari pada saya harus capek beralim-alim di dunia, kalau akhirnya masuk neraka juga.

Jadi, pertanyaan saya adalah “Apa beda nasib dan takdir ?.”

9 January, 2010

Apa itu “Islam ?”

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 4:45 pm

Pondasi yang rapuh akan menjadikan sebuah bangunan mudah runtuh, begitu juga jika kita memiliki suatu bangunan yang disebut dengan “keyakinan,” maka diperlukan pondasi yang kokoh untuk menopangnya. Sering kita dengar kalimat, “ibadahnya kuat, tapi kok masih korupsi ya ?.” Di sini patut dipertanyakan, apanya yang ibadah ?. Begitu juga kalimat, “sholatnya tekun, kok masih suka menghina orang ya ?”. Di sini juga patut dipertanyakan, pantaskah ia disebut “sudah sholat” ?.

Dua pertanyaan saya terdahulu (“Untuk apa Tuhan menciptakan manusia,” dan “Apa itu Alquran”) merupakan upaya saya untuk memperkokoh pondasi keyakinan saya. Saya tidak ingin memiliki iman “selemah-lemahnya iman,” yaitu iman keturunan, atau iman ikut-ikutan, atau iman asal sekadar iman saja. Batin dan pikiran saya harus mantap dengan apa yang saya yakini.

Pertanyaan kali ini juga merupakan upaya saya memperkokoh keimanan saya, yang justru menjadi pondasi utama, yaitu “Islam,” suatu agama keturunan dari leluhur. Pertanyaan saya adalah “apa itu Islam ?.”

Banyak permainan kata, reka-reka, mengada-ada tentang apa itu Islam. Ada yang berkata Islam adalah singkatan Isya Subuh Lohor Ashar Maghrib (ini sih mencari pas-pasnya saja, di luar penerimaan nalar saya, tapi pas buat anak-anak balita). Ada juga yang berkata, Islam adalah agama, tetapi ada yang berkata Islam adalah pedoman hidup.

Ada yang berkata Islam dibawa oleh nabi Muhammad SAW, tetapi ada yang berkata Islam adalah agamanya seluruh nabi, mulai dari Nabi Adam AS. Ada yang pernah bertanya: “Adilkah Allah yang menjadikan seseorang dilahirkan sudah dari keturunan Islam, sementara ada orang yang dilahirkan di suatu daerah yang belum kenal agama Islam, tetapi kelak jika meninggal ia dimasukkan ke dalam neraka karena tidak memeluk agama Islam padahal selama hidupnya ia menjadi orang baik ?.”

Perilaku orang-orang Islam justru kadang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Islam itu sendiri sehingga banyak pihak barat (umumnya) yang mengidentikkan Islam dengan kekerasan, terorisme, dan semacamnya. Tidak perlu dengan orang di luar Islam, dengan sesama orang Islam saja banyak yang “bertengkar,” bagaimana bisa menjalankan misi rahmatan lil alamin ?.

Bahkan ada seorang ulama yang telah menyimpulkan “sulit mencari koruptor yang tidak naik haji atau umroh.” Itu diucapkan karena kesalnya dengan budaya bangsa Indonesia yang sebagian besar orang Islam (termasuk koruptor-koruptornya).

Jadi, apa sebenarnya Islam itu ?

8 January, 2010

Apa itu “Alquran” ?

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:28 am

Pertanyaan saya yang pertama telah ditanggapi secara baik oleh Ibu Rahma tentang “buat apa Tuhan menciptakan manusia.” Kini saya lanjutkan pertanyaan saya tentang “Apa itu Alquran ?.” Saya butuh sekali jawaban yang ‘masuk akal.’

Katanya, Alquran (atau Al Quran, atau Al Qur’an, atau Alqur’an) adalah mukjizatnya nabi Muhammad SAW., sebagaimana tongkatnya nabi Musa AS, atau daya penyembuhnya nabi Isa AS. Padahal, ketika kata dari ayat pertama disampaikan kepada Muhammad, yang berbunyi “iqra” (bacalah), Muhammad justru bertanya “ma aqra ?” (apa yang harus saya baca ?).

Kenapa Muhammad bertanya ?, karena ketika menyampaikan ayat tersebut, malaikat Jibril tidak membawa satupun bacaan (kitab), dan saat itu Muhammad juga tidak bisa membaca alias buta huruf. Jadi, apa arti hakiki dari Alquran ?.

Selama nabi Muhammad menyampaikan ajarannya (wahyu-wahyunya), tidak ada perintah nabi untuk membukukan wahyu-wahyunya. Dalam kalimat sederhana, bahwa pembukuan Alquran adalah perbuatan bid’ah, namun termasuk bid’ah yang bermanfaat (jadi, tidak semua bid’ah dilarang, kecuali membawa tanah kuburan Gus Dur untuk disimpan menjadi jimat). Pembukuan itupun tidak sesuai dengan urutan turunnya wahyu, karena ayat pertama di Alquran bukan surat tentang al-iqra.

Kini kitab-kitab Alquran banyak yang mencetaknya dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia agar ajaran Islam dapat disampaikan hingga ke seluruh penjuru dunia. Tak ayal, banyak pula percetakan-percetakan non muslim turut mendapat rejeki (rahmatan lil alamin) karena mendapat order untuk mencetak Alquran.

Jadi, apa yang dimaksud dengan Alquran sebagai mukjizat nabi Muhammad, karena ketika itu nabi Muhammad tidak pernah menenteng-nenteng Alquran sebagaimana nabi Musa menggenggam tongkatnya dan nabi Isa bisa menyembuhkan orang sakit ?.

5 January, 2010

Tanya: “Untuk Apa Sih, Kita Diciptakan ?”

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 8:36 pm

Wah, mumpung dan kebetulan di blog ini banyak yang mengupas tentang agama (Islam), dan kelihatannya canggih-canggih, maka tak ada salahnya jika saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang saya sendiri sulit menjawabnya. Mudah-mudahan saya akan mendapat jawaban yang memuaskan rasa keingintahuan saya.

Untuk pertanyaan kali ini, saya akan bertanya mengenai “Untuk apa kita (manusia) diciptakan Tuhan di muka bumi ini ?.”

Saya tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan ini. Paling-paling beberapa jawaban yang pernah saya terima adalah:

a. Sebagai khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi.

Lho ?, kan Tuhan Maha Segalanya ?, kenapa juga Dia membutuhkan wakil untuk “menjaga” bumi ?, memang Dia tidak mampu menjaga bumi ini ?, bukankah manusia justru merusaknya ?

b. Itu memang sudah kehendakNya

Lho ?, memang Tuhan Maha Berkehendak, tapi, apa semua yang ada dari dulu sampai yang akan datang itu semua atas kehendakNya (ijinNya)?. kalau begitu, kenapa kita sering bersitegang, sering berselisih paham, sering berkelahi dan sebagainya kalau kita telah meyakini bahwa semua ini adalah kehendakNya. Biarkan saja ada aliran Ahmadiyah, biarkan saja ada aliran Kepercayaan, atau ada bencong, homo, lesbi, pembunuh, dan semuanya. Kan semua sudah atas ijin dan kehendakNya ?.

c. Untuk berbakti dan menyembahNya

Butuhkah Tuhan akan sesembahan dan perbaktian agar Ia bisa bergelar “Maha Agung” atau “Maha Besar” ?. Apakah jika tidak ada manusia, Tuhan tidak “Maha Besar” ?.

Dan saya yakin, kita semua belum ada yang mengenal Tuhan sama sekali sebagaimana kita mengenal presiden kita. Kita semua kenal Tuhan karena Tuhan sendirilah yang memperkenalkan Dirinya melalui kitab-kitab dan orang-orang yang dipilihNya untuk memperkenalkanNya (nabi dan rasul, serta para pengikut-pengikutnya).

“Akulah Yang Maha Pengasih, Akulah Yang Maha Penyayang, Akulah Yang Maha Besar yang menciptakan siang dan malam,….” dan sebagainya, dan seterusnya, ayat-ayat mengenai Tuhan yang memperkenalkan diriNya.

Selanjutnya, setiap diri kitalah yang mempersepsikan “bagaimana Tuhan.” Karenanya ada yang mempersepsikan diri kalau Tuhan itu tidak adil, ada yang mempersepsikan diri bahwa Tuhan itu tidak sayang padanya, dan banyak pula yang mempersepsikan kebalikannya.

Jadi: “kita ini diciptakan untuk apa ?”

30 December, 2009

Selamat Tahun Baru, Sobat …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 1:45 pm

Kita memang harus berpikir secara hakekat

Bahwa dengan pergantian tahun berarti ajal kita semakin mendekat

Karenanya perlu kita renungi apa saja yang telah kita perbuat

Bukan malah menyambut tahun baru dengan kegiatan maksiat


Ayo sobat,

Mumpung nyawa masih dalam kungkungan hayat

Segeralah kita berbenah diri dan bertobat

Dan menyusun langkah ke depan secara bermartabat

Mengisi kehidupan dengan selalu memberi manfaat

Baik bagi diri, keluarga, maupun masyarakat


Selamat tahun baru, sobat

Semoga Anda menjadi orang yang semakin hebat

Semoga Anda tetap dalam kondisi sehat wal afiat

Dan, selalu ingat Tuhan, tidak tinggalkan sholat

22 December, 2009

Kasihan Luna Maya …

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 9:33 am

 

Cantik, seksi, pokoknya ideal-lah kalau dijadikan pacar bagi laki-laki (yang seleranya sama sama saya lho)…, tapi kasihan, ia sedang dirundung duka karena ia diadukan ke Polisi dengan alasan “pencemaran nama baik” oleh insan pers infotainment. Itulah Luna Maya yang terjerat kasus karena dunianya sendiri (dunia maya).

 

PENCEMARAN NAMA BAIK

 

Pencemaran nama baik adalah kegiatan merusak nama yang secara umum sudah diakui baik. Bagi MUI, penayangan infotainment pernah difatwakan sebagai tontonan yang diharamkan. Artinya, pembuat dan pengedarnya, namanya sudah tidak baik.

 

KEBEBASAN

 

Saya sudah beberapa kali menulis bahwa “kebebasan identik dengan kegilaan.” Orang yang paling terhormat adalah orang yang paling tidak bebas hidupnya, bahkan untuk sekadar melambaikan tangan saja, ia harus mengikuti aturan. Sebailknya, orang yang paling bebas hidupnya adalah orang gila. Karenanya, insan-insan pers seharusnya memiliki tata karma dan aturan-aturan kenormaan yang dibangunnya sendiri untuk mencegah penurunan martabatnya sendiri.

 

KONTROL DIRI

 

Sayang memang, kesempurnaan Luna Maya harus diperburuk dengan pencitraan dirinya sendiri yang kurang control, yaitu dengan mengungkapkan kata-kata makian dan hinaan yang ditujukan kepada pihak lain. Memang, sebetulnya cacian dan hinaan kepada pihak lain tidak bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik. Kalau itu bisa, maka seperti sudah sering saya tulis sebelumnya “Indonesia butuh penjara terbesar di dunia.”

 

BOIKOT

 

Kalau memang Wartawan infotainment kesal atau jengkel dengan tulisan Luna Maya, maka jalan terbaik adalah boikot (tidak memberitakan kegiatan-kegiatan) Luna Maya dan/ atau membalas tulisan-tulisannya di Twitter, bukan ‘minta bantuan Polisi.’ Silakan, mana yang menang, yang memboikot atau yang diboikot ?.

 

DAMAI SAJALAH ..

 

Kasus KPK Vs POLRI dan Kejaksaan yang besar seperti itu saja bisa dilakukan jalan damai di luar pengadilan, masak kasus Luna Maya (seorang) dengan Wartawan infotainment tidak bisa damai …., malu ah !

 

LUNA MAYA dan PRITA MULYASARI

 

Kasusnya jelas jauh beda meski hukum ITE-nya sama. Luna didenda 1M paling Cuma dengan ‘mengedipkan mata’ selesai, sedang Prita Mulyasari, bila tidak dibantu, sampai ‘mandi darah’ juga belum tentu bisa mengumpulkan uang sebesar 204juta. Luna Maya jelas-jelas mengeluarkan kata-kata makian yang kotor, pedas dan menghinakan, sedang Prita hanya mengeluarkan ‘keluhan dirinya’ dengan nada (kata-kata) yang biasa-biasa saja.

 

INDONESIA PENUH DENGAN PENCEMARAN NAMA BAIK

 

Perhatikan kasus-kasus saat ini, misalnya kasus Bank Century. Banyak orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui, tiba-tiba saja ikut-ikutan mencaci maki, membakar, merekayasa, menginjak-injak foto-foto orang yang belum tentu bersalah (belum ada vonisnya). Itu yang paling jelas mencemarkan nama baik. Silakan lakukan itu (kalau mau) nanti jika ia (mereka) terbukti bersalah atau memang sekarang kita sudah tahu pasti kalau ia (mereka) berbuat seperti itu. Bisa dibayangkan jika kita diperlakukan seperti itu.

 

PROSES PEMBELAJARAN BANGSA

 

Mudah-mudahan, semua kejadian ini menjadi bahan dalam proses pembelajaran bangsa. Kekisruhan, kemorat-maritan, keamburadulan, kesemrawutan yang terjadi di sana-sini, semoga bukan membenam menjadi budaya bangsa, melainkan membenam menjadi pengalaman yang tak boleh terulang yang akan menuntun bangsa ini menjadi bangsa yang besar di masa depan. Bahwa kejayaan bangsa akan bertumpu pada lima pilar yaitu kejujuran, keadilan, kepedulian, kesahajaan, dan kerja keras, yang berlandaskan pada keimanan.

16 December, 2009

Soal UAS buat Dosen

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:16 am

Waktu: 30 menit, tidak boleh nyontek, boleh menggunakan kalkulator, simak baik-baik pernyataan dan pertanyaannya, dan tentukan hanya satu jawaban pada setiap soalnya.

APA YANG SALAH DI NEGERI INI ?

1. KONTRADIKSI ANTARA BERITA DAN KENYATAAN

Kalau melihat berita di televisi, isinya melulu masalah kekisruhan dan kriminalitas negeri ini. Padahal katanya, negeri ini gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, negeri yang ramah murah senyum, negeri yang aman sentosa. Jadi apanya yang salah di negeri ini:

a). Kebanyakan stasiun televisi;

b). Terlalu bebasnya mengemukakan pendapat;

c). Lemahnya penegakan hukum;

d). Mudahnya aparat disogok;

e). Terlalu banyaknya pejabat yang korup.

2. PERLUKAH REFORMASI HUKUM ?

Untuk membuktikan dan membuikan orang miskin sangat mudah dan cepat, karena kebanyakan alat buktinya sangat meyakinkan dan tersangkanya sangat jujur mengakui perbuatannya. Sebaliknya, untuk membuktikan dan membuikan orang kaya yang korupsi milyaran bahkan triliunan rupiah amat sulit. Jadi apanya yang salah di negeri ini ?

a). Tidak ada street justice atau semacam detektif swasta;

b). Memang hukum dibuat untuk melindungi orang kaya;

c). Hukumnya memang dibuat banyak celah bagi orang yang berduit;

d). Pembuat hukumnya tidak selihai para pengacara;

e). Yang membuat hukum orang-orang kaya untuk melindungi dirinya sendiri.

3. MENGAPA SERING ADA KESURUPAN MASAL ?

Akhir-akhir ini, banyak kejadian kesurupan masal, baik di sekolah-sekolah maupun di pabrik-pabrik. Kebanyakan, yang kesurupan adalah kaum perempuan yang katanya sedang ‘tidak suci’ (datang bulan), atau yang suka menyendiri dan pendiam. Kenapa para setan sekarang suka berjamaah menyerang manusia ?. Jadi apanya yang salah di negeri ini ?

a). Karena sudah banyak setan yang menjadi pemeran utama di film-film nasional;

b). Karena pekerjaan setan sudah banyak yang diambil alih oleh manusia;

c). Karena setan-setan lelaki lebih banyak populasinya, berbalik dengan manusia;

d). Karena setan capek gentayangan terus tidak punya fisik;

e). Biar para dukun punya kesempatan menjadi orang kaya.

4. MENGAPA ADA TREN BUNUH DIRI ?

Beberapa kali kita mendengar atau melihat, baik langsung maupun tidak, peristiwa bunuh diri atau percobaan bunuh diri. Dari sekian banyak, yang paling ngetren akhir-akir ini adalah bunuh diri dengan cara melompat dari gedung bertingkat. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). Tidak ada racun dengan rasa apel, melon, anggur, dan sejenisnya;

b). Terlalu banyak gedung bertingkat;

c). Apapun dilakukan asal bisa ngetop;

d). Tidak mampu membeli tambang atau racun serangga;

e). Takut menghadapi tahun 2012

5. UNTUK APA “KOIN PEDULI PRITA ?”

Jumlah dana yang terkumpul dari kegiatan “Koin Peduli Prita” telah mendekati angka Rp. 500 juta rupiah, jauh melampaui denda Prita yang dituntut RS OMNI Internasional yang disetujui Pengadilan Negeri Tangerang sebesar Rp. 204 juta rupiah. Baru-baru ini Pengacara RS OMNI Internasional telah membatalkan tuntutan perdata tersebut sehingga Prita tidak perlu membayar denda tersebut. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). BI terlalu banyak mencetak uang koin;

b). Terbukti bahwa penduduk miskin di negara ini sangat banyak;

c). Berikan ke Pansus Bank Century untuk kerokan biar tidak masuk angin

d). Tempel saja di seluruh dinding rumah Prita;

e). Dilebur saja dan dijadikan patung “Prita Simbol Perlawanan Rakyat Kecil”

6. UNTUK APA POLISI PAMONG PRAJA ?

Di berbagai daerah, sedang marak-maraknya aksi penertiban, baik penertiban pedagang kakilima, penertiban bangunan-bangunan liar, penertiban gelandangan dan pengemis, dan berbagai jenis penertiban lain. Penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP tersebut tidak urung menuai protes dan adu mulut serta adu jotos dengan pihak yang akan ditertibkan. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). Satpol PP sengaja menunggu banyak yang melanggar dulu baru ditertibkan;

b). Gerakan disiplin atau tertib hanya seumur pohon toge saja;

c). Penertiban semacam itu sama sekali tidak membuat efek jera;

d). Prinsip pedagang kakilima “gugur satu tumbuh seribu”

e). Hitung-hitung, hanya coba adu nyali para anggota Satpol PP

7. KENAPA MAHASISWA/PELAJAR TAWURAN ?

Memang sungguh memalukan, mahasiswa/ pelajar  yang notabene kaum elit dan kaum terpelajar yang diharapkan membawa tongkat estafet pembangunan bangsa di masa depan malah sering berkelahi dengan sesamanya, bahkan sampai tewas.  Apanya yang salah di negeri ini ?

a). Pemimpin bangsa di masa depan memang harus berani berkelahi;

b). Menjalankan prinsip: “Berani karena banyak, takut kalau sendiri”;

c). Kalau mau menjadi anggota DPR kan harus ngetop dulu;

d). Karena tidak ada mata kuliah “Olah Raga” di fakultasnya;

e). Di kalender, warna merahnya kurang.

8. BISAKAH INDONESIA MENJADI TUAN RUMAH PIALA DUNIA 2022 ?

Dulu, Menpora Adyaksa Dault mencanangkan Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia sepakbola tahun 2022. Memang masih lama, dan memang harus dipacu prestasinya agar semakin mendekati tahun itu, prestasi persepakbolaan kita sudah mendunia. Namun bagi sebagian orang, keinginan Menpora tersebut terlalu mengada-ada. Jadi, apanya yang salah di negeri ini ?

a). Belum ada pemain kita yang ditransfer ke AC Milan dengan nilai di atas 1 juta dolar;

b). Pemain masih bingung karena, selain harus pandai bermain bola juga harus bisa tinju;

c). Pembangunan SDM belum maksimal, sebagian besar SDM kita tubuhnya masih kecil-kecil dan IQ-nya rendah;

d). Waktu 12 tahun tidak bisa menjadikan juara RT menjadi juara klub dunia;

e). Bangsa kita terbiasa sudah kalah sebelum bertanding.


9. MENGAPA RAMAI-RAMAI MENANAM POHON ?

Ibu Ani Yudhoyono dan ibu-ibu pejabat lain (sampai di lingkup ibu RT) ramai-ramai menjalankan program menanam pohon. Program itu sangat baik untuk mengantisipasi perubahan iklim yang ekstrem di masa depan yang dapat mengakibatkan bencana besar. Namun, gerakan itu hanya sesaat saja tanpa diperhatikan apakah pohon yang ditanam bisa tumbuh. Program itu ada sejak jaman Ibu Tien Soeharto. Apa yang salah di negeri ini ?.

a). Program penanaman pohon tidak diikuti program pemeliharaan pohon itu;

b). Jumlah pengusaha pembabat hutan lebih besar dan kuat;

c). Boleh membabat hutan semaunya asal berani memberi upeti kepada aparat;

d). Tutup usaha perumahan yang areal hijaunya lebih kecil dari areal non hijaunya;

e). Banyak rumah yang sudah tidak memiliki halaman lagi untuk menanam pohon.


10. KENAPA MASIH TERUS TERKORUP ?

Dari laporan badan dunia apapun, nama Indonesia masih tercantum sebagai negara terkorup. Padahal, sudah banyak lembaga yang didirikan untuk memberantas korupsi. Apanya yang salah di negeri ini ?.

a). Lembaga anti korupsi boleh banyak, tapi aparat-aparatnya anti korupsi nggak ?

b). Lumayan, ada prestasi yang mendunia di luar Kris John;

c). Badan dunia itu sok tahu tentang negara kita;

d). Korupsi memang sudah jadi budaya kita;

e). Di negeri ini susah membedakan antara korupsi, hadiah (hibah), oleh-oleh, sumbangan, pinjaman, tips, uang rokok, dan semacamnya.

BONUS SOAL:

Bila Anda memiliki anak yang hendak masuk kuliah, jurusan apa yang Anda sarankan kepada Anak Anda tersebut ?

a). Ilmu Hukum, karena profesi di bidang hukum akan menjadi profesi yang ‘basah’ di masa mendatang;

b). Arsitektur, karena bisa merancang bangunan yang digunakan untuk kabur bila korupsinya mulai diendus aparat;

c). Seni Peran, karena di masa depan, kita dituntut untuk bisa memainkan banyak peran, mulai dari tertuduh, saksi, terdakwa, Pengacara, Ketua KPK, dan sebagainya.

d). Teknik Informatika, karena di masa datang, tenaga ahli bidang informatika banyak dibutuhkan di pengadilan-pengadilan, khususnya yang berkaitan dengan suara;

e). Teknik Sipil, karena di masa depan, kebutuhan akan bangunan penjara di berbagai lokasi akan banyak dibangun, khususnya yang berada di dasar laut.

14 December, 2009

Jelang Tahun Baru Hijriah

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 12:44 pm

 

 

Tahun Hijriah diawali ketika nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya melaksanakan hijrah dari Mekah ke Madinah. Namun saya tidak ingin mengupas hal itu (dari sisi agama secara mendalam) karena sudah ada ahlinya sendiri. Saya hanya ingin ingin menyampaikan pendapat tentang makna kata hijrah secara konsep kebatiniahan (bukan karena saya ahli kebatinan lho). Namanya penyampaian pendapat ya boleh-boleh saja toh?, adapun bagi yang merasa kontra, silakan saja, dalam dunia akademis hal itu sah-sah saja. Tak perlu disimpan di hati, apalagi sampai kesal, cemberut dan marah …, he..he..(merugikan diri sendiri saja).

 

Bagaimana ‘perpindahan batiniah’ itu ?. Batin itu imajiner, sangat fleksibel, sangat luwes, sehingga mudah dibelak-belokkan, turun-naik, diajak serius, diajak bercanda, dan sebagainya. Keinginan apapun akan mudah tercapai dari sisi batin, mau kaya ?, mau berjumpa bidadari ?, mau terbang ke langit ?, semua mudah. Anggota utama dari batin adalah pikiran dan perasaan. Pikiran juga bisa dibagi menjadi logis dan tidak logis. Logis juga bisa dibagi lagi menjadi khayal dan nyata. Sedangkan yang tidak logis bisa dibagi menjadi mimpi dan ketidaksadaran (alam bawah sadar). Karena batin itu sangat fleksibel, maka pembagian anggota ‘tubuh’nya tidak bisa dipastikan atau ditetapkan dengan pasti. Contoh seorang anak SD yang bercita-cita ingin menjadi dokter padahal ia anak seorang pemulung, maka kita tidak dapat memastikan apakah keinginannya itu pasti masuk ke kategori  “khayalan yang tidak logis” atau bukan. Cita-cita itu bisa jadi masuk ke kategori “khayalan yang logis” karena (bisa jadi) ada bantuan dari pihak eksternal.

 

Sedangkan perasaan dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu bahagia dan derita. Perasaan umumnya datang dari diri sendiri (internal), namun juga sangat tergantung oleh faktor-faktor eksternal. Faktor-faktor eksternal bisa berupa orang, iklim, barang, dan sebagainya. Kebahagiaan dan penderitaan seseorang sangat tergantung dari filter atau strata atau kedewasaan atau pengalaman seseorang. Seorang mahasiswa yang saya beri nilai “E” banyak yang tidak merasa sedih, karena dari dulu ia sudah sering mendapat nilai “E,”  sebaliknya, ada yang sedih mendapat nilai “B” karena ia merasa mampu menyerap seluruh materi yang saya ajarkan.

 

Jadi, apa makna dari kata “hijrah” secara batiniah ?

 

Hijrah secara batin bukan sekadar pindah, melainkan juga melakukan peningkatan. Seperti halnya anak sekolah yang harus selalu naik kelas dari tahun ke tahun. Kalau dulu kita sering berkhayal yang kadang tidak masuk akal, misalkan ingin bisa terbang ke sana ke mari, maka kita harus tetap terus berkhayal, namun yang masuk akal, misalkan ingin menciptakan mobil atau sepeda terbang pribadi untuk menghindari kemacetan lalu lintas di jalan raya.

 

Kalau dulu amat mudah tersinggung oleh perkataan orang lain, sekarang sudah lumayan kebal, karena memang tidak semua manusia diciptakan sama, maka maklumlah jika ada orang yang seperti itu. Yakinlah bahwa Tuhan menciptakan neraka pasti ada manfaatnya, siapa tahu orang yang membuat kita kesal itu memang sudah Tuhan rencanakan untuk tinggal di sana nantinya, apakah kita mau tinggal di sana juga (dengan menyimpan dendam di dalam hati) ?.

 

Jika kita dulu berpikir bahwa kita berusaha, bekerja, atau berbuat baik untuk teman atau pimpinan kita, maka kini kita tingkatkan bahwa kita berusaha, bekerja, atau berbuat baik untuk kebaikan diri sendiri  dan memohon ridhoNya. Jadi, jika kita berada di lingkungan yang buruk, bukan berarti kita juga harus berlaku buruk, tetaplah menjadi baik. Jika dulu kita memandang kata “iqra” yang berarti “bacalah” maka kita rajin membaca Alquran (tekstual), maka sekarang meningkat dengan ’membaca’ fenomena alam.

 

Contoh fenomena alam yang sederhana (?), antara fisik dan batin itu berkaitan sangat erat, seperti dalam komputer antara ‘hardware’ dan ‘software.’ Artinya, kondisi fisik seseorang terkait erat dengan sifat atau kondisi batiniahnya, dan sebaliknya kondisi batiniah seseorang akan terkait erat dengan kondisi fisiknya. Misalnya yang sering kita dengar “ciri orang sakit darah tinggi adalah suka marah-marah” namun banyak juga yang bilang “jangan suka marah-marah, nanti darah tinggi lho.”

 

Yah, jadi pada intinya, yang akan kembali ke akhirat nanti adalah roh kita (batiniah), atau di komputer, operating system akan kembali ke pabriknya, tapi program aplikasi harus dipertanggungjawabkan kinerjanya, karenanya, selain arti tekstual dalam Alquran, maka renungkan pula arti batiniahnya. Tak usah jauh-jauh, Tuhan memerintahkan kita sholat, apakah yang diinginkan Tuhan itu hanya gerakan-gerakan dan bacaan-bacaannya saja ?, apakah orang yang sudah mengerjakan shalat seperti itu, tetapi korupsi jalan terus pantas dikatakan sudah shalat ?. Apakah orang yang sudah shalat seperti itu tetapi selalu merendahkan orang lain dan menyombongkan diri sendiri pantas dikatakan sudah shalat ?.

 

Selama negeri ini hanya ‘membaca Alquran’ secara tekstual belaka, maka negeri ini akan terus gonjang-ganjing seperi ini. Seharusnya kita bisa berkaca kepada negeri-negeri yang makmur, aman, dan tenteram lainnya, bahkan di antara mereka (negeri itu) ada (bahkan banyak) yang belum pernah melihat Alquran sekalipun, apalagi membacanya. Kenapa kita tidak bisa melebihi mereka ?, padahal di negeri kita, banyak sekali orang-orang yang hafal Alquran, banyak sekali kiyai-kiyai, banyak sekali ulama, dan seterusnya. Pantaslah bila nabi Muhammad SAW bersabda “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Padahal kita tahu sendiri, negeri itu adalah negeri dengan sistem  pemerintahan komunis yang sebagian besar penduduknya atheis.

 

Sebagai penutup, kembali saya ungkapkan pernyataan bahwa “Tuhan tidak akan menyia-nyiakan apapun dari ciptaanNya, termasuk neraka. Maka, teruslah bekerja, berbuat, dan berusaha sebaik yang kita mampu untuk menjadi orang baik, dan berusaha selalu meningkatkan kemampuan kita itu agar kita bukan orang yang akan dijadikan manfaat dari neraka.” Kata kang Ebet Kadarusman: “Memang baik menjadi orang penting, namun jauh lebih penting menjadi orang baik.”

 

 

 

9 December, 2009

Fenomena (Baru) Latah: Pengumpulan Koin

Filed under: Blogroll — Bambang Wahyudi @ 10:49 am

Baru-baru ini ada fenomena baru, yaitu pengumpulan koin untuk menyumbang Ibu Prita Mulyasari yang terkena sanksi denda sebesar Rp. 204 juta rupiah yang diputus oleh Pengadilan Negeri Tangerang. Sejak berita ini tersiar, secara spontan Bp. Fachmi Idris (ex Menteri Depnakertrans) menyatakan diri menyumbang setengahnya (Rp. 102 juta). Akhir-akhir ini juga Partai Demokrat terdengar menyumbang Rp. 100 juta, belum dari yang lain-lain.

Sementara itu, di lingkungan lain, ada orang-orang yang peduli akan nasib ketidakadilan yang menimpa Ibu Prita tersebut, namun tidak mampu untuk menyumbang dengan uang besar. Akhirnya mucul ide untuk menampung kepedulian dari rakyat kecil atau yang tak mampu untuk menyisihkan sedikit hartanya, boleh Rp. 100,- boleh Rp. 200,- dan seterusnya dalam bentuk koin (mata uang recehan).

Ada pengendara becak, ada (maaf) WTS, ada anak sekolah, dan semacamnya dari berbagai tempat di seluruh Indonesia (yang memang mayoritas dari warga ekonomi menengah-bawah) sangat antusias. Dengan mengumpulkan recehan yang banyak, toh akan menjadi besar juga.

Tapi fenomena ini menjadi aneh tatkala di lingkungan mampu (the have, ekonomi menengah atas), diharuskan pula menyumbang dalam bentuk koin. Alhasil, ada di antara mereka malah jadi mundur teratur. Ada seorang warga yang ingin menyumbang sebesar Rp. 1 juta, karena panitia mengharuskan dalam berbentuk koin, ya akhirnya warga tersebut tidak jadi menyumbang di (melalui) panitia tersebut. Katanya “mau nyumbang kok disusahin…!, ngapain pake nuker koin segala…!”

Yah, budaya latah memang masih mendominasi perilaku di negara kita. Kalau satu petani berhasil menanam jagung, maka semua petani di lingkungannya mengubah tanaman asalnya menjadi jagung. Kalau satu petambak berhasil beternak udang, maka petambak-petambak di sekitarnya mengubah ikannya menjadi udang. Jarang yang mau berpikir beda (think different).

Maka, tak heran kalau terjadi “korupsi berjamaah” karena memang latah…..

Di pertengahan hari ini, saya telah membaca di email di UG, dan saya baru sadar kalau kebanyakan dari mereka mau juga menyumbang dalam bentuk koin, dan itu semata-mata bukan dinilai dari uangnya, melainkan menjadi simbol protes penegakkan hukum (yang dinilai tidak adil). Saya sadar ternyata mereka menyumbang bukan semata-mata mengharap ridho dari Allah SWT (ikhlas tanpa embel-embel apapun), namun untuk “memberi pelajaran kepada RS OMNI. “Saya ingin penuhi gudang RS OMNI dengan uang receh (koin)” katanya.

Nah, kalau sudah begini, mana bisa sama nilainya menyumbang Rp. 100,- tetapi dengan niat untuk ‘memberi pelajaran’ kepada aparat atau RS OMNI dengan menyumbang Rp. 102 juta, meskipun niatnya sama ?. Nilai akan sama (dalam hitungan amal ibadah), jika si miskin menyumbang Rp. 100,- dan si kaya menyumbang Rp. 102 juta dalam kondisi batin yang ikhlas Lillahi ta’ala.

Astagfirullah, inalillahi, ternyata kata ’sumbangan’ sudah dipolitisir secara berjamaah….

Next Page »

Powered by WordPress