TEACHER : What is the chemical formula for water?
SARAH : “HIJKLMNO”!!
TEACHER : What are you talking about?
SARAH : Yesterday you said it’s H to O!
TEACHER : Ellen, give me a sentence starting with “I”.
ELLEN : I is…
TEACHER : No, Ellen. Always say, “I am.”
ELLEN : All right… “I am the ninth letter of the alphabet.”
Orang setengah baya yang berdarah biru itu terlihat marah besar bak seekor singa siap menerkam mangsa. Di sudut ruang kantor ber-AC terlihat jejeran orang-orang kumuh berbaris seperti patung dengan raut muka layaknya sedang melihat hantu di siang bolong. Semua tertunduk lesu di hadapan sang singa. Mirip kerupuk disiram air. Bak halilintar akhirnya suara bariton sang big-boss menerjang gendang telinga. “Keledai pun tidak akan terantuk dua kali!!”, hardik sang big-boss. “Saya benar-benar kehilangan muka !”, lanjutnya. “Udah tahu konsumen itu raja, masa kerja aja kayak siput!”. Begitulah rentetan kemarahan seperti mitraliur memuntahkan pelurunya. Ruangan itu pun bak kuburan. Hening dan mencekam.
Bukan latah. Bukan juga untuk ikut-ikutan menghakimi siapa yang salah dan benar. Kebenaran dalam konteks politik mungkin dapat dibungkus dengan agenda tersembunyi, namun bukan berarti semua orang politik itu licik. Bukan juga untuk memposisikan BI, Depkeu atau LPS sebagai lembaga yang bebas kesalahan. Benar dan salah sejauh pengetahuan manusia dalam konteks ruang dan waktu tertentu adalah wilayah etika. Jadi ketika pengetahuan manusia berbeda-beda tentang kasus Bank Century maka persepsi benar dan salah pun bisa berbeda-beda. Lalu kepada siapa atau apa kita harus mencapai kata sepakat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah ?
Ketika tahun telah berganti, selalu ada harapan atau optimisme untuk melakukan kegiatan atau pencapaian yang lebih baik.. Itupun seandainya hidup ini mengikuti scenario, rencana, atau ambisi. Bagaimana jika tidak punya rencana atau ambisi? Akankah kita akan membiarkan hidup kita seperti air mengalir tak tentu arah, terombang-ambing ombak kian kemari, atau terhuyung-huyung diterpa angin?
Setelah kontroversi exit poll kemarin, semua stasiun TV kembali dijejali dengan hasil Quick Count (QC), baik yang dibahas dalam acara khusus maupun sekedar running text. Beberapa pihak pun banyak yang menyetuji hasil QC ini sebagai prediksi pemenang pilpress, tapi ada juga yang mempertanyakan keabsahan metode tersebut. Malah tidak sedikit yang menuduh bahwa QC hanyalah akal-akalan, atau ada “titipan” dari peserta pilpress. Mungkin iya mungkin juga tidak
Tergantung orang atau lembaganya juga kan. Namun faktanya ada beberapa lembaga riset yang hasil QC-nya relatif mendekati real count (RC). Bahkan sebuah lembaga riset mengklaim telah masuk MURI juga karena ramalannya (baca QC) hampir selalu menjadi kenyataan (baca Real Count). Kok bisa?
Setelah berpartisipasi dalam pilpres, saya langsung menonton TV. Sebuah stasiun TV ternyata telah menyiarkan hasil exit poll. Hasil sementara itu berasal dari Indonesia bagian timur yang secara umum sudah selesai pelaksanaan pilpresnya. Tidak berapa lama, kritikan dan sindiran keras pun bermunculan, terutama dari kubu capres-cawapres yang sedang bersaing. Kata-kata “tidak beradab“, “tidak etis“, dan kata-kata berkonotasi negatif pun bermunculan di TV. Yang dipermasalahkan adalah pengumuman sebagian hasil exit poll itu disampaikan ke publik sebelum pencentangan di wilayah lainnya belum selesai. Emang gak boleh ya di Indonesia ?
Tulisan ini terinspirasi oleh headline di sebuah tabloid online. Juga email yang diposting di milis sebuah asosiasi profesi, “Ini berarti hidup atau mati perusahaan asuransi ditentukan dalam kurun pemerintahan yang akan datang“. Dua berita atau pernyataan yang kelihatanya saling berlawanan, padahal tidak
Kenapa ?