Rumah Kita, Rumah Kaca (2)
Rumah kaca tersebut sekarang menjadi rumah kaca raksasa. Permukaan bumi menjadi lantainya dan atmosfir udara menjadi langit-langitnya. Kita semua sudah terperangkap di dalamnya. Dan rumah kita itu sudah semakin panas. Efek kenaikan suhunya tidak sesederhana seperti ilustrasi udara panas dan butir keringat pada tulisan sebelumnya. Dampak yang lebih besar adalah perubahan iklim dan ekosistem dunia yang akan mengganggu kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia. Pertanyaannya adalah apakah kita dapat hidup nyaman di dalamnya? Bahkan lebih ekstrim lagi, sampai kapan kita dapat bertahan hidup di dalamnya?
Memprihatinkan
”Global warming means dark future”, demikianlah pendapat para peneliti yang dikutip dari majalah online People Weekly World (2007). Sebuah pernyataan yang patut menjadi kepedulian bersama. Seberapa seram kondisi rumah kita di masa depan tersebut dilengkapi dengan bukti-bukti empiris. Salah satunya adalah melelehnya lapisan es di Greenland dan benua antartika yang dapat menimbulkan banjir dan merusak garis pantai dan ekosistem, terutama pada delta-delta dan dataran rendah di Asia dan Afrika.
Itu berarti delta atau pulau-pulang kecil di Indonesia terancam tenggelam. Jumlah pulau-pulau sebanyak 17.504 pun harus siap-siap dihitung ulang, padahal baru 7.870 di antaranya yang sudah mempunyai nama. Panjang garis pantai Indonesia- yang mencapai 81.000 kilometer pun terancam berkurang, atau dengan kata lain, pulau-pulau seperti Jawa atau Sumatera akan berkurang luasnya karena garis pantai semakin naik menuju daratan. Kota-kota di pinggiran pantai pun terancam, terutama yang ketinggian di atas permukaan laut-nya rendah. Puluhan juta orang yang hidup dan berkehidupan di kota tersebut pun ikut terancam.
Rasanya kita sepakat bahwa masa depan yang menyeramkan tersebut mudah-mudahan tidak terjadi. Kesepakatan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan upaya-upaya bersama dalam mengurang- kalau tidak bisa menghilangkan, faktor-faktor penyebab pemanasan global. Emisi gas buang dari kendaraan, polusi udara dari pabrik-pabrik, dan pembalakan hutan adalah beberapa contoh faktor penyebab terakumulasinya CO2- jenis gas yang merupakan penyebab utama pemanasan global. Kita patut sangat prihatin jika melihat kondisi kendaraan, limbah udara pabrik, dan kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia
Kekhawatiran tersebut perlu menjadi renungan bersama tanpa harus disertai saling menyalahkan. Sudah saatnya, masalah lingkungan menjadi prioritas utama dalam program pemerintah, atau minimal aspek lingkungan diintegrasikan ke dalam program pembangunan nasional di bidang lain. Rasanya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Persyaratan dan pengujian emisi kendaraan harus dilakukan secara berkelanjutan, penegakkan hukum terhadap pengusaha yang menimbulkan pencemaran udara, serta penanganan kebakaran hutan dari aspek lingkungan, hukum, ekonomi, dan sosial-kemasyarakatan. Dari sisi masyarakat pun harus tumbuh budaya mencintai dan memelihara lingkungan hidup di lingkungannya masing-masing. Itu bisa dimulai dari sekarang- misalnya gerakan menanam pohon atau penanganan sampah keluarga. Memang sebuah usulan yang klise. Tetapi jangan sampai kita menjadi apriori atau bosan dengan segala persoalan yang masih terjadi di Indonesia. Marilah kita terus mengkampanyekan isu tentang kualitas lingkungan. Karena bumi ini adalah rumah milik kita bersama.
Kutipan:
“You guys are making a life-changing impact. Starting with me, with one street, to one neighbor, to one neighborhood,” - dari sini.
May 8th, 2007 at 8:01 pm
Di Jerman trend yang ada adalah disain rumah yang disebut Rumah Pasif. Artinya rumah ini menggunakan enerji kecil (ketika panas, tak membutuhkan AC, ketika dingin membutuhkan pemanas kecil). Tempat tinggal kami di Jerman berlangit-langit rendah, tapi kalau di musim panas tidak panas (walau suhu di luar sampai 45 derajat).
Makin panasnya Jakarta akibat “tragedy of common” tiap orang mau pakai AC sehingga Jakarta makin panas. Bukan diatasi dengan disain rumah yang memiliki aliran udara yang baik.
May 8th, 2007 at 9:31 pm
Memang sangat ironis juga ketika keinginan memperoleh “kenyamanan” pada saat ini bisa menimbulkan tragedi di masa depan. Menurut beberapa para ahli ada beberapa jenis refrigerant yang ada di AC justru berpotensi meningkatkan efek rumah kaca. Mudah-mudahan ada program, siapapun pencetus atau penggeraknya, yang mendorong penggunaan sarana dan prasarana kehidupan yang “ramah lingkungan”
May 9th, 2007 at 4:56 am
Mungkin bisa jadi riset baru jurusan aristektur, sipil, komputer (utk simulasi aliran udara misal memanfaatkan komputer cluster).
Sehingga bisa dibangun rumah ramah lingkungan dan sejuk. Salah satu kendala rumah pasif di Jerman adalah biaya awal yang tinggi (isolasi, materi dsb).
Beberapa peneliti Jerman memanfaatkan teknologi tradisional Afrika yang “diperbaru” prosesnya. Mungkin sudah saatnya menggali tradisi lama dengan teknologi modern
May 9th, 2007 at 11:24 am
Mudah-mudahan temen-temen di UG mulai mengarah ke topik riset seperti yang dicetuskan Pak Made ya. Temen-temen dari ekonomi mungkin tertarik dengan perspektif ekonomi dari degradasi kualitas lingkungan. Ada prinsip yang disebut “externalities”, yaitu tindakan produsen atau konsumen yang memberikan dampak tidak langsung kepada produsen atau konsumen lain. “Externalities” tsb bisa positif atau negatif. Untuk kasus “environmental externalities” umumnya bersifat negatif, contohnya polusi dari kendaraan bermotor, atau pencemaran sungai oleh limbah pabrik.
“Externalities” negatif menunjukkan biaya sosial-yang akhirnya ditanggung masyarakat, yang lebih besar dibandingkan biaya individu- yang masuk perhitungan biaya produksi oleh produsen.
atau “Eko Labeling” untuk produk hasil hutan. Pajak tersebut selanjutnya oleh pemerintahnya masing-masing digunakan untuk program peningkatan kualitas lingkungan.
Para ahli ekonomi lingkungan menyatakan biaya sosial tersebut harus ditanggung oleh produsen. Kesulitannya adalah bagaimana menghitung biaya sosial sebagai komponen biaya produksi. Biasanya yang lebih gampang adalah dengan mengenakan pajak terhadap barang yang berpotensi merusak lingkungan. Hal ini mendasari beberapa negara maju mengenakan pajak tinggi terhadap rokok
Kasus rumah pasif yang mahal juga menunjukkan prinsip “environmental externalities”. Tetapi karena kesadaran masyarakatnya relatif tinggi, maka biaya sosialnya ditanggung bersama oleh warga masyarakat. Biaya menjaga lingkungan yang “ramah” memang relatif mahal, tetapi biaya tsb relatif lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan atau bencana lingkungan.
May 9th, 2007 at 12:50 pm
Saya dengar sapi juga berpengaruh signifikan terhadap global warming ini pak.
Silahkan lihat :
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/avinanta/2007/04/30/sapi-lebih-berbahaya-daripada-mobil/
May 9th, 2007 at 1:17 pm
Iya Om Bob, saya sudah membacanya juga. Memang emisi CO2 menjadi “biang kerok” dari pemanasan global. Bahkan emisi CO2 tersebut sudah menjadi salah satu indikator dari tujuan ke-7 Millenium Development Goals (MDGs)- yang disepakati oleh 189 Negara pada saat KTT PBB pada tahun 2000. Juga ada Protokol Kyoto yang lebih dikhususkan dalam kesepakatan dalam pengurangan emisi gas penyebab pemanasan global. Perjanjian internasional tersebut sudah dideklarasikan tahun 1997, dan sampai Desember 2006 sudah ditandatangani oleh 169 negara. Tetapi, Amerika Serikat belum mau meratifikasi protokol tersebut walaupun sudah dikeroyok sama Uni Eropa. Mungkin temen-temen bisa memberikan sedikit info tentang alasan negara adidaya tersebut.
Sayangnya untuk pencapaian indikator emisi CO2 ini, Laporan MDGs 2007 untuk Asia Pasifik menyebutkan bahwa Indonesia memperoleh predikat “Off The Track-Regressing”, artinya mengalami kemunduran atau stagnasi.
May 9th, 2007 at 3:37 pm
Jakarta panas rasanya bukan karena tiap orang pakai AC, tapi lebih karena memang iklim yang sudah panas. Ditambah juga oleh polusi yang sudah di ambang batas.
Coba kalau kita berdiri atau duduk-duduk di bawah pohon yang rindang di tengah kota ini, kita akan tetap keringatan karena selain Jakarta ini panas, tingkat kelembabannya cukup tinggi (belum lagi kena semprot karbon tebal dari asap knalpod bus).
Jadi, walaupun rumah itu didesain sedemikian sehingga tidak perlu AC, walaupun udara Jakarta itu panas, tetap aja kita keringatan.
May 9th, 2007 at 8:02 pm
Rasa panas itu akibat kelamaan rasa dingin. Tendensi itu yang menyebabkan orang Jakarta cenderung pakai AC.
Seringkali penggunaan AC di kantor di Indonesia “dingin”nya kelewatan, sehingga ketika kita keluar merasa SANGAT tidak nyaman dan di rumah menjadi membutuhkan AC.
Coba perhatikan berapa derajat “setting” AC di kantor ? Dan berapa derajat suhu di luar rumah. Saya yang tinggal di Eropa saja, sering merasa kedinginan kalau di kantor-kantor Indonesia.
May 11th, 2007 at 9:11 am
Kalau bicara dingin dan panas, einstein pernah bilang kalau dingin itu sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah “ketiadaan panas” . Jadi menurut saya untuk kenyamanan…isu nya bukan menambah hawa dingin…tapi mengurangi hawa panas…
June 4th, 2007 at 11:32 am
saya pikir ini jadi pemikiran kita bersama dalam menanggapi “global warming” ini.
kasian kan ma anak cucu kita,,,
June 11th, 2007 at 9:50 am
Pemanasan global sekarang sudah menjadi “hot issues” akhir-akhir ini. Pertemuan G8 telah gagal memaksa AS tuk meratifikasi protokol Kyoto- yang peringatan ultahnya justru akan diselenggarakan di Bali pada akhir tahun ini. National Geographic menyajikan “Earth Report” khusus tentang “global warming”- yang kemarin sore ditayangkan di salah satu stasiun TV dengan isi yang “cukup menyeramkan”
June 12th, 2007 at 3:48 pm
saya juga menyaksikan “earth report” di metro tv, dan saya rasa, penggunaan kotoran sapi sebagai sumber energi baru,,
sangatt hebat. kalau digunakan secara maksimal juga pasti akan mengurangi polusi udara, selain itu kotoran sapi juga menghasilkan gas sisa pembakaran yang minim..
kalau saja digunakan maksimal. iia tak
oom?
prkenalkan. saya lydia avry.
umur 13 tahun. sekolah dii smp 255.
hehe.
June 16th, 2007 at 9:28 am
Tidak hanya efek rumah kaca,
kebakaran hutan juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pemanasan global. Maka jangan heran jika Indonesia adalah salah satu penyumbang karbondioksida ke 3 terbesar di dunia. kebakaran hutan yang marak terjadi di Indonesia sangat berpengaruh bagi dunia. Jakarta kini juga menjadi “gudang asap” yang disebabkan kendaraan bermotor dengan emisi gas buang yang jauh dari sempurna.
Maka sudah saatnya kita memperhatikan bumi yang kita tinggali ini demi anak cucu kita di masa mendatang. Mulailah dari diri kita sendiri, Karena jika kita tidak memulai dari diri kita sendiri, lalu dari mana kita akan memulai kelangsungan hidup yang sehat dan menciptakan bumi yang ramah.
June 21st, 2007 at 2:50 pm
Tuk lydia, soal “sapi” bisa lihat komentar om Avi sebelumnya, termasuk tulisan beliau di blog-nya.
Tuk saudara chrisma, “gudang asap” di Indonesia- baik dari pembakaran hutan, asap kendaraan bermotor, atau limbah udara dari pabrik-pabrik, memang menjadi salah satu sumber emisi CO2 yang menyebabkan efek rumah kaca semakin meningkat. Moga2 peringatan hari ulang tahun ke-10 protokol kyoto yang akan diselenggarakan di Indonesia pada bulan Desember, bisa menjadi titik balik dalam pengembangan program-program pemerintah yang lebih ramah lingkungan
July 28th, 2007 at 9:33 pm
[...] Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup. Karena negara Indonesia terletak di Khatulistiwa, dampak hawa panas lebih terasa menyengat. Tapi untung sekali lagi (hehehehe) belum ada yang meninggal karena [...]
December 11th, 2007 at 11:56 am
illegal logging juga slah satu penyebab global warming kan?udah bumi makin panas, negara juga rugi mulu.kurang ajar emang orang2 sugih tukang tebang hutan,&orang2 malysia(emg ngajakin perang mulu ni negara) yang suka ngebabatin hutan indonesia. Gimana klo cukong2 kayu yang suka mbabat hutan sembarangan itu hukumannya juga dibabat lehernya pake gergaji mesin yang buat nebang pohon, niscaya bakalan pada kapok nebangin hutan.HE2
January 31st, 2008 at 10:07 am
hufff global warming kayanya lagi tren,,, coz bahayanya itu lho….ngeri dan yang bikin saya kaget adalah ternyata sapi itu juga bisa menjadi penyebabnya… wuih…kalo minum susu dari sapi brarti juga nambahin pemanasan global dunk..hehe…tapi saya berharap pemerintah indonesia lebih berperan aktif dalam menangani masalah lingkungan hidup di negeri kita ini….
March 16th, 2008 at 9:10 pm
#Andin: wuihh serem amat ya usulan hukumannya. Mungkin semangatnya adalah bagaimana membuat “shock therapy” biar pada jera ya. Jangan sampe negeri “Zamruj katulistiwa” ini akhirnya menjadi padang tandus atau bahkan padang pasir di katulistiwa.
# Mardhika Warih: memang salah satu yang ditakutkan mengenai dampak pemanasan global adalah tenggelamnya beberapa pulai kencil di negara kepulauan seperti Indonesia yang tercinta ini. Soal sapi, saya sendiri masih belum mengetahui persis hasil risetnya. Mudah-mudahan tidak jadi kontroversi seperti hasil penelitian mengenai kandungan bakteri pada susu formula yang membuat panik para ibu-ibu ya hehehe
April 17th, 2008 at 4:34 pm
SAYA BERHARAP AGAR SECEPATNYA PEMANASAN GLOBAL BISA DIATASI
April 17th, 2008 at 4:42 pm
seperi yang saya ketahui bahwa di bumi kita sedang di permasalahkan tentang global warming,,jadi setidaknya agar pemerintah yang ada di bumi ini supaya dapat dengan cepat untuk mencari cara agar semua orang dapat menyadari peranannya di muka bumi,yakni menjaga kelestarian alam yang telah tuhan berikan kepada kita.seperti yang ada di surah AL-QASAS:77.BACA SENDIRI YACWH…?!^_^
April 17th, 2008 at 4:54 pm
# Shita dan CH3si: Setuju:)
April 17th, 2008 at 4:57 pm
seperti yang saya ketahui bahwa di bumi kita ini sedang dipermasalahkan tentang global warming.jadi setidaknya pemerintah yang ada di seluruh dunia ini supaya dapat sadar akan kelestarian alam ini.seperti yang tertera pada surah….yang jelas menyatakan bahwa ALLAH tidak menyukai orang2 yang merusak bumi,karena ALLAH telah menciptkan bumi dengan baik dan bagus untuk manusia,bukannya untuk dirusak.
April 1st, 2010 at 2:05 pm
giman efeknya sama kulit kita mas,..
May 2nd, 2011 at 4:37 pm
efeknya apa tw ?