CAMEL vs CAMELS
“CAMEL ratings are based only on internal operations, they measure only the current financial condition of a bank and do not take into account regional or local economic developments that may pose future problems but that are not yet reflected in the bank’s condition” - Federal Deposit Institution Council, Amerika Serikat
Saya coba menulis bahan diskusi untuk mahasiswa, sebagian besar isinya sih diambil dari makalah yang disampaikan ke Bank Indonesia.
Saya meyakini pihak Bank Indonesia sudah mengetahui dan memahami maksud kutipan di atas. Apalagi sistem penilaian kesehatan bank di Indonesia relatif sama- kalau tidak bisa dikatakan mengacu- ke sistem penilaian yang diterapkan di Amerika Serikat. Jika dikaitkan dengan tanggung jawab terhadap pertumbuhan ekonomi Saya berpendapat bahwa sistem penilaian kesehatan bank di Indonesia pun akhirnya kurang peka terhadap usaha-usaha bank untuk ikut memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Secara makro jelas Bank Indonesia punya mekanisme lain dalam upaya mempengaruhi perekonomian, misalnya dengan memainkan instrumen moneter. Tapi persoalannya disini adalah mungkinkah Bank Indonesia memberikan insentif lebih besar lagi kepada bank yang memberikan kontribusi nyata dalam upaya-upaya peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat?
Mari kita coba lihat struktur atau komponen penilaian CAMELS yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 serta ketentuan pelaksanaannya sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004. Semua komponen terlihat lebih mengarah pada ukuran-ukuran kinerja perusahaan secara internal, mulai dari permodalan, kekayaan, manajemen, keuntungan, dan likuiditas.
Jika dibandingkan sistem penilaian kesehatan sebelumnya yaitu dengan metoda CAMEL, sistem yang berlaku sekarang memang lebih komprehensif, atau bisa diartikan lebih banyak komponen atau rasio-rasio yang dinilainya, termasuk penambahan komponen baru yaitu Sensitivity to market risk (S). Sebagai lembaga keuangan yang juga mengambil alih resiko dalam pengelolaan dana masyarakat, kepekaaan terhadap resiko pasar tidak bisa dipungkiri merupakan prinsip perbankan yang tidak bisa ditawar. Tapi masih mungkinkah pihak Bank Indonesia memperluas pengertian kepekaan tersebut, misalnya kepekaan terhadap pembangunan perekonomian? Atau mungkinkah program Corporate Social Responsibility (CSR) digunakan sebagai faktor penambah dalam sistem penilaian kesehatan bank? Sedangkan dalam UU perbankan nomor 7 tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 10 tahun 1998 disebutkan bahwa perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Bank Indonesia sendiri mengatakan bahwa CSR tersebut sudah menjadi kecenderungan global, sebagai wujud penerapan Good Corporate Governance (GCG) yang selanjutnya diatur melalui PBI nomor 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan GCG bagi bank umum. Selain itu, CSR terkait juga dengan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs), yang disepakati untuk diadopsi oleh 189 negara yang menghadiri KTT Milenium PBB pada bulan September 2000. Bahkan Indonesia sendiri telah berinisiatif menyelenggarakan pertemuan di Jakarta yang menghasilkan Deklarasi Jakarta mengenai MDG di Asia-Pasifik pada tanggal 5 Agustus 2005. Dan dua tujuan pertama dari MDG adalah mengurangi angka kemiskinan dan kelaparan serta menuntaskan tingkat pendidikan dasar. Sudahkan pihak perbankan nasional ikut berpartisipasi dalam pencapaian tujuan MDG yang sudah menjadi komitmen global dan nasional tersebut?
Pada sistem penilaian sebelumnya justru ada sistem insentif yang diberikan kepada bank yang memberikan kreditnya ke Usaha Kecil yaitu minimal 20% dari kredit yang disalurkan. Pelaku usaha kecil ini berjumlah lebih dari 43 juta atau 99,8 persen dari toal pelaku usaha dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 70 juta atau 89.8 persen dari jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor industri (sumber dari Kementrian KUKM). Bank Indonesia mungkin punya alasan kuat untuk menghilangkan faktor penilaian tambahan tersebut pada sistem penilaian yang baru. Alasannya bisa saja karena pemberlakuan equal treatment terhadap semua debitur tanpa melihat kapasitas dan skala usahanya. Atau karena kesulitan pihak bank dalam menyalurkan ke usaha kecil karena masalah administrasi atau faktor resikonya?
October 9th, 2007 at 8:32 pm
tanya ya….
Bagaimana cara menghitung tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode camel menurut BI?
Tolong dijawab ya, buat skripsi saya nich
October 23rd, 2007 at 1:47 pm
Mbak atau Non Indra Nurwati, Mbak bisa kirim e-mail ke priyo_darmawan@yahoo.com mungkin aku bisa bantu kamu nulis buat penelitian S1 atau S2 tentang tingkat kesehatan bank ? Saya tunggu ya e-mailnya..
December 17th, 2007 at 9:07 pm
Ass.Met malam…Mohon maaf mas…saya mau tanya ketika Camel mengadopsi camels agar lebih sensitif dengan resiko pasar yang ada tersebut tujuannya apa ya?apakah agar resiko sistematis pada resiko pasar dapat terbaca?apakah berpengaruh pada penilaian investor dalam mengambil keputusan untuk membeli saham ataupun investasi yang ada didalam bank tersebut?saya sedang menulis thesis tentang semua hubungan ini.mohon bantu ya…thks…
December 27th, 2007 at 11:10 am
Ass. saya sedang menyusun proposal untuk skripsi, tapi masih bingung. saya mau tanya dalam CAMEL, aspek manajemennya apakah kita harus menanyakan 250daftar pertanyaan? saya mau mencoba menilai di Bank BRI cabang bogor. saya juga mau mengaitkan dengan bank jangkar.
saya masih bingung. tolong bantu saya yah.
terimakasih
December 30th, 2007 at 10:44 am
selamat pagi….
mau tanya mas, apakah sensitivitas resiko pasar itu punya proxy seperti kalu modal proxynya CAR, Earning prxynya ROA, ROE dan BOPO
dan
seberapa besar bagian-bagian dari CAMEL tersebut mendapat proporsi untuk menentukan tingkat nilai kesehatan bank
January 3rd, 2008 at 9:30 pm
Tuk Gita, penggunaan 250 pertanyaan memang dipakai untuk model CAMEL sebelumnya, tetapi sudah tidak digunakan lagi di CAMELS. Penilaian aspek manajemen untuk sistem yang baru secara umum terdiri dari (1) manajemen umum- diantaranya penerapan good corporate gonernance yang juga merupakan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tersendiri; (2) penerapan sistem manajemen resiko- diantaranya pengawasan intensif dari dewan komisaris dan direksi; dan (3) Kepatuhan Bank- diantaranya BMPK dan Prinsip Mengenal Nasabah. Komponen penilaian selangkapnya bisa dilihat pada lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tahun 2004. Dokumen lengkapnya bisa diakses di website BI. Saran saya sih sebaiknnya GITA menggunakan CAMELS saja, kan CAMEL sudah tidak berlaku lagi. Masalahnya adalah kita belum tentu bisa mendapatkan data atau informasi untuk penilaian aspek manajemen tersebut karena harus tahu “dapur”-nya bank.
January 3rd, 2008 at 9:40 pm
Tuk Dody, contoh proxy yang disebutkan adalah untuk sistem lama (CAMEL), bukan proxy pada sistem baru (CAMELS). Secara umum parameter atau proxy yang digunakan pada CAMELS jauh lebih banyak. Sebagai contoh untuk penilaian modal (Capital) pada CAMELS tidak hanya CAR tapi ada 7 proxy atau indikator penilaian lainnya. Selengkapnya bisa dilihat di website BI di menu peraturan di tahun 2004.
Di lampiran surat edaran no.6/23/DPNP tersebut, juga dijelaskan proxy untuk “Sensitivity to Market Risk”- diantaranya adalah modal atau cadangan yang dibentuk untuk meng-cover fluktuasi suku bunga dibandingkan potential loss nilai tukar.
Mudah-mudahan bermanfaat dan selamet meneliti
February 18th, 2008 at 3:19 pm
Salam Mas Budi,,
saya lagi bikin skripsi tentang analisis kesehatan bank dengan metode camels. saya sedang bingung, bagaimana cara menghitung sensitivitas terhadap risiko pasar? saya sudah melihat lapkeu bank tapi didalamnya tidak ada komponen yang dapat saya gunakan untuk menghitung faktor ‘S’ tersebut,bagaimana Mas?
saya menggunakan studi empiris untuk skripsi saya, jadi hanya data penelitian sebatas lapkeu publikasi bank indonesia, trus bagaimana menghitung komponen manajemen?
mohon dibalas segera ya Mas,,
terima kasih banyak..
February 18th, 2008 at 6:07 pm
@ Vincentia dan Karinu:
Perhitungan CAMELS dan penyampaian hasilnya memang bersifat rahasia atau tidak dipublikasikan ke umum. Dengan demikian, sebagian besar data-datanya memang tidak ada di laporan keuangan yang dipublikasikan ke umum. Sebagai contoh, komponen yang digunakan untuk menilai “S” terdiri dari tiga yaitu (1) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mencover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan Potential Loss Suku Bunga (=Eksposur Trading Book + Banking Book x fluktuasi Suku Bunga); (2) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk meng-cover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan Potential Loss Nilai Tukar (=Eksposur Trading Book valas + Banking Book Valas x Fluktuasi Nilai Tukar); dan (3) Kecukupan penerapan Sistem Manajemen Risiko Pasar (Market Risk).
Dua komponen yang pertama bersifat kuantitatif yang berkaitan dengan kesiapan pihak bank dalam menghadapi resiko tingkat suku bunga dan resiko nilai tukar. Kesiapan tersebut pada prinsipnya ditunjukkan dengan kemampuan modal yang “dilebihkan”- maksudnya bank menyediakan modal lebih dari nilai modal minimum yang ditetapkan. Ekses modal digunakan untuk meng-cover atau menutupi kerugian akibat fluktuasi tingkat suku bunga dan nilai tukar. Tetapi sayangnya “data mentah”- untuk perhitungan tersebut tidak dapat diperoleh olah masyarakat umum, kecuali kita memperolehnya dari pihak internal bank- yang rasanya memang sulit didapatkan karena mungkin tergolong sensitif atau rahasia.
Selain itu, perhitungan CAMELS ini- sepengetahuan saya, pada tahap awalnya bersifat “self-assessment” yaitu dihitung berdasarkan penilaian dari pihak bank sendiri. Namun penilaian akhirnya tetap setelah melalui proses konfirmasi atau pemeriksaan oleh pihak Bank Indonesia.
Kita bisa saja menggunakan “proksi” atau cara pendekatan lain yang setidak-tidaknya mendekati cara penilaian versi CAMELS mengenai “resiko pasar” tersebut. Mencari ukuran “tandingan” tersebut bisa menjadi topik penelitian, yang mudah2an menjadi informasi yang bisa dimanfaatkan oleh para investor- seperti yang dimaksudkan oleh Karinu. Dan rasanya sah-sah saja kita membuat sistem penilaian versi “peneliti”-selama kita bisa mempertanggungjawabkannya secara ilmiah dan akhirnya bisa “dipercaya” oleh masyarakat atau setidaknya investor. Toh banyak juga lembaga independen yang melakukan pemeringkatan kinerja bank dengan metodenya masing-masing.
Sekian dulu ulasan saya, mudah-mudahan bermanfaat.
February 19th, 2008 at 12:33 pm
Makasih y Mas atas jawabannya kemaren..
Apakah Mas Budi menmpunyai solusi untuk masalah saya?
Mohon saya dibantu..
Kira2 untuk menilai faktor ‘S’, saya dapat menggunakan penilaian yang seperti apa?
Mohon dibalas..
Terima kasih banyak..
Salam.
February 23rd, 2008 at 12:08 pm
Saya sendiri belum mengkaji lebih mendalam dalam bentuk penelitian mengenai perhitungan “S” versi CAMELS atau alternatif pengukuran “S” lainnya. Alasannya sih praktis saja yaitu kesulitan memperoleh datanya. Tentunya Vincentia tahu persis bahwa salah satu kriteria penelitian yang baik adalah ketersediaan data atau cara pengukurannya bisa diterapkan di lapangan. Dari sisi konsep atau teorinya sih kita masih memungkinkan mengukur “S” seperti yang ada di CAMELS. Atau kita juga bisa mengembangkan sendiri dari konsep “Gap Analysis”- misalnya Dollar Gap atau Duration Gap, Net Open Position, atau mengkaitkan resiko aktiva produktif yang sensitif terhadap perubahan bunga dan kurs dengan besarnya cadangan yang dibentuk oleh bank. Beberapa konsep tersebut mungkin bisa dieksploari lebih lanjut oleh Vincentia.
Sekian, mudah-mudahan bermanfaat dan ditunggu perkembangan penelitiaanya
March 1st, 2008 at 9:11 am
Ass..
saat ini saya sedang menyusun skripsi tentang analisis penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode CAMELS..
saya mempunyai kesulitan untuk mengukur variabel ‘S’ (sensitivity market to risk).yang igin saya tanyakan:
1. apakah ada cara lain untuk mengukurnya?
yang saya baca, ada 3 komponen untuk menilai ‘S’..kalau kita hanya mengukur salah satu komponen saja karena keterbatasan data, apakah hasilnya bisa dikatakan valid?
2. untuk penilaian manajemen di metode CAMELS ini ada 100 pertanyaan yang harus dijawab…apakah pertanyaan tersebut harus dijawab semua?
bagaimana kalau qt hanya mengambil beberapa pertanyaan saja (dari tiap-tiap aspek) dengan cara memilih beberapa pertanyaan yang dianggap paling penting (jadi total tidak mencapai 100 pertanyan)?
Mohon bantuannya..jawaban atas pertanyaan saya
terima kasih
March 1st, 2008 at 11:17 am
#Barda, komentar daya untuk nomor 1 mungkin secara umum sama dengan komentar saya sebelulmnya untuk saudari Vincentia, terutama masalah proksi atau alternatif pendekatan lainnya. Masalah validitas penelitian, semuanya tergantung pada metodologi kita, yang tentunya secara transparant dan rinci disajikan di Bab Metodologi. Keterbukaan tersebut artinya membuka peluang untuk dikritisi, dibandingkan, dibantah, dan disempurnakan, dll bentuk tanggapan dari peneliti atau kalangan ilmiah. Bisa saja kita menggunakan pembanding, misalnya mengacu kepada hasil penelitian atau sruvey oleh lembaga lain- yang sama2 menggunakan data bank yang relatif mudah untuk diperoleh. CAMELS adalah versi BI yang tentunya tidak kesulitan untuk memperoleh datanya. Kita sendiri (maksudnya masyarakat umum) tidak pernah tahu bagaiman hasil penilaian CAMELS tersebut.
Untuk pertanyaan ke-2, memang masih ada 100 pertanyaan ya untuk aspek manajemen di CAMELS? Tapi bisa saja kita atau BI merancang lembar kerja (biasanya dalam bentuk pertanyaan atau kuisoner) yang dikaitkan dengan penilian aspek manajemen. Misalnya lembar kerja untuk penilaian Good Corporate Governance yang dirancang sesuai dengan PBI-nya yang bisa di lihat di http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/2C76DFD3-E2C7-4F33-AC2E-88CAB25007EF/4403/pbi_81407.pdf
Atau untuk penerapan Know Your Customer dan penerapanab Manajemen Resiko, yang semuanya termasuk dalam penilaian manajemen.
Semoga bermanfaat
March 2nd, 2008 at 6:07 am
ass..
makasih atas jawaban dan penjelasan dari pertanyaan saya..
Ada beberapa hal lagi yang membuat saya masih bingung… untuk perhitungan CAR, bagaimana cara menentukan ATMRnya? apakah itu tergantung dari kebijakan masing-masing bank, ataukah sudah ada ketentuan resmi dari BI? apakah ada rasio tertentu untuk menghitung ATMR ini?
lalu tentang Metodologi Penelitian..
dalam penelitian saya, saya melakukan studi kasus pada salah satu Cabang BPD JATIM..jadi saya hanya menggunakan analisis deskriptif. Mohon di jelaskan analisis deskriptif itu seperti apa?
apakah 100 pertanyaan tentang aspek Manajemen tersebut dapat dijadikan kuisioner?
yang saya tau, jumlah kuisioner yang harus dibagikan minimal berjumlah 20 lembar. sedangkan saya hanya membagikan 1 lembar kuisioner untuk diisi oleh Direksi. jadi bagaimana? saya masih bingung tentang hal ini..
Mohon bantuannya…
MAKASIH
was…
March 3rd, 2008 at 6:29 am
ass…mohon bantuan dan penjelasannya tentang metodologi penelitian yang bagaimana yang harus saya gunakan untuk penelitian tentang penilaian kinerja bank dengan melakukan studi kasus pada salah satu cabang bank?
terima kasih
March 3rd, 2008 at 9:29 am
#Barda, perhitungan CAR mengacu kepada Peraturan Bank Indonesia (PBI), Anda bisa cari di http://www.bi.go.id pada menu peraturan. Tapi saya lupa tahun penerbitannya, bisa kok dicari per tahun. Pada PBI tersebut disajikan daftar semua jenis aktiva dan bobot resikonya. CAR sebenarnya bisa didapatkan langsung juga di website BI dan laporan publikasi bank untuk umum karena CAR merupakan beberapa rasio yang memang harus disajikan pada laporan keuangan bank, selain BOPO, LDR, NIM, ROA, atau ROE. Sebagai informasi, perhitungan CAMELS, termasuk beberapa rasio keuangan harus dilakukan terhadap satu bank keseluruhan. Maksudnya kita tidak bisa hanya menggunakannya di salah satu kantor cabang saja.
Penelitian yang hanya dilakukan pada salah satu kantor cabang, menurut saya, sebaiknya tidak terkait dengan evaluasi kinerja keuangan karena sangat sulit memilah-milah mana kinerja keuangan pada kantor tersebut dan mana kinerja secara keseluruhan bank. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan penelitian kuantitatif. Misalnya Anda bisa saja mengukur pertumbuhan dana masyarakat khusus untuk cabang tersebut dan dibandingkan dengan pertumbuhan dana masyarakat keseruhan atau dibandingkan dengan cabang lain. Anda bisa saja mengidentifikasi faktor-faktor yang memperngaruhi pertumbuhan tersebut. Atau bisa juga meneliti mengenai kualitas pelayanannya atau pemahaman karyawan terhadap PBI atau jenis teknologi tertentu, misalnya teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa topik penelitian mengenai bank bisa dilihat pada posting saya sebelumnya di blog ini.
Semoga bermanfaat.
March 14th, 2008 at 7:42 am
mohon bantuannya….
saya sedang membuat skripsi tentang kinerja bank dengan menggunakan metode camels dan data yang saya gunakan adalah data sekunder dari laporan publikasian bank.Yang ingin saya tanyakan adalah:
1. apakah kalo faktor manajemen dpt diproksikan dengan Net Profit Margin (NPM) klo bisa bagaimana kriteria penilaiannya untuk menentukan apakah masuk dalam peringkat 1-5?
2.bagaimana cara mendapatkan data tentang debitur inti untuk menghitung rasio debitur inti dibandingkan dengan total kredit?klo ada data yang tidak tersedia untuk menghitung kinerja bank dengan metode camels ini bagaimana?
terima kasih sebelumnya……mohon balasannya
March 14th, 2008 at 5:56 pm
#Rara: Seperti sudah dikemukan pada tanggapan sebelumnya, kita akan menghadapi masalah data pada saat menghitung CAMELS. Laporan publikasi bank hanya memuat sebagian kecil saja data untuk CAMELS, misalnya CAR, LDR, NIM, atau BOPO. Coba dilihat lagi parameter2 apa saja yang digunakan untuk mengukur manajemen. Mungkin bisa saja proxy-nya adalah membuat semacam kuisener sendiri yang mengacu kepada parameter tersebut. Misalnya mengenai implementasi Good Corporate Governance, Know Your Customer, kepatuhan terhadap BMPK NOP, dll. Prinsipnya bagaimana kita membuat pertanyaan yang sesuai dengan parameter yang ada di CAMELS.
Masalah yang sama juga muncul untuk rasio debitur inti terhadap total kredit. Total kredit bisa kita lihat di neraca yang ada di laporan publikasi. Namun jumlah dan nilai kredit untuk debitur inti? susah kan datanya :). Tapi rasio tersebut intinya adalah mengukur resiko kredit yang didasarkan pada prinsip portofolio. Semakin kecil rasio tersebut berarti semakin rendah resikonya, atau dengan kata lain, sebagian besar penyaluran kredit bank tidak ke sekelompok debitur “kelas kakap” aja. Mungkin rasio tersebut bisa dikaitkan dengan kepatuhan terhadap BMPK ya, coba dikaji lebih lanjut. Namun pengukuran kinerja bank kan tidak harus menggunakan persis metode CAMELS kalo memang datanya sulit diperoleh. Minimal kita bisa menggunakan rasio-rasio yang ada di laporan publikasi bank (CAR, NIM, LDR, BOPO) atau rasio lainnya yang dihitung sendiri berdasarkan data-data yang ada di neraca, laporan rugi-laba, dan laporan rekening administrasi
March 21st, 2008 at 8:59 pm
ass..
saat ini saya sedang membuat skripsi mengenai perbandingan kinerja bank umum syariah dan bank umum konvensional dengan menggunakan metode CAMELS.. dalam hal tersebut ada banyak hal yang membuat saya bingung, yang ingin saya tanyakan disini adalah:
1. Mengenai indikator “S” dalam CAMELS, dalam peraturan BI, baik untuk bank umum syariah maupun bank umum konvensional tidak mencantumkan nilai kredit seperti perhitungan lainnya. untuk membandingkan kinerja, dalam penelitian saya nantinya tidak diarahkan pada penilaian sehat atau tidaknya bank yang saya teliti, tetapi hanya menghitung dan menganalisis besarnya perbedaan nilai dari tiap rasio dan nilai total CAMELS itu tiap kelompok bank tersebut (bank umum syariah dan bank umum konvensional) tiap tahunnya (tahun 2002-2006). nah, yang saya bingungkan nantinya, bagaimana menghitung keseluruhan nilai CAMELS tersebut, padahal ‘S’ sendiri tidak terdapat nilai kredit seperti indikator lainnya.mohon masukannya????bolehkah seumpama saya membuat menyesuaikan dan membuat nilai kredit sendiri untuk penelitian saya ini bila memang tidak ada cara lain??
2. karena adanya keterbatasan, contohnya:tidak ada % bobot pada unsur “S” pada perhitungan CAMELS, bolehkan saya melakukan penyesuaian khusus untuk penelitian saya ini??misalnya memberi nilai S tersebut..karena antara sistem penilaian tingkat kesehatan bank syariah dan bank umum bobot yang diberikan oleh BI ada yang tidak sama. pada bank syariah, unsur S ini diberi bobot 5%, aset 50%, sedangkan manajemen tidak ada bobotnya (0). sedang untuk bank konvensional bobot yang berbeda, unsur aset 25%, mgt 30%, S tidak ada bobotnya (0).maksud saya, untuk menyamakan perhitungan dan untuk tujuan perbandingannya nanti, apa boleh bobot CAMELS tersebut dibuat/disesuaikan????
3. dalam penelitian saya, saya bingung mengenai metode analisis data saya. menurut saudara, uji apa yang pas untuk menguji hipotesis penelitian saya ini?
hipotesis yang saya ambil, adalah adanya perbedaan signifikan antara kinerja perbankan syariah dan perbankan konvensional..
Uji apa yang pas untuk menguji hipotesis saya tersebut?
4. dalam hal menguji normalitas data, apa saja syarat dalam pengujian dengan kolmogorov smirnov??
Mohon bantuan dan masukannya.. sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak…;)
March 22nd, 2008 at 12:06 am
#dhe_z: jawaban saya ditunda dulu beberapa hari ya karena saya hari minggu ini saya ada tugas kantor ke luar negeri selama 8 hari. Insya Allah akan saya coba jawab jika ada waktu setelah pulang nanti. Tuk sementara, memang rujukan metode CAMELS-nya dari mana? Yang perlu diingat, memang penilaian kesehatan bank untuk bank konvensional dan bank syariah berbeda dan diatur dengan PBI yang berbeda juga.
March 31st, 2008 at 8:58 am
pagi,
mksh buat jwbnnya waktu itu, ada beberapa hal lagi yang ingin sy tanyakan:
1. menurut bapak sebaiknya rasio debitur inti terhadap total inti saya hilangkan saja dari perhitungan dengan konsekuensi merubah kriteria skor seperti yg terdapat dalam SE BI, atau seperti saran pa budi yakni dengan mengaitkannya dengan dengan kepatuhan terhadap BMPK(tapi klo menggunakan kepatuhan BMPK bgmn kriteria peringkat 1-5 nya?
2. Klo kita hanya menggunakan sebagian rasio-rasio dalam CAMELS apakah tidak akan berpengaruh terhadap hasil akhir perhitungan?
3. Dalam penelitian saya ini, kebanyakan rasionya saya hitung sendiri, tapi karena data dari publikasian bank ada yang dikonsolidasikan ada yang tidak saya jadi bingung, apakah klo saya menghitungnya dengan laporan yang berbeda tersebut diperbolehkan?(misalnya untuk menghitung aktiva likuid
March 31st, 2008 at 9:18 am
April 3rd, 2008 at 1:09 pm
#Rara, pada dasarnya kita tidak harus memaksakan penelitian kita persis sama dengan CAMELS karena ketidaktersediaan data. Yang penting kita mempunyai proksi atau pendekatan yang bisa dipertanggung-jawabkan atau ada dasar argumentasinya dalam bentuk penelitian-penelitian sebelumnya. Sebagai contoh kalo kita tidak bisa menghitung rasio debitur inti, mungkin kita harus mencari cara pengukuran yang lain tetapi tujuanya sama. Rasio debitur inti pada dasarnya adalah resiko portofolio, jadi kita harus mencari proksi atau pendekatan lain untuk mengukur resiko kredit bank, misalnya rating dari lembaga pemeringkat. Tetapi untuk yang terkahir ini juga susah kan nyari informasinya, apalagi BASEL II belum resmi diimplementasikan oleh Bank Indonesia.
BMPK juga sulit ditemukan data atau informasi lengkapnya, kecuali data makro BMPK dari Bank Indonesia. Pelanggaran BMPK kan harus sampai mengetahui rincian jumlah kredit untuk setiap debitur yang dikategorikan melanggar BMPK. Coba dilihat cara penghitungan BMPK di Peraturan Bank Indonesia.
Untuk pertanyaan ke-2, menurut saya itulah yang paling praktis dan realistis, yaitu hanya menggunakan salah satu aspek aja. Misalnya hanya mengukur C, L, atau E berdasarkan rasio-rasio yang di CAMELS dan datanya tersedia. Yang penting kita menjelaskan cakupan dan keterbatasan riset tersebut di metodologi penelitian. Sekali lagi, kita jangan terlalu memaksakan mau mengukur semuanya.
Untuk data laporan keuangan, coba menggunakan laporan keuangan bank yang ada di situs Bank Indonesia, misalnya laporan keuangan per Desember 2007 dengan menggunakan rumus matematik yang ada di CAMELS. Atau kita juga bisa menggunakan laporan keuangan bank dari BEJ, khusus untuk bank yang sudah go publik.
Mudah-mudahan bermanfaat
April 3rd, 2008 at 2:59 pm
ass.. bagaimana tanggapan saudara atas pertanyaan saya beberapa waktu yang lalu? saya mohon saudara memberikan tanggapan atas pertanyaan saya no. 3 dan 4 saja.. jawaban pertanyaan saya yang lain sudah terjawab oleh bapak pada pertanyaan rara..saya menggunakan CAMELS dalam penelitian saya,karena saya menemukan penelitian terdahulu yang menggunakan CAMEL.. saat ini saya masih tidak yakin pada metode analisis data yang saya pakai. mohon masukan saudara..terimakasih sebelumnya
April 3rd, 2008 at 3:17 pm
tuk dhe_z, CAMELS untuk bank konvensional sedikit berbeda dengan CAMELS untuk bank syariah, bahkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)-nya juga berbeda. Tapi bisa saja dibandingkan untuk beberapa parameter yang relatif sama atau identik. Teknik analisis yang paling sederhana untuk menguji perbedaan kinerja antara kedua kelompok bank tersebut adalah dengan ANOVA. Yang terpenting variabel (rasio-rasionya) yang akan diperbandingkan harus berlaku untuk kedua kelompok bank tersebut. Atau padanannya, sebagai contoh SBI di bank konvensional adan SWBI di bank syariah.
Ya, KS test merupakan salah satu uji untuk normalitas. Salah satu rujukan populer mengenai berbagai test bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Normality_test. Anda bisa searching juga untuk rujukan yang lebih lengkap
Selamat meneliti, wassalam
April 5th, 2008 at 12:01 pm
terima kasih atas masukan nya…;)
April 5th, 2008 at 12:30 pm
mau nanya, apakah metode CAMEL bisa di gunakn di perusahaan?
jawabannya langsung ke email ya atnicyas_aya@yahoo.com dan mohon secepatnya
terimakasih
April 5th, 2008 at 12:54 pm
#Aya: CAMELS digunakan khusus untuk bank. Namun pada prinsipnya merupakan penilaian kinerja perusahaan yang disesuaikan dengan fungsi dan karaketristik bank sebagai lembaga perantara keuangan.
Untuk perusahaan selain bank, berbagai metode untuk penilaian beberapa kinerjanya sudah digunakan oleh lembaga atau para pakar. Misalnya menggunakan Balance Score Card atau Economic Value Added (EVA). Atau yang paling sederhana, kita juga bisa menggunakan beberapa rasio keuangan (likuiditas, profitabilitas, dll) yang dihitung dan dianalisis berdasarkan laporan keuangan dari perusahaan tersebut/
April 8th, 2008 at 9:14 pm
ass.. saya ingin menanyakan mengenai penghitungan liluiditas dengan menggunakan rasio NCM to CA (Kewajiban bersih call money terhadap aktiva lancar). mohon penjelasan mengenai kewajiban bersih call money itu mencakup akun apa saja dalam neraca bank??apakah jumlah dalam valas atau rupiah ataukah kedua-duanya??
apa yang dimaksud dengan istilah “antar bank aktiva”??”antar bank aktiva” itu mencakup akun apa saja?
terima kasih atas masukan dan penjelasannya…;)
April 12th, 2008 at 5:36 pm
Mas sekarang saya lagi skripsi tentang memprediksi bank bermasalah dengan rasio CAMELS. Saya ingin menanyakan :
1. untuk setiap faktor C, A, M, E, L, dan S saya hanya menggunakan beberapa rasio saja. Tidak semua yang dilampirkan dalam PBI. Apakah akan berpengaruh ke hasil akhirnya nanti?
2.untuk faktor manajemen saya menggunakan PDN, apakah itu bisa digunakan atau sebaiknya saya menggunakan rasio apa untuk mengukur faktor manajemen?
3. Saya kesulitan untuk mengukur sensitivitas terhadap risiko pasar. Jika dalam skripsi ini saya tidak menggunakan faktor M dan S, apakah akan berpengaruh terhadap hasil akhir?
terima kasih…
April 12th, 2008 at 6:03 pm
#Dian: Memang kita tidak bisa 100% CAMELS karena tidak semua data tersedia, hanya BI aja yang tahu. Namun untuk sebuah penelitian, kan kita bisa membatasi masalah. Jadi analisis atau interpretasinya pun disesuaikan dengan batasan tersebut. Jadi CAMELS hanyalah referensi kita untuk mengambil beberapa rasio yang data empirisnya tersedia. Memang aspek “M” dan “S” tergolong yang relatif sulit datanya. Sebagai contoh, ketaatan terhadap penerapan GCG, KYC, atau BMPK untuk “M” akan sulit diperoleh datanya oleh masyarakat.
April 13th, 2008 at 10:51 am
terima kasih atas jawaban dan masukannya…
lalu bagaimana jika saya tidak menggunakan fakor “M” dan “S”, apakah masih bisa digunakan untuk memprediksi bank bermasalah? Dari beberapa jurnal dan skripsi yang saya baca (yang masih menggunakan rasio CAMEL) ada yang tidak menggunakan faktor “M” karena keterbatasan data dan bersifat subyektif. Bagaimana dengan CAMELS? Apakah faktor “S” ini sangat berpengaruh?
Terima kasih….
April 13th, 2008 at 2:57 pm
#Dian: salah alternatif topik adalah memprediksi kebangkrutan bank (misalnya dengan analisis diskriminan), atau mengklasifikasikan status bank (Beku Operasi, Sehat, dll) dengan prediktornya rasio-rasio keuangan (jadi bersifat kuantitatif) yang ada di CAMELS (tetapi tersedia data empirisnya). Sekali lagi, seberapa cocok model prediksinya tgt batasan masalah kita (misalnya dibatasi hanya untuk rasio C, A, E, dan L) dan hasil analisisnya juga.
April 16th, 2008 at 12:10 pm
Ass Pak Budi..
Saya mau tanya ttg “S” di CAMELS.
Sesuai dgn Peraturan BI komponen yang digunakan untuk menilai “S” terdiri dari tiga yaitu (1) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mencover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan Potential Loss Suku Bunga (=Eksposur Trading Book + Banking Book x fluktuasi Suku Bunga); (2) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk meng-cover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan Potential Loss Nilai Tukar (=Eksposur Trading Book valas + Banking Book Valas x Fluktuasi Nilai Tukar); dan (3) Kecukupan penerapan Sistem Manajemen Risiko Pasar (Market Risk).
Trus,, saya lihat di lapkeu ada cattn mengenai modal cadangan yang dialokasikan untuk mengalokasikan resiko pasar, tapi nilainya 0 di lapkeu semua bank. Tapi di bagian rasio2 keu ada 2 CAR, yaitu CAR dgn memperhitungkan resiko kredit dan CAR dgn memperhitungkan resiko pasar.
Pertanyaan saya boleh ga kalo saya menghitung selisih CAR dgn credit risk dan CAR dgn market risk utk menghitung Sensitivity to Market Risk?
Trm kash ya pak…
April 23rd, 2008 at 2:34 pm
Ass, Pak Budi
saya sedang menyusun tesis mengenai tingkat kesehatan bank, karena modal data yang saya miliki hanya laporan keuangan bank yang dipublikasi.
Saya ingin mengkaitkan pertumbuhan asset bank syariah yang sampai sept 07 baru mencapai angka 1,27% (sumber : tesis pps ui)padahal BI mentargetkan pangsa pasar bank syariah hingga akhir tahun 2008 sebesar 5%. Saya ingin menghubungkan apakah lambatnya pertumbuhan asset bank syariah diakibatkan karena tingkat kesehatan bank syariah yg memang krg baik (hipotesa yg akan digunakan).
Yang ingin saya tanyakan apakah hal itu bisa dilakukan atau dikaitkan secara langsung?Jika bisa apakah bapak mempunyai sumber literatur yang bisa saya gunakan sebagai referensi tambahan?
Jika hal tersebut tidak bisa dihubungkan bagaimana jika dikaitkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga?
Terima kasih atas segala masukan dan saran yang bapak berikan.
Wassalam
Tini
April 26th, 2008 at 11:25 am
#Ima: Menurut saya, penggunaan CAR untuk mengukur resiko pasar raltif bias karena bagaimanapun, CAR menghitung semua alternatif alokasi dana bank yang tercermin di aktiva. Padahal tujuan “S” adalah bagaimana bank mempunyai “cadangan” yang khusus dialokasikan untuk meng-cover “market risk”. Ada baiknya kita mengukur ATMR secara khusus untuk aktiva produktif bank atau rekening administratif yang “sensitif” terkadap market risk. Rasanya kita bisa mulai melihat-lihat Basel II karena masalah market risk ini banyak diulas disitu.
#Tini: Untuk pertumbuhan dan pangsa pasar bank syariah, Anda bisa langsung lihat ke sumber aslinya yaitu data dari Bank Indonesia. Dugaan saya, lambatnya perkembangan bank syarih lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi masayarakat atau sosialisasi bank syariah ke masyarakat. Pertumbuhan aset syariah secara otomatis pasti berhubungan erat dengan pertumbuhan dana pihak ketiga :), jadi hubungan tersebut menurut saya relatif “kurang tepat” untuk dijadikan topik tesis. Bimbingan saya pernah meneliti data time series mengenai pertumbuhan syariah dengan pertumbuhan bank konvensional, juga meneliti tentang perbandingan tingkat suku bunga konvensional dengan eqivalen rate simpanan syariah- juga dengan data time series. Kalo tidak salah, makalah seminarnya ada di http://ejournal.gunadarma.ac.id
April 27th, 2008 at 11:24 am
ass,,
mas..saya lagi ambil tugas akhir tentang penilaian tingkat kesehatan bank melalui metode camel pada bri kanpus,,
mau tanya ap si perbedaan camel sm camels..apa perhitungan faktor c a m e l itu berbeda dengan perhitungan c a m e l pada camels?? saya bingung ni
tlong dibales ya.
thnx
April 30th, 2008 at 7:28 pm
bagaimana penilaian kesehatan bank syariah dengan menggunakan camels? pak mohon dijawab.
terima kasih atas perhatiannya.
May 1st, 2008 at 3:25 pm
ass……
pak saya sedang mengerjakan skripsi dengan judul “analisa perbandingan kinerja keuangan bank konvensional dan syariah menggunakan rasio laporan keuangan”
saya mau tanya,ada tidak jurnal yang membahas bagaimana perbandingan kinerja keuangan antara konvensional dan syariah?
terima kasih atas saran dan masukan yang bapak berikan.
wassalaam
Rani
May 3rd, 2008 at 10:43 am
# Iina dan Maya: Perhitungan CAMEL dan CAMELS relatif berbeda banget. CAMEL menggunakan cara perhitungan kuantitatif untuk penentuan predikat banknya, sedangkan CAMELS menggunakan kisaran yang akhirnya menentukan komposit 1 sampai 5 untuk setiap parameter. Parameter atau indikator dalam CAMELS juga lebih banyak dari CAMEL. Untuk selengkapnya, Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang CAMELS bisa dilihat di http://www.bi.go.id. Coba Anda cari di menu peraturan dan cari untuk tahun 2004. Penilaian untuk bank syariah juga tersedia di situs BI tersebut
May 3rd, 2008 at 10:50 am
#Rani: Coba anda cari di http://ejournal.gunadarma.ac.id atau di http://repository.gunadarma.ac.id Beberapa bimbingan Saya juga sudah meneliti topik tersebut. Untuk judul dan abstraksinya bisa dilihat di http://library.gunadarma.ac.id/index.php?appid=penulisan
Coba anda masukkan “key word”, misalnya “bank syariah” ke form isian disitu, dan pilih skripsi FE. Selamat mencari dan meneliti
May 10th, 2008 at 6:00 pm
ass,dalam mengukur aspek CAMEL khususnya pada aspek management selain dengan menggunakan kuisioner apakah ada cara lain,mhon jwabannya.trim’s
May 12th, 2008 at 9:35 am
Pagi mas Budi,,
saya bingung.
Skripsi saya studi empiris dengan sampel 27 bank, periode 2005 sampai 2007. Jadi khan giNi, di setiap aspek CAMELS, didalamnya terdiri dari banyak faktor penilaian yang dilihat. Saya sudah melakukan perhitungan dan sudah melakukan peringkat masing2 bank di setiap masing2 faktor penilaian CAMELS. Yang saya bingungkan, waktu saya akan membuat kesimpulan,, bagaimana menyimpulkan gambaran kesehatan bank,dengan jumlah bank yang banyak dan dengan 6 aspek yang harus dilihat dan didalam masing2 aspek pun masih ada faktor2 yang harus dilihat, dan berbeda peringkatnya..
Saya mohon bantu saya ya Mas Budi, saya stag.
Terima kasih.
May 13th, 2008 at 2:29 pm
#Adit, CAMEL atau CAMELS, berbeda lho indikator dan cara pengykurannya. Kuisoner memang ada di CAMEL, tetapi “M” di CAMELS relatif jauh berbeda, misalnya termasuk kepatuhan terhadap GCG, KYC, Manajemen Resiko, BMPK, dll
#Vincentia, mungkin kita tidak bisa menyimpulkan terlalu luas sebagai perbandingan tingkat kesehatan antar bank karena masih banyak faktor lain yang mungkin tidak tersedia datanya. Saran saya sebaiknya dibatasi saja sesuai dengan rasio atau data yang digunakan. Menurut pandangan saya, enam aspek (termasuk indikatornya yang rata-rata sebanyak
sangat sulit bisa diperoleh datanya
May 15th, 2008 at 4:32 pm
ass….
pak saya mau tanya.
untuk melhat standar rasio keuangan perbankan yang ditetapkan bank indonesia setiap tahunnya bagaimana?
misalnya rasio solvabilitasnya tahun 2008 ini berapa persen yang ditetapkan oleh bank indonesia.
terimakasih sebelumnya.
wassalaam
May 16th, 2008 at 2:25 pm
#Rani, BI punya rasio-rasio tersendiri, walaupun mungkin ada padanannya dengan nama-nama rasio keuangan yang selama ini Rani sudah kenal (rasio likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, dll). Sebagai contoh, rasio untuk mengukur likuiditas bank ada LDR, Rasio Deposan Inti/total DPK, atau Rasio Earning Power (Rentabilitas) seperti ROA, ROE, NIM, BOPO, dll. Semuanya ada di lampiran Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang CAMELS. COba dilihat di http://www.bi.go.id , klik menu peraturan dan klik tahun 2004. Dalam PBI tersebut juga termasuk cara penilaian peringkat untuk setiap indikatornya (Komposit 1 sampai 5).
May 19th, 2008 at 6:54 pm
Ass. malam pa saya lagi nyusun skripsi ni pa’ saya ngajuiin judul “Analisis Rasio CAMEL Pada kinerja Bank BCA ” tapi judul saya di tolak ama DP saya dan dianjurin dengan judul “Analisis CAMEL terhadap GCG pada BAnk Umum di Indonesia”
Pa’ saya mau nanya gimana cari hubungan keduanya antara good corporate governance dengan CAMEL ” apa boleh kalo kiyta hubungan dengan Manajemennya tanpa faktpr2 CAMEL yang lain
Makasih Pa Sebelumnya..yana tunggu ya pa’
May 21st, 2008 at 10:25 am
Selamat Siang,,
saya mau nanya lagi Pak Budi,,
kalo dulu metode camel cara menentukan sehat atau tidaknya menggunakan nilai kredit, contohnya bank sehat jika nilai kredit yang dihasilkan 81-100, dan seterusnya. Saya yakin Pak Budi tahu tentang itu. Yang ingin saya tanyakan. Apakah metode CAMELS yang baru ini, masih menggunakan nilai kredit?? Bagaimana dengan S-nya??
Dalam metode CAMELS yang baru, digunakan penilaian peringkat. Tapi saya selalu mengalami kebingungan dalam menentukan peringkatnya. Karena misalnya:
Pada kriteria penetapan peringkat Kecukupan Pemenuhan KPMM sesuai dengan ketentuan yang berlaku (PERMODALAN), yang menduduki peringkat 3 adalah Rasio KPMM lebih tinggi dibandingkan dengan rasio KPMM yang ditetapkan dalam ketentuan(8%?KPMM?9%),itu jelas karena ada angkanya, tapi bagaimana dengan peringkat 1, 2, 3 dan 4, disitu tidak ada angka konkretnya. Bagaimana menentukan peringkatnya Pak??(sumber PBI NO 6/10/PBI/2004).
Oia Pak, saya kesulitan mencari referensi penelitian tentang CAMELS, apakah belum banyak diteliti?
Dimana saya bisa mengetahui ketentuan Kecukupan Pemenuhan KPMM?
Mohon bantu saya Pak.
Treina kasih banyak sebelumnya.
May 22nd, 2008 at 2:49 pm
ass……….
pak,saat ini saya sedang mengerjakan tugas akhir dengan judul analisis kinerja bank dengan metode camel.
saya mau tanya,”cadangan penyisihan penghapusan aktiva produktiv” bagaimana menghitungnya?
yang menentukan masing-masing bank atau ada rumus untuk menghitungnya?
jika bank yang menentukan,dapat dilihat dimana?laporan laba rugi atau neraca?
terimakasih atas bantuan yang bapak berikan.
wasalaam
May 27th, 2008 at 8:23 am
tanya ya….
Bagaimana cara menganalisis kinerja bank ditinjau dari segi aspek asset and liability management (ALMA)
Tolong dijawab ya, buat tesis saya nich
May 28th, 2008 at 7:57 pm
sederhana saja,saya ingin menanyakan bagaimana cara mengukur sensitivitas pada analisis CAMELS
May 29th, 2008 at 4:06 pm
Ass, Wr, Wb
Saya sedang melakukan penelitian mengenai dampak pembiayaan bermasalah terhadap tingkat kesehatan bank. Dari permasalahan itu, saya ingin menjawab pertanyaan : faktor tingkat kesehatan apa yang paling rentan (Signifikan)terkena dampak dari pembiayaan bermasalah.
Yg ingin saya tanyakan, metode statistik apa yang cocok digunakan untuk menjawab permasalahan diatas, karena saya belum menemukan theoritical framework yang pas, jd dosen mengusulkan untuk menggunakan statistik non parametrik.
Tapi sampai sekarang saya msh bingung menentukan model non parametrik yang cocok digunakan untuk menjawab pertanyaan di atas.
Dan apakah bapak mempunyai sumber referensi yang hampir mirip dengan permasalahan di atas shg bisa digunakan sebagai theoritical framework.
Terima kasih atas jawaban dan saran yang diberikan.
May 29th, 2008 at 11:11 pm
untuk mencari data rasio manajemen nya gimana ya???
June 1st, 2008 at 4:06 am
Pak untuk menghitung nilai S pada CAMELS terdapat perhitungan untuk fluktuasi suku bunga ini gimana caranya? Juga fluktuasi nilai tukar?
1. Apakah fluktuasi suku bunga dapat diukur dengan rata2 suku bunga antar bank atau call money (ini juga saya dapatkan dari laporan kesehatan bank perekonomian tanpa ada keterangan apa2)
2. Apakah fluktuasi nilai tukar dapat salah satu saja misalkan nilai tukar Dollar AS terhadap rupiah saja?
June 9th, 2008 at 9:09 am
Pagi Pak Budi,,
Tanggapan dari Bapak atas permasalahan saya, sangat saya nantikan.
Terima kasih sebelumnya Pak Budi..
June 9th, 2008 at 12:14 pm
Mohon maklum saya baru bisa menanggapi berbagai komentar saudara2 semua, maklum habis “isitirahat” hehehe
#Yana: kepatuhan terhadap GCG merupakan salah satu aspek penilaian untuk “M” dalam CAMELS. Coba dilihat lagi PBI-nya
#Vincentia: Penentuan peringkat untuk setiap parameter memang dibuat lebih lues, namun tetap ada “pagar-pagar”-nya. Penilaian dilakukan oleh pejabat bank yang diberi kewenangan, kemudian dikonfirmasi dan dievaluasi tentunya oleh pihak BI. Setiap peniliaan harus dilengkapi dengan perhitungan dan analisisnya, seperti terlihat pada lembar kerja yang harus diisi sesuai dengan PBI-nya. Tuk KPMM, diatur juga oleh PBI, tapi saya lupa tahunnya. Coba dicari lagi di website BI dengan melihat daftar PBI per tahun. Jangan lupa pula bahwa beberapa kebijakan lain berikutnya, mengatur beberapa perubahan-perubahan. Contohnya Paket 15 April, seperti disajikan pada tulisan saya di blog ini
#Ayu: kan ada rumusnya di PBI tentang CAMELS, yaitu untuk penilaian “A”. Kalo tidak salah bisa dilihat juga data-data di laporan publikasi bank. Intinya harus tahu dulu nilai aktiva produktif bermasalah (dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet). Bank harus semakin banyak membentuk cadanhan penyisihan penghapusan jika aktiva produktifnya semakin “bermasalah”
#Diman: Pada dasarnya banyak indikator kuantitatif dan kualitatif pada CAMELS menunjukkan pengelolaan ALMA. Contohnya berbagai rasio yang mengukur kualitas aset, rentabilitas, dan likuiditas sebenarnya merupakan target sasaran ALMA yang baik kan. Tapi kalo dilihat dari aspek manajemennya, coba dilihat lagi indikator ke-6 untuk aspek “S”. Disitu tertulis “Kebijakan dan Pengelolaan Likuditas/Asset and Liability Manegement-ALMA”. Jadi jika rasio-rasio terkait dinilai baik, bisa disimpulkan juga bahwa ALMA bank tersebut juga baik.
#Mundaris: “S” dinilai dengan tiga komponen, yang secara umum adalah (1) modal atau cadangan untuk mengcover fluktuasi suku bunga; (2) modal atau cadangan untuk mengcover fluktuasi nilai tukar; dan (3) kecukupan penerapan sistem manajemen resiko pasar. Penjelasan indikator dan beberapa rumus terkait lainnya bisa dilihat di PBI- tentang CAMELS seperti sudah saya sampaikan di recomments sebelumnya
#Tini Anggraeni: Menurut pendapat saya, aspek yang paling terkena dampaknya adalah “A”, yaitu kualitas asset (coba dilihat 8 indikatornya), walaupun sebenarnya kita tidak bisa hanya memandang parsial saja. Maksud saya, dampak pembiayaan bermasalah juga akan berpengaruh terhadap aspek yang lainnya. Sebagai contoh, ini terkait juga dengan aspek “M” mengenai pengelolaan resiko. Dari sisi disain penelitiannya, mungkin perlu diperjelas dulu varibel-variabel penelitian yang akan diamati. Misalnya, apakah persentasi Non-Performning Asset (atau hanya Non-Performning Loan saja) untuk setiap bank, lalu dikaitkan dengan karakteristik atau ukuran kinerja bank yang lain (misalnya yang ada di CAMELS). Namun persoalannya, ukuran dalam CAMELS tidak banyak diketahui oleh publik. Atau mungkin Anda bisa menggunakan proksi atau pendekatan pengukuran yang lain yang bisa diperoleh dari laporan publikasi bank. Metode parametrik atau non-parametrik yang paling sederhana adalah membandingkan bank (sesuai status, kemampuan, jumlah aset, dll) dilihat dari persentase pembiayaan bermasalahnya. Contoh research questionnya lainnya “Apakah ada perbedaan persentase pembiayaan bermasalah antara kelompok Bank sesuai dengan API?”
#Taenk: Aspek “M” merupakah salah satu yang tersulit diperoleh datanya karena lebih banyak mengenai kebijakan, dokumen, dan kepatuhan bank terhadap beberapa kebijakan dan peraturan bank yang dikeluarkan oleh BI. Komponen penilianya sendiri terdiri dari (1) manajemen umum yang dikaitkan dengan Good Corporate Governance; (2) Penerapan Sistem Manajemen Resiko; (3) Kepatuhan bank- terhadap BMPK, PDN, KYC, dll.
#Jarot: Kalo berdasarkan ketentuannya, “Fluktuasi suku bunga dihitung berdasarkan skenario analisis atas perubahan suku bunga”. Jadi bisa saja kita membuat sebuah framework yang menghitung apa dampak perubahan suku bunga (misalnya diukur dengan deviasinya terhadap suku bunga yang telah ditetapkan) terhadap kemungkinan terjadinya kerugian bank (potential loss). Mengingat bank itu harus prudent, besarnya potential loss tersebut harus diantisipasi dengan “ekses modal”- kelebihan modal dari modal minimum yang ditetapkan (KPMM). Suku bunganya mencakup “trading book” dan “banking book”- yang penjelasan selengkapnya bisa dilihat di PBI-nya. Untuk nilai tukar, sebenarnya tergantung pada jenis Valas apa saja yang tercatat pada “trading book” dan “banking book”. Kalo memang sebuah bank hanya “memegang” US$, yang mungkin hanya itulah yang dianalisis. Btw, saya sendiri belum tahu persis mengenai cara analisis yang selengkapnya dilihat dari perspektif orang bank sendiri.
Mudah-mudahan bermanfaat
June 11th, 2008 at 3:29 pm
Pak hermana yth,
terus terang saya buta sekali dengan camels tapi saya sangat tertarik…. saya pernah baca penelitian dg camels juga kriteria ranking bank oleh infobank dg camels….
yang saya tanyakan??
1. Bagai mana menghitung nilai (NK Faktor) dari setiap komponen camels contohnya CAR, ROE ,ROA
2. Mengapa untuk CAR 20%, 18% dan 21 % diberi bobot yang sama (kalau di infobank 20) dalam penelitian yang lain ada yang 25
3. Mohon petunjuk bila ada menggunakan rumus tertentu, dan bila ada literatur yang menjadi rujukan tolong diberitahu
Terimakasih sebelumny pak, semoga keingin tahuna saya ini dapat terjawab….
wassalam
June 16th, 2008 at 9:34 am
selamat pagi….
pak, saya mau tanya mengenai metode CAMELS..saat ini saya dah sampai bab 4 analis adata.saya sangat kesulitan pada saat menghitung “s” karena di laporan penyediaan modal minimum tidak ada nominalnya. trus bagaimana?jika saya tidak memaksukkan faktor tersebut bagaimana pemeringkatan yang komposit. terima kasih.
June 21st, 2008 at 6:27 am
Saya mhs yg sedang mengerjakan skripsi dengan topik analisis kesehatan bank syariah menggunakan faktor Finansial (CAELS). Awalnya sama DP saya dianggap mudah, makanya harus ditambahi ‘faktor2 yg mempengaruhinya’ (padahal sulit
trus setelah diskusi panjang lebar, maunya ngambil sample 3 bank umum syariah (comment DP saya menjadi “itu terlalu sulit bagi kamu)
makanya disuruh nyoba ngerjain…
Setelah baca tulisan saudara beserta tanya jawabnya, ssaya koq jadi sedikit pesimis. soalnya memang datanya beberapa sulit di dapat.
Mo minta saran,
1)seumpamanya subject nya diganti ke ’salah satu BPD yg mempunyai cabang syariah (walauupun baru buka sekitar Sept’07) apakah datanya mungkin bisa didapat lebih mudah (sebelumnya skripsi saya dengan Kualitatif deskriptif, kl bisa masuk BPD yg py cab. syariah mungkin jd kualitatif study kasus)
2)apakah skripsi saya msh py nilai manfaat? (sy jd g seyakin dulu,stlh baca2 blog anda coz ternyata banyak yg menulis dgn topik yg hampir sama). Apakah saudar punya ide buat saya (utamanya berhub. dgn perbankan syariah?
3)hasil penilaian kesehatan bank oleh BI itu dipublikasikan or g?kl ya, dmn?
Thanx b4 atas saran n jwabnya, maaf kl panjang.
ditunggu sgr
June 25th, 2008 at 5:19 pm
pak, tolong dibantu ya pak…
saya sedang menyelesaikan skripsi saya tentang ALMA (asset and liabilities managemenT)…
apakah ALMA dan CAMEL berbeda?
apa cara yang digunakan untuk mengukur kinerja bank dengan menggunakan ALMA?
apakah dengan menggunakan rasio seperti CAMEL?
saya juga minta tolong, situs atau judul buku apa yang dapat membantu saya dalam penulisan skripsi ini, karena di Lampung bahan yang saya cari tentang ALMA sangat minim…
terima kasih dan saya mohon bantuannya ya pak…
June 25th, 2008 at 5:24 pm
pak, mohon bantuannya…
apakah ALMA itu dapat mengukur Bank besar seperti BRI atau danamon?
atau untuk lingkup yang lebih kecil seperti bank BPR?
gmn si pak cara ngukur ALMA?
sebaiknya saya studi kasus pada suatu bank atau bank yang terdaftar di BEJ?
terima kasih ya pak….
June 26th, 2008 at 5:00 pm
pak, saya mahasiswa S1 sedang menyusun skripsi tentang mengukur kinerja perbankan dengan menggunakan ALMA. saya bingung dengan ALMA karena bahan yang saya cari sangat sedikit yang menyangkut ini, tolong bapak bahas hal-hal yang menyangkut tentang ALMA dan jelaskan sejelas-jelasnya..
mohon sekali bantuannya, karena saya sangat bingung dengan bahan ini, karena DP saya mengganti judul saya dari “analisis kredit dan kolektibilitas” menjadi analisis ALMA ini. saya sangat mengharapkan bantuan bapak.
semoga kebaikan bapak dapat mendapat ridho dari yang maha kuasa.
June 26th, 2008 at 5:01 pm
pak, saya mahasiswa S1 sedang menyusun skripsi tentang mengukur kinerja perbankan dengan menggunakan ALMA. saya bingung dengan ALMA karena bahan yang saya cari sangat sedikit yang menyangkut ini, tolong bapak bahas hal-hal yang menyangkut tentang ALMA dan jelaskan sejelas-jelasnya..
mohon sekali bantuannya, karena saya sangat bingung dengan bahan ini, karena DP saya mengganti judul saya dari “analisis kredit dan kolektibilitas” menjadi analisis ALMA ini. saya sangat mengharapkan bantuan bapak.
semoga kebaikan bapak dapat mendapat ridho dari yang maha kuasa.
June 27th, 2008 at 10:14 am
saya seorang mahasiswa atmajaya yogyakarta, sedang melakukan penelitian di bidang perbankan. pertanyaan saya:
1.apakah ada regulasi perbankan mengenai rasio-rasio CAMEL?
2.Apakah ada ketetapan jumlah rasio-rasio CAMEL? soalnya, dari jurnal yang saya baca, ada jurnal yang menggunakan 7 rasio (kebanyakan jurnal), namun ada juga yang menggunakan lebih dari 7 rasio?
3.apakah ada perbedaan rasio kinerja bank dengan rasio CAMEL yang sangat mencolok? dalam penelitian saya, saya hanya menggunakan 4 rasio: LDR, ROA, BOPO, CAR.
terima kasih atas informasinya.
June 27th, 2008 at 5:01 pm
pak, mana balasannya???
saya tunggu ya pak…
saya harap segera…
karena saya sangat mengharapkan bantuan bapak…
sebelumnya terima kasih
July 29th, 2008 at 3:58 pm
Pa maksih atas jawabannya..
nanya lagi boleh ya pak
untuk mengukur kinerja perusahaan setelah GCG itu gimana yah pa’
apa kita masukin M nya aja atau tetap memakai unsur CAMELS lainnya…
tambah lagi yah..
Bank mana aja yah sudah menerapkan GCG
dah itu aja dulu..nanti tambah lagi yah pa’
Makasih sebelumnya..
July 29th, 2008 at 4:14 pm
Maaf, saya baru bisa mampir mengisi dan merespon beberapa komentar di blog ini.
#Adeks: CAMELS adalah versi BI, jadi informasinya bisa dilihat di website BI. Coba dicek melalui menu “Peraturan” yang di di sisi kanan halaman depannya
#Tika: spt yang dijelaskan di ulasan dan recomment saya sebelumnya, masalah utama kalo kita mengambil CAMELS adalah datanya. Bimbingan saya pun akhirnya cuma bisa menggunakan hanya beberapa parameter yang bisa dihitung dari laporan keuangan yang dipublikasikan ke umum.
#Cesa: Dua bimbingan skripsi saya akhirnya hanya menggunakan beberapa parameter kuantitatif saja yang ada di CAMELS ketika mereka menganalisis bank syariah atau Bank Umum unit syariah. Namun saya mengharapkan mereka membuata analisis perbandingan antara CAMELS bank konvensional, CAMELS unit syariah, dan CAMELS bank syariah. Termasuk parameter-parameter padanannya. Hasil pengukuruan CAMELS tidak dipublikasikan oleh BI ke masyarakat umum. Oh iya, soal apakah skripsi kita bermanfaat atau baik, jawabannya bisa panjang lebar sih.
#Eta, MAYA, ayu, dan desi: ALMA (Asset and Liability Management) adalah prinsip atau konsep menjalankan sebuah bank. Jadi prinsip tersebut berlaku untuk semua bank. Yang membedakan paling jenis-jenis Aset dan liability aja. Kalo CAMELS adalah instrumen penilaian kinerja Bank secara komprehensif yang dilakukan oleh BI. Jadi banyak komponen penilaian pada CAMELS yang menunjukkan penilaian terhadap ALMA. Contoh sederhananya A di CAMELS kan Asset Quality kan. Dan aset bank yang berkualitas bisa dihasilkan jika ALMA bank tersebut baik.
Coba dilihat beberapa bahan ajar saya untuk mata kuliah Manajemen Dana Bank di http://staffsite.gunadarma.ac.id/bhermana
#Frans Jhon: Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang CAMELS bisa didownload di website BI, di menu peraturan. Kalo tidak salah, cari arsip PBI di tahun 2004. PBI tersebut berikut lampirannya menyajikan cara penilaian CAMELS step by step
August 3rd, 2008 at 12:07 pm
pak, kalo ALMA cuma dipake untuk mengukur tingkat likuiditas bank , saya musti pake alat ukur apa ya pak??
apa cuma pake GWM atau pake alat analisis lain???
ada ga si pak skripsi yang sama dengan judul saya???
sebagai bahan masukan saya dalam penyusunan skripsi. makasih ya pak
August 3rd, 2008 at 5:49 pm
#Desi:
Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja ALMA sebuah bank relatif banyak, bahkan beberapa dari rasio yang ada di CAMELS, terutama untuk “A”, “E”. dan “L”. ALMA merupakan “jantung” manajemen dana bank. Coba Anda lihat2 materi saya di http://staffsite.gunadarma.ac.id/bhermana/index.php?stateid=files&xcat_id=0.5
Mudah-mudahan sedikit memberikan gambaran. ALMA memang sangat luas, jadi bisa dipecah menjadi beberapa topik skripsi. Bisa saja skripsi Anda khusus membahas mengenai kinerja ALMA sebuah bank, tinggal memilih rasio-rasio apa saja yang akan dipakai. Tentunya dengan justufikasi atau argumentasi mengapa rasio-rasio tersebut digunakan.
August 6th, 2008 at 1:48 pm
Trerima kasih untuk jawaban sebelumnya,
Pertanyaan saya berlanjut
Sekarang akhirnya saya sudah masuk ke BPD cabang Syariah,
Disebutkan oleh pak budi Hermana bahwa bimbingan bpk menggunakan beberapa parameter kuantitatif saja, kalo’ boleh tahu parameter apa?
Berdasarkan PBI 9/1/PBI/2007 pengukuran dilaksanakan triwulanan (psl 10) dan psl 17,disebutkan bahwa berlaku efektif bln Des’07, Nah kenapa dlm SE No. 9/24/DPbS beberapa data minta posisi 6 sd 24 bulan (cth pd penghitungan rasio : RR,PKAP,NOM,DP,PPBO,NSOM,WOE,PRDI)? padahal Bank yang saya teliti saat ini belum genap setahun berdirinya.
Bagaimana menurut bapak, apakah di Skip rasio tsb, atau dgn cara lain?
Atau bpk punya saran apapun sya ucapkan terima kasih
August 6th, 2008 at 1:54 pm
Maaf ada yg kelupaan,
hasil wawancara saya dgn mnjmn bank menebutkan bahwa bank yg saya teliti ternyata belum melaksanakan penghitungan tingkat kesehatan bank syariah, karena blm ada tools pasti dr pusat. Apakah bank lain juga begitu?
Akhirnya saya membuat formulasi sendiri berdasarkan SE No. 9/24/DPbS dan menemui kendala pengisian pos seperti saya ungkapkan pertanyaan sebelumnya diatas.
September 8th, 2008 at 3:58 pm
pak,saya mau tanya tentang metode CAELS yang digunkan untuk mengukur kinerja bank..apakah komponennya sama dengan metode CAMELS???
TERIMA KASIH
September 9th, 2008 at 10:06 am
Pak saya mo minta penjelasan mengenai rencana strategis bank indonesia menuju indonesia 2025 yang untuk program tinggal landas dan lintas dunia.
September 17th, 2008 at 9:33 am
Pak Budi..
saya sedang menyusun proposan skripsi dengan topik analisis struktur kepemilikan terhadap kinerja bank..nah kinerja yang saya gunakan ini adalah rasio2 CAMELS, sebelumnya sudah ada skripsi mengenai rasio2 ini dan menghilangkan M dan S-nya..maksud saya mau menambahkan faktor M-nya dengan menggunakan proksi NPM (saya lihat di jurnal) apa itu bisa dilakukan? mengingat CAMELS ini hanya saya gunakan untuk menilai kinerjanya, bukan secara khusus membahas CAMELS..
mohon jawabannya ya, pak..
terima kasih..
Wass.
September 20th, 2008 at 7:29 am
Salam Kenal Pak Budi Hermana….
Pak saya adalah mahasiswa S2, saya meneliti tentang merger dan Camel. Saya kesulitan mencari data dan teori untuk sensitivitas . thanks ya pak.
September 25th, 2008 at 11:30 pm
Pak Budi, saya mahasiswa SI sedang menyusun skripsi dengan menggunakan analisis CAMELS, saya kesulitan menghitung aspek Sensitivity to Market Risk (S), mohon bantuannya…,terimakasih banyak sebelumnya
September 25th, 2008 at 11:41 pm
mgkn bisa saya perjelas pertanyaannya, bagaimana cara memperoleh dan menghitung data banking book valas
October 6th, 2008 at 7:31 pm
pak saya mau tanya tentang metode CAMELS, bagaimana penerapan metode CAMELS didalam mengukur tingkat kesehatan bank pada BPR?
October 12th, 2008 at 11:19 pm
pak saya mau tanya…
saya mahasiswi yang sedang mengerjakan skripsi tentang pangukuran kinerja bank dengan menggunakan metode camels,,,
apakah ada referensi buka yang bisa saya baca terkait dengan judul skripsi saya..??
apakah pengarus faktor “S” pada kinerja bank..??
dapatkah apabila faktor “M” saya ukur dengan menggunakan NIM(net interest margin)..??
mohon dibalas,,trimakasih…
October 18th, 2008 at 12:29 pm
Maaf baru sempet memberikan recomments.
#Cesa: Memang belum 6 bulan ya Bank Tersebut? Yang perlu diingat, penilaian CAMELS- baik konvensional atau syariah adalah untuk satu bank, tidak bisa hanya untuk salah satu cabangnya aja. Memang CAMELS untuk syariah relatif baru. Tidak harus dipaksakan untuk menghitung semua parameter karena sering datanya tidak tersedia. Mungkin riset anda dibatasi aja sesuai dengan data yang ada. Toh ada ruang lingkup dan batasan masalah kan? juga salah satu pertimbangan riset yang baik adalah ketersediaan data di lapangan juga, jadi tidak usah memaksakan diri.
#Oji: CAMELS adalah penilian kesehatan bank versi BI, coba dilihat panduan lengkapnya di situs Bank Indonesia. Cukup rinci kok dan mudah dipahami. Carinya di menu peraturan pada tahun 2004 ya
#Kadek: Paper lengkapnya bisa didownload di http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id di menu “download” dan folder “paper”
#Nesty: Itu tergantung batasan riset anda kan. yang penting ada alasan/argumentasi/premis mengapa menggunakan rasio yang akhirnya Anda pakai. Saran saya gunakan rasio yg ada di CAMELS tetapi datanya tersedia di laporan publikasi bank untuk publik- misalnya CAR, NIM, NPL, BOPO, ROA, atau rasio lainnya yang tersedia. Tidak usyah memaksakan rasio yang anda sendiri sulit atau tidak mungkin memperolehnya. Apalagi Bank kan bersifat rahasia. Penilian CAMELS pun yang lengkap hanya diketahui oleh BI dan pimpinan bank yang bersangkutan
#Arifia: Komponen “S” memang termasuk yang sulit memperoleh datanya, keculai Anda mempunyai akses ke internal bank tersebut. Coba saja dicari proksi (alat ukur lainnya) yang bisa disetarakan dengan paramater2 yang ada di CAMELS versi Bank Indonesia. Mungkin Anda tertarik membatasi riset Anda menjadi pengaruh merger terhadap beberapa parameter CAMELS yang mudah diperoleh datanya
#Trinyoto: sama seperti untuk arifia, coba dicari proxi lain untuk mengukur “S” yang kira2 datanya mudah diperoleh. Usahakan banknya yang sudah “go public” sehingga laporan keuangannya lebih lengkap- yang bisa Anda peroleh di perpustkaannya BEJ
#Diah: CAMELS versi BPR juga sudah dipublish oleh BI, coba dilihat di situs BI, di menu peraturan.
#Maya: Coba anda download dulu pedoman perhitungan kesehatan CAMELS di situs BI, ada yang untuk bank umum, bank syariah, dan BPD. Mungkin sebaiknya anda pilih parameter2 yang mudah diperoleh datanya di lapangan. Yang penting ada alasan/argumentasi/premsi mengapa akhirnya Anda pilih parameter tersebut. Alasannya tidak hanya sekedar kemudahan mencari data, tetapi alasan atau kerangka teroritis dari riset-riset sebelumnya.
Semoga bermanfaat
October 20th, 2008 at 2:20 pm
Pak Budi, saya mau tanya lagi apakah di perpustakaan BI ada data tentang CAMELS???
Thx.
October 20th, 2008 at 2:21 pm
Pak Budi, saya lagi mencoba menyusun skripsi untuk semester depan. namun setelah saya coba untuk meneliti tentang CAMELS, saya sempat mencoba mencari data-data untuk CAMELS. Dari semua komponen CAMELS, M dan S yang paling susah didapat datanya. jadi saya bingung pak, menurut bapak apakah saya ganti topik saja atau tetap meneliti ttg CAMELS ?? klo harus ganti topik, bapak bisa tolong beri saya masukan ttg topik-topik keuangan lain? karena saya kesulitan dalam memilih topik keuangan untuk skripsi.Judul skripsi saya yang lagi coba disusun adalah ttg pengaruh CAMELS terhadap return saham di industri perbankan. tolong beri masukan ya pak, saya bingung bgt. MAKASIH
apakah di perpustakaan BI ada data ttg CAMELS???
October 20th, 2008 at 2:36 pm
Saya juga mengalami kesulitan dalam penulisan skripsi BAB II karena saya susah untuk menemukan teori yang bisa menghubungkan komponen CAMELS dengan Return Saham. Mohon bantuannya. Thx
October 20th, 2008 at 3:25 pm
Data yang digunakan untuk CAMELS memang hanya pihak BI dan pimpinan bank yang bersangkutan saja yang tahu. Hanya sebagian kecil data-data yang diketahui oleh umum- misalnya rasio-rasio seperti ROA, NIM, BOPO, NPL, CAR, atau LDR. Laporan keuangan setiap bank bisa dilihat di situs Bank Indonesia. Topik skripsi tentang CAMELS masih relevan, up to date, dan menarik kok. CAMELS juga ada yang untuk bank konvesnional, bank syariah, dan BPR. Permasalahannya adalah ketersediaan datanya. Bisa saja skripsinya dibatasi pada data-data yang diketahui oleh publik, atau diturunkan dari laporan keuangan yang ada di BI atau di BEI untuk bank yang sudah go publik
October 26th, 2008 at 1:11 pm
Pak Budi, klo data GWM (Giro Wajib Minimum) dipublikasikan oleh BI ga??? Saya sudah coba cari di UU peraturan BI tapi ga dibilang berapa persen GWM-nya. yang dibilang cuma persentase jasa giro yang diberikan BI kepada bank umum di Indonesia.
kan tiap tahun GWM itu kan berubah-ubah terus ya pak???
Mohon bantuannya Pak.
Thx
October 26th, 2008 at 7:11 pm
#Jeny: bukan “UU Peraturan BI” tapi Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang bisa dicari di websitenya Bank Indonesia. PBI tentang GWM tersebut memang kadang berubah2 tergantung kondisi ekonomi dan BI berusaha melaksanakan kebijakan moneter- yang salah satu instrumennya adalah mengubah persentase GWM. Gara-gara krisis keuangan global, BI pun akhirnya menurunkan GWM juga. Jadi coba dicek lagi di website BI ya
October 28th, 2008 at 1:48 pm
pak budi saya sedang melakukan penelitian tentang camels, kira-kira rasio apa saja yang ada di camels yang bisa dihubungkan dengan return saham. jika data yang ada hanya lap keu yang dipublikasikan.sama untuk mencari bahan tetang camels dapat dari mana y selain dari surat yang diterbitkan BI terimakasih y pak…
October 28th, 2008 at 2:03 pm
pak budi, saya sedang melakukan penelitian tentang camels, pak rasio apa saja yang dapat dihubungkan dengan return saham, sama untuk mendapatkan penjelasan tentang camels selain dari peraturan BI dapat dari mana lagi y pak…….. makasih banyak y pak…….
October 29th, 2008 at 11:50 am
Pak Budi, sekarang kan berita perubahan aturan GWM sedang hangat2nya. Apakah kenaikan/penurunan tingkat GWM itu berpengaruh terhadap return saham perbankan di BEI??? Thx^^
October 29th, 2008 at 1:18 pm
#Rani: coba dibaca dulu Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang CAMELS ya, disitu lengkap kok berbagai rasionya. Untuk proksi atau variabel yang terkait denga n saham bisa saja PER atau Book Value, dll. Ada bimbingan saya yang menggunakan persentase kepemilikan saham di bank yang sudah go publik, tapi model risetnta dikaitkan dengan PBI tentang Larangan Kepemilikan Tunggal.
#Jeny: penurunan GWM pada dasarnya merupakan kebijakan relaksasi- atau dengan kata lain bisa meningkatkan uang beredar di masyarakat. Siapa tahu dana bank yang tadinya tersimpan di Giro BI bisa dialihkan ke aktiva produktif- diantaranya beli saham atau obligasi. Itu baru konsep dasarnya, namun analisis selengkapny harus satu tulisan tersendiri hehehe. Semoga di lain waktu saya sempet menulis tentang itu
October 31st, 2008 at 1:17 pm
Mas sy mw tanya nih kalo menghitung BOPO bank Syariah itu gimana ya mas?karena di laporan keuangan bank syariah itu ada pendapatan operasional setelah distribusi bagi hasil untuk investor dana investasi tidak terikat. Apakah untuk menghitung BOPO bank syariah , pendapatan operasionalnya yang sys gunakan adalah itu?atau apakh pendapatn operasional yang sebelum dikurangi distribusi bagi hasil?? makasih banyak ya atas jawabannya.
November 1st, 2008 at 1:10 pm
Tergantung definisi operasional kita dalam metode penelitiannya. Jadi keduanya bisa dilakukan dan anda pilih salah satunya. Yang penting rumus atau cara perhitungannya dijelaskan dalam penelitian Anda. Mungkin bisa saja keduanya digunakan, jika Anda akan menganalisis perbedaannya, terutama untuk mengetahui porsi distribusi bagi hasil untuk investor tidak terikat terhadap total pendapatan
November 1st, 2008 at 10:19 pm
[...] pada tulisan sebelumnya mengenai “CAMEL vs CAMELS” yang selengkapnya bisa dibaca di sini. Memang sebagian besar tanggapan lebih banyak mengenai penilaian kesehatan bank umum konvensional- [...]
November 3rd, 2008 at 3:41 pm
saya mw tanya lagi nih kalo saya menggunakan pendapatan operasional yang belum dikurangi distribusi bagi hasil tidak apa2 ya mas? apakah ada hubungan antara BOPO dengan net profit margin (NPM) dan Equity Multiplier (EM). Makasih banyak ya
November 3rd, 2008 at 3:52 pm
# Gita, dua2nya juga gpp biar lebih banyak yang dianalisis. BOPO ada kaitannya dengan NPM dan EM, coba aja dilihat rumus-rumusnya :). Btw, mbak diskusi khusus untuk CAMELS syariahnya pindah aja di postingan ini:
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2008/11/01/camels-versi-syariah/
Biar fokus mengenai tata cara penilaian kesehatan bank syariah
November 3rd, 2008 at 10:38 pm
Pak Budi, faktor-faktor yang kemungkinan ada pengaruh ke return saham itu apa aja ya??? saya sedang membuat proposal skripsi ttg return saham. saya sudah ada 3 variabel yaitu SBI, TINGKAT INFLASI, dan NILAI USD. Pak Budi bisa beri masukan ga kira2 variabel apa lagi yang dapat saya gunakan untuk meneliti ttg return saham? Thx
November 5th, 2008 at 5:30 pm
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Terima kasih ya pa’ atas artikel dan informasi yang sudah bapak kemukakan, perkenalkan saya mahasiswa S1 STMIK Kharisma Makassar sedang menyusun makalah pada MK Komputer Perbankan, dengan sub pokok bahasan Pengenalan metode CAMEL pada tingkat kesehatan bank.
Saya sangat senang pada bincang2 dalam web ini……Terima kasih
Wassalam
November 11th, 2008 at 11:37 am
pak saya ingin meneliti tentang rasio camels dan hubungan nya dengan return saham. nah untuk m dan s sebaiknya saya mengunakan variabel apa y pak. pak kalo ingin tahu tentang jurnal-jurnal yang berhubungan dengan camels cari dimana y…kok saya rada sulit untuk mencarinya. pak jika saya ingin menghilangkan faktor m dan s alasan apa yang sebaiknya diungkapkan karena saya bingung untuk mengungkapkannya. ada tidak penelitian yang sebelumnya yang menghilangkan faktor tersebut. terima kasih y pak…….atas jawabannya saya ucapkan terimakasih……..pak apakah ekses modal dan potensial loss suku bunga diungkapkan di laporan keuangan yang dipublikasikan…….
November 13th, 2008 at 11:07 pm
mas… saya mau tanya yang pembobotan untuk rasio camels itu diperaturan bi yang no berapa ya mas….saya sudah mencoba untuk mencari satu satu di peraturan tapi tetap tidak ketemu…mas kok jurnal onlinenya gak bisa di akses y mas…
November 27th, 2008 at 11:26 am
mas budi, saya mau tanya, pengukuran kinerja kan ada banyak,profitabilitas, solvabilitas,dll..yang saya mau tanyakan kenapa pengukuran kinerja lebih sering menggunakan profitabilitas?? trus yang kedua apakah pengukuran resiko pasar diukur dengan NIM saja??terimakasih mas budi..tolong y mas.
Piarz_zippe@yahoo.com
December 8th, 2008 at 9:48 pm
mas budi kasih masukan dong saya mau ngangkat judul skripsi tentang csr perbankan syariah???kira-kira judul yang tepat apa y mas???
pengaryh gcg terhadap pelaksanaan dan pelaporan csr (studi kasus bank suariah…) atau implementasi csr(studi kasus bank sayriah….) atau mas budi punya wacana atau judul yang lebih ok gt…
tolong y mas bantu saya
please bales komentar saya y mas..
December 14th, 2008 at 2:27 pm
mass,,mau nanya,, kalu mneghitung Net Call Money gmn cara?? kita ngeliat kewajiban call money di L/K di sebelah mana yaaa??/saya bingung asal angkanya dari mana mas,, terimakasiihh
December 15th, 2008 at 1:34 pm
@Jeny: wah faktor2nya bisa banyak- baik yang teknikal maupun fundamental. Untuk memimlih faktor mana yang akhirnya dijadikan variabel penelitian untuk tugas akhir anda, sebaiknya sesuai dengan premis atau rujukan hasil penelitian sebelumnya.
@Syuaib: sama-sama Mas
@Rani: Tergantung pembatasan masalah kita aja, dan yang lebih penting ada rujukan atau hasil penelitian sebelumnya. Namun seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, penelitian CAMELS relatif sulit di data empirisnya karena hanya diketahui oleh bank yang bersangkutan. Pembobotan faktor penilaian hanya diberlakukan pada versi penilaian kesehatan yang lama (CAMEL. Pada CAMELS sendiri tidak ada pembobotan untuk setiap parameter atau aspeknya. Coba anda cermati lagi pedoman CAMELS yang bisa diakses atau didownload di menu peraturan pada website BI
@Iant: pada model CAMELS, ukuran kinerja bisa bermacam-macam ukuran atau parametere. Untuk profitabilitas digunakan aspek “E”, likuiditas pada “L”, kinerja manajemen pada “M”, dll. Dan ukuran pada CAMELS tersebut relatif banyak kok- termasuk rasio2 keuangan seperti NIM, BOPO, ROA, LDR, dll
@Ghieta: topik CSR atau GCG juga sudah relatif memadai kok untuk dijadikan riset. Yang penting cari rujukan atau hasil penelitian sebelumnya yang bisa dijadikan premis penelitian saudari. CSR dan GCG sendiri sudah ada peraturan atau pedoman dari pihak BI. Coba anda cari di website BI.
@Teeyo: pokonya selisih antara call money di sisi aktiva dan pasiva. Rumus lengkapnya bisa dilihat pada pedoman CAMELS yang dikeluarkan oleh BI. Anda bisa mendownloadnya dari menu peraturan di situs Bank Indonesia
December 16th, 2008 at 8:38 pm
gimana saya bisa tahu rumus CAMELS sama rasio - rasio kesehatan bank.cz saya cari di buku ma internet gak bisa ketemunya.
makasih
December 22nd, 2008 at 11:34 pm
@Taufik: Cari di website Bank Indonesia. Klik di menu peraturan di halaman mukanya
January 12th, 2009 at 9:47 am
mas,,mau nanya,, sebaiknya kalau mau menghitung rasio CAMELS meneliti L/Knya yang perbulan atau yang triwulan??? makasih mas…
January 13th, 2009 at 2:33 pm
selamat siang pak…
pak mohon bantuannya, tolong kasih cara perhitungan CAMEL pada bank syariah (bank Muamalat).mau buat skripsi.
mkasih…..
January 26th, 2009 at 9:29 pm
pak Budi, tolong pak masalah S di CAMELS untuk penilaian kinerja keuangan bank syariah , saya masih belum menemukan jawabannya..
data/ angka dr mana yang bisa diambil??
makasi pak. mumet ki pak.
January 30th, 2009 at 12:55 pm
saya retno.
Mbak saya mau nanya bagaimana cara menghitung nilai kredit dan absolut pada CAR, NIM, APB, PPAP, ROA, BOPO, dan LDR untuk penilaian kesehatan bank. Mungkin mbak bisa kasih tau rumusnya soalnya saya sangat butuh banget. Makasih banyak sebelumnya
February 6th, 2009 at 9:10 pm
selamat malam pak,saya minta bantuan..saya lagi kesulitan cari jurnal(CAMELS)pada bank umum swasta nasional dan unsur S pada CAMELS..mungkin bapak bsa membantu…saya mengucapkan terima ksih
February 10th, 2009 at 9:26 am
Selamat pagi Pak Budi. Nama saya Felix. Saya “anggota baru” di komunitas ini, namun saya sangat tertarik dan terbantu dengan media konsultasi ini karena kebetulan saya saat ini sedang mengerjakan skripsi dengan topik CAMELS.
Yang ingin saya tanyakan : apakah untuk menilai/mengukur kesehatan suatu bank dengan menggunakan CAMELS harus berdasarkan laporan keuangan bank tersebut selama 1 tahun ? Apakah bisa jika hanya berdasarkan laporan keuangan selama 1 semester (6 bulan) ? Mohon bantuannya. Trm ksh.
February 10th, 2009 at 7:17 pm
@Tyo:Kalo untuk sekedar menghitung sih bisa per bulan atau per triwulan, kan posisi keuangan bank sama aja formatnya. Namun perlu juga diketahui, BI sendiri sepertinya menggunakan laporan akhir tahun. Coba dicek lagi di surat edaran BInya
@Dwi: tata cara perhitungan selengkapnya bisa dilihat di Surat Edaran BI, coba cek di website BI di menu peraturan perbankan
@Indra: Mumetnya kok sama seperti bimbingan saya juga hehehe. Memang banyak parameter di CAMELS yang tidak tersedia datanya secara publik. Maksudnya kita harus punya akses ke internalnya bank. Itulah salah satu kesulitan riset CAMELS.
@Retno: rumus2 beberapa rasio tersebut secara lengkap dapat dilihat di Surat Edaran BI tentang CAMELS (berikut lampirannya). Bisa didownload kok mbak dari website BI di menu peraturan. Btw, saya bukan mbak lho hehehe
@Feme: CAMELS memang relatif baru (diterbitkan tahun 2004), jadi jurnalnya belum terlalu banyak dipublikasikan. Beberapa bimbingan saya pun masih dalam tahap antrian di ejournal, digitan library, atay repositori yang ada di gunadarma. Coba aja dicek di repository.gunadarma.ac.id, ejournal.gunadarma.ac.id atau di library.gunadarma.ac.id
@Felix: komentar saya idem dengan jawaban untuk tyo
February 11th, 2009 at 6:42 am
Pak mau tanya lg
Bagaimana cara Penilaian Peringkat Komposit dilakukan dengan agregasi atas Peringkat Faktor Finansial?
nb :
Khan setiap faktor sudah ad bobotnya, faktor permodalan (25%), kualitas aset (50%), rentabilitas (10%), likuiditas (10%) dan sensitivitas atas risiko pasar (5%).
Nah yg belum saya tahu, bobot setiap rasio di setiap faktor. Maksud saya, berapa nilai dari rasio utama,rasio penunjang,rasio pengamatan (observed)sehingga dapat menilai setiap faktor (CAELS) dan akhirnya tahu peringkat finansialnya.
Saya sudah periksa di lampiran SE 092407, koq tdk ada penjelasan teknisnya.
Trima kasih sebelumnya,
February 17th, 2009 at 8:23 am
assalam..
brarti sampe skarang data M dan S dari CAMELS masih susah didapet yah?
tapi boleh dong qta cuman pake CAELnya ajah.tolong kasih masukan yah.trimakasih
February 17th, 2009 at 8:30 am
oiah skalian mau tanya lagi. dimana saya bisa dapat artikel dan jurnal internasional tentang CAMELS? saya agak kesulitan nih.
skarang uda ada CAMELS, CAMEL uda ga berlaku ya?
February 19th, 2009 at 10:38 am
@Cesa: Kalo tidak ada penjelasan untuk setiap parameter berarti bobotnya sama, jadi bisa dibuat peringkat rata-rata dari masing-masing komponen (C, A, dst) baru peringkat rata-rata per komponen tersebut dikalikan bobotnya untuk memperoleh peringkat akhir.
@Fikriyah: Seperti sering saya sampaikan di komentar2 sebelumnya, memang salah satu kesulitan riset CAMELS adalah ketersediaan datanya. Tidak semua data yang mendukung perhitungan CAMELS tersedia untuk publik, kecuali rasio-rasio keuangan inti (CAR, LDR, ROA, NIM, BOPO, NPL). Jadi boleh2 saja kita batasi riset kita sesuai dengan batasan masalahnya. Beberapa paper tentang CAMELS mungkin bisa dilihat di repository.gunadarma.ac.id atau di ejournal.gunadarma.ac.id Atau bisa juga mencari judul dan abstraksi penulisan ilmiah di library.gunadarma.ac.id
March 7th, 2009 at 7:14 am
Luar Biasa..Pak Budi. semua kesehatan bank&about CAMELS. meski sudah banyak sekali antrian konsultasi.Semoga sy tdk terlambat&bisa masuk antrian. Pak Budi, Stelah sy baca tulisan2 bapak,diatas. Apakah sudah ada buku ttg petunjuk/pedoman penghitungan tingkat kesehatan bank umum syariah brdsarkn fktor CAMELS itu,. Krn untuk yg buku thd BPR ada, sy sudah coba cari di Gramedia, Toga Mas & beberapa web penerbit hasilnya tdk ada. Mohon bantuannya Pak, sy membuat TA ttg kesehatan bank thd Bank syariah. Thank
March 7th, 2009 at 11:44 am
@Alya: Saya kurang tahu mengenai buku petunjuk SAMELS yang beredar di masyarakat. Saya hanya menggunakan Peraturan Bank Indonesia saja. Paling berupa skripsi atau tesis dari bimbingan saya
March 8th, 2009 at 4:46 pm
Pak, krn data sy sekunder/dr laporan publisitas bank (BSM),
1.dlm fktor M jika mengukurnya dg sampel di bank cabang.(untuk kuesioner/pertanyaan ) ini artinya bisa mempresentasikan kondisi keseluruhan bank trsebut kan Pak?
2.kl sy pake penghitungan NPM utk mengukur faktor”M” dg alasan tdk ada data yg tersedia(tdk bs mdptkn jawaban dr pihak manjemen bank krn sgt rahasia)
3. kl daruratnya tdk ada data utk fktor “M” dan “S” maka penilaian kesehatan bank hnya dgn faktor C-A-E-L sj bgmn Pak?
March 16th, 2009 at 9:50 am
Slmt siang Pak. Saya sedang mengerjakan skripsi ttg ekses resesi (diproksikan oleh Inflasi, Tingkat suku bunga & Nilai tukar rupiah) terhadap kinerja Bank Niaga (diproksikan oleh rasio pada CAMELS seperti CAR, ROA, ROE, BOPO, LDR, NPL & NIM). Yg ingin saya tanyakan:
1. Bisa atau tidak jika saya menggunakan Bank Umum Swasta Nasional Devisa sbg POPULASI. Dan Bank Niaga sbg SAMPEL dlm penelitian tsb ?
2. Menurut Bapak, instrumen penelitian apa yang tepat utk digunakan ? Apakah Analisis Regresi Linier Berganda sdh cukup ?
Terima kasih sebelumnya.
March 28th, 2009 at 3:50 pm
selamat siang,pak… saya sedang membuat skripsi tentang tingkat kesehatan bank. tadinya saya mau lihat tingkat kesehatan bank sebelum dan sesudah BLBI untuk bank2 penerima BLBI. tapi rasanya terlalu kompleks jadi masalah saya persempit. kira2 kalau saya ambil yang sensitivitas terhadap resiko pasar bisa tidak ya? menurut bapak ada hubungan tidak antara BLBI dengan sensitivitas terhadap resiko pasar jika BLBI itu sebagai dana pihak kedua? ada landasan teori nya tidak ya? lalu penghitungannya apakah saya bisa mendapat data dan mengolahnya sendiri hanya untuk variabel kuantitatifnya saja?? kalau tidak bisa bagaimana kalau saya ambil aspek likuiditasnya??
trimakasih ya pak
March 31st, 2009 at 4:02 pm
Pak Budi, mohon diajarin cara menghitung Var untuk manajemen risiko secara sederhana, sehinggga mudah
dipahami. mohon jawabannya dikirim melalui email alamat diatas.
Terima kasih
March 31st, 2009 at 5:52 pm
pak budi, minta artikel atau teori yang memuat ttg standar nilai komposit untuk setiap rasio dalam CAMELS.. tp klai ini utk rsio solvabilitas, rentabilitas, dan likuiditas (penilaian abnk umum syariah)
utk menilai misal dgn likuiditas 40%, 50% sehat, krg sehat dsb.
Trimakasih sebelumnya
April 7th, 2009 at 9:57 pm
assss….
pak saya mo nanya, sayalagi nulis skripsi saya tertarik dengan judul analisis camel untuk menilai tingkat kesehatan bank pada bank syariah mandiri. yang menjadi kendala adalah fenomena apa yang cocok dalam latar belakang yang harus saya cantumkan. saya hanya melihat data laporan keuangan bank syariah mandiri dari publikasi. apakah perlu saya teliti? bukankah setiap bank itu sudah diukur kesehatannya oleh BI? apakah setiap bank harus melakukan pengukuran tingkat kesehatan banknya dengan metode tersendiri? makasih sebelumnya. tolong jawab ya pak
April 14th, 2009 at 1:30 pm
assalam…P.budi, sy mo nanya nih..
klo misalnya saya mengukur sensitivity-nya itu pake NIM bisa nggak ya pak..soalnya sy bingung “s”ny tu meh diitung pke pa?
trus temen sy nyaranin pake NIM.,
bisa pak?
May 22nd, 2009 at 8:11 pm
pak saya mau tanya rumus yang digunakan dalam menghitung cara penilaian kesehatan bank berdasarkan camel. Seperi permodalan,kualitas asset,manajemen,rentabilitas,likuiditas, dan sensitivitas memakai rumus apa.Terima kasih.
May 22nd, 2009 at 8:54 pm
@Alya: spt yg pernah saya ulas sebelumnya, riset ttg CAMELS biasanya terbentur dengan kesediaan data. Jadi syah-syah saja jika anda membatasi risetnya sesuai dengan ketersediaan data. Alternatifnya adalah dengan pembahasannya lebih diperdalam. Ada pepatah ttg riset yaitu “lebar tapi dangkal” atau “sempit tapi dalam”
@Felix: wah panjang=lebar jawabannya. Namun untuk sekedar gambaran, Anda bisa memilih beberapa disain riset yang banyak digunakan. Dilihat dari pengambilan datanya, Anda bisa menggunakan cross sectional atau longitudinal (time series). Kalo melihat independent variabelnya (inflasim suku bunga, dan kurs) kelihatannya lebih cocok dengan time series, namun data keuangan banknya sebaiknya yang agregat (rata-rata untuk setiap kelompok bank). Namun bisa juga menggunakan disain post test-pre test- misalnya dianalisis pengaruh sebelum dan sesudah resesi atau krisis global :). Untuk disain yang terakhir ini Anda bisa menggunakan data individual bank.
@teresia: Kenapa tidak mengambil topik “sebelum dan sesudah BLBI”? Kan bisa menggunakan disain yang sederhana yaitu “pre-test post test” seperti untuk Felix di atas.
@Hery: Wah manajemen resiko kayaknya masih relatif luas. Mungkin Anda bisa persempit lagi- misalnya credit risk atau market risk yang mengacu kepada BASEL II. Disana ada beberapa pendekatan atau metode yang bisa dijadikan rujukan untuk mengembangkan variable penelitian Anda.
@Alya, Nanda, Dee dan Indri: Kan bisa dilihat di website BI, yaitu di menu peraturan. Atau bisa berkunjung ke sana melalui tulisan saya sebelunnya di sini:
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2008/11/01/camels-versi-syariah/
May 26th, 2009 at 9:08 am
Pak, saya sedang mengerjakan skripsi tentang Analisis CAMELS, yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana cara menghitung “S” (Sensitivity to Market Risk ) pada CAMELS selain menggunakan rumus Ekses Modal dibagi Potensial Loss Suku Bunga, apakah ada cara yang lainnya untuk menghitung itu….mohon bantuannya ya pak!!!!!!Terima kasih sebelumnya……
June 1st, 2009 at 1:35 pm
pak saya sedang mengerjakan skripsi tentang tingkat kesehatan BPR menggunakan metode CAMEL. penilitian saya mengacu pada Surat Keputusan Direksi BI No.30/12/KEP/DIR/1997 tanggal 30 April 1997. yang ingin saya tanyakan, adakah peraturan baru yang dikeluarkan BI untuk menilai tingkat kesehatan BPR selain yang saya sebutkan di atas? saya sudah lihat di web BI tapi tidak ada… trus saya juga ingin mengakses langsung peraturan tersebut, tapi di peraturan perbankan di web BI yang ada cuma untuk peraturan tahun 2004-2009 saja. dimana ya pak saya bisa mendapatkan peraturan itu?
selanjutnya, perlukah saya menguji validitasdata saya?
trima kasih
June 1st, 2009 at 1:45 pm
pak adakah peraturan baru mengenai penilaian tingkat kesehatan BPR selain Surat Keputusan Direksi BI No.30/12/KEP/DIR/1997 tanggal 30 April 1997? sebab saya liat di web BI tidak ada pak…
trus dimana saya dapat mengakses peraturan tersebut? di web BI yang ada cuma untkperaturan tahun 2004-2009
June 2nd, 2009 at 11:04 pm
@Dyah, tuk parameter “S” memang yang tergolong sulit dapat datanya, kecuali dapat “bocoran” dari orang “dalam” dari bank yang akan kita nilai
@Novi: Jawabannya sudah saya berikan di postingan “CAMELS Versi Syariah”
Kyknya sih masih berlaku
June 4th, 2009 at 6:01 am
sy akhirnya menilai kesehatan BSM brdsarkan fktor permodalan, rentabilitas, dan likuiditas. Namun sy hanya rasio yg sy gunakan adalah rasio utama seperti yg tertera di SE.BI.No 24/9/Dps 30 oktober 2007 itu lhoo Pak. di permodalan ; CAR / KPMM
Rentabilitas ; NOM, Likuiditas ; STM
namun yg jd permasalah skr, sy belum menemukan penghitungan untuk rumus nilai kredit CAR(permodalan), NOM(rentabilitas), STM(likuiditas) gimana Pak? sy coba cari di PBI atau SE ndak ada,di jurnal peneliti ttg kinerja Lap.keu BSM dsb jg ndak ada?
terus yg sy bingungkan terkait dgn peringkat komposit di tiap2 faktor dlm penilaian Bank Syariah itu digunakan untuk penilaian yg seperti apaa?krn jika sdh diketahui NK kan sdh tau ini sehat, krg sehat dsb.
Mohon jawabannya Pak Budi, trimakasih!!(
June 8th, 2009 at 7:02 am
Apakah ada jurnal yang memuat penyederhanaan perhitungan “S”??? apa benar IRR bisa mewakili perhitungan “S”????
June 8th, 2009 at 8:23 am
[...] terhadap tulisan tentang “CAMEL vs CAMELS” dan “CAMELS versi syariah” lumayan banyak dan seru diskusinya. Ternyata cukup banyak [...]
June 8th, 2009 at 8:24 am
Mari kita lanjutkan diskusinya di sini:
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2009/06/08/camels-perhitungan-nilai-komposit/
June 8th, 2009 at 1:18 pm
saya sedang akan mengajukan proposal skripsi dengan topik penilaian kinerja bank. dalam hal ini objek penelitian dalam skripsi saya adalah bank-bank umum syariah yang ada di Indonesia. sebagaimana PBI terbaru untuk bank berprinsip syariah, maka metode yang digunakan adalah CAMELS. kita tahu juga bahwa rasio keuangan bank konvensional dan bank syariah pasti berbeda. mohon rincian mengenai CAMELS dalam bank syariah dan proxy-nya.trims..
June 8th, 2009 at 6:45 pm
@Mudana: coba dilihat postingang saya mengenai “CAMELS versi syariah”, disitu ada link ke PBI yang dimaksud
June 9th, 2009 at 1:13 pm
Salam kenal bapak….
saya ingin menanyakan tentang aspek mangemnet dalam penilaian TKS.
Bisa bapak jelaskan aspek management apa saja dan setau saya ada 25 pertanyaan tentang aspek management tersebut. apa saja itu bapak ? bisa tolong dijelaskan
June 9th, 2009 at 2:14 pm
@Suyanti: Mohon dibaca tulisan saya terakhir di:
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2009/06/08/camels-perhitungan-nilai-komposit/
Biar diskusinya kita lanjutkan di sana
June 15th, 2009 at 10:43 am
dalam sebuah referensi saya membaca bahwa untuk menilai tingkat efisiensi bank tidak cukup dengan hanya menggunakan pendekatan parsial, dalam hal ini menggunakan rasio-rasio keuangan yang ada dalam model CAMELS, tetapi menggunakan pendekatan frontier. kebetulan saya ingin mengadakan penelitian (skripsi) mengenai tingkat efisiensi tersebut, yaitu dengan metode stochastic frontier approach. namun di tengah jalan saya menemui kesulitan dalam mendapatkan referensi yang saya butuhkan berkenaan dengan pendekatan frontier dan stochastic frontier approach. mohon petunjuknya. terimakasih…
June 17th, 2009 at 10:40 am
gmn cara dapetin laporan keuangan bank devisa dan bank non devisa tahun 2006-2008… untuk dianalisis dengan metode camel… tolong bagt ya… utk skripsi nh….
June 17th, 2009 at 11:35 pm
@El’mudaha: menurut pendapat saya, CAMELS termasuk penilaian yang relatif komprehensif, walaupun ada yang mengatakakan juga bahwa penilaian tersebut cendrung bersifat internal atau kedalam. Tidak menunjukkan kontribusi bank terjadap masalah eksternal. Hal ini pernah saya bahas juga di postingan lain. Memang banyak yang menggunakan beberapa pendekatan lain, misalnya Balance Score Card atau Pendekatan Frontier. Setiap metode tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Termasuk apakah cukup komprehensif atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah metode tersebut bisa mencerminkan kondisi yang sesungguhnya?
@Juliana esa: Coba dilihat laporan keuangan di situs BI. Tapi seperti sering didiskusikan pada komentar-komentar sebelumnya, laporan keuangan untuk publik tersebut tidak menampikan semua data yang dibutuhkan untuk perhitungan CAMELS secara lengkap
June 30th, 2009 at 10:51 am
selamat pagi pak…
maaf pk mo nanya, saya kn sedang mengerjakan skripsi tentang analisis CAMEL. sekripsi saya sudah selaesai saya olah datanya bahkan pembimbing 2 sudah acc, tp tiba2 setelah menjelang seminar skripsi pembimbing 1 menanyakan tentang camels.yang saya mo tanyakan adalah 1. masih bolehkah camel digunakan?
2. bagaimana alasan saya untuk menjawab pertanyaan pembimbing 1?
3. ada kelebihan tidak jika camel dibandingkan dengan camels?
tolong banget pak, mohon jawabanya. terimakasih banyak…………..
June 30th, 2009 at 11:15 am
Untuk Bank Umum Konvensional memang sudah menggunakan CAMELS, bukan CAMEL. Mungkin jalan tengahnya, coba dibandingkan cara dan hasil perhitungan antara CAMEL vs CAMELS
July 3rd, 2009 at 9:07 am
terimakasih banyak pak atas jawabanya kemaren…….
July 3rd, 2009 at 9:20 am
pg pak…….
mav pak mo nanya tentang fktr S dalam CAMELS. untk fktr laen kn sprti C,A,M,E,L dalam CAMELS biasanya dalam laporan keuangan sdh di cantumkan rasionya(klopun lum ada, ada bbrpa rasio yg trdpt dlm icmd. bgmna klo saya melakukan penelitianya hanya menggunakan 5 fktr saja tanpa faktor S(krn keterbatasan data)? apakah tdk papa klo hanya 5 fktor yg diteliti padahal kn aturan BI yg skrg menyantumkan unsur S.klo bs dg 5 komponen,alasan apa yg bisa di utarakan utk mnjwb prtnyaan trsbt. mohon jwbnya pak … terimakasih banyak ats jwbn dan bantuannya…
July 4th, 2009 at 1:16 pm
Bisa dilanjutkan, asal di batasan masalahnya disebutkan bahwa hanya sebatas beberapa rasio yang diambil dari CAMELS. Dan topik risetnya bukan menganalisis CAMELS secara keseluruhan. Yang perlu diingat, jumlah indikator pada CAMELS jauh lebih banyak dibandingkan dengan indikator pada CAMEL- yang untuk bank umum sudah tidak berlaku lagi.
July 25th, 2009 at 2:06 am
pak saya mau tnya bagaimana cara menilai tingkat kesehatan bank dari rasio sensitivity market risk, apa saja komponennya yang dugunakan untuk menghitungnya?
saya ni sedang bikin skripsi tentang kesehatan bank dengan menggunakn camels tapi saya msh bingung tentang menilainya dari rasio sentivity market risknya?
July 29th, 2009 at 8:23 pm
salam kenal pak,
1. pak sekarang saya sedang menyusun skripsi tentang camels, yang saya mau tanyakan apa kelebihan dan kekurangan dari metode camels??
2. apabila dalam skripsi saya untuk “M” dan “S” tidak saya hitung dan saya beri keterangan bahwa untuk M dan S merupakan kewenangan BI. menurut bapak bagaimana??
3. untuk NPL dalam skripsi saya masuk dalam kategori tidak sehat, menurut bapak mengapa NPL bisa tidak sehat??
4. pak yang termasuk dalam Aktiva produktif yang diklasifikasikan itu apa aja contohnya??
terima kasih banyak pak….. mohon dijawab.
July 29th, 2009 at 8:26 pm
ok
July 29th, 2009 at 8:26 pm
terima kasih pak
July 29th, 2009 at 8:28 pm
pak mau tny lagi
syarat bank untuk go publik apa ya pak?? Thnk
July 29th, 2009 at 8:34 pm
salam kenal pak,
1. pak sekarang saya sedang menyusun skripsi tentang camels, yang saya mau tanyakan apa kelebihan dan kekurangan dari metode camels??
2. apabila dalam skripsi saya untuk “M” dan “S” tidak saya hitung dan saya beri keterangan bahwa untuk M dan S merupakan kewenangan BI. menurut bapak bagaimana??
3. untuk NPL dalam skripsi saya masuk dalam kategori tidak sehat, menurut bapak mengapa NPL bisa tidak sehat??
4. pak yang termasuk dalam Aktiva produktif yang diklasifikasikan itu apa aja contohnya??
terima kasih banyak pak….. mohon dijawab.
July 30th, 2009 at 5:08 pm
bwt erly….
mt tlg kok maksa sh,sabar dikit dunk!!!
August 3rd, 2009 at 11:23 pm
@Kodrat: Rumus dan cara interpretasinya kan ada di lampiran PBI ttg CAMELS
@Ely: waduh pertanyaannya banyak banget ya, tapi kayaknya semua pertanyaannya bisa dijawab dari beberapa postingan saya sebelumnya. Coba aja dilihat postingan dengan kategory “banking”. Mudah2an bisa menjawab semua pertanyaan tersebut. Intinya memang harus membaca lampiran CAMELS, termasuk rumus dari semua parameternya
@Chika: gak pa2 kok :), cuma akhir2 ini saya agak telat menjawab komentar di blog ini. Maklum masih jadi bawahan
August 4th, 2009 at 2:57 pm
salam kenal pak…
saya mau tanya apa kelebihan dan kekurangan memakai metode camels?
terima kasih pak….
August 5th, 2009 at 10:31 pm
malam pak, saya mau tanya kekurangan dan kelebihan memakai metode camels apa??
terima kasih pak….
August 6th, 2009 at 8:44 am
Mat pagi pak, saya saat ini sementara menyususn skripsi tentang aset dan liabiliti mohon dapat diberikan pandangan, saran serta masukan untuk menambah pengertian saya tentang hal tersebut diatas, n sekiranya bpk. bisa bantu saya butuh bahan ref. n mohon dikirimkan ke “alfretliroga99@yahoo.com.
Terima kasih ada kesediaan dan bantuannya.
August 6th, 2009 at 2:03 pm
@Semer: Seperti tersirat di tulisan saya, CAMEL secara umum bersifat melihat bank secara internal, tidak melihat dampak sebuah bank ke external, misalnya terhadap perkembangan masyarakat atau pertumbuhan ekonomi. Namun memang tujuan dari CAMELS sebata untuk melihat kinerja bank berdasarkan beberapa parameter yang lebih banyak internal. Untuk sistem ini, saya melihat CAMELS lebih komprehensif dibandingkan CAMEL
@Alfret: Mungkin Anda bisa melihat kembali tulisan saya sebelumnya di alamat berikut:
http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2007/05/01/cof-hadiah-dan-ketidakefisienan-bank/
August 19th, 2009 at 6:43 pm
p. budi, apakah metode CAMELS dapat di gunakan juga untuk mengukur tingkat kesehatan asuransi??
saya berniat mengambil topik asuransi untuk skripsi(jurusan akuntansi), tapi masih bingung apa yang menarik dari sebuah asuransi, mohon bantuannya….
thanx a lot y…
September 4th, 2009 at 9:57 pm
selamat malam pak budi,,aku mau nanya dunk,,, apakah CAMEL memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan laba perusahaan? kalo seandainya berpengaruh, apakah selain CAMEL ada faktor lain lagi? apa aja yach pak??? thanks a lot yach pak…mohon bantuannya soalnya aq beberapa hari lagi harus sidang,thanks yach pak.
September 4th, 2009 at 10:00 pm
selamat malam pak budi,,aku mau nanya dunk,,, apakah CAMEL memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan laba perusahaan? kalo seandainya berpengaruh, apakah selain CAMEL ada faktor lain lagi? apa aja yach pak??? thanks a lot yach pak…mohon bantuannya soalnya aq beberapa hari lagi harus sidang,thanks yach pak.
September 8th, 2009 at 3:27 pm
pak budi saya mau tanya,,rasio2 yang ada dalam camel itu hanya CAR, BOPO, NIM, FDR, GWM, NPL saja atau ada yang lain??lalu apakah ROA dan ROE bisa termasuk dalam CAMEL??terima kasih
September 10th, 2009 at 10:13 am
selamat pagi pak Budi…
saya fenny, saya sedang menyusun usulan penelitian untuk skripsi saya..
saya merasa tertarik untuk meneliti bagaimana kinerja keuangan perbankan sebelum dan setelah merger.
yang saya mau tanyakan adalah, apakah proxy yang digunakan dalam setiap komponen CAMELS harus dihitung rasionya untuk mendapatkan penilaian kinerja yang maksimal??
soalnya saya masih bingung untuk menentukan proxy mana saja yang harus digunakan dalam setiap aspek berhubung setiap aspek memiliki lebih dari satu proxy.
terimakasih atas jawabannya.
September 30th, 2009 at 7:20 pm
malem pak.
saya mahasiswa unissula
saya sedang membuat skripsi tentang analisis kesehatan perbankan dengan rasio CAMELS sebagai variabel u/ memprediksinya.
saya kebingungan pada variabel “S” (sensitivity to market).. saya sudah dapat rumusnya tp kesulitan u/ pengaplikasian pada laporan keuangan perbankannya.
saya sudah tanya kemari tp belum dpt jawabannya.
boleh minta bantuannya untuk memberikan contoh perhitungannya.
sebelumnya makasih banyak atas bantuanny
note: email saya :areta_aulia@yahoo.com
September 30th, 2009 at 10:19 pm
ass…
mau tanya…kayaknya saya sempet baca di salah satu jawaban bapak terdahulu bahwa CAMELS itu untuk semua bank kecuali BPR konfensional. Apakah bila saya meneliti di BPR konfensional tidak perlu meneliti faktor “S”? Lalu bila saya ingin membuat skripsi berjudul : ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN METODE CAMEL(studi kasus pada BPR X), yang merupakan variabel dan hipotesis itu yang mana? apakah judul itu terlalu sederhana? Saya menggunakan data primer dari bank itu sendiri. Tolong dijawab. Trima kasih sekali.
November 13th, 2009 at 1:34 am
pak, proxy untuk menggantikan sensitivitas terhadap pasar apa ya?saya sudah mentok bgt …
November 18th, 2009 at 12:07 am
maaf..mas budi saya topik. saya sedang penyelesaian skripsi dengan permasalahan “analisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode camel” saya kurang paham dengankonsep ini.. ini alamat e-mail saya
khobo_jupiterz@yahoo.com
trimakasih atas waktu dan bantuannya..
January 24th, 2010 at 5:15 pm
pak budi saya mau tanya,saya lagi bingung neh,tolong dibantu y pak
skripsi saya tentang CAMELS terhadap perubahan laba,sensitivitasnya klo dinilai dengan menggunakan market risk bener g pak??lalu apa hubungannya sensivitas terhadap perubahan laba??terus CAMELS kan alat ukur untuk menilai kesehatan bank,apakah bisa juga lo CAMELS itu dipakai untuk mengukur laba,
tolong dijawab y pak
makasih pak..
January 24th, 2010 at 5:18 pm
pak budi saya mau tanya,saya lagi bingung neh,tolong dibantu y pak
skripsi saya tentang CAMELS terhadap perubahan laba,sensitivitasnya klo dinilai dengan menggunakan market risk bener g pak??lalu apa hubungannya sensivitas terhadap perubahan laba??terus CAMELS kan alat ukur untuk menilai kesehatan bank,apakah bisa juga lo CAMELS itu dipakai untuk mengukur laba,
tolong dijawab y pak
makasih pak..
ne e-mail saya pak
dina_sty87@yahoo.co.id
January 28th, 2010 at 1:42 pm
siangg..saya mu nanya rasio Camel apakah mempengaruhi kinerja keuangan perbankan ( pertumbuhan laba) sampel saya 55 bank yg ada di indonesia,,saya sudah meneliti bahwa yg berpengaruh adalah ROA, NPL dan CAR dan yg tdak mempengaruhi adalah NPM dan LDR..apakah benar ga ya ?? mohon pencerahan ya
email saya stema_88@yahoo.com
March 9th, 2010 at 11:10 am
mas… sya mau nanya apakah metode CAMEL dapat digunakan tahun 2006-2008, karena yang saya dengar klo metode CAMEL hanya bisa digunakan pada tahun 2003-2006. di atas tahun 2006 katanya udah pakai metode CAMELS
March 9th, 2010 at 2:31 pm
pak Budi, saya sdg menyusun skripsi ttg perbedaan kinerja bank BUMN vs bank asing, menggunakan metode CAMELS, dengan hanya memakai aspek CAEL-nya saja, krn keterbatasan data yg dipublikasikan (seperti yg sdh bpk bahas di atas). yang saya ingin tanyakan, dengan metode seperti itu, hal apa saja yg harus diperhatikan dalam penelitian ini?
makasih banyak, pak
March 11th, 2010 at 8:46 pm
yang mau saya tanyakan yaitu apakah ada rumusan untuk menghitung CAMELS, dan kalau ada rumusannya seperti apa? apakah bisa dihitung secara manual atau menggunakan sistem komputerisasi seperti SPSS?
mhon bantuannya ya,. thanks before,.
March 18th, 2010 at 8:08 pm
pak budi saya minta tolong, lo bisa minta contoh laporan keuangan yang pake camel, dan rincian perhitunganx, makaasih sebelumx……….
March 18th, 2010 at 9:07 pm
salam sejahtera pak budi, saya lies, mahasiswa skripsi fak ekonomika dan bisnis, sedang menempuh skripsi dg judul pengaruh kinerja keuangan terhadap perubahan harga saham perbankan, yang ingin saya tanyakan, rasio-rasio keuangan pada metode camels versi BI tersebut saya sulit mencari referensi pengaruhnya terhadap harga saham, saya memohon bantuan bapak untuk bisa membantu saya,,sebelumnya terimakasih pak..saya tunggu sangat balasan bapak..
March 24th, 2010 at 12:46 pm
selamat siang pak budi. saya ratna mahasiswi akntansi smt akhir yang sedang menempuh skripsi. judul skripsi saya “pengaruh rasio CAMELS terhadap perubahan harga saham pada perusahaan perbankan yg go public di BEI”. saya mengalami kesulitan dalam mencari referensi mengenai pengaruh rasio CAMELS terhadap saham, terutama untuk faktor Sensitivity dan proksi untuk mengukur sensitivity of market risk itu sendiri. saya memohon bantuan Bapak agar bisa memberikan masukan pada saya. sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih.
April 1st, 2010 at 7:50 am
aslm. pak budi, saya mau tanya…
1. substansi CAMELS dari sudut pandangan islam itu gmn y ? beserta tujuan camels itu sendiri…
2. perbedaan camels syariah sma camels konvesional ?
3. sebenarnya metode camels dalam pandangan itu perlu g sih diterapkan? seberapa penting dan untuk apa ?
May 4th, 2010 at 2:37 pm
salam sejahtera Pak Budi, saya mahasiswi yg sdg membuat proposal penelitian mengenai tingkat kesehatan bank dgn metode CAMEL. Yang ingin saya tanyakan apakah faktor judgment itu merupakan komponen lain yg tidak termasuk ke dalam kopmponen yang dikuantifikasikan? lalu, bagaimana cara menganalisis faktor judgment itu ya pak? saya mohon bantuan bapak agar saya dpt pencerahan, ini alamat email saya: priz13_cammeau@yahoo.com
trima kasih banyak pak..
May 14th, 2010 at 5:21 am
pak. metode camel’s bisa atau relevan ga dengan analisa kesehatan lembaga mikro seperti BMT?apa ga terlalu luas?ini untk tesis saya pa. trims
May 20th, 2010 at 9:24 pm
Hai Pak Budi,
sya mahasiswi yang sedang melakukan research hub antara rasio CAMELS dengan total return studi kasus perusahaan perbankan yang go public. Untuk komponen S nya, apakah bsa menggunakan interest-sensitivity ratio ato duration gap untuk proxy nya? untuk duration gap, bagaimana cara mengetahui duration asset dan liability nya? untuk interest-sensitivity ratio, bagaimana cara menentukan interest-sensitivity asset & liability?
Terima kasih banyak pak Budi…
May 21st, 2010 at 12:45 am
Selamat malam pak budi,,,saya mahasisa jurusan ekonomi sekarang saya lagi menyusun penelitian lmiah dikampus,, dan saya sedang meneliti sebuah bank dengan menghitung rasio keuangan (rasio Camels),, yang saya mau tanyakan!,,, bagaimana cara menghitung sensitivity market to risk pada ekses modal dan fluktuasi suku bunga karena saya tidak tau pos-pos laporan apa saja yang dimasukan. mohon petunjuk.
rakasiwi_revalino@yahoo.co.id
July 20th, 2010 at 8:00 pm
assalamualaikum,
saya mau tanya Bagaimana cara atau rasio yang ditetapkan BI untuk menghitung tingkat kesehatan bank dengan menganalisis likuiditasnya.
dan penggunaan 250 pertanyaan yang dipakai untuk model CAMEL khususnya untuk likuiditas.
terima kasih…
August 5th, 2010 at 12:46 pm
pak saya mau bertnya cara uji camels untuk bank konvensional dan bang syariah parameter ap sj yg di gunakan untuk yg sepadanya?trus data publikasi dr BI tulisanya unaudited ap tidak apa apa di olah apa harus yg sudah di audit?
October 1st, 2010 at 1:01 am
pak budi yth, saya minta bantuannya:
saya sedang bingung nih, mencari data tapi susah sekali. saya sedang membuat skripsi dan butuh data triwulanan tingkat inflasi di indonesia, serta data triwulanan sertifikat BI. apakah bpk punya, mengingat saya saat ini sdg skripsi dan dikejar deadline akhir thn ini. mohon bantuannya, terimakasih.
April 29th, 2011 at 9:41 pm
Nah lho,semua pada bingung rasio “M” m “S”,hahaha..
Gitu deh kalo pada ga mau observasi langsung trus ngisi kuisioner,cuma masalahnya kebentok sana kebentok sini buat mikir rasionya..
Tapi bisa kok,ada rasio yang bisa dipake..diproksikan sesuai ketentuan buat variabel “M” pake NPM m “S” pake MR,itu sih yang saya baca dari penelitiannya orang2..tapi kalo ada yang lain mungkin,
…
Eh,kalo analisis CAMELS dipake diperusahaan lain gitu apa kabarnya ya??mungkin di asuransi ato perusahaan lain yang uda (go public),saran2nya ditunggu..
Makasih
January 7th, 2012 at 8:36 pm
Assalamu’alaikum,,,
pak,, bisa minta data laporan keuangan bank umum devisa swasta nasional tahun 1997 sampai 2000, ndak?? mau buat menghitung ldr, bopo, npl, dan nim…
aku sudah cari di http://www.BI.go.id tp ngak ada…
bila boleh, bisa dikirim ke wwn.batman@gmail.com..
makasih,,
January 16th, 2012 at 11:09 am
mau nanya donk…
saya bingung ne mengerjakan rasio CAR..
tolong donk dibantu gmana caranya…
sebenarnya di laporan tahunannya udah ada, tp saya takutnya ditanya itu jalannya darimana, bingung.
terima kasih….
January 28th, 2012 at 11:14 am
Mohon maaf kepada teman2 semua. Saya baru melirik lagi blog ini.
Sekedar informasi, CAMEL dan CAMELS sudah dinganti dengan penilaian yang baru, yang saya singkat dengan RGEC (Risk profile, Good Governance, Earning, dan Capital).
Silahkan SE-BI nya dilihat di:
http://www.bi.go.id/web/id/Peraturan/Perbankan/SE+No.13_24_DPNP_2011.htm
Terima kasih, salam
April 9th, 2012 at 3:41 pm
Sore, pliss jawab tiga…pertanyaan lagi…
1. judul penelitian sy seputar ANALISIS CAMELS, tp dari capital, aset, earning dan liquidity hanya menggunakan RASIO UTAMA sj, rasio penunjngnya tidak, kira2 asumsinya apa ya?
2. gmana cara hitung bobot sensitivity 2 market risk, nilai kreditnya gmana?
3. sy menggunakan PBI thun 2007 ttg penilaian kesehatan bank syariah, jd mnurut sy peraturan plg terakhir khusus syariah ya masih yg PBI th.2007..RGEC hanya untuk bank Umum. apa sy salah pak?
April 23rd, 2012 at 4:30 pm
Buat aja batasan masalah skripsi, memang seprti itu, tidak semua rasio atau parameter bisa dihitung karena kerahasiaan. RGEC memang hanya untuk bnak umum, bank syariah menggunakan PBI tahun 2007 tersebut. Saya coba membuat tulisan tentang penilian kesehatan yang baru, nanti saya publised di :
http://pena.gunadarma.ac.id/author/bhermana/
Terima kasih atas kunjungannya, salam
June 3rd, 2012 at 9:12 pm
pak mau tanya refrensi buku tenatang metode camel soalnya saya kesulitan menegerjakan skripsi saya karena keterbatasan saya dalam mengetahui buku apa yang harusnya saya pelajari untuk rasio camel dalam menguji tingkat kesehatan bank. mohon bantuannya
terimaksih
June 8th, 2012 at 2:32 pm
@Roshidatul: Saya sendiri belajar CAMELS itu langsung dari Peraturan Bank Indonesia berikut Surat Edarannya. CAMELS tersebut skr sudah diganti dengan RGEC. Coba dilihat tulisan berikut:
http://pena.gunadarma.ac.id/perbandingan-tatacara-penilaian-tingkat-kesehatan-bank/
Semoga Bermanfaat, salam